[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 15)

ourstory

Our Story [Chapter 15]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, sad/hurt

Length : Chaptered

Rate : PG-17

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 15

I Wish

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Semoga terhibur..

Juga di post di sharlomereficul.wordpress.com

♣ ♥ ♣

Sae Jin menatap Ah Ra dengan penuh selidik. Hari ini Sae Jin mendapati wajah temannya itu sangat murung. Belum lagi cara Ah Ra berpakaian. Sejak kapan gadis itu suka kemeja berlengan panjang? Kemeja berlengan panjang. Sae Jin merasa oksigen di sekitarnya hilang tiba-tiba. Kemana saja Sae Jin selama ini? Teman macam dirinya hingga tak menyadari ini sejak kemarin? Ah Ra berpenampilan begini sudah sejak dua minggu yang lalu

Sae Jin kemudian mengajak Ah Ra bicara berdua. Tapi sayangnya Ah Ra menolak. Untuk pertama kalinya Ah Ra menolak ajakan Sae Jin. Belum menyerah, Sae Jin kembali membujuk Ah Ra untuk bicara dengannya. Sae Jin hanya ingin mencoba membantu. Siapa tahu setelah mereka bicara nanti ia bisa menemukan cara untuk membantu Ah Ra. Tapi lagi-lagi Ah Ra menolak ajakannya. Gadis itu bahkan menolaknya dengan suara membentak.

Sae Jin yang merasa sedih menyerah. Ia memutuskan pergi dari kelas dan menuju lapangan rumput dibelakang kampus. Sae Jin diam disana. Ia menyalahkah dirinya dan juga sangat merasa bersalah pada Ah Ra.

Beberapa menit kemudian Ah Ra datang. Ia dengan diam duduk di sebelah Sae Jin. Ah Ra merasa bersalah. Ia membentak Sae Jin tadi. Ia tak bermaksud membentak, ia hanya takut ketahuan oleh Sae Jin. Ia takut Sae Jin tahu ia melukai dirinya sendirinya lagi

Hal pertama yang dua orang itu ucapkan adalah permintaan maaf. Entah mereka terlalu terbawa suasana atau sama-sama menyadari kesalahan masing-masing dan menyesal, dua gadis itu sampai sama-sama menangis.

Sae Jin tak tahu harus minta maaf soal yang mana dulu. Soal ia yang tak menyadari bahwa Ah Ra kembali menyakiti dirinya lagi, atau minta maaf karena Sehun yang ternyata menaruh rasa pada dirinya. Sedangkan Ah Ra minta maaf soal dirinya yang sudah membentak Sae Jin, terlebih karena sudah lancang menaruh rasa pada Chanyeol. Mereka sama-sama menyembunyikan rasa bersalah dan menahan rasa sakitnya sendiri.

“jangan menangis karenaku. Berhenti menangis, Ah Ra” Sae Jin menyuruh Ah Ra berhenti menangis saat air matanya sendiri sudah dengan lancang mengalir, “kenapa air mataku keluar?” Sae Jin menghapus kristal bening miliknya dengan cepat dan berusaha berhenti menangis. Melihat temanmu menangis karenamu, itu menyedihkan.

“kau juga sedang menangis, bodoh” Ah Ra memberanikan dirinya memegang tangan Sae Jin. Ah Ra cukup terkejut karena Sae Jin hanya berjengit sebentar. Meski tak suka, Sae Jin tetap berusaha agar tak menarik tangannya dari Ah Ra. Ah Ra tahu semua itu dan rasa bersalah dihatinya semakin besar. Teganya ia menyukai kekasih temannya ini.

“aku tidak. Jadi berhentilah menangis” geleng Sae Jin sambil akhirnya menarik tangannya dari Ah Ra. “jangan pegang tanganku”

“Chanyeol oppa sudah banyak merubahmu. Setidaknya sekarang kau sedikit lebih manusia” ejek Ah Ra sambil menuruti ucapan Sae Jin. Gadis itu menghapus air matanya dan menatap Sae Jin dengan sayang.

“kau melakukannya lagi ‘kan? Kau bermain dengan pisau lagi ‘kan?” tanya Sae Jin

Ah Ra mengangguk. Sae Jin kemudian bertanya soal penyebab Ah Ra kembali melakukan hal tidak baik itu. Ah Ra bilang ia hanya merasa tertekan karena orangtuanya. Tentu saja Ah Ra berbohong. Ia tak mungkin berkata jujur.

“kenapa tidak bicara padaku seperti biasa?” tanya Sae Jin lagi

“kau sudah sangat sibuk. Kau kuliah, belajar seperti orang gila, bekerja paruh waktu di perusahaan ayahmu dan juga dengan Chanyeol oppa. Aku tak mau membuatmu bertambah lelah. Jangan berbohong padaku, kau juga terlihat sangat lelah semenjak kita kuliah”

Sae Jin memilih menatap lurus. Apa yang Ah Ra katakan benar. Semua hal itu, kecuali Chanyeol membuat Sae Jin lelah. Belum lagi karena semuanya itu Sae Jin lakukan karena ayahnya, bukan karena keinginannya sendiri.

“menjadi dewasa memang membuat lelah” gumam Sae Jin. Gadis itu  kembali menoleh pada Ah Ra, “bisa kau berjanji padaku?” tanya Sae Jin penuh harap. “berjanjilah ini yang terakhir kau melakukan itu. Jangan lakukan lagi, aku mohon” untuk pertama kalinya Sae Jin memohon didepan Ah Ra. Untuk Sae Jin ini bukanlah hal yang sulit. Hidup Ah Ra dan kebahagiannya temannya itu jauh lebih penting baginya. Maka memohon dengan kepala tertunduk seperti sekarang, Sae Jin rela melakukannya. Sae Jin takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ah Ra nantinya.

“Sae Jin, jangan lakukan ini” Ah Ra memegangi wajah Sae Jin dan membuat Sae Jin berhenti menunduk. Ah Ra menatap kedalam mata Sae Jin. Ia bisa melihat harapan dan ketulusan disana

“berjanji padaku, Ah Ra. Jangan lakukan ini lagi”

Ah Ra diam untuk sebentar, lalu mengangguk dengan pasti. Jika Sae Jin bisa bertindak sejauh ini demi dirinya, maka kenapa Ah Ra sendiri tak mau berubah?

“aku berjanji. Aku berjanji, Sae Jin” setelahnya, Ah Ra melihat Sae Jin tersenyum padanya. “kapan aku bisa menolakmu, orang aneh?”

~

Saat Sae Jin pulang ia mendapati rumahnya porak-poranda. Sejumlah vas bunga pecah dilantai, dan barang-barang berserakan. Ayah dan ibunya bertengkar lagi, dan pasti mengenai masalah yang sama lagi.

“kau memang istri yang tak berguna. Entah kenapa aku menikahmu dulu” ucap ayah Sae Jin pada ibu Sae Jin

Sae Jin pada awalnya tak mau ikut campur akan semua ini. Tapi mendengar ucapan tak pantas itu keluar dari mulut ayahnya membuat Sae Jin tak bisa menahan diri. Selama ini ibunya selalu menahan diri menerima makian dan cacian ayahnya karena dirinya. Ibunya tak mau bercerai dengan pria yang sudah memperlakukan dirinya dengan tidak baik, karena tak ingin membiarkan Sae Jin sendirian. Sae Jin tahu semua itu. Karenanya ia tak terima jika sang ayah berkata jelek soal ibunya

“kau membela ibumu? Kau tidak tahu akulah yang selama ini mencari uang untukmu? Ibumu itu hanya bisa menyusahkanku” ayah Sae Jin tak terima akan pembelaan yang Sae Jin berikan pada istrinya

“kapan kau akan mengerti ayah? Sikapmu ini tidak benar. Ayah tidak bisa merendahkan ibu seperti barusan”

“sikapku tidak benar? kalian yang tidak pernah hidup dengan benar. Aku yang menghidupi kalian, tapi kalian malah tak menghormatiku”

“aku akan menghormatimu, jika kau juga menghormati ibuku” Sae Jin berucap dengan menaikkan nada bicaranya. Gadis itu melupakan sopan santun karena terlalu tersulut emosi.

“kau dan ibumu sama saja. Aku menyesal memiliki dua perempuan tak berguna seperti kalian” kata pria itu lalu meninggalkan ruang tamu

Sae Jin sudah sering mendengar kata-kata atau kalimat menyakitkan dari ayahnya. Harusnya ia sudah kebal. Harusnya Sae Jin tak usah merasa sesakit ini. Tapi ternyata Sae Jin belumlah sekuat itu. Ia merasa benar-benar kecil dan hatinya teriris.  Belum lagi suara tangisan ibunya yang kini mulai terdengar, Sae Jin benar-benar tak tahan. Gadis itu memilih pergi kekamarnya dan tidur. Ini benar-benar menyakitkan. Ayahmu yang mengataimu tak berguna dan menyesal sudah memilikimu, dunia sudah kiamat untuk Sae Jin. Sae Jin yang menangis dibalik selimut hingga tertidur, terjadi lagi malam ini.

.

.

Sae Jin menangis hingga pukul tiga pagi dan baru tidur pukul empat. Sekarang pukul lima dan gadis itu sudah bangun. Duduk didepan meja riasnya Sae Jin bisa melihat matanya yang bengkak. Belum sempat Sae Jin mengasihani wajahnya pagi itu, ponselnya berdering. Sehun adalah oknum yang menghubunginya sepagi ini. Sae Jin mendengar apa yang Sehun katakan lalu menjatuhkan ponselnya. Tanpa sempat mandi atau bahkan mengganti pakaian, Sae Jin keluar dari kamar tak lupa membawa kunci mobilnya. Gadis itu mengemudikan mobilnya menuju sebuah rumah sakit secepat yang ia bisa

Ah Ra berada di rumah sakit. Kata Sehun, Ah Ra ditemukan salah satu maidnya sudah tak sadarkan diri di kamar. Diatas ranjang dengan botol obat yang kosong disamping tubuh gadis itu. Sae Jin dan siapa pun tahu apa yang coba Ah Ra lakukan. Gadis itu mencoba bunuh diri.

Sae Jin tiba dirumah sakit dan segera menuju kamar rawat Ah Ra. Setelah melihat Ah Ra,  entah karena berlari atau memang sedang sangat panic, Sae Jin merasa paru-parunya kesulitan mengolah oksigen.

“apa yang terjadi?” tanya Sae Jin pada Sehun yang ada diruangan itu. Sae Jin hanya melihat Sehun disana. Sembari menunggu Sehun menjawab Sae Jin menoleh pada Ah Ra, dadanya serasa baru dipukul. Apa yang terjadi pada Ah Ra?

“Sae Jin, kau baik-baik saja?” bukannya menjawab pertanyaan Sae Jin, Sehun malah membalas dengan pertanyaan.

“apa yang terjadi padanya? Kalian bertengkar?” Sae Jin kembali bertanya

“dia yang berkata ingin putus dariku. Aku hanya mengiyakan”

Sehun mendeklarasikan berakhirnya hubungannya dengan Ah Ra tanpa beban sama sekali. Mungkin akan terdengar jahat, tapi selama ini ia sudah salah. Bukan Ah Ra yang ia cintai, tapi Sae Jin. Benar, Ah Ra-lah gadis pertama yang membuatnya tertarik, tapi Sae Jin adalah orang yang ia butuhkan.

Sae Jin terkejut. Putus? Hubungan Sehun dan Ah Ra berakhir? Ia ingin bertanya soal segala hal, tapi sekarang keadaan Ah Ra adalah yang paling penting, “kau ingat apa yang sudah pernah kukatakan padamu ‘kan? Jika nanti Ah Ra bilang bahwa kau menyakitinya, bersiaplah mendapat hukuman dariku Sehun” Sae Jin sedang kalut hingga akhirnya berucap demikian.

Semua terasa sangat cepat dan tiba-tiba bagi Sae Jin. Kemarin sore ia baru saja mengetahui bahwa Sehun menyukainya. Lalu pertengkaran ayah dan ibunya dan sekarang Ah Ra yang mencoba bunuh diri. Sae Jin merasa dunia sedang tak suka padanya hingga mendatangkan semua hal buruk diwaktu yang sama.

“kau butuh sesuatu?” Sehun kembali bertanya

“bukan aku yang harus kau khawatirkan saat ini. Tunggu Ah Ra disini hingga dia sadar. Aku akan menunggu diluar” Sae Jin tak tahan melihat Ah Ra sakit seperti itu.

Sae Jin memilih duduk dan menunggu di luar ruang rawat Ah Ra. Ada jejeran kursi tunggu disana.

Dengan terpaksa Sehun menunggui Ah Ra.

Sae Jin tampak memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Tentu saja, ia menangis dengan durasi yang tidak bisa dibilang sebentar, lalu mendengar berita buruk ini. Kepalanya benar-benar terasa akan pecah. Tak lagi sanggup duduk, Sae Jin pun memilih membaringkan dirinya di kursi. Mungkin tidur sebentar bisa meredakan sakit kepalanya dan bangun dari semua mimpi buruk ini.

~

Pukul tujuh lebih tiga puluh pagi, Sae Jin mendengar suara seorang pria yang tak asing sedang bicara tepat didekatnya. Gadis itu membuka mata dan melihat Chanyeol didepannya. Pria itu duduk dilantai, hingga kepala mereka bisa sejajar. Sedikit menunduk, ia mendapati jaket besar Chanyeol yang menyelimuti tubuhnya.

“oh, suaraku membangunkanmu?” Chanyeol menyodorkan dua botol susu dan satu batang coklat. Chanyeol datang tepat setelah tiga puluh menit Sae Jin tertidur. Pria itu dihubungi Sehun dan dengan cepat segera menyusul ke rumah sakit

“kau selalu berisik” ucap Sae Jin sambil kembali memejamkan matanya. Chanyeol sudah disini, pria itu sudah ada disampingnya. Sae Jin tak perlu merasa khawatir dan cemas lagi.

“bangun dan makan sesuatu” perintah Chanyeol kemudian

“bagaimana Ah Ra?”

Ah Ra sudah sadar. Orang tua gadis itu juga sudah datang tadi. Chanyeol berkata bahwa tak ada yang perlu Sae Jin khawatirkan lagi. Chanyeol kembali menyuruh Sae Jin bangun dan gadis itu pun menurut.

“kau takut?” tanya Chanyeol selagi Sae Jin memandangi coklat ditangannya. Chanyeol bisa tahu hanya dengan sekali lihat. Ia tahu Sae Jin menyayangi Ah Ra dan kejadian ini pasti membuat gadisnya ketakutan.

“sedikit” setelah Sae Jin berucap, gadis itu harus terkejut karena Ah Ra sudah berdiri di depannya. “apa yang kau lakukan disini?” Sae Jin segera berdiri dan memaksa Ah Ra masuk ke kamarnya

“aku harus bicara denganmu, Sae Jin” Ah Ra menolak dan bersikeras ingin bicara

“kita bisa bicara nanti. Sekarang masuklah dan istirahat” Sae Jin menyuruh Sehun membawa Ah Ra kembali masuk, tapi Ah Ra menolak

“aku melanggar janjiku padamu, Sae Jin. Aku tahu aku bersalah, kau boleh marah padaku “Ah Ra merasa perlu minta maaf karena ia sudah melanggar janji yang ia buat tadi siang. Ia berjanji pada Sae Jin dan mengingkari janji itu karena Sae Jin. “marah padaku, tapi jangan berhenti jadi te_” ucapan Ah Ra terhenti karena Sae Jin memeluknya dengan tiba-tiba

“aku menyayangimu, jadi jangan tinggalkan aku” Meski pelukan yang ia berikan tidaklah se-erat yang pernah Ah Ra berikan, tapi Sae Jin berharap Ah Ra bisa menangkap maksud yang ia coba sampaikan. Sae Jin tak ingin kehilangan Ah Ra. Sae Jin  akan memberikan apa saja untuk itu.

Ucapan Sae Jin tadi berhasil membuat Ah Ra kembali merasa sudah sangat jahat. Sae Jin menyayanginya dengan tulus, tapi apa yang Ah Ra lakukan? Ia diam-diam menaruh rasa pada Chanyeol. Alasan kenapa Ah Ra meminum semua obat tidur itu bukan karena hubungannya yang berakhir dengan Sehun. Tapi karena keinginannya untuk memiliki Chanyeol yang semakin besar, hingga rasanya tak bisa dibendung. Itu jugalah yang membuat Ah Ra akhirnya memutuskan mengakhiri hubungan dengan Sehun.

Sae Jin menarik diri dari Ah Ra. Gadis itu menatap wajah Ah Ra yang mendadak bergerak tak beraturan. Ia juga merasa tak bisa membuat kakinya berdiri tegak. Sae Jin  berkedip satu kali sebelum semua menjadi benar-benar gelap.

Terima kasih banyak sudah membaca

To Be Continued

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 15)”

  1. Ya tuhan.. sedih aku tuh.. pengennya cy ttp sama saejin aja 😫
    Aku udah pernah baca our story yg no sound dulu.. dan bikin mewek 😞😞😞
    Tapi ini seru bangettt!!! Ditunggu kelanjutannyaa~!!
    Sorry thor saya baru muncul, kelas 12 benar-benar membuatku sibuk ><

    Author fighting~~💪😁

  2. Ah ra seneng banget ya nyakitin dirinya demi sesuatu..bahaya nih..persahabatan 4 sekawan bisa hancur nih..sae jin pingsan thor ..kasian..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s