[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Eleventh Page

I M P E R F E C T

By Damchuu

Oh Sehun x Park Hyojin

| School-life, Fluff, Hurt  | Series / PG-15 |

DISCLAIMER:

This story and characters are fictitious. Certain long-standing institutions, agencies, and public offices are mentioned, but the characters involved are wholly imaginary.

Previous: [First Page] [Second Page] [Third Page] [Fourth Page] [Fifth Page] [Sixth Page] [Seventh Page] [Eigth Page] [Ninth Page] [Tenth Page]

 

-oooOooo-

 

Look from every side she is perfect. Perfect daughter for her parents, perfect student for her teacher. Also. Perfect demon for her nightmare.

 

-oooOooo-

 

Suatu hal dikatakan siklus apabila terjadi putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang secara tetap dan teratur.

Kalau begitu salahkah Hyojin jika menyebut rutinitasnya sehari-hari sebagai siklus? Definisi yang disebutkan buku tebal bernama kamus itu nyaris menyentuh persis, terutama pada bagian ‘berulang’ dan ‘tetap’. Sebagai informasi, hidupnya benar-benar membosankan. Hanya berkutat dengan bangun pagi-pergi ke sekolah-belajar-istirahat-belajar-pulang-belajar-belajar-belajar—dan entah sampai berapa kali ia harus mengulang kata itu lagi.

Sebentar, bukankah itu sudah terlalu jelas?

Siklus monoton, jenuh, berontak, yang kemudian berakhir dengan pukulan rotan. Bukankah selama ini hidupnya hanya berputar dalam lingkaran itu? Lucu sekali menyadari jika ia ternyata memiliki dua lingkaran siklus sekaligus. Kalau seperti ini rasanya sia-sia usahanya berontak selama ini.

Tapi sejak malam itu, rasanya ia seperti terbebas dari dua siklusnya sekaligus. Mulai dari ponselnya yang tiba-tiba tidak bisa berhenti berdering sampai tanggapan dingin dari teman-teman sekelasnya. Jangan lupa julukan baru yang disematkan para fanatik itu padanya.

They called her bitch, slut, and anything similar.

Berlebihan sekali, ia bahkan tidak sedang mengencani seorang artis idola atau semacamnya. Walaupun sebenarnya memang agak mengejutkan untuk mereka mendengar Sehun tiba-tiba mengencani seorang gadis bukannya pria.

Beruntung selama ini mereka hanya berani berkicau lewat internet bukannya main kontak fisik. Setidaknya semua pesan itu tersimpan rapi di ponselnya sebelum tiba-tiba hilang siang ini.

“Kau apakan ponselku?”

Nara yang awalnya sedang tidur dengan posisi memunggungi Hyojin perlahan membuka matanya. Tanpa berniat menoleh, ia menjawab, “Memorimu penuh, aku hanya membersihkan beberapa sampah.”

“Nara,” panggilnya dengan suara penuh penekanan. Tampaknya kalimat ambigu seperti itu tidak cukup untuk memuaskan rasa penasaran Hyojin.

Nara lantas membalikkan badannya, ikut membalas tatapan mengintimidasi Hyojin tanpa berusaha mengucap pembelaan. Helaan napas samar terdengar melihat tidak ada satu pun diantara mereka yang mau mengalah.

“Jangan paksa aku menjelaskan, aku benci itu.” Itu adalah kalimat pertama yang terucap setelah lima menit mereka bertahan dalam hening dan ego masing-masing. Maniknya tanpa sadar melunak.

“Jangan berlebihan, mereka tidak menggangguku.”

“Mengirimkan pesan teror seperti itu sudah termasuk mengganggu.” Nara tidak mau kalah.

“Ku memasang penyadap di ponselku?”

“Kau pikir aku apa? Penguntit?” balasnya nyaris berteriak. Nara mengusap rautnya frustasi. Tidak baik membiarkan emosi melahapnya perlahan seperti ini, “Aku hanya tidak sengaja melihat pesan lewat.” Sebisa mungkin ia turunkan nada bicaranya, setidaknya cukup untuk tidak menarik perhatian teman-temannya.

Sedangkan Hyojin masih diam. Rautnya seolah meminta Nara untuk melanjutkan penjelasannya barusan.

“Kenapa kau terus memaksaku bicara ketika kau seharusnya adalah pihak yang menjelaskan di sini?” Nara melihat sekeliling. Persis seperti dugaannya, beberapa temannya sudah mulai menatap penasaran ke arah mereka. Bodoh sekali, kenapa juga ia harus berteriak tadi?

Tanpa pikir panjang Nara lantas menarik Hyojin keluar kelas. Ketika mereka sudah sampai di ujung lorong ia langsung menodong Hyojin dengan pertanyaan yang sudah tersangkut di ujung lidah sejak tadi.

“Jadi sejak kapan?”

“Kira-kira tiga hari yang lalu.” Hyojin menunjukkan jarinya yang sudah terlipat dua. Selanjutnya ia mulai menceritakan garis besar kejadian yang disebut Nara ‘teror’ itu. Anehnya, gadis cerewet ini terus diam seolah tengah mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap dari bibirnya. Dengan rasa penasaran membuncah Hyojin bertanya, “Kenapa diam?”

“Apa?”

“Kau biasanya selalu menyela setiap aku bercerita.”

Nara tidak menjawab. Masih dengan raut bingungnya ia meraih ponsel Hyojin yang sejak tadi berada dalam genggaman, “Tukar ponselmu denganku.”

“Nanti kalau pak tua itu menelponku bagaimana.”

Seolah tertohok, Nara tampak terbatuk-batuk kemudian menukar ponselnya kembali. Hyojin hanya memberikan senyuman tipis sebagai tanggapan.

“Kalau begitu ganti nomor saja.” Nara menyentikkan jarinya, “Atau kita kumpulkan saja nomor mereka dan laporkan ke polisi?”

“Nara…,” panggil Hyojin, “biarkan saja mereka.”

“Kau gila ya?!”

Mau tidak mau tawanya menyembur begitu saja. Rasanya jarang sekali Melihat Nara bertingkah seperti ini. Ketika pertama melihat bekas pukulan rotan di punggungnya saja ia malah berkomentar warnanya seperti blueberry.

“Kau lucu sekali kalau sedang panik seperti ini.” Hyojin merangkul pundak sahabatnya sembari menuntunnya berjalan. Sedangkan gadis dalam rangkulannya masih terus memberontak karena tidak setuju dengan cara menanggapi Hyojin yang kelewat santai.

“Daripada itu aku lebih takut pada pak tua itu. Punya cara untuk mengelabuhinya?”

oOo

“Berhenti tersenyum, kau tampak seperti orang bodoh.”

Joonmyeon melemparkan sebuah botol minuman kepada Sehun. Masih dengan cengiran lebar, laki-laki itu dengan lihai menangkapnya kemudian menandaskan setengahnya.

Well, I don’t care,” ucapnya setengah bergumam karena masih ada sisa-sisa air di mulutnya, “people always judging everything and I hate that.

Joonmyeon lantas terkekeh. Sehun dan sifat cueknya memang tidak bisa dipisahkan, “What do you care about?”

That guy.” Matanya sejenak tampak menerawang penjuru kantin sebelum menunjuk seorang pria yang tengah berjalan ke arahnya. Ia tampak seperti … sedang kesal mungkin? Begitu sampai, Chanyeol langsung duduk di sampingnya tanpa mengucap sepatah kata pun.

“Kuncinya?” Tanpa basa-basi Sehun langsung menagih bak seorang rentenir. Terlebih laki-laki itu tidak berhenti mengembangkan senyum, membuat Chanyeol ingin meninju wajah Sehun jika saja tidak banyak orang di sini.

“Kau pikir aku kemari untuk memberi kunci motorku?”

“Kalau begitu kau mau memberi kunci mobilmu?”

“Tentu saja tidak bodoh!” Sebuah pukulan melayang tepat ke belakang kepala Sehun. Cukup keras. Sampai-sampai wajahnya hampir mencium piringnya yang masih penuh dengan makanan.

“YA!”

Sehun hendak membalas, namun segera ditahan oleh Joonmyeon yang dengan gesit langsung berada di tengah-tengah keduanya, “Berhenti bertengkar atau ku—”

“KIM JOONMYEON!”

Teriakan menggelegar dari Kyungsoo sukses merengut perhatian dari seluruh penghuni kantin. Beberapa tampak terkejut, bahkan ada sebagian yang mengumpat karena tersedak makanan saking kagetnya.

“Kau sedang apa di sini? Sebentar lagi rapatnya dimulai.”

Kyungsoo langsung meraih tangan Joonmyeon dan menyeretnya keluar. Sedangkan pria yang menjadi korban itu tidak berhenti menggerutu dengan berkata, “Masih 15 menit lagi.” Atau kalimat lain seperti, “Setidaknya biarkan aku menghabiskan makananku dulu.” Yang langsung diberi gelengan tegas oleh Kyungsoo.

“Pak Ketua benar-benar sibuk ternyata.” Respon santai yang datang dari Sehun entah mengapa membuat Joonmyeon yang sedang diseret paksa oleh Kyungsoo geram sendiri. Setelah berhasil memberontak, ia mengacungkan telunjuknya pada dua laki-laki yang dengan tenang melihatnya dari bangku kantin.

“Awas kalau kalian bertengkar la—”

“Ayo cepat!”

Kyungsoo yang lagi-lagi memotong perkataan Joonmyeon membuat Sehun langsung menyemburkan tawanya tanpa permisi. Chanyeol yang duduk di sebelah Sehun terheran-heran sendiri. Memangnya selucu itu?

“Kau tertawa?”

“Kau akan mengataiku gila kalau aku menangis sekarang.” Sehun membersihkan sisa-sisa air mata karena tertawa terlalu keras tadi.

“Jadi mana kuncinya?”

Mendengar hal itu raut wajah Chanyeol langsung berubah. Kelihatannya Sehun benar-benar tidak bisa melupakan motornya barang sedetik saja. Dengan sedikit kasar ia menyerahkan kunci motornya kepada Sehun.

“Puas?”

“Sangat!”

Reaksi girang Sehun itu tak ayal mengundang lirikan tajam Chanyeol. Bisa-bisanya ia tertawa lepas seperti itu ketika temannya baru saja kehilangan salah satu koleksi motor kesayanganya.

Sehun yang sadar hawa di sekitarnya mendadak berubah suram berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia kemudian menepuk pundak Chanyeol, berniat menenangkan, “Jangan marah begitu, lagipula bukan aku yang memulai.”

Do you know how tortured I’m nicknamed your boyfriend? Kim Nana even reject me because of that

“Itu juga bukan aku. Kau yang mulai.” Sehun menunjuk piringnya yang kini tinggal setengah kemudian secara bergantian menunjuk pelakunya, “Seperti ini contohnya.”

Sehun kemudian kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Tidak sedikit yang tengah berbisik membicarakannya dengan Chanyeol yang tengah makan berdua dalam satu piring—walaupun tidak bisa dikatakan berbisik juga karena mereka mengatakannya dengan volume yang jelas-jelas mampu ditangkapnya. Buru-buru Sehun menjauhkan badannya dari Chanyeol.

“Lagipula, kenapa juga kau mendekati Hyojin kalau dari awal sasaranmu jelas-jelas Kim Nana?”

Didn’t I already told you before? She’s interesting.”

Jawaban yang sama, walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, di sini Sehun tidak mengerti benar letak menarik yang dimaksud Chanyeol, “Berapa kali harus kukatakan padamu? Winning someone’s heart is not a game.”

“Ayolah, jangan berlagak polos. Kau mendekatinya juga karena penasaran kan? Kau bahkan mengatainya murahan.”

Tunggu! Apa maksudnya? Sehun hanya asal bicara waktu itu.

“Sayang sekali dia berlagak seperti itu hanya padamu. Saat aku mengajaknya beberapa hari yang lalu dia benar-benar sok jual mahal. Menyebalkan sekali.”

“Apa maksudmu?”

Chanyeol menyeringai, “Dia memang tidak secantik Nana, tapi setidaknya masih pantas untuk dipertimbangkan. Tapi untuk bertingkah seperti itu … untuk standarnya sedikit berlebihan.”

Tanpa aba-aba Sehun mendaratkan sebuah bogem mentah pada rahang kanan Chanyeol. Tubuhnya terhuyung ke belakang sampai membentur lantai. Chanyeol mengusap rahangnya yang berdenyut nyeri. Dengan sisa-sisa keterkejutan ia membalas tatapan Sehun yang berdiri dihadapannya dengan pandangan nyalang.

“APA-APAAN KAU?!”

Sehun memilih untuk tidak peduli dengan bentakan Chanyeol. Masih dengan emosi menggebu ia kembali melayangkan pukulannya walaupun beberapa kali gagal karena Chanyeol dengan cepat menghindar dan mulai membalas. Bibirnya tidak berhenti menggumamkan kata brengsek, bahkan ketika anak-anak lain mulai menengahi dan menariknya mundur gumaman itu perlahan berubah menjadi teriakan.

“DASAR BRENGSEK!”

oOo

From: Oh Sehun
Jangan lupa turnamenku besok!

Hyojin tidak berhenti menggerutu membaca pesan yang Sehun kirim kemarin—terlambat memang, tapi daripada tidak dibaca. Laki-laki itu memang tidak ada manis-manisnya sama sekali. Lihat saja tanda seru yang ada di belakang pesannya. Ia lebih mirip sedang mengirim pesan kepada pelayan daripada pacarnya.

Tapi … hei! Memangnya apa yang ia harapkan? Hubungan mereka bahkan tidak lebih dari sebatas perjanjian.

Soal Nara, gadis itu akhirnya bisa diam setelah menghabiskan seluruh isi dompetnya selama jam istirahat. Hyojin bahkan masih tidak habis pikir bagaimana seluruh makanan itu bisa muat dalam tubuh Nara yang notabenya masuk dalam golongan mungil. Setelah mengirimkan pesan balasan kepada Sehun, Hyojin kembali merajut langkahnya menuju kelas.

“Ada apa?”

Pertanyaan itu terlontar ketika Hyojin menyadari suasana kelas tiba-tiba menjadi sepi ketika ia masuk. Namun hening, tidak ada repon apapun dari teman-temannya. Tanpa sadar ia menghela napasnya, mereka mulai bertingkah misterius lagi. Bersamaan dengan itu Yuta yang baru saja kalah setelah bermain PS dengan Taeyong melewatinya dengan wajah masam. Hyojin yang melihat itu berniat mengejek, namun segera mengurungkan niatnya karena tiba-tiba laki-laki itu menghampirinya dengan langkah mundur.

“Kau dapat titipan.” Yuta menunjuk loker Hyojin. Benar saja, ada kotak di dalam.

“Dari siapa?”

Yuta mengendikkan bahunya. Maniknya bergerak, menunjuk para gadis di balik punggung yang tampaknya tadi adalah penerima. Mengerti dengan kode tersebut, Hyojin lantas mengangguk sebelum mengusir Yuta pergi karena dari belakang terdengar suara teriakan Taeyong yang meminta tanding ulang. Dengan ragu-ragu Hyojin mencoba mengintip, mendapati kue mungil berbalut krim di dalamnya.

Baiklah, mari menebak. Mungkin kue ini dari Sehun? Karena itu teman-temannya bertingkah aneh ketika ia masuk tadi? Detik selanjutnya Hyojin tertawa. Jadi begini cara mereka bermain? Menggunjing dan menyudutkan?

Lucu rasanya.

Berada di tengah-tengah para gadis ini. Terlebih ketika maniknya menelusuri satu per satu teman-temannya yang tengah tertawa atau sekedar berbisik kepada orang-orang di sampingnya ketika melihatnya. Bahkan ada beberapa dari mereka bertepuk tangan.

Seolah mereka tengah menonton sebuah pertunjukan.

Pertunjukan di mana ia menjadi sebuah tong kayu dengan kepala bajak laut yang menyembul di atasnya. Sedangkan anak-anak yang lain bergantian menusuknya pisau dengan tawa yang seolah tidak mau lepas.

Sembari menunggunya meledak.

Sayang sekali mereka tidak mempunyai ide bagaimana bajak laut itu meledak.

oOo

“Ingat apa yang kukatakan jika kalian berkelahi tadi?”

Di tengah teriakan itu Sehun dengan tidak sopan berbaring di kasur. Kakinya disilangkan sedang tangannya sibuk memainkan ponsel tanpa berniat menanggapi.

“Kau tidak mengatakan apa-apa tadi.” Untuk kesekian kali Sehun mengucapkannya dengan nada aku-tidak-peduli-apapun-yang-kau-katakan. Maniknya bahkan terlalu malas untuk sekadar melirik Joonmyeon. Ia menambahkan, “Kyungsoo menarikmu sebelum kau sempat bicara.”

Joonmyeon diam. Memaki Sehun lewat tatapan mata. Laki-laki itu tidak habis pikir bagaimana Sehun masih bisa melawan kata-katanya disaat seperti ini.

“Baiklah, aku kalah.”

Sembari meletakkan ponselnya, Sehun mendeklarasikan gencatan senjata. Ia terlalu malas berdebat dengan seorang Kim Joonmyeon. Berteman dengan Kyungsoo tampaknya benar membawa dampak negatif hingga membuat telinganya tidak berhenti terbakar sejak setengah jam yang lalu.

“Hei?”

Sehun menyentikkan jari melihat Joonmyeon yang malah terdiam. Tatapannya horor—masih sama. Hanya saja aksi diamnya membuat suasana mendadak menjadi lebih mencekam.

“Tunggu di sini! Aku kembali 15 menit lagi.”

Sehun tahu persis kalimat itu adalah peringatan berbahaya. Tidak untuk dibantah ataupun dibalas. Karena itu ia memilih untuk menjadi anak baik kali ini dengan mengangguk setuju. Bahkan ketika Joonmyeon melangkah pergi dengan membawa berbagai macam umpatan yang, bulu kuduknya meremang tanpa sadar. Sejak kapan marahnya Kim Joonmyeon jadi semenyeramkan ini? Padahal dulu menggoda Joonmyeon yang sedang marah adalah kegiatan favoritnya.

Barulah setelah Joonmyeon tenggelam di belokan lorong Hyojin yang sejak tadi berdiri di balik pintu berani menampakkan diri. Terima kasih ada postur mungilnya sehingga ia bisa bersembunyi dengan mudah. Sebenarnya ia sudah datang sejak 15 menit yang lalu, hanya saja diurungkan niatnya untuk masuk ketika melihat Joonmyeon juga sedang ada di dalam.

Tentu saja, Hyojin mendengar perdebatan mereka berdua—yang kalau dipikir murid lain di atas pasti juga bisa mendengarnya dengan volume sekeras itu. Bahkan beberapa kali ia sempat menahan tawanya mendengar Sehun yang tidak bisa berkutik. Sebagai informasi, mereka ada di klinik sekolah. Aneh sekali tidak ada yang menegur karena berteriak sekeras itu.

Setelah mengendalikan tawanya, Hyojin masuk ke dalam. Kalimat pertama yang ia lontarkan ketika melihat kondisi Sehun adalah,

“Di mana Chanyeol?”

Sehun yang awalnya hendak menggoda Hyojin buru-buru memasang raut kesal. Jadi gadis ini lebih mengkhawatirkan Chanyeol daripada dirinya? Sial sekali ia sempat merasa senang tadi.

Hyojin mengernyit ketika melihat Sehun tiba-tiba sibuk dengan ponselnya. Seolah keberadaannya di sini adalah angin lalu. Bahkan ketika ia bertanya ada apa, Sehun hanya menggeleng tanpa berniat mengucapkan sepatah kata. Tidak mau ambil pusing, Hyojin lebih memilih mengabaikan Sehun yang tengah merajuk. Tangannya terulur untuk membelai sedikit poni laki-laki itu, melihat seberapa parah luka di sana.

“Kalau dipikir-pikir … kau tampan juga kalau babak belur begini.”

Itu jelas sekali ironi. Namun entah dorongan dari mana, sudut bibir Sehun terangkat membentuk seringaian.

“Pesonaku memang tidak bisa ditolak.”

Hyojin mendecih, mengejek argumen Sehun barusan lewat tawa hambarnya. Lihat saja sudut bibir kanannya membiru—yang ia yakini sempat mengeluarkan darah tadi. Kemejanya keluar tidak karuan dan rambutnya juga berantakan. Lebih persis preman daripada murid teladan yang selalu dibanggakan guru-guru.

“Percaya diri sekali.”

Dan bukan Sehun namanya jika tidak bisa menanggapi, “Bukankah kau yang memuji?”

Oh ya, terimakasih sudah mengingatkan. Lain kali ingatkan juga untuk menjaga kata-katanya.

“Jadi bagaimana Chanyeol?” Hyojin mengalihkan topik. Gengsinya terlalu tinggi untuk sekadar mengakui bahwa dirinya kalah.

Sehun melipat kedua tangannya di dada sembari mengangguk pelan, “Dia baik-baik saja. Aku terlalu baik hati untuk tidak mematahkan tulangnya.” Begitu ucapnya dengan nada bangga, padahal tangan itu baru saja digunakan untuk menghajar orang.

Manik Hyojin memicing, “Entah kenapa rasanya standar baik-baik saja milikmu dan milikku sangat berbeda. Lagipula, bukankah kalian ada pertandingan basket besok?”

Sehun mengendikkan bahunya tidak peduli. Ia sedikit memposisikan diri menyamping menghadap Hyojin, “Ponselmu bergetar.”

“Biarkan saja.”

“Apa mereka mulai mengganggumu?”

Rasanya tidak perlu dijelaskan makna kata ‘mereka’ di sana. Hyojin tampak berpikir sejenak. Detik pertama ia mengangguk, namun selanjutnya langsung diiringi gelengan, “Tidak bisa dikatakan mengganggu juga karena mereka hanya menyerang secara verbal.”

“Lewat SNS?” Yang dijawab anggukan oleh Hyojin. “Selamat berjuang kalau begitu.”

Tangannya gatal sekali untuk memukul puncak kepala Sehun. Dari semua kata yang ada di dunia ini, tidak adakah pilihan ‘selamat berjuang’? Benar-benar tidak memiliki simpati di dalamnya.

“Sakit!” adunya tidak terima, “aku pasien di sini.”

“Kau lebih mirip preman daripada pasien.”

“Preman? Apa kau tidak melihat semua lebam ini?”

Di tengah keributan itu sebuah kepala tiba-tiba muncul dari balik pintu diiringi dengan ketukan, “Bukannnya bermaksud mengganggu kebersamaan kalian, tapi hanya punya waktu longgar setengah jam.”

Hyojin tampak mengernyit. Jelas sekali ia sedang mencoba mencerna kata-kata Joonmyeon barusan. Mengerti dengan kebingungan di raut Hyojin, Sehun lantas menimpali dengan raut jahilnya.

“Oh, dia asistenku—”

Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan lebih dahulu mendarat di belakang kepalanya. Nyaris membuatnya hampir mencium lututnya sendiri.

YA!” Dan untuk yang kedua kali Sehun kembali mengusap kepalanya, “Kenapa seharian ini semua orang hobi sekali memukulku?” gerutunya tidak henti-henti.

Karma! Sayang sekali Hyojin tidak bisa menyuarakan isi pikirannya keras-keras karena keberadaan Joonmyeon di sini.

“Jadi, bisa kita pulang sekarang?”

Sehun menggeleng, “Selesaikan dulu urusanmu dengan Kyungsoo. Aku muak mendengar teriakannya.”

oOo

“Hei, Nara.”

Hyojin mengetuk meja tempat Nara tertidur secara perlahan. Gadis itu tampak menggeliat pelan sebelum akhirnya menegakkan tubuh di atas sandaran kursi. Kelas sudah berakhir sejak beberapa menit yang lalu. Sehun dengan kurang ajar terus menahannya di klinik sekolah dengan sekumpulan ancaman picisan—yang entah bagaimana ia bisa termakan semua kata-katanya. Jadilah ia membolos sampai jam pelajaran terakhir.

“Dari mana saja?” tanya Nara dengan intonasi yang tidak terlalu jelas karena diselingi dengan menguap, “ah, benar Sehun.” Sayangnya pertanyaan itu tiba-tiba menjadi basi menyadari kebodohannya sendiri.

Hyojin ikut duduk disebelahnya. Meraih sebuah kotak yang sejak tadi tersimpan rapi di loker.

“Mau kue?”

Maniknya melebar, dengan senyuman merekah Nara mengangguk antusias. Bahkan ketika Hyojin membuka bungkus kue, air liurnya hampir menetes saking senangnya.

“Dari siapa?”

Hyojin hendak menjawab Sehun, namun buru-buru mengurungkan niatnya menyadari jika ia tadi lupa memastikan kebenaran hipotesanya. Sehingga yang keluar dari bibirnya hanyalah kalimat rancu yang tidak jauh dari, “Tidak tahu.”

Namun tampaknya Nara juga tidak terlalu mempermasalahkan sumber kue ini. Setelah puas mengagumi bentuk mungilnya dalam jepretan kamera, ia menyuapkan sesendok penuh ke mulutnya. Selanjutnya Nara mengacungkan kedua jempolnya sembari berkata, “Coba sendiri kalau tidak percaya.” Karena tadi Hyojin sempat mengejek reaksinya yang dianggap berlebihan.

Reaksi Hyojin juga tidak kalah heboh ketika merasakan suapan pertama. Bahkan Nara sempat balas mengejek dengan berkata, “Apa kubilang?”

Kira-kira lima menit setelahnya Nara menahan tangan Hyojin yang hendak menyuapkan potongan kue lain ke mulutnya. Hyojin yang tidak mengerti dengan perilaku Nara mencoba melepaskan diri, tapi yang ada Nara malah mengeratkan genggamannya.

“Ini kue strawberry.”

Dan Hyojin hampir tersedak saat mendengarnya.

-oooOooo-  

how I supposed imagine someone like this beaten Chanyeol?? :”

 

Regards, 
Damchuu

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Eleventh Page”

  1. Sehun mulai suka ya? Tapi, emang Chanyeol keterlaluan sih mandang Hyojin sampe gitu *ihateyouCY! (😂)
    Kenapa dengan strawberry? Alergi kah? Gk mungkin juga sih, klo alergi pasti Nara udah ngelarang Hyojin buat nyoba ya kan *apasih
    Mf, aku telat baca huhu. Semangaaattt yehet! *plak

  2. Saya bingung Sama alurnya.. Tpi bukan karna terlalu cpt tpi, kepotong2 gitu..
    Maapkan kalo sok tau..
    Cuma ngasi pendapat. Tpi Ak suka kog😅

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s