[EXOFFI FREELANCE] Remember (Chapter 5)

20180804_065113_0001

Title : Remember

Author : Jasmine_xxbbb

Genre : Romance, hurt, drama, AU

Rating : PG – 15

Length : Chapter

Cast : Park Chanyeol (EXO), Kim Anna (OC), Baekhyun (EXO), Irene (Red Velvet), Yeri (Red Velvet), Kim Jong In (EXO), Lucas (NCT), Jungwoo (NCT)

Summary

Kenangan itu terus berputar di pikiranku, tatapannya, senyumnya, suaranya, bahkan aku masih bisa merasakan hangatnya saat berada di pelukannya.

“Jangan mengagumiku seperti itu, aku tahu aku ini cantik dan-“

“Kau benar, kau memang cantik.”

“Mana mungkin aku bisa tahan berjauhan denganmu.”

“Agar kau membuka matamu itu, aku ingin melihat matamu.”

Disclaimer : Cerita ini di buat berdasarkan hasil pemikiran saya sendiri. Beberapa adegan terinspirasi dari drama, film, dan lagu. Seluruh cast milik Tuhan YME. Akun wattpad Jasmine_xxbbb. Thank you!

Chapter 5

“Kau.”

Aku terdiam membeku menatapnya, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya, seperti ada sihir mataku tidak bisa lepas darinya.

“Aku bercanda.”

Seperti sebuah petir yang menyambarku, pikiranku tadi langsung hilang begitu saja. Aku memukulnya dengan bantal sebanyak tiga kali padanya, menyebalkan.

“Yak! Apa maksudmu berkata seperti itu?!”

“Bagaimana jika aku menarik kata-kata ku tadi. Aku menyukaimu.”

Aku tidak akan terjebak dengan ucapannya untuk kedua kalinya, aku berjalan menuju pintu dan membukanya mempersilahkan Baekhyun untuk keluar dari apartemenku. Baekhyun berjalan mendekatiku, aku menatapnya dengan kesal.

“Aku berkata yang sebenarnya Anna.”

“Dan aku tidak peduli.”

Aku mendorong Baekhyun keluar dari apartemenku dan langsung menutup pintu. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti itu padaku, menyebalkan.

Bukannya aku merasa kecewa karena yang di katakan Baekhyun hannyalah sebuah candaan, hanya saja aku merasa kesal dengan diriku yang sempat percaya dengan ucapannya itu. Terlebih lagi tatapannya itu yang membuat jantungku berdegup lebih cepat. Sudahlah Anna lupakan saja itu.

***

Sore ini aku mendapat sebuah undangan pesta perayaan ulang tahun perusahaan milik temanku Sehun. Sebetulnya perusahaan itu masih milik ayahnya, tetapi karena usianya yang sudah tua Sehun lah yang menjalankan bisnis ayahnya saat ini.

Sejujurnya aku tidak begitu suka dengan pesta, kebanyakan mereka yang datang bergosip sana sini, memamerkan kekayaan mereka, dan merendahkan orang lain. Walaupun tidak semuanya seperti itu tetap saja aku merasa tidak nyaman. Terlebih lagi saat bertemu teman lamaku di sekolah, mereka selalu membahas Chanyeol di hadapanku dengan sengaja walaupun Chanyeol sudah tidak ada di dunia ini.

Tetapi Sehun adalah teman baikku, tidak enak jika aku tidak datang. Aku tidak akan peduli pada mereka yang membicarakanku, mereka merendahkan orang lain supaya dirinya merasa di atas orang yang sudah di rendahkannya, padahal dirinya lah yang di bawah.

Suara ketukan terdengar dari pintu apartemenku, aku segera membuka pintu, aku terkejut saat Sehun datang, baru saja aku memikirkannya.

Oppa?”

Sehun tersenyum padaku, dia lebih tua dua tahun dariku, sebetulnya saat SMA aku memanggil namanya saja. Tetapi dia ingin aku memanggilnya dengan sebutan oppa agar terlihat lebih keren katanya.

“Apa kau sudah makan? Aku membawa chicken.”

Sehun mengangkat tinggi bungkusan plastik berisi ayam. Aku terkekeh melihatnya, aku mempersilahkannya masuk seperti seorang pangeran. Aku bergegas ke dapur mengambil mangkuk untuk menaruh sisa tulang nanti.  Perutku langsung lapar begitu mencium aroma chicken saat aku berjalan aku ke ruang tengah.

“Tumben sekali oppa membawa makanan ke sini.”

“Aku teringat dirimu saat aku di restoran ayam ini, jadi aku belikan saja untukmu.”

Gomawo.”

Aku langsung mengambil ayam dab melahapnya, begitu pun Sehun melakukan yang sama denganku.

“Bagaimana dengan bisnismu?” ujar Sehun.

“Aku sedang merancang desain baru.”

Sehun menganggukkan kepalanya, kami begitu menikmati ayam ini sembari menonton acara di tv. Tidak terasa ayam yang kami makan sudah habis tak bersisa. Tulang-tulang ayam sisa kami makan sudah menggunung di mangkukku. Setelah aku membersihkan meja, aku dan Sehun menyenderkan tubuh kami di sofa.

“Aku kenyang sekali.” Ucap Sehun mengusap perutnya.

“Sudah lama kita tidak makan bersama seperti tadi.”

“Kau benar, kau terlalu sibuk hingga melupakan aku.”

“Aku? Oppa yang sangat sibuk dengan pekerjaanmu

“juga dengan wanita.”

Sehun memberikan tatapan padaku seperti apa-maksudmu?.

“Aku benar bukan?”

“Mana sempat aku memikirkan wanita. Kecuali kau.”

Aku tertawa mendengarnya, dia selalu seperti itu jika aku berbicara padanya. Dia selalu merayuku, terkadang dia juga bertingkah seperti anak kecil padaku.

“Kau ini sudah ku anggap seperti adik, sahabat, teman, saudara, ibu.”

“Ibu? Enak saja, aku ini dua tahun lebih muda.”

Sehun terkekeh dan mengusap pucuk kepalaku. Dia sudah ku anggap seperti kakak bagiku, karena dirinya aku bisa merasakan kasih sayang seorang kakak pada adiknya. Setidaknya itu bisa mengobatiku dari rasa sakit kehilangan kedua orang tuaku.

“Ah! Aku teringat dengan pesta ulang tahun perusahaanmu besok. Oppa apa aku harus datang?”

“Aku tahu kau memang tidak suka dengan pesta, tapi kau harus tetap datang. Mengerti?”

Sehun beranjak dari duduknya mengambil handphonenya di atas meja.

“Aku harus pulang. Sampai bertemu besok di pesta oke?”

Sehun bergegas keluar dari apartemenku, terlihat sekali dia tidak ingin mendengar alasanku untuk tidak datang ke pestanya. Sepertinya besok aku memang harus datang, sudahlah jangan terlalu di pikirkan.

***

Pagi ini aku memakai kemeja putih dengan jas hitam dan celana panjang dengan warna yang senada. Hari ini adalah hari peringatan kematian kedua orang tuaku dan Chanyeol. Di depanku terpampang foto kedua orang tuaku, aku memejamkan mataku dan berdoa untuk mereka. Tidak ada perasaan yang terlalu mendalam untuk mereka, karena sejak kecil aku memang tidak dekat dengan mereka.

Ini lah yang menjadi paling terberat untukku, Chanyeol. Melihat dirinya tersenyum lebar di fotonya membuatku terkekeh sekaligus sedih. Rasa sedih dan rindu langsung menyelimutiku, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengobati rasa rinduku padanya.

Chanyeol, aku sangat merindukanmu. Aku yakin kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Kau pernah berkata padaku untuk tidak menangis lagi atau pun merasa sedih, tetapi bagaimana jika rasa sedihku itu karena dirimu? Ah, tidak itu karena diriku yang tidak bisa melupakanmu. Kau terlalu berpengaruh untukku, hingga rasanya sulit sekali untuk melupakanmu. Kau tega sekali meninggalkanku, aku seorang diri disini, aku kesepian, aku sakit, aku aku aku mencintaimu.

Aku menangis hebat hingga kakiku terasa lemas, aku masih saja menangis setiap aku kemari. Aku kesal dengan diriku sendiri karena terlalu bergantung padanya, aku tahu aku harus melupakannya, aku sudah mencobanya berulang kali tetapi tetap saja, justru rasa sakit yang semakin ku rasakan. Aku membuka kedua mataku, kali ini aku harus benar-benar melupakanmu Chanyeol, aku pastikan itu.

Aku mengusap air mataku, merapikan pakaianku dan berjalan keluar dari tempat ini. Aku menghirup udara segar di sini, aku merasa jauh lebih tenang sekarang. Saat aku menatap ke depan, aku melihat Baekhyun berdiri di ujung sana dengan kedua tangannya yang di masukkan ke kantung celananya menatapku.

Dia berjalan perlahan mendekatiku, aku bisa semakin jelas melihat wajahnya. Dia memakai setelan jas berwarna hitam tidak jauh berbeda dengan yang ku pakai. Baekhyun berhenti di hadapanku dan menatapku dengan intens, aku menatap balik matanya. Baekhyun tersenyum padaku, dia meraih tanganku dan menarikku.

Aku diam mengikutinya berjalan, tangannya masih menggenggam tanganku. Aku ingin tahu dia ingin membawaku ke mana. Baekhyun membawaku ke sebuah taman dekat sini, ada banyak anak kecil yang sedang bermain disini. Mereka sibuk berlari kes sana kemari, memakan es krim, bermain bola, meniup gelembung.

Baekhyun menyuruhku untuk duduk di bangku taman di bawah pohon ini. Dia pergi entah ke mana tanpa memberitahuku, aku diam memperhatikan awan di atas langit sana. Mereka terlihat tenang dan damai.

“Ini ambil lah.”

Baekhyun memberiku es krim stroberi padaku, aku mengambilnya. Sebetulnya aku tidak suka rasa stroberi, tetapi aku sudah di belikan olehnya, aku makan saja.

“Kau itu tipe orang yang memendam yah.” Aku menoleh padanya.

“Apa maksudmu?”

“Kau tetap memakan es krim itu walaupun kau tidak suka. Padahal kau bisa saja memberitahuku jika kau tidak suka es krim rasa stroberi itu.”

“Aku merasa kasihan padamu jika kau harus membelikannya lagi untukku.”

“Memangnya aku mau membelikanmu lagi?”

“Kau ini membuatku kesal setengah mati.”

Aku memakan es krim ku dengan cepat, aku menganggap es krim ini sebagai Baekhyun. Tiba-tiba Baekhyun mengelap sisa es krim di sisi bibirku, aku terkejut wajahnya dekat sekali denganku. Aku menahan nafasku melihat wajahnya, mata kami bertemu, aku yang merasa tidak tahan dengan adegan ini aku mendorong wajahnya menjauh dariku.

“Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!”

“Kau juga sama mengambil kesempatan dalam kesempitan memerhatikan wajahku tadi.”

Pipiku terasa panas, dia tahu jika aku memerhatikan wajahnya. Aku memegang kedua pipiku untuk menutupi merahnya pipiku. Aku beranjak dari dudukku dan berjalan menjauhinya, memalukan sekali tadi itu.

Bagaimana dia bisa tahu? Saat aku berjalan aku melihat sebuah bola mengarah kepadaku, alisku terangkat melihatnya. Setelah itu dahiku terkena bola plastik yang di tendang oleh anak kecil tadi. Kepalaku terasa pusing dan dahiku terasa perih, saat aku menyentuh dahiku aku melihat darah di jariku, beruntung sekali aku hari ini.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja hanya saja dahiku berdarah.”

“Itu namanya tidak baik-baik saja. Ayo ikut aku.”

Baekhyun menarik tanganku, entah mengapa aku merasa sedikit senang Baekhyun memperlakukanku seperti ini, yah walaupun terkadang dia sangat menjengkelkan.

Aku di bawa masuk ke dalam mobilnya, Baekhyun mengambil kotak P3K di dalam mobilnya dan mengeluarkan plester dan obat merah. Aku mengambil plester dan obat merah dari tangannya.

“Aku bisa melakukan ini sendiri.”

“Baguslah kalau begitu.”

Setelah beberapa saat aku memasang plester di dahiku, Baekhyun menjalankan mobilnya.

“Kau membawaku ke mana?”

“Kau akan tahu nanti.”

Baekhyun terlihat serius sekali saat menyetir. Aku membuka setengah jendela merasakan angin menyapu wajahku. Ah, di luar panas sekali, aku cepat-cepat menutup jendelanya. Aku menoleh padanya mendengar Baekhyun baru saja tertawa.

“Kau menertawai apa?”

“Aku baru saja melihat orang bodoh.”

“Yak! Apa maksudmu?”

Baekhyun tidak menoleh padaku walaupun dia sedang berbicara padaku, dia serius sekali menyetir mobil. Aku merasa mengenal jalan ini, benar dugaanku aku melihat wahana taman bermain di depan sana.

Di sini ramai sekali, kebanyakan dari mereka sepasang kekasih dan keluarga. Aku tidak begitu menyukai tempat yang rama seperti ini. Baekhyun mengajakku untuk menaiki roller coaster di depanku, itu terlihat menyeramkan bagiku. Mereka berteriak kencang sekali, aku menolak untuk naik wahana ini tetapi tetap saja walaupun kami sudah berargumen akhirnya aku duduk di wahana ini bersebelahan dengannya, menyebalkan.

Jantungku berdegup lebih cepat saat wahana ini mulai berjalan, kurasa setelah ini berakhir aku akan masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung. Aku tidak berani untuk melihat, aku menutup mataku merasakan aku di putar, naik, turun dengan kecepatan yang sangat cepat. Aku membuka mataku saat merasa ini berjalan dengan lambat, betul saja ini sudah selesai.

Bentuk rambutku sudah tidak beraturan lagi, kepalaku terasa berputar. Tidak membiarkanku beristirahat Baekhyun menarik tanganku ke wahana lain.

Sudah banyak wahana yang kami naiki, keringat sudah membanjiriku. Tidal terasa hari sudah mulai gelap saja, aku duduk menunggu Baekhyun mengantre membeli minuman, aku tertawa mengingat kejadian lucu tadi.

“Sekarang kau menjadi gila tertawa sendirian seperti itu.” Baekhyun memberiku minuman yang ku pesan, ice chocolate.

“Aku teringat saat kau terjatuh karena tersandung tadi.”

“Tertawalah sepuasmu.”

Aku tertawa semakin kencang saat mengingat kembali Baekhyun terjatuh, itu sungguh lucu sekali. Aku sampai mengeluarkan air mata karena tertawa. Tunggu, aku menangis. Tetapi kali ini aku menangis karena terlalu bahagia, aku menoleh padanya melihat Baekhyun yang sedang minum minumannya.

“Terima kasih Baekhyun.”

Baekhyun mengernyitkan alisnya, aku tersenyum padanya. Baekhyun mengusap air mataku dan tersenyum. Sekarang aku mengerti mengapa dia membawaku ke sana kemari, dia ingin aku merasa bahagia hari ini. Dia tahu jika aku akan datang ke tempat penyimpanan abu dan aku akan menangis di sana. Itulah mengapa Baekhyun berdiri menungguku. Terima kasih banyak Baekhyun.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s