Maliciously Missing — Len K [Chapter 03]

 

Maliciously missing

(.n)people who, for whatever reason, decide they simply don’t want to be found

 

Pihak kepolisian boleh berkata bahwa kasus menghilangnya Minrin bukan prioritas mereka. Namun bagi sebagian orang, Minrin tetaplah prioritas mereka. Tanpa petunjuk kuat, mereka terus berusaha mencari keberadaan Minrin dan Junmyeon adalah salah satunya.

Berhasilkan usaha mereka?

Apakah mereka akan menemukan suatu petunjuk?

 

MALICIOUSLY MISSING

 

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied; I own the plot. This is a work of fiction. Names, characters, businesses, places, events, and incidents are either the product of the author’s imagination or used in fictitious manner. Any resemblance to real persons, living or dead, is unintentional and purely coincidental. No profit taken from this work

 

Starring: Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC), Oh Sehun EXO, etc | Rate: T | Genre: Drama, Mystery

 

 

Special thanks to Kak IRISH for the poster and Kak Liana  for being my beta

 

 

WARNING!!

Non-canon!AU, possibly OOC, typo(s). Setting take place in Indiana, USA. Rate may changes. Additional casts to be added. I did the research before related to missing person’s cases and Indiana state itself, and other things in this fiction, but still, I’m sorry if you find some inaccuracy.

 

 


 

 

 

Dengan kesibukannya yang padat, Junmyeon tahu dirinya harus menyeimbangkannya dengan sedikit bersenang-senang sebelum stress semakin membebaninya. Maka dari itu ketika rekan-rekan kerjanya menyeretnya dengan paksa untuk ikut bermain bowling di Jumat malam seperti sekarang ini, Junmyeon hanya bisa pasrah.

“Dirimu berkoar-koar ingin hiburan, bersenang-senang, tapi ketika diajak bersenang-senang kau dan otakmu langsung membuat berbagai alasan yang hanya masuk akal bagimu untuk menolaknya! Serius, kau menyebalkan jika seperti ini, Jun. Persetan dengan alasanmu! Sekarang kau ikut aku!” Itu tadi yang dikatakan Peter sebelum memaksa Junmyeon masuk ke mobilnya.

Junmyeon hanya bisa pasrah. Karibnya itu memang ada benarnya, tapi karibnya itu juga harus tahu bahwa definisi bersenang-senang dalam kamusnya adalah menghabiskan waktu sendiri, tenggelam dalam buku-buku seraya menyeruput kopi. Atau menikmati serial melalui laptonya sambil duduk manis di tempat tidurnya berbalut selimut tebal dan camilan yang sudah siaga. Atau hanya berjalan-jalan seorang diri dengan kamera yang siap membidik apa saja yang menurutnya menarik. Hingar-bingar tidak cocok untuk seorang introvert sepertinya.

Well, sepertinya Peter tidak peduli itu semua. Menjadi kawan Junmyeon sejak bangku kuliah membuat pemuda Jones itu tahu betul bagaimana sifat Junmyeon; terlalu serius, kadang kaku, tipikal siswa teladan yang disukai guru ataupun dosen tanpa harus menjilat. Kawan Koreanya itu butuh bersenang-senang dan dirinya hadir untuk jadi penyeimbang.

“Kau tahu aku tidak begitu mahir bermain bowling, Jones,” kata Junmyeon begitu tiba di Woodland Bowling Center setelah kurang lebih setengah jam perjalanan yang ramai di mobil Peter. Terima kasih pada Linda, David, dan Marie yang satu mobil dengannya dan tanpa henti bernyanyi dan melempar lelucon-lelucon.

Peter berdecak kesal. “Kau pikir ini apa, Kim? Sebuah kompetisi?”

“Bukan—“

“Maka dari itu!” Tangan Peter terangkat, pun dengan suaranya. “Maka dari itu kau tidak perlu khawatir! Kita disini untuk bersenang-senang, bukan untuk berlomba. Rilex, man!” Peter menepuk-nepuk dada Junmyeon.

I hope the thirty minutes of riding is worth it,” gumam Junmyeon.

Of course! Aku janji.”

“Tapi kenapa harus kemari? Secara teknis, kita menghabiskan waktu satu jam untuk perjalanan pulang-pergi.”

“Itu karena rekan sejawat kita tercinta, Marie Swanson, adalah pelanggan setia Woodland. Dia bahkan sudah akrab dengan pemiliknya semenjak sekolah menengah pertama. Jadi ada kemungkinan yang tinggi untuk harga yang lebih murah,” Peter nyengir, “lagi pula tempat ini tidak begitu jauh dari rumahmu, in case you forget,” cibir si pirang. Junmyeon membalasnya dengan ekspresi mana-mungkin-aku-lupa-bodoh.

Hey, guys! Come on!” Marie yang sudah berada di ambang pintu masuk melambaikan tangan.

Tanpa menunggu lama, lengan Peter sudah melilit leher Junmyeon. Membuat langkah Junmyeon jadi terseok-seok dan mengutuk tinggi badan teman pirangnya itu dalam hati.

Saat awal bermain Junmyeon masih belum bisa menikmati sepenuhnya rencana Jumat malam dadakannya ini, namun ketika David Stafford mengusulkan untuk membagi kelompok kecil mereka menjadi dua tim dan memasang taruhan untuk makan malam, suasana menjadi memanas dan perlahan-lahan Junmyeon mulai menikmati waktunya. Kelompok pertama terdiri dari Junmyeon Kim, David Stafford, Linda Young, dan Thomas Livingston. Kelompok kedua diisi oleh Peter Jones, Marie Swanson, Jennifer Spence, dan Marcus McFarland.

Dua kelompok para dokter itu mengisi lane kelima dan keenam di Woodland dan secara otomatis menjadi dua kelompok paling ramai dan hidup yang ada di sana. Seruan dan sorakan penuh kemenangan datang silih berganti dengan desah kecewa ketika skor mereka tertera di papan.

Not bad, right?” Junmyeon berjalan kembali ke kursinya setelah gilirannya melempar bola sudah selesai. Dia memang tidak mencetak strike, tapi setidaknya hanya ada satu pin yang masih tegak berdiri tadi.

Yeah, not bad, man!” Thomas yang mendapat giliran setelah Junmyeon segera berdiri dan bersiap-siap. Tidak lupa mempertemukan kepalan tangannya dengan milik Junmyeon.

Junmyeon kembali menempati tempat duduknya, namun yang jadi perhatiannya bukanlah Thomas, rekan satu timnya, maupun anggota tim lawan. Sejak pertama kali dia menjejakkan kaki di sini, yang menyita perhatiannya adalah salah seorang wanita yang ada di gerombolan lain di tempat itu. Tidak Junmyeon lewatkan satu kesempatanpun untuk tidak mencuri pandang ke arah wanita tersebut.

Dua hal yang membuatnya tertarik pada wanita tersebut adalah: pertama, wanita tersebut sering mencetak strike. Posturnya saat melempar juga benar-benar bagus. Kedua, wanita tersebut adalah orang Asia, Korea seperti dirinya mengingat beberapa teman-temannya menyerukan nama ‘Choi’ di hampir setiap kesempatan wanita itu maju melempar bola. Junmyeon merasa ada sejenis perasaan yang menariknya pada wanita itu. Sebuah perasaan kembali ke rumah yang kau rasakan ketika bertemu seseorang yang berasal dari negara yang sama denganmu di tanah asing. Tambahkan senyum lebar dan tawa adiktif wanita itu, maka jadilah tiga hal yang membuat Junmyeon tertarik.

“Oke, sirkuit otak Kim sepertinya bermasalah,” ujar Linda ketika untuk yang kesekian kalinya Junmyeon tidak merespon panggilannya.

Peter kemudian mengikuti arah pandangan Junmyeon yang masih melamun. Seulas senyum muncul di bibirnya. “Kawan-kawan, bukan seperti itu. Kim kita sedang terpesona.”

Kelompok kecil Junmyeon melihat ke arah yang dilihat Peter. Semua ber-ahh bersamaan ketika menyadari apa yang dimaksud Peter.

“Ya Tuhan, dia bahkan tidak sadar kita sedang terang-terangan membicarakannya!” Jennifer tertawa-tawa melihat ekspresi terpana di wajah Junmyeon.

“Bumi kepada Jun, bumi kepada Jun.” Tangan Marcus melambai-lambai di depan wajah Junmyeon. Masih tidak ada respon. “Oh my God! Hahahaha!” Dokter bertubuh cungkring dengan rambut berwarna coklat itu terbahak seraya memegangi perutnya.

“Hei, seseorang tolong sadarkan dia sebelum dia meneteskan air liur dan dianggap sebagai seorang maniak, atau sebelum wanita yang dia terus pandangi itu menyadari apa yang dilakukan Jun dan melaporkan Jun ke keamanan,” sahut Linda, “he looks creepy in this state, seriously.

Sebuah ide terlintas di pikiran Peter. Dokter pirang itu kemudian duduk di samping Junmyeon dan mulai memasukkan tangannya ke dalam kaus Junmyeon, kemudian dengan perlahan melingkarkannya ke pinggang kawannya itu, meraba-raba badan Junmyeon.

For the God’s sake, Jones!” Junmyeon sudah tersadar dari lamunannya dan bergidik seraya buru-buru melepaskan tangan Peter.

Tawa segera pecah dan muka Junmyeon mulai memerah saat ia menyadari apa yang terjadi. Sungguh memalukan, dirinya baru saja tertangkap memandangi seorang wanita asing di tempat umum, di hadapan teman-temannya sendiri. Bagus, jika wanita itu juga menyadari apa yang ia lakukan, lengkap sudah penderitaannya.

“Sekarang kau juga kelihatan menyeramkan, Pete,” sahut Jennifer. Peter hanya membalasnya dengan tawa sambil mengedikkan bahu cuek.

“Kau tahu, Bung?” David mengambil tempat di samping Junmyeon dan merangkulnya, “kalau kau memang tertarik pada wanita itu, yang harus kau lakukan adalah menghampirinya dan memulai konversasi. Bukannya hanya duduk diam dan memandanginya.”

“Mudah untuk sekedar bicara, Bung,” cibir Junmyeon.

David tertawa lebar hingga manik zamrudnya tidak terlihat. Sudah jadi rahasia umum jika Junmyeon adalah orang yang bisa dibilang payah dalam hal seperti ini.

Come on, Jun! Man up!” Marcus memberi semangat. “Kesempatan kedua memang ada, tapi itu tidak selalu datang. Jangan biarkan dirimu menyesal.”

Junmyeon menggeleng. “Tidak, aku tidak bisa.” Teman-temannya otomatis mengerang kecewa dan bertanya kenapa. “Aku … aku tidak bisa! Maksudku, kalian lihat laki-laki Asia bertubuh jangkung dan berkulit putih itu? Dia tampaknya dekat dengan si wanita. Mungkin saja mereka adalah sepasang kekasih, kan?”

“Wow, wow, kau terlalu cepat mengambil kesimpulan,” sahut Linda.

“Tapi kemungkinan itu ada, Linda.” Tegas Junmyeon. “Bagaimana jika mereka memang sepasang kekasih? I’d be fucked up, guys!

“Tapi kemungkinannya adalah fifty-fifty,” bantah Peter, “ayolah Jun, coba untuk dekati dia. Jika laki-laki Asia itu memang kekasihnya, ya sudah, selesai. Setidaknya kau sudah mencoba dan tidak ada salahnya menambah kenalan. Jika bukan, selamat! Kesempatanmu terbuka lebar. There’s no harm in trying, Jun.”

Satu-satunya pria Asia di kelompok para dokter itu terpekur. Ucapan Peter lagi-lagi ada benarnya, dan beberapa gelas alkohol—walau dalam kadar rendah—telah membantu Junmyeon untuk mengambil suatu keputusan yang akan dianggapnya impulsif ketika pengaruh alkohol dalam tubuhnya menghilang.

“Lihat, lihat,” Marie menyikut rusuk Junmyeon, “dia pergi. Kurasa ia memesan makanan. Bukankah ini kesempatan bagus untukmu, Jun? Kebetulan kami juga lapar.”

Peter menatap bangga Junmyeon yang hanya butuh satu tarikan nafas sebelum berkata, “Oke” dan menyusul wanita yang dimaksud.

“Aku bertaruh lima puluh dolar kalau Junmyeon berhasil mendapatkan nomor ponsel wanita itu,” ujar Peter dan semua segera memasang taruhan mereka.

 

 

“Minrin, that guy over there is clearly drooling at you for the past three minutes!” Chris Howard, sang rotisseur dalam tim Minrin di dapur Provision memberi tekanan pada setiap kata yang diucapkannya. Bahunya mengedik ke arah sekelompok pemuda-pemudi yang sedari tadi menguasai lane kelima dan keenam.

Bullshit,” balas Minrin singkat sebelum meneguk cocktail-nya.

“Chris, kurasa kau harus membenturkan kepala head chef kita ke tembok agar ia sadar.” Giliran Luna Hernandez si garde manger yang angkat bicara. Minrin mengangkat bahu cuek, Luna berdecak sebal karenanya. “Sous chef Oh, yakinkan Minrin kalau pemuda Asia dalam kelompok itu tertarik padanya!”

Minrin menatap Sehun yang duduk di sampingnya. Pria Korea bertubuh tinggi itu hanya tersenyum-senyum padanya. “Mereka benar,” katanya singkat, “hanya orang bodoh yang tidak menyadari bahwa pemuda Asia di sana tertarik padamu.”

“O, jadi kau sebut aku bodoh?” Tangan Minrin tersilang di depan dadanya.

“Tidak.” Sehun menggeleng. “Tapi kau adalah idiot.” Tawa kelompok chef restoran Provision itu seketika meledak. Kecuali Minrin tentunya. “Ayolah, Minrin. Aku tahu kau punya masalah dalam hal komitmen tapi menurutku tidak ada salahnya mencoba. Dengar, ketika kau mencoba berkenalan dengannya, tidak ada hukum yang mewajibkan kalau kau harus berkencan dengannya. Kau bisa saja hanya berteman dengannya dan menurutku tidak salah kalau kau berusaha memperluas lingkaran pertemananmu.”

Sejenak Minrin merasa bimbang. Ia bukannya tidak tahu jika pria Asia di sebelah sana terus-menerus mencuri pandang ke arahnya. Hell, bahkan tatapan mereka sempat bertemu beberapa kali dan pria itu sempat tersenyum tipis. Bohong jika Minrin bilang ia tidak tertarik, tapi Minrin bukanlah tipe orang yang memulai langkah pertama. Jadi yang mampu dilakukannya adalah mencuri-curi pandang seperti yang dilakukan si pria. Konyol memang.

“Sekarang begini saja,” Paul Patterson yang memiliki posisi sebagai saute chef angkat suara, “kau coba pesan pizza untuk kita dan beberapa hidangan penutup—oh, minuman juga. Kalau pria itu mengikutimu, maka dia jelas-jelas tertarik denganmu dan kau harus berkenalan dengannya—“

“Bagaimana jika dia tidak mengikutiku?” potong Minrin.

“Omong kosong.” Paul mencebik, telunjuknya terarah pada si head chef. “Dia jelas-jelas akan mengikutimu dan kau akan berkenalan dengannya.”

“’Kau akan berkenalan dengannya’, kau terdengar begitu yakin di sini, Paul. Mengapa? Lalu bagaimana jika aku mematahkan keyakinanmu itu?” tantang Minrin.

“O, God!” Paul mengerang. “Kau pikir aku tidak tahu bila kau juga berusaha keras mencuri pandang ke arahnya?” Teman-teman seketika tertawa melihat Minrin yang salah tingkah dan hampir menumpahkan minumannya. “Apabila kau tidak berkenalan dengannya, kami akan menyiksamu di dapur dalam jangka waktu yang tidak ditentukan,” tandas Paul.

“Hei! Itu kejam!” Minrin memekik pelan.

“Ini demi kebaikanmu.” Sehun menimpali.

“Yang benar saja.” Kedua bola mata Minrin berputar malas. “Jika aku berhasil berkenalan dengan pria itu, apa yang akan kalian berikan?” Ia tidak bisa pergi begitu saja mengakui kekalahannya tanpa mengambil keuntungan sedikitpun, kan?

“Kami akan mengabulkan tiga permintaanmu. Apapun itu selama kami sanggup memenuhinya,” jawab Sehun, “permintaan seperti wisata ke luar angkasa atau bahkan Maladewa tentu tidak akan kami kabulkan.”

Minrin terkekeh. Tiga permintaan tidaklah buruk. Dia bisa meminta Sehun dan yang lainnya untuk membayar bensin mobilnya selama sebulan penuh atau yang lain. “Oke. Call.” Dengan begitu Minrin pergi.

“Dua puluh lima dolar untuk Minrin berhasil berkenalan dengan Tuan Asia?” tawar Sehun pada teman-temannya yang tentu dijawab dengan rintihan penolakan.

“Kau lupa jika Minrin bisa saja meminta kita membayar sewa apartemennya, hah?!” bentak Chris gusar dan Sehun hanya tertawa.

 

 

Taruhan tadi membuat Minrin merasa konyol. Memangnya dia—mereka—ini apa? Sekelompok bocah sekolah menengah atas? Mengapa pula ia harus menyetujui tawaran Sehun? Dan pada adrenalin dan hormon tubuhnyalah Minrin menumpahkan penyalahan.

Pemilik marga Choi yang tadinya menyumpahserapahi sisi impulsif dirinya, kini sumpah serapahnya telah berganti objek. Otaknya langsung mengirim sinyal panik ketika ia melihat si Pria Asia ternyata mengikutinya dan kini berdiri tepat di sampingnya dan oh, holy shit, dia kelihatan lebih menawan dari dekat.

“Ada lagi, Miss?” Pertanyaan dari pramusaji sedikit mengalihkan fokus Minrin.

No, thanks,” balas Minrin tidak lupa untuk tersenyum. Dia yakin saat ini senyumannya terlihat sangat aneh. Jika tidak, mana mungkin pramusaji tadi tersenyum tapi menatapnya dengan tatapan aku-tidak-tahu-kau-kenapa-tapi-sepertinya-kau-kena-sembelit sebelum pergi.

“Baiklah, mohon tunggu sebentar.” Pramusaji tadi kemudian menyebutkan total yang harus dibayar dan menerima pembayaran dari Minrin sebelum beralih melayani Pria Asia di sampingnya yang sudah mencuri perhatiannya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mengetahui pesanan pria tersebut dan ya Tuhan, suaranya lembut sekali dengan aksen tipis.

Tidak lama kemudian keduanya tinggal sendiri. Pramusaji tadi sudah beralih ke konsumen lain dan sungguh, Minrin dan Pria Asia yang berdiri bersisian menunggu pesanan mereka dalam diam itu tampak canggung sekali. Minrin bahkan entah sudah berapa kali memindahkan berat badannya dari kaki satu ke kaki lain saking gugupnya.

“Pesananmu banyak sekali, ya?”

Apa? Tunggu, apa Pria Asia itu tengah berusaha untuk mengobrol dengannya? Tidak mungkin, kan? Tapi dirinya adalah satu-satunya orang dalam radius terdekat dengan pria itu dan sekarang jelas-jelas pria itu tengah menatapnya!

“Ya,” Minrin sedikit mengutuk suaranya yang bergetar. Ia terbatuk sebentar sebelum melanjutkan, “sangat jarang kami menikmati waktu seperti ini di Jumat malam. Kami cukup sibuk, kalau boleh dibilang.” Apa yang harus ia katakan, demi Tuhan? “Kau juga. Pesananmu tidak kalah banyak dari milikku.” Betapa Minrin berterima kasih pada otaknya yang cepat tanggap.

Pria itu tersenyum. “Sama sepertimu. Kami sudah sangat sibuk, jadi … begitulah.”

“Oh.”

“Ya.”

Keheningan yang canggung kembali menyelimuti keduanya.

“Aku Junmyeon, Kim Junmyeon.” Tangan pria itu terulur. Senyumnya kembali muncul dan saat itu rasanya otak Minrin mengalami korsleting.

“Minrin, Choi Minrin.” Minrin membalas uluran tangan pria itu—Junmyeon. Hangat. Bisakah ia tidak melepasnya? O, jangan Minrin. Dia akan berpikir kau ini seorang maniak. “Kau orang Korea?”

“Ya, pindah kemari sejak bangku kuliah dan memutuskan untuk menetap. Kau sendiri?”

“Aku sudah ada di Negeri Paman Sam sejak kelas tiga SD.”

“Wow, itu bukan waktu yang singkat. Apa yang kau lakukan sekarang?”

Perlahan-lahan baik Junmyeon maupun Minrin mulai merasa nyaman. Minrin tidak lagi memindah-mindahkan berat tubuhnya dan Junmyeon sudah sedikit bersandar pada pantry dengan santai.

“Aku seorang chef di Provision. Kau sendiri?”

“O, Provision. Aku tahu tempat itu. Maksudku, siapa yang tinggal di Indianapolis dan tidak tahu Provision? Kau pasti chef yang hebat.” Senyum malu-malu Minrin muncul saat Junmyeon dengan terang-terangan memujinya. “Aku bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Universitas Indiana.”

“Ah, aku juga tahu itu. Alamatnya di lima-lima puluh University Boulevard, kan? Sekitar tiga puluh menit dari restoran tempatku bekerja.”

Junmyeon mengangguk mantap. “Kau benar sekali.”

Saat pulang, wajah Peter, Linda, Thomas, dan Marie tampak sumringah karena mereka menang taruhan. Sama halnya dengan Junmyeon. Pintu kesempatan terbuka lebar baginya.

 

 

***

 

 

“Jun, Jun, what’s the matter?” Peter menggoyang-goyangkan bahu Junmyeon lembut. Berusaha membawa kawannya kembali ke dunia nyata.

Sekarang adalah Jumat malam. Beberapa dokter Rumah Sakit Universitas Indiana yang jam kerjanya sudah berakhir memutuskan untuk melepas penat sejenak sebelum kembali ke rumah masing-masing. Bermain bowling di Woodland Bowling Center menjadi pilihan mereka karena Marie mendapatkan kupon potongan harga.

Semuanya baik-baik saja. Mereka membagi kelompok mereka dalam tiga tim, memesan pizza dan soda untuk dimakan sembari menunggu giliran mereka melempar bola, satu-dua taruhan dibuat dan tidak menutup kemungkinan akan bertambah. Suasana sekelompok dokter tersebut sangat hidup.

Lain halnya dengan Junmyeon. Meski pemuda itu beberapa kali melontarkan senyum dan menunjukkan antusiasmenya pada pertandingan kecil mereka, ada sesuatu yang mengganjal darinya. Peter, sebagai kawan Junmyeon dengan mudah mengetahui bahwa pria Korea itu tidak seperti biasa. Sejak menghilangnya Minrin pemuda Korea itu memang berubah, tapi kali ini terasa lebih … berbeda.

Meskipun Junmyeon tidak begitu ahli dalam bowling, tapi dia juga bukanlah seorang amatir. Biasanya setengah dari sepuluh pin bisa dijatuhkan Junmyeon. Itu jumlah minimal. Terkadang ia bisa mencetak strike juga tapi kali ini bahkan seringkali tidak ada pin yang jatuh dari lemparan Junmyeon. Belum lagi beberapa kali ia hampir jatuh terpeleset padahal sudah mengganti sepatunya dengan sepatu khusus bowling.

“Jun.” Peter memanggil Junmyeon sekali lagi. Sekarang ketujuh dokter lainnya menghentikan permainan mereka dan menatap Junmyeon yang tengah melamun dengan penuh simpati. “Hei, Bung, kau tak apa?” Kali ini Peter mengguncang bahu Junmyeon lebih keras.

“O! Ya, ya, aku tidak apa-apa.” Junmyeon tergagap dan tampak sedikit bingung. Kesadarannya mungkin sedang terombang-ambing saat ini.

“Kau yakin?”

Yeah, Peter. Aku hanya ….” Tangan Junmyeon bergerak-gerak di udara. Sekarang Junmyeon baru sadar jika dia menjadi pusat perhatian. Semua mata menatapnya. “Aku hanya lelah, itu saja. Kurasa aku akan pulang saja. Sampai jumpa besok semua.” Junmyeon menyambar jaketnya dan berjalan keluar.

“Junmyeon!” Panggilan Peter diabaikannya. “Kalian lanjutkan saja permainannya, aku akan bicara pada Junmyeon.” Peter berpesan pada teman-temannya sebelum berlari keluar menyusul Junmyeon.

Beruntung Peter mempunyai kaki panjang yang memberinya langkah lebar-lebar. Dirinya berada di tempat parkir tepat pada waktunya. Tepat sebelum Junmyeon tiba di mobilnya dalam beberapa langkah lagi.

“Jun!” Tangan Peter segera menemukan tempatnya di pundak Junmyeon. Pemuda yang lebih pendek darinya itu kemudian membalikkan badannya. Wajahnya mengernyit tidak suka dan dalam jarak sedekat ini Peter bisa melihat betapa hitamnya lingkaran di sekeliling mata Junmyeon. “Kau kenapa, Bung? Kau tidak seperti biasanya.” Suara pelan Peter terdengar cukup keras karena kondisi tempat parkir yang sepi.

Seketika itu juga mimik wajah Junmyeon berubah. Segala emosi yang disimpannya rapat-rapat mulai keluar perlahan. Dengan kasar, ditepisnya tangan Peter yang ada di bahunya. “Tidak seperti biasanya katamu?” Suara yang keluar dari kerongkongan Junmyeon pelan, tapi entah kenapa Peter justru merasa ciut.

“Tentu saja aku tidak seperti biasanya! No shit, Jones!” Berikutnya, yang keluar adalah sebuah teriakan keras hingga Peter tersentak dan menjauhkan diri. Siapa sangka jika pria kecil seperti Junmyeon bisa mengeluarkan suara sekeras itu. “Bagaimana aku bisa seperti biasanya ketika Minrin sudah menghilang selama satu bulan dan tidak ada kabar apapun darinya?! Aku bahkan tidak tahu dimana dia, bagaimana keadaannya, mengapa ia pergi, dan itu semua membuat kepalaku ingin meledak!”

“Jun, tenanglah…”

“Bagaimana aku bisa tenang?!” Sentak Junmyeon, masih dalam nada tinggi. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya orang yang kau cintai tiba-tiba menghilang begitu saja! Aku khawatir setengah mati dan pikiranku terus-menerus mempermainkanku, merecokiku dengan segala macam jenis skenario buruk dan mimpi-mimpi yang tidak kalah buruknya. Setiap malam kau pikir aku bisa tidur dengan nyenyak? Hell, fucking no way, Peter! Aku selalu terbayang-bayang oleh Minrin. Belum lagi gagasan bahwa akulah penyebab semua ini terjadi. Aku tahu gagasan itu hanyalah hipotesa yang belum teruji, tapi mengetahui bahwa aku menemui jalan buntu untuk menemukan jawabnya membuatku frustasi!

“Bagaimana jika Minrin tengah dalam situasi gawat saat ini, meminta pertolongan tapi tidak ada yang datang padanya? Bisa kau bayangkan betapa paranoidnya aku? Lalu bagaimana jika ternyata di suatu tempat Minrin baik-baik saja, menjalani kehidupan barunya dengan tawa sementara aku disini tercampakkan, berantakan, perlahan-lahan hancur dan mati-matian mencoba untuk bertahan dan melanjutkan hidup? Bisa kau bayangkan betapa terkhinatinya aku?!

“Semua pemikiran itu meracuniku setiap hari, pagi, siang, maupun malam tanpa kuminta. Menyita sebagian besar fokus dan energiku sementara sebagai orang dewasa pada umumnya aku sadar aku punya kewajiban yang harus kupenuhi dan menyeimbangkan itu semua tidaklah mudah! Selama satu bulan lebih aku hanya berjalan di tempat, Peter. Mencari-cari petunjuk yang bisa membawaku pada Minrin dalam gelap tapi yang kutemui hanyalah jalan buntu dan aku tidak tahu harus bagaimana lagi!”

Nafas Junmyeon tersengal setelah semua emosi yang mampat di dadanya akhirnya lepas. Tanpa ia sadari, likuid bening sudah mengucur deras dari netranya sejak tadi. Di hadapannya, Peter menatapnya dengan penuh simpati dan Junmyeon tidak suka orang lain melihat dirinya berantakan seperti ini.

Peter tetap bergeming di tempatnya. Memberi waktu dan ruang bagi kawannya untuk menata dirinya kembali. Peter tahu apa yang dilalui Junmyeon tidaklah mudah. Ia memang tidak pernah merasakan apa yang dialami Junmyeon dan berharap tidak akan mengalaminya, tapi ia adalah manusia yang punya empati.

Pemuda dengan netra biru itu tahu, dibalik senyum Junmyeon selama sebulan lebih belakangan ini ada badai yang bergemuruh di dalam diri karibnya itu. Dirinya ada di sana, di sebuah bar langganan mereka, saat Junmyeon bersikeras memutuskan untuk menenggak bergelas-gelas alkohol seraya bercerita mengenai perkembangan kasus Minrin.

Dengan mata sembab berlinangan air mata dan cegukan, Junmyeon bercerita bahwa kasus Minrin bukanlah prioritas kepolisian. “Tidak ada jejak tindak kekerasan, ancaman, atau kondisi kejiwaan yang labil pun tendensi bunuh diri. Jadi polisi memasukkan kasusnya ke dalam kasus orang hilang secara suka rela. Karena hal-hal tadi dan karena Minrin adalah orang dewasa.” Junmyeon menjelaskan dengan terbata-bata dan sesenggukan.

Kemudian Peter mati-matian berusaha mencegah Junmyeon menenggak lebih banyak alkohol sebelum mengalami keracunan dan mengantarkan kawannya yang mabuk itu kembali ke rumah dimana ia menemui kekacauan kolosal. Hal yang janggal bagi seorang Junmyeon yang terkenal akan keterorganisirannya. Jika diingat-ingat, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak Peter diceramahi oleh pria yang lebih pendek darinya itu untuk menjadi lebih rapi.

Sungguh, rumah Junmyeon terlihat seperti habis dihantam oleh badai atau tsunami. Sepatu-sepatu tergeletak tak beraturan di rak dekat pintu masuk beserta sikat dan semir yang sudah jatuh ke lantai. Ruang tamu tampak tidak pernah dibersihkan. Ada dua potong jaket dan mantel teronggok di sofa, mengabaikan kehadiran gantungan untuk mantel yang kini justru didiami oleh sebuah sabuk kulit. Ruang tengah tidak ada bedanya. Makanan berceceran di meja sampai ke lantai, beberapa potong baju tergeletak di lantai dan kursi, tumpukan berkas yang hanya Junmyeon yang tahu, dan beberapa benda yang bisa Peter identifikasi sebagai bukan sampah setelah memicingkan mata.

Peter segera membawa Junmyeon ke kamar di lantai dua. Kamar Junmyeon adalah kekacauan paling kolosal dari semua ruangan yang sejauh ini ia lewati. Lemari terbuka menampilkan jajaran pakaian yang dimasukkan dan digantung asal-asalan, beberapa jatuh ke bawah tapi sepertinya Junmyeon tidak begitu mempedulikannya. Ada ceceran kertas di lantai dan Peter berharap itu bukan dokumen penting yang berhubungan dengan pekerjaan. Yang aneh adalah bagaimana tempat tidur Junmyeon yang tertata rapi, sungguh kontras jika dibandingkan dengan kekacauan yang ada. Jelas sekali bahwa Junmyeon sudah lama tidak menempati tempat tidurnya.

Dengan hati-hati Peter membaringkan tubuh Junmyeon dan membungkusnya dalam selimut sebelum berjalan menuju dapur. Ia yakin, saat Junmyeon sadar, kawannya yang lebih pendek darinya itu akan membutuhkan air, aspirin, dan mungkin sedikit makanan ringan seperti roti atau biskuit gandum.

Keadaan dapur sama kacaunya dengan ruangan-ruangan lain. Ada peralatan dapur kotor yang belum dicuci dan menumpuk di wastafel, bahan-bahan sisa masakan yang belum dibuang—Junmyeon pasti berusaha memasak makanannya sendiri tapi Peter tidak ingat jika sahabatnya itu tidak higienis seperti ini—serta keadaan kulkas yang mengenaskan membuat Peter mendesah. Kulkas Junmyeon hampir kosong dan kaleng bir serta beberapa makanan kaleng kelihatan mendominasi.

Setelah mencari-cari, pemuda Jones itu berhasil membuat sup yang ia letakkan di dalam kulkas. Tidak lupa ia menempelkan pesan untuk menghangatkan supnya di microwave dan membawa satu pak roti gandum dan segelas air dan aspirin untuk ia letakkan di nakas samping tempat tidur Junmyeon. Peter akan segera pergi sebenarnya jika saja ia tidak melihat kekacauan lain di ruang kerja Junmyeon. Tumpukan kertas, folder, dan file tergeletak di berbagai tempat; kursi, meja, lantai, bahkan tempat yang tidak lazim seperti atas lemari. Persetan dengan yang dinamakan privasi. Dirinya sudah melewati batas privasi pemuda Kim sejak berkawan di bangku kuliah.

Dengan berhati-hati, Peter membuka beberapa folder maupun buku yang ada di ruang kerja Junmyeon. Sebagian besar adalah berkas-berkas yang sengaja Junmyeon bawa pulang, sebagian lagi adalah coretan-coretan Junmyeon yang berusaha mencari keberadaan Minrin. Helaan nafas berat dikeluarkan Peter saat melihat usaha sahabatnya. Tidak ingin menginvasi lebih jauh, Peter pulang dan menggantikan shift Junmyeon keesokan harinya ketika dokter bermarga Kim itu mengalami hangover yang cukup parah.

“Aku tahu, Jun, bagaimana kerasnya kau berusaha untuk menemukan Minrin. Ini semua pasti berat bagimu,” lirih Peter.

No shit, Jones. Semua yang kulakukan selalu mengingatkanku pada Minrin,” ujar Junmyeon di sela-sela tangisnya dan Peter merasa telah menjadi kawan yang buruk. Tentu saja Junmyeon menjadi begitu kacau. Karena demi Tuhan, mereka bermain bowling—sesuatu yang mahir dilakukan Minrin, dan dari banyaknya tempat bermain bowling mereka berada di Woodland Bowling Center—tempat dimana Junmyeon dan Minrin bertemu untuk pertama kalinya.

“Ma-maafkan aku Jun, ha-harusnya aku tahu—“

“Tidak apa-apa.” Kepala Junmyeon menggeleng cepat. “Aku akan pulang kalau begitu. Sampaikan maafku pada yang lain karena sudah mengacaukan malam dimana kalian harusnya bersenang-senang.”

“Tentu, jika itu maumu. Kau butuh kuantar?”

“Tidak, aku bisa menyetir sendiri.”

“Kau yakin?” Wajar kan, jika Peter merasa sangsi jika melihat kondisi Junmyeon saat ini.

“Tentu.” Tanpa memberi Peter kesempatan untuk menyela, Junmyeon sudah duduk di kursi kemudi. “Sampai jumpa, Peter,” ucap Junmyeon sebelum mobilnya melaju meninggalkan salah satu tempat yang penuh kenangan baginya.

 

 

Perjalanan pulang bagi Junmyeon jadi lebih sunyi dan menyiksa. Air matanya tidak mau berhenti akan tetapi rasa sesak di dadanya masih sama mencekiknya. Dirinya berteriak, memukul kemudi, melakukan apa saja yang sekiranya dapat membuatnya merasa lega tapi semua berakhir sia-sia. Memasuki garasi, mobil Mustang Shelby Convertible berwarna biru navy milik Minrin masih teronggok di sana. Melihat itu Junmyeon merasakan gelombang emosi dan segera menuju pintu depan. Apapun yang mengingatkannya akan Minrin membuat hatinya sakit.

Keadaaan rumah yang gelap, sepi, dan berantakan saat ia datang sama sekali tidak membantu memperbaiki mood-nya. Setelah Peter mengantarkannya pulang dalam keadaan mabuk sekitar tiga minggu yang lalu, keesokan harinya beberapa orang yang datang ke rumahnya. Mereka mengaku telah disuruh oleh Peter untuk membereskan rumahnya. Junmyeon tidak berkata apa-apa tapi membiarkan mereka masuk. Terlalu malas untuk berdebat ataupun mengusir mereka. Sekarang rumahnya kembali berantakan.

Rumah yang tadinya ia cinta kini perlahan-lahan ia benci. Terlalu banyak kenangan akan Minrin disini. Setiap sudut, setiap tempat selalu mengingatkannya akan Minrin. Terutama tempat tidurnya—tempat tidur mereka sebelum Minrin menghilang. Maka dari itu Junmyeon memilih untuk tidur di sofa ruang tengah walau nanti badannya akan terasa sakit.

Junmyeon tahu ia tidak bisa seperti ini terus-menerus, tapi apa ia mampu untuk bangkit?

 

 

Will you give up?

 

 

A/N :

Sedikit filler tidak akan melukai orang-orang kan? Hahahaha. Ke depannya bakal ada beberapa filler yang sengaja ane buat supaya kalian bisa napas pas baca, nggak tegang mulu bacanya gitu. lmfao.

Oke, disini kita bisa liat Junmyeon yang mulai hancur. Kira-kira dia bakal bertahan atau udah let it go soal nyari Minrin?

 

 

 

 

Maliciously Missing will be updated once every two weeks on Saturday. So stay tune!

 

 

Kenalan dong ama yang buat fanfiksi. Kayak kata Peter Jones, “…nggak ada salahnya nambah kenalan.”

Kalau kata Sehun, yang nggak salah itu memperluas lingkar pertemanan.

LINE | Twitter | Instagram | Wattpad | Curious Cat

One thought on “Maliciously Missing — Len K [Chapter 03]”

  1. kesian Jun..
    ga berdaya & semakin frustasi tiap harinya
    Minrin dmn gerangan? apakah baik2 aja?
    so many unanswered questions so far
    eh, abang siwon kemaren siang jogging di jkrt
    cb release stress dr mikirin ade yg tetiba ngilang tanpa sebab x ya
    udah 1bln dlm ketidakpastian akan keberadaan Minrin, pasti Jun mule kurusan
    moga cpt ada titik terang utk kasus ini
    don’t give up.. don’t let go.. find her!! jebal..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s