[EXOFFI FREELANCE] Take You Home [Eighth]

TAKE YOU HOME (Eighth)

Sháo Xī

Chaptered

Romance, Married life, Drama, Angst

PG-15

Byun Baekhyun [EXO] x Go A Young [OC]

Park Chanyeol [EXO]

©

Summary:

Tujuanku bersamanya hanya ada satu: Demi wanita nomor satu dalam hidupku

Disclaimer:

Cerita ini murni karya saya sendiri. Beberapa adegan mungkin terinspirasi dari buku maupun film yang pernah saya baca dan tonton. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan asli tokoh. Tinggalkan jejak karena jejak adalah vitamin penulis J

©

.

.

.

Aku akan mencoba, walau itu sedikit, setidaknya berarti

.

.

                                                                                                       .

“ ‘Bagaimana caranya membuat cheese cake?’ ”

A Young terlonjak dari kursinya. Matanya membulat saat ia berbalik dan menyadari siapa yang ada di belakangnya. Tangannya refleks menutup laptop yang tengah menampilkan laman yang sedang dibacanya. A Young menarik sudut bibirnya, berusaha menciptakan senyum seolah-olah tidak ada yang terjadi, tapi nyatanya yang keluar adalah senyum kikuk yang semakin menambah kecurigaan gadis yang tengah ditatapnya.

“Hai, Jae Hee-ya,” sapa A Young. “Ah … kerjaanmu sudah selesai, ya?”

Gadis yang dipanggil Jae Hee itu memincingkan matanya dengan tangan bersedekap. “Bukankah harusnya aku yang tanya, apakah kerjaanmu sudah selesai sehingga kau bisa mencari tentang cheese cake itu?”

A Young meringis. Ia tahu kerjaannya masih menumpuk, ada beberapa novel yang masih belum ia baca padahal besok adalah jadwal temu dengan penulis. Ah … apasih yang sedang ia lakukan?

“Belum, sih,” aku A Young.

Jae Hee menghela nafas. Ia meraih bangku terdekatnya, duduk menghadap A Young yang masih sedikit curi pandang ke arah laptopnya. “Hei, aku tahu apa yang ingin kau lakukan, tapi setidaknya jangan lupakan tugasmu. Kau ingin dipanggil lagi ke ruang tertutup itu, lalu keluar seolah-olah kau sudah dipecat?”

Arasseo, arasseo,” jawab A Young. “Aku akan fokus mulai sekarang, okey?”

Jae Hee hanya mengangguk ketika A Young menyingkirkan laptopnya dan mulai membuka file dari komputernya. Ia memindai sekilas temannya itu. “Kau tidak ambil cuti, ya?”

“Hem? Cuti? Tidak,” jawab A Young sambil menumpukan dagunya dengan mata terpancang pada sederet tulisan.

“Kenapa? Semua karyawan kita yang menikah pasti ambil cuti. Dan …” Jae Hee terkesiap lalu menepuk bahu A Young lumayan keras hingga gadis itu mengaduh. “Kau juga tidak berbulan madu? Sungguhan? Astaga … suami macam apa dia, tidak mengajakmu bulan madu dan juga membiarkanmu kerja?”

A Young memutar bola matanya, lalu tersenyum. “Dia sudah mengajak, tapi aku menolak,”

“Apa?” tanya Jae Hee kaget. “Ya, kau sudah kehilangan akalmu?”

Ani,” jawab A Young tegas. “Aku menolaknya karena aku tahu kami tidak membutuhkannya,”

“Tidak membutuhkannya? Apa maksudmu?” tanya Jae Hee heran. Tentu saja dia heran. Apa maksudnya tidak membutuhkan? Semua pengantin baru pasti mengidam-idamkan hal itu.

“Hanya …” A Young tersenyum. “Hanya tahu saja,”

Jae Hee menatap temannya itu dengan mulut setengah terbuka. “Hah?”

“Ah, sudahlah. Sebaiknya kau kembali ke mejamu sebelum kita kena teriak lagi karena ketahuan mengobrol, okay?” tanya A Young sambil mendorong kawannya itu menjauh.

Jae Hee mendesah. “Okay, okay. Giliran aku mengajakmu mengobrol kau beralasan kita akan kena marah. Tapi kau malah tidak memikirkannya saat membaca hal yang bukan tugasmu,” gerutu gadis dengan rambut pendek sebahu itu.

A Young menempelkan telunjuknya ke bibir, mencegah temannya bicara lebih. Jae Hee mendengus tak percaya saat A Young melakukannya, tapi gadis dengan rambut tersanggul asal-asalan itu hanya membalas dengan senyuman, lalu kembali fokus ke komputernya. Ia menggerakkan mouse-nya sepanjang kalimat yang ia baca―salah satu kebiasaannya. Namun, saat ia mencapai kalimat “Aku melakukannya karena aku tahu, tahu lebih dari siapapun.”, A Young menghentikan gerakannya. Matanya dibiarkan hanya menatap tulisan itu, sementara pikirannya tengah melayang. Ia kembali teringat perkataan Jae Hee tadi, tentang bulan madu dan semacamnya. A Young tidak menginginkannya? Tentu saja ia bohong. Ia sama seperti gadis lainnya, menginginkan gaun putih panjang di hari pernikahan, bulan madu bersama orang yang ia cintai, memandang laut bersamanya sembari berjalan di sepanjangnya dengan bergandengan tangan … ia menginginkannya. Tapi seperti yang ia katakan tadi, mereka tidak membutuhkannya.

Karena gadis itu tahu.

Hanya tahu saja.

.

.

Sungguh, ia ingin tahu kapan kertas-kertas ini bisa segera menyingkir dari hadapannya.

Baekhyun menatap kertas yang masih terhampar di meja-mejanya, lalu menghela nafas. Ia melonggarkan dasinya, membuka dua kancing teratas kemejanya karena ia sudah merasa sesak. Tangannya bersedekap dengan tatapan yang menurutnya bisa membuat kertas-kertas itu menghilang, tapi nyatanya tidak. Sepertinya kertas-kertas itu sudah cukup nyaman tinggal di mejanya. Baekhyun menatap jam di depannya, sudah lewat makan siang. Tapi ia adalah orang yang tidak pernah memperdulikan makan siang sebelum pekerjaannya selesai. Jadi, lelaki Byun itu menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, mengepalkan kedua tangannya untuk menyemangati dirinya menghabisi semua kertas di hadapannya. Baru saja ia mengambil satu lembar kertas, ponselnya di meja bergetar. Ia menatapnya sebentar sebelum meraih dan membaca nama yang tertera. Keningnya berkerut ketika mendapati nama A Young di sana.

“Halo,”

Halo, Sunbae. Ini sudah waktunya makan siang. Kau sudah makan?

“Aku … sudah makan siang,” jawab Baekhyun, sengaja berbohong.

Eoh? Tapi sekretaris Sunbae bilang kalau Sunbae belum keluar sejak tadi,

Baekhyun membeku. Ia bangkit segera, berlari ke pintu dan membukanya dengan cepat. Di depannya, dekat meja sekretarisnya, ia bisa melihat A Young berdiri di sana dengan baju terusan selutut berkerah warna biru langit. Ia tersenyum sambil mengangkat sekantong makanan di tangan kirinya.

“Kau datang ke sini?” tanya Baekhyun tak percaya.

“Eoh, aku mau mengajak Sunbae makan siang,” jawab A Young. “Omong-omong, Sunbae boleh menurunkan ponselnya.”

Baekhyun mengangkat alisnya, sedetik kemudian ia baru sadar jika ponselnya masih menempel di telinga. “Ah, iya, benar.”

A Young terkekeh. “Aku boleh masuk?”

Baekhyun mengangguk, sedikit menyingkir supaya gadis itu bisa masuk. “Eoh, silakan,”

A Young mengedarkan pandangnya, membiarkan matanya menjelajahi seluk beluk ruang kerja Baekhyun. Matanya lalu beralih ke meja Baekhyun. Setumpuk kertas-kertas menarik perhatiannya, membuat A Young mengalihkan pandang ke Baekhyun yang sedang membereskan meja tamunya untuk mereka makan siang.

“Sunbae sedang sibuk, ya?” tanyanya.

Baekhyun yang tengah mengumpulkan barang-barang yang tidak relevan dengan makan siang mendongak. “Tadi, sih,”

Pundak A Young merosot. “Aku mengganggu, ya? Seharusnya aku telepon Sunbae dulu sebelum datang,”

Baekhyun segera menggeleng, tidak ingin gadis itu merasa menyesal. Apalagi ia sudah jauh-jauh datang kemari cuma untuk membawakannya makanan. “Ini juga sudah waktunya makan siang, kan? Tidak usah merasa bersalah, okay? Sini, duduk,”

A Young beringsut mendekat, mengeluarkan makanan yang sudah ia beli dari kantongnya dan menatanya di atas meja. Baekhyun sendiri mengambilkan air mineral yang selalu tersedia di ruangannya. Mereka berdua duduk berhadapan di sofa. Baekhyun menatap A Young sebentar yang masih sibuk menata meskipun ia sudah duduk manis. Lelaki itu bangkit lalu berjalan ke mejanya dan mengambil jasnya yang tergantung. Ia berjalan kembali ke arah A Young dan menutupi kaki gadis itu dengan jasnya. A Young sendiri menatap Baekhyun kaget.

“Pakai saja, tidak apa-apa,” ujar Baekhyun seolah-olah menjawab kebingungan gadis itu.

“Nanti jas Sunbae kotor,” kata A Young sambil berusaha mengembalikan jas lelaki itu.

Namun, Baekhyun menahan tangan gadis itu yang membuat A Young menatap kembali ke arahnya. “Kalau kau lepas, aku tidak mau makan,”

A Young merengut. “Sunbae,”

Walau tahu gadis itu akan protes, tapi Baekhyun hanya membalas dengan senyuman dan mulai menyendok makanannya. “Kau akan kembali lagi ke kantor setelah ini?”

A Young mengangguk sembari menyumpitkan nasi. “Masih banyak novel yang harus kubahas bersama penulisnya. Rasanya tidak selesai-selesai,”

Baekhyun terkekeh. “Tapi bukannya membaca hal yang seperti itu memang kesukaanmu? Itu sebabnya kau memilih pekerjaan ini, kan?”

A Young melirik Baekhyun. “Sunbae seperti menyuruhku untuk cepat-cepat menyelesaikan tugasku. Semua orang rasanya tak henti-hentinya mengingatkanku akan tugasku yang menumpuk.”

“Wah, kau ini cepat tanggap juga,” puji Baekhyun yang membuat A Young mendengus.

“Omong-omong, bagaimana dengan Sunbae? Pekerjaan Sunbae hari ini lancar?” tanya A Young sambil menyumpitkan daging ke mangkuk Baekhyun yang dibalas dengan senyuman lelaki itu.

“Lumayan,” jawab Baekhyun. “Aku sudah tidak ada rapat lagi, tinggal membereskan pekerjaan yang sempat tertinggal karena acara kita kemarin,”

A Young meraih gelasnya, meminum isinya sebelum akhirnya kembali menyendok makanannya. “Acara kita kemarin … banyak mengganggu Sunbae, ya?”

Baekhyun menghentikan suapannya dan mengalihkan perhatiannya ke A Young yang sudah lebih dulu menatap Baekhyun. “Kau ini bicara apa? Acara kita kemarin sama sekali tidak mengganggu. Semuanya masih bisa kuatasi, jadi jangan khawatirkan itu, okay?”

A Young diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk sambil menyuguhkan senyum simpulnya. Gadis itu kembali makan, namun Baekhyun masih diam memperhatikannya. Ada satu pertanyaan yang sebenarnya menganggu dirinya akhir-akhir ini dan Baekhyun ingin menanyakannya pada A Young. Baiklah, ia memang sudah pernah menanyakannya, tapi ia tak yakin akan jawaban gadis itu. Baekhyun tahu sebenarnya apa dampak dari pertanyaannya, tapi setidaknya ia ingin mencoba. Seperti kata Chanyeol, sedikit saja untuk lebih berani.

“A Young-a,” panggil Baekhyun.

“Ehm?” tanya A Young sambil mengalihkan maniknya ke arah Baekhyun.

“Kau … tidak ingin pergi? Maksudku, kita berdua pergi ke suatu tempat. Hanya kita saja, kau mau?”

A Young menghentikan kunyahannya. Ia menatap Baekhyun tanpa kedip, merasa terkejut karena lelaki ini kembali menanyakan hal yang selama ini sebenarnya mengganggu A Young. Gadis itu mengalihkan pandangannya sebentar sambil menyeruput minumnya sedikit. Ia kembali memandang Baekhyun yang masih belum melepas pandangannya.

“Aku ….” A Young menarik nafas perlahan, berusaha membuatnya tidak terlalu kentara. “Tidak perlu,”

“Kenapa?” tanya Baekhyun langsung.

“Karena … Sunbae sudah terlalu sibuk. Aku tidak ingin membuatmu menunda pekerjaanmu lebih lama. Lagipula, aku tidak terlalu menganggap itu penting,” A Young menyuguhkan senyum menenangkannya. “Berdua di tengah kota Seoul yang sibuk saja aku sudah senang. Jadi, tidak usah memikirkannya lagi, Sunbae.”

Baekhyun diam. Ia sudah menduga gadis ini akan menjawab seperti tadi, tapi jujur ia tak bisa percaya. Gadis mana di dunia ini yang tidak menginginkan bulan madu, hanya mereka berdua? Apa gadis di depannya ini sedikit lain?

“Aku … tidak terlalu paham maksudmu,” akui Baekhyun.

A Young terkekeh sebentar. “Aku tidak terlalu menginginkannya, Sunbae. Hanya melihat Sunbae seperti ini saja aku sudah senang. Tidak perlu pergi ke suatu tempat untuk mengenal Sunbae lebih jauh,”

Baekhyun mengangkat alisnya. “Kau sungguhan? Aku sama sekali tidak masalah kalau kita pergi,”

A Young menenggak salivanya lalu mengangguk. “Sungguhan, Sunbae,”

Baekhyun mengangguk pelan, “Oke …”

A Young tersenyum lalu menunjuk mangkuk Baekhyun yang masih tersisa setengah. “Sunbae, ayo makan lagi,”

Baekhyun menatap mangkuknya. “Ah, iya,”

A Young menyumpitkan lagi daging dan meletakkannya di mangkuk Baekhyun lalu lanjut makan. Baekhyun sendiri menyuapkan makanannya sambil sesekali menatap gadis di depannya yang masih asyik mengunyah. Harusnya ia lega kalau gadis itu mengatakan tidak. Tapi kenapa sekarang malah ia yang merasa bingung dan tak nyaman? Oh, ayolah … kapan Baekhyun bisa lega terhadap semua yang ia lakukan kepada gadis ini? Kenapa semua yang ia lakukan tidak terasa benar?

“Sudah jam segini?” tanya A Young sambil memandang jam tangannya. “Sunbae, aku rasa aku harus segera kembali ke kantor. Sebentar lagi janji temuku dengan penulis.”

“Ah, benarkah?” Baekhyun melirik jam dinding. “Aku akan mengantarmu,”

“Ah, tak perlu,” larang A Young ketika Baekhyun meraih kuncinya di meja.

“Kenapa? Kau ingin naik bus? Kau bisa terlambat nanti,” jelas Baekhyun.

A Young menggaruk tengkuknya lalu menyelipkan anak rambut yang jatuh ke telinganya. “Pekerjaan Sunbae jadi tertunda nanti,”

Baekhyun menggeleng. “Bukan masalah. Ayo,”

Baekhyun berjalan mendahului A Young. Gadis itu menarik nafasnya, menghembuskan perlahan, lalu memilih mengikuti langkah lelaki itu. Ia sempat membungkuk pada sekretaris Baekhyun yang terlebih dahulu memberinya salam. Pintu lift berdenting saat mereka sampai. Keheningan menyelimuti saat di dalam lift karena hanya mereka berdua di dalam. A Young memilih memandang ke samping, ke arah cermin yang menghiasi dinding lift. Sedangkan Baekhyun, ia hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Diam-diam, A Young mengagumi profil lelaki di sampingnya ini. Entah sudah yang keberapa kali ia melakukannya, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa betapa sukanya ia dengan lelaki Byun ini. Ah … benar juga. A Young belum sempat mengatakan bagaimana ia bisa mengingat lelaki ini dengan mudahnya saat hari pertama mereka bertemu setelah sebelas tahun lamanya. Lelaki ini juga tak pernah membahasnya jadi A Young tak pernah memikirkannya lagi. Tapi … jika ia mengatakannya, apakah lelaki ini akan ingat? Secara, ia bukanlah orang yang gampang diingat karena A Young sadar jika dirinya hanyalah seseorang yang benar-benar biasa.

“Tadi Ibu meneleponku,” mulai Baekhyun yang membuat A Young menatapnya. “Dia bilang ingin bertemu denganmu,”

Senyum A Young perlahan terkembang membentuk senyum simpul. “Ibu pasti menagih janjiku,”

Baekhyun menoleh. “Janji?”

A Young mengangguk. “Aku dan Ibu akan membuat origami burung supaya doa kami bisa terkabul.”

Baekhyun diam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas. “Aku sudah berhenti percaya akan hal itu,”

“Kenapa?” tanya A Young tak setuju. “Itu benar-benar berhasil jika Sunbae benar-benar percaya,”

Lelaki Byun itu menggeleng. “Itu tak akan pernah berhasil, A Young-a,”

A Young merengut. “Sunbae,”

Baekhyun tertawa kecil. “Kau bisa menemani Ibu, aku sudah sangat bersyukur. Terima kasih, Young-a,”

A Young diam sementara Baekhyun kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Pintu lift berdenting dan lelaki itu melangkah keluar terlebih dahulu tanpa memastikan apakah gadis di belakangnya mengikutinya atau tidak. A Young sendiri baru melangkah setelah lelaki itu keluar. Ia mengikuti Baekhyun dalam diam sambil tetap memperhatikan punggung lelaki itu. Punggung itu … mungkin terlihat tegap, tapi A Young tahu bahwa sebenarnya punggung itu begitu rapuh. Rasa-rasanya, satu terpaan angin bisa menumbangkannya. Tapi diam-diam A Young bersyukur bahwa lelaki di depannya ini memiliki pondasi yang kuat. Pondasi yang akan mencegahnya tumbang meskipun badai menerpa.

Tiba-tiba, langkah A Young terhenti. Ia terdiam sementara Baekhyun tetap melangkah di depannya. Ia paham kenapa lelaki itu meragukan origami burung yang bisa mengabulkan doa mereka. Lelaki itu … selama hidupnya pasti sudah pernah mencobanya. Bergantung dan berharap pada hal sepele semacam itu. Tapi kemudian ia dibenturkan pada kenyataan bahwa hal itu tak akan berhasil. Hal itu tak akan memihaknya. Sebab … sebanyak apapun origami yang ia buat, bahkan jika itu berhasil mencapai langit, orang yang ia sayangi itu akan tetap di sana dengan selang menyakitkan itu. Orang itu tak akan keluar dan lelaki itu harus menerima kenyataan bahwa ia hanya bisa menatap orang itu tersenyum di balik masker oksigennya. Tiba-tiba, pandangan mata A Young mengabur. Pemikiran-pemikiran yang masuk ke dalam kepalanya itu membuatnya sesak dan ia harus merasakan rasa kasihannya pada lelaki itu.

Baekhyun yang hampir mencapai pintu keluar menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati bahwa A Young tertinggal jauh di belakangnya. Baekhyun memiringkan kepalanya, tidak mengerti kenapa gadis itu terdiam dengan pandangan yang terarah padanya. Lelaki itu menarik nafasnya lalu mengayunkan tungkainya menuju A Young. Baru beberapa langkah ia berjalan, gadis itu berlari-lari kecil menghampirinya.

Alis Baekhyun melejit. “Kenapa?”

“Sunbae tak perlu khawatir. Aku akan buat origami burungnya dan kupastikan kali ini ia akan terbang ke langit,” ujar A Young mantap.

Baekhyun memandangi A Young tanpa kedip. “Kenapa tiba-tiba membahas itu?”

A Young menarik sudut bibirnya. “Aku akan berusaha supaya kali ini akan berhasil,”

Baekhyun hanya bisa diam memandangi A Young. Untuk hal itu, jujur, ia sudah lama berhenti percaya. Mau sebanyak apapun ia membuatnya, itu tak akan berhasil. Tapi melihat tekad gadis ini, Baekhyun hanya bisa berharap bahwa gadis ini akan berhasil.

Baekhyun tersenyum simpul. Ia mengangkat tangannya, menepuk pelan kepala A Young. “Terima kasih,”

Lelaki itu berbalik dan A Young langsung mengikuti langkahnya dengan ringan. Lelaki itu tidak mencoba percaya pada hal itu. Ia hanya mencoba percaya pada gadis di sampingnya ini. Sedangkan gadis itu, ia hanya ingin lelaki itu percaya bahwa hal apapun yang dilakukan, asalkan kau percaya itu berhasil, maka hal yang kau harapkan akan terjadi.

Yah, mungkin saja kali ini akan berhasil, bukan?

Atau … tidak?

.

.

To be continue

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Take You Home [Eighth]”

  1. Wahhh..baekhyun bersyukur tuh harusnya bisa menikah dengan ah young, g perlu bulan madu,jalan2, g nyusahin dan sayang sama mertua. Mantap deh.ah young..,chapter ini masih fokus hub baekhyun dan ah young aja ya thor? Chanyeol nya belum keluar lagi..? Lanjut thor

    1. Hahahaha ya ampun aku ga nyangka 😆 dari awal aku nyusunnya, udah kubuat ibunya. Soalnya dijelaskan di prolog kalau baekhyun terpaksa nerima karena ibunya yang minta. Btw thanks banget yaa kamu mau mampir ke sini dan masih baca, huhu aku terharu 😭😭

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s