[EXOFFI FREELANCE] Take You Home [Ninth]

take you home (2)

TAKE YOU HOME (Ninth)

Sháo Xī

Chaptered

Romance, Married life, Drama, Angst

PG-15

Byun Baekhyun [EXO] x Go A Young [OC]

Park Chanyeol [EXO]

©

Summary:

Tujuanku bersamanya hanya ada satu: Demi wanita nomor satu dalam hidupku

Disclaimer:

Cerita ini murni karya saya sendiri. Beberapa adegan mungkin terinspirasi dari buku maupun film yang pernah saya baca dan tonton. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan asli tokoh. Tinggalkan jejak karena jejak adalah vitamin penulis ☺

©

.

.

.

Pelukan itu … rasanya aku membutuhkannya

.

.

.

Dingin, tapi menyenangkan.

A Young menatap pemandangan di depannya sejenak dari bingkai jendela yang baru saja dibukanya. Di bawahnya, ia bisa melihat beberapa pasien dan dokter yang berjalan atau sekedar duduk-duduk menikmati suasana sore yang nyaman. Musim gugur mulai datang dan suhu sudah mulai menurun. Tapi rasanya, suhu dingin itu tak mencegah beberapa orang untuk menikmati angin yang menggelitik hidung mereka atau sekedar menyapa surai mereka dengan terpaan lembut. A Young yang memandang keseluruhan itu dari bingkai jendela ikut tersenyum sambil memejamkan matanya sejenak. Ia selalu suka musim gugur. Walaupun musim itu pertanda bahwa ia harus bersiap akan cuaca dingin, tapi ia tak pernah mengeluh akan hal itu. Keseluruhan musim gugur, seburuk apapun itu, ia tetap suka.

“A Young-a?”

Mata A Young perlahan terbuka ketika mendengar suara lembut itu. Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati seorang wanita yang tengah berbaring menatapnya dengan pandangan bertanya. Melihat kebingungan wanita itu, A Young lantas tersenyum dan mendorong dirinya untuk menjauh dari jendela dan beranjak menuju wanita itu.

“Aku hanya ingin wajahku disapa angin musim gugur, Bu,” katanya menjawab kebingungan wanita itu.

Wanita itu, Oh Mi Rae―ibunda Baekhyun―mengerutkan keningnya. Setelah paham akan maksud menantunya itu, ia hanya tersenyum maklum. “Aku juga menyukai musim gugur,”

Mata A Young membulat. “Benarkah, Bu? Wah … aku sama sekali tidak menyangka,”

Oh Mi Rae terkekeh kecil. “Aku hanya bisa berharap bahwa suatu saat aku bisa merasakan angin musim gugur menerpaku. Seperti dulu ….”

A Young diam sejenak sebelum akhirnya meraih tangan ringkih Mi Rae dan menggenggamnya. Seolah-olah ia memberi kekuatan pada wanita itu. “Ibu tenang saja. Ibu pasti akan bisa merasakannya. Soalnya, kan ….”

A Young meraih tas tenteng yang dibawanya dan mengeluarkan berpak-pak kertas origami warna-warni. “Lihat! Aku sudah bawa origaminya dan kita bisa membuat origami burungnya sekarang,”

Mi Rae memandang kertas origami itu dengan pandangan haru. “Kau sungguh-sungguh ingin membuatnya?”

“Tentu saja,” jawab A Young sambil tersenyum lebar. “Aku kan, sudah janji sama Ibu,”

Mi Rae tersenyum saat A Young mulai sibuk mengeluarkan kertas origaminya dan memilih warna yang akan ia gunakan. “Terima kasih, Young-a,”

A Young mengibaskan tangannya. “Ibu tidak perlu berterima kasih. Origami burung ini kan, berisi harapan kita berdua,”

Mi Rae diam sebentar sebelum akhirnya mengulurkan tangannya. “Berikan Ibu satu. Ibu juga ingin membuatnya,”

“Ibu ingin warna apa?” tanya A Young sambil menyiapkan beberapa lembar kertas berwarna beda.

Mi Rae pura-pura berpikir sebelum akhirnya menunjuk warna kuning. A Young memberikannya selembar dan mereka berdua mulai membuat origaminya. Tangan A Young sepertinya sudah terlatih karena sekarang gadis itu sudah menyelesaikan origaminya dan menghasilkan satu burung berwarna biru.

“Wah … kau benar-benar luar biasa, Young-a,” puji Mi Rae saat melihat origami A Young sudah masuk ke dalam kotak yang sudah ia siapkan.

A Young terkekeh. “Aku sudah berlatih semenjak Ibu mengatakan bahwa ingin membuatnya,”

“Wah, benarkah?” tanya Mi Rae sambil memasukkan hasil origaminya ke kotak. “Aku tidak menyangka bahwa kau sesemangat ini,”

“Soalnya ….” A Young diam sebentar sebelum akhirnya melanjutkan. “Aku ingin agar keinginanku bisa terwujud,”

Mendengar itu, Mi Rae hanya bisa diam menatap A Young yang mulai membuat burung keduanya. Kali ini berwarna merah muda. “Kita berdua punya impian yang besar, kan?”

Tangan A Young yang masih melipat origaminya terhenti sejenak. Ia mengulurkan senyumnya lalu kembali melipat. “Aku akan berdoa untuk kesembuhan Ibu sehingga Ibu bisa keluar sebelum musim gugur berakhir. Aku akan buat origami burung ini sebagai ‘tukang pos’ yang akan mengantarkan doa kita, okay?”

Mi Rae mengangguk. Diam-diam dirinya bersyukur ada A Young di sampingnya. “Lalu, doamu apa? Ibu akan melipat untuk doamu juga,”

“Aku ingin berdoa untuk Baekhyun Sunbae,” kata A Young sambil memasukkan origaminya ke kotak dan mulai mengambil selembar lagi. “Untuk segala yang terbaik baginya,”

“Baekhyun itu ….” Mulai Mi Rae. “Anak yang baik. Kau percaya, kan?”

A Young mengangguk tanpa keraguan. “Aku tahu pasti itu, Bu,”

“Kalau dia bingung, kau harap memakluminya, ya,”

A Young mengerutkan keningnya. “Bingung?”

Mi Rae tersenyum sambil melipat kertas origaminya lagi. “Dia bisa sangat labil jika bingung. Tapi aku tahu kau bisa mengatasinya,”

“Aku … belum pernah menghadapi Sunbae yang bingung. Jadi, kenapa Ibu tahu aku bisa melakukannya?”

“Aku tahu karena aku percaya padamu, A Young. Kau gadis yang baik dan tulus. Mungkin dia masih belum menyadarinya, tapi percayalah bahwa dia akan sangat beruntung jika bisa memilikimu,”

A Young diam sejenak memikirkan perkataan Mi Rae, lalu terkekeh ketika dia menyadarinya. “Ibu mengatakannya karena sekarang aku di depan Ibu, kan?”

Ani,” jawab Mi Rae tegas. “Aku sangat yakin akan hal itu,”

A Young tertawa. “Baiklah, aku akan mencoba percaya pada Ibu,”

“Tentu saja harus,” kata Mi Rae pasti.

Mereka berdua tertawa bersama sambil melanjutkan pekerjaan melipat mereka. Mi Rae selalu yakin jika A Young adalah gadis yang tepat untuk putranya. Hanya saja ia tahu, putranya itu sedikit terlambat untuk mengetahuinya. Mi Rae hanya berharap bahwa anaknya itu tidak terlambat untuk menyadari bahwa ada gadis baik di depannya. Jika ia terlambat sadar, bukankah rasanya Mi Rae hanya akan membuat satu kesalahan lagi? Sungguh, ia hanya ingin putranya bahagia. Terlepas dari apapun, ia ingin Baekhyun-nya hidup dengan baik.

.

.

Suara pintu terbuka menyambut Baekhyun begitu dirinya selesai menekan password apartemennya. Ia melepaskan sepatunya, lalu bergerak ke arah dapur untuk mencari segelas air dingin. Sembari minum, Baekhyun mengedarkan pandangannya dan mendapati apartemennya terang benderang, tapi seperti tak ada siapapun di rumah. Apakah A Young belum pulang?

Gelas yang tadi dipegangnya diletakkan di konter sehingga menimbulkan bunyi dentingan halus. Baekhyun beranjak menuju pintu kamarnya dan memutar kenop. Kepalanya menelusuri isi kamarnya tapi tak menemukan siapapun. Ia menarik dirinya dan kali ini mengayunkan langkah ke ruang kerja A Young. Saat pintu itu mengayun terbuka, Baekhyun bisa melihat A Young duduk di lantai membelakanginya dengan kertas origami dan burung-burung yang sudah jadi di dalam kotak. Gadis itu sepertinya tidak menyadari kehadirannya karena ia masih asyik bersenandung dengan musik yang menjadi latar belakangnya. Baekhyun menghela nafas dan membiarkan dirinya bersandar di pintu sembari menatap profil gadis itu dari belakang. Rambutnya yang digulung tinggi dengan beberapa helai yang jatuh di samping telinganya hingga bagaimana gadis itu melemparkan burungnya untuk beristirahat di kotaknya, Baekhyun memperhatikan itu semua. Tiba-tiba, gadis itu bergerak sedikit heboh. Ia mengangkat kotak burungnya hingga tumpukan origaminya―sepertinya ia kehilangan sesuatu. Gadis itu berbalik lalu tertegun saat menyadari ketika Baekhyun berdiri di belakangnya.

“Sunbae?” tanyanya kaget. “Kenapa berdiri di sana?”

Baekhyun menyunggingkan senyumnya. “Aku mencarimu, tapi ternyata kau sedang fokus membuat origamimu,”

A Young bangkit dan berjalan menghampirinya. “Sunbae sudah makan? Aku akan siapkan, ya,”

Ketika gadis itu hendak keluar dari ruang kerjanya, Baekhyun menahan bahunya lalu menggiring gadis itu kembali masuk dan mendudukkannya di tempatnya tadi, sementara Baekhyun ikut duduk di hadapannya. “Aku sudah makan. Tadi ada acara makan bersama kolega.”

“Ah, benarkah?” tanya A Young. “Sunbae mau makan cake? Tadi aku beli sepulang kerja,”

A Young kembali beranjak tapi Baekhyun menarik tangannya hingga ia harus kembali duduk. “Jangan ke mana-mana dan hanya duduk di depanku ini, okay?”

A Young diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Ia memperhatikan Baekhyun yang melihat-lihat hasil kerjanya.

“Ini kau yang buat semua?” tanya Baekhyun.

A Young menggeleng. “Aku buat bersama Ibu sampai jam kunjung berakhir,”

“Oh, benarkah?” Baekhyun tersenyum. “Ibu baik-baik saja, kan?”

A Young mengangguk pasti. “Kami bercerita juga tertawa sepanjang membuat ini,”

Baekhyun mengangguk dan A Young kembali mengambil lembaran origaminya. Lelaki itu memperhatikan bagaimana tangan mungil gadis itu bergerak membuat origami. Sepertinya karena sudah bisa membuat origami sebanyak ini, tangan gadis itu bergerak dengan leluasa hingga tak lama kemudian, bentukan burungnya sudah terlihat.

“Melihatmu membuatnya, aku jadi ingin membuatnya,” ujar Baekhyun yang membuat A Young menatapnya meski tangannya masih bergerak melipat.

“Sunbae bisa membuatnya?”

Baekhyun mengambil selembar origami lalu perlahan mencoba melipat. “Aku sudah lama tidak membuat ini. Jadi ….”

Baekhyun mencoba membuat lipatan dengan mengingat bagaimana dulu ia melakukannya. Saat dirasanya salah, lelaki itu memiringkan kepalanya, kemudian menengadah untuk mencoba mengingat hal yang pernah dilakukannya bertahun-tahun yang lalu. Ia akan kembali melanjutkannya saat sudah berhasil mengingatnya. A Young memperhatikan semua itu dengan senyum di bibirnya. Baekhyun yang berusaha keras dengan kening mengerut dan poni rambutnya yang berayun saat lelaki itu menggerakkan kepalanya terlihat sangat imut di mata A Young. Tiba-tiba, lelaki itu menghela nafasnya sambil menunjukkan origami yang penuh dengan hasil lipatan tak memuaskan.

“Aku lupa bagaimana caranya,” akui lelaki itu akhirnya.

A Young terkekeh. Ia mengambil dua lembar origami baru dan beringsut mendekati Baekhyun untuk duduk di sampingnya. “Aku akan buat perlahan dan Sunbae mengikutiku, okay?”

Baekhyun mengangguk sambil menerima selembar origami dari A Young. Gadis itu mulai melipat dan lelaki bermarga Byun itu mengikuti sambil bolak-balik melihat origami A Young dan dirinya. A Young mengajarkan dengan perlahan dan Baekhyun mengangguk ketika ia paham dan bisa melipat dengan cara yang benar. Saat mengajarkan lelaki itu, A Young memperhatikan profilnya dari samping. Ia tersenyum kecil melihat bagaimana lelaki itu berusaha. A Young bisa mencium wangi musk dan citrus yang menguar dari tubuh lelaki itu dalam jarak ini. Aromanya sedikit kuat tapi menenangkan. Ia memperhatikan bagaimana pundak lelaki itu menempel dengan pundaknya dan A Young langsung merasakan pipinya panas. Astaga … kenapa ia malah begini?

“Akhirnya jadi juga,” kata Baekhyun sambil memandang puas hasil buatan tangannya. “Ini, benar begini, kan?”

Baekhyun menoleh ke samping dan menunjukkan hasil buatannya, namun lantas terdiam begitu ia mendapati A Young dalam jarak sedekat ini. Ia menatap gadis itu sebentar dan mendapati sekali lagi dirinya terpesona pada bola mata indah A Young. Bagaimana bisa iris gadis itu bisa sepekat arang dan jernih seperti danau kaca? Sadar akan apa yang ia lakukan, Baekhyun mengalihkan pandangannya dan berdeham. Ia meletakkan origami yang sudah dibuatnya dan mengambil satu lembar lagi.

“Jika sudah jadi semua, apa yang akan kau lakukan?” tanya Baekhyun.

“Eoh?” tanya A Young. Ia kembali melanjutkan lipatannya yang terhenti karena sedari tadi memandangi laki-laki itu. “Aku akan gantungkan di kamar Ibu supaya Ibu bisa melihatnya setiap hari.”

Baekhyun menjungkitkan senyumnya. “Pasti kamarnya jadi cantik,”

A Young ikut tersenyum dan membayangkan betapa unik dan kerennya kamar ibunya nanti. “Iya, kan? Ibu bisa setiap hari melihatnya dan terus mengharapkan apa yang diinginkannya,”

“Aku akan bantu menggantungnya di kamar Ibu,” kata Baekhyun.

A Young menoleh. “Kenapa? Bukannya Sunbae tak percaya akan ini?”

“Aku tidak percaya akan hal ini,” jawabnya. “Tapi aku percaya padamu.”

A Young diam, menunggu kata selanjutnya dari Baekhyun.

“Saat pertama kali mendengar Ibu sakit, aku merasa kehilangan harapan. Aku tidak bisa leluasa menemuinya semauku. Aku tidak bisa lagi menemukannya memasak makan malam saat aku pulang sekolah. Jadi aku membuatnya,” Baekhyun menunjukkan origami yang sudah ia buat. “Aku membuatnya hingga seratus buah, tapi Ibu tak kunjung sehat. Jadi aku pikir, apa mungkin aku membuatnya terlalu sedikit? Aku melanjutkannya hingga sampai seribu buah, tapi yang kudapat adalah Ibu tak akan pernah keluar dari rumah sakit. Karena itulah … aku mencoba untuk berhenti percaya pada hal ini.”

Baekhyun menoleh dan menatap A Young. “Aku bersyukur kau bisa menemani Ibu dan aku membenci diriku yang masih belum bisa meluangkan waktu untuk Ibu. Karena dirimu, Ibu jadi lebih banyak bicara, melupakan rasa sakitnya, dan mulai banyak tertawa. Namun saat bersamaku, ia hanya penuh dengan rasa khawatir karena begitulah caraku menatapnya. Sedangkan dirimu selalu menatapnya dengan sinar positif sehingga Ibu jadi lebih positif. Aku tidak percaya pada origami ini, tapi aku percaya padamu yang bisa membuat ibuku jadi lebih baik.”

A Young menatap Baekhyun dalam diam dengan pelupuk matanya yang sudah dipenuhi dengan air. Wajah lelaki itu bahkan mulai mengabur di pandangannya. Baekhyun mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala A Young yang membuat gadis itu tertegun.

“Aku selalu mengagumi matamu yang seperti danau kaca. Kali ini … benar-benar tampak seperti danau, kan?”

A Young mengedipkan matanya karena bingung dan satu tetes air mata lolos dari pelupuknya dan mengalir menuruni pipinya lalu jatuh ke pangkuannya. Gadis itu terkejut dan mencoba menghapus air matanya, namun tangan Baekhyun menghalanginya. Lelaki itu membiarkan dirinya menghapus air mata A Young yang masih terus menetes, sementara gadis itu diam memandanginya.

“Jangan menangis, aku jadi merasa bersalah karena itu,” ujar Baekhyun pelan.

“Ah, maaf,” kata A Young sambil menghapus air matanya.

“Aku bisa mempercayaimu, kan?” tanya Baekhyun yang langsung disambut anggukan A Young.

“Aku mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi Sunbae bisa mempercayaiku,”

Baekhyun terkekeh. “Aku yakin itu,”

Mereka berdua diam dengan pandangan yang saling tertuju satu sama lain. Baekhyun mengangkat tangannya, berusaha menyelipkan rambut yang menggantung bebas ke belakang telinga gadis itu. “Kau tadi bilang bahwa kau punya cake, kan? Bagaimana kalau kita makan bersama?”

Ekspresi A Young langsung berubah cerah. Gadis itu langsung beranjak. “Aku akan buat teh juga,”

Baekhyun tersenyum saat melihat gadis itu keluar dengan semangatnya. Ia sebenarnya terkejut dengan perubahan ekspresi gadis itu yang begitu cepat, namun itu sedikit menenangkannya karena berarti gadis itu tidak perlu sedih berlarut-larut. Pandangan Baekhyun lalu teralih ke ponsel A Young yang masih menyenandungkan musik klasiknya. Ia meraih benda segiempat itu, bermaksud mematikan musiknya sebelum keluar. Namun, ia lantas terdiam saat mendapati wallpaper gadis itu. Di sana, ia bisa melihat dirinya yang tengah duduk di lantai ruang tamu apartemen mereka dengan kertas di tangan dan kacamata yang membingkai wajahnya. Baekhyun mendengus ketika mendapati rambutnya yang berantakan tak karuan. Tapi diam-diam, ia tersenyum ketika melihat foto itu. Ia hanya tak menyangka jika dirinya yang dijadikan A Young sebagai latar belakang ponselnya. Ia bahkan tidak sadar kapan gadis itu memotretnya.

Walaupun ia tersenyum saat menatapnya, percayalah bahwa hati Baekhyun berbalik dari keadaannya. Ia benar-benar merasa bersalah karena tak bisa mencintai gadis itu sebesar gadis itu mencintainya. Ia ingin belajar, tapi melihat bagaimana cara gadis itu memperlakukannya, hanya semakin membuat Baekhyun merasa nelangsa. Karena sampai kapanpun, ia tidak akan bisa menyamai langkah gadis itu. Ia tidak akan bisa berjalan bersama gadis itu. Gadis itu sudah terlalu jauh darinya.

Apakah ini artinya, ia terlambat untuk datang kepada gadis itu?

.

.

“Maaf, aku harus meneleponmu bahkan saat kau sudah pulang,”

Baekhyun menenggak salivanya dan membenarkan letak duduknya. Ia berusaha menyunggingkan senyum, namun yang keluar adalah senyum kaku. “Tidak apa-apa, Dok. Kenapa memanggil saya?”

Dokter di hadapan Baekhyun mengambil sebuah berkas dari lemari belakangnya. Ia membuka berkas itu, lalu menunjukkan sebuah halaman pada Baekhyun. Di sana, lelaki itu hanya bisa melihat grafik yang terus menurun. Baekhyun tidak mengerti istilah medis, tapi ia jelas tahu apa maksud grafik itu dan mengapa grafik itu terus menurun.

“Aku hanya ingin menunjukkan ini padamu,” kata dokter pribadinya itu. “Keadaannya terus memburuk,”

Langit terasa runtuh di hadapan Baekhyun begitu saja saat kalimat itu muncul di hadapannya. Ia memandang dokter itu tanpa kedip. “Apa maksud Dokter?”

“Pengobatan yang kita jalani, tidak bisa membunuh penyakitnya. Segala yang kita jalani, hanya menunda penyakitnya datang. Dengan kata lain, penyakit itu tetap akan ada dan ibumu harus tetap berada di sini untuk mencegah rasa sakitnya datang.”

Baekhyun berusaha menarik nafasnya, tapi rasanya ia tercekat. Pandangannya menggelap sesaat. “Lakukan apapun, Dok, demi ibuku. Berapapun harganya, lakukan saja asalkan ibuku baik-baik saja!”

Dokter itu menarik nafasnya perlahan. “Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi kita tidak bisa bergantung pada hal itu, Baekhyun. Ibumu … tidak punya waktu lebih banyak dari yang kita inginkan,”

“Kenapa Dokter bicara begitu?!” teriak Baekhyun.

“Aku seorang Dokter, Baekhyun. Aku harus mengatakannya padamu. Lebih baik aku begini daripada aku diam, lalu kau harus menerima takdir yang belum kau persiapkan. Semuanya memang ada di tangan Tuhan, tapi di sini, kami tim dokter hanya memberikan prediksi sesuai yang kami pelajari,” Dokter itu menghela nafas. “Agar kau bisa bersiap menerima kenyataannya,”

Baekhyun mencengkram surainya. Selama hidupnya, ia tahu harus bersiap akan kemungkinan terburuk, tapi ayolah, siapa yang rela akan hal itu? Bagaimana bisa kau hanya tinggal menghitung hari menunggu orang yang paling berharga bagimu menghilang selama-lamanya dalam hidupmu? Baekhyun … tak tahu harus apa ….

“Jangan menghukum dirimu akan hal ini. Teruslah hidup untuk ibumu,” kata dokter itu pelan.

“Aku akan pulang,” kata Baekhyun sambil bangkit dari duduknya. Ia membungkuk pada dokter itu. “Selamat malam, Dok,”

Dokter itu mengangguk dan mengantarkan Baekhyun hingga sampai pintu ruangannya. Sementara laki-laki itu, ia merasa berjalan tanpa nyawa. Orang yang berlalu-lalang di dekatnya terasa tidak nyata. Mereka semua hanya seperti bayangan baginya. Tiba-tiba, langkah Baekhyun terhenti di depan sebuah pintu. Ia menatap ke dalam dari kaca yang ada di pintu itu. Ruangan di dalam itu sedikit temaram karena hanya lampu di dekat ranjang yang hidup. Ia mendorong pintu itu dan melangkah masuk. Di sana, ia bisa melihat seorang wanita yang tidur pulas di atas ranjang. Kerutan di keningnya yang biasanya selalu muncul saat ia kesakitan tampak hilang karena tidurnya yang damai. Baekhyun hanya diam memandangi wanita itu tanpa melakukan apapun. Ia menarik kursi, berusaha agar tidak menimbulkan suara, lalu menghenyakkan dirinya di atas kursi yang sudah bertahun-tahun ia duduki. Saat menatap wanita itu, kenangan-kenangan akannya terlintas di depan Baekhyun. Bagaimana cara wanita itu menyambutnya saat pulang sekolah, bagaimana ia dengan sabar melerai dirinya dan Chanyeol saat mereka ribut, bagaimana ia begitu tulus menyayangi keluarga barunya, bagaimana … ia mengabaikan dirinya sendiri demi orang lain.

Baekhyun membekap mulutnya dengan tangan yang ia topangkan ke ranjang. Satu tetes bening keluar dari sudut matanya sementara ia menahan agar dirinya tak bergetar. Berapa lama lagi untuknya bersiap? Berapa lama lagi saat ia tak akan bisa menatap wajah wanita ini? Bahkan bayangannya pun? Semua perasaan yang diwakilkan dari tetes air matanya terus keluar. Baekhyun tak bisa menahannya. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan. Kenapa ia harus terus menderita? Kapan dirinya bisa bahagia? Apakah sebuah dosa jika dirinya bisa berjalan dengan ringan di atas dunia ini?

Baekhyun mengulurkan tangannya. Ia menyentuh wajah wanita itu dengan telunjuknya. Perlahan dan lembut, takut wanita itu terbangun dan nantinya ia harus menjelaskan mengapa ia ada di sini dengan tangis di wajahnya, yang akan berakhir dengan kekhawatiran wanita itu. Sepanjang menyentuh wajah wanita itu, Baekhyun harus menggigit bagian dalam bibirnya untuk mencegah tangisnya meledak. Namun, belum sampai ia menyelesaikannya, satu tangis keluar dari dirinya. Dua, tiga, bahkan dirinya tak tahu kapan ia mulai sesegukan. Ia tak bisa menahan hal ini lebih lama lagi. Perasaan takut dan khawatirnya tidak bisa ia cegah lebih lama lagi. Jadi, kali ini, biarkan saja ia mengeluarkannya. Biarkan perasaan itu sedikit hilang.

Di dalam ruangan yang temaram, hanya ada suara tangis yang terdengar di dalam sana.

Sebuah tangis putus asa yang hanya bisa dipahami oleh orang sepertinya.

.

.

A Young bersenandung kecil sambil menyelesaikan bilasan terakhir cuci piringnya. Ia meletakkan piring itu pada rak pengering dan melepaskan sarung tangan karet warna merah muda miliknya. A Young menatap jam di ruang tamu dan jarum pendek di angka dua belas tertangkap matanya. Ia mendesah lalu melirik pintu apartemennya yang masih tertutup. Tidak tampak tanda-tanda akan dibuka dalam waktu dekat. Ia sebenarnya bingung saat Baekhyun mengatakan akan bertemu temannya sebentar dan tidak akan lama. Tapi dua jam sudah berlalu, jadi ke mana lelaki itu?

Bosan, A Young melangkah ke sofa ruang tamu dan menghidupkan televisi. Ia tidak tahu apakah ada acara yang bagus jam segini, tapi mari kita lihat. Saluran televisi terus berganti dan sepertinya tidak ada yang tampak bagus di mata A Young. Beberapa menampilkan film yang tengah diputar, tapi A Young tak menyukai film yang ditonton dari tengah. Ia melanjutkannya lagi dan kali ini terhenti di saluran yang menampilkan acara National Geographic Wild edisi Kutub Utara. Saat sekelompok penguin lewat, A Young meletakkan remote dan memilih untuk menonton ini saja. Ia rasa acara ini bisa membunuh waktu sembari menunggu Baekhyun pulang.

Tak berapa lama kemudian, suara pintu terbuka menyambangi rungu A Young. Ia menoleh dan mendapati Baekhyun yang baru masuk. Rambut lelaki itu basah. Beberapa bagian dari mantel warna cream-nya berwarna lebih gelap. A Young memutar pandangannya ke jendela dan mendapati titik air yang menghiasinya. Di luar hujan? Kenapa ia tak sadar?

A Young segera bangkit dan menuju Baekhyun yang tengah mengayunkan tungkainya masuk. “Sunbae kehujanan? Aku akan ambilkan handuk, ya,”

A Young diam sejenak menunggu respon laki-laki itu, tapi Baekhyun hanya diam memandanginya. Melihat itu, A Young langsung bergerak ke kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti, kalau perlu menyiapkan air hangat supaya laki-laki itu tidak sakit. Baru ia hendak melangkah, Baekhyun menarik tangannya, lalu memeluk A Young dari belakang. Gadis itu terkejut dan merespon untuk melepaskan, tapi Baekhyun mempererat pelukannya. Lelaki itu bahkan menyenderkan dagunya pada bahu A Young.

“Biarkan aku begini sebentar,” bisik laki-laki itu.

A Young tidak tahu harus berbuat apa, jadi ia diam saja sambil mencoba menetralkan detak jantungnya. Kalau sampai laki-laki itu mendengar, bukankah rasanya sangat memalukan? A Young bisa merasakan tubuh laki-laki itu basah. Hela nafasnya terdengar teratur di telinga A Young. Kenapa Baekhyun begini? Apa ia punya masalah?

“Su, Sunbae … kenapa?” tanyanya gugup.

Baekhyun menggeleng pelan. “Aku hanya ingin memelukmu saja,”

Baiklah, satu kalimat itu mampu membuat suhu tubuhnya naik beberapa derajat. Sepertinya yang akan sakit bukan laki-laki ini, tapi A Young. “Teman Sunbae … bagaimana?”

“Baik,” jawab Baekhyun.

A Young mengangguk pelan dan kembali diam. Ia bingung ingin menanyakan apa karena sepertinya laki-laki ini tak berniat menjawab. Sedangkan Baekhyun, ia hanya berusaha mengontrol emosi agar tak meledak. Saat pertama melihat A Young, ia bisa merasakan dadanya sakit dan rasanya ia bisa menangis detik itu juga. Tapi saat memeluknya, Baekhyun bisa bernafas sedikit. Ia tidak tahu kenapa saat ia melakukannya, ia bisa merasa sedikit lebih baik.

Baekhyun semakin menenggelamkan dirinya. Ia bisa mencium wangi vanilla yang menguar dari tubuh A Young dan itu membuatnya bisa tenang sejenak. Ia tidak tahu ini apa, tapi sepertinya memeluk gadis ini adalah pilihan yang tepat.

“Kau sangat harum,” ujar Baekhyun pelan. Dirinya tidak tahu bahwa kalimat tadi mampu memanaskan pipi A Young.

“Sunbae ada masalah?” tanya A Young.

Baekhyun tertegun sejenak, tapi kemudian menggeleng. “Ani,”

“Lalu kenapa … memelukku?” tanya A Young pelan.

Baekhyun terkekeh kecil. “Mulai sekarang aku akan lebih sering memelukmu supaya kau menganggap ini biasa,”

“Bu, bukan begitu maksudku,” sanggah A Young cepat.

Ara,” kata Baekhyun. “Saat ini aku cuma membutuhkanmu saja,”

A Young diam lalu mulai sibuk dengan pikirannya. Ia benar-benar merasa kalau lelaki ini memiliki masalah. Apa dengan temannya yang ia temui tadi? Atau …

A Young mengangkat tangan kirinya lalu menyentuh surai Baekhyun. Ia mengelusnya perlahan, membuat lelaki di belakangnya itu tertegun. A Young tersenyum kecil kala surai itu dielusnya. Rambut Baekhyun basah, tapi ia bisa merasakan bahwa rambutnya benar-benar lembut. “Jika Sunbae ada masalah, ceritakan saja padaku. Aku mungkin tidak bisa membantu, tapi setidaknya aku bisa mendengarkan. Terkadang, mengeluarkan perasaan kita akan lebih baik daripada hanya memendamnya,”

Dan itulah yang laki-laki itu lakukan. Setelah pulang dari rumah sakit, hujan mengguyurnya saat Baekhyun sampai di parkiran. Ia melajukan mobilnya di dalam derasnya hujan lalu terhenti di depan jembatan. Tidak, tidak, ia sama sekali tak berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Ia hanya ingin berteriak di sana, mengatakan mengapa hidup tidak adil padanya dan kenapa hidup harus mengambil ibunya ketika ia berharap ibunya bisa keluar dalam keadaan sehat?

Baekhyun mengangguk perlahan. “Aku akan ingat itu,”

A Young tersenyum dengan tangan tetap mengelus surai laki-laki itu. Baekhyun memejamkan matanya, merasakan lembutnya tangan gadis itu kala menyentuhnya. Rasanya nyaman dan membuat perasaannya lebih baik. Ia memang tidak bisa melupakan kejadian barusan, tapi perasaannya tidak sekacau tadi.

Baekhyun mengangkat tangannya, menyentuh tangan A Young yang mengelus rambutnya, lalu menggenggamnya. Tangan gadis itu terasa pas di genggamannya dan entah kenapa ia suka itu. Gadis itu sepertinya terkejut karena sekarang ia berbalik menatap Baekhyun.

“Kenapa?” tanya A Young bingung.

Baekhyun diam sambil memandangi tangan mereka yang saling bertaut. Ia kemudian mengulurkan senyumnya. “Terima kasih karena sudah membuatku merasa lebih baik,”

A Young mengangguk lalu tersenyum lebar. “Jika ada apa-apa, katakan saja padaku,”

“Oke,”

“Ah, aku akan siapkan air hangat untuk Sunbae. Kalau berdiam diri begitu, Sunbae akan sakit,” kata A Young.

Baekhyun menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Hujan tak akan membuatku sakit,”

Karena ada lagi yang membuatku lebih sakit.

A Young mengerutkan keningnya, sebenarnya sangsi akan perkataan Baekhyun. “Kalau gitu aku siapkan baju ganti, oke?”

Baekhyun terkekeh. “Aku bisa ambil sendiri,”

“Kenapa? Aku hanya ingin membuat Sunbae lebih baik,” kata A Young.

Baekhyun tersenyum simpul. Ia menarik tangan A Young yang digenggamnya, lalu melingkarkan tangannya yang bebas di sekeliling pundak A Young. “Jika ingin membuatku lebih baik, izinkan aku untuk lebih sering memelukmu,”

A Young yang terkejut hanya bisa diam. Dirinya tersembunyi dengan sempurna dalam dekapan laki-laki itu. Badan laki-laki itu memang basah, tapi A Young bisa merasa hangat.

“Sunbae,”

“Hem?”

“Kau terbentur di mana sih, sampai melakukan ini padaku?” tanya A Young polos.

Baekhyun terkekeh, tapi enggan melepas pelukannya. “Tidak terbentur di mana-mana. Aku melakukannya dengan sangat sadar. Aku dengan sadar memeluk Go A Young,”

Bolehkah A Young menyukai bagaimana cara lelaki itu menyebut namanya dengan lengkap?

“Dirimu benar-benar kecil dan hangat,” ujar Baekhyun sambil menarik A Young lebih dalam ke pelukannya. Ia memejamkan matanya, membiarkan rasa hangat gadis itu menenangkannya. Baekhyun juga baru sadar kalau gadis itu benar-benar mungil dalam dekapannya. Ia bahkan yakin mantel yang ia gunakan bisa membungkus mereka berdua. Sedangkan A Young, gadis itu setengah mati menyembunyikan senyumnya. Bersyukurlah ia bahwa senyumnya tersembunyi di balik bahu lelaki itu. Ia tidak tahu apa maksud lelaki itu melakukan hal-hal di luar pemikirannya tadi, tapi ia bisa merasakan bahwa laki-laki ini tulus melakukannya. Seolah-olah ia benar-benar membutuhkannya.

Tindakan Baekhyun ini, apakah sudah bisa dikatakan bahwa ia membuka hatinya? Hah, munafik sekali dirinya jika ia mengakui itu. Ia belum merasakan apapun yang seharusnya ia rasakan pada gadis ini, tapi rasa nyaman gadis ini mengambil alihnya. Untuk di saat-saat seperti ini, Baekhyun benar-benar membutuhkan rasa hangat, kebebasan, dan pastinya kenyamanan yang ia dapat dari gadis ini. Ia menyukai bagaimana ia bisa mencium wangi menenangkan kala memeluknya, bagaimana tangan gadis ini pas dalam genggamannya, dan bagaimana tubuh mungil gadis ini sempurna dalam dekapannya. Ia hanya membutuhkan itu untuk membuatnya merasa lebih baik. Karena sekali saja, Baekhyun ingin tahu bagaimana rasanya lepas dari rasa khawatir. Dan sepertinya gadis ini jawabannya.

Boleh bukan, jika ia mengatakan bahwa ia membutuhkan pelukan gadis ini?

.

.

To be continue

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Take You Home [Ninth]”

  1. Hwaaaaaa author thank you so muchie huhu demi gue selalu search cerita ini disini saking ga sabar lanjutan ceritanya hahaha. Semangat ya suka banget sama ceritanya…haduh greget sama baek.. bikin dia kapok dong hahaha

  2. Baek.. ni mohon mohon maaf ni lu kalo kagak nyadar2 nyaman sama a young gue santet juga dah LOL…thanks ya author udah update ceritanya. Semangat terus updatenya 😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s