[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 13)

Our Story [Chapter 13]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, sad/hurt, school life

Length : Chaptered

Rate : PG-17

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 13

People Change

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.  Juga di post di sharlomereficul.wordpress.com

Jangan lupa tinggalkan jejak ya…

♣ ♥ ♣

Sehun perlahan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Ah Ra. Matanya masih menatap focus pada adegan Chanyeol yang memeluk Sae Jin erat. Apa yang salah denganya? Kenapa perasaan seperti ini ada dalam hatinya? Pertama saat di halte, kedua saat ia tak sengaja kembali ke rumah sakit dan sekarang. Apa yang salah padanya? Sae Jin temannya. Gadis itu temannya dan gadis yang berdiri disebelahnya sekarang adalah kekasihnya. Kenapa ia harus merasa tak suka saat Chanyeol memeluk Sae Jin seperti sekarang? Kenapa ia sedih saat Sae Jin terlihat sangat aman berada dalam pelukan Chanyeol?

Sehun lalu menoleh pada Ah Ra. Sama sepertinya, Ah Ra juga masih menjadikan Sae Jin dan Chanyeol sebagai focus tatapannya. Untuk sebentar, Sehun melihat kesedihan yang sama dimata Ah Ra. Maka semua menjadi jauh lebih aneh bagi Sehun.

“aku harus ke toilet sebentar, Sehun” suara Ah Ra menyadarkan Sehun. Ia mengangguk dan setelahnya Ah Ra pun pergi.

Tak lama Sae Jin dan Chanyeol menghampiri Sehun. Mereka berbincang seperti biasa. Tapi tentu saja hanya Sae Jin dan Chanyeol yang benar-benar menikmati obrolan itu. Sebab Sehun masih sibuk dengan isi pikirannya.

Chanyeol kemudian berkata ingin ke toilet, tapi ia merasa tak yakin meningalkan sae Jin sendirian. Ia pun meminta Sehun menjaga Sae Jin. Sae Jin tentu saja mengomel tak terima. Ia jengah karena sedari tadi Chanyeol memperlakukannya persis anak kecil yang harus dijaga dan diekori kemana-mana.

Dengan alasan ingin mencari Ah Ra, Sehun menolak permintaan Chanyeol. Ia tahu dimana Ah Ra, ia hanya tak ingin berduaan dengan Sae Jin dan membuat perasaannya semakin tak karuan. Sudah cukup semua kebingungannya. Pria itu pun pergi dan meninggalkan Chanyeol dan Sae Jin

Setelah berdebat cukup lama, Chanyeol pun akhirnya pergi. Setelah berpesan agar Sae Jin tak pergi kemanapun, Chanyeol berlari menuju toilet

Sepeninggal Chanyeol, Sae Jin memilih memakan permen kapasnya sembari melihat-lihat. Beberapa detik kemudian, gadis itu melihat sesuatu yang berhasil membuatnya tersenyum girang.

“aku menyukai tempat ini” ucap Sae Jin sembari berlari menuju seorang pria tua.

Pria itu menjual gelembung sabun. Tak menunggu lagi, Sae Jin segera membeli mainan itu. Dan yang terlihat selanjutnya adalah Sae Jin yang bermain gelembung layaknya anak kecil. Kurasa gadis ini memang tak sadar berapa usianya sekarang. Ia terus bermain sembari melangkah, hingga akhirnya tak sadar bahwa dirinya sudah jauh dari tempat semula.

Chanyeol selesai dari toilet dan segera kembali ke tempat ia meninggalkan Sae Jin. Pria itu terkejut setengah mati saat ia tak melihat Sae Jin ditempat tadi. Pria itu melihat sekeliling dan masih tak menemukan Sae Jin. Chanyeol mengomel sembari mulai berjalan untuk mencari Sae Jin. Ia yakin gadis itu sudah pergi darisana

“aku sudah bilang, dia itu benar-benar bocah SD” Chanyeol mencari ke semua tempat. Ia membuat beberapa orang berhenti dan memeriksa wajah mereka. Tak lupa ia masih mengomel. Chanyeol memilih berlari saat melihat Sehun dan Ah Ra. Pria itu segera bertanya pada mereka dan ia hanya mendapat gelengan. Sehun dan Ah Ra juga tak melihat Sae Jin. Mereka bertiga kemudian sama-sama menggerutu saat sadar bahwa Sae Jin sedang tak membawa ponselnya. Gadis itu hilang, ditempat ramai begini.

“oh, bagaimana ini? dia bisa pingsan jika terjebak di kerumunan itu” Ah Ra segera berlari dan mulai mencari Sae Jin. Ia khawatir.

Sama dengan Ah Ra, Chanyeol juga segera pergi dan mencari Sae Jin. Setelah dua orang itu pergi, Sehun masih mematung ditempatnya. Terjadi lagi. Perasaan aneh itu datang lagi. Takut, khawatir, panic dan marah. Ia berlari, menanyai orang-orang dan mencari bak orang gila.

Sehun menghentikan langkahnya saat ia melihat seorang gadis yang berdiri di dekat sebuah pohon. Ia sudah mencari sampai ke belakang area pasar malam sekarang. Pria itu tak perlu menajamkan matanya, karena meski gadis itu membelangkinya, ia tahu siapa gadis itu. Dia Sae Jin. Disaat semua orang khawatir akan hilangnya dirinya, Sae Jin malah bermain dengan riangnya disini. Sehun berlari dan tak butuh waktu lama ia sudah berada dibelakang Sae Jin. Sae Jin yang merasa ada orang dibelakangnya pun berbalik

“Sehun..?” ucapnya sembari masih memainkan gelembung dan tersenyum senang. “kenapa kau disini? Sudah menemukan Ah Ra?” tanya gadis itu seolah tak bersalah. Sae Jin memang sengaja memilih bermain disini, karena tak banyak orang. Gadis itu sudah berencana akan kembali ke tempatnya tadi beberapa menit lagi

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Sehun. Senyuman apa itu, Sae Jin, tanyanya dalam hati.

“bermain” Sae Jin menjawab namun tak menatap wajah Sehun. Karenanya gadis itu tak melihat perubahan yang terjadi pada wajah Sehun

“kenapa kau pergi dari tempat tadi? kau tidak dengar apa yang Chanyeol katakan padamu?” tanya Sehun lagi

“aku dengar, tapi disana sudah penuh dengan manusia. Aku tak suka” jawab Sae Jin

“tahukah kau semua orang mencarimu?!” kali ini Sehun tak lagi bertanya. Ia berteriak. Sehun meneriaki Sae Jin. Sehun tak tahu, perasaannya campur aduk. Ia marah, entah itu pada Sae Jin, atau pada dirinya sendiri. Ia juga lega karena akhirnya Sae Jin berhasil ia temukan. Selain itu ada rasa sedih dihatinya.

Sae Jin terkejut hingga gadis itu menjatuhkan botol gelembungnya. Ia menatap Sehun. Meski raut wajahnya masih terkesan biasa, dalam hati Sae Jin sebenarnya takut. Ini pertama kalinya Sehun meneriakinya seperti barusan. Sae Jin juga baru sadar jika sekarang Sehun terlihat sangat marah. Oh, Sae Jin baru sadar jika sudah melakukan sesuatu yang salah. Ia melihat Ah Ra dan Chanyeol yang berdiri agak jauh dari dirinya dan Sehun. Sae Jin melihat wajah cemas pada kedua orang tadi.

“ma_maaf. Aku tak bermaksud membuat ka_”

Sae Jin kembali harus terkejut akibat ulah Sehun. Jika tadi teriakan Sehun yang membuatnya terkejut, maka sekarang Sehun yang sudah memeluknya adalah penyebabnya. Sehun menariknya dengan cepat lalu memeluknya dengan erat.

“jangan lakukan ini padaku. Berhenti membuatku khawatir seperti orang gila” kata Sehun dengan pelan. Ia benar-benar merengkuh Sae Jin dengan erat, seolah tak ada hari esok. Seolah gadis itu tak boleh lepas dari pelukannya. Dan seolah apa yang ia lakukan dan rasakan sekarang tidaklah salah.

“kau memang orang gila. Kau berteriak padaku, Sehun” kata Sae Jin kemudian. Gadis itu segera mendorong Sehun dan menatap temannya itu dengan kesal. Tak lama, Ah Ra dan Chanyeol menghampiri tempat itu.

Selanjutnya Sae Jin hanya bisa mendengar semua omelan yang Chanyeol dan Ah Ra berikan. Sae Jin tak berniat membantah karena semua ini memang salahnya. Ia pergi tanpa memberitahu pada siapa pun.

“kita pulang saja” selesai dengan omelannya, Chanyeol lantas berjalan menjauh dari tempat tadi. Chanyeol berhak marah ‘kan? Mulutnya sudah sampai berbuih menyuruh Sae Jin untuk tak pergi kemana-mana. Tapi apa? Gadis itu tak mendengarkannya dan akhirnya membuat semua orang panic.

Sae Jin tahu Chanyeol marah padanya, karena itu gadis ini terus diam dan berpikir bagaimana cara membuat Chanyeol berhenti marah.

~

“Chan, kau masih marah padaku?” tanya Sae Jin setelah Sehun dan Ah Ra diantar Chanyeol pulang. Saat ini hanya dirinya dan Chanyeol yang ada di mobil itu

“…” Chanyeol diam. Pria itu berpura-pura focus ada jalanan didepannya

“Chanyeol, kau masih marah padaku?” tanya Sae Jin lagi. Tapi sayang, Chanyeol masih tak mau menjawab pertanyaannya. Sae Jin tak kehabisan cara. Ia terus bertanya meski Chanyeol tak kunjung menjawab. “hey, kalau kau marah, setidaknya katakan padaku. Jadi aku tahu bagaimana harus bersikap” kata Sae Jin lagi

Chanyeol ingin tertawa. Mana ada orang marah yang mengaku jika dia sedang marah dengan cara baik-baik. Chanyeol kemudian  berdehem untuk menyamarkan tawanya. Jangan sampai Sae Jin tahu

“Chanyeol, kau marah atau tidak?” Sae Jin kembali bertanya

“memangnya jika aku marah, apa kau peduli? Kau bahkan tak peduli jika aku khawatir setengah mati. Terus saja kau seperti ini. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, dan tak pernah memikirkanku. Kau mungkin beranggapan aku ini berlebihan karena semarah ini hanya karena kau yang pergi tanpa izin padaku seperti tadi. Tapi coba kau jadi aku? Jika aku menghilang begitu saja dari hadapanmu, apa kau bisa tidak merasa panic?”

Sae Jin mengerjap cepat. Ia hanya bertanya soal marah atau tidaknya Chanyeol padanya. Gadis itu hanya perlu jawaban iya atau tidak. Tapi pria itu malah mengomel sangat panjang dan dengan wajah kesal yang lucu.

“wuaah…kau persis ibuku saat mengomel” komentar Sae Jin selanjutnya

Chanyeol menepikan mobilnya. Ia mematikan mesin mobil dan menatap Sae Jin masih dengan kesal.

“jelaskan, kenapa kau bisa ada di tempat tadi” tuntut Chanyeol

“aku bermain dan tak sadar sudah berjalan sejauh itu. Aku sudah mau kembali ke tempat kau suruh aku menunggu, saat Sehun datang tadi. Aku serius, aku tak berbohong. Aku juga masih ingat jalan menuju kesana” jelas Sae Jin

“lalu? Apa kau baik-baik saja? tidak ada yang terluka?”

“lihat, lihat. Kau  memang berlebihan. Aku utuh, kecuali mainan gelembungku yang jatuh karena Sehun. Kalian berdua memang pria yang sangat berlebihan” cibir Sae Jin lagi

“pria bisa sangat berlebihan jika itu menyangkut gadis yang ia cintai, asal kau tahu bocah”

Sae Jin diam. Oh, ia merasa ada kembang api yang baru saja meledak di perutnya. Tidak, tidak, ia serasa terbang sekarang. Sae Jin lalu mengalihkan tatapannya dari tatapan Chanyeol yang semakin terasa menakutkan. Menakutkan karena terlalu manis.

“bagaimana ini? Aku merasa aneh karena ucapanmu barusan. Chan, bagaimana ini? Jantungku serasa ingin berlari dari tempatnya” jujur Sae Jin sambil memainkan jarinya di kaca jendela mobil Chanyeol

Chanyeol terkekeh. Gadis disebelahnya ini memang gila. Harusnya seorang gadis akan diam dan tersenyum malu-malu setelah mendengar kalimat barusan. Kenapa Sae Jin tak bisa demikian? Dan kenapa ia suka melihat Sae Jin yang seperti ini?

“jangan kira aku sudah tidak marah karena sikap manismu ini” kata Chanyeol lagi

“hmm? Bersikap manis apanya?” bingung Sae Jin

“kau..kau semakin terlihat manis setiap harinya” aku Chanyeol. “kemari, aku ingin memelukmu” panggil pria itu kemudian

“aku tidak mau. Tidak lagi. Antar aku pulang sekarang” geleng Sae Jin

“Tuhan memang benar-benar memikirkanku saat menciptakanmu” gumam Chanyeol sembari menyalakan kembali mobilnya kemudian mengantar Sae Jin pulang.

 

~

Sementara itu, disini. Dikamarnya, Ah Ra sedang duduk diatas ranjang. Lengan baju gadis itu sudah tergulung setengahnya dan menampakkan lengannya. Ah Ra menatap kedepan dengan tatapan kosong. Ia sudah seperti ini sejak dua jam yang lalu. Ditangan gadis itu tampak sebuah benda berkilau yang berbahaya

“apa yang terjadi padaku?” monolog Ah Ra

Tak ada yang benar-benar selamanya di dunia ‘kan? Ah Ra tahu itu. Tapi ia juga tak terima dengan apa yang ia rasakan. Kenapa perasaannya bisa berubah dengan tiba-tiba? Apakah memang ada sesuatu yang bisa berubah dengan tiba-tiba seperti ini? Ah Ra bicara soal perasaannya. Tadi, saat di pasar malam. Saat ia melihat Chanyeol memeluk Sae Jin, ada sebuah rasa yang salah dihati Ah Ra. Ia tidak rela. Ia cemburu. Ah Ra kira itu hanya rasa cemburu karena orang pertama yang Sae Jin peluk  bukanlah dirinya.

Tapi Ah Ra salah. Ia bukan cemburu soal itu, karena saat ia melihat Sehun yang nyatanya adalah kekasihnya memeluk Sae Jin, ia tak merasakan cemburu yang sama.

Chanyeol pria yang manis dan baik dimata Ah Ra. Ah Ra tak menampik jika selama ini diam-diam merasa iri dengan cara pria itu memperlakukan Sae Jin. Tentu saja, siapa yang tidak akan iri? Chanyeol pria tampan, semua yang ada pada pria itu sempurna, entah itu sikapnya, perilakunya, dan juga kesabarannya menghadapi Sae Jin. Sangat berbanding terbalik dengan Sehun yang terkesan sederhana dan juga kadang tidak peka. Tapi itu semua tak seharunya bisa menciptakan perasaan jahat seperti ini

Ah Ra menginginkan semua itu. Ah Ra ingin diperlakukan sama seperti Chanyeol memperlakukan Sae Jin. Dan parahnya tadi, Ah Ra ingin dirinyalah yang dipeluk Chanyeol. Bukan orang lain atau Sae Jin, tapi dirinya. Jahat sekali

“apa aku benar-benar sejahat itu?” gumam Ah Ra lagi. Gadis itu kemudian mengarahkan pisau tipis nan tajam itu ke atas lengannya dan menggoreskan sebuah luka disana. Darah segar pun mengalir dari luka itu. Ah Ra meringis sembari menikmati rasa sakit dari luka yang ia buat. Ia berharap sayatan-sayatan dari luka ini akan membuatnya melupakan perasaan jahat yang ia punya tadi.

~

Sae Jin masuk ke ruang kerja ayahnya, setelah dipersilahkan masuk. Gadis itu kemudian berdiri didepan meja kerja sang ayah. Sae Jin diam dan menatap ayahnya yang bahkan tak menoleh padanya. Dalam hati Sae Jin berdoa. Semoga keputusannya ini tidak salah. Semoga apa yang ibunya katakan benar.

“ayah, aku akan kuliah dan memilih jurusan yang ayah suruh” kata gadis itu pada ayahnya

Mendengar penuturan putrinya itu, barulah Jae Min mendongak dan menatap Sae Jin. Ini memang yang Jae Min harapkan. Sae Jin yang kuliah dan mengeyam pendidikan di jurusan manajemen. Agar nantinya gadis itu bisa mengelola perusahan-perusahaannya dengan baik. Kemarin, ia sempat bertengkar dengan Sae Jin karena gadis itu bersikukuh ingin masuk jurusan seni. Jurusan yang menurut Jae Min adalah jurusan tak serius.

“kalau begitu belajarlah dengan baik. Ujian masuk ke universitas itu tidak gampang. Jangan kira karena selama ini kau selalu juara kelas, kau bisa masuk kesana dengan mudah” pria tua itu memberikan nasihat dengan nada yang sama sekali tidak bersahabat

Sae Jin tersenyum miris. Bukankah harusnya ayahnya ini mengucapkan terima kasih dulu padanya? Sae Jin sudah mengorbankan mimpinya demi mimpi sang ayah. Tapi kalimat apa yang ia dengar? Nasihat yang meremehkan.

“baiklah, ayah” balas Sae Jin

“kenapa kau berubah pikiran? Apa ibumu memaksamu juga?” tanya sang ayah kemudian

“ibu bilang, jika seorang anak membuat orang tuanya bahagia, meski dia berada di neraka sekalipun, anak itu tetap akan bisa menemukan kebahagiaan” Sae Jin mengulang ucapan ibunya beberapa hari lalu. Ucapan yang membuat Sae Jin akhirnya menuruti kemauan ayahnya, “karena itu ayah, setelah aku mengambil keputusan ini kuharap kau mengerti. Aku menganggamu sebagai orang tuaku, karenanya cobalah lihat aku sebagai anakmu” Sae Jin lalu pergi darisana. Sang ayah hanya bisa terdiam mendengar semua ucapan putrinya itu.

♣ ♣ ♣

Kegiatan kuliah pun dimulai. Sae Jin diterima di universitas yang sama dengan Chanyeol dan berita baik selanjutnya, Ah Ra juga berhasil masuk kesana. Sae Jin dan Ah Ra satu kelas lagi. Sungguh sebuah keberuntungan. Untuk Sehun, ia memilih melakukan hal yang ia sukai. Bukan ikut ayahnya mengurusi perusahaan, Sehun memilih membuka sebuah cake shop. Ayah Sehun menuruti kemauan putranya. Pria itu berusaha mengganti semua hari-hari buruk dengan putranya itu dengan mengizinkan Sehun melakukan apa yang ia suka.

“aku duluan Sae Jin” pamit Ah Ra pada Sae Jin, saat mobil yang menjemputnya datang. Tak seperti mahasiswa baru pada umumnya, Sae Jin dan Ah Ra sama sekali tidak bersemangat. Alasan Sae Jin tentu saja karena jurusan yang ia ambil bukanlah bidang yang ia minati. Tapi ada apa dengan Ah Ra?

“pulanglah, jangan hanya pacaran dengan Sehun. Kalian berkencan setiap hari ya? Kau terlihat lelah” ejek Sae Jin

“tidak. Sehun selalu sibuk sekarang. Dia sibuk dengan bisnisnya” kata Ah Ra sambil tersenyum kecut. Akhir-akhir ini hubungannya dengan Sehun memang semakin renggang. Jika sebelumnya karena mereka yang sering bertengkar, sekarang karena Ah Ra yang memilih kuliah sementara Sehun terlalu asyik dengan bisnisnya. Waktu untuk bertemu dan bicara berkurang.

“akan kumarahi dia nanti. Pulanglah dan istrahat” kata Sae Jin lagi

Chanyeol kemudian muncul disana. Seperti biasa, pria itu akan langsung memeluk Sae Jin dari belakang sebagai salam. Dan seperti biasa pula, Sae Jin akan menarik rambutnya sebagai balasan.

“yaah, kau bisa merontokkan rambutku” omel Chanyeol. Meski selalu dibuat berteriak kesakitan seperti sekarang, pria ini tetap tak akan jera. Ia akan melakukannya lagi besok, dan besoknya lagi

“berhenti melakukan itu padaku”

“Sae Jin, kau keterlaluan sekali” Ah Ra berkomentar sembari tertawa kecil. Sae Jin masih belum berubah, pikirnya.

“salahnya. Siapa suruh dia memeluk-ku. Kau masih saja membelanya. Kau temanku atau temannya?” Sae Jin melangkah mundur satu langkah, guna membuat jarak dengan Chanyeol yang sekarang malah tersenyum persis orang tak waras. “lihat, dia terus tersenyum seperti itu sepanjang hari. Penyakitnya sudah parah Ah Ra”

“aku tergila-gila padamu, Sae Jin” orang yang Sae Jin katai tak waras malah berucap demikian

“oh, ya ampun ! Sejak kapan kau jadi seperti ini, oppa?” tanya Ah Ra dengan gesture geli

“sejak aku mencintainya” Chanyeol kemudian mengambil langkah mundur dan mensejajarkan dirinya dengan Sae Jin. Dengan cepat pria itu mencium puncak kepala Sae Jin, lalu melarikan diri dari sana. “aku ada kelas, nanti saja bunuh aku” teriak Chanyeol dari jauh

“….” Sae Jin membatu karena terkejut. Gadis itu hanya bisa mengerjap dan menahan napas karena apa yang Chanyeol lakukan, “aku benar-benar akan membunuhnya” kata Sae Jin setelah berhasil menguasai diri

“kau beruntung memiliki dia, Sae Jin” Ah Ra berucap sembari tersenyum penuh arti.

To Be Continued …

 

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 13)”

  1. Nah kan..ah ra ada suka sama chanyeol. Dukung yg mana nih??? Sehun sae jin ato chanyeol saejin,ahra sehun ato ahra chanyeol..terserah author deh..saya ikut aja…wkwk..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s