[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 13)

Poster Love You More Chapter 13

[13] Love You More

Love, Friends and Ambition

Tittle        = Love You More (Love, Friends and Ambition)

Author        = Park Shin

Main Cast    = Kim Arin, Byun Baekhyun, Oh Jiho, Kim Taehyung BTS

Cast        = EXO’S members, Yoon Ara, Moon Sojin, Other’s Idol

Genre        = School Life, Friendship, Romance

Length        = Chaptered (16 Eps)

Rating        = General

Disclaimer    = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[13]

Usai

Pagi itu di dalam mobilnya Kim Arin menangis menatap bus berwarna biru itu melaju. Setelah hilang di belokan, Arin terisak, membuat Kang Jun Ahjussi, supirnya menatapnya khawatir.

“Nona, kau baik-baik saja?”

Arin mengangguk mantap “Aku baik-baik saja..”

“Benarkah? Apa mau kuantar pulang saja nona?”

Masih terisak Arin menolak pulang lagi “5 menit lagi… aku akan berhenti menangis.”

Kang Jun yang sebenarnya tidak mengerti akhirnya memilih diam melihat Nona mudanya menangis begitu keras sampai rasanya ikut nyeri melihatnya apalagi suara nya sudah mulai serak.

Walau ia tidak tahu apa masalahnya, ia merasa ada hubungannya dengan kepergian bus biru yang melaju tadi.

***

Pagi itu Arin melakukan kehidupan sekolah seperti biasanya. Menyapa orang orang yang ia temui, tersenyum pada semua orang dan tertawa lupa bahwa sebelumnya ia menangis seperti orang yang akan mengakhiri hidupnya saat itu juga.

Sesampainya di depan loker, ia melihat Oh Jiho yang kini juga melihatnya. Jiho melengos begitu saja namun berhenti melangkah tatkala Arin menyapanya.

“Annyeong Jiho-ssi.. bagaimana kabarmu?”

Jiho berbalik lalu menjawab sekadarnya “Baik.”

Arin seakan mengerti kenapa Jiho sedingin ini, ia harusnya sadar sedari dulu. Walaupun terlambat menyadari, Arin memaklumi sikap Jiho.

“Selamat atas kemenanganmu”

“Eo. Gomawo.”

Jiho hendak pergi namun Arin kembali menahannya.

“Bisakah… kita bicara sebentar?”

Jiho mendelik, ia terkejut karena Arin ingin bicara dengannya. Soal apa? Apa soal surat itu? Apa Baekhyun sudah memberi tahunya? Kalau sudah, kenapa Arin bisa setenang itu dan seperti biasa?

“Apa yang ingin kau katakan?”

Arin tersenyum “Jangan disini. Ikut aku.” Arin melewati Jiho begitu saja namun dengan terpaksa Jiho mengikutinya. Tak asing dengan tempat yang dituju, Jiho memendam amarahnya, Byun Baekhyun juga memberitahu Arin tempat ini? Apa saja yang sudah dilakukan selama ia pergi?

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

Arin menatap Jiho sendu lalu sekuat tenaga mengatur nafasnya yang terasa sesak “Maafkan aku.”

Jiho membulatkan matanya lalu mendesis “Untuk?”

“Semuanya…” Arin menunduk lalu menatap Jiho lagi “Surat.. dan juga Baekhyun..”

Wajah Jiho menegang. Jadi gadis ini sudah tahu? Batinnya.

Arin membuka tasnya dan mengambil sebuah surat yang tak asing dan bunga yang sudah layu yang dibalut mika bening.

“Igeo…” Arin menyodorkan kedua barang itu dan hanya ditatap nanar oleh Jiho.

“Kau… sudah tahu?” Tanyanya yang dibalas senyuman dan anggukan Arin

“Maaf karena aku menyimpannya terlalu lama..” Ungkapnya pada surat dan bunga itu.

Jiho menerima surat dan bunga itu. Sebenarnya Jiho merasa menjadi wanita jahat disini. Ia juga ingin marah dan ingin semua orang tahu bagaimana jika mereka ada di posisinya. Namun entah kenapa, melihat Kim Arin, Jiho menyadari bahwa gadis itu..

“Kau masih bisa tersenyum seperti itu? Apa kau tidak marah?”

“Aku tidak berhak marah.”

“Apa kau tidak kecewa?”

“Aku kecewa tapi itu perasaanku jadi kau tidak perlu khawatir”

Jiho menatap Arin sendu, kali ini gadis itu tidak lagi bisa menahannya, setitik cairan bening mengalir dari mata gadis itu.

“Aish… udara sangat dingin, kenapa aku jadi menangis yaa..” Aishh “ Gadis itu menunduk lalu menggelengkan kepalanya berkali kali agar kembali ke akal sehatnya. ‘Jangan menangis-jangan menangis..’

“Kau…” Kim Arin mendongak, mendengar Jiho yang menggantungkan kalimatnya “…baik-baik saja?”

Pertanyaan yang sama dan Arin juga akan menjawab hal yang sama “Ehm aku baik-baik saja”

“Kau tahu ini… dari Baekhyun?”

“Ani.” Sela Arin cepat “Dia tidak tahu kalau aku sudah tahu. Aku tidak sengaja mendengar kalian di aula kemarin”

Jantung Jiho berdesir, jadi dia tahu darisana ?

“Ah… sudah saatnya masuk kelas. Sekali lagi… aku benar-benar minta maaf.” Arin membungkuk lalu melewati Oh Jiho sebelum gadis itu menahan tangannya

“Kau… menyesalkan baik padaku?”

Arin menaikan alisnya

“Aku sudah pernah bilang padamu untuk tidak baik padaku, sekarang kau menyesal kan?”

Arin melepaskan tangan Jiho perlahan. “Tidak. Sama sekali aku tidak menyesal” Arin tersenyum.

Setelahnya Arin hendak turun lalu kembali berbalik menatap Jiho yang masih berdiri di tempatnya dan memutuskan untuk pergi. Ia merasa sangat lega.

***

Saat kembali ke kelas, ia tidak melihat Sojin ataupun Ara. Ia merasa sedikit kesepian, padaha ia ingin sekali dihibur.Hari ini ia merasa lelah karena pura pura bahagia.

“Berhenti tersenyum pada orang-orang kalau kau tidak ingin melakukannya”

Arin menoleh dan mendapati Taehyung duduk didepannya “Wae? Aku benarkan?”

“Taehyung..”

“Kau baik-baik saja?”

Arin mengangguk “Aku baik-baik saja..”

“Bohong.”

“Yak Kim Taehyung.”

Lalu mereka berdua tersenyum.

“Taehyung…”

“Ehm…”

“Gomawo dan juga mianhae..”

Taehyung menoleh pada Arin ia lekas mengeritkan kening “Kenapa kau bilang begitu?”

“Hanya saja… aku ingin mengatakannya”

Taehyung menarik nafas dalam dalam lalu menatap curiga pada Arin “Kau seperti akan pergi jauh. Apa kau mencari Sojin dan Ara untuk mengatakan hal itu juga?”

Seakan bisa membaca pikiran Taehyung, Arin memalingkan wajahnya ke jendela. “Mungkin”

***

Arin terkejut tatkala mendapati depan rumahnya dipenuhi mobil yang tak memungkinkan untuk dilewati. Kang Jun yang tiba tiba menepikan mobilnya disamping Arin langsung menyuruhnya masuk. Didalam mobil sudah ada Sekretaris Han. Tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, ia akhirnya pergi menjauh dari rumah itu.

Diperjalanan Sekertaris Han menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan itu membuat Kim Arin hancur seketika. Ia menatap ponselnya dan membaca headline disana.

Kim Yong Hyeon Direktur Perusahaan IT menerima dana suap dan ditetapkan sebagai koruptor.

“Appa… dimana dia sekarang?”

“Dia masih dirumah. Beliau menyuruh kami membawamu pergi.”

Arin menangis. Kali ini semakin keras membayangkan betapa hancurnya dirinya sekarang. Apalagi sekarang ? Apa dia masih sanggup menanggungnya?

“Bisakah aku menemui Appa?”

“Untuk sementara ini tidak bisa, Nona Kim. Media sedang mengincar Tuan Kim dan bisa jadi anda juga”

Arin sudah tak sanggup lagi, ia hanya bisa menangis sekarang. “Sebenarnya, Tuan Kim ingin anda segera meninggalkan Korea karena tidak ingin anda terekspos dimedia, Nona. Semoga anda bisa mengerti kenapa Tuan Kim memaksa anda pergi.”

“Appa tahu akan seperti ini…”

“Nde.” Jawab Sekertaris Han, ia sudah tak sanggup melihat Nona mudanya menangis sesenggukan begitu yang bisa ia lakukan hanya menepuk punggungnya. Gadis ini tumbuh dengan luka dan Sekretaris Han tidak menyangka ia sudah sebesar ini.

“Anda gadis yang kuat Kim Arin-ssi..”

***

Arin PoV

Pernikahan Appa hanya skenario semata, ia hanya ingin membuatku membencinya dan pergi jauh ketika ia tahu bahwa perbuatannya akan diketahui. Appa ingin melindungiku dan aku… terlambat menyadari. Disinilah aku sekarang, di rumah Sekertaris Han sambil menatap televisi yang menyiarkan berita tentang Appa yang tak ada habisnya. Beberapa temanku yang berkali-kali bertanya padaku. Dan akhirnya kuputuskan untuk mematikan ponsel.

Aku merasa hancur dan aku ingin sekali mengakhiri hidupku. Jika bisa  ia bisa melakukannya sekarang maka pisau buah disamping kursinya sudah menyayat lengannya atau menusuk dadanya sedari tadi. Ia sudah tidak sanggup lagi.

Entah kenapa… dikeadaan seperti ini aku merapalkan satu nama dan semakin lama semakin aku menyesal bahwa aku menyebut nama itu dalam setiap keadaan.

“Baekhyun…”

***

Mungkin semesta ingin menguji tingkat kesabaran Arin. Ia sudah sekuat tenaga untuk tidak mengakhiri hidupnya dengan tragis hanya karena tidak sanggup. Arin ingin membuktikan pada siapapun bahwa ia bisa menghadapinya dan ia kuat. Selain itu, alasan kenapa ia tak berbuat bodoh dengan mengakhiri hidupnya adalah Ayahnya. Ia ingin menemui Ayahnya dan tidak ingin meninggalkannya sendirian. Dimana mana wajah Ayahnya sudah terpampang dan dicap sebagai seorang koruptor.Dengan segala kekurangan dan kekecewaan yang pernah Ayahnya lakukan, Kim Arin tidak ingin meninggalkan ia sendirian.

Mobil itu berhenti didepan sekolah. Ia mengatur nafasnya seteratur mungkin walau pada akhirnya jantungnya berdetak tak karuan. Anak-anak sudah nampak meramaikan sekolahnya. Untuk pertama kalinya ia takut masuk ke sekolah. Padahal sekolah menjadi tempat satu satunya yang Arin bisa andalkan. Namun sekarang, rasanya beda.

Arin sadar sedari tadi ia menjadi pusat perhatian, beberapa anak yang dulu ia sapa dengan ramah kini mencibirnya, anak-anak yang dulu mendekatinya kini diam-diam menyebarkan gosip keseluruh sekolah dan temannya yang dulu ia andalkan membuat Arin terdiam.

Wah benarkah itu Ayah Kim Arin?

Memalukan sekali

Jadi dia tersangka yang sudah lama dicari? Kim Arin pasti sangat malu

Ini benar-benar mengejutkan

Kim Arin selalu tersenyum dan ramah, mengingatnya aku jadi kasian

Malang sekali nasibnya

Kudengar dia dan Baekhyun juga sudah putus

Benarkah?

Wah dia sering mentraktir kita loh, apa dia pakai uang korupsi juga?

Wahhh

Cukup Kim Arin tak kuat mendengarnya. Kini ia berlari keluar sekolah namun terkejut ketika melihat mobil hitam sudah ada didepan gerbang. Beberapa dari mereka bahkan sudah membawa alat perekam dan mic. Arin terdiam, membatu dan tersadar bahwa sedari tadi ia selalu merapalkan satu nama yang bahkan tak mungkin datang.

“Baekhyun…”

“Nona Kim… cepat..”

Sekertaris Han dan Kang Jun Ahjussi dengan sigap membawa pergi Arin. Ia berhasil keluar dari sekolah tanpa diketahui oleh media. Kali  ini Arin hanya diam, bahkan tak bisa lagi menangis. Ia sudah lelah bahkan untuk sekedar membuka mata ia sudah tak sanggup. Ia melirik dari jendela mobil melihat gedung sekolahnya yang semakin melaju semakin kecil dimatanya.

Akankah hidupnya, semua kenangannya disekolah dan dirinya berakhir seperti ini?

“Baekhyun….”

***

Kim Arin membuka matanya dan tak sadar ia sudah sampai ke bandara. Sekertaris Han membuka bagasi dan menoleh was was lantaran takut jika ada media yang ikut kemari juga. Seperti yang diduga, ada media yang melihat Sekertaris Han dan terpaksa mereka masuk ke mobil lagi dan pergi menjauh.

Kim Arin sudah lemas ia tak tahu kemana akan dibawa pergi yang jelas jika boleh ia hanya ingin ini semua segera berakhir.

“Aku tahu satu tempat yang kupikir aman untuk Nona Kim” Usul Kang Jun Ahjussi.

“Dimana itu?” Sekretaris Han sudah tidak tega melihat Arin, dimanapun itu asal Arin aman tak masalah.

“Dirumah ibuku, disebuah desa di Busan”

“Kau yakin disana aman?”

“Menurutku aksesnya sulit untuk media pergi kesana. Harus naik kapal, kalaupun bus hanya datang beberapa kali”

“Tidakkah itu terlalu pelosok?”

“Tak apa….” Sela kim Arin “Aku juga tidak ingin meninggalkan Ayahku terlalu jauh. Selama itu masih di Korea. Gweenchana.”

Mereka memandang Kim Arin dengan sayu, gadis itu bahkan seperti mayat hidup. Kedua lelaki itu akhirnya memutuskan untuk membawa Arin kesana.

“Iya bu, kau bisa menjemputnya disana?” Kang Jun menelpon Ibunya dengan logat Busan yang kental. Saat ini mereka sedang makan malam di dekat pantai. Arin memilih duduk di dekat bibir pantai daripada makan malam, namun ia tak bisa membiarkan kedua lelaki itu tak makan, biarlah dirinya yang tak usah makan. Ia sudah dibujuk untuk makan, namun ia benar-benar tak bisa.

“Ibuku mau, ayo nona kim kita berangkat sekarang. Mungkin besok baru sampai, anda bisa istirahat dulu nona..”

“Ahjussi… jangan panggil aku nona. Panggil saja aku Arin, aku bukan lagi nona muda.”

***

Arin terjaga semalaman, ia sampai ditempat yang mana akan menjadi kehidupan barunya. Ia membuka jendela dan terpesona pada tempat ini. Musim dingin berangsur hilang digantikan udara hangat yang menerpa pipinya.

Sesampainya di tempat ia menyapa Nenek Ok yang sangat ramah bahkan Arin merasa sangat nyaman. Ia sudah menyiapkan berbagai makanan khas disana dan rasanya sangat lezat. Sudah lama sekali ia tidak menikmati makanan rumah.

Setelah makan Arin duduk di pinggir pantai, burung camar banya berterbangan membuat pantai tak terasa sepi. Arin tersenyum

“Kau lihat kan? Aku mampu melakukannya” Ujarnya pada diri sendiri “Kim Arin kau pasti menghadapinya”

Arin tersenyum setelah melihat pantai, ia putuskan untuk menjadi Kim Arin yang baru dan ia sudah meninggalkan Kim Arin yang lama jauh jauh dan hilang bersama deburan ombak yang menghapus setiap luka.

Sekretaris Han mendekati Arin, Arin menunduk “Terimakasih atas segalanya Ahjussi, baik menjagaku dan juga Appaku”

“Kalian sudah seperti keluargaku. Tuan Kim sangat baik padaku.”

“Ahjussi apa aku boleh minta satu hal lagi?”

“Apa itu?”

“Tolong jaga Appaku hehe..” Sekertaris Han tersenyum ia mengelus puncak kepala Arin “Ini akan segera berlalu.. Kau harus kuat”

Arin merasa pelupuk matanya berair. “Ne, ahjussi gomawo..”

“Ayahmu pasti sangat bangga memiliki putri sepertimu”

“Ehm..” Ia menoleh pada Sekertaris Han “Aku masih bisa mengirim suratkan pada Appa?”

“Tentu saja.”

***

Musim dingin perlahan berganti menjadi musim hangat, bunga yang tadinya membeku kini mencari dan merekah. Yang dulu layu kini tumbuh kembali. Yang lalu kini terbenam, terbukalah lembaran baru secerah matahari yang kini menerpa wajah gadis berambut sebahu itu.

“Kau sudah sampai?” Teriak seorang lelaki paruh baya yang melepas topi hijaunya. Sepatu boots usang yang ia pakai berdecit tatkala mendekati gadis itu. Ia mengeluarkan beberapa lembar won dari sakunya lalu memberikannya.

“Kau sudah bekerja keras.” Lelaki paruh baya itu tersenyum “Kerja bagus.”

“Gamshamnida Ahjussi. Aku membawa sawinya dengan sangat hati-hati…” Lelaki itu tertawa keras. Setelah berpamitan, gadis itu mengayuh sepedanya dan kembali ke pasar.

Kayuhannya berhenti, ia meletakan sepedanya di pinggir jembatan kayu. Ia menatap lautan yang membentang dihadapannya. Deburan ombak mengalun di telinganya. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas panjang lalu menghelanya dengan keras.

“KERJA BAGUS KIM ARIN…..” Teriaknya pada lautan disana. Angin menyibak rambutnya yang kini tak lagi panjang.

Gadis itu, Kim Arin. Penampilannya sudah berubah sejak terakhir kali ia sampai disini. Ia mengubah penampilannya, merelakan rambut panjangnya ia pangkas hingga menyisakan rambut sebahu.  5 bulan berlalu begitu cepat. Ia sudah menjadi siswa tingkat akhir. Walau hidupnya benar-benar berubah 360derajat. Gadis itu, Kim Arin bisa melewati badai besar. Dan kini tinggalah lembar baru yang akan diisi kehidupannya di Busan.  Tanpa luka, tanpa Seoul, tanpa teman-temannya dan juga

Baekhyun…

TBC

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 13)”

Tinggalkan Balasan ke Almeera Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s