[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 12)

Our Story [Chapter 12]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, sad/hurt

Length : Chaptered

Rate : T

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 12

New Day

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Jangan lupa tinggalkan jejak ya…

Warn ! bagian yang ini bakalan panjang…

♣ ♥ ♣

Sae Jin mengerjap guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Untuk sebentar Sae Jin merasa bingung soal dimana ia berada, sampai ia melihat Sehun dan Ah Ra. Sae Jin tahu ia dimana dan kenapa ia disini. Naas, ia ditabrak oleh mobil saat akan ke parkiran tadi. Tak lama gadis itu didatangi sang ibu yang sempat pergi ke kamar mandi

“kau baik-baik saja? ada yang sakit?” Sehun mendahului ibu Sae Jin bertanya. Sehun lalu berjalan dan memposisikan dirinya di sebelah ranjang sebelah kanan Sae Jin

“kepalaku sakit” Sae Jin menjawab dengan suara pelan.

Ia merasa pening dan juga perih dari beberapa luka yang ada ditubuhnya. Ia juga merasa sangat mengantuk akibat pengaruh obat. Ia ingin segera tidur, tapi sesuatu membuatnya mengurungkan niat. Ia tak melihat Chanyeol disana. Seingat Sae Jin, sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran, ia ingat Chanyeol yang memanggilnya dan menyuruhnya untuk tetap membuka mata. Tapi kemana pria itu sekarang? Kenapa ia tak ada disini?

“kau butuh sesuatu, nak?” tanya ibu Sae Jin pada putrinya. Wanita ini berusaha menyembunyikan rasa sedih juga takutnya. Sae Jin jarang sekali terluka dan masuk rumah sakit. Tentu saja ia khawatir.

“tidak, ibu. Aku baik-baik saja, jangan khawatir” Sae Jin berusaha menenangkan ibunya. Ia tahu ibunya pasti sangat khawatir sekarang

“Sae Jin, tidurlah dan istirahat. Kenapa mobil itu harus menabrakmu” Ah Ra berucap sambil sedikit meneteskan air mata. Siapa pun akan menangis saat orang yang ia sayangi terluka ‘kan?
“akan kupastikan dia dipenjara seumur hidupnya” sambung Ah Ra. Ia bicara soal pria mabuk yang mengemudikan mobil yang menabrak Sae Jin tadi

“dimana Chanyeol?” tanya Sae Jin kemudian

“ia pergi setelah kuhajar” jawab Sehun marah. Ia masih marah bahkan setelah menghadiahi wajah Chanyeol tiga pukulan.

Sehun menyalahkan Chanyeol atas kecelakaan yang Sae Jin alami. Apa yang Chanyeol lakukan hingga tak bisa menjaga Sae Jin? Sehun marah, kesal dan juga  merasa bersalah

“apa maksudmu?” Sae Jin membuka matanya dan menatap bingung pada Sehun. Kenapa bisa Sehun memukul Chanyeol? Ada apa?

“ini salahnya. Jika saja ia menjagamu dengan benar, kau tak akan berakhir di ruangan ini dan dengan semua luka itu” jelas Sehun. Ia sendiri tak tahu pasti kenapa bisa ia semarah itu pada Chanyeol. Tapi yang jelas ini salah Chanyeol. Sebodoh apa pria itu hingga membiarkan Sae Jin terluka didepan matanya sendiri?

Sae Jin menghela napas malas. Mengapa Sehun berpikir demikian? Pengemudi mobil itu yang ugal-ugalan mengendarai mobil. Juga, Sae Jin yang saat itu terlalu focus pada es krimnya. Chanyeol sama sekali tak bersalah atas kejadian ini. Sae Jin mendadak khawatir soal keadaan Chanyeol, pria itu pasti juga menyalahkan dirinya sendiri

“itu tidak benar, Sehun. Biar aku tidur dulu_” Sae Jin memejamkan matanya, karena sungguh ia merasa harus tidur. Masalah Chanyeol, biar ia urus nanti

~

Pukul delapan malam saat Sehun mengantar Ah Ra pulang. Awalnya mereka ingin menginap dan ikut menungui Sae Jin, tapi ibu Sae Jin menolak dan membujuk mereka agar pulang.

Setelah berpamitan pada Ah Ra, Sehun pun melajukan mobilnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Sehun terus berpikir. Pria ini sedang bingung setengah mati. Kenapa ia bisa jadi semarah itu pada Chanyeol? Kenapa ia bisa sampai memukul Chanyeol? Ini sudah lama sejak ia tak lagi suka memukul orang. Lalu  kenapa ia merasa sangat takut tadi? Itu pertama kalinya Sehun merasa takut seumur hidupnya. Kenapa Sae Jin yang terluka seperti tadi membuatnya sangat takut?

Belum juga Sehun mendapat jawaban atas semua pertanyaannya tadi, pria itu kembali harus terkejut atas apa yang ia lihat didepan matanya. Gedung rumah sakit. Bukankah harusnya ia melihat rumahnya? Bukankah harusnya Sehun pulang kerumahnya? Kenapa ia malah kembali ke rumah sakit? Ini kebingungan yang sama, ia pernah merasa seperti ini saat Chanyeol mengakui perasaannya pada Sae Jin. Sama persis. Hanya saja kali ini Sehun tak bisa mengabaikan rasa aneh itu lagi. Terlalu besar.

“aku sudah gila” gumam Sehun

~

Ah Ra menunggu orang diseberang disana menjawab dengan harap-harap cemas. Akankah Chanyeol menjawab telepon darinya setelah mendapat pukulan dari Sehun? Setibanya ia dirumah, Ah Ra bukannya segera beristirahat, tapi malah menghubungi Chanyeol. Gadis ini hanya khawatir akan keadaan Chanyeol, hingga tak bisa menahan diri untuk tak menelepon pria itu.

“ada apa, Ah Ra?” Chanyeol akhirnya menjawab

oppa, kau baik-baik saja?” tanya Ah Ra segera. Ia khawatir pada Chanyeol. Bukan hanya karena Sehun yang memukulnya, tapi juga wajah pucat Chanyeol tadi saat di rumah sakit

“bukan aku yang ditabrak” jawab Chanyeol pelan. Pria itu tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya. Ia semakin menunduk. Ia berjanji akan menjaga Sae Jin dan malah tak bisa berbuat apa-apa. Chanyeol membenci dirinya sendiri saat ini.

oppa, jangan khawatir dan menyalahkan dirimu. Sehun hanya terlalu panic tadi. Ia tak benar-benar menyalahkanmu, dan ini semua juga bukan salahmu. Sae Jin sudah sadar tadi, ia bilang ia baik-baik saja, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri” ucap Ah Ra penuh simpati. Ia tak tega Chanyeol terus menyalahkan dirinya sendiri

“terima kasih sudah menghubungiku” Chanyeol hanya mengucapkan kalimat itu sebelum memutus sambungan itu.

Chanyeol membuang ponselnya dan semakin menunduk. Keadaannya saat ini sungguh jauh dari kata baik, meski bukan ia yang mengalami kecelakaan. Rambutnya berantakan, ia duduk sambil menunduk bak orang putus asa, dan beberapa luka memar menghiasi wajah tampannya. Sebenarnya Sehun tak perlu menyalahkannya atas kecelakaan yang menimpa Sae Jin, karena Chanyeol sendiri sudah lebih dulu menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa benar-benar tak berguna saat melihat Sae Jin ditabrak tepat di depan matanya. Hari ini Chanyeol benar-benar menjadi orang paling bodoh didunia. Setelah mengantar Sae Jin ke rumah sakit, ia memutuskan tak menungui sang gadis karena terlalu takut. Oh, Chanyeol jadi pria penakut hari ini.

~

Keesokan paginya, Sae Jin masih menemukan ibunya yang tertidur di pinggir ranjangnya. Gadis itu dengan pelan mambangunkan ibunya.

“kenapa ibu tidak pulang saja? lehermu bisa sakit jika tertidur dengan posisi begitu” kata Sae Jin dengan nada menyesal. Ia selalu saja membuat ibunya susah. Karena kehadirannya, karena dirinya bukan seorang putra dan sekarang karena ia mengalami kecelakaan. Sae Jin selalu membuat ibunya susah, dan gadis ini merasa sangat menyesal

“oh, apa sekarang kau akan mengaku bahwa kau menyayangiku?” ledek sang ibu sambil tersenyum. Wanita itu dengan hati-hati menggenggam tangan putrinya

“tidak” balas Sae Jin sambil menggeleng. Tentu saja Sae Jin menyayangi ibunya, tapi untuk mengakuinya Sae Jin merasa tak pantas. Ia belum membahagiakan ibunya itu

“aku sudah menyuruh bibi mengantar buburmu. Aku tahu kau tak akan suka makanan rumah sakit. Jadi tunggulah sebentar lagi” ibu Sae Jin lalu mengusap dahi Sae Jin lembut. Membuat Sae Jin memejamkan matanya dan menikmatinya.

Tak lama, pintu kamar rawat Sae Jin terbuka. Ibu Sae Jin pikir itu adalah salah satu maidnya yang membawakan bubur Sae Jin, hingga wanita itu menatap penuh minat ke arah pintu. Tapi ternyata ia salah. Yang ia lihat adalah seorang pria. Pria yang tak lain adalah Chanyeol.

Sae Jin masih memejamkan matanya, sampai telinganya mendengar sang ibu bertanya. Gadis itu melihat wajah Chanyeol lalu merasa heran. Wajah Chanyeol tak tampak seceria biasanya.

“kau temannya Sae Jin?” tanya ibu Sae Jin

“nde. Aku Chanyeol, bibi. Park Chanyeol” Chanyeol memperkenalkan dirinya sambil membungkuk sopan. Pria itu yakin wanita didepannya sekarang adalah ibu Sae Jin

“ah, kau berkunjung pagi sekali” ucap ibu Sae Jin sekedar menggoda Sae Jin. Ia sempat melihat tatapan yang putrinya itu berikan pada Chanyeol, juga sebaliknya. Ibu Sae Jin bisa dengan cepat menyimpulkan bahwa Chanyeol bukan hanya sekedar teman untuk putrinya itu

“dia sudah disini sejak kemarin malam bibi” Sehun yang baru masuk segera menyahut, “dia datang tadi malam, tepat tengah malam dan tak berani masuk untuk menemui Sae Jin” jelas Sehun sambil memberikan dua batang coklat pada Sae Jin.

Sehun tahu semua itu, karena ia juga di rumah sakit semalaman ini. Setelah dengan sengaja tersesat di rumah sakit, pria itu memutuskan untuk menungui Sae Jin di mobilnya. Dan saat tengah malam, Sehun melihat Chanyeol datang, namun sama seperti dirinya Chanyeol tak berniat turun dari mobilnya. Chanyeol juga memutuskan untuk menunggui Sae Jin di luar rumah sakit.

“kurasa dia ingin segera pergi sekarang” balas Sae Jin sembari menatap wajah Chanyeol. Tapi sayang, Chanyeol tak berniat membalas tatapannya. Pria itu menghindarinya. Sae Jin paham, Sehun pasti sudah berkata semua hal yang tidak-tidak pada Chanyeol, “dan itu semua karena kau, Oh Sehun” sambung Sae Jin sambil beralih manatap Sehun dengan kesal

“dia memang pantas kupukul, Sae Jin. Kurasa dia memang tak akan bisa menjagamu” balas Sehun masih dengan rasa marahnya.

Sehun kemudian mengamati Sae Jin. Jika saja ia bisa mencegah semuanya, Sae Jin tak akan terluka. Tangan Sae Jin tak akan dijahit, gadis itu tak akan merasakan kepalanya sakit dan ia tak harus melihat Sae Jin terbaring lemah dengan wajah pucat seperti sekarang.

“dia memukulmu?” Sae Jin bertanya sekedar berbasa-basi. Dilihat sekali saja, luka lebam di wajah Chanyeol bisa menjelaskan semuanya. Sae Jin hanya ingin Chanyeol bicara padanya atau setidaknya balas menatapnya. Tapi apa? Chanyeol tak menjawab dan terus menunduk. Sae Jin benci ini. Ia benci wajah bersalah seperti itu.

Gadis itu pun tak mau tinggal diam, ia berusaha duduk meski kepalanya masih sakit. Larangan dari Sehun dan ibunya tak Sae Jin perdulikan. Gadis itu berhasil duduk dan menatap Chanyeol yang masih terus menghindari tatapannya.

“ibu, bisa aku bicara dengannya?” Sae Jin meminta izin pada sang ibu, agar ia bisa bicara berdua dengan Chanyeol. Sae Jin tak mungkin terus membiarkan Chanyeol memasang wajah jeleknya itu. Dan penyebab Chanyeol demikian sungguh sangat tidak masuk akal. Ini semua sangat berlebihan.

Sang ibu mengabulkan permintaan Sae Jin dan menarik diri darisana. Tak lama Sehun juga pergi dan ruangan itu kini hanya dihuni Sae Jin dan Chanyeol.

Sepuluh detik berlalu dan suasana masih hening. Chanyeol masih tak mau menatap Sae Jin dan masih terus bungkam. Persis seperti orang bersiap menerima hukuman. Sae Jin sama sekali tak mengerti apa yang membuat Chanyeol bersikap begini. Kenapa pria itu mendiamkannya? Kenapa ia menghindari bersitatap dengannya? Jadi ini rasanya dihindari seseorang? Sae Jin paham sekarang. Rasanya memang menyebalkan

“maafkan aku, Sae Jin” Chanyeol akhirnya bicara dan menatap Sae Jin dengan penuh penyesalan. Chanyeol tahu, meski ia minta maaf seribu kali, keadaan tak akan berubah. Sae Jin masih akan tetap merasa sakit atas luka-luka itu. Tak ada yang akan berubah. Tapi Chanyeol benar-benar ingin Sae Jin tahu bahwa ia sungguh menyesal akan kebodohannya

“bukan kau yang menabrakku, kenapa kau yang minta maaf?” Sae Jin lega. Akhirnya Chanyeol bicara dan menatapnya. Ini sudah lebih dari cukup. Sae Jin kemudian segera membaringkan dirinya. Sungguh, kepalanya masih berkunang-kunang sekarang.

Chanyeol melihat Sae Jin yang mengernyit dan dengan cepat mendekat pada ranjang Sae Jin, “ada yang sakit? Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol panic

“kepalaku sakit. Aku ingin duduk lebih lama, tapi kurasa tidak bisa” Sae Jin berucap dengan pelan

“maafkan aku…” Chanyeol kembali mengucapkan permintaan maafnya

“kau sengaja membiarkan aku tertabrak?” tuduh Sae Jin

“apa? Untuk apa aku melakukannya? Sae Jin, aku mencintaimu bagaimana mungkin aku me_”

“kalau begitu berhenti berkata maaf. Kepalaku semakin sakit mendengarnya” Sae Jin tersenyum dan hal itu berhasil Chanyeol tangkap. “itu bukan salahmu, kenapa kalian berdua suka sekali membesar-besarkan masalah?” tanya Sae Jin sambil menaikkan selimutnya. Gadis itu mengungkapkan kebingungannya akan sikap Sehun dan Chanyeol. Ini sudah kedua kalinya dua pria itu bersikap berlebihan. Ia hanya sedang tidak beruntung hingga akhirnya tertabrak mobil tidak lebih. Lagipula luka-lukanya tak terlalu parah.

“maafkan aku. Aku benar-benar bersalah. Aku tak bisa menjagamu”

“Chanyeol, kubilang hentikan” Sae Jin menaikkan nada bicaranya. Ia benar-benar ingin Chanyeol berhenti merasa bersalah. Itu terlalu berlebihan.

“baiklah” Chanyeol menurut

“bagus. Sekarang bisa kau ajak ibuku masuk?”

“baiklah” Chanyeol sudah berbalik dan sudah hendak melangkah menuju pintu, saat Sae Jin kembali memanggilnya. Pria itu berbalik dan menatap kembali pada Sae Jin

“kemarikan kepalamu” kata Sae Jin.

Chanyeol bingung. Apa yang mau Sae Jin lakukan? Kenapa dengan kepalanya?

Sae Jin mengerti kebingungan pria didepannya, gadis itu tersenyum, lalu kembali berucap, “dekatkan kepalamu padaku…” ulang gadis itu

Chanyeol mendekat, sedikit membungkuk dan mendekatkan kepalanya pada Sae Jin. Chanyeol tak tahu apa yang Sae Jin inginkan. Seingatnya ini adalah posisi yang membuat Sae Jin melarikan diri dulu, saat di halte.

Dua detik kemudian, Chanyeol merasa rambutnya ditarik. Tidak sakit, hanya saja sedikit terasa aneh. Chanyeol kembali berdiri tegak dan menatap Sae Jin penuh kebingungan

“aku menjambakmu. Anggap saja kau mendapat hukuman. Sekarang berhenti merasa bersalah, aku sudah menghukummu, Park Chanyeol” Sae Jin berucap lagi-lagi sambil tersenyum. Ia melakukan semua itu karena ingin membuat Chanyeol merasa sedikit lega. Saat seseorang sudah dihukum atas kesalahanya, harusnya seseorang itu bisa merasa lega ‘kan? Jadi jika memang Chanyeol menyalahkan dirinya, maka biar saja Sae Jin memberikan hukuman. Masalah beres.

Chanyeol kembali menunduk. Kali ini bukan karena rasa bersalah, tapi karena ia ingin menyembunyikan senyumannya. Ia tak pantas merasa sesenang ini setelah semuanya, tapi ia tak bisa berbohong. Rasa bersalah tadi hilang entah kemana. Digantikan oleh rasa terima kasih. Chanyeol lalu menatap Sae Jin, ia setengah mati menahan diri agar tak segera menghambur dalam pelukan gadis itu. Sae Jin selalu berhasil membuatnya berbunga-bunga

“Sae Jin, bagaimana ini? Aku ingin memelukmu sekarang juga” kata Chanyeol penuh harap

Mata Sae Jin membola dan jantungnya berdegup sangat kencang. Sial. Chanyeol hanya bilang ingin dan reaksi Sae Jin sudah berlebihan seperti ini. Bagaimana jika nanti Chanyeol benar-benar memeluknya?

“Ibu…!” Sae Jin berteriak memanggil ibunya. Hanya itu yang terlintas dikepala Sae Jin. Ia tak tahan jika terus ditatap Chanyeol seperti sekarang.

 

One week later

“mana Sae Jin?” tanya Chanyeol pada Ah Ra yang baru tiba

Hari ini Chanyeol, Sehun, Ah Ra dan Sae Jin akan pergi jalan-jalan. Tujuannya adalah sebuah pasar malam. Mereka pergi karena ingin merayakan lulusnya Sehun, Ah Ra dan Sae Jin dari SMA.

Semua berlalu dengan cepat. Tanpa empat orang itu sadari, banyak yang sudah berubah dari mereka. Sae Jin yang mulai berani membuka diri pada Chanyeol, Chanyeol yang semakin jatuh cinta pada Sae Jin setiap harinya lalu hubungan Sehun dan Ah Ra yang mendadak jadi aneh.

Sehun menyukai Ah Ra, dan begitu sebaliknya, diawal. Seperti semua kisah cinta, hubungan Sehun dan Ah Ra juga mengalami cobaan. Masalah terbesar dalam hubungan mereka adalah perbedaan cara mereka dalam menyikapi suatu hal. Seperti yang semua orang tahu, Ah Ra terbiasa hidup teratur, disiplin, terstruktur juga punya tujuan jelas. Berbeda dengan Sehun. Pria itu selalu melakukan semua hal yang memang ia ingin lakukan, spontan, juga suka seenaknya.  Awalnya dua orang itu mengannggap perbedaan yang ada sebagai cara untuk saling melengkapi. Tapi ternyata mereka salah. Semakin hari perbedaan itu terasa semakin jadi masalah.

Mereka menjadikan perbedaan cara pandang itu sebagai alasan untuk mulai bertengkar dan tak tahu cara berdamai. Tidak jarang mereka tak bicara satu sama lain selama berminggu-minggu. Tanpa mereka sadari pertengkaran yang terjadi membuat perasaan satu sama lain berubah. Keyakinan berubah, rasa percaya berubah, dan kemudian sadar. Memang tak ada yang benar-benar selamanya di dunia.

Keadaan itu diperparah dengan seringnya mereka berdua menangkap momen manis Sae Jin dan Chanyeol. Maka pepatah soal rumput tetangga yang terlihat lebih hijau pun terjadi.

“Sae Jin bilang ia masih dijalan” jelas Ah Ra pada Chanyeol

Ke-empat orang itu berjanji bertemu di sebuah halte, pukul 8 malam. Tapi ini sudah lewat 15 menit dari pukul delapan, yang sudah tiba baru Chanyeol dan Ah Ra. Sehun dan Sae Jin belum juga datang.

Tak lama, sebuah bus berhenti didepan halte itu. Chanyeol segera berdiri dan  pria itu tersenyum. Ia melihat Sae Jin berjalan turun dari bus itu. Jika saja bisa, Chanyeol ingin menggenggam tangan Sae Jin untuk membantu sang gadis turun dari bus. Tapi ia bisa apa? Sae Jin tak suka perlakuan manis demikian

“maaf aku terlambat” ucap Sae Jin pada Chanyeol dan Ah Ra. Untuk sebentar, Sae Jin menunduk dan memejamkan matanya. Ia ingin melupakan apa yang sudah terjadi dirumah tadi

Dua menit kemudian, Sehun datang. Pria itu sengaja mengindari menatap wajah Ah Ra.  Atas instruksi dari Chanyeol, mereka pun berangkat dengan mobil Chanyeol.

 

Pasar malam, siapa pun tahu kalau tempat itu adalah salah satu tempat paling menyenangkan. Tapi untuk Chanyeol, Sehun dan Ah Ra ini pertama kalinya mereka tahu. Tahu bahwa pasar malam bisa merubah Sae Jin menjadi orang yang berbeda.

“yaah, berhenti melompat seperti itu. Kau bukan anak kecil lagi !” omel Sehun pada Sae Jin yang masih melompat kecil saat melihat banyaknya balon yang dijual disana. Sehun hanya pura-pura kesal. Ia sebenarnya senang melihat Sae Jin melakukan hal tadi. Gadis itu terlihat sangat senang dan ia suka itu. Membuatnya lupa akan masalahnya.

Sae Jin sendiri sudah mati-matian menahan diri untuk tak benar-benar melompat persis anak kecil, ia hanya sesekali berjinjit karena omelan Sehun barusan. Sae Jin suka tempat ini. Tempat dimana ia bisa kembali merasa masih anak kecil yang tak perlu memusingkan urusan orang dewasa.

“aku mau naik wahana itu” Ah Ra menunjuk pada wahana baling-baling didepan mereka. Ah Ra sedikit lupa bahwa ia dan Sehun sedang bertengkar dan mengajak pria itu secara tidak sadar. Ia melihat Sehun tersenyum kikuk padanya. Hati Ah Ra melemah. Baiklah, mari lupakan amarah dan perbaiki hubungan.

“baiklah” angguk Sehun

“aku tidak” Sae Jin berucap dan membuat langkah kaki Sehun, Ah Ra dan Chanyeol berhenti, “aku tidak mau, itu tinggi. Bagaimana jika aku jatuh dan mati? Aku tidak mau” jelas Sae Jin santai

“kau tidak akan jatuh, Sae Jin. Lagi pula, ada aku. Aku akan menjagamu’ Ah Ra mencoba membujuk Sae Jin dengan senyuman meyakinkannya

“tidak mau” geleng Sae Jin. Gadis itu lalu melihat sekitar dan akhirnya menjatuhkan focus pada stand penjual balon tadi, gadis itu tersenyum. “kalian naik saja, aku akan menunggu disana, sambil memecahkan semua balon itu”

“baiklah. Kita pergi, Ah Ra” ajak Sehun pada Ah Ra setelah menggeleng akan ucapan Sae Jin. Dua sejoli itu pun mulai melangkah. Mereka lalu melirik Chanyeol yang masih tersenyum dan tak bergerak dari tempatnya

“kalian saja. Aku akan menemani adik kecil ini saja” kata Chanyeol pada Sehun dan Ah Ra.

Dua pasangan itu menikmati waktu mereka. Sehun dan Ah Ra yang mencoba semua wahana permainan, sembari membicarakan masalah mereka beberapa hari lalu.  Sementara Chanyeol sibuk mengekori anak kecil yang sedang terjebak di tubuh Sae Jin.

“Sae Jin, tunggu aku. Kau bisa tersesat” Chanyeol berucap sembari memegangi tiga bungkus permen kapas. Pria itu menyusul Sae Jin yang sekarang berlari menuju sebuah wahana kereta api kecil. Kalian pernah lihat wahana kereta api yang sering dinaiki anak kecil kan? Sae Jin pergi kesana. “jangan bilang kau mau naik yang ini” ucap Chanyeol waspada. Sudah cukup dia malu saat Sae Jin tertawa sambil memecahkan semua balon yang ia beli

“jika bisa, aku ingin naik” kata Sae Jin sambil menatap wahana itu penuh minat

“Sae Jin, sejak tadi semua orang tua disini menatap aneh pada kita” Chanyeol memperingatkan agar Sae Jin tak benar-benar menaiki wahana itu

“aku tahu. Baiklah, aku tidak naik ini” Sae Jin membalikkan tubuhnya dan membelakangi wahana itu. Gadis itu lalu mengambil satu bungkus permen kapas dari tangan Chanyeol, dan memakannya dengan cara persis anak kecil

“Sae Jin..” panggil Chanyeol sambil memperhatikan gadisnya. Panggilan Chanyeol tadi hanya dibalas dengan deheman dari Sae Jin. “aku tak pernah tahu kau punya sisi kekanakan seperti ini” kata pria itu sambil tersenyum

“sudah kubilang, aku ini masih kecil. Jadi, jika kau mau berubah pikiran soal akan menungguku, kau boleh melakukannya” kata Sae Jin dengan mulut penuh. Sae Jin sengaja mengungkit hal ini karena sebenarnya ia ingin tahu apa yang Chanyeol rasakan sekarang. Masihkah pria itu menunggunya? Atau mungkin ia sudah bosan? Sae Jin tak memberi kepastian apa-apa pada Chanyeol

“aku suka mengurusi anak kecil, tenang saja” jawab Chanyeol yakin. Ia tahu Sae Jin ingin mendengar ini

“boleh aku bertanya padamu?” Sae Jin berucap kembali. Kali ini gadis itu terdengar sedikit serius. “aku ini, terlihat seperti apa dimatamu?’

“seperti apa bagaimana?” tanya Chanyeol sok bingung. Ia paham apa yang Sae Jin maksud. Ia juga tahu bahwa Sae Jin sedang memikirkan sesuatu sejak tadi.

“aku ini manusia yang bagaimana? Egois? Tidak peka? Tidak bertanggung jawab? Tak bisa melakukan apapun? Kekanakan? Keras kepala? Cara pikirku sempit? Dingin? Tak tahu terima kasih? Anak nakal? Atau bahkan anak yang tidak berguna?”

Chanyeol terdiam. Meski Sae Jin bertanya dengan enteng, sembari memakan makanannya, tetap saja Chanyeol merasa bahwa ini adalah hal serius. Sae Jin bukan tipe orang yang suka melakukan sesuatu yang tak ada artinya.  Hanya butuh beberapa detik untuk Chanyeol mengerti semuanya. Sae Jin sedang ada masalah. Seperti biasa, gadis itu tak akan menceritakannya secara langsung pada Chanyeol. Gadisnya ini hanya akan diam, memikirkan masalahnya itu sendiri, dan mengajukan pertanyaan random semacam tadi. Chanyeol paham.

Chanyeol  melangkah maju kemudian tanpa aba-aba ia memeluk Sae Jin. Pria itu bahkan tak perduli akan teriakan tertahan yang Sae Jin perdengarkan. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu

“Chan…lepaskan aku. Kenapa kau memeluk-ku?” cicit Sae Jin. Gadis itu bernafas dengan hati-hati dalam pelukan Chanyeol. Jantungnya serasa akan berhenti karena gugup, tapi sesuatu dalam dirinya berteriak senang karena Chanyeol memeluknya.

“dari semua yang kau ucapkan tadi, kau punya dua. Keras kepala dan kekanakan” Chanyeol berucap sembari meletakkan dagunya diatas kepala Sae Jin, “kenapa kau bertanya seperti itu?”

“aku takut” jawab Sae Jin, “bagaimana jika nanti kau tahu siapa dan bagaimana aku yang sebenarnya? Bagaimana jika aku tak bisa membuatmu tersenyum setiap hari nantinya? Bagaimana jika aku mengecewakanmu?”

Sae Jin bertengkar dengan ayahnya lagi. Dan seperti biasa karena terlalu emosi pria tua itu mengatakan semua hal yang tidak baik. Hal itu membuat Sae Jin takut. Jika ayahnya saja menilainya demikian, lantas bagaimana dengan Chanyeol nanti? Apa nanti Chanyeol juga akan menganggap dirinya buruk? Lalu bagaimana jika nanti pria itu meninggalkannya?

“aku sudah tahu siapa kau, Sae Jin. Aku sudah tahu”

“itu belum semuanya, apa yang kau lihat sekarang bukanlah aku yang se_”

“aku tidak perduli. Yang aku tahu, sekarang kau segalanya bagiku” Chanyeol membuat jarak dengan Sae Jin agar bisa menatap wajah gadisnya. Ia bisa melihat rasa takut di mata Sae Jin. Yang bisa Chanyeol lakukan hanya tersenyum. Senyum yang ia harap bisa meyakinkan Sae Jin.

Sae Jin diam dan ikut beradu tatap dengan Chanyeol. Gadis itu ingin menganggap semua ucapan Chanyeol barusan hanyalah kalimat manis khas orang kasmaran, tapi hatinya tak berpendapat sama. Hatinya bilang Chanyeol sungguh-sungguh akan semua itu.

“Jangan lepaskan aku” ucap Sae Jin sembari menunduk. Ia tak tahu pantas atau tidak ia meminta hal barusan pada Chanyeol. Tapi Sae Jin tak  bisa ingkar, ia ingin Chanyeol menatapnya seperti barusan selamanya. Ia ingin Chanyeol memeluknya seerat ini selamanya. Sae Jin tak pernah mengatakannya pada Chanyeol, tapi pria itu sudah benar-benar mencuri hatinya. Sepenuhnya.

“aku milikmu..” Chanyeol membalas ucapan Sae Jin, lalu kembali membawa Sae Jin dalam dekapannya

“aku akan kuliah di universitas yang sama denganmu” kata Sae Jin setelahnya

 

Sementara itu, Sehun dan Ah Ra sama-sama mematung ditempat mereka karena adegan barusan. Entah apa yang ada di pikiran dua manusia itu hingga mereka sama-sama melepaskan genggaman tangan

To Be Continued

 

a/n

okee…

ini udah nyampe ke chapter yang kayaknya bakal jauh dari ekspektasi kalian. Mulai dari chapter ini sampe chapter 22 (end) bakalan banyak hal yang mungkin akan ngebuat kalian mengernyitkan dahi sambil bilang ‘yah, kok gini?’ atau ‘apaan sih ini?’ eh, kok jadi gini?’  atau ‘ini aliensss lagi mabok atau gimana?’  atau ‘astaga, ini cerita kok kenyal2 kayak jeli and bikin geli ya’ dan hal yang sama dengan itu. nggak masalah, aliensss terima dengan lapang dada.  Jadi aliensss mohon maaf duluan yoo?

terima kasih sudah membaca…

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 12)”

  1. Aaa..!! Jangan-jangan..😫
    Ya ampun aku pernah baca our story yg no sound dan sedih bangett…😭😭😫😭
    Aku maunya sae jin sama cy ajaa.. oh my i..😭😭😭

    Sorry baru muncul thor.., kelas 12 benar-benar membuatku sibuk ><

  2. Horeeee..akhirnya chan bisa meluk saejin..seneng banget. Ah ra ama sehun iri atau ada perasaan lain? Semoga takdir mereka g berubah. Ah ra dengan sehun aja, dan chanyeol dengan saejin..,lanjut thor..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s