Blue – Four

blue

Blue – Four

Ficlet / AU / Romance / G

.by l18hee

Catatan: Series dengan satu tema ini semua karakternya Idol (no OC). Series pertama sampai ketiga diposting di blog pribadi (karena tokoh bukan anggota EXO). Series Blue dapat dibaca secara terpisah, walau berpisah itu sakit rasanya /kayang/.

.

.

.

Hey, it’s been a while. How are you doing these days?―Gettin’ By (ONE)

.

Perkara mengucap pertanyaan sejenis ‘hei, bagaimana kabarmu’ menjadi hal yang tidak mudah. Poin penting yang membuat semuanya tak berjalan lancar hanya satu: perihal mantan. Yang dialami Soojung, persis begitu. Bertemu Jongin di bioskop bukan termasuk dalam daftar hal yang ia antisipasi. Mana Soojung tahu bahwa si lelaki dan kawan sejawatnya akan datang pula untuk menonton film keluaran terbaru di mal yang sama.

Kini mereka ada dalam satu barisan, Jongin tepat di depan Soojung yang baru saja berdiri untuk mengantre. Selagi merutuk dalam hati karena kalah suit dari saudaranya (sebab itulah ia yang harus antre membeli tiket), Soojung diam-diam memerhatikan sosok Jongin dari belakang. Si lelaki menjulang tinggi sekitar 180 centi, berbahu lebar yang diselimuti denim warna army. Rambut lelaki itu sudah lebih panjang, berbeda dengan kali terakhir mereka bertemu saat berpisah.

Bertemu saat berpisah? Aduh, Soojung punya kosa kata penuh ironi, sepertinya.

“Soojung!”

Sial. Niatan Soojung untuk berdiri diam tanpa menarik perhatian siapa pun kandas sudah tatkala kakaknya―Sooyoun, menyusul, “Aku harus ke toilet. Jangan ke mana-mana dan tunggu di salah satu bangku.” Hanya begitu dan Sooyoun berlalu. Ayolah, dia dapat mengatakannya lewat ponsel saja. Kenapa pula harus datang dan mengoarkan nama Soojung begitu jelas?

Soojung mengumpat, agak berat untuk kembali menghadap muka. Benar saja, Jongin tengah menatapnya. Lelaki itu lumayan terkejut, dilihat dari pupil mata yang membesar―bercampur gugup yang mendadak kelihatan. Kawan yang datang bersamanya pun cuma berdeham dan memutuskan untuk tidak ikut campur dengan mengalihkan badan ke depan.

“Oh, hai,” sapa Jongin dengan senyum canggung menggantung.

“Hai,” senyum Soojung jelas terpaksa. Bingung, tapi untunglah masih tahu bagaimana cara bernapas.

“Deadpool 2 juga?” Jongin langsung mendapat jawaban sebuah angguk, lalu berujar lagi, “Hanya bersama Kak Sooyoun?”

Lagi, Soojung mengangguk. Sebenarnya dia tipe gadis cerdas yang punya beragam kosa kata dalam otaknya. Sayang, mengeluarkan salah satunya pun ia enggan. Sesuatu seperti dalam drama atau film picisan tak akan berlaku pada ia dan Jongin. Soojung tahu, bahwa kisahnya bersama Jongin adalah kisah yang biasa. Tidak penuh lika-liku layaknya opera sabun dengan ratusan episode di layar kaca.

Bohong jika Soojung tidak terpikir untuk menanyakan banyak hal. Menertawakan hal konyol bersama sampai perut mulas sempat mampir ke pikirannya. (Apalagi ini film Deadpool yang―hei, ayolah siapa yang tidak tahu kalau Soojung dan Jongin punya kesukaan pada film serupa?) Namun setelah masa sulit yang ia lewati usai hubungan berakhir, seluruhnya membuat keadaan berbeda. Soojung masih ingat bagaimana ia menangis sekian hari, meratapi sakit hatinya secara bertubi. Dan sekarang, ia terlanjur nyaman dengan kenyataan bahwa dirinya jelas baik-baik saja. Tanpa Jongin pun, masih baik.

Bukannya Soojung lantas membenci seorang Kim Jongin dari ujung kepala sampai kaki dan bahkan seorgan-organ dalamnya sekalian. Dia hanya mencoba menghadapi kenyataan bahwa seberapa besar kemungkinan ia dan Jongin untuk saling bicara, semuanya tidaklah lagi sama.

Karena hubungan yang semula mereka anggap berbeda dari kisah cinta lain, pada akhirnya berakhir dengan cara yang biasa. Sakit hati yang biasa. Dan canggung ala mantan yang biasa pula.

Jadi walau Soojung tahu Jongin pun ingin banyak mengobrol ini-itu layaknya tak terjadi apa-apa, ia menahan diri. Lalu, coba dengar bagaimana suara Jongin terdengar: “Sudah lama tidak bertemu, ya? Bagaimana kabarmu?”

Dengan kepercayaan diri penuh dalam senyum tipisnya, Soojung mengangguk kecil. “Baik.”

Dia tidak bertanya balik, sengaja membiarkan percakapan terhenti sampai sana. Jongin paham, dia tak melontar tanya lagi.

Bukan. Bukannya Soojung benci Jongin. Dia hanya benci situasinya. Memang bagaimanapun juga, sukar bagi mantan menjalin hubungan baru sebagai teman. Mungkin di luar kelihatan baik-baik saja, tapi siapa yang dapat menjamin keadaan hati seseorang?

Soojung tidak tahu bagaimana tanggapan orang lain, tapi baginya omong kosong kalau ada yang tidak membenarkan penyataan barusan.

Maka, pertemuan antara Jung Soojung dan Kim Jongin sebagai mantan kekasih, berakhir begitu saja; dengan senyum perpisahan kecil dan keadaan hati yang biasa.

.

.

.

Oh, mantan. Soojung sudah move on, rupanya.

.end

Saya sangat berterima kasih pada ONE dan lagunya, serta wajah rupawannya hehe /g

Gak tau kenapa kepikiran pake cast KaiStal, PADAHAL ASLINYA AKU MAH BERHARAP MEREKA CLBK AJASIH IH UDAH CUTE TAUK 😦 /siram air/ Tapi ku juga suka SeStal sih /yaudah nid iya serah/.

Dah gitu aja. Yang udah move on… selamat!

.nida

5 tanggapan untuk “Blue – Four”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s