[EXOFFI FREELANCE] LOVE YOU MORE (Chapter 12)

maxresdefault

[12] Love You More

Love, Friends and Ambition

Tittle        = Love You More (Love, Friends and Ambition)

Author        = Park Shin

Main Cast    = Kim Arin, Byun Baekhyun, Oh Jiho, Kim Taehyung BTS

Cast        = EXO’S members, Yoon Ara, Moon Sojin, Other’s Idol

Genre        = School Life, Friendship, Romance

Length        = Chaptered (16 Eps)

Rating        = General

Disclaimer    = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[12]

Terkuak

“Oy Baek.. coba tebak aku dimana…”

Baekhyun yang tadinya enggan membalas telpon akhirnya berdiri dari kursinya. Sekarang sedang istirahat jadi jarang ada orang dikelas. Bisa dibayangkan betapa kagetnya kalau sedang pelajaran dengan Baekhyun yang tiba tiba bangun dan membuat bunyi derit kursi yang cukup keras.

“Oh Jiho.. kau disini?”

Ada suara tawa disana “Wah…. tebakanmu benar sekali. Hai Baek…”

Ini bukanlah hal yang pantas untuk ditertawakan. Jantung Baekhyun rasanya berdesir sangat cepat, kenapa ia begitu takut dengan fakta bahwa Oh Jiho, sudah kembali.

“Aku merindukanm-”

“Kau dimana?”

“Loker. Aku didepan lokerku. Aku sedang menata barangku.”

Baekhyun menutup ponselnya tiba-tiba membuat Jiho bingung.

“Apa dia sangat kaget aku sudah pulang? Baekhyun benar-benar…”

Saat tengah menata lokernya, beberapa orang yang melewati Jiho mengucapkan selamat padanya. Jiho merasa nama baiknya kembali bersinar, akhirnya ia berhasil membuktikan bahwa kali ini ia juara dengan jujur. Beberapa orang yang dulu mengejeknya kini mengucapkan selamat padanya. Dulu yang tak ada satupun yang menyapa kini bibirnya sampai lelah tersenyum dan membalas sapaan mereka.

“Menyenangkan sekali, kembali menjadi Oh Jiho…”

Setelah selesai menata lokernya,sosok Baekhyun berlari kearahnya. Jiho tersenyum sangat lebar bahkan hampir memeluknya kalau saja ia sadar bahwa ia tak bisa melakukannya sekarang.

“Hai Baekhyun… bagaimana kabarmu?”

Baekhyun masih terdiam. Ia menatap Jiho dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Kau… kembali.”

Jiho terkekeh “Tentu saja. Wae?Kau sangat terkejut?”

Baekhyun masih terdiam. Lalu Jiho meraih tangan Baekhyun dan mengayunkannya .

“Baekki-Bekki Baekki kuuu…. hehehee”

Baekhyun memalingkan wajahnya dan tersenyum. Jiho tahu kelemahan Baekhyun dengan nyanyian yang sering mereka nanyikan dulu saat kecil.

Namun tiba-tiba senyumnya memudar, ia melepaskan tangan Jiho dengan pelan.

“Selamat datang kembali Oh Jiho..”

“Aku merindukanmu Baek.” Ucap Jiho yang hanya dibalas diam oleh Baekhyun.

“Kau diam saja?Wae? Kau tidak merindukanku?”

“Tentu saja.. aku merindukanmu.”

Jiho tersenyum lebar. “Senang rasanya kembali. Kau tau Baek anak-anak mengucapkan selamat padaku. Wah…rasanya aku seperti hidup kembali.”

Baekhyun melamun, Ia tak mendengarkan Jiho,sekarang ia merasa terombang-ambing. Rasanya sesak dan membuat sekujur tubuhnya tak bisa digerakan.

“…hey Baek, kau mendengarkanku?” Masih belum ada jawaban dan akhirnya Jiho menyenggo lengannya.

“Wae? Kau melamunkan apa?” Jiho memberengut lalu menatap Baekhyun tajam “Jangan bilang Kim Arin?”

Mendengar nama itu, Baekhyun terkejut. Ia menatap Jiho yang tengah melihatnya dengan tatapan kesal. Lalu ia melihat sekitar dan banyak orang mondar-mandir.

“Ayo ke kelas..”

Jiho menahan lengan Baekhyun.

“Kau terlihat ketakutan..” Tebak Jiho.

“Jiho-ya..”

“Baekhyun jangan bilang kau..”

Baekhyun menoleh kesana kemari, lalu menarik Jiho ketempat yang lebih sepi.

***

“Seperti dugaanku…”

Baekhyun menunduk. Ia menatap karpet tebal dibawah.Kali ini mereka berada di aula. Satu satunya tempat yang tidak ada orang selain mereka.

“Kau benar-benar..” Lanjut Jiho

“Waktumu sudah habis.Tepati janjimu Baek…” Ujar Jiho terkesan mengintimidasi.

“Kau berjanji padaku hanya 3 bulan, dan kau akan kembali padaku.”

Baekhyun hanya bisa terpejam, nafasnya terdengar berat “Baiklah.” Ucap Baekhyun pada akhirnya.

Lalu Jiho memeluknya dengan erat.

“Baekhyun-ah.. kau benar-benar membuatku khawatir. Kupikir aku akan kehilanganmu”

Perlahan Baekhyun membalas pelukan Jiho.

“Saranghaeyo.. Byun Baekhyun..”

Baekhyun membisu. Ia benar-benar seperti mayat hidup. Ia tak menyangka akan menjadi pria sepengecut ini dan otak super lambatnya mungkin tak lagi berpihak padanya karena dengan pelan namun terdengar Baekhyun membalasnya.

“Aku juga…”

Kali ini  udara dingin Seoul tak berhasil membekukan air mata supaya tak berlinang. Nyatanya air mata itu terus mengalir. Dibalik gelapnya ruangan dan dikursi yang kosong. Yang ada hanyalah dua orang didepan sana yang tengah menguak sebuah rahasia besar yang selama ini mereka simpan. Tanpa perlu diduga siapa yang melihat semua itu.. Gadis ini menangis. Menahan sesenggukan sebisa mungkin agar tak terdengar oleh mereka berdua. Ia sadar bahwa dua orang disana mungkin tak menyadari keberadaannya sekarang dan bagaimana keadaannya.

Hancur.

Satu kata yang dapat mendeskripsikan bagaimana keadaan gadis itu.

Kim Arin.

Arin yang tadinya berfikir biasa saja dengan percakapan Baekhyun dan Jiho didepan lokernya membuatnya sadar bahwa ada sesuatu diantara mereka. Lalu ia berpindah di tempat yang mungkin tak ada orang disana. Dan pilihannya jatuh pada aula sekolah yang hanya dipakai untuk pertunjukan dan wisuda. Tanpa sadar kedua orang itu juga kesini.  Menceritakan semua, semua kebenaran dan fakta yang benar-benar bagus mereka menyembunyikannya.

Arin terisak, setelah kedua orang itu pergi. Ia tak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Otaknya tiba tiba memutar percakapan Baekhyun dan Oh Jiho yang membuat dadanya begitu sesak.

“Apa kau masih berpacaran dengan Kim Arin?”

“Eo”

“Wah benar-benar.. kau belum bilang soal surat itu?” “Yak Byun Baek, surat itu untukku, kenapa kau tidak menjelaskannya pada Arin? Kau benar-benar bodoh”

“Jiho-ya.”

“Apa kau tidak ingin mengakuinya?”

“Bukan begitu. Aku sangat ingin mengatakannya namun selalu saja tidak bisa. Jiho-ya..”

“Kau ini, lalu.. apa kau mencintainya?”

“Mwo?”

“Katakan padaku Baek? Apa kau menyukai Kim Arin?”

“Oh Jiho…”

“Seperti dugaanku…”

“Kau benar-benar….. Waktumu sudah habis.Tepati janjimu Baek…” “Kau berjanji padaku hanya 3 bulan, dan kau akan kembali padaku.”

“Baiklah”

“Baekhyun-ah.. kau benar-benar membuatku khawatir. Kupikir aku akan kehilanganmu”  “Saranghaeyo.. Byun Baekhyun..”

“Aku juga…”

Tangisnya semakin deras. Gadis itu menangis sepuasnya dan sebisa mungkin meluapkan segala yang ada didadanya. Begini kah nasibnya?

Ketika ia menemukan seseorang yang dipercayainya, kenapa dengan mudah di khianati?

Sampai akhirnya ia tersadar bahwa sejak awal ini hanya sebuah ketidaksengajaan dan mereka berdua terlanjur membuat hubungan penuh kebohongan.

Setelah cukup puas menangis, Arin merenung.

Sejenak ia ingin menyalahkan keadaan bukan Baekhyun.

Arin menyadari lelaki itu sudah berulang kali ingin mengatakan yang sebenarnya walau pada akhirnya tak sampai. Arin yakin Baekhyun juga tidak menginginkan hal ini bahkan sampai meminta maaf namun tanpa penjelasan. Arin yakin itu, walau dalam lubuk hati yang paing dalam ia merasa kecewa.

Kecewa karena kebohongan ini sangat menyakitkan jika terkuak.

Seandainya ia tak kemari dan tak tahu segalanya. Apa yang akan terjadi? Apakah Baekhyun akan memutuskannya dan kembali dengan Oh Jiho?

Ataukah ia mempertahankan dirinya dan mengungkapkan semuanya? Akankah ia menerima begitu saja?

Kim Arin kembali menangis.

“Bagaimana ini…..”

Rasa bersalah menggerogoti dada Arin, rasanya ia seperti mengambil apa yang bukan miliknya dan berjuang mempertahankannya walau akhirnya sang pemilik meminta lagi.

Dan Arin hanya bisa menerima keadaan. Keadaan bahwa ia harus rela melepasnya demi sesuatu yang harus kembali pada pemiliknya.

Dengan berat hati, Arin memutuskan untuk menyudahi semua ini. Mungkin dengan demikian, ini bisa meringankan beban Baekhyun dan mengurangi rasa bersalah lelaki itu.

Dirinya mungkin akan terluka lebih dalam lagi, namun jika tidak begini maka luka itu akan semakin menggerogot sampai relung dan ia takut tak sanggup lagi menahannya.

***

Hari itu terasa panjang. Saat Arin kembali ke kelas, ia sebisa mungkin tersenyum walau teman-temannya curiga pada matanya yang sembab. Ara dan Sojin juga begitu, ia tak begitu percaya pada Arin yang mengatakan kalau dia tak enak badan.

“Katakan padaku, ada apa eoh?” Sojin memeluk Arin, ia tahu gadis ini sedang berbohong.

“Arin-ah.. kau kenapa eoh?”

Sejujurnya Arin ingin sekali mengungkapkan segalanya, namun akhirnya ia pertimbangkan lagi, ia tak ingin menyudutkan satu pihak dan pada akhirnya ia kembali berbohong dengan permintaan maaf pada batinnya bahwa ia berbohong untuk kesekian kalinya pada teman baiknya.

“Nan gweenchana..”

***

Sebenarnya Arin ingin menghindari Baekhyun sebisa mungkin, namun lelaki itu sudah berdiri didepan kelasnya sambil tersenyum. Seperti biasa.

Hati Kim Arin mencelos, nyeri dan tersayat. Namun dengan sekuat tenaga ia memaksa bibirnya tersenyum seperti biasa.

“Kau terlihat pucat. Kau sakit?” Baekhyun meletakan tangannya di kening Arin “Eoh… panas. Ya, ayo ke rumah sakit.”

Arin menghentikan Baekhyun lalu sebisa mungkin menahan agar air matanya tak jatuh. ‘Berhentilah Baekhyun’ batin Arin.

“Wae? Kau sakit.”

“Nan geweenchana…” Arin mencoba menyelami mata hitam Baekhyun ‘Aku baik baik saja. Tolong mengerti dan hentikan semua ini Baek’ Ia ingin melanjutkan hal itu namun tak sanggup dan berakhir dengan senyum yang ia paksa.

“Aku ingin pulang saja.”

“Eohh baiklah” Baekhyun merangkul Arin “Pastikan kau makan makanan yang hangat dan jangan lupa minum obat”

“Araseo…”

“Oh dan jangan keluar nanti malam, udara semakin dingin.”

“Ehm..”

“Apa perlu kedokter dulu sebelum pulang?”

Arin menggeleng “Aku capek, ingin pulang saja..”

Baekhyun akhirnya mengerti lalu mengikuti Arin dan mengantarnya pulang. Gadis itu lebih banyak diam dan menghindari tatapannya. Seperti bukan Arin yang biasanya, apakah sakit membuatnya berubah seperti ini?

Sesampainya dirumah Arin, Baekhyun enggan melepas genggamannya.

“Kau.. harus istirahat eo, jangan begadang..”

Arin mengangguk lalu menatap Baekhyun, sebisa mungkin ia tidak terbawa suasana “Baekhyun..”

“Ehmm wae? Kau butuh sesuatu?”

Arin menggeleng “Aku hanya ingin bilang…” “Aku.. baik baik saja.”

“Eo?”

“Gweenchana…” Kalau saja Baekhyun mengatakan yang sebenarnya, Arin akan mengucapkan demikian. Kalau saja Baekhyun meminta maaf padanya sekarang maka jawaban Arin tetap sama. ‘Ia baik baik saja’

“Ehm baiklah.”

“Jadi jangan khawatir. Aku benar-benar baik baik saja, sungguh.”

“Araseo. Cepat masuk, dan jangan lupa minum obat eo?”

Arin membalikan badan dan tepat saat itu air matanya jatuh bebas. Ia langsung berlari masuk kedalam rumahnya. Meninggalkan Baekhyun dengan rasa ragu didada.

“Arin-ah… aku tidak baik baik saja..”

***

Pagi itu Arin tak lagi memiliki semangat dalam hidupnya. Lagi lagi ia merasa malas melakukan segalanya, bahkan jika boleh ia ingin diam dan tak melakukan apa-apa.

Panggilan telpon dari Sojin membuatnya tersadar dan harus kembali pada realita.

“Eoh… Sojin-ah.”

“Arin-ah kau benar benar sakit?Baekhyun bilang padaku tadi”

Mendengar nama lelaki itu, Arin merasa sesak dan ingin menangis lagi “Ani. Aku sudah sembuh” Entah kenapa ia mudah sekali menangis sampai suaranya seserak ini.

“Kau menangis? Ya, kau kenapa? Perlu kujenguk?”

“Tidak… aku akan berangkat hari ini.”

“Eiiyyy tidak perlu. Jangan berangkat kalau belum sembuh.”

Arin menangis “Aku baik-baik saja…” Suaranya semakin parau “Aku siap siap dulu. Kututup ya”

Lagi-lagi dia menangis, menjadi gadis melankolis.

***

“Gweenchana?”Tanya Ara dan Sojin didepan meja Arin. Membuat yang lain ikut khawatir.

“Aku baik baik saja kok.”

“Ish.. kau kalau masih sakit jangan masuk dulu.” Ujar Sojin mengkhawatirkan Arin.

“Kau sakit? Sungguh?” Rapmonster ikut melihat Arin dan merasa khawatir begitu juga yang lain.

“Kau bawa obatmu?” Kini giliran Irene dan seketika teman temannya yang lain ikut mengkhawatirkannya, hal ini membuat Arin merasa tak enak. Ia tak suka membuat orang khawatir. Saat bel berbunyi semuanya kembali ketempat duduk setelah Arin meyakinkan dirinya baik-baik saja.

Tiba tiba Taehyung mendekati mejanya dan meletakan susu panas di cangkir kertas.

“Minumlah selagi hangat.”

Kim Arin hendak berterimakasih namun tak sempat karena Taehyung sudah duduk di kursinya. Arin menatap punggung Taehyung, rasanya ia ingin sekali mengucapkan terimakasih pada lelaki itu.

Setelah menghabiskan minuman itu, ponsel Arin berdering. Dibuka pesan tersebut yang ternyata dari Baekhyun.

“Kau masuk sekolah?”

Arin mendongak, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis

“Eung.”

“Kau yakin sudah sembuh?”

“Eung.”

“Baiklah. Aku akan menemuimu di kantin nanti”

Dan setitik air mata jatuh dipipi kanannya. Ia mengusapnya dengan cepat agar teman-temannya tak tahu dan ia memasukan ponselnya kedalam tas, berharap pelajaran yang tadinya ingin berakhir cepat supaya menjadi lama, ia tidak ingin menemui Baekhyun. Tidak bisa.

***

“Kau tidak nafsu makan? Wae ? apa perutmu sakit?” Baekhyun berdiri dan mengambil teh panas lalu meletakannya di meja Arin. Mereka tengah makan bersama dan tak jauh dari mereka ia melihat Oh Jiho yang melengos begitu saja melihat Baekhyun dan dirinya.

“Ani. Aku sudah kenyang,”

“Kau harus makan yang banyak biar cepat sembuh.”

“Araseo.” Arin memaksa memasukan makanannya padahal ia benar-benar tidak selera. Ia sangat ingin muntah namun ia tahan.

Setelah mereka makan bersama Baekhyun mengajaknya diatap sekolah. Namun tak berada di dinding kesukaan mereka, hanya dipinggir mengingat udara semakin dingin.

“Besok.. aku sudah harus ke pelatihan.” Ujar Baekhyun saat hening melanda mereka. “Hah… kenapa rasanya cepat sekali dan aku harus meninggalkanmu lagi..”

Mendengar kata meninggalkan membuat tubuh Arin nyeri seketika, kenapa kata kata itu begitu menusuk.

“Eoh”

“Mungkin saaat pergantian musim, aku baru kembali”

“Eoh”

“Bagaimana ini, kenapa rasanya sangat lama.”

Arin menunduk mengiyakan semua perkataan Baekhyun, ia ingin segera menyudahinya takut ia menangis tiba-tiba.

“Karena itu.. aku ingin mengatakan bahwa-“

Arin mengintrupsi tiba-tiba. Ia merasa tak sanggup mendengarnya

“Aku kedinginan.”

Baekhyun langsung panik. “Eh..” Lalu ia melepas mantelnya dan memakaikannya pada Arin. “Ayo kembali ke kelas, maaf membawamu kesini padahal kau sedang sakit”

Disepanjang jalan, dalam rangkulan Baekhyun Arin menggenggam almamater Baekhyun dengan erat. Rasanya sakit sekali jika Baekhyun mengatakan yang sebenarnya tadi. Ia tidak sanggup dan ia belum siap.

“Baekhyun…”

“Ehm…”

“Semangat dan semoga beruntung dengan pertandinganmu.”

Baekhyun tersenyum “Gomawo…”

“Dan juga….” Arin menelan ludahnya “Maaf… aku tidak bisa melihatmu pergi besok”

Baekhyun tercenung “Ehm Aku mengerti.”

Arin akan masuk kekelas namun berbalik kemudian “Baekhyun.. gomawo dan juga mianhae”

Ia masuk kedalam kelas membuat Baekhyun bingung. Apa yang sebenarnya terjadi, walau akhirnya ia berbalik dan mendapati Jiho menunggunya didepan kelas.

“Bagaimana?” Tanyanya dan Baekhyun melewatinya begitu saja. Membuat Jiho bersungut sebal.

“Gagal lagi?” Tanyanya lagi dan Baekhyun memutuskan untuk memejamkan matanya “Jiho-yaa aku mengantuk”

“Tck, kau rela kedinginan demi memberi mantel pada Kim Arin. Romantisnya..” Ujar Jiho yang akhirnya membuatnya sebal sendiri.

“Besok kau berangkat?”

“Ehm”

“Semangat dan semoga beruntung dengan pertandinganmu.” Baekhyun membuka matanya, kenapa Jiho dan Arin memilih kata kata yang sama dan membuat dadanya nyeri. Ia kembali memejamkan matanya.

“Aku akan menunggumu Baek…” Ucap Jiho kemudian membuat Baekhyun menyadari apakah Arin juga akan menunggunya?

Flashback

Baekhyun PoV

“Besok.. aku sudah harus ke pelatihan.” Ucapku setelah beberapa detik kami dalam keheningan. Menyebalkan karena Kris memajukan jadwal kami menuju markas pelatihan di luar Seoul.

“Hah… kenapa rasanya cepat sekali dan aku harus meninggalkanmu lagi..” Lagi-lagi gadis itu hanya diam dan menunduk. Ada apa sebenarnya pada gadis itu?

“Eoh” Singkat sekali jawabannya. Apa dia masih tidak enak badan?

“Mungkin saaat pergantian musim, aku baru kembali” Lanjutku lagi dan berharap respon yang berbeda dari gadis itu.

“Eoh”

Masih sama dan akhirnya aku memilih untuk tetap tersenyum, mungkin gadis itu sedang tidak enak badan jadi moodnya juga tidak menentu.

“Bagaimana ini, kenapa rasanya sangat lama.”

Gadis itu menunduk. Aku rasa Arin diam bukan karena tidak mood, mungkin dia sedih akan berpisah lama denganku. Tiba tiba saja aku ingin megatakan hal yang selama ini kupendam yang tak sempat kukatakan. Sebuah kebenaran..

“Karena itu.. aku ingin mengatakan bahwa-“

“Aku kedinginan.”

‘Saranghae’ sebenarnya itu yang ingin kukatakan namun aku terkejut ketika gadis itu bilang bahwa ia kedinginan. Aku belum sempat mengungkapkan perasaanku tapi… ya sudahlah..

“Eh..” Lalu aku melepas mantelku dan memakaikannya pada Arin. “Ayo kembali ke kelas, maaf membawamu kesini padahal kau sedang sakit”

Mungkin lain kali, Aku tidak ingin gadis ini tambah sakit

TBC

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] LOVE YOU MORE (Chapter 12)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s