[EXOFFI FREELANCE] LOVE YOU MORE (Chapter 11)

Poster Love You More Chapter 11.jpg

[11] Love You More

Love, Friends and Ambition

Tittle = Love You More (Love, Friends and Ambition)

Author = Park Shin

Main Cast = Kim Arin, Byun Baekhyun, Oh Jiho, Kim Taehyung BTS

Cast = EXO’S members, Yoon Ara, Moon Sojin, Other’s Idol

Genre = School Life, Friendship, Romance

Length = Chaptered (16 Eps)

Rating = General

Disclaimer = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[11]

Pelik

“Eo..”

Lelaki itu gusar dibalik selimut. Harusnya malam ini ia tersenyum dan bahagia mengingat seharian ia bersama gadisnya. Tapi tidak ketika Oh Jiho menelponnya. Dan membuyarkan semua.

“Eiiyy kenapa kau jadi pendiam sekali Baek? Kau selalu meracau kalau sedang menelpon, wae? Appayo?”

“Ani.  Aku hanya mengantuk”

“Ah… maaf aku hanya bisa menghubungimu malam malam, kau tahu kan peraturan disini-“

“Ara..”

“Hmm… kau benar-benar sudah mengantuk ya. Kalau begitu sampai jumpa.”

“Oh Jiho…”

“Wae?”

Baekhyun terdiam, ia merasakan sesak didadanya “Selamat atas kemenanganmu.”

Terdengar suara tawa disana “Wah wah.. kau sangat terlambat mengucapkannya.”

“Mian..”

“Jangan minta maaf, kau tahu kan aku semakin menyukaimu jika kau bilang begitu”

Baekhyun memejamkan matanya lalu mencoba meredakan nyeri dikepalanya “Selamat malam Jiho-ya.”

“Eo… sampai bertemu, sayang..”

Oh Jiho lebih dulu menutup ponselnya. Dengan ponsel masih terletak di telinganya, ia memandang langit langit yang mulai mengabur lalu gelap. Tenggelam bersama rasa bersalah dan sikap bodoh Byun Baekhyun.

***

“Wah aku belum siap ujian tengah semester…” Keluh Rap Monster lalu menyenggol Jimin yang ada di sisi kirinya “Bagaimana denganmu?”

“Hah. Aku hanya perlu belajar disekolah, ditempat les dan dirumah..”

Rap Monster menggelengkan kepalanya “Kau benar-benar menyedihkan.Sudah belajar terus tapi masih peringkat bawah di kelas.”

“Aku lebih baik darimu.”

“Aish…”

Myungsoo menyela “Perlukah kita belajar bersama?”

J-hope tiba tiba ikut pembicaraan mereka. “Denganmu? Eii… nilai kita kan sama saja.”

Myungsoo mencibir “Aku masih ikut 10 besar tau, jangan samakan dengan kalian..”

“Ada apa ini?” Irene ikut menimpali “Kalian mau belajar bersama?”

“Telingamu lebar sekali sih, kok bisa dengar?” Keluh Myungsoo dan dibalas tatapan sengit Irene.

“Siapa yang mau belajar bersama? Aku ikuttt…” Tambah Wendy yang sangat antusias hingga seluruh kelas akhirnya mendengar. RapMonster hanya bisa menggelengkan kepala. Merepotkan!!!

“Hyak Kim Arin… ayo belajar bersama…” Arin yang tengah mengobrol dengan Sojin dan Ara akhirnya menoleh pada Wendy yang memanggilnya. Disusul dengan Seulgi dan Yeri yang ikut meramaikan suasana.

Kim Arin tersenyum lalu mengangguk, membuat semua anak di kelas akhirnya menyetujui ide tersebut. Tim Irene dan Rapmonster mulai menyusun rencana kapan akan belajar bersama.

Arin tersenyum, melihat suasana kelasnya yang memang sangat peduli dengan nilai namun kebersamaan diantara mereka perlu diacungi jempol. Ia jadi teringat pertama kali masuk ke kelas ini dan langsung menjadi pusat perhatian karena prestasinya. Pernah kelas sebelah memperlakukan Arin dengan kasar hanya karena pacarnya jadi menyukai Arin yang pada saat itu tidak tahu apa-apa. Dengan berani baik teman laki-laki dan perempuan kelasnya langsung membelanya, walaupun berakhir dengan di hukum di tengah lapangan bersama. Namun hal itu membuat dirinya menyadari bahwa teman sekelasnya sangat peduli padanya.

‘Bagaimana bisa aku meninggalkan mereka? Aku sudah sangat nyaman disini..’ Batin Kim Arin mengingat titah Ayahnya. Lalu ia bertekad untuk bisa membujuk Ayahnya agar ia tetap disini, setidaknya sampai ia lulus SMA.

Arin menatap keluar jendela, melihat sebrang kelas 12 dimana ia berharap jika bisa, ia masih tetap disini, bersama teman sekelasnya, wisuda bersama dan tertawa bersama. Ia harap seperti itu. Semoga saja.

Lalu matanya beralih pada lapangan yang masih diselimuti salju yang cukup tebal. Disana berlarian seorang anak laki-laki dan beberapa anak laki-laki lainnya yang tengah bermain bola salju. Arin tidak asing dengan postur tubuh lelaki yang sedang berguling disana.

“Mereka gila…” Ujar Sungyeol tiba-tiba.

“Bagaimana bisa mereka sesantai ini padahal ujian sudah dekat” Lanjut Suga

“Tentu saja mereka bodoh. Kelas dengan anak anak peringkat ekor” Ujar Seokjin yang di susul tawa dari yang lainnya.

“Kau benar, mereka itu benar-benar beban untuk Korea. Tidak ada masa depan” Sambung Seulgi yang kini ikut menatap dari jendela kelas.

Arin yang mendengarnya merasa tidak suka. Ia ingin sekali mengatakan bahwa itu tidak benar. Enak saja mengejek kelas ehemmm.. pacarnya.

Namun sebelum ia bilang Taehyung ikut bergabung dan berdiri sambil menatap jendela.

“Walaupun dia beban untuk korea, seseorang yang memiliki masa depan cerah sangat menyukainya. Benarkan? Kim Arin?” Tanyanya dengan suara agak keras dan penekanan kata Suka dan Kim Arin begitu jelas, membuat Arin mendongak dan mendengus.

“Eh lihat Baekhyun melihat kesini….”

Mendengar nama itu, Arin langsung berdiri dan melihat lebih dekat. Disana, seorang laki-laki dan teman temannya di tengah lapangan membentuk bola salju. Lelaki itu, Byun Baekhyun melambai ke Jendela kelas Arin.

Hal itu membuat seisi kelas Arin berseru, mau tak mau Arin senyum senyum sendiri melihatnya. Bahkan sekarang Baekhyun berlarian di tengah lapangan dan mengambil kayu untuk  menggambar di salju. Tampak sekali itu berbentuk hati dan tangannya mengarah ke jendela Kim Arin, tepat dimana gadis itu tengah berdiri.

Kelas Arin semakin ramai, bahkan banyak gadis gadis menjerit merasa seperti di drama-drama.

“Yaaa… Byun Baekhyun keren juga…”

“Wah… gila dia sampai berbuat seperti itu…”

“Manisnyaa…. romantis sekali….”

“Wah keren sekali..”

“Oy kau mau aku lari kesana dan melambai padamu Minah?”

“PLAK!!! Mimipi saja kau”

HAHAHAHAA

Kim Arin tak mendengarkan kalimat yang dilontarkan mereka. Ia memilih menatap ketengah lapangan dan melihat Baekhyun dan teman-temannya bergembira disana. Mereka begitu bahagia, sampai lupa betapa dinginnya udara diluar. Mereka tak peduli bahwa mungkin mereka akan menjadi peringkat ekor lagi, tapi… Arin sangat ingin terbebas dari semua itu.

Melihat Baekhyun Arin jadi menyadari bahwa selama ini ia selalu berusaha hidup seperti yang diinginkan orang. Ia menjadi gadis ramah padahal penuh luka didalamnya, Ia tersenyum walaupun sakit yang ia rasakan, ia harus menjadi nomer satu dengan segala upaya hingga otaknya seakan meledak mengingat betapa gilanya dulu ia belajar dan ia melupakan bahwa  sebesar dan seberjuang usahannya itu… tidak ada yang menginginkannya bahkan orang tuannya sendiri.

Melihat Baekhyun Arin jadi menyadari.. bahwa ia ingin keluar dari semua itu. Ia ingin jadi dirinya yang tak perlu orang lain inginkan, asal ia bahagia. Seperti itu.

“Baekhyun…”

***

“Kalian ini bisa bisanya main ditengah lapangan dengan cuaca seperti ini. Bahkan sampai melempariku bola salju..”

“Itu tidak sengaja Saem”

“HAISSHH…” Yoon Saem memukul Kai dengan galahnya. Begitu Asyiknya mereka bermain bola salju sampai tidak sadar bahwa mereka juga melempari Yoon Saem. Matilah mereka!

“Kalian harus membersihkan gudang olahraga sepulang sekolah..” Ujarnya

“Tapi kami harus latihan Saem..”

“Hahhhh tidak urusan..” Selanya pada ucapan Sehun.

“Maaf Yoon Songsaengnim…”

“MWOYAAA..” Yoon Saem tercekat tatkala ia membentak Kris. Pelatih basket mereka.

“Oh.. kau…”

“Atas ulah mereka… aku minta maaf”

Yoon Saem berdeham lalu melihat Kris yang membungkuk ia jadi tak tega “Aish sudahlah, pokoknya kalau kalian berulah lagi habislah kalian…”

“Gamsahamnida saem…” Ucap mereka berlima bersamaan.

Setelah Yoon Saem pergi mereka memeluk Kris dengan manja. “Gomawo Hyung.” Ungkap Sehun

“Kau pahlawan kami…” Tambah Chanyeol sambil menunjukan kedua jempolnya.

“Aish… tanganku sakit.” Keluh Kai yang tangannya dipukul dengan galah.

“Kau sih, sudah tahu dia si Gila Galah, masih saja berani menjawab” Ujar Kyungsoo memarahi Kai.

“Sudahlah… yang penting kita terbebas dari hukuman… karena Kris Hyung…” Baekhyun memberi jempolnya pada Kris. Dia pelatih baru yang direkrut setahun yang lalu, karena usianya tidak terpaut begitu jauh, mereka jadi sangat akrab dengan Kris.

“Sudah sudah. Sebagai gantinya kalian harus latihan dengan keras eo? Pertandingan kemarin memang bagus tapi belum memuaskan. Aku ragu kalian lolos ke Winter Olympic kalau permainannya seperti kemarin.”

“Arraseo…” Jawab Chanyeol.

“Dan kau Baek…. perlukah kau membawa pacarmu untuk menyemangatimu? Staminamu buruk sekali kemarin”

Baekhyun mendengus “Maaf..”

“Ya sudah. Kembali ke kelas,jangan lupa nanti latihan.”

“Yes, sir”

***

Ara mendengus sebal, bagaimana bisa ponselnya tertinggal di sekolah. Dan yang menyebalkan adalah ia lupa dimana ia menaruh ponselnya. ‘Aish…’

Sesampainya dikelas ia bergegas mencari kesana kemari, namun tak kunjung menemukan ponselnya, lalu ia pindah ke lokernya juga nihil. Ia menoleh kesana kemari mencari seseorang namun tak mungkin ada orang pukul 6 sore seperti ini. Bisa mati dia kalau ponselnya hilang lagi, ia belum lama membelinya, bisa bisa Ayahnya memarahinya sepanjang malam.

Ditengah kesebalannya ia melihat sosok Kim Arin yang berada di koridor, ia hendak memanggil Arin untuk membantunya mencari ponsel, namun tiba-tiba datang Baekhyun membuat ia ragu untuk menemuinya. Akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya sendiri.

Ia kembali ke koridor menuju kelasnya. Setelah ia mengingat-ingat kemana saja ia hari ini, ia paling banyak berada di kelas. Di kantin sudah tidak ada, di toilet juga tidak ada. Ia akhirnya memilih kembali ke kelas mengulang untuk mencari.

Disaat langit mulai gelap dan cahaya koridor mulai meredup. Tadinya ia berani sendiri berjalan ke kelasnya namun rasanya jadi sangat mengerikan mengingat mungkin tidak ada orang dsekitar sini. Ia memutuskan untuk fokus mencari ponselnya, Jika tidak ada mungkin ia bisa bertanya pada satpam besok.

Ara berhenti melangkah tatkala merasa ada yang mengikutinya belum sempat ia menoleh seseorang menepuk pundaknya dan..

AAAAAAAAAA

Ara pernah mengikuti kelas Judo walaupun tidak selesai dulu saat SMP. Setidaknya dasar gerakan pertahanan dan perlawanan ia kuasai walapun jarang mempraktekannya. Dan kali ini, pertama kalinya setelah mengikuti kelas di SMP ia menggunakannya dan

BRAKKK

“Aissshh…”

Ara membelalakan matanya. “O..oh Sehun?”

“Eo… ini aku.”

Ara merutuki kebodohannya, bagaimana dia bisa refleks membanting… Oh Sehun ?

“Oh mian… mian….” Ara membantu Sehun berdiri mengingat suara debuman tadi cukup keras. Ia bisa merasakan sakit yang dirasakan Sehun.

“Kau ini.. bisa bisanya membantingku seperti itu dengan tubuh kurusmu.”

“Ah… maaf aku tidak tahu kalau itu kau. Kau sendiri kenapa mengagetkanku sih?”

“Mwo? Aku memanggilmu dari tadi. Makannya aku mendekatimu karena kupikir kau-“

“Kau memanggilku? Kok aku tidak dengar sih?” Sehun memiringkan kepalanya. Lalu tangannya menyentuh rambut pendek Ara dan menyibakannya kesamping untuk melihat telinga gadis itu.

“Kau punya gangguan pendengaran?”

Ara kaget karena Sehun menyibak rambutnya begitu saja lalu menghempaskan tangan Sehun. “Hyak…”

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” Tanya Sehun yang membuat Ara sadar lagi.Ia harus mencari ponselnya.

“Bukan urusanmu.” Lalu Ara berbalik untuk kembali ke kelasnya sebelum Sehun mengintrupsi langkahnya.

“Yakin tidak butuh bantuan?”

“Tidak” Tegas Ara lalu melanjutkan langkah

“Biasanya kalau malam seluruh lampu dipadamkan, kau yakin tidak takut?”

Oke itu berhasil membuat Ara berhenti lalu membalikan badan pada Sehun.

“Kau pikir aku takut?” Ara menggeleng lalu melanjutkan langkahnya.

Sehun ternganga “Dia itu…” Sehun tersenyum miring “…imut sekali. Aw… appa..” Ia merasakan punggungnya yang linu.

Arapun kembali ke kelasnya dan mengulang mencari ponselnya. Rasanya akan lebih cepat kalau meminjam ponsel orang lain lalu menelpon ponselnya. Ia ingat ponselnya tidak dalam mode diam, jadi mudah ditemukan. Aish… apa aku pinjam ponsel Sehun ya?

TAK

Ara memukul kepalannya sendiri. Bagaimana mungkin dia sebodoh itu meminjam pada Sehun setelah menolak bantuannya. Ara menggelengkan kepalanya kuat-kuat. ‘tidak tidak..’

Ditengah pencariannya tiba-tiba lampu sekolah dipadamkan. Tentu saja ia terdiam beberapa saat. Oke itu sangat menakutkan. Rasanya menelan perkataannya sendiri kalau dia tidak takut. Jujur dia hampir pingsan tatkala pandangannya mulai gelap gulita.

“Hah… aku tidak bisa melihat apapun”

Ara menoleh dan

AAAAAAAA

Ia menutup wajahnya tatkala melihat seseorang dengan senter sudah ada disampingnya. Bisa dibayangkan betapa menakutkannya hal itu. Ia nyaris pingsan.

“Ini HAHAHAA aku AHHAHAHAA aku… Oh Sehun.”

Ara membuka wajahnya setelah ia mempercayai bahwa itu suara Sehun. Ia ingin sekali membanting laki-laki itu lagi. Dilihatnya lelaki itu memegang perut karena tertawa begitu keras. Ara ingin sekali menghajar wajahnya

“Kau bilang kau tidak takut?”

“Aku memang tidak takut” Sela Ara dengan cepat dan bersungut sebal. Ia memegang dadanya yang berdebar tak karuan tadi. Nyaris saja jantungnya copot.

“kenapa kau kemari?”

Sehun mendekati Ara lalu memukul keningnya perlahan. “Kau bodoh ya? Bagaimana kau mencari sesuatu di gelap-gelap begini? Atau kau…. suka main di kegelapan?” Goda Sehun yang membuat Ara menggelengkan kepalanya.

“Kau benar-benar…”

“Mempesona kan?” Lanjut Sehun membuat Ara semakin tak tahan. Ia melihat ponsel ditangan Sehun yang menyala senternya. Lalu ia meyakinkan dirinya apakah ia boleh meminjamnya atau.

“Kenapa kau melihat ponselku? Kau butuh bantuan kan?” Sehun menggoda lagi. Kalau saja boleh memilih ia lebih baik minta tolong pada siapapun kecuali seorang Oh Sehun yang tingkat kepercayaan dirinya diatas rata-rata.

“Wae? Kau butuh senter untuk mencari barangmu?” Sehun mengarahkan senter dari ponselnya keseluruh ruangan lalu dihentikan Ara.

“Bisa kupinjam ponselmu?”

Sehun menoleh cepat pada Ara “Kenapa?” Tanyanya lalu cengiran khasnya muncul “Kau mau nomerku?”

“Kau gila? Berikan padaku” Ara berhasil meminjam ponsel Sehun lalu mengusap layarnya dan meletakan beberapa nomer disana. Saat panggilan dialnya muncul ia menoleh kesana kemari diruangan kelas dan menajamkan pendengarannya.

“Kau menelpon sia-?”

“Ssst diam.”

TRRINGG TRINGG

Ara menoleh kesana kemari “Eoh suara ini.. suara ponselku…”

“Ponsel?” Sehun baru menyadari ternyata gadis itu mencari ponselnya, lalu ia ikut menoleh kesana kemari mencari sumber suara.

“Dimana ya??” Gumam Ara lalu mendongak, suara ponselnya semakin jelas dari atas lemari. Ara mengingat kembali bagaimana bisa ponselnya ada diatas sana.

Lalu ia teringat, tadi siang ia memasang jam dinding di kelasnya. Karena tubuhnya sedikit lebih tinggi maka ia yang naik dan memasang jam itu. Dan bodohnya ia malah menaruh ponselnya diatas lemari. Pantas saja, ia cari dilacipun tidak akan ketemu.

Dan itu tinggi, ia butuh kursi untuk mengambilnya, namun belum sempat ia mengambil kursi Oh Sehun berdiri dihadapannya lalu menjulurkan tangannya dan berhasil meraih ponsel Ara yang ada diatas lemari.

“Wow… keren sekali ponselmu bisa terbang sampai sini.”

Ara mendengus tak habis pikir. Ia tadi sempat terpesona dengan postur Sehun yang memang tidak bisa dipungkiri sangat keren. Tapi ketika dia bicara konyol, semua pesonanya buyar.

“Berikan padaku.” Titah Ara. Tapi Sehun menolak, membuat gadis itu menaikan alisnya “Apa yang kau lakukan?”

“Apalagi, kembalikan dulu ponselku.” Ara merutuki kebodohannya, lalu ia berikan ponsel Sehun diatas tangan Sehun yang mengadah.

“Sekarang kembalikan punyaku.”

“Kau lupa harus bilang apa?”

“Mwo?”

Sehun menghela nafas “Terimakasih. Kau harus bilang seperti itu baru kuberi ponselmu”

Oke benar juga, berkat Sehun ponselnya bisa ditemukan, tapi kalau cara dia menyebalkan seperti ini rasanya enggan sekali yah mau bagaimana lagi, demi ponselnya akhirnya ia harus mengucapkan.

“Gomawo.. sekarang berikan ponselku.”

Sehun mendesis lalu menaikan alisnya “Bisakah kau ucapakan itu dengan nada ‘Sehun milikkuuuu’ seperti itu?”

Ara melongo, lagi-lagi lelaki itu membahasnya. Itu sangat menyebalkan.

“Berikan padaku, cepat.”

Sehun menyembunyikan ponselnya dibelakang punggung, dan reflek Ara mendekat dan

HAP

…memeluk Oh Sehun…

Ara membulatkan matanya, kenapa ia malah memeluk Sehun? BODOH!

Gadis itu akan mundur namun Sehun malah membalas pelukannya dengan sangat erat.

“Wah aku tidak tahu kalau kau sampai seharu itu untuk berterimakasih padaku. Aku terima kebaikan dan pelukanmu.”

“Hyakkk lepaskan.”

“Wahh kau sangat kurus, tapi kenapa sangat pas di dekapanku? Apa kita jodoh?”

Ara menggeliat dan berusaha sangat keras untuk lepas dari pelukan Sehun, tentu saja lelaki itu tak tinggal diam ia makin mengeratkan pelukannya membuat Ara semakin terhimpit.

“Yakkk lepaskan.”

“Kau ini harusnya beruntung dipeluk orang sepopuler diriku”

“Yakkk lepaskan…”

“Tidak.”

“Woyy.. Oh Sehun… Aku akan membantingmu lagi.”

Gertakan itu membuat Sehun sedikit ngilu mengingat punggungnya juga masih nyeri tapi ini menyenangkan

“Cobalah kalau berani, lalu aku akan menciummu dengan ganas kemudian.”

Dalam pelukan Sehun, jantung Ara mencelos.

‘Berhasil’ Batin sehun gadis itu akhirnya diam. Walaupun akhirnya gadis itu menggigit lengannya dan

AAAAAAAAAAAAAAAAA

****

“Yak Yoon Ara. Aku tidak akan melupakan kejadian ini eoh?”

Sehun terus menggerutu sambil mengekor dibelakang gadis itu. Tadi setelah berhasil lepas dari pelukannya gadis itu mengambil ponselnya dan berlari begitu saja. Wah kalau saja Sehun tidak cinta padanya mungkin gadis itu sudah habis olehnya.

Setelah lelah mengikuti gadis itu Sehun akhirnya berhenti. Seulas senyum terpancar diwajahnya “Yak Yoon Ara, kencanlah denganku.”

Gadis itu berhenti berjalan lalu menoleh kebelakang

“Tidak mau.”

Dan membuat Sehun tersenyum makin lebar

“Manisnya…”

***

Ujian Tengah Semester berjalan lancar. Semua siswa melepas penatnya dengan menikmati suasana musim dingin. Mereka nampak lebh ceria setelah semua ujian selesai, bahkan beberapa mengadakan pesta setelah selesai kelas. Kim Arin yang tengah memperhatikan teman-temannya itu tersenyum. Menjadi kebiasaan barunya mengamati teman kelasnya.

Ia beranjak dan memutuskan untuk pergi menemui Baekhyun. Di perjalanannya ia melihat Baekhyun berdiri memunggunginya. Saat akan memanggilnya Arin berhenti, ia melihat seorang gadis tengah bicara dengan Baekhyun. Mereka seperti sedang bicara sangat serius. Bahkan Arin tak berani menyela, namun ia penasaran siapa gadis yang tengah bicara dengan Baekhyun. Lalu ia putuskan untuk memiringkan kepalannya dan terkejut melihat siapa yang tengah bicara dengan Baekhyun.

“Oh Jiho?”

Tanpa Arin sadari, matanya membola tatkla Jiho meraih tangan Baekhyun dan mengayunkannya. Lelaki itu bahkan diam saja dan saat menoleh kesamping, Baekhyun…. tersenyum?

TBC

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] LOVE YOU MORE (Chapter 11)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s