[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 16)

Universe in His Eyes POSTER

Title : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 16

Author : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length : Series/Chaptered

Genre : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating : PG 17

Main cast :

Oh Serin (OC)

D.O. / Do Kyungsoo (EXO)

Baekhyun (EXO)

Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Yeri (Red Velvet) as Kim Yeri

Wendy (Red Velvet)

Summary : Serin tanpa sengaja menyelamatkan seorang penyanyi terkenal yang sedang diganggu penggemar fanatiknya, namun ia sama sekali tak menduga bahwa orang yang ditolongnya itu ternyata merupakan mantan kekasihnya saat masih di bangku sekolah.

Disclaimer : All casts belong to God, parents, and agencies but OC and the whole story are purely comes from author’s imagination. Please don’t plagiarize or repost this story without any permission, and don’t forget to leave a comment after reading since your comment and suggestion are really help. Happy reading!

Previously:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12Chapter 13Chapter 14Chapter 15

“Maksudku, tidak sembarang orang bisa asal masuk ke dalam sana. Jadi aku berkesimpulan kalau Kyungsoo adalah trainee di perusahaan itu!”

CHAPTER 16

(The Truth Beneath)

“Apa katamu?”

“Aku suka padamu, Kyungsoo-ya.”

Kalimat Wendy barusan terdengar sangat yakin. Kyungsoo sampai dibuat tak percaya karenanya. Ia menghela nafas panjang, kenapa hal-hal tak terduga selalu saja terjadi padanya? Lagipula gadis ini bisa-bisanya dengan tiba-tiba mengatakan suka padanya dalam waktu sedekat ini?

Kyungsoo meraih latte-nya demi menghilangkan kecanggungan, namun mulutnya hanya fokus dengan minuman yang sedang diteguknya tersebut. Ia benar-benar enggan untuk merespon kalimat Wendy beberapa detik yang lalu.

“Jawab aku.”

“Apakah aku harus menjawab perkataanmu?” tanya Kyungsoo cepat.

Wendy diam sejenak, matanya tak lepas dari wajah Kyungsoo. “Ya.”

“Bahkan kalimatmu tadi bukanlah sebuah pertanyaan.”

“Kalau begitu…” Wendy masih menatapnya, ia bahkan mencoba mengambil nafas sebelum melanjutkan kata-katanya. “…kau mau pacaran denganku?” tembak Wendy langsung. Sebenarnya Kyungsoo sudah sempat menebak bahwa kalimat itu akan keluar dari Wendy barusan, tapi ia tak menyangka jika saat ini ia justru malah kebingungan bagaimana harus merespon.

Matanya mencoba menghindar dari tatapan Wendy. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Son Wendy, sebelumnya terima kasih karena sudah menyukaiku. Tapi maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu.”

Wendy terdiam. Kyungsoo yakin gadis itu sedang terkejut dengan jawabannya yang seolah tak perlu berpikir keras hanya untuk menjawabnya. Jujur, ia sebenarnya sedikit kecewa dengan penolakan instan yang baru saja diterimanya.

“Padahal, Yeri bilang kau suka padaku.” Wendy berusaha mengalihkan pandangannya dari lelaki cepak berkacamata di depannya.

“Yeri?”

Wendy tidak menjawab. Matanya hanya tertuju lurus pada pemandangan jalan di balik kaca besar di dinding kafe itu.

Yeri, gadis itu, apa saja sih yang sudah dikatakannya pada orang lain?

***

“Ng, kupikir barusan aku melihat Kyungsoo.”

“Dimana?”

“Di sebuah kafe di Cheongdam-dong.”

“Cheongdam-dong?”

Serin tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Baekhyun tiba-tiba saja menelepon dan mengatakan kalau ia melihat Kyungsoo di daerah Cheongdam-dong. Bukankah Kyungsoo sedang di rumah orangtuanya di Goyang? Bagaimana mungkin ia sekarang berada di Seoul?

“Kau yakin?”

Baekhyun menoleh kembali ke arah kafe yang berdinding transparan itu. Dilihatnya lelaki bertopi hitam itu sekali lagi, dan kali ini masker yang tadi dipakainya kini sudah diturunkan sampai ke dagu. Tak terlalu jelas terlihat, namun ia yakin sekali bahwa kacamata yang dipakai lelaki itu persis seperti yang sering dipakai Kyungsoo. Di depannya duduk seorang gadis berambut pirang sedang menatap ke arah lain. Sepertinya obrolan mereka serius sekali.

“Tujuh puluh persen yakin.” jawab Baekhyun.

“Tidak kau cek langsung?”

Baekhyun ingin menjawab bahwa kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk menghampiri lelaki yang terlihat seperti Kyungsoo itu karena saat ini dia sedang duduk bersama orang lain, dan itu adalah seorang gadis. Tapi, bagaimana ia menjelaskannya pada Serin? Masa iya harus terang-terangan bilang bahwa Kyungsoo sedang berduaan dengan gadis tak dikenal di sebuah kafe? Apa reaksi Serin nanti? Mengetahui Kyungsoo ternyata sedang berada di Seoul saja sudah cukup membuatnya terkejut.

“Dia sedang bersama seseorang, aku tidak mungkin menghampirinya begitu saja. Lagipula aku tidak terlalu yakin, Serin-ah, mungkin aku hanya salah lihat.” ujar Baekhyun bohong.

Sekali lagi Baekhyun mengatakan ketidakyakinannya pada Serin. Padahal ia baru saja mengatakan presentase keyakinannya sebanyak tujuh puluh persen, tapi ia takut, takut Serin akan berpikiran yang macam-macam, jadi ia pun enggan mengatakan bahwa orang yang dilihatnya itu sedang bersama seorang gadis.

Tak lama ia melihat gadis berambut pirang itu tersenyum ke arah Kyungsoo. Oke, mungkin percakapan mereka tidak seserius yang dipikirkan Baekhyun, tapi ia dapat membaca dengan jelas bahwa senyum yang dilontarkan dari bibir gadis itu sungguh terlihat sebuah senyum yang… hm, bagaimana mengatakannya ya, sama seperti senyum Serin setiap kali ia membicarakan Kyungsoo. Tidak, tidak, pasti bukan begitu.

Gadis berambut pirang itu akhirnya berdiri bersama lelaki di hadapannya. Kelihatannya mereka akan segera keluar dari kafe tersebut, jadi Baekhyun langsung mengindar dan mencoba bersembunyi agar sosoknya tidak ketahuan oleh mereka. Ia hanya ingin memastikan kalau lelaki itu betulan Kyungsoo. Tentu ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya, jika itu benar Kyungsoo, mengapa ia berbohong pada Serin tentang keberadaannya di Goyang? Kenapa ia terus menghindari sahabatnya? Dan kenapa–dengan tanpa alasan yang jelas–ia bertingkah seperti sedang menggantung Serin dalam hubungannya? Do Kyungsoo, apa yang sedang kau sembunyikan?

Mereka akhirnya keluar dari kafe tersebut, Baekhyun memandangi mereka dengan seksama, memerhatikan setiap detil dari wajah yang tertutup masker itu. Mereka berdua terus berjalan, hingga tiba dan masuk ke sebuah gedung yang cukup besar yang berlokasi tak jauh dari kafe tersebut. Tak salah lagi, gedung itu adalah gedung SM Entertainment. Langkah Baekhyun terhenti, sampai di sini saja pengintaiannya.

Tidak, ini bukan tujuh puluh persen, melainkan sembilan puluh sembilan persen. Baekhyun yakin sekali lelaki berkacamata dengan masker itu adalah Kyungsoo, tapi… Do Kyungsoo? Masuk ke gedung SM? Apakah yang dilihatnya barusan itu benar? Di dalam lubuk hatinya, Baekhyun sebenarnya masih menyisakan satu persen lainnya, berharap kalau pemandangan ini sungguh tidak benar.

Do Kyungsoo, jadi selama ini kau memang tidak di Goyang, melainkan… di sini?

***

“Hey, sebenarnya awal mula kau dan Kyungsoo bisa sampai renggang tiba-tiba ini awalnya bagaimana, sih?” tanya Baekhyun yang mulai penasaran dengan hubungan Serin dan pacarnya. Selama ini diam saja karena asalkan Serin bahagia dengan lelakinya, ia juga tak ada masalah dengan itu. Tapi sejak sesuatu–yang entah awalnya bagaimana bisa–terjadi di dalam hubungan Kyungsoo dan Serin, kini ia jadi ikut penasaran dengan itu. Padahal sebelumnya mereka terlihat baik-baik saja.

Saat ini Serin sedang berada di rumah Baekhyun, berdua saja tanpa ada Chanyeol di antara mereka. Serin meraih boneka anjing berukuran besar dari kasur, yang dulu pernah ia berikan untuk Baekhyun pada hari ulang tahunnya, ia peluk boneka itu lalu menghelas nafas dengan panjang.

Yah, kau tahu tidak kalau Chanyeol pernah suka padaku?” kata Serin tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun.

Baekhyun terkejut mendengarnya. “Jinjja???”

Serin kembali menghembuskan nafasnya. “Setelah kepulanganku dari Jepang itu, aku dan Chanyeol sebenarnya sempat agak sedikit renggang. Ia kaget sekali saat mengetahui aku dan Kyungsoo pacaran, dan aku pun tidak tahu kalau saat itu dia suka padaku, jadi dia entah bagaimana dia seperti menghindar.”

Yah, aku juga kaget tahu saat kau tiba-tiba bilang pacaran dengan Kyungsoo!” timpal Baekhyun.

“Tapi beberapa hari setelah itu, akhirnya aku bertanya pada Chanyeol, kenapa dia menghindariku seperti itu? Apa salahku padanya? Lalu kemudian dia menjawab kalau dia sebenarnya menyukaiku. Kau tahu? Aku langsung menangis saat itu juga, aku merasa seperti orang jahat baginya. Aku tidak pernah tahu dengan perasaannya dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.”

“Lalu?”

“Lalu dia pasrah saja dengan keadaan saat itu. Mau bagaimana lagi? Aku tidak pernah berpikir bisa menganggapnya lebih dari teman dan saat itu pun aku sudah terlanjur pacaran dengan Kyungsoo. Tapi dengan bijaknya ia bilang bahwa ia baik-baik saja dengan semua itu. Dia bilang dia tidak akan menjauh dan akan selamanya menjadi sahabatku. Aku… bahkan merasa lebih bersalah lagi setelah mendengar itu darinya, aku benar-benar seperti orang jahat.”

Baekhyun diam saja saat Serin bercerita di depannya sambil tersenyum pedih. Ia sama sekali tidak mengetahui apa-apa soal itu. Dia pikir dirinya sangat dekat dengan Serin, namun ia sendiri bahkan tak tahu kalau kedua sahabatnya selama ini merahasiakan hal-hal menyedihkan darinya hanya agar hubungan mereka tetap berjalan baik.

“Harusnya kau cerita padaku saat itu.” kata Baekhyun dengan suara lemah.

“Kupikir saat itu bukan waktu yang baik untuk menceritakannya. Aku hanya takut kau bereaksi berlebihan, kau tahu kan kau itu tak mahir menyembunyikan sesuatu, dan kau selalu tidak bisa tenang saat sedang menghadapi situasi serius. Aku takut mulutmu itu jadi berkata-kata yang tidak-tidak pada Chanyeol.”

Baekhyun cemberut. “Terus, Kyungsoo?”

“Nah, aku pikir Kyungsoo tahu akan hal itu. Aku sendiri juga entah bagaimana bisa menebak seperti itu, tapi jelas sekali dia selalu kelihatan cemburu tiap aku bersama Chanyeol. Mungkin karena ia juga seorang lelaki makanya paham bagaimana Chanyeol selalu memperlakukanku.”

“Tapi kok aku tidak mengerti.” ujar Baekhyun sambil menunjuk dirinya sendiri.

Serin akhirnya tertawa. “Itu sih karena kau bodoh.” katanya sambil melempar bantal ke wajah Baekhyun.

Baekhyun ikut tertawa bersamanya.

“Ngomong-ngomong, jangan bilang Chanyeol kalau aku cerita ini padamu, anggap saja kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak mau kena tinju darinya, kan?”

Araseo, araseo, aku mengerti.”

Kemudian Serin melanjutkan ceritanya. “Setelah itu Kyungsoo jadi kelihatan aneh, terlebih lagi saat mulai libur musim panas. Padahal sedang liburan, tapi ponselnya jarang sekali aktif. Bahkan ia juga jarang menjawab pesan atau telepon dariku. Dia hanya bilang kalau dia di rumah orangtuanya di Goyang selama liburan. Tapi masa iya kau malah tidak sempat memegang ponsel bahkan di saat liburan? Setelah itu pun aku jarang-jarang bertemu dengannya. Kau sendiri kan juga tahu kalau sepanjang liburan kemarin aku malah selalu bermain denganmu dan Chanyeol. Sedangkan Kyungsoo? Tidak tahu kemana.” cerita Serin panjang.

Wajah Baekhyun berubah sedikit serius. “Tapi… kau benar-benar sepenuhnya yakin kalau dia selama ini di Goyang?”

Serin mengangguk. Apakah ia punya alasan tertentu untuk curiga kalau-kalau Kyungsoo sedang berbohong padanya?

“Serin-ah, aku tidak yakin apakah aku harus mengatakan ini, tapi… kupikir aku memang harus mengatakannya padamu.”

“Maksudmu?” tanya Serin bingung dengan maksud Baekhyun.

Baekhyun berdehem. Wajahnya menjadi lebih serius setelah ini. “Sebenarnya, saat aku meneleponmu karena melihat Kyungsoo beberapa waktu lalu, yang kulihat itu sebenarnya memang Kyungsoo.”

Mwo?”

Entah kenapa tiba-tiba Baekhyun jadi merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Jadi, aku tidak sengaja bertemu di Kyungsoo di sebuah kafe di Cheongdam-dong, tapi dia tidak sadar kalau aku juga berada di sana, jadi… aku juga diam saja.”

“Lalu?”

“Dia duduk di sana bersama seseorang, tapi bukan itu masalahnya. Jadi aku menunggu sampai mereka selesai, lalu setelahnya Kyungsoo dan orang itu pergi dari sana lalu masuk ke dalam gedung SM.”

“SM apa?” tanya Serin tidak mengerti.

“SM Entertainment!”

Serin menaikkan alisnya.

“Maksudku, tidak sembarang orang bisa asal masuk ke dalam sana. Jadi aku berkesimpulan kalau Kyungsoo adalah trainee di perusahaan itu!”

Kyungsoo? Trainee? SM?

Tiba-tiba Serin jadi pusing.

***

“Kau bilang apa pada Wendy?” tanya Kyungsoo blak-blakan.

“Apa maksudmu?” Yeri malah bertanya balik, pura-pura tidak mengerti.

“Kau bilang padanya kalau aku suka dengannya?” Kyungsoo menatap Yeri tajam, matanya terbuka lebar hingga bagian putih matanya terlihat lebih luas dari bola matanya.

Yeri malah tersenyum membalas Kyungsoo dan bersandar ke dinding di balik punggungnya. “Memangnya tidak?”

“Tidak. Tidak sama sekali.” jawab Kyungsoo dengan nada pelan. “Kau kan tahu kalau aku sudah punya pacar.”

Senyum Yeri makin lebar. “Maksudmu Serin? Memang kau masih pacaran dengannya? Bukankah kalian sudah lama putus?”

Kyungsoo mendepak dinding yang ada di belakang Yeri dengan keras. Ia mendekatkan wajahnya ke gadis bertubuh mungil itu. “Yah, sejak kapan aku putus dengannya?”

Yeri ikut mendekatkan wajahnya ke Kyungsoo seolah tidak takut menantangnya. “Pacar macam apa yang tidak pernah menghubungi gadisnya? Memangnya selama ini kau bertemu dengannya, huh? Apakah kau ingat kapan terakhir kali kalian bicara?” sergah Yeri seolah tahu banyak tentang hubungan Kyungsoo dan Serin.

Kyungsoo terdiam, mendadak jadi berpikir kapan terakhir kali ia kontak dengan Serin. Ia baru sadar kalau selama ini dirinya terlalu sibuk dengan kegiatannya sebagai trainee. Ia terlalu fokus dengan tujuannya di industri ini, sampai-sampai ia telah mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Bahkan sejak ia kenal dengan Wendy, kini ia malah jadi jauh lebih dekat dengan gadis itu dibanding dengan Serin, pacarnya sendiri. Memang sudah menjadi kesalahannya sejak awal karena ia sendirilah yang merahasiakan ini semua dari Serin.

“Kau itu tidak tahu apa-apa, jadi jangan pernah coba-coba mencampuri urusanku.” sinis Kyungsoo.

“Lalu bagaimana dengan Wendy eonni?”

“Sudah kutolak.”

“Jahat sekali kau!” seru Yeri sedikit menaikkan nada suaranya.

Mata Kyungsoo menatap lurus ke Yeri, sudut matanya tak lagi terlihat seperti biasanya. Kali ini ia menatap Yeri dengan geram. “Yah, Kim Yeri, sebenarnya apa maumu?”

Ia tak habis pikir dengan gadis bernama Kim Yeri ini. Sikapnya sungguh tak dapat ditebak, kadang ia sangat baik tapi di lain waktu ia bisa sangat licik seperti rubah. Apakah ia sengaja berbuat seperti ini hanya untuk menyakiti Serin? Hanya karena gadis itu dekat dengan Chanyeol, lelaki yang disukainya? Tapi… kenapa? Kenapa ia harus berbuat sejauh ini sampai harus sengaja mendekatkan Wendy padanya hanya agar hubungannya dengan Serin semakin renggang? Sekian pertanyaan tersebut mulai memenuhi kepala Kyungsoo.

Klek.

Pintu ruang latihan terbuka. Salah seorang trainee tidak sengaja menangkap basah Yeri dan Kyungsoo sedang dalam posisi yang sangat dekat. Kyungsoo langsung membetulkan posisinya dan menjauh dari Yeri segera setelah trainee tersebut melihatnya. Berharap saja tidak terjadi kesalahpahaman disini.

“Do Kyungsoo, kau diminta untuk datang ke ruangan direktur.” kata trainee tersebut. Tanpa berpikir panjang, Kyungsoo langsung berjalan lurus tanpa memedulikan Yeri yang masih berdiri di sana dan tak sadar bahwa raut wajah gadis itu kini sudah berubah tajam sambil menatap punggungnya.

Kyungsoo mengetuk terlebih dahulu sebelum membuka pintu dan kemudian masuk ke ruangan direktur. Di dalam sana ada Lee Sooman dan Han Semin yang sedang duduk seperti sedang menunggunya. Ia membungkuk pada dua orang itu sebelum akhirnya Han Semin mempersilakannya untuk ikut duduk.

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku sampai memanggilmu langsung ke sini.” ujar Lee Sooman santai sambil menaruh ponselnya yang telah ia pegang sejak tadi.

“Ada apa ini, direktur?” tanya Kyungsoo penasaran hingga kedua matanya sudah membulat dengan sempurna.

“Jadi begini, Kyungsoo-ya…” Han Semin mulai bersuara. “Direktur dan aku sudah membicarakan ini. Kami memutuskan untuk segera mendebutkanmu sebagai penyanyi solo dalam waktu dekat ini.”

Ne?”

“Oh, kau pasti terkejut karena kau baru saja bergabung dan menjadi trainee selama dua bulan. Tapi tenang saja, itu tak jadi masalah karena kau itu memang sudah terlahir dengan bakat. Aku yakin sekali strategiku kali ini pasti akan berhasil membuatmu sukses.” ujar Lee Sooman meyakinkannya.

Apa ia barusan tidak salah dengar? Benarkah ia akan segera debut? Sebagai soloist?

***

Kyungsoo duduk termenung sendirian di sebuah kafe dekat agensi. Ia hanya menatap sinar matahari yang menembus dinding kaca kafe hingga memantul ke bingkai kacamatanya. Matanya terenyit akibat sinar tersebut yang menyilaukan. Kemudian ia mengubah posisi duduknya agar tidak silau karena pantulan itu.

Ia sengaja datang ke kafe sendirian hanya karena ingin mencari kesunyian. Energinya sudah cukup terkuras saat latihan, ditambah ia selalu bertemu banyak orang seperti para staff dan trainee di perusahaan. Ia pikir ini merupakan waktu yang tepat baginya untuk mengisi tenaga kembali sambil menikmati keheningan, walaupun tidak sehening rumahnya karena suara musik yang diputar di kafe ini cukup keras. Tapi untung saja itu tidak terlalu mengganggu.

Pintu kafe terbuka, seorang gadis berambut pirang masuk ke dalam dan berjalan ke arah kasir untuk memesan sebuah minuman Latte kesukaannya. Setelah pelayan tersebut memberikan struk dan buzzer padanya, ia celingukan sambil mencari meja yang kosong untuk ditempati. Sebenarnya ada banyak meja yang kosong, namun ia memilih duduk di meja yang sama dengan seorang lelaki yang terlihat familiar di matanya.

“Kyungsoo-ya.” sapa gadis pirang itu dengan senyum.

Kyungsoo menoleh ke arahnya sedikit kaget. “Wendy? Sendirian?” tanyanya basa-basi. Gadis berambut pirang bernama Wendy itu mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Aku boleh duduk disini?” tanyanya meminta izin Kyungsoo.

“Oh, tentu saja.” sontak Kyungsoo langsung membetulkan posisi duduknya menjadi sedikit tegak setelah Wendy duduk di depannya.

Ya, kini keduanya kembali duduk bersama di meja yang sama dan kafe yang sama pula seperti minggu lalu. Kini mereka berdua duduk dengan canggung, sedikit teringat dengan kejadian minggu lalu dimana Wendy menyatakan cintanya dan ditolak saat itu juga oleh Kyungsoo. Mereka terdiam, mencoba sibuk dengan pikiran masing-masing.

Wendy boleh saja ditolak Kyungsoo, tapi bukan berarti setelah itu ia jadi menjauh. Untungnya Wendy sedikit lebih dewasa dalam menghadapi situasi, sehingga ia masih sanggup melanjutkan hubungannya dengan Kyungsoo walaupun hanya sebagai teman dan kerabat satu perusahaan. Kyungsoo pun tak masalah, itu kan masalah Wendy dan perasaannya, masa iya setelah menolak gadis itu ia juga harus menjauh darinya. Bukankah itu akan sangat kejam?

Buzzer milik Wendy bergetar. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia langsung menuju kasir untuk menjemput minuman pesanannya, lalu kembali ke meja tempat ia duduk semula. Ia menyeruput latte dinginnya dengan hati-hati. Tak sadar bahwa Kyungsoo ikut memerhatikan minuman yang ia pegang.

“Kau juga suka latte?”

Kyungsoo baru sadar kalau ia dan Wendy selalu memesan minuman yang sama setiap datang ke kafe ini. Namun bedanya Kyungsoo lebih menyukai latte panas ketimbang latte dingin dengan es seperti yang dipesan Wendy.

Satu jam di dalam kafe itu terasa agak panjang karena Kyungsoo menjadi sedikit agak pendiam, sehingga Wendy juga enggan untuk membuka topik duluan. Mungkin saja sebenarnya Kyungsoo sedang tidak ingin diganggu, tapi ia malah duduk bersamanya. Dan hal itu membuat Wendy sedikit merasa tidak enak.

“Ngomong-ngomong, aku akan segera debut.” ujar Kyungsoo tiba-tiba saat mereka baru saja keluar dari kafe.

“Benarkah?” Wendy mendadak menghentikan langkahnya, langsung menghadap Kyungsoo dan memeluknya secara tiba-tiba. “Wah, chukhahae!” seru Wendy riang tanpa sadar sudah memberikan ucapan selamat padanya dengan sebuah pelukan.

Tentu saja Kyungsoo kaget bukan main saat menyadari Wendy menghambur begitu saja padanya. Namun sebelum ia sempat menjawab ucapan Wendy, gadis itu sudah melepas pelukannya lebih dulu. Ia mungkin sama terkejutnya saat menyadari dirinya telah bereaksi berlebihan seperti itu.

Hening, dan tak ada yang bicara sama sekali.

Akhirnya mereka berdua lanjut berjalan seperti biasa, bertingkah seolah barusan tak ada yang terjadi. Namun mendadak Kyungsoo menghentikan langkahnya karena sepasang laki-laki dan perempuan sedang berdiri dari jarak sekitar sepuluh meter di depannya.

Wendy menoleh ke Kyungsoo. “Ada apa?”

Kyungsoo tidak menjawab, ia hanya berdiri mematung disana sambil menatap kaget ke depan.

“B–Baekhyun-ah… Serin-ah, kenapa… kalian disini?”

–To be Continued–

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s