Maliciously Missing — Len K [Chapter 02]

 

Maliciously missing

(.n)people who, for whatever reason, decide they simply don’t want to be found

Ketika Junmyeon merasa hidupnya sudah lengkap—pekerjaan yang memberinya kestabilan finansial (walau punya jam kerja yang gila) serta rumah yang selalu hangat karena keberadaan kekasihnya—tiba-tiba sebuah kejutan datang; Choi Minrin, kekasihnya, hilang tanpa sebab dan jejak.

Kenapa Minrin menghilang begitu saja ketika hubungan mereka baik-baik saja?

Apa alasan di balik menghilangnya Minrin?

Siapkah Junmyeon menghadapi fakta-fakta yang akan menyambutnya?

 

 

MALICIOUSLY MISSING

 

 

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied; I own the plot. This is a work of fiction. Names, characters, businesses, places, events, and incidents are either the product of the author’s imagination or used in fictitious manner. Any resemblance to real persons, living or dead, is unintentional and purely coincidental. No profit taken from this work

 

 

Starring: Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC), Oh Sehun EXO, etc | Rate: T | Genre: Drama, Mystery

 

 

Special thanks to Kak IRISH for the poster and Kak Liana  for being my beta

 

WARNING!!

Non-canon!AU, possibly OOC, typo(s). Setting take place in Indiana, USA. Rate may changes. Additional casts to be added. I did the research before related to missing person’s cases and Indiana state itself, and other things in this fiction, but still, I’m sorry if you find some inaccuracy.

 

 


 

Junmyeon mengawali pagi harinya dengan dua venti americano untuk membuatnya tetap terjaga dan fokus, walau ia tahu mungkin kopinya tidak akan banyak membantu. Semalam, Junmyeon tidak bisa tidur karena pikirannya melayang pada keberadaan Minrin yang masih belum diketahui. Sudah ia coba berbagai macam cara untuk menghentikan berbagai macam skenario di kepala, tapi sia-sia.

Tanpa pemuda Asia itu sadari, hari sudah pagi—yang berarti ia harus berangkat kerja. Bisa saja Junmyeon meminta izin untuk tidak masuk barang sehari atau dua hari, tetapi meminta izin dengan mendadak baginya bukanlah suatu tindakan profesional, terlebih jika ia dalam keadaan sehat—secara fisik, karena psikisnya mulai bermain trik. Lagi pula, ia yakin jika dirinya akan semakin menggila jika tetap tinggal di rumah dan entah akan melakukan apa nantinya. Meneror kantor polisi untuk segera menemukan Minrin, mungkin?

“Jun, kau terlihat kacau. Ada apa?” Peter Jones, si pirang rekan kerja Junmyeon bertanya. Baik ekspresi maupun nada suaranya menyiratkan kekhawatiran.

Ada sedikit rasa kesal di hati Junmyeon ketika Peter bertanya. Ia tahu Peter khawatir dan bermaksud baik, tetapi ia tidak perlu orang lain untuk menekankan betapa berantakan keadaannya.

“Aku memang sedang kacau.” Junmyeon tersenyum lemah sebelum membuka jurnalnya, mengecek siapa saja pasien yang harus ia follow up hari ini.

Peter menyeruput latte di tangannya. “Kenapa?”

Sungguh, Junmyeon sedang tidak ingin membahas kekasihnya yang menghilang secara absurd dan tiba-tiba, sementara gagasan bahwa dirinyalah penyebab menghilangnya Minrin mulai meracuni, di mana hal itu juga terasa tidak masuk akal. Sebenarnya, Junmyeon takut jika memang dialah penyebab dari peristiwa ini.

Peter Jones masih duduk manis di kursinya, tepat di samping Junmyeon. Sesekali ia menyeruput latte-nya dengan suara yang cukup keras untuk mengisi keheningan di sana. Netranya tidak bisa lepas dari Junmyeon, mengisyaratkan jika pria pirang dengan mata biru laut itu menanti jawaban yang akan keluar dari mulut si Kim, dan Junmyeon tahu betul watak Peter yang persisten dipadu dengan ambisius: tidak akan menyerah sebelum apa yang diinginkan ia dapatkan, maka kemudian dengan lidah yang kelu, Junmyeon buka suara.

“Minrin menghilang.” Hanya dua kata itu yang mampu lolos dari mulut Junmyeon.

“Apa?!” Latte di mulut Peter hampir tersembur. “Kau serius?”

Kala Junmyeon hanya membisu, Peter tahu jika rekannya itu benar-benar serius.

“Sejak kapan?” Kursi yang diduduki Peter bergeser mendekat ke arah Junmyeon.

“Semalam.” Pena di tangan Junmyeon berputar-putar. “Minrin selalu memberiku kabar jika akan pulang terlambat, tapi semalam tidak ada kabar apa pun darinya, lantas aku menghubungi siapa-siapa saja yang mungkin mengetahui keberadaan Minrin. Tidak ada yang tahu keberadaannya, Peter. Kekasihku terakhir kali terlihat di restoran, dia jadi orang yang paling akhir pulang, lalu tiba-tiba ia menghilang begitu saja! Ini sungguh tidak masuk akal!” Kepala Junmyeon tertunduk dan tangan yang tadi bermain pena kini mencengkeram rambut hitamnya.

“Kau sudah melapor pada polisi?”

“Tentu,” jawab Junmyeon dengan nada tidak suka. Apakah Peter menganggap dirinya orang bodoh yang tidak tanggap terhadap situasi? “Kenapa Minrin menghilang, Peter? Aku khawatir setengah mati di sini memikirkan keselamatannya. Semalaman aku meyakinkan diriku bahwa Minrin baik-baik saja di suatu tempat dan bukannya jadi korban penculikan atau yang lebih parah, pembunuhan, sampai aku tidak bisa tidur.”

“Jun, she’ll be okay.” Tangan besar Peter mengusap pundak Junmyeon. “Kau dan aku tahu bahwa Minrin tidak selemah itu. Dia bahkan bisa karate dan pernah dengan sukses membantingku. Ingat?” Peter mencoba berkelakar, tetapi tidak ada yang tertawa.

“Aku harap begitu,” balas Junmyeon pelan. “Bagaimanapun aku tetap butuh alasan kenapa Minrin menghilang. Kepergiannya yang begitu tiba-tiba membuatku cemas dan mulai bertanya-tanya, apakah aku sudah melakukan suatu kesalahan besar tanpa aku sadari? Demi Tuhan, Peter, kami baru saja kembali dari liburan sehari di Danau Michigan dan semuanya baik-baik saja sampai Minrin menghilang.”

“Oke, oke, tenanglah, Jun.” Peter menyodorkan kopi milik Junmyeon agar diminum pemiliknya sebelum menjadi semakin panik dan mungkin membuat keributan walau Peter tahu, Junmyeon bukan tipe orang yang mudah lepas kendali.

Satu venti americano sudah tandas dan rasa-rasanya agak aneh melihat bagaimana Junmyeon tidak sepanik tadi. Kafein tampaknya bekerja dengan cukup unik pada Junmyeon. Dua dokter tersebut kini saling diam.

“Menurutku, sebagai rekan kerja dan ‘tempat sampah’-mu, penyebab menghilangnya Minrin bukan dirimu,” kata Peter memecah keheningan. Junmyeon langsung memandangnya lurus, tepat ke kedua matanya. “Maksudku, dari cerita-ceritamu selama ini, aku bisa tahu bahwa hubungan kalian baik-baik saja. Tentu ada konflik di sana-sini, tapi kalian berdua bisa mengatasinya dengan baik. Bisa kulihat bahwa kalian berdua saling mendukung satu sama lain. Kuakui kalian pasangan yang punya kadar glukosa berlebih dan serius, Bung, aku cemburu pada kalian.”

Senyum yang ditampilkan Junmyeon membuat Peter merasa sedikit lega. Tentu ia juga khawatir mengenai keberadaan Minrin, tapi dirinya tidak akan berguna jika ikut panik.

“Tapi, yah … aku tidak tahu jika ada yang kau sembunyikan dariku,” lanjut Peter sambil mengangkat bahu cuek.

“Maksudmu?”

“Seperti, yah, kau tahu, kehidupan seksmu dengan Minrin.”

“Jones!” Suara Junmyeon meninggi. “Aku masih punya satu venti kopi untuk kusiramkan padamu.”

“Oke! Aku minta maaf! Sungguh!” Dua tangan Peter terangkat ke udara. “Tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Bagaimanapun aku adalah orang luar dalam hubungan kalian dan tidak berhak untuk mengetahui semua yang terjadi dalam hubungan kalian.”

“Bagus kau sudah menyadarinya.” Masih tersirat rasa kesal dalam diri Junmyeon, tetapi dalam hati ia tertawa mengejek. Kehidupan seks? Jika orang-orang berpikir dirinya sudah melewati malam-malam panas bersama Minrin, itu adalah kesalahan besar. Memang benar hubungannya dengan Minrin sudah berjalan satu setengah tahun, setengah tahun terakhir mereka habiskan dengan tinggal serumah, tetapi mereka sama sekali belum melakukan apa yang orang lain pikirkan. Hanya ada kontak fisik sebatas pelukan, ciuman, dan cumbuan singkat. Tidak lebih. Layaknya seorang pria sejati, Junmyeon menghormati keputusan Minrin untuk tidak berhubungan badan.

Sejak semalam Junmyeon memutar memorinya, mencari-cari di manakah ia mungkin berbuat suatu kesalahan. Mungkinkah semua kesalahan yang pernah ia perbuat perlahan-lahan terakumulasi walau kata maaf telah terucap dan diterima?

Sebut Junmyeon sombong, tetapi satu setengah tahun hubungannya dengan Minrin, ditambah satu tahun perjuangan untuk meluluhkan tembok pertahanan Minrin, membuat ia mengenali pribadi kekasihnya. Wanita bermarga Choi yang menjadi ratu di hatinya itu bukanlah orang yang pendendam. Apa yang sudah berlalu, biarlah berlalu, salah satu prinsip Minrin yang Junmyeon tahu.

“Bagaimana jika … memang benar aku penyebabnya?”

Peter terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kau tidak akan mengetahuinya sebelum Minrin mengatakannya secara langsung, Jun. Jangan bebani pikiranmu.”

“Aku tidak membebani pikiranku. Aku hanya memikirkan salah satu kemungkinan yang akan terjadi dan apa yang harus kulakukan.” Junmyeon bersikeras.

“Itu yang disebut dengan membebani,” cibir Peter. “Kau memikirkan hal yang belum kauketahui jawabnya secara berlebihan. Jika memang kaulah penyebabnya, yang harus kau lakukan adalah membicarakannya dengan Minrin layaknya orang dewasa.”

Tidak ada balasan dari Junmyeon. Dokter itu kembali tertunduk, tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

“Aku turut prihatin, Jun, dan sungguh, aku mengerti betapa khawatirnya dirimu, tetapi kita punya banyak pasien yang sudah menunggu dan aku tidak ingin kau mendapat teguran.”

“Kau benar.” Junmyeon mengikuti rekannya yang sudah berdiri untuk keluar ruangan dan mulai bekerja.

 

 

Pekerjaan hari ini terasa amat berat bagi Junmyeon. Ia bertanya-tanya kenapa pasien selalu membeludak di hari Kamis. Ditambah kejadian menghilangnya Minrin yang menyita sebagian besar perhatiannya, semua energinya serasa dikuras habis. Buktinya ia hampir saja terjatuh di lorong rumahnya jika ia tidak dengan cepat bersandar pada tembok. Jam makan siang yang hanya ia lewatkan dengan sebuah apel dan minuman isotonik jelas memperparah kondisinya.

Sebagian kecil dari diri Junmyeon berharap ada kejutan yang menantinya saat pulang, seperti ia yang tiba-tiba menemukan Minrin sibuk memasak di dapur dan menyambutnya dengan senyuman manis, atau kekasihnya itu sudah tertidur di kamar mereka dan Junmyeon bisa mengecup kening Minrin sebelum melingkarkan tangannya pada tubuh kekasihnya. Mungkin juga sang pujaan hati tengah menonton serial yang sedang mereka ikuti di Netflix, tertawa-tawa tanpa rasa bersalah, dan semua rasa cemasnya akan luruh saat ia didekap erat oleh Minrin. Namun,  harapan tinggallah harapan. Hanya ada rumah yang sunyi dalam remang-remang cahaya yang menyambut Junmyeon dan segala kelelahannya, sebuah kenyataan pahit yang masih Junmyeon coba untuk terima.

Junmyeon membiarkan air hangat merilekskan otot-ototnya sebelum merebahkan diri pada queen size bed miliknya. Hari memang masih sore, tapi tubuh lelah pria berambut hitam itu lebih memilih tempat tidur ketimbang sofa. Tangannya tanpa sadar terjulur dan meraba tempat kosong di sampingnya. Tempat yang selalu hangat ditempati Minrin kini terasa dingin dan kosong entah sampai kapan. Tanpa Junmyeon minta, alam mimpi sudah menjemputnya.

Ketika Junmyeon terbangun, tengah malam sudah lewat. Perutnya berbunyi semakin kencang dan ia memutuskan untuk memesan pizza. Dia tidak sempat mampir ke Walmart untuk berbelanja—Minrin selalu melakukannya, dan terkadang jika ada waktu, ia dan Minrin akan memilih belanja bersama sebagai jadwal kencan mereka. Mungkin mulai sekarang, Junmyeon harus kembali sendirian mengurusi dapur dan asupan makanannya, terjebak dalam lingkaran setan makanan cepat saji dan hidangan-hidangan praktis yang bisa disajikan dengan waktu di bawah 15 menit, juga hampir pasti, tidak teraturnya jadwal bersantap. Bukan hal yang Junmyeon inginkan, tapi apa ada pilihan lain untuknya?

Beruntung pesanannya datang tidak lama kemudian. Barangkali dialah satu-satunya orang yang memesan pizza ukuran jumbo dengan segala topping yang terlintas di kepalanya—daging sapi, gorgonzola, apel, bawang merah, dan ekstra keju—di tengah malam begini. Sembari menikmati makan malamnya yang sepi, Junmyeon mengecek ponselnya. Siapa tahu ada hal yang menarik, terlebih lagi, kabar mengenai Minrin.

Namun, lagi-lagi ia dikecewakan. Tidak ada hal yang menarik. Hanya seonggok pesan dari rekan-rekan kerjanya dalam grup serta pesan suara dari Peter yang Junmyeon malas untuk membukanya. Tidak ada kabar mengenai Minrin, baik itu dari pihak kepolisian maupun siapa saja yang sekiranya sempat mengetahui keberadaan Minrin.

Junmyeon tidak hilang akal. Ia tahu ia tidak bisa berdiam diri begitu saja menanti kabar. Dia juga harus aktif mencari jejak Minrin dengan caranya sendiri dan hal pertama yang dilakukannya adalah membuka setiap media sosial yang dimiliki kekasihnya itu. Di zaman seperti sekarang ini, media sosial sudah menjadi seperti buku harian seseorang, bukan? Beruntung kekasihnya bukan orang yang maniak media sosial dan punya akun di setiap platform.

Minrin memiliki akun LinkedIn untuk menunjang karirnya, sementara untuk mengikuti perkembangan sang idola dan berinteraksi dengan fans-fans lain, Minrin memiliki akun Twitter. Terakhir, layaknya generasi milenial pada umumnya, kekasihnya juga memiliki akun Instagram. Junmyeon mulai menjelajahi akun-akun milik Minrin, dimulai dari akun LinkedIn.

Tidak ada informasi yang agaknya dapat membantu Junmyeon menemukan keberadaan Minrin. Semua yang ada di profil LinkedIn Minrin sudah ia hafal di luar kepala: lulusan Westborough High School, salah satu sekolah unggulan di Boston, tempat kekasihnya berasal, lulus dari Le Cordon Bleu dengan beasiswa, lalu ada sederet pengalaman magang dengan ulasan baik sebelum mulai meniti karir dari commis chef hingga sekarang menjadi head chef di Provision, salah satu restoran terkenal di Indianapolis.

Beralih ke akun Twitter Minrin, yang Junmyeon temukan hanyalah ‘sisi lain’ dari kekasihnya itu, seperti hal-hal yang berhubungan dengan dunia fangirl. Kekasihnya itu fans berat BIGBANG, terutama Taeyang. Sudut-sudut bibir Junmyeon terangkat sedikit akan kenangan saat Minrin tidak henti-hentinya menumpahkan rasa ‘patah hati’-nya saat berita Taeyang akan menikah terkuak di media. Junmyeon harus menyiagakan telinga dan bahunya. Minrin menangisi idolanya keras-keras. “Aku tidak menyangka jika hari di mana Taeyang akan menikah akan datang! Aku belum siap!”

Jangan tanya apakah Junmyeon cemburu atau tidak. Tentu saja ia cemburu! Dia adalah kekasih Minrin, tetapi Minrin justru menangisi pria lain yang akan menikah dan sudah jelas tidak mengetahui kalau Minrin ada. Yang benar saja?! Akan tetapi, dia tahu jika fase seperti itu akan berlalu. Pada akhirnya, meski patah hati, Minrin tetap berharap agar Taeyang bahagia dengan Min Hyorin dan Minrin akan kembali padanya, memeluknya, menciumnya, seraya berbisik, kau adalah kekasih terbaik. Kalimat itu tidak hanya keluar sekali-dua kali dan setiap Minrin mengatakan kalimat itu padanya, ada rasa bangga yang hinggap di hati Junmyeon. Tidak mungkin dia penyebab semua ini, kan, kalau begitu?

Yang terakhir adalah akun Instagram Minrin. Junmyeon merasa berada dalam mesin waktu ketika jemarinya terus-menerus menggeser bawah akun Minrin. Tidak ada yang mencurigakan. Ada beberapa selfie Minrin—baik ketika sendiri, bersama teman-temannya, rekan kerjanya, atau keluarganya—lalu foto makanan yang tentu adalah kreasi Minrin, foto-foto pemandangan dan hal-hal berbau estetik, serta foto-foto mereka berdua. Foto terakhir adalah foto mereka berdua di kapal pontoon yang mereka sewa saat pergi ke Danau Michigan. Di foto tersebut, baik Junmyeon maupun Minrin tampak bahagia. Bahkan kekasihnya itu tidak sungkan untuk menciumnya di pipi dan mengeposkannya di Instagram.

Junmyeon cukup lama mengulik tiap-tiap akun media sosial Minrin, tenggelam dalam beberapa kilas balik yang membuatnya merasa emosional dan mengabaikan pizza-nya. Sebelum dia jatuh lebih dalam ke pikirannya, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk muncul di layar, menampilkan nama dan foto Sehun. Setelah menata diri dengan tarik-keluarkan napas satu-dua kali, Junmyeon baru mengangkat telepon tersebut.

“Hei, Sehun.”

O, kupikir kau tidak akan mengangkat teleponku karena sudah tertidur, Hyung.”

“Tidak. Sebenarnya aku baru saja terbangun sekitar …” ponsel Junmyeon ia jauhkan untuk melihat waktu, “… satu jam yang lalu.” Wow, waktu tanpa terasa berjalan dengan cepat.

Begitu ….”

“Ada apa kau menelepon? Apa kau tahu sesuatu mengenai Minrin?”

Ah, maaf, Hyung, belum ada titik terang dari keberadaan Minrin.”

“Hmmm …” Junmyeon bergumam kecewa.

Tapi, tadi pihak kepolisian sempat mendatangi restoran,” sambung Sehun cepat.

“O, ya?” Pizza yang tinggal setengah di tangan Junmyeon tidak jadi ia lahap.

Ya. Tiga orang mewawancarai para staf dapur bergantian saat jam istirahat tiba. Mereka bertanya soal kehidupan kerja Minrin. Kalau kusimpulkan sendiri, tidak ada yang mencurigakan. Memang, rasanya menyebalkan ketika Minrin dalam mode head-chef-yang-serius-dan-galak, tapi ketika ia dalam mode normal, ia baik dan dicintai semua orang. Lingkungan kerja di sini juga kondusif.

                “Mereka juga bertanya padaku mengenai hubunganmu dengan Minrin, mengingat aku adalah orang yang paling dekat dengan Minrin. Pihak kepolisian bertanya soal kemungkinan pacarmu itu menjadi korban kekerasan domestik. Kujawab saja tidak mungkin, aku kenal betul kalian berdua. Sekarang, semua orang di Provision tahu jika Minrin menghilang dan tiba-tiba saja ada rumor aku akan menjadi head chef. Itu berita buruk yang lain,” jelas Sehun panjang lebar.

“Kau tahu? Jika situasi dan kondisinya berbeda, aku akan memberimu ucapan selamat atas dilantiknya kau sebagai head chef yang baru.”

Terdengar erangan frustasi di seberang. “Hyung, aku belum siap menjadi head chef! Terlebih lagi jika semuanya serba mendadak seperti ini. Hal itu masih rumor, belum ada kepastian. Aku berharap Minrin akan segera kembali,” gumam Sehun di akhir kalimat, “lalu aku akan mencincangnya di ruangan beku dan tidak mau membantunya selama sebulan!

Mau tidak mau Junmyeon tertawa kecil mendengar keluh kesah Sehun. Bisa ia bayangkan saat ini pemuda yang lebih muda tiga tahun darinya itu tengah menaruh satu tangannya di depan dada—yang satunya lagi memegang ponsel—sembari mengerucutkan bibir dan dahinya berkerut-kerut.

A, Hyung …”

“Ya?”

Mungkin besok adalah giliranmu untuk diwawancarai oleh pihak kepolisian.”

Ah, Junmyeon tidak bisa melupakan itu, bukan?

“Ya, aku siap.” Benarkah, Junmyeon? “Mungkin polisi juga akan mewawancarai beberapa tetanggaku, seperti Nyonya Sanders, Tuan Crawford, Keluarga Morrison, Keluarga Hernandez, dan entah siapa lagi untuk memberi kepastian apakah Minrin mengalami kekerasan domestik atau tidak.”

Kau tidak perlu khawatir.”

“Tidak, tentu tidak.”

Ada sebuah jeda diisi oleh Sehun yang menguap lebar dan cukup lama. Dia pasti kelelahan, pikir Junmyeon.

Baiklah. Kalau begitu, aku akan tutup teleponnya karena aku sudah sangat mengantuk dan aku mendapat firasat bahwa esok hari akan jadi hari yang saaaangat sibuk bagiku.”

Junmyeon tertawa kecil. “Oke. Selamat tidur, Sehun.”

Kau juga, Hyung, kalau ingin tidur lagi. Tidak, kau harus tidur juga,” balas Sehun sebelum menutup telepon.

Layar ponsel kembali menampilkan foto terakhir dalam postingan Instagram Minrin. Melihat itu, Junmyeon tampak berusaha mengingat sesuatu. Ia merasa harus melakukan sesuatu sebelum mengangkat telepon Sehun tadi, tapi apa?

Ah, benar!

Ia tadi ingin menelepon orang tua Minrin. Siapa tahu mereka mengetahui keberadaan Minrin? Siapa tahu Minrin ternyata pulang ke rumah orang tuanya di Boston? Baru saja Junmyeon akan menelepon calon ibu mertuanya, ia teringat akan sesuatu; tidak mungkin kekasihnya berada di Boston. Tuan dan Nyonya Choi tengah berlibur ke Eropa sejak empat hari yang lalu.  Tidak mungkin juga jika Minrin berada di Boston dan tidak ada satu pun anggota keluarga kekasihnya itu yang mengabari dirinya. Bukannya bermaksud sombong, tapi Tuan dan Nyonya Choi amat menyayanginya dan sudah menganggapnya sebagai putra kedua mereka setelah Choi Siwon, kakak Minrin.

Memang, masih ada kemungkinan Minrin berada di Boston, tapi Junmyeon rasa akan lebih baik jika ia tidak menghubungi kedua orang tua Minrin. Mereka bisa saja langsung panik dan memesan tiket untuk terbang melintasi benua. Seperti mereka bisa dihubungi saja. Waktu liburan bagi orang tua Minrin adalah waktu bebas gadget. Siwon juga tidak ada bedanya. Calon kakak iparnya itu tengah berlibur musim panas ke Korea—bulan madu kedua bersama istrinya dan sungguh Junmyeon tidak sampai hati untuk mengganggu acara mereka.

Mungkinkah aku harus ke Boston?

Namun, satu-dua pertimbangan mengubah keputusan awal Junmyeon untuk tidak menghubungi Siwon atau pergi ke Boston. Pertama, Siwon sebagai kakak Minrin berhak mengetahui kondisi adiknya. Kedua, Junmyeon merasa tidak sanggup pergi ke Boston, belum sanggup menghadapi apa yang entah dihadapinya nanti. Dengan cepat, Junmyeon mengetikkan sesuatu di ponselnya.

 

 

To: Siwon-hyung

Hyung, maaf menganggu liburanmu, tapi aku membawa berita yang kurang mengenakkan. Minrin menghilang sejak kemarin malam dan polisi tengah berusaha mencarinya.

 

 

***

 

 

Benar seperti yang diramalkan Sehun semalam jika polisi akan segera menemui Junmyeon untuk penyelidikan. Sore ini, belum ada lima menit Junmyeon tiba di rumahnya, dua orang polisi sudah bertamu ke rumahnya. Terpaksa pria bermarga Kim itu menerima dua tamunya dengan baju kerjanya dan masih bau obat.

Kedua polisi tadi memberi Junmyeon beberapa pertanyaan dan Sehun benar lagi; pertanyaan-pertanyaan mengenai kekerasan domestik muncul. Dua petugas menggeledah kamar Minrin—yang juga kamar Junmyeon—dan ruangan-ruangan lainnya untuk menemukan petunjuk mengenai menghilangnya Minrin. Dari penyelidikan tersebut, polisi menyimpulkan bahwa Minrin bukan merupakan korban kekerasan domestik dan tidak ada petunjuk apa pun yang tertinggal di kamarnya.

“Jangan khawatir, Tuan Kim. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan Nona Choi,” ujar salah satu petugas ketika ia dan rekannya berada di ambang pintu rumah Junmyeon, bersiap untuk kembali ke markas setelah hampir dua jam menggeledah rumah Junmyeon.

“Tentu, terima kasih.” Junmyeon tersenyum lemah.

Petugas yang sama mengangguk. “Kalau begitu, kami pergi dahulu. Selamat sore, Tuan Kim.”

“Selamat sore, Tuan-tuan.”

Pintu rumah Junmyeon kembali tertutup dan ia dihadapkan kembali oleh keheningan yang mencekik. Baru saja Junmyeon masuk ke kamarnya dan bersiap menanggalkan bajunya, ponselnya yang berada di nakas samping tempat tidur bergetar.

Napas pemuda berambut hitam itu tertahan sejenak. Mukanya tampak makin pucat. Satu kata umpatan hanya mampu ia suarakan dalam hatinya. Choi Siwon meneleponnya dan sungguh, Junmyeon merasa tidak siap. Siwon sangat menyayangi Minrin, maka tidak menutup kemungkinan jika setelah ini, ia akan menghadapi Siwon yang murka.

Pada dering keempat, Junmyeon mengangkat telepon. “Siwon-hyung.”

Junmyeon, apa maksudmu Minrin menghilang?” Suara Siwon menyiratkan kepanikan, tanpa memberi jeda bagi Junmyeon untuk bernafas.

Tamat riwayatmu, Kim Junmyeon.­ Bagaimana ia harus mengatakan semuanya pada Siwon ketika semuanya tidak masuk akal baginya?

Kim Junmyeon, aku butuh penjelasanmu.” Suara Siwon terdengar dingin, penuh penekanan. Ditambah lagi, nama lengkap Junmyeon baru saja diucapkan. Benar-benar gawat.

Junmyeon menghela nafas. Tidak ada jalan untuk lari, maka Junmyeon menjelaskan semuanya dari awal: mulai dari satu minggu sebelum Minrin menghilang di mana tidak ada hal-hal ganjil yang terjadi sampai pada saat dua anggota polisi yang baru saja datang ke rumahnya. Semua Junmyeon ceritakan perlahan-lahan dengan harapan ia akan menemukan barang satu petunjuk saja yang mungkin terlewat, tapi tidak ada petunjuk tidak peduli berapa kali Junmyeon memutar jalan.

Ini tidak biasa,” komentar Siwon setelah mendengar semua penuturan Junmyeon.

“Maka dari itu, Hyung.” Tangan Junmyeon mengusap wajahnya kasar. “Ah, Hyung, aku bermaksud untuk pergi ke Boston. Siapa tahu Minrin—“

Biar aku saja,” potong Siwon.

“A-apa, Hyung?”

Kau ingin ke Boston untuk mengecek apakah Minrin ada di sana atau tidak, bukan?

“Ya.”

Biar aku yang melakukannya. Aku memang baru saja tiba di New York, tapi perjalanan dari New York ke Boston jauh lebih singkat daripada Indianapolis ke Boston.

“Oke, Hyung.” Siwon ada benarnya dan Junmyeon tidak kuasa menolak. “Maaf, kau pasti lelah setelah penerbangan berjam-jam.”

Tidak apa-apa, Jun. Sungguh.

“Ya, kalau begitu aku mengharapkan kabar baik darimu, Hyung.”

“Vice versa, Jun.

 

 

***

 

 

Tanpa terasa sepuluh hari sudah berlalu. Dengan waktu tidur yang semakin kacau bagi Junmyeon, tanpa kabar apa pun mengenai keberadaan Minrin. Sepuluh hari yang lalu pula, setibanya di New York, Siwon bergegas menuju Boston untuk mengecek keberadaan Minrin. Hasilnya sama: nihil, tapi baik ia dan Junmyeon masih berusaha.

Selang dua hari kemudian, orang tua Minrin tiba di Amerika. Atmosfer pasca liburan yang harusnya menyenangkan langsung berubah ketika mereka mendengar berita hilangnya putri mereka. Ibu Minrin adalah yang paling terpukul. Siwon dan ayah Minrin berusaha keras menenangkan beliau dan pemandangan itu membuat hati Junmyeon terasa sakit.

Keempat orang dewasa itu berusaha semampu mereka untuk mencari Minrin, tetapi setelah satu minggu mencari dan menemui jalan buntu, keluarga Minrin beserta Junmyeon mendatangi kantor kepolisian untuk meminta bantuan dan kejelasan mengenai kasus Minrin.

“Kalian bisa berusaha lebih keras!” Suara Siwon meninggi, ditujukan pada dua petugas yang ada di sana. Ayah Siwon sudah meletakkan tangan di pundak putranya agar sang sulung tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat seperti menghajar polisi, misalnya.

“Kami sudah berusaha semampu kami, Tuan Choi.” Salah satu petugas menyahut. “Kami mengerti perasaan Anda sebagai keluarga, tapi kami—kepolisian—juga memiliki prioritas. Penyelidikan ini terbilang cukup sulit akan minimnya petunjuk dan dengan terpaksa kami mengesampingkannya.”

“Beraninya kalian berkata seperti itu.” Rahang Siwon mengeras, matanya berkilat penuh amarah. “Demi Tuhan, kalian polisi! Tidak bisakah kalian melakukan sesuatu—apa pun—untuk mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan adikku?!”

Petugas lain, yang masih Junmyeon ingat sebagai Petugas Ashmore, buka suara. “Seperti yang Petugas Smith katakan, kami sudah berusaha semampu kami untuk mencari petunjuk. Kami telah mendatangi dan mencari informasi di tempat kerja Nona Choi, tempat-tempat yang sering Nona Choi kunjungi, juga tempat tinggal Nona Choi. Tidak ada yang mencurigakan dan semua ini menjadi semakin tidak mudah ketika ponsel dan dompet Nona Choi juga menghilang. Kami bahkan juga sudah mengecek akun bank Nona Choi dan yang kami temukan hanyalah penarikan tunai di bank dalam jumlah yang cukup besar sekitar satu bulan yang lalu, tepat saat gaji Nona Choi turun.” Pandangan Petugas Ashmore kemudian tertuju pada Junmyeon dan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Penarikan tunai dalam jumlah besar?” Junmyeon membeo. “Bukankah—setahuku—penarikan dalam jumlah besar dapat dilaporkan oleh bank ke Badan Layanan Pendapatan Internal?”

“Anda benar, Tuan Kim,” jawab Petugas Ashmore, “tetapi hanya transaksi di atas sepuluh ribu dolar yang bisa dilaporkan. Penarikan dengan jumlah total minimal nominal tersebut yang dilakukan dalam hari yang sama bahkan di cabang yang berbeda juga dapat dilaporkan, serta ada ketentuan lain yang mengikuti. Dalam kasus Nona Choi, Nona Choi melakukan penarikan sebesar delapan ribu lima ratus dolar pada bulan lalu dan melakukan penarikan lagi sebesar tiga ribu dolar dua minggu sebelum ia menghilang.”

“Itu aneh,” sergah Junmyeon, “Minrin tidak pernah melakukan penarikan tunai di bank dalam jumlah besar. Dia lebih memilih menggunakan kartu debit atau kreditnya untuk menghemat waktu .”

“Kalau begitu, bisa disimpulkan bahwa Nona Choi tidak ingin meninggalkan jejak digital yang bisa dilacak,” kata Petugas Smith. “Penarikan tunai dalam jumlah besar di luar kebiasaannya mengindikasikan bahwa Nona Choi telah merencanakan kepergiannya.”

“Tapi, tidak bisakah … tidak bisakah kalian tidak menghentikan pencarian?”

“Tuan Kim, kami tidak pernah menghentikan pencarian,” kata Petugas Ashmore, datar dan tegas. “Semua kasus orang hilang di mana orang yang menghilang belum ditemukan akan tetap berjalan, tidak akan kami tutup. Akan tetapi, harus kuingatkan sekali lagi, kami mempunyai prioritas di sini.”

“Jadi, maksud Anda, putri kami bukanlah prioritas?” Ibu Minrin bertanya dengan suara bergetar menahan tangis.

“Sayang sekali harus kami katakan demikian, Nyonya.” Giliran Petugas Smith menjawab. “Nona Choi sudah berusia di atas 18 tahun. Ia sudah dewasa, tidak ada tendensi untuk bunuh diri, tidak ada hal mencurigakan dalam penyelidikan, dan aku tidak bermaksud kasar, tetapi bagi seseorang yang sudah dewasa, menghilang secara sukarela—menghilang begitu saja—bukan merupakan hal yang ilegal di Amerika.”

Semua segera terdiam. Fakta terakhir yang disajikan oleh Petugas Smith adalah suatu tamparan bagi mereka.

“Bagaimana …” Ucapan Junmyeon terhenti sejenak. “Bagaimana jika kalian menemukan Minrin? Kalian akan mengabari kami, bukan?”

“Itu semua tergantung pada keputusan Nona Choi,” jawab Petugas Smith.

“Maksud Anda?”

“Orang dewasa yang menghilang secara sukarela bukanlah suatu tindakan ilegal di sini, maka jika orang hilang tersebut menginginkan keberadaannya tidak diketahui, kami pihak berwajib akan menghormati keputusan mereka.”

Jantung Junmyeon rasanya melorot sampai ke dasar perutnya. Satu kemungkinan lagi menghantuinya; bagaimana jika Minrin memang tidak ingin keberadaannya diketahui? Apakah itu berarti ia—dan keluarga Minrin—telah kehilangan Minrin?

 

 

Will the search end?

Will Minrin be found?

 

 

A/N :

Nah lho, gimana tuh jadinya? Nasib Minrin gimana? Nasib Junmyeon gimana?

Yang dimaksud Badan Layanan Pendapatan Internal disini adalah Internal Revenue Service di Amerika sana. Ane sempet bimbang mau pake Internal Revenue Service atau ane terjemahin ya? Pas milih “Ya udah terjemahin aja” malah bingung lagi pas nerjemahinnya. Koplak emang XD XD

 

Maliciously Missing will be updated once every two weeks on Saturday. So stay tune!

 

Media sosial Len terbuka buat semua kalangan dan kasta. Tanya-tanya seputar ff ini bisa lewat kolom komentar atau mampir ke salah satu soc-med Len di bawah. Sekedar mau ngobrol juga sabi banget

LINE | Twitter | Instagram | Wattpad | Curious Cat

2 tanggapan untuk “Maliciously Missing — Len K [Chapter 02]”

  1. Hai thor..izin baca ya, cerita misteri ya..seneng nih, memutar otak untuk bisa tau apakah mirin bener2 hilang atas kemauanya atau ada seseorang yang dikenal dekat terlibat dalam hilangnya mirin. Ditunggu kelanjutannya thor..

  2. ..moga Minrin cpt ktmu & kondisinya baik2 aja
    jd ikut frustrated ky junmen & klrg Minrin 😦 dah 10hr an gitu msh ga da kbr
    ini genrenya drama & mystery aja kan, ga pake thriller atau yg bloody2 >< semoga ya..
    I'll be waiting for the upcoming chptr, ja~ne..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s