[EXOFFI FREELANCE] Name [A] (Chapter 1)

Name [A]

aliensss

Genre : au, drama, romance, hurt/comfort

Rate : PG-17

Length : Chaptered

Cast :

Chanyeol, Jin Hwan, Sehun, Sae Jin, Sora

Kai (exo), Park In Jae (oc)

Summary

Karena setiap nama punya cerita

.

A

Setelah huruf A, pasti huruf B. Memang ada aturan baru?

Disclaimer : Alur cerita ini asli milik aliensss. Jika terdapat kesamaan ide dan juga cast, itu tidak disengaja. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan ; kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Selamat membaca dan semoga terhibur…

♣ ♣ ♣

Jangan menilai sebuah  buku dari sampulnya. Itu benar. Tapi tak sepenuhnya benar. Di atas sampul sebuah buku tertera judul buku. Dan salah satu indikator yang bisa memberitahu kita mengenai isi buku adalah judul buku, bukan?

Sama seperti buku yang selalu memiliki judul, seorang manusia juga pasti punya nama. Namamu adalah jati dirimu. Itu sebabnya setelah seorang bayi lahir, ia harus segera diberikan  nama. Mencegah agar  ia tak tertukar dengan bayi lain, mungkin.

Namamu, identitasmu, jati dirimu dan bahkan takdirmu.

 

Omong-omong soal buku, sebuah buku melayang dan tergeletak begitu saja didepan In Jae. Buku dengan sampul abu-abu itu sebenarnya menarik perhatiannya, hanya saja cara buku itu muncul diatas mejanya sungguh sangat tidak sopan.

Ketertarikan In Jae itu semakin berkurang kala ia mendongak dan tahu siapa oknum yang membuat buku itu ada diatas mejanya.

“baca”

In Jae melihat jam tangannya. “pukul 12 lebih 34 menit, 23 Juli 2019, aku memvonismu gila” kata In Jae sebagai balasan

“baca dan kita lihat apa otakmu itu memang sebesar bualanmu”

In Jae memicing. Apa pria ini akan menguji emosinya lagi? Jika benar demikian, In Jae tak akan meladeni.

“aku perlu tahu isi buku itu, tapi terlalu malas untuk membacanya”

“oh Kai ,akhirnya aku sadar kenapa warna kulitmu masih saja seperti ini, meski orang-orang sudah menyarankanmu untuk pergi ke salon. Dasar pemalas”

“ini warna kulit eksotis asal kau tahu. Tapi kurasa otakmu itu tak cukup pintar untuk tahu istilah eksotis. Buku ini menarik, aku bisa jamin itu”

“kenapa tidak kau baca saja sendiri?” In Jae mengambil buku tadi, “Name” ia melafalkan tulisan yang tertulis diatas sampul abu-abu tadi.

“selain lamban, apa kau juga tuli? Aku sudah bilang, aku malas. Waktumu dua minggu. Baca buku itu, lalu ceritakan isinya padaku”

In Jae hanya bisa mengomel saat Kai dengan santai pergi dari kelasnya tanpa mau mendengar ia setuju atau tidak. Sungguh sangat menyebalkan. In Jae kembali melihat buku itu. Kai benar, buku itu memang terlihat menarik.

“baiklah, aku juga butuh bahan bacaan”

.

.

Setelah ia tiba dirumahnya, dengan berlari In Jae menuju kamarnya dan langsung melempar diri ke atas kasur kesayangan. Ia mengambil buku barunya dari tas dan mulai membaca

Name

Karena setiap nama punya cerita

Itu adalah tulisan yang tercetak di halaman pertama setelah sampul. Tak seperti buku kebanyakan, tak ada ucapan terima kasih juga daftar isi di buku ini. Membalik halaman, In Jae menemukan  Bab 1 dan tulisan beberapa baris sebagai pengantar bab

Bagian 1

Siapa namamu?

Oh-Se-Hun

Aku tak suka nama itu

“oke, ini soal nama” gumam In Jae sembari membuka halaman berikutnya

# # #

1 Januari 2012

Aku tak tahu harus mulai darimana. Semuanya awal untuk cerita ini. Oh, sial ! aku sama sekali tak pernah menyangka bahwa aku akan mempraktekan apa yang Baekhyun sarankan. Menulis untuk mengurangi kebingungan akan perasaan sendiri? Brengsek ! aku merasa sedang memakai rok sekarang.

Baekhyun bilang, aku harus mulai dari hal-hal sederhana saja atau langsung pada inti masalah yang sedang kuhadapi. Lebih baik yang kedua saja. Aku tak mau mempermalukan diri sendiri lebih banyak lagi

Aku menyukai seseorang. Seseorang yang orang-orang bilang tak seharusnya aku berikan perasaan semacam ini. Seseorang yang harusnya kulindungi karena nama ayah dan bukannya ingin kulindungi karena aku memang melihatnya sebagai gadis yang kucintai.

Jika ada seseorang yang melihat tulisanku ini suatu hari nanti, maka bisa kupastikan dia akan mengejekku sebagai pria yang punya kelainan. Sial !

# # #

In Jae terdiam dengan rahang yang nyaris jatuh. Buku ini soal cinta? Kai membaca buku soal asmara? In Jae rasa, Kai memang sudah gila. Pria tak peduli itu mendadak tertarik dengan  buku penuh rasa begini?

Gadis itu menutup buku tadi, kemudian bangkit dari ranjang. In Jae menunda acaranya membaca dan lebih memilih mandi lalu menonton tv. Soal buku itu? itu urusan mudah. Kai memberinya waktu 2 minggu dan buku soal cinta bisa dibaca dalam satu hari. Gampang.

Lagipula, acara tv hari ini jauh lebih menarik.

.

.

 

Beberapa jam berlalu dan In Jae sudah kembali berbaring di ranjangnya. Ia melirik jam dinding dan sudah waktunya tidur. Saat gadis itu bergeser ke atas, kepalanya menyenggol ujung sebuah buku. Ia mengambil si tersangka yang ‘memukul’ kepalanya lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi siang. Matanya juga belum mengantuk, jadi membacanya bukan ide yang buruk

# # #

1 Januari 2014

Malam ini aku benar-benar lelah. Bukan karena pekerjaanku yang memang menumpuk, tapi karena sikap keras kepala gadis itu. Aku pulang tengah malam dan aku masih menemukanya di ruang tamu. Tertidur di atas sofa. Tahukah dia perbuatannya ini membuatku marah? Aku tahu hari ini jadwal ia bertemu pria berjas putih itu dan bukannya menggunakan waktu untuk istirahat, dia malah menungguku. Dan saat aku tanya alasannya, aku semakin marah. Ia ingin melihatku meniup lilin. Apa aku ini masih anak-anak yang perlu meniup lilin saat ulang tahun?

Sudah kubilang aku lelah kan? dan rasa lelah itu memuncak saat ia memintaku memberinya hadiah sebagai imbalan atas harinya yang berat. Dan, aku pun menyerah.

Antonie…setelah sekian lama, aku mengucapkan nama itu lagi

.

.

“kita ada ulangan di jam pertama” dengan mengepalkan tangan, gadis bernama Sae Jin itu maju satu langkah dan membuat dirinya lebih dekat pada pagar sekolah yang terkunci

“itu bagus. Anggap saja ini balasan yang setimpal karena sudah membuatku membeli sepatu baru”  jawab seorang siswa bernama Sehun, yang berdiri di sisi pagar yang lain.

Sae Jin merasa ini sudah kelewatan. Kemarin ia hanya membuang sepatu Sehun dari lantai atap sekolah dan sekarang pria itu malah ingin membalas dengan tak membiarkannya ikut ulangan. Orang bodoh pun tahu itu tak adil.

Sae Jin memasukkan satu tangannya ke dalam saku jas sekolah, “kau benar-benar tak ingin membukakan pagar ini dan membiarkan aku ikut ulangan?” tanyanya lagi

“benar. Tak akan kubuka. Aku akan sangat senang kau  dapat nol. Aku sudah harus pergi, aku harus ikut ulangan” jawab Sehun sembari berbalik

BRAAK…

Sehun baru saja akan melangkah hingga telingannya mendengar suara rantai putus dan besi bertabrakan. Ia berbalik dan alisnya tertarik ke atas

Didepannya sekarang, pintu pagar yang semula ia rantai agar Sae Jin yang terlambat tak bisa masuk, sudah terbuka dengan lebar. Rantainya sudah tergeletak ditanah dan Sae Jin sudah berada didepannya. Apa kaki kurus itu yang melakukannya? Darimana gadis kutilang ini memperoleh tenaga sebesar itu?

“kau tak akan bisa lolos untuk ini” kata Sehun sebelum pergi. Ia tak mau berlama-lama, karena takut Sae Jin menangkap wajah terkejutnya

 

Meski terlambat, Sae Jin dan Sehun tetap diperbolehkan mengikuti ulangan, tentu saja setelah mendengar sang guru mengomel. Sae Jin segera menduduki bangkunya dan focus pada ulangan. Tapi hal yang berbeda terjadi pada teman sebangkunya, Sehun. Pria itu entah mengapa tak bisa focus. Alhasil, Sehun menyisakan dua soal yang belum sempat ia baca. Ia pun menikmati waktu istirahat dengan harap-harap cemas. 

Sehun dan Sae Jin. Dilihat dari kejadian beberapa jam lalu, bisa dipastikan hubungan teman sebangku ini tidaklah baik. Lantas mengapa mereka bisa menempati meja yang sama? Itu semata-mata karena perintah wali kelas mereka. Pak Lee kira dengan membuat Sae Jin dan Sehun duduk sebangku bisa mengurangi pertengkaran diantara mereka – yang sudah  terjadi sejak kelas 1-bisa berhenti. Tapi guru mereka salah. Bukannya berdamai, dua orang ini semakin saling membenci satu sama lain.

“Sae Jin, kau dipanggil Pak Jang”

Suara salah seorang murid barusan berhasil membuat Sehun tersenyum senang. Ia bahkan bertepuk tangan sangking girangnya. Akhirnya gadis bar-bar ini akan mendapat hukuman. Tentu saja. Gadis itu merusak pagar sekolah tadi. Sehun tak bisa berhenti tersenyum mengingat hukuman apa yang akan Sae Jin terima dari si guru BK Pak Jang.

“mau aku antar? Oh, mungkin akan kuantar kau ke gerbang sekolah saja” ucap Sehun menang. Bisa saja kan gadis itu dikeluarkan dari sekolah? Dan untuk Sehun, itu sesuatu yang bagus.

Sae Jin berseringai. Bodoh, ejeknya dalam hati. Gadis itu pun berdiri dari duduknya, “tenang saja, tidak lama lagi kau juga akan menyusul”

“dasar tak waras” Sehun menganggap ucapan Sae Jin hanya bualan dan omong kosong. Untuk apa ia dipanggil ke ruang BK? Sae Jinlah yang menendang pagar sekolah hingga rusak.

Sehun menyandarkan tubuhnya di kursi dengan perasaan menang. Ia merasa hari ini benar-benar sangat baik. Tapi dengan cepat, euforia itu hilang. Murid yang tadi memanggil Sae Jin kembali datang membawa perintah yang sama, tapi untuk nama yang berbeda.

“Sehun, kau juga di panggil Pak Jang”

Dengan wajah pucat Sehun pun berjalan keluar kelas. Bukan apa-apa, Pak Jang guru BK itu adalah satu-satunya guru yang tak bisa dipermainkan. Dan hukuman yang berasal dari pria berusia 50 tahun itu tak pernah main-main. Pasti selalu menyiksa.

~

“jelaskan padaku, dengan sebenar-benarnya. Apa yang terjadi pada kalian berdua? Tidak cukup minggu lalu kalian membuat hampir semua buku di perpustakaan basah?” Ucap Pak Jang geram

“aku sudah menjelaskannya Pak. Aku memang datang terlambat. Tapi Sehun mengunci pagar dan tak memperbolehkan aku masuk. Hari ini ada ulangan dan aku harus ikut. Meski bapak berkata aku ini anak nakal, aku tetap tak mau menunjukkan nilai nol pada kedua orangtuaku. Lagipula, aku sudah memperdengarkan rekaman itu pada Bapak. Jika memang harus dihukum, aku bersedia. Tapi_ Sae Jin melirik wajah marah Sehun disampingnya, “tentu saja tidak sendiri”

Sehun benar-benar benci pada gadis di sebelahnya itu. Tapi disamping itu, Sehun malah merasa sangat bodoh. Mengapa ia tak memikirkan kemungkinan Sae Jin merekam pembicaraan mereka tadi? Jika ada barang bukti seperti sekarang, Sehun mana bisa berkelit.

“kalian berdua benar-benar membuatku pusing. Kalian sudah kelas 3 SMA dan masih saja bertengkar persis kelas 3 SD” sang guru menaruh dua tumpukan kertas putih didepan Sehun dan Sae Jin. “tulis sebanyak seratus halaman penuh. Untukmu Sae Jin, tulis Sehun sudah menyesali perbuatannya dan tak akan mengulangi lagi. Sedangkan kau Sehun, tulis Sae Jin sudah menyesali perbuatannya dan tak akan mengulanginya lagi. Selesaikan 100 halaman hari ini juga !” untung hanya 100 halaman. Bagaimana jika 039756819979140195188536 halaman?

Setelah guru mereka pergi, Sae Jin segera mengambil selembar kertas dan sebuah bolpoin. “Siapa namamu?” tanya gadis itu pada Sehun

Sehun benar-benar merasa kesal setengah mati. Mereka sudah sekelas sejak kelas 1, mereka juga selalu bertengkar setiap hari, tapi gadis itu masih bertanya siapa namanya? Sombong sekali. “kau bilang apa?” tanya Sehun panas

Tak mau membuang waktu, Sae Jin menarik tangan Sehun dan menahannya diudara. Dengan begitu, Sae Jin bisa melihat name tag di dada Sehun. “Oh Se-Hun” eja gadis itu, kemudian menjatuhkan tangan Sehun begitu saja. Sae Jin pun mulai menuliskan kalimatnya di kertas. Ia harus menyelesaikan hukumannya sesegra mungkin

“dasar gadis bar-bar” rutuk Sehun

“Sae Jin. Namaku Sae Jin”

“aku tahu”

.

.

 Sepulangnya ia dari sekolah, Sae Jin tak lantas pulang ke rumah. Ada satu tempat lagi yang harus ia kunjungi. Dan gadis itu harus berjuang sekali lagi.

Setelah semua hal tak baik dilluar rumah, Sae Jin dengan perasaan kecewa yang entah sudah keberapa kalinya, memutuskan untuk tidur. Hari ini pertanyaannya soal; kenapa kau selalu menatapku seakan kau membenciku? ; apa aku melakukan kesalahan hingga kau selalu marah-marah padaku? ;  atau apakah semua perubahan sikapmu ini karena kecelakan dua tahun lalu, belum juga terjawab

Tapi meski begitu, setidaknya Sae Jin masih mendapat satu penghiburan. Setidaknya susunan huruf yang dilafalkan pria itu bisa mengobati lukanya.

# # #

Mata mengantuk In Jae mendadak terbuka lebih lebar. Oke, ini kisah cinta. Pasti tentang cinta bertepuk sebelah tangan, soal hubungan cinta yang ada orang ketiganya atau bahkan orang keempatnya, pokoknya intinya soal cinta. Tapi In Jae masih saja merasa ada yang menarik dari cerita itu. Apa In Jae sudah mulai menyukai kisah-kisah romantic sarat akan emosi seperti ini? mungkin saja

 

tbc…

 

 

 

 

 

 

Satu komentar pada “[EXOFFI FREELANCE] Name [A] (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s