[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 21 A)

Poster Secret Wife Season 2 (4)

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 21 A

(Pains)

Kamulah yang menguatkanku di masa-masa sulit

Kamu juga yang memberiku kegembiraan di hari-hari yang buruk

“Kau benar-benar akan pergi?” Entah sudah berapa kali Chanyeol bertanya.

Soah yang sudah siap akan berangkat ke kantornya kembali mengangguk. Dia sedang menunggu sekretarisnya menjemputnya. Ya, setelah suaminya tahu jika dia pernah keguguran dan sebenarnya dia tidak boleh hamil dulu sebelum sesi terapinya selesai, pria itu lebih protektif padanya. Dia tak boleh menyetir sendiri. Harus pria itu yang mengantar atau sekretarisnya yang menjemput. Bahkan sebelumnya pria itu marah karena keputusan sepihak yang diambilnya. Pasrah adalah hal terakhir yang bisa dilakukannya, meski dia pikir itu berlebihan. Dia bisa menjaga dirinya sendiri sebenarnya.

“Tidak bisakah kau hanya tinggal di rumah.” Lagi, nada merengek kembali Chanyeol lakukan. Perasaan cemas selalu datang tiap kali istrinya akan pergi dari apartemennya. Dia tak ingin istrinya kenapa-kenapa. Ini dimulai sejak wanita itu jujur padanya beberapa hari yang lalu.

“Aku baik-baik saja, Oppa. Aku bisa menjaga diri.” Senyum manis Soah tunjukkan. Ini menjadi hal yang dibencinya sekarang. Setiap kali akan berangkat ke kantor, dia harus merengek untuk mendapat izin. Ya, seperti sekarang.

“Janji harus hati-hati,” ujar Chanyeol lagi.

Soah mengangguk, masih dengan senyum mengembang.

“Tidak boleh lelah apalagi stres.”

Soah kembali mengangguk.

Chanyeol membuang pasrah nafasnya. Mendekat ke arah istrinya. Mendekapnya penuh kasih. Dagunya ia sandarkan di kepala istrinya. “Aku hanyat takut kau kenapa-kenapa, Sayang,” ujarnya kemudian. Usapan lembut ia berikan pada surai panjang istrinya.

“Aku akan baik-baik saja. Aku janji.”

Chanyeol melepas pelukannya. Menatap dalam manik hitam istrinya. Mendaratkan kecupan ringan di dahinya. “Ya sudah, hati-hati. Kirim pesan saat sudah sampai nanti,” tuturnya setelah menjauhkan wajahnya.

Soah bangkit dari duduknya. Menghampiri sekretarisnya yang sudah berdiri menyaksikannya. Entah sudan berapa lama gadis itu memperhatikan kegiatannya. Yang pasti sekarang, gadis itu sudah menyandarkan punggungnya di dinding dan melipat tangannya di depan dada.

“Aku berangkat dulu, Oppa,” pamit Soah sambil melambaikan tangan.

Pria itu bahkan mengatarnya sampai di mobil Aera. Setelah mobil yang membawa istrinya menghilang, dia baru pergi. Berangkat menuju tempat kerjanya.

Sementara itu Soah masih sibuk memandang jalanan yang dilewatinya. Setelah membuang nafasnya, di menoleh ke arah Aera. Gadis dengan balutan busana formal kantor itu tengah terfokus pada jalan. “Maaf ya, Eonni. Sudah membuatmu berangkat pagi-pagi hanya untuk menjemputku. Aku menambah lagi pekerjaanmu,” ucap Soah terdengar menyesal. Dia memasang wajah bersalahnya.

“Tak perlu merasa bersalah seperti itu. Ini sudah menjadi salah satu tugasku. Kalau boleh jujur, sebenarnya pekerjaanku menjadi lebih ringan semenjak kau yang jadi bosnya.” Gadis itu memberikan senyum terbaiknya.

“Tetap saja, aku merepotkanmu.” Masih dengan wajah lesunya, Soah berkata. “Apa jadwalku hari ini?” tanyanya untuk mengalihkan rasa bersalahnya.

Aera yang sibuk menyetir menunjuk pada tablet yang ada dalam tasnya. Soah yang mengerti segera mengambilnya. Memeriksa catatan jadwal untuknya. “YTN?” Soah mengangkat alis menyebut nama tersebut.

“Emmh. Anda ada meeting dengan CEO YTN,” sela Aera disertai anggukan.

“Aku tidak ingat kita pernah bekerjasama dengan mereka.” Soah yang masih tak paham berujar.

“Dulu mereka pernah bekerjasama dengan kita. Karena ada sedikit masalah, Hwejangnim membatalkan kontraknya,” jelas Aera masih dengan pandangan yang fokus pada jalan. “Mereka mengirim proposal baru untuk pengajuan kerjasama lagi.”

“Aku bisa melihat proposalnya?”

“Anda belum membacanya? Aku sudah menaruhnya di meja anda lusa kemarin.”

“Kenapa aku tidak tahu?”

“Aa, anda menaruhnya di meja dekat sofa kalau tidak salah. Saat aku datang membawa berita penting waktu itu. Di map biru,” jela Aera kembali. Dia sudah membelokkan mobilnya di area kantornya. “Anda bisa mempelajarinya lebih dulu. Masih ada waktu sebelum jam meetingnya,” lanjutnya setelah mematikan mesin mobilnya.

-o0o-

“Senang bekerja sama dengan anda Kim dapyeo,” ucap pria berjas mahal tersebut. Tangannya ia ulurkan bermaksud ingin berjabat tangan dengan Soah.

Soah tersenyum dan membalas uluran tangan pria itu. “Iya. Aku harap ini akan menjadi kerja sama yang menguntungkan. Senang bekerja sama dengan anda Kang daepyonim.”

Setelah beramah-tamah, Soah pergi dari ruang meeting. Ditemani oleh sekretaris cantiknya. Dengan langkah anggunnya dia berjalan santai, sambil memeriksa beberapa pesan yang mampir di ponsel pintarnya. Dia melihat gadis cantik dengan busana formalnya tengah berjalan ke arahnya. Dia tersenyum mengenalinya. Setelah memasukan ponselnya ke dalam tas, Soah menyapanya. “Yura Eonni,” ucapnya dengan senyum mengembang.

Sang Gadis menoleh. Menatap penuh tanya wanita yang memanggilnya. Cukup lama gadis itu memandang, masih mencoba mengingat. Dia tersenyum aneh kemudian. Mengejek dirinya sendiri yang tak mengenali adik iparnya. Tentu saja, mereka baru beberapa kali bertemu. Ditambah, Soah sudah terlihat berbeda dari terakhir yang diingatnya.

“Kim Soah,” ucap gadis itu sedikit ragu. Masih dengan senyum anehnya.

Soah mendekat. “Iya. Ini aku. Jangan bilang Eonni tak mengenaliku?”

Dengan senyum aneh, gadis itu mengangguk. “Kau terlihat berbeda. Itulah kenapa aku tak mengenalimu,” jelasnya kemudian.

“Bagaimana kabarmu? Maaf, aku tidak bisa sering berkunjung ke rumah ommonim.” Ada raut bersalah di wajah Soah. Ya, dia hanya dua kali mengunjungi rumah mertuanya. Pertama dengan suaminya. Yang kedua adalah saat dia tak sengaja datang ke kompleks perumahan mertuanya. Ada janji dengan kliennya. Lalu dia memutuskan untuk mampir, meski pada akhirnya dia disuruh menginap.

Setelah cipika cipiki dengan adik iparnya, gadis itu menjawab, “Aku baik. Aku juga sudah tahu. Kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu,” dengan nada menggodanya.

“Emmh,” sanggah Soah dengan anggukan. Pekerjaannya memang tak membiarkannya istirahat jika dia tak pandai mencuri waktu.

“Kau sudah makan siang?”

“Belum. Aku baru selesai meeting tadi.” Masih dengan senyum, Soah berkata.

“Mau makan siang denganku?” tawar gadis itu. Sesekali dia mencuri pandang ke arah gadis yang sibuk dengan ponselnya di belakang Soah.

“Makan siang?” Soah tampak berfikir. Dia menoleh ke arah Aera. “Sekretaris Min, apa aku punya jadwal setelah ini?”

Aera mengangkat wajahnya. Tersenyum sebelum menjawab. “Tidak. Jung daepyonim dari JH Entertainment baru saja membatalkan janjinya,” jawab Aera sambil menunjukkan ponselnya.

“Membatalkan janji?” tutur Soah mengulang kalimat Aera.

“Istrinya mau melahirkan,” jelas Aera diselingi senyum khasnya.

“Aa,” Soah mengangguk paham.

“Bagaimana tawaranku? Aku tahu restoran enak dekat sini,” kini gadis yang berstatus sebagai kakak ipar Soah membuka suara setelah sebelumnya sibuk menatap interaksi antara bos dan karyawan tersebut.

“Baiklah!” jawan Soah disertai anggukan. “Sekretaris Min, kau mau ikut?”

“Tidak usah, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Lagipula aku tak ingin mengganggu kalian.” Aera menunjukkan senyum tulusnya. “Tolong antarkan Kim daepyonim dengan selamat setelah selesai nanti.” Kali ini dia berbicara pada kakak ipar Soah. Dia juga menunduk hormat sebagai dukungan ucapannya.

“Iya. Jangan khawatir.”

“Kalau begitu aku pamit dulu. Aku akan kembali ke kantor.” Aera kembali menunduk untuk pamit.

“Hati-hati,” tutur Soah.

Setelahnya Aera benar-benar pergi meninggalkan dua kakak beradik tersebut. Mereka masih menatap ke arah Aera yang sudah menghilang di balik pintu.

“Dia cantik ya?” ucap gadis yang masih berdiri di samping Soah. “Benar-benar sesuai tipenya.”

“Tentu saja. Mereka bahkan pernah berkencan,” ujar Soah masih dengan fokus pandang yang sama.

“Kau tahu siapa yang kumaksud?” Kini pandangan gadis itu beralih pada Soah.

Soah mengangguk. “Chanyeol oppa.” Dia juga sudah mengalihkan padangan menatap kakak iparnya yang terlihat heran.

Gadis itu mengangkat alis. Menatap tak percaya wanita di depannya. “Kau baik-baik saja?”

“Tentu saja. Itu memang resiko yang harus aku tanggung kan. Dia memang selalu dikelilingi gadis-gadis cantik,” ucap Soah setengah bercanda.

“Kau ini. Ayo!” ajak gadis itu kemudian. Mereka berjalan beriringan menuju basement. Mereka masih berbicang bahkan setelah sampai.

“Bolehkan aku bertanya sesuatu?” tanya kakak ipar Soah setelah menekan tombol di kunci mobilnya.

Soah hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Kau menyukai Chanyeol?”

“Hah” Soah terdiam. Dia nampak terkejut dengan pertanyaan kakak iparnya.

“Aku hanya penasaran, kalian menikah kan karena perjodohan.” Suara lembut kakak iparnya kembali terdengar.

“Awalnya tidak.”

“Lalu sekarang?”

“Tidak ada yang bisa menolak pesonanya.” Soah berkata sambil tersenyum. Dia kemudian membuka pintu mobil kakak iparnya.

“Sudah kuduga. Jadi itu sebabnya aku akan punya keponakan sekarang,” ujar gadis itu setelah duduk di kursi kemudi. “Berapa usianya?” lanjutnya kemudian.

“Delapan minggu.” Masih dengan senyum Soah berkata.

“Baiklah! Kita pergi sekarang. Mencari makanan yang enak untuk keponakanku.” Tepat setelah mengatakan itu, kakak ipar Soah menyalakan mesin mobilnya. Soah yang mendengar hanya tertawa. Dia hanya bisa pasrah kemana pun kakak iparnya membawanya.

-o0o-

Soah masih sibuk dengan tabletnya saat Chanyeol membuka pintu kamarnya. Pria itu tersenyum mendapati istrinya sudah pulang ke tempat tinggalnya.

“Kau sedang apa?” tanya pria itu setelah mendudukan pantatnya di samping Soah.

“Menggambar,” jawab Soah singkat. Dia bahkan tak menoleh ke arah pria yang menyapanya. Tangannya dengan lincah menari di atas benda persegi empat tersebut. Dengan pena kecil sebagai media menggambarnya.

Chanyeol mendekatkan wajahnya, dia ikut melirik hasil gambar istrinya. Dia tersenyum mendapati gambar yang belum selesai tersebut. “Bukankah matanya terlalu besar.” Chanyeol mulai memberikan komentaranya pada gambar hasil kerja keras istrinya.

“Tentu saja, dia sedang kaget.” Masih dengan padangan yang fokus pada layar, Soah menjawab.

Chanyeol masih betah memandang setiap gerik istrinya. Seulas senyum ia tampilkan. Perasaannya menghangat melihat istrinya baik-baik saja. Lelah yang dirasakannya perlahan memudar. Tangannya tanpa sadar terulur, mengusap pelan surai istrinya. “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanyanya kemudian.

“Baik. Seperti biasa.” Soah mematikan tabletnya. Memandang hangat wajah suaminya. Dia suka saat pria itu melakukannya. Mengusap surainya dengan lembut. Ditambah tatapan teduhnya, membuat jantungnya perpacu lebih cepat. Seolah beribu kupu-kupu menari menggelitik perutnya. “Oppa sudah makan?”

Lagi, mendengar wanitanya memanggil dengan panggilan sayangnya, hatinya kembali menghangat. Chanyeol mengangguk. Dia menarik tangannya kembali. Terlihat ragu saat akan menyimpanya. Dia teringat sesuatu. Kembali mengulurkannya untuk maraih tangan istrinya.

“Ada yang membuatku penasaran. Aku ingin bertanya padamu?” Dia berdiri dan mengajak serta istrinya. Berjalan meninggalkan kamarnya.

Soah hanya dia mengikuti. Tabletnya ia biarkan tergeletak di sofa. Masih dengan perasaan penuh tanya dia berjalan. Dia ingin sekali berucap, namun dia tahan. Dia membiarkan pria itu untuk memulainya.

Mereka berhenti di depan ruang pribadi Soah. Chanyeol melepaskan genggamannya. Memasukan kata sandi yang berhasil diingatnya. Dia harus berterima kasih pada mantan kekasihnya itu.

“Dari mana kau tahu kata sandinya?” Soah bertanya setelah pria itu berhasil membukanya.

Chanyeol hanya tersenyum. Dia enggan berkomentar. Lagi dia menarik lengan istrinya untuk diajak masuk. Dia berhenti di tengah ruang. Menatap foto besar istrinya. “Kapan kau mengambil foto itu?”

Soah juga ikut menatap lekat gambar dirinya. Ingatannya menerawang mengingat kapan foto itu diambil. “Tahun keduaku di ESMOD. Itu hanya satu dari sekian foto yang Kevin berikan.”

“Kevin?” Chanyeol mengangkat alis mengetahui satu nama.

“Aa, aku belum memberitahumu kan. Dia adalah teman baikku di Paris. Jika di sini aku punya Sehun, maka di sana aku punya Kevin,” jelas Soah. Matanya masih menerawang memandang potret dirinya.

“Teman rasa pacar yang lain ya.”

Refleks Soah menoleh. Mendengar kalimat aneh dari suaminya dia membulatkan mata. Menatap heran pria yang berdiri di sampingnya.

“Sebenarnya, jika orang lain tak mengenal baik kalian, mereka pasti mengira jika kau dan Sehun adalah sepasang kekasih.”

“Begitukah!” Soah berucap dengannada manjanya. “Kau tidak sedang cemburu kan?” Soah kembali berucap. Kali ini disertai senggolan pelan sikunya di pinggang suaminya.

Chanyeol hanya mengangkat bahu. Dia berbalik, berjalan ke arah lemari kaca tempat menyimpam gitar.

“Aku punya sesuatu untukmu?”

“Aku sudah tahu. Lukisan itu kan?” Chanyeol menunjuk benda yang tertutup kain di sebelah lemari kaca tersebut.

“Kau sudah pernah masuk ke sini?”

Chanyeol hanya mengangguk. Pandangannya kembali terfokus pada gitar yang tergeletak manis di rak lemari. “Kau bisa bermain gitar?” Lagi dia memberikan pertanyaannya. Meski sudah mendengar cerita dari mantan kekasihnya, namun tak lantas membuat rasa penasaran terhadap istrinya hilang.

Soah mengangguk. Dia memeluk pinggang Chanyeol dengan tangan kanannya. Bersandar pada bahu suaminya. “Dulu, sekarang tidak lagi?”

Pria itu mengangkat alisnya tak paham. “Kenapa?”

“Karena luka ini,” jelas Soah sambil mengangkat tangan kirinya. “Arteri, saraf serta tiga tendonku terpotong saat aku mendapat luka ini. Dampaknya tanganku sering kebas jika terlalu banyak digunakan untuk aktivitas,” sambungnya lagi. “Aku sudah pernah mencoba memainkannya kembali. Hanya semenit, dan rasanya sangat menyakitkan. Karena itu aku memilih menyimpannya.”

“Jangan khawatir. Mulai sekarang, kapanpun kau ingin bermain gitar bilang saja padaku. Aku akan memainkannya untukmu,” ucap pria itu sambil memeluk Soah dari belakang. Tangannya berada di perut istrinya. Mengusapnya lembut.

“Terimakasih.” Soah berucap tulus. Tangannya ia pindahkan di atas tangan suaminya.

“Desainnya bagus, tapi sepertinya sudah lama.”

“Bukankah kau yang memilihkannya?”

“Maksudmu?”

“Itu adalah hadiah ulang tahunku yang ke tiga belas dari Hyunmin oppa. Dia bilang temannya yang bisa bermain gitar yang memilihkannya. Bukankah kau satu-satunya temannya yang bisa bermain gitar!”

Chanyeol tampak berfikir mendengar perkataan istrinya. Dia mencoba mengingat kapan kejadiannya. “Sepertinya iya,” ucapnya disertai anggukan. “Tapi dia bilang itu untuk gadis spesial dalam hidupnya.”

“Aku juga seorang gadis.”

“Benar juga. Jika bukan gadis, dia tidak mungkin ada kan,” ujar Chanyeol kembali sambil mengusap pelan perut Soah.

-o0o-

“Kau tidak mau ikut?” Soah bertanya pada sekretarisnya. Mereka masih di mobil gadis itu.

Aera menggeleng. “Di sana ada Sehun kan?”

“Kau ada masalah dengan Sehun?”

“Tidak,” jawab Aera dengan cepat. Dia membuang muka. Kenapa dia bisa keceplosan menyebut nama pria itu. Pria yang akan dihindarinya mulai sekarang. Bukan apa-apa sebenarnya, dia masih merasa malu dengan kejadian malam itu.

“Benarkah!” Lagi Soah bertanya untuk memastikan. Dia menjumpai gelagat aneh pada tingkah sekretarisnya.

Gadis itu mengangguk, masih dengan membuang muka.

“Ya sudah. Aku masuk dulu.” Tepat setelah mengatakan itu Soah keluar dari mobil. Berjalan anggun menuju kediaman personil EXO. Sepanjang perjalannya dia berfikir aneh mengenai tingkah sekretarisnya. Sepertinya dia harus bertanya pada sahabatnya tersebut.

Sampai di depan pintu, Soah menekan tombol bel. Tak lama kemudian terdengar pintu itu terbuka. Seorang pria tersenyum ramah padanya.

“Kim daepyo.”

Annyeong haseyo.” Soah menunduk memberi salam.

“Mau mencari Sehun?” tanya pria yang diketahui sebagai leader grup suaminya. “Bukan lagi ya. Mau ketemu Chanyeol?” Pria itu kembali berucap bahkan sebelum Soah bersuara.

Soah hanya mengangguk dan tersenyum hambar. Dia sedikit malu rupanya.

“Mari silahkan masuk. Dia sedang membuat lagu bersama Baekhyun.”

Sesuai saran pria itu, Soah ikut masuk. Dia berhenti sebentar setelah pintu tertutup. “Ini untuk kalian.” Soah menyodorkan kotak makanan pada pria itu.

“Apa ini?” tanya pria itu setelah mengambil kotak tersebut.

“Makanan.”

“Terimakasih. Dia ada di sana.” Pria itu menunjuk sebuah ruang. “Anda langsung saja ke sana.”

“Terimakasih.” Soah menunduk dan berlalu pergi. Dia membuka pintu ruang itu tanpa mengetuk. “Apa aku mengganggu?” ucapnya ragu.

Dua orang yang sedang duduk berhadapan itu menoleh. Tatapan heran mereka berikan. Hanya sesaat, kerena setelahnya mereka tersenyum. Terutama pria yang sedang memegang gitar.

“Tidak. Masuklah Kim daepyo,” ujar pria yang memegang pensil.

Soah berjalan mendekat. Berdiri di samping pria yang memegang gitar.

“Aku sudah bilang jika hari ini akan pulang. Untuk apa kemari?” Kini pria yang memegang gitar yang bersuara.

“Tidak boleh kah?”

“Bukannya begitu”

“Aku hanya mampir sebenarnya. Ada meeting dengan Lee daepyo dua puluh menit lagi. Dan juga aku mau bilang jika Sera imo meminta kita untuk makan malam di rumahnya. Kau tak perlu pulang ke apartemen, langsung saja datang ke sana,” jelas Soah panjang lebar.

“Makan malam.”

“Iya. Katanya dia senang karena sebentar lagi akan punya cucu.”

Pria yang memegang gitar itu tersenyum.

“Karena urusanku sudah selesai aku pergi dulu.” Soah mendekatkan wajahnya. Mencium singkat pipi suaminya. “Sampai ketemu nanti malam.” Dengan cepat dia melangkah. Tak peduli meski perbuatannya disaksikan orang lain.

“Hanya begitu saja,” protes pria yang memegang gitar.

Soah yang hampir mencapai pintu menoleh. “Eoh. Sampai jumpa,” ujar Soah. Dia juga melambaikan tangan. “Sampai jumpa Baekhyun-ssi.”

Saat akan berbalik dia menabrak seseorang. Dia mendengus kesal melihat wajah pria yang menabraknya. “Sejak kapan kau disitu?” tanyanya dengan nada ketus.

“Baru saja. Kau sudah akan pergi?” Pria itu balik bertanya.

“Emmh. Aku ada meeting. Sampai jumpa.” Soah berkata sambil tersenyum. Baru dua langkah dia kembali berbalik. “Kau tidak melakukan sesuatu yang buruk pada sekretarisku kan?”

“Maksudmu?”

“Dia tak mau kuajak kemari. Katanya karena ada kau. Padahal biasanya dia selalu antusias jika kuajak bertemu mantan kekasihnya itu.”

“Mantan kekasih?”

“Iya, pria yang memegang gitar itu.” Soah menunjuk ke arah pria yang masih memegang gitar. Semua orang yang ada di ruang itu mengalihkan pandangannya. Menatap tak percaya pria yang dimaksud Soah.

“Itu tidak penting sekarang. Jawab dulu pertanyaanku?”

Pria itu hanya diam. Dia tak mungkin mengakui perbuatan brengseknya kan. Terlebih di ruang itu ada orang lain, meski sebenarnya adalah rekannya.

“Kenapa diam?”

“Memangnya apa yang aku lakukan padanya. Kami bahkan tidak dekat. Hanya kebetulan bertemu karena dia selalu berada dekat denganmu.”

“Masuk akal sih! Tapi dia tak akan berkata seperti itu jika tidak ada sesuatu di antara kalian.”

Pria itu hanya diam. Memang benar terjadi sesuatu di antara mereka. Namun dia masih belum siap menceritakannya. Dia masih merasa bersalah meskipun dia sudah minta maaf sebelumnya.

“Awas saja, jika kau berani menyakitinya. Aku pergi dulu.” Soah memukul pelan lengan pria itu.

Pria itu hanya menatap nanar pintu yang tertutup. Perasaan bersalah kembali mengusiknya. Dia berbalik dan ikut duduk di samping rekannya. “Kau benar-benar mantan kekasih sekretarisnya?” tanya pria itu kemudian.

“Ya, kami berkencan saat SMA dulu.”

to be continue……..

Saya kembali lagi. Maaf lama.

Untuk Chapter depan akan saya Password.

Bagaimana cara dapat passwordnya?

  • Pastikan kalian selalu meninggalkan jejak di setiap Chapternya.
  • Punya WhatsApp.

Setelah memenuhi dua syarat itu, bisa langsung chat aku di sini: 08983369259. Jangan lupa kasih tahu id-komen kalian.

Aku hanya akan memberikan password via whatsapp. Jika kalian mintanya di akunku yang lain, nggak akan saya tanggapi.

Buat yang nggak punya. Aduh kasian!

Bisalah pinjem temen, saudara, atau siapapun. Usahakan sendiri pokoknya.

Ribet ya?

Biarin, aku mah sukanya yang ribet-ribet.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya

See you.

28 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 21 A)”

    1. Mereka kan masih belum siap dapat ejekan dari rekan-rekannya. Ya, meskipun mereka single sekalipun. 😏😏😏
      Thanks ya 😘😘😘

  1. Wah wah…sehun kau harus berani bertanggung jawab dong…engga semmua masalah akan selesai hanya dengan kata maaf…
    Chanyeol pasti kaget tuh tiba2 soah dateng nemuin dia….hehe..

    1. Iya, dia memang sedang mencoba bertanggung jawab…
      Bener itu, nggak semua masalah selesai dengan kata maaf
      Kaget banget…
      Thanks ya…. 😘😘😘

    1. Hahaha….
      Mereka semua memang penuh misteri… 😂😂😂
      Chanyeol-Soah memang selalu sweet kan.
      Thanks ya.. 😘

    1. He’em, mereka memang suka kucingan-kucingan… 😻😻😻
      Namanya juga cinta, apapun dilakukan untuk keselamatannya, termasuk protektif…
      Thanks ya 😘

  2. Wkwkwkwk Sehun dan Aera.. Lama2 juga bakalan ada cinta diantara mereka berdua.. Kebahagiaan buat mereka semua.. Chanyeol – Soah dan Sehun – Aera..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s