[EXOFFI FREELANCE] WILL YOU BE THERE (CHAPTER 7)

CYMERA_20171115_234923

Title |    Will You be There

Author|RHYK

Cast|        Rose [Blackpink]    as Ra Joona

Park Chanyeol [EXO] as Jo Chanyeol

Han Sunhwa as Han Jina

Additional Cast| Ong Seungwoo [Wanna One] as Ha Seungwoo

Length| Chapter

Rate | PG 17 (terserah kalian aja sih mau rate berapa. Baca aja. Jangan di contoh kecuali udah dihalalin *eehh)

Genre| Alternate Universe – Drama – Romance –Sad –Life –Marriage life

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Quotes| Dalam kisah ini, akankah seseorang menantiku di sana?

Summary this Chapter|

Previous Chapter | [0.1] Intro Cast >>

[1] ] Domino >> [2] One night stand

[3] Beautiful Nightmare >> [4] Doubt >>

[5] Promise>> [6] Day of Heartbreak

-=7=-

Dalam hidup ini, bukan hanya kisah dirimu saja yang menyedihkan. Bagaimana cerita itu berakhir segala keputusan ada ditanganmu. Apakah menjadi akhir bahagia bak dongeng ataukah menjadi akhir tragis seperti dark – melodrama.

    “Kau sudah bicara pada suaminya tentang Jina?”tanya Junmyeon memberikan kopi instan kaleng pada Hayoung, yang kemudian tanya itu dijawab dengan gelengan lantas membuat Junmyeon nampak kecewa.

“Situasinya tadi tidak meyakinkan. Aku juga perlu persiapan untuk menjelaskan semua itu pada suaminya. Kau juga kenal bagaimana watak Jina, dokter Jun.” Hayoung hanya menatap Junmyeon untuk mengerti dan lelaki itu mengangguk, kembali meminum kopinya.

    “Dia cukup keras kepala. Sudah lima jam lebih, aku rasa waktunya sudah lebih tepat dari sebelumnya. Cepat kau jelaskan, sebelum semua makin rumit, dokter Park.” Junmyeon menyarankan yang hanya dibalas senyum buatan oleh Hayoung. Setelahnya ia hanya menepuk bahu Junmyeon dan pergi meninggalkan lelaki itu yang masih sibuk menatap ke arah luar dari koridor yang sepi.

    Hayoung lebih dulu mengatur napasnya dan memastikannya bahwa ia baik – baik saja. Tangannya kemudian membuka tirai dimana Jina berada, bukan ruangan VIP bagaimana layaknya orang kaya pada umumnya, Jina hanya ditaruh pada sebuah ruang rawat kelas III yang diisi sekitar empat orang dalam satu ruangan. Jina bukan tipe orang yang suka dengan kemewahan meski dirinya orang kaya sekalipun.

    “Ada apa, Hayoung – ssi?”

    “Itu..aku harus menjelaskan kenapa situasi ini bisa terjadi, Chanyeol –ssi.”

    Hayoung mengatur napasnya, mencoba untuk berbicara dengan nyaman dan sesantai mungkin. Chanyeol yang tadinya duduk, melihat ekspresi Hayoung yang begitu serius menjadi berdiri, masih memandang Hayoung dengan tatapan menunggu atau menerka apa yang akan Hayoung jelaskan.

    “Silahkan bicara, apa itu –dokter Park?”

    Hayoung memegang lehernya dengan tangan kanan, ia melirik Jina sebentar yang belum juga sadar. Baiknya, sebagai teman Jina perlukah Chanyeol mendengar penjelasan ini dari orang lain dan bukan dari Jina sendiri? Bukankah lebih menyakitkan? Sibuk dengan pikirannya, Hayoung yang sudah yakin menjadi ragu kembali. Tangan kirinya sudah mencengkram bagian dalam sakunya yang berisi kertas hasil tes Jina.

    “Begini Chanyeol – ssi, soal Jina..”

    “Jo Chanyeol!” Panggilan Jina membuat Hayoung tersentak, Jina menatap Hayoung mengisyaratkan untuk tetap bungkam soal kejadian siang tadi. Sementara Chanyeol, tentu saja sudah sibuk dengan Jina dan melupakan percakapannya dengan Hayoung.

    Chanyeol mengusap rambut Jina, tersenyum lega. “Ada apa, Han Jina? Jika ibuku membuatmu tertekan, tolong cerita padaku. Jangan melakukan hal gila seperti itu lagi, mengerti?” perkataan panjang lebar Chanyeol hanya disambut dengan sebuah angguk dan tangis haru Jina, yang dengan segera Chanyeol membawanya dalam sebuah dekapan.

    “Maafkan aku, Chanyeol –ra.”

    Melihat itu, Hayoung hanya memundurkan langkah dan keluar dari ruang rawat Jina. Dia mengacak rambutnya frustasi. “Dari sini, semuanya akan rumit, aku harap kau ingat itu Han Jina.”

**

    “Anda mencariku, presdir?”

    “Oh ya, Hyungwon –ssi. Tolong bantu aku untuk mencari tahu siapa yang menyelamatkan istriku ketika di Rumah Sakit hari itu.”

    “Ne, algesseubnida.”

    Chanyeol kembali sibuk dengan layar monitornya setelah sang sekretaris pribadinya berlalu dari ruangannya. Sebuah panggilan pararel adalah hal kedua yang mengalihkan lagi matanya dari monitor yang berisi tentang kemajuan Hotel Venicenya.

    “Rapat dengan H Construction akan dilaksanakan di Lounge setelah makan siang, presdir.”

    “Baiklah. Aku segera ke sana. Thank you, Yeri –ssi.”

    Chanyeol mengakhiri rapat dengan H Construction lebih awal karena sejak tadi, terus ada yang mengganjal hati dan mengganggunya untuk berkonsentransi. Kicauan bisikkan itu terus menghantuinya dari ia berjalan dari Lounge, memasuki elevator hingga kembali lagi ke ruangannya.

    “Aku dengar nyonya Han hampir bunuh diri kemarin di Rumah Sakit tempat kerjanya.”

    “Iya, itu benar. Apa alasannya?”

    “Ada yang bilang sih karena tidak bisa punya anak.”

    “Maksudmu, dia tidak bisa mengandung?”

    “Begitulah. Aku sedih mendengarnya. Hidupnya padahal sudah sempurna.”

    Dan berbagai macam omongan lain yang berinti sama. Chanyeol membanting pintu ruang kerjanya keras. Hingga Yeri memanggil Hyungwon untuk memastikan keadaan presdirnya itu.

    “Presdir, anda baik – baik saja?”

    “Bagaimana dengan pencarianmu?”

    “Aku sedang meminta rekaman CCTV hari itu beberapa sudut dari atap, Presdir Jo. Apa.. terjadi sesuatu pada anda?”

    “Aku tidak apa. Tolong carikan beberapa orang yang memunculkan rumor tentang istriku yang mandul. Bawa mereka ke sini! Cepat!”

    Hyungwon tersentak dengan nada bicara atasannya yang meledak tiba – tiba. Dengan terbata ia menjawab, “B –baik, Presdir. Saya permisi.”

    Chanyeol mengusap wajahnya sendiri, napasnya ia buang dengan kasar. Tidak masalah, jika mereka membicarakan bahkan sampai mengutuk dirinya. Sungguh, itu bukan perkara yang harus diributkan. Namun, dia benar – benar tidak dapat menerima jika ini menyangkut Han Jina.

    Dia kemudian mengambil ponselnya dan menelpon seseorang yang menjadi fokus rasa khawatirnya. Tak lama, ia mendengar suara wanitanya itu.

    “Halo?”

    “Kau baik – baik saja, Han Jina?”

    “Tentu saja. Ada apa Tuan Jo? Kau sakit?”

    “Tidak.. tiba – tiba saja aku ingin makan daging sapi denganmu. Kau sibuk?”

    “Tadi ya. Sepertinya sisa kerjaan bisa aku serahkan pada residen dan magang. Kau yang menjemputku,kan Jo Chanyeol –ssi?”

    “Baiklah. Aku segera ke sana. Tunggu di lobi segera, Han Jina –ssi. Aku tutup.”

    “Ne..”

    Jina keluar dari elevator, dirinya kemudian mengulas senyum begitu berpapasan dengan Junmyeon.

    “Eodiga?” (Kemana?)

Tanya dokter Jun memasukkan kedua tangannya di saku jasnya santai, berjalan beriringan dengan Jina. Junmyeon tak mengerti, Jina memang terlihat baik hari ini, atau dia sedang bermain lakon dengan wajah bahagia dan menangis di belakang panggung yang gelap.

    “Makan dengan suamiku.”

    Junmyeon hanya mengangguk, memang apa lagi yang bisa Junmyeon katakan selain mengiyakan saja. Melarang? Tentu saja, Junmyeon lah orang yang seharusnya dilarang untuk mengatakan itu pada Jina. “Hayoung bilang –‘

    “Jangan khawatirkan soal itu, dokter Jun. Akan aku jelaskan sendiri pada Chanyeol jika waktunya tepat.” Jina memotong cepat, membuat Junmyeon teralihkan pada beberapa staf Rumah Sakit yang berbisik begitu mereka berjalan di lobi. Tentu, bukan tentang apa status antara Junmyeon dan Jina. Namun, lebih kepada apa alasan Jina dan rumor – rumor aneh yang beredar di Rumah Sakit.  Termasuk, soal Jina yang kembali menjalin hubungan dengan dirinya yang menurut Junmyeon sendiri itu adalah gosip paling parah yang pernah ia dengar dalam hidupnya.

    “Jina..aku minta maaf padamu soal staf yang membicarakanmu.”

    Jina senyum seadanya pada Junmyeon yang membuat lelaki itu makin heran. Dari apakah hati Han Jina dibuat? Kenapa ada orang sesabar Han Jina. “Sudahlah, bicara lagi nanti. Itu juga bukan salahmu, aku yang terlalu tidak dewasa. Chanyeol tidak bisa ku biarkan untuk masuk ke sini dan mendengarkan para staf berkicau tentangku.”

    Jina kemudian melambaikan tangan dan segera masuk ke dalam mobil SUV abu – abu yang Chanyeol kemudikan sendiri.

**

    Joona mencuci piring ditemani dengan lamunannya soal kejadian di hari lalu. Tentang wanita yang dilabeli dengan kata sempurna olehnya, sampai pada kejadian ia melihat Chanyeol dengan gurat khawatirnya saat di UGD.

    “Joona –ya, apa ada yang mengusikmu? Kau banyak melamun akhir – akhir ini.” Suara bibi pengelola resto daging tempatnya bekerja melaburkan lamunannya, yang kemudian membuat Joona hanya menarik sebuah senyum tipis, dan mulai membilas piring dan mangkok yang telah ia cuci.

    “Beberapa alasan demi hidup membuat kita sering melamun, ahjumma.”balas Joona lalu masih sibuk dengan piring – piring kotor yang baru datang dari meja pelanggan yang baru ditinggal oleh mereka yang makan di resto ini. Bisa dibilang, beberapa dari resto tempat Joona kerja paruh waktu benar – benar merupakan tempat yang selalu ramai karena letaknya yang strategis.

    “Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu. Setelah selesai, bantu aku untuk mengolah bahan – bahan ini ya, Joona –ya.”

    “Ne, ahjumma,” (Baik, bibi.)

    “Eoseowaseyo gogaeng –nim.” (Selamat datang, pelanggan.)

    Joona hanya tersenyum kecil sambil kembali mencuci piring, melihat bibi resto begitu bersemangat setiap hari dalam melayani orang – orang membuatnya teringat dengan sosok ibu yang hampir tidak menyita perhatiannya akhir – akhir ini.

    Apa yang ada di kepalanya akhir – akhir ini? Tentang dirinya, mungkin sebagian besar tentang janin dalam perutnya, dan sebagian lain adalah ayah dari bayi ini. Juga, tentang bagaimana mengungkapkan ini pada lelaki yang Soojin yakini sebagai chaebol dan tentu perbedaan derajat antara mereka menyelesaikan semuanya.

    “Jadi.. aku menantikan apa jawabanmu kenapa kau mengajakku makan siang daging hari ini?” Jina bertanya setelah usai menyuap dagingnya dengan berbungkus daun selada, begitu juga dengan Chanyeol yang hanya menggeleng seraya menatap Jina sekilas. “Aku lapar. Kau tidak akan makan kalau aku tidak mengajakmu atau menelponmu.” Chanyeol menjawab seadanya saja. Yah, faktanya memang begitu.

    Jina hanya tertawa ringan, sambil menuang air dan memberinya untuk Chanyeol. “Kau yang terbaik, suamiku. Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu denganmu.”

    “Kenapa?”

    “Kau mengajakku ke resto yang mahal lalu aku menolaknya. Kita berakhir pada sebuah kedai minum pinggir jalan.”

    Chanyeol hanya asik makan saja, tidak begitu menaruh atensinya pada Jina dan hanya berkata, “Makanlah dulu, kau bisa cerita nanti.”

    Yang justru membuat keadaan mereka dalam hening. Jina adalah tipe orang yang tidak senang disinggung dalam hal apapun. Jadi secara tiba – tiba saja suasana hatinya menjadi mendung sebagaimana langit hari ini yang berubah begitu cepat.

    Setelah kedua pasutri itu usai makan, mereka kembali langsung ke mobil dan suasana nampak begitu datar. Seperti tidak ada emosi apapun yang terpancar diantara keduanya. Chanyeol sibuk dengan pikirannya tentang Jina. Jina yang begini, Jina yang begitu, Pernikahannya yang seperti ini dan seperti itu.

    Tidak akan ada orang kerja dimanapun yang tidak membicarakan atasannya di belakang dan bermulut manis di depan orang yang memberi gaji untuk mereka. Semua orang di dunia ini punya sifat munafik entah atas watak ataukah begitulah cara mereka bertahan hidup.

Jina dilirik oleh ekor mata Chanyeol dan hanya mendapati bagaimana raut wajah wanita itu dari satu sisi yang melihat pada jalanan yang basah karena hujan telah turun di jalan yang mereka lewati. “Aku akan menurunkanmu depan lobi, maaf tidak bisa singgah dulu ke Rumah Sakitmu.” Chanyeol membuka suara, tangannya menyentuh tombol power dan kemudian radio terdengar dan memecah keheningan mereka walau hanya seperti menyelam dengan kaos tipis pada musim gugur. Chanyeol tetap merasakan keheningan di antara mereka.

“Jina, ma –‘ Perbincangan berikutnya yang dimulai lagi oleh Chanyeol harus terhenti lantaran dia harus menjawab sebuah panggilan masuk dari Hyungwon –sekretarisnya.

“Ya?”

“Baiklah. Aku akan tiba segera. Suruh mereka menunggu di ruang rapat direksi.”

Percakapan itu berakhir dengan Chanyeol yang melempar handsfree yang ia pakai di telinganya dengan kasar, membuat Jina sedikit menoleh dengan menatap suaminya penuh tanya. Tanya Jina terpaksa ia urungkan karena dirinya telah tiba lagi di pintu masuk utama Rumah Sakit.

“Hati – hati menyetirnya, meski sesuatu membuatmu marah.”

Jina segera turun dan berbincang dengan beberapa pasien yang berada di lobi. Dan Chanyeol hanya melihat itu semua dari pantulan kaca spion mobilnya. Dan, lagi jarak itu kian membentang dan membuatnya jauh dari orang yang dia cinta.

**

“Mereka sudah di Ruang Rapat Direksi, Presdir.” Hyungwon bersuara begitu Chanyeol tiba hampir masuk ke dalam Ruang Kerjanya. Chanyeol mengisyaratkan Hyungwon untuk menunggu di depan ruang yang dimaksud, kali ini Chanyeol benar – benar tidak bisa mendiamkan saja sikap orang – orang yang mempunyai mulut ular ini.

Kedua pegawai itu terlihat kaget begitu melihat kehadiran Chanyeol dari balik pintu. Ekspresinya sudah tidak dapat dikatakan bersahabat, bahkan bisa dibilang dalam hitungan menit, kata apapun yang keluar dari bibirnya menandakan lepas kendali pria itu.

Chanyeol tak menarik bangku, dia hanya berdiri di depan dua pegawai yang hanya menunduk begitu atasannya itu dengan gelagapan ikut berdiri dan menundukkan kepala mereka.

“Kalian pasti sudah dengar bahwa aku sudah mengeluarkan peringatan bahwa jika rumor ini sampai terdengar oleh keluargaku dan Jina maka kalian akan di pecat meski kualifikasi kalian bagus. MENGERTI!?!” tanya Chanyeol dengan sebisa mungkin meminimalisir perasaan marah bercampur kesalnya. Tentu, dia harus menghadapi ini dengan kepala dingin. Dan, kedua pegawainya itu masih belum menjawab. “Siapa diantara kalian yang memulai rumor ini?” teriak Chanyeol menampar meja yang ada di sisinya, “Siapa dan dimana kalian memulai rumor ini! Siapa!”

Salah seorang pegawai mengangkat tangannya, secepat kilat Chanyeol memberikan bogem mentahnya pada sang pegawai, tangannya sudah sejak tadi mengepal akhirnya terbuka kembali, meski perasaan kesalnya belum juga hilang. “Kau tahu siapa yang paling terluka atas rumor tak berdasar ini?HAH! KAU TAHU!”

“Maafkan aku, Presdir..”

“Istriku. Kalian benar – benar mengatakan hal ini hanya untuk bersenang – senang. Kalian tidak berpikir bagaimana dampak rumor ini ke depannya? Hah!” suara Chanyeol melunak, matanya memerah menahan segala perih dalam dada.

Kedua pegawai itu kemudian berlutut, “Maafkan kami, Presdir. Ini memang kesalahan kami.”ucap pegawai perempuan dengan suara memohon ampun, Chanyeol hanya diam dan menatap mereka penuh kemarahan. “SILAHKAN KELUAR DARI HOTEL INI!!” Chanyeol keluar dari ruangan itu dengan membanting pintunya. Kedua pegawai yang memohon agar tidak dipecat dan berniat mengejar Chanyeol dihadang oleh Hyungwon, dan sekarang kepala Chanyeol berdenyut hebat dan sakitnya bukan main. Dirinya benar – benar perlu udara segar untuk memperbaiki dirinya sendiri.

**

Joona mulai bertanya – tanya kenapa ada tulisan tentang pemecatan di ruang ganti wanita. Dia bersyukur karena tak ada namanya di sana, jadi ia tidak perlu mengkhawatirkan dimana ia bisa bekerja paruh waktu yang bayarannya lumayan, selain di Hotel Venice. Ditambah, dirinya juga harus tetap bekerja sebelum perutnya membesar karena kehamilannya.

Setelah keluar dari ruang gantinya, kebetulan sekali Jeonghan juga baru keluar dari ruang gantinya dengan baju bebas, sepertinya shift Jeonghan sudah berakhir untuk hari ini. “Jeonghan –ssi..”

“Oh? Joona –ssi..kau baru akan memulai shift hari ini?” Joona mengangguk. “Tentang daftar pemecatan, apa yang terjadi?”

Jeonghan menarik Joona untuk berbicara di tempat yang agak sepi di bagian belakang Hotel. “Hotel sedang dalam kondisi rumit hari ini, tiba – tiba saja. Ini semua karena muncul rumor tentang istri Presdir yang tidak bisa mengandung, jadi beliau memecat siapa saja yang menyebarkan rumor ini.”

“Maksudmu? Pemecatan ini keluar dari Presdir langsung? Bukan dari personalia?”

Jeonghan memasang ekspresi nyir – nyir. “Untuk apa aku memulai rumor baru lagi. Biaya hidupku saja sudah besar, terlalu konyol pemecatan dilakukan hanya karena menyebar rumor.”pungkas Jeonghan dengan nada bergidik ngeri. Membuat Joona hanya terkekeh kecil, “Aku tahu..kau ingin pulang langsung?”

Jeonghan melirik arloji yang melingkar diam di lengan kirinya. “Aku mau mengajar privat di Noryang. Shiftmu bukankah masih 2 jam lagi?”

“Aku ingin istirahat di atap sebentar dengan musik. Kau akan terlambat, pergilah..” Joona menepuk bahu Jeonghan, memberi semangat. “Kau benar. Sampai nanti, Joona –ssi.

JOONA

    Aku terengah begitu tiba pada anak tangga terakhir dan kini kakiku menginjak atap Hotel ini. Hotel mewah yang tak pernah aku kira bahwa aku akan menjadi pekerjanya, aku kira seorang Ra Joona hanya akan menjadi seorang pengunjung yang menginap, menikmati room service, dan makan – makan porsi sedikit harga selangit khas hotel bintang lima. Namun, realita memang tak pernah seindah itu justru realita selalu memberikan kejutan yang membuatku harus melakukan kebalikannya.

    Alunan musik hip – hop mengalir keras masuk ke telingaku, entah sejak kapan musik berisik itu menjadi musik yang sering aku dengarkan. Setidaknya, ketika mendengarkan musik, aku merasa bahwa dunia yang dalam pandanganku adalah milikku. Meski aku tidak tahu tentang mereka. Ah, mungkin juga ini semua karena tingkah aneh seseorang yang sedang dalam perutku.

    Namun, mataku yang biasa hanya melihat sepi kecuali pipa gas dan air serta ruang kendali tak lupa langit yang jauh terlihat dekat dari mata, kini mataku harus mendapati seseorang sedang duduk di sudut beton gedung pembatas sedang menghembuskan asap racun berzat nikotin.

    Dan, dia adalah orang itu.

    Orang yang membuatku merasa hidup untuk pertama kalinya sejak dua tahun. Aku melangkah menuju dia yang sepertinya sedang dalam ilusi dunianya sendiri. “Tuan Jo Chanyeol?”sapaku mencoba untuk menarik senyum, dia tersentak dengan kehadiranku dan segera melepas rokoknya lalu menginjaknya yang seketika nikotin itu padam. “Joona –ssi.. kau –bekerja di sini?”

    “Nde..Sedang apa di sini?”

    “Ah.. aku.. habis rapat. Mungkin.. melepas penat? Kau kerja di sini?”

    Ekspresinya lebih lelah daripada orang yang habis rapat, seakan ada sesuatu yang membebaninya. Namun, tanya itu tak terlontar justru aku hanya menjawab tanya Chanyeol. “Menunggu shift kerjaku mulai. Aku biasa di sini menghabiskan waktu.”

    Dia hendak beranjak, namun ia seperti teringat sesuatu, namun dengan cepat aku menyelanya. Apa kali ini adalah kesempatanku untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa malam itu tak hanya usai ketika pagi datang. Namun berlanjut pada hari, minggu bahkan bulan berikutnya. “Oh ya.. soal malam –‘

    Chanyeol memotongku cepat, “Malam? –ah, aku mengerti maksudmu. Joona –ssi, kita berdua mabuk hari itu.”jawabnya tak antusias, hanya seperti sedang membicarakan hal – hal sepele yang tak pantas untuk diingat.

    “Ah, bukan untuk membahas itu Chanyeol –ssi. Aku –‘ Pembicaraanku kembali terpotong begitu suara getar yang berasal dari ponsel yang ia genggam di tangan kanannya sejak perbincangan kami dimulai. Chanyeol sempat diam dan hanya memandang layar ponselnya untuk jeda beberapa detik. Setelah getar itu hilang dan muncul pada dua detik berikutnya barulah ia menyentuh layar ponselnya dan kemudian berbicara padaku.

    “Maaf aku ada telpon –‘

    “ –yeobseyeo? Museun –il.. mwo!? Arraseo.” Nada bicaranya yang cuek padaku, berubah menjadi panik seketika. Bahkan, panggilan itu tak sampai sepuluh detik dan dia segera mengakhirinya. “Aku harus pergi. Ini nomorku, mari bicara lagi nanti, Joona –ssi.”

    Dan, begitu saja konversasi kami berakhir. Dia berlari menuruni tangga, entah hal apa yang membuatnya begitu mendesak hingga sampai seperti itu. Enggan untuk mencari tahu, aku memilih untuk kembali melanjutkan mendengarkan lagu menunggu waktu kerjaku tiba.

**

    Chanyeol duduk di hadapan Jina yang sedang menunggunya di kafe yang tak jauh dari apartemen mereka. Pria itu membenarkan posisi dasinya sebelum Jina memulai perbincangannya.

    “Maaf aku telat, kau ingin bicara soal apa?”

    Jina menaruh cangkir kopinya tenang, kemudian menyembunyikan tangannya di bawah meja, meremas blazer yang tidak ia kenakan. Napasnya terdengar pelan, lantas ia menatap suaminya penuh.

    “Aku ingin kita cerai, Jo Chanyeol.”

BERSAMBUNG..

(diketik 19.24 WIB, 9/02/2018. South Jakarta)

Maaf buat postingan yang amat sangat lama, gue tau ini hampir nyaris dua bulan atau mungkin lebih, karena gue punya hal lain yang mesti gue urus, dan kalo andaikan di blog gak update coba cek akun wattpad sy deh, hahaha kali aja ada yang baru, semoga next week gak telat lagi yaa, doakan saja.. oh ya, EHC belum lanjutin di sini, nanti kalo udah diposting sampe sama kayak di sini yang di wattpad, baru dilanjutin lagi ya,

After then ditunda dulu, paling juga next week.. semoga aja bisa posting

Silakan komentar dan beri opini kalian setelah baca cerita ngeselin ini *ketawajahat.

Ohya, thanks buat yang nunggu bahkan sampe bilang kalo diproteksi bilang” haha, saya terharu jadinya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s