[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 8)

[8] Love You More

Love, Friends and Ambition

Tittle                     = Love You More (Love, Friends and Ambition)

Author                 = Park Shin

Main Cast           = Kim Arin, Byun Baekhyun, Oh Jiho, Kim Taehyung BTS

Cast                       = EXO’S members, Yoon Ara, Moon Sojin, Other’s Idol

Genre                  = School Life, Friendship, Romance

Length                 = Chaptered (16 Eps)

Rating                   = General

Disclaimer           = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[8]

Berhenti membohongi diri

 

Baekhyun berlari kesana kemari. Setelah menemui kelas Arin dan dan mendapati kabar dari Sojin bahwa gadis itu tidak masuk kelas membuatnya khawatir. Ia mengelilingi sekolahnya hampir dua kali dan mengunjungi perpustakaan juga,namun gadis itu tidak ada.

Panggilan dialnya juga tak kunjung ada jawaban. Kemana gadis itu? Pikirnya.

Sesampainya didepan gerbang, ia menemui Ko Ahjussi, satpam yang tengah berjaga disana.

“Eoh… Kim Arin? Aku lihat dia keluar.”

“Benarkah?”

“Eo, dia naik mobil.”

“Ahjussi kautahu dengan siapa dia pergi?

Ahjussi menggeleng “Tidak. Aku pikir dia akan kembali dengan cepat tapi sudah hampir 3 jam dia belum kembali. Kalau begini dia dianggap membolos”

Baekhyun mengacak-acak rambutnya. Ia tak ada ide harus menunggu atau mencari gadis itu. Namun ia benar-benar tak sabar lagi.Ia memutuskan untuk keluar dan membuat Ko Ahjussi keluar dari posnya.

“Oyy Baekhyunnn… kembali kau…”

***

Baekhyun menghentikan sebuah taksi dan entah mencari kemana saja ia hanya mengikuti feelingnya hingga belum beberapa menit ia melihat seorang gadis yang berseragam sama dengannya tengah duduk di taman kota. Ia lalu turun dan menatapnya dari sebrang jalan. Baekhyun merasa dadanya teramat sakit tatkala melihat gadis itu sedang…. menangis.

“Kim Arin..”

 

Ditengah langkahnya, suara dari handphonenya mengintrupsi. Tanpa melihat siapa yang menelpon,, ia menempelkannya ditelinga sambil terus menatap Arin.

“Baekhyunnie…. Saengil Chukkae…”

 

Langkah Baekhyun berhenti. Setengah jalan menuju tempat Kim Arin. “Oh… Jiho?”

“Selamat Ulang Tahun… Sayang..”

 

Baekhyun membisu. Disebrang sana gadis itu sudah bangkit dan berjalan menuju kearah sekolah. Baekhyun masih terdiam lalu suara gadis diteleponnya membuyarkan lamunannya. “Oe Baekhyun, kau masih disana? Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”

Baekhyun menelan ludahnya sambil melihat sosok Arin yang mulai menghilang dari pandangannya.

“Aniyoo..”

“Tck, kau ini. Maaf karena tidak mengabarimu Baek, kau tahukan betapa ketatnya asrama disini? Bahkan untuk istiahat saja waktunya sangat sedikit hehe”

“Hmmm…”

“Baekhyun… aku merindukanmu.”

Baekhyun masih terdiam, matanya kali ni terpejam. Suara yang ia rindukan membuat hatinya bergetar “Na do Jiho-ya..”

Jiho terkikik “Ah,.. aku akan bersiap latihan lagi. Dah Baekhyun…”

“Ji-“

“SARANGHAE….”

Sambungan itu terputus namun Baekhyun masih menempelkannya ditelinga. Kata-kata Jiho tadi masih terekan jelas di pendengarannya. Namun…

Kenapa rasannya aneh sekali?

Kenapa dia hanya diam

Kenapa ia merasa…

Tidak senang?

Baekhyun memijat pelipisnya “Ini tidak benar. Tubuhku pasti sedang tidak sehat. Bagaimana bisa aku biasa saja saat Jiho mengungkapkan itu? Wah benar-benar…” Racaunya lalu memasukan handphone kesakunya.

Dilihatnya jejak kursi tempat Arin tadi duduk.

“Apa… itu karena kau?”

***

Langit mulai gelap. Sebagian anak memilih pulang dan beberapa orang saja tetap di sekolah menyelesaikan kegiatan mereka. Arin menunduk sambil mengatur nafas. Disini ia tak boleh terlihat habis menangis. Sudah cukup ia menangis tadi.

Dipasangnya senyum seperti biasa. Lalu melangkah memasuki gerbang sekolah dengan langkah sedikit lambat mengingat sendi lututnya agak linu karena berjalan cukup lama. Sebelum sampai pintu gerbang, seorang laki-laki tengah bersandar di dinding dengan membawa ranselnya.

Untuk beberapa detik Arin terkejut melihatnya, lalu seulas senyum ia tampakan, ia berjalan mendekat dengan langkah riang, lupa dengan linu dikakinya. “Baekhyun-ssi…”

Baekhyun hanya diam, membuat Arin menaikan alis. “Wae?”

Seulas senyum tipis terpahat dibibir Baekhyun “Bolos bukan stylemu Kim Arin..”

Arin terbahak “Ternyata ada untungnya membolos.”

Gilran Baekhyun yang menaikan alis, “Karena kau jadi menungguku disini dan membawakan tasku…” Aigooo… manisnyaaa” goda Arin

Baekhyun tersenyum getir. Ia tak menyangka bagaimana gadis itu bisa secepat ini mengubah ekpresinya. Gadis itu tadi menangis sesenggukan, bagaimana bisa sekarang tersenyum dan riang seperti ini.

‘Kim Arin.. kau benar-benar..’  Batin Baekhyun.

Dengan perlahan Baekhyun mendekati Arin lalu mendekapnya. Bisa dirasa bahwa tubuh gadis itu menegang seketika, terkejut dengan perlakuannya.

Disela dada Baekhyun, Arin menggeliat. “Baekhyun-ssi…”

Dekapan Baekhyun makin erat, lalu terpejam diantara anak rambut Arin yang terlepas dari ikatannya.

“Kau…” Ucap Baekhyun ketika tubuh Kim Arin mulai tenang dan rileks. Di sisi lain sang gadis tengah mengatur nafas akibat terkejut dengan perlakuan Baekhyun tiba-tiba. Pertama kalinya Baekhyun memeluknya seerat ini, membuatnya sesak namun tak bisa dipungkiri ada rasa hangat dan nyaman. Disaat yang sangat tepat seperti yang Arin butuhkan.

“Kim Arin…”

“hmmm”

“Menangislah… kalau kau ingin menangis.”

Mata Arin membola, senyumnya memudar. “Apa maksudmu Baekhyun-ssi, hhaha…” Ungkapnya seriang mungkin tapi malah terdengar serak.

“Jangan tersenyum, hanya untuk menutupi kesedihanmu. Didepanku terutama.”

Tubuh Arin menegang, lalu ia berusaha melepas dekapan Baekhyun selembut mungkin. Ditatapnya mata sayu Baekhyun, mencari sesuatu disana.

“Kau..” Suara Arin semakin parau. Sesungguhnya matanya mulai buram karena cairan hangat itu mendesak keluar.

Baekhyun tersenyum tipis. “Kim Arin menangislah jika kau ingin menangis, marahlah jika kau ingin marah, dan tersenyumlah jika kau memang bahagia.Jangan membohongi dirimu sendiri. Ungkapkan perasaanmu.”Tutur Baekhyun lembut, tangannya terjulur pada wajah Arin dan mengusap lembut air mata gadis itu yang turun. “ Kau berhak melakukan semua itu..”

Arin menunduk, air matanya  jatuh bebas. Baekhyun kembali mendekapnya. Dan gadis itu terisak, menangis bebas seperti yang dia inginkan, tak ada lagi yang ditahan. Semuanya keluar begitu saja. Dalam dekapan lelaki itu, seorang gadis menemukan rasa nyaman.

***

“Aku tidak mau pulang…”

Baekhyun berhenti berjalan,mengeratkan genggamannya pada Arin dan menunduk mensejajarkan pandangannya. “Waeyo? Apa kau sakit?” Baekhyun meletakan tangannya yang bebas ke kening Arin.

Gadis itu menunduk “Aniyo. Aku hanya..” Ucapnya menggantung, lalu menatap mata Baekhyun “… tidak ingin bertemu dengan orang tuaku.”

Baekhyun mengerti, senyum tipis ia sematkan. Tangannya yang berada dikening Arin berpindah kepuncak kepala gadis itu lalu mengacaknya perlahan.

“Aigooo… gadis ini sedang merajuk yaa. Hehe..” Baekhyun mengamati sekitar “Ini sudah malam, tidak mungkin aku mengajakmu main malam malam. Kuantar kau ke rumah Sojin atau Ara, otte?”

Arin menggeleng “Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.” Ungkap gadis itu sambil menunduk.

“Lalu?” Tanya Baekhyun menggantung “Bagaimana dengan rumahku?”

Gadis itu menegang, “Yak. Itu tidak mungkin.” Wajah Arin memerah “Aku menolak.”

Baekhyun mengerucutkan bibir. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

Arin menghembuskan nafas kasar “Aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin pulang.”

Baekhyun tersenyum simpul. “Aku tau satu tempat.”

Arin mendongak “Dimana?”

***

“Jangan takut, aku akan menangkapmu dari sini.” Baekhyun membuka tangannya lebar-lebar lalu siaga dengan kuda kudanya.

Kim Arin, gadis itu tengah berdiri diantara dinding pembatas yang sudah usang. Baekhyun mengajaknya masuk ke sekolah lagi, namun ada rasa takut pada Arin mengingat ini pertama kalinya ia menaiki dinding setinggi 2 meter itu. Ia memejam matanya takut untuk turun.

“Jangan takut… ayo.”

Keraguan Arin memudar, walau keringat dipelipisnya belum berhenti akhirnya ia memutuskan untuk turun dan

HAPP

Ketika ia membuka matanya, ia berada didekapan Baekhyun lagi. Kali ini tubuhnya terangkat dan dengan pelan Baekhyun menurunkannya lalu menatap mata Arin.

“Kau ringan sekali..”

Kim Arin terkekeh “Kita akan kemana?”

Baekhyun menggengam tangan Arin “Markasku..”

***

Arin menatap sekitar, ia tidak asing dengan tempat ini, karena Chanyeol pernah memintanya untuk take video disini. Ia berdiri lalu melihat deretan foto Baekhyun,Chanyeol, Sehun, Kyungsoo dan Kai.

“Kau sedang apa?” Baekhyun mendekati Arin lalu ikut melihat apa yang dilihat gadis itu..

“Persahabatan kalian… sangat indah” Gumam Arin lalu menoleh pada Baekhyun “Kau beruntung memiliki mereka.”

Baekhyun tersenyum. “Kau sudah makan?”

“Sudah kok aku-..”

KRUUUUKK

Hening. Dan beberapa detik kemudian Baekhyun tertawa.

“Bagaimana ini…” Kekeh Baekhyun “Kau yakin tidak lapar?”

Arin mengigit bibirnya, wajahnya memerah.

“Kau mau ramen?” Arin menoleh kearah Baekhyun. Lalu tersenyum

“Call”

***

“Apa tidak apa apa kita disini?” Ucap Arin sambil memandangi punggung Baekhyun Baekhyun yang tengah membuatkan ramen untuknya.

“Wae? Kau takut?”

“Ani.. hanya saja.. disini.. “ kita..” hanya…” berdua?”

Baekhyun membalikan badan, lalu melihat Arin yang tengah melihat arah lain.

“Wae? Kau takut…” Baekhyun tersenyum miring “..menerkammu?”

Seperti bisa membaca pikiran Arin, gadis itu bersemu merah. Masih sambil memandang arah lain ia menelan ludah. Baekhyun terkekeh melihatnya.

“Jangan khawatir… aku tidak akan melakukannya. Aku janji”

Sebenarnya Arinpun percaya bahwa ia dan Baekhyun tidak mungkin melakukan hal yang aneh. Walau sempat khawatir, namun sekarang Arin merasa tenang. Ia memangku wajahnya sambil menatap Baekhyun yang kini sudah berbalik.

“Assaaaa…. sudah matang.” Baekhyun berjalan kearah Arin, lalu duduk bersila. Mereka duduk berhadapan dengan meja kayu dihadapan mereka. Panci berisi ramen itu mengepulkan asap yang aromanya membuat cacing di perut Arin memberontak. Dan gadis itu tak sabar mencicipinya.

“Ayo makaaannn..” Ucap Baekhyun riang disusul suara ceria gadis itu. Mereka berdua tertawa ditemani ramen panas dimalam hari yang suhunya mulai turun. Diruangan itu, mereka melupakan keraguan dan rasa sakit masing-masing. Yang mereka tahu, mereka menjalani seperti apa yang ada didepan mereka, tanpa melihat yang lalu atau menerka apa yang akan datang nantinya.

***

“Kau benar-benar tidur dibawah?” Arin menunduk, melihat Baekhyun tengah masuk ke kantong tidur.

“Wae? Apa kau berharap kita berdua tidur di sofa itu?”

Wajah Arin memerah lagi, memang sofa itu hanya satu dan tidak mungkin untuk berdua. Mereka memutuskan untuk tidur disana. Baekhyun tidak membiarkan gadis itu tinggal disini sendirian.

“Gweenchana… tidurlah.” Ungkap Baekhyun sambil menarik resleting sampi menutupi setengah wajahnya.

Arin yang melihatnya tersenyum dibalik selimut. “Selamat Tidur Baekhyun-ssi..”

Baekhyun mendongak, menatap mata gadis itu yang mulai tertidur. Merekaa berdua saling berhadapan dalam diam, lalu Arin terpejam lebih dulu. Meninggalkan Baekhyun dengan pemikiran yang membuat dadanya sedikit demi sedikit nyeri. Memandang gadis itu terlalu lama membuatnya semakin sesak. Ada rasa nyaman disana, namun kenyamanan itu seakan menghantui pikiran Baekhyun bahwa ia melakukan kesalahan yang teramat besar.

Dan malam itu Baekhyun yakin akan menjadi malam yang panjang, dengan sesak dan nyeri didadanya.

***

Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang tenang dan damai. Cuaca cerah harusnya menjadi penyambut bangunnya dua insan yang tengah perlahan membuka mata. Seharusnya begitu… bukan…

 

“WOY BYUN BAEKHYUN APAA YANG KAU LAKUKAN DISINI HA???” Suara Chanyeol pagi hari itu membuat Baekhyun dan Arin mau tak mau langsung bangun dan tidak sempat mengumpulkan nyawa. Disusul pekikan Sehun yang lantang, Wajah melongo Kai dan tatapan aneh dari Kyungsoo. Tentunya pagi itu menjadi pagi paling canggung diantara mereka. Tak terkecuali Arin yang hanya bisa berkedip beberapa kali melihat mereka tiba tiba masuk dan membuat pemikiran yang aneh-aneh. Bahkan kini Kai tersenyum jahil padanya.

Arin menunduk, ia malu. Apalagi sampai ketahuan seperti ini. Bahkan ia tak sempat menata rambutnya yang acak-acakan.

Dan Baekhyun yang mengambil alih “Ini tidak seperti yang kalian pikirkan..” Baekhyun mengusap wajahnya kasar “Kalian ini… bisakah tidak berteriak pagi-pagi? Ck”

“Oy Baek kau serius?” Kai mendekati sebuah loker lalu tersenyum lega “Ya Baek, untungnya aku selalu sedia pengaman disini, kau bisa menggunakannya nanti hahaa”

PUK

Timpukan bantal mengenai pas diwajah lelaki tan itu. Arin tentunya semakin memerah. Bisa dibayangkan betapa memalukannya hal ini. Kalau boleh memilih, ia ingin menghilang.

“Yak Byun Baek, coba jelaskan kenapa kau dan Arin bisa berdua disini? Apa terjadi sesuatu?” Baekhyun menatap Kyungsoo penuh arti. Akhirnya ada yang mengerti dirinya. Tidak seperti Trio (re Chanyeol, Sehun, Kai) yang malah membuat suasana semakin canggung. Baekhyun menoleh pada Arin yang kini masih menunduk.Gadis itu pasti sangat aneh dengan suasana disini.

“Nanti aku beri tahu.” Baekhyun berdiri. Lalu mendekat ke Arin “Kajja.. aku antar kau pulang”

Arin mengangguk pelan. Lalu berdiri dan membungkuk (lebih tepatnya menyembunyikan wajahnya) dari mereka berlima. Ia mengekor dibelakang Baekhyun dan keluar. Meninggalkan keempat lelaki itu dengan tatapan bertanya-tanya.

Sesampainya diluar gerbang, Baekhyun berhenti didepan Arin. Kedua tangannya ia masukan ke saku lalu menatap gadis itu. “Kau… tidak perlu khawatir, aku akan menjelaskan pada mereka.”

Arin mengangguk pelan “Maaf…”

Baekhyun mendengus “Gweenchana..” lalu meraih tangan Arin. “Kajja…”

Arin tersenyum, lalu semakin mengeratkan genggamannya pada Baekhyun mengingat udara pagi ini bisa membekukan siapapun yang berjalan.

***

Baekhyun menghembuskan nafas lega. Setelah keempat temannya ia beri pengertian, mereka akhirnya tak lagi bertanya padanya dengan curiga.

“Hey Baek…kau tahu,minggu depan kita bertanding dengan tim basket Jeju..”

Mata Baekhyun membola mendengar penuturan Chanyeol, “Benarkah? Mereka adalah lawan tangguh kita”

“Karena itu, tadi pagi kami bergegas kemari untuk membicarakan hal ini.” Ujar Sehun

“Lalu, apa rencananya?”

Kyungsoo duduk diantara mereka “Suho Sunbae akan bergabung pada tim kita, lalu Kris Hyung akan melatih kita lagi”

Baekhyun mengangguk “Jadi…. kita harus berlatih dengan giat. Kalau sampe tim kita kalah, winter olympic akan diambil oleh mereka”

Yang lain setuju, lalu tinggalah Kai dengan senyum miringnya menggoda Baekhyun “Ya Baek.. kurasa kau akan jarang bertemu Arin, kekeke”

Baekhyun melirik Kai lalu tersenyum tipis “Gweencahana, dia akan mengerti”

Kyungsoo berdeham “Baek, akhir-akhir ini aku merasa kau… sangat menyukai Arin”

Sehun mengangguklalu menyodok Baekhyun yang duduk disampingnya “Benarkan? Benarkan?” Goda Sehun yang mendapat balasan sodokan Baekhyun. “Hentikan…”

Kai suka topik ini, ia menatap Baekhyun intens “Byun… aku senang kau bisa menyukainya. Tapi, sampai kapan kau akan menyembunyikan fakta? Tidakkah kau sadar, sebentar lagi Jiho kembali. Kau harus pikirkan itu?”

Mimik wajah Baekhyun berubah, lesu namun Kyungsoo mengusapbahunya lembut “Baek… keputusan ada ditanganmu, jika kami bisa membantu, katakanlah apa yang bisa kami bantu, jangan kau pendam sendiri. Masih ada waktu untuk menjelaskan padanya… atau kau akan menyembunyikan ini selamanya..”

Baekhyun melamun, ia benar-benar merasa kepalanya sangat berat. Kenapa masalah ini bisa membuat kepalanya serasa ingin pecah. Bagaimana bisa ia menimbun kebohongan yang semakin mengakar dihatinya. Dan konyolnya ia  malah menikmati hasil kebohongan itu…

“Aku…” Ucap Baekhyun setelah hening ama, membuat teman-temannya menoleh padanya “…akan bicara padanya.”

***

Setelah kejadian markas Baekhyun, waktu berjalan begitu cepat. Bagi Arin dan Baekhyun, bertemu disela-sela kelas adalah hal yang paling menyenangkan, walaupun tidak bertahan 10 menit. Entah itu panggilan pelatih Baekhyun atau Arin yang tidak bisa meninggalkan kelas. Hingga tanpa sadar, besok hari pertandingan Baekhyun. Baekhyun berencana menemui Arin setelah kelas, namun digagalkan dengan Kris Hyung yang tiba tiba meminta latihan lebih awal.

“Aku… benar-benar tidak tenang…” Gumam Baekhyun mencoret buku cetak Kimianya.

Ia memandang luar lalu tanpa sengaja melihat Kim Arin melewati tengah lapangan dengan beberapa tumpukan buku ditangannya. Baekhyun tersenyum, lalu ia begitu saja meninggalkan kelas. Membuat Song Saem, menatapnya galak dan menggelengkan kepala sekan tahu sikap kurang ajar Baekhyun.

Tidak butuh waktu lama untuk Baekhyun menemui Arin, sang gadis yang tiba-tiba saja disenggol lengannya menoleh dengan wajah terkejut.

“Baekhyun-ssi…” Arin menghela nafas yang sempat ia tahan tadi. “Kau mengagetkanku..”

Baekhyun menyengir kuda “Hehe… sini kubawakan.” Baekhyun mengambil tumpukan buku yang ternyata lumayan berat. ‘Kuat sekali gadis ini’

Sambil berjalan berdua, mereka saling melempar senyum. Setelah meletakan buku tersebut ke ruang guru, Baekhyun menarik tangan Arin dan mengajaknya naik ke atap sekolah.

Baekhyun melepas genggamanya, lalu menyilangkan tangan didada sembari meletakan punggungnya, membiarkan angin menerpa belakang tubuhnya. Arin pun begitu, lalu menoleh pada Baekhyun yang tengah terpejam.

“Besok aku berangkat ke Jeju..” Ungkap Baekhyun. Arin mengangguk “Ara…”

Baekhyun menoleh, membiarkan tatapan mereka bertemu lalu tersenyum bersama.

“Arin-ssi..” Masih bertatapan, seolah hanya dengan menatap Baekhyun bisa mengungkapkan segalanya. Andai saja bisa..

“Hmmm…”

Baekhyun terdiam, lagi lagi tenggelam dalam mata Arin. Melihat gadis itu, entah kenapa banyak syaraf ditubuhnya yang tidak bisa ia kendalikan, kadang membeku kadang meleleh.

“Maaf…” Sepatah kata yang membuat tatapan mereka semakin dalam. Bakehyun kembali diam dan Arin yang menatapnya ragu ikut terdiam. Lalu mencoba mencari apa yang dimaksud lelaki dihadapanya.

“Untuk?” Jawab Arin setelah gagal menerka maaf apa yang dimaksud.

Bibir Baekhyun bergerak, namun tidak jadi mengucap. Lagi lagi seperti ini, disetiap ada kesempatan pasti Baekhyun begini. ‘Oh ayolaaaaahhhh…’ Gertak Baekhyun pada batinnya sendiri.

Arin mendengus. “Aku menolak maafmu.” Terlihat wajah Baekhyun yang menegang. “Kenapa aku harus memaafkanmu padahal kau tidak punya salah padaku, hehe…”

Wajah tegang Baekhyun tiba tiba melunak, entah kenapa selalu saja begini. Berakhir dengan kesalahpahaman yang membuat mereka malah saling tersenyum satu sama lain.

Arin mendekati Baekhyun, hingga bahu mereka saling bersentuhan, lalu Arin meletakan kepalanya dibahu Baekhyun. Hal itu membuat Baekhyun menahan nafasnya. Lalu perlahan menghembuskannya.

“Aku pasti akan merindukanmu.” Ucap Arin dikeheningan semilir angin disana. Baekhyun menatap kedepan, lalu tesenyum.

“Aku… juga” Meluncur begitu saja, namun Baekhyun merasa lega. Lega karena mengucapkannya walau sebenarnya ia lagi-lagi melakukan kesalahan.

Arin terkekeh. Lalu mengaitkan jemarinya pada Baekhyun dan mengangkatnya “Tanganmu indah sekali.”

Baekhyun mendengus “tanganmu sangat kecil”

Arin tersenyum “Hangat sekali tanganmu. Bagaimana bisa ada tangan yang sehangat ini.. hehe”

Senyum Baekhyun melebar “Kau manja sekali hari ini..”

Arin makin mengeratkan genggamannya lalu meringsek lebih dekat pada Baekhyun. “Nyamannyaaa…. hihi”

Kali ini, Baekhyun membiarkan dirinya terdiam, memberikan tempat senyaman mungkin untuk gadis itu. Lalu perlahan senyum Baekhyun memudar, mengingat seberapa buruknya dirinya. Bagaimana jika tadi ia mengungkapkan yang sesungguhnya pada Arin, bisakah gadis itu masih bergelayut manja padanya seperti ini, bisakah gadis itu tersenyum seperti ini? Atau bisakah gadis itu merebahkan kepalanya dibahu dan mengatakan nyaman?

Baekhyun memejamkan matanya, berusaha melupakan fakta yang ada. Ia hanya ingin segera mengakhirinya, namun nyatanya ia malah semakin mempertahankan permainannya. Membuat dirinya jatuh terlalu dalam dan menyadari sejahat apa dirinya.

Dan Baekhyun termenung, memikirkan suatu hari ia bisa mengatakan yang sebenarnya pada gadis itu. Mempersiapkah hal terburuk yang mungkin terjadi, seperti…

Arin meninggalkannya..

Tanpa sadar, genggaman Baekhyun mengerat, membuat Arin yang terpejam membuka mata, lalu ditatapnya Baekhyun yang tengah terpejam dengan rahang menggeretak.

“Baekhyun?”

Baekhyun membuka matanya, lalu menatap Arin lamat-lamat.

“Kim Arin.. jangan tinggalkan aku..”

“Baek-“

“Apapun yang terjadi nantinya… bisakah kau tetap..” Baekhyun menelan ludahnya “..seperti ini?”

Arin bingung namun mencoba mendengarkan ucapan Baekhyun.

“Apa aku terlalu egois?”

Tiba-tiba Baekhyun merasa sesak. Lalu menunduk, meletakan keningnya di bahu Arin.

“Apa yang harus kulakuan… Kim Arin..” Gumam Baekhyun yang membuat Arin semakin bingung karena suara Baekhyun tak begitu jelas.

“Kim Arin… mian… aku….”

 

 

 

 

 

“….saranghae….”

 

 

 

 

 

 

TBC

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 8)”

  1. Galau tingkat dewa nih si baekhyun..bingung kannn..,aq kok kayak mau nangis jadinya,membayangkan arin tau malah dari jiho bukan baekhyun..lanjut thor..penasaran..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s