[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 7)

[7] Love You More

Love, Friends and Ambition

Tittle                     = Love You More (Love, Friends and Ambition)

Author                 = Park Shin

Main Cast           = Kim Arin, Byun Baekhyun, Oh Jiho, Kim Taehyung BTS

Cast                       = EXO’S members, Yoon Ara, Moon Sojin, Other’s Idol

Genre                  = School Life, Friendship, Romance

Length                 = Chaptered (16 Eps)

Rating                   = General

Disclaimer           = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[7]

Gadis itu…

 

Satu bulan berlalu. Udara di Seoul yang hampir berada di suhu -4derajat. Dimana-mana jalanan tertutup oleh butiran salju lembut. Orang-orang hilir mudik sembari merapatkan pakaian hangatnya. Langkah mereka tercetak di jalanan salju dan mulut mereka menghembuskan uap.

Dingin.

Namun terasa hangat tatkala kedua insan itu saling menautkan jemarinya dan berjalan bersama menuju ke kelas. Menikmati butiran salju yang menempel di rambut mereka.

“Sudah sampai.” Lelaki itu membersihkan sisa sisa salju di rambut gadisnya “Masuklah”

“Baiklah, sampai jumpa.” Sang gadis melambai lalu masuk ke kelasnya.

Begitu lelaki itu berbalik, Taehyung tersenyum tipis.

“Kalian romantis sekali..”

Merasa tersindir laki-laki bernama Byun Baekhyun itu menyunggingkan senyumnya “Bilang saja kau cemburu” Lalu meninggalkan Taehyung yang menganga karena tak menyangka dengan ucapan lelaki yang baru saja lewat sambil menyenggol bahunya.

‘Mereka kok awet sekali’ Celetuk Taehyung lalu masuk ke kelasnya. Sesampainya di kursinya. Ia melihat Kim Arin yang duduk di sebrang kanannya di kursi ketiga. Gadis itu mengenakan mantel coklat soft dengan syal rajut putih, rambutnya yang sering dikucir  satu kini digelung keatas, menyisakan anak rambut yang sedikit keluar dari ikatannya.

Taehyung tersenyum . Ia selalu memperhatikan apapun dari Kim Arin, walau hanya melihatnya dari belakang.

Diambilnya benda persegi dari saku mantelnya dan dengan lincah mengetikan sesuatu

TING

Gadis bermarga Kim yang tengah mempelajari trigonometri itu mengambil ponselnya tanpa menghilangkan pandanganya pada catatannya. Setelah berhasil membuka layar tanpa melihat,  gadis itu melirik dan membuka pesan masuk tersebut.

Rambutmu bagus.

-Kim Taehyung-

Mata gadis itu menyipit lalu memutar bola matanya malas. Ia mengetikan sesuatu disana lalu setelah di send, gadis itu meletakan ponselnya di sebelah buku paketnya. Lalu melanjutkan untuk membaca bukunya lagi

Rambutmu juga. Kau lebih bagus tanpa poni

Lelaki itu tersenyum lembut. Ia menyentuh rambutnya yang kini sudah tidak lagi menutupi dahi.

Aku tampan kan?

SEND PICT

Kim Arin. Gadis itu terkejut tatkala ia membuka pesan dari Kim Taehyung dan mendapati foto selca lelaki itu yang hampir memenuhi setengah layarnya. Untung saja ia bisa menahan pekikannya, jika tidak teman-teman pasti akan bertanya-tanya.

Kim Arin menoleh kebelakang dan melihat laki-laki itu sedang melambai padanya. Disentuhnya rambut yang kini lebih rapi lalu menyunggingkan senyumnya.

Dan Kim Arin menyembunyikan senyumnya dibalik syal.

‘Dia tidak berubah’

***

Arin baru saja membantu Go Saem untuk menaruh alat-alat lab di laborat utama. Sekembalinya ia dari sana ia melewati taman ditemani  hembusan angin musim dingin yang membuat dirinya sedikit merinding. Saat akan berbelok, Arin melihat Sehun yang sedang tertawa dikursi taman sambil menaikan ponselnya tinggi-tinggi. Nampaknya dia sedang video call dengan seseorang.

Arin menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Sehun yang kekanakan. Saat ia akan melangkah, Oh Sehun memanggilnya.

“Pacar Baekhyun!!!!”

Arin berhenti lalu menoleh ke sumber suara. Oh Sehun menarik pergelangan tangannya lalu merangkulnya sangat dekat. Hingga kepala Kim Arin bersandar didada bidangnya.

“Eh Sehun-ssi ada apa?”

Sehun malah mengeratkan rangkulannya lalu menatap ke ponsel dihadapannya.

“Hyung.. ini pacar Baekhyun” Arin menatap layar itu dan mendapati seorang namja imut berambut pirang ikal sedang menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.

“Pacar Baekhyun? Wah cantiknya” Jawab lelaki didalam ponsel tersebut. Membuat Kim Arin tersenyum kikuk.

“Baiklah aku akan memperkenalkan kalian. Hyung.. dia Kim Arin, pacar Baekhyun dan Arin-ssi dia Xi Luhan. Sunbae  kami saat SMP dan dia meneruskan SMAnya di Beijing.” Luhan tersenyum dari layar melihat Oh Sehun memperkenalkan dirinya pada Arin.

Arin mengangguk-angguk. “Eoh, Ni Hao” Sapa Kim Arin sambil tersenyum.

Xi Luhan, Pria didalam ponsel itu tertawa hingga rahangnya mirip rusa.

“Wah.. dia manis sekali Oh Sehun. Baekhyun pintar memilih eoh” Ucap Luhan “Halo, manis. Aku Xi Luhan. Bolehkah aku minta nomermu?”

Sehun melepas rangkulannya dari Arin membuat gadis itu sedikit lega. Oh Sehun menatap galak lelaki cina itu.

“Yak Hyung.. dia milik Baekhyun” Manyun Oh Sehun yang membuat Luhan tertawa.

“Arraseo..arraseo. Aku hanya ingin berkenalan dengannya. Dia cantik Hun”

Sehun menaikan alisnya “Ck. Memangnya tidak ada gadis cantik disana?”

Luhan tersenyum “Aku jadi rindu korea.”

Sehun merangkul Kim Arin lagi membuat gadis itu melirik sebal pada Oh Sehun.

“Berkunjunglah kemari jika kau ingin melihat pacar Baekhyun secara langsung.”Titah Oh Sehun yang membuat Kim Arin mau tak mau ikut tersenyum. Yeah terpaksa sih.

“Baiklah. Secepatnya Aku akan kesana. Sampai bertemu Kim Arin-ssi”

Arin mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya.

“Sampai jumpa Hyung. Aku akan menunggu mu eoh.”

“Arraseo arraseo. Bye”

Sehun menurunkan lengannya lalu memencet tombol end dilayar ponselnya. Tanpa melepas rangkulannya dengan Arin, Oh Sehun malah menggoda gadis disampingnya.

“Luhan Hyung , bagaimana menurutmu?”

Arin menaikan alisnya “Dia terlihat seperti gadis”

Sehun tertawa dan akhirnya melepaskan tangannya dari bahu Arin. “Benarkan? Wah… aku saja tertawa setiap mengingat awal perkenalan kami. Aku memanggilnya Noona. “ Sehun tertawa lagi membuat Kim Arin malah kikuk, mau ikut tertawa atau tidak.

Kim Arin memilih duduk dibangku taman sambil menunggu Oh Sehun berhenti tertawa. Lalu setelah dirasa lelaki itu tak lagi tertawa, ia duduk disamping Kim Arin.

“Kalian pasti sangat dekat” Ungkap Kim Arin pada Sehun yang kini tengah memainkan ponselnya.

“Tentu saja. Kami berlima sangat dekat dengan Luhan Hyung. Dia sangat baik pada kami.”

Arin mengangguk “Sepertinya persahabatan kalian bagus.”

Sehun manyun “Yeah walaupun kadang sering bertengkaar tapi kami selalu kembali lagi”

Sehun melanjutkan bicaranya sambil menerawang kedepan “Saat aku tak bisa menceritakan sesuatu pada siapapun, aku pasti akan menceritakannya pada mereka. Saat aku punya masalah, saat aku bahagia, saat aku sedih. Mereka adalah yang tahu semua itu.” Sehun tersenyum tipis “Kurasa itulah yang membuat kami dekat sampai sekarang.” Sehun menoleh dan menatap Kim Arin yang tengah menaikan alisnya “.. Saling percaya”

Kim Arin tertegun.

Arin Pov

Saling percaya ?

Selama ini bagiku teman adalah dia yang ada disampingku, mengajakku makan siang, mengobrol dikelas, mendengarkan curhatan atau yang mengajak pulang bersama. Yeah, menurutku itu.

Yoon Ara dan Moon Sojin.

Mereka memang teman terbaikku dan teman yang selalu ada disisiku. Sampai sekarang.

Tapi satu hal yang membedakan diriku dengan mereka.

Mereka selalu menceritakan semuanya padaku tapi aku, tidak.

Aku lebih memilih mendengarkan cerita mereka lalu membantu jika aku bisa.

Yeah sebenarnya mereka selalu ingin mengetahui tentangku.

Namun aku tidak pernah mengatakan yang sebenarnya. Sudah pernah kukatakan kan bahwa di sekolah aku memakai topeng bahagia?

Alasannya sederhana. Karena aku tidak ingin dikasihani dan membebani hal yang tak seharusnya menjadi beban untuk mereka.

‘Maafkan aku Sojin-ah.. Ara-yah..’

***

Kim Arin mendapati dirinya melamun dikelas. Sesekali ia menghembuskan nafasnya kasar hingga timbul uap tipis dari mulutnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi 15 menit yang lalu, namun Arin masih bertahan di kursinya.

Tepukan halus dirasakan gadis Kim itu, membuatnya menoleh. “Apa terjadi sesuatu?”

“Baekhyun?” Arin membulatkan matanya.

“Melamun,bukan seperti dirimu yang biasanya, Kim Arin”

Arin tersenyum kaku. “Baekhyun-ssi.”

Baekhyun menopang dagunya lalu menatap Kim Arin lamat-lamat”Hmm”

“Apa arti sahabat untukmu?”

Baekhyun mengerutkan keningnya. “Ehmm, aku menganggap sahabat itu keluarga ku selain Ayah dan Ibuku dirumah.”

“Apa kau menceritakan masalahmu pada sahabatmu?” Baekhyun menaikan alisnya. Merasa ada yang salah pada Kim Arin.

“Kenapa? Apa kau bertengkar dengan sahabatmu?”

Arin menggeleng “Hanya..” Arin menurunkan pandangannya “.. aku merasa bersalah pada mereka”

“Tentang dirimu?” Tebakan Baekhyun benar karena Kim Arin mengangguk lemah.

“Selama ini, aku selalu mengatakan baik-baik saja pada mereka.” Arin tersenyum tipis

“Apa ada alasan mengapa kau tidak menceritakan masalahmu pada mereka?”

Arin menerawang kedepan “Aku hanya tidak ingin dikasihani” Arin menghela nafasnya.

Baekhyun tercenung.

“Tapi anehnya..” Arin menoleh pada Baekhyun yang kini tengah menatapnya kosong “… aku menceritakan begitu saja padamu.”

Arin tersenyum lagi “Saat itu aku terbawa suasana dan tidak sengaja menceritakan hal yang kututup rapat-rapat selama ini padamu. Tentang orang tuaku.” Arin menurunkan pandangannya “… dan saat di perpustakaan, aku merasa sangat lega bisa menceritakan semuanya padamu.” Arin menatap Baekhyun lebih intens “ rasanya seperti.. menemukan seseorang yang kupercaya.”

Baekhyun tertohok “Kau mempercayaiku?”

Arin mengangguk mantap “Iya. Aku percaya padamu”

***

Bola orange itu kembali menghempas kuat dilantai. Si pemain nampaknya sedang melampisakan amarahnya pada bola tersebut. Bunyi gedebum menggema di seluruh lapangan indoor. Mengingat ini jam 7 malam, tidak ada orang lain selain dirinya.

Lelaki itu Byun Baekhyun.

Dan nampaknya Baekhyun membuat bola orange itu semakin keras memantul dilantai.

Baekhyun PoV

‘Iya. Aku percaya padamu’

Aku melempar bola basket itu kuat-kuat. Lalu membiarkannya memantul tak tahu arah. Aku membaringkan diriku ditengah lapangan berlantai marmer ini.

‘Iya. Aku percaya padamu’

Suara gadis itu terngiang-ngiang di kepalaku.

‘Kim Arin..Kim Arin..’

Aku merapalkan berkali-kali nama itu. Naasnya kenapa diriku semakin terpuruk.

‘Iya. Aku percaya padamu’

Aku mengerang. Merasa sebal pada diri sendiri.

Kim Arin, gadis itu mengapa begitu mudahnya mempercayaiku?

Aku memejamkan mataku. Membayangkan apabila diriku mengungkapkan yang sebenarnya pada Arin.

‘Mengungkapkan bahwa aku adalah lelaki brengsek yang mengasihanmu’

Aku rasa itu lebih membuat Arin sangat terluka.

Sekali lagi aku memejamkan mataku rapat-rapat.

‘Kim Arin. Jika kau tahu yang sebenarnya, apa kau menyesal karena mempercayaiku?’

Aku menghela nafas kasar lalu menutup mataku dengan lengan.

‘Kenapa jadi rumit sekali..’

***

Beberapa hari ini berjalan seperti biasanya. Baekhyun dan Arin juga menikmati rutinitasnya seperti biasa. Mengantar Kim Arin pulang, terkadang menjemputnya, menemaninya ke perpustakaan dan terkadang makan bersama di atap.

Seperti itu.

Seperti biasa.

TING

Lamunan gadis Kim itu buyar tatkala suara ponsel tanda ada pesan masuk berbunyi dari saku almamaternya. Gadis itu dengan sigap meraih ponselnya dan menggeser layar.

Kim Arin. Aku Chanyeol. Kau dimana?

Mata gadis Kim itu membola. Kenapa Park Chanyeol mencarinya.

Di koridor utama. Ada apa?

Sambil menunggu balasan, Kim Arin merapikan lokernya.

TING

Bisa ke klub Basket sebentar?

***

Pintu putih itu terbuka. Kim Arin melangkah lambat untuk menengok kedalam. Lalu menemukan Park Chanyeol yang tengah sibuk dengan kameranya.

“Hallo, Kim Arin. Maaf merepotkanmu” Park Chanyeol menggaruk tengkuknya.

Gadis itu tersenyum “Tak apa. Ada apa, Chanyeol-ssi?”

Park Chanyeol meletakan kamera SLRnya. “Kau tahu kan kalau 3 hari lagi Baekhyun ulang tahun?”

Arin mengangguk. “Iya aku tahu.”

“Nah.. aku mau memberi hadiah dengan memvideo teman-teman Baekhyun dan tentunya pacar Baekhyun” Chanyeol menunjukan cengirannya yang membuat Kim Arin terkekeh.

“Itu ide bagus.” Tanggap Kim Arin. “Lalu apa yang harus aku lakukan?”

Park Chanyeol menuntun Kim Arin untu duduk di sofa merah disampingnya. Lalu mendapat sedikit arahan dari Chanyeol.

“Kau mengerti?”

Arin mengangguk. “Baiklah.”

5 menit kemudian, Park Chanyeol tersenyum lebar dengan hasil rekamannya. Kim Arin gadis yang tidak merepotkan. Dia tidak perlu CUT atau pengulangan seperti teman-teman yang lainnya.

“Kau benar-benar profesional, Kim Arin-ssi. Kau seperti membaca naskah” Chanyeol tak henti-hentinya mengulang rekaman Kim Arin. “Kau tidak gugup dikamera?”

Arin menggeleng “Mengalir begitu saja, Chanyeol-ssi”

Chanyeol menggeleng-geleng “Daebak. Bahkan Sehun minta ulang berkali-kali karena gugup. Bagaimana kau tidak gugup?”

Arin mendengus “Aku hanya mengungkapkan seperi kata hatiku.”

Chanyeol menyengir “Kau terlihat sangat tulus”

Arin tersenyum tipis. “Aku memang tulus”

Dan berakhir dengan senyum Chanyeol yang sedikit memudar. Lalu selanjutnya Park Chanyeol menunjukan wajah biasanya.

“Chanyeol-ssi..”

Lelaki itu menoleh pada Arin “Ya?”

“Kau bisa main piano?”

Chanyeol memanyunkan mulutnya “Tidak begitu mahir sih. Tapi kalau bisa, ya aku bisa hehe”

Kim Arin terkekeh “Kalau begitu… “ Park Chanyeol menaikan alisnya sambil menunggu gadis itu melanjutkan bicaranya “.. kau bisa membantuku?”

***

Baekhyun’s  Day

Baekhyun mempoutkan bibirnya sedari tadi. Entah kenapa gadis bermarga Kim itu tidak ada ketika ia mengunjungi rumahnya, lalu sesampainya dikelas Arin pun dia tak ada. Kemana gadis itu?

Ini hari pentingnya seperti ini, gadis itu malah menghilang.

Baekhyun PoV

Ck, apa yang aku harapkan dari gadis itu?

Mengucapkan selamat ulang tahun padaku?

Di jam 00.00?

Ah, aku pasti gila.

Baiklah lebih baik aku masuk kelas sekarang. Terlambat karena memikirkan gadis itu bukan style ku. Aish, moodku hancur hari ini.

Dilihatnya lagi ponsel hitam metalicnya dan tak ada tanda-tanda gadis itu akan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Baekhyun meletakan dengan  kasar ponsel itu di mejanya dan membaringkan kepalanya. Jam pertama sampai istirahat kosong sehingga Baekhyun memilih tidur dikelas setelah teman-temannya melenggang pergi ke kantin.

Moodnya buruk. Teman-temannya tak mengingat ulang tahunnya. Ugh menyebalkan!!!

TETTT TEETTT

Bel istirahat berbunyi namun Baekhyun tak mengangkat kepalanya sedikitpun. Ia sudah tidur tadi dan rasanya malas untuk bangun.

“Oh Jiho… kau tidak pernah mengabariku.”

“Kim Arin…” Baekhyun mendongak lalu cemberut menatap seisi kelas yang kosong “… ck dia tidak mengucapkan apapun padaku? Apa dia lupa? Atau dia tidak ingat atau?

‘Eh kenapa aku jadi begini? Kenapa aku mengharapkan sekali gadis itu mengucapkan padaku. Apa aku sudah gila? Ah… aku gila pasti…’

 

Selamat siang SIHS, apa kabar kalian semua?

Angin musim dingin sudah menerpa kan? Bagaimana rasanya?

Dingin? Sejuk?

Pastikan kalian memakai pakaian hangat dan tetap dekat dengan mesin penghangat atau kalian akan membeku. Bersama angin musim dingin ini, seseorang akan menyanyikan sebuah lagu spesial untuk mereka yang berbahagia hari ini. Selamat menikmati dan tetap hangat SIHS

 

Baekhyun malas mendengar suara Jung Krystal dari speaker kelas yang menghubungkan dengan bagian radio sekolah. Ia memutuskan untuk melipat kedua tangannya lalu tertidur sebelum…

 

Anyeong… Untuk seseorang yang sedang bahagia hari ini. Aku akan bernyanyi untukmu…”

 

Suara ini….

 

Gyeoure taeeonan

areumdaun dangshineun

Nun cheoreom kkaekkeuthan

Namaneui dangshin

 

Semua orang yang tengah melakukan aktivitas tiba-tiba berhenti, semua larut daam alunan melodi si pelantun lagu. Tak kecuali Baekhyun, Ia membeku nyaris mematung sekian menit.

 

Hajiman bom yeoreumgwa gaeul gyeoul

Eonjena.. malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeeonan areumdaun dangshineun

Nun cheoreom kkaekkeuthan namaneui dangshin

 

Gadis itu..

Menyanyikan lagu untuknya?

Dihari ulang tahunnya?

Hanya untuknya?

Benarkah ini Kim Arin?

Gadis itu?

 

 

Saengil chukha hamnida Saengil chukha hamnida OOH

Saengil chukha hamnida Dangshineui saengireul

Sebuah memori lama terputar dipikirannya ditemani suara merdu gadis itu..

Gadis yang menerima suratnya, gadis yang tersenyum menerima bunga darinya, gadis yang menangis di hari jadi pertama, gadis yang meminjamkan dasinya, gadis yang mendukungya…

Gadis itu… gadis yang mudahnya mempercayainya…

 

Happy birthday to you (Happy birthday to you)

Happy birthday to you (Happy birthday to you)

Happy birthday to you (Happy birthday to you)

Happy birthday to you

(Happy birthday to you)

(Happy birthday to you)

Happy birthday to you

(Happy birthday to you)

Happy birthday to you~

(Happy birthday to you)

Happy birthday to you~

(Happy birthday to you)

Happy birthday to you

Happy Birthday… Byun Baekhyun

Gadis itu..

Diakhir nyanyiannya tiba tiba teman sekelas Baekhyun menyalakan conffeti dan masuk ke kelas dengan heboh, tak lupa teman temannya memberinya topi ulang tahun dan roti strawberry kesukaan Baekhyun sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Sehun menyuruh Baekhyun untuk melihat kedepan, dan nampaklah Chanyeol disana yang tengah mengatur LCD dan menyalakan sebuah video.

Video ucapan ulang tahun dari teman-temannya dan tak lupa diakhir video itu..

Kim Arin. Gadis itu..

Gadis cantik dengan senyum manisnya yang tengah bicara di sana.

Baekhyun terpana, bahkan tak menyadari kakinya bergetar.

Baekhyun…

 

Baekhyun ingin….

 

menemuinya..

***

Setelah keluar dari ruang radio sekolah, Arin bergegas menuju ke kelas Baekhyun namun banyak sekali teman-teman yang kini berada disana hingga jalan menuju kelas Baekhyun tertutup. Diantara kerumunan itu ia melihat Baekhyun keluar dari kelas.

Lekas Arin mendekatinya sebelum handphonenya mengintrupsi langkahnya.

Nomor asing.

“Yeoboseyo?”

Ada jeda cukup lama ditemani suara decitan rem. “Arin-ah. Ini aku. Bisa kau keluar sebentar?”

“Eomma?” Ada raut terkejut sekaligus gembira diwajahnya. Ibunya yang menghilang tiba-tiba menelponnya.Arin sangat merindukannya.

“Keluarlah, aku ada didepan sekolahmu”

“Eo.. arraseo..”

Arin tak berhenti tersenyum. Dimasukannya hape pink tersebut ke jas almet, lalu membiarkan matanya melihat kedepan. Melihat Baekhyun dikerumuni teman temannya sambil tertawa lepas.

“Dia bahagia sekali..” Ucap Arin lirih. Senyum tulus terpahat dibibirnya.

Ia berbalik, menemui Ibunya didepan sekolah. Melepas rindu pada ibunya dan sesegera mungkin menemui Baekhyun setelah ini.

***

Baekhyun POV

Hari ini benar-benar tak terduga. Di hari ulang tahunku, teman temanku bisa memberiku kejutan yang membuatku tak habis pikir. Bahkan kelas lain ikut bergabung dan membuat suasana kelas menjadi ramai. Tapi, aku tak melihat gadis itu?

Dimana dia?

Setelah dia bernyanyi untukku, tidakkah dia datang kemari?

Aku berniat mencarinya, namun saat keluar kelas aku dihadang teman-temanku dari kelas sebelah lalu mereka mengerjaiku dengan menempelkan krim roti di wajahku. Terus terang aku benar benar ingin segera menemui Arin, namun aku tidak bisa mengabaikan teman-temanku yang sudah menyempatkan waktunya datang ke kelasku.

“Baiklah… setelah ini aku akan menemuinya”

***

“Eomma..” Arin berlari kecil mendekati mobil silver ibunya. Lalu nampaklah seorang yeoja paruh baya dengan kacamata hitam itu menurunkan jendela mobilnya. Arin tak berhenti tersenyum bahkan ingin sekali memeluknya.

“Masuklah..”

Tanpa basa basi, Arin segera masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman. Ia menatap ibunya penuh harap. Bahkan bisa dilihat bahwa Arin sangat senang hingga tidak bisa menahan senyumnya.

“Eomma… bagaimana kabarmu?”

Yang ditanya berdeham, sibuk mengemudi. “Aku baik-baik saja”

“Eomma aku-“

Belum selesai bicara sang ibu sudah menyela “Arin-ah, aku sedang menyetir jangan mengganggu konsentrasiku” Ucapnya datar, membuat Arin seketika tersentak. Lalu tak lama kemudian Arin memasang senyumnya lagi

“Baiklah..” Dalam hati Arin menyakinkan bahwa sang Ibu mungkin sedang banyak pikiran.

Beberapa saat kemudian, mereka berhenti disebuah restoran.

“Ayo turun…”

Arin menurut. Ia mengekor dibelakang ibunya lalu duduk ditempat dekat jendela. Pemandangan hutan kota nampak terlihat dari kaca besar disamping tempat duduk. Arin tersenyum lalu menatap sang Ibu yang kini juga tengah menatapnya.

“Eomma.. tempat ini bagus sekali, ya kan?”

Ibunya mengangguk tak lama kemudian minuman yang mereka pesan datang.

Selepas mengucapkan terimakasih kepada sang pelayan, Arin meneguk jus strawberrynya dengan lahap dan lagi lagi matanya bertemu dengan ibunya.

“Eomma.. ada apa? Sepertinya kau ingin bicara sesuatu..” Ungkap Arin yang sedari tadi penasaran kenapa Ibunya tiba tiba menelponnya, mengajak keluar untuk makan siang bersama.

Sang Ibu meminum air putih didepannya. Lalu menatap Arin.

“Lusa… aku akan menikah.”

Mata Arin membuka, wajahnya menegang lalu beberapa detik kemudian ia rilekskan dengan memasang senyum manis seperti biasa.

“Chukkae Eomma…” Ungkapnya sedikit bergetar. Lalu meneguk jusnya lagi.

“Karena itu…” Sang ibu menatap Arin lebih dalam lagi “…bisakah kau berhenti memanggilku Eomma?”

Kali ini Arin membeku. Mencoba memahami maksud ibunya.

“Aku menikahi seorang konglomerat dengan keluarga terpandang. Yang mereka tahu aku belum menikah. Pasti mereka terkejut sekali ketika tahu bahwa aku punya anak. Kuharap kau bisa mengerti Rin-ah.”

Arin masih membisu, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ibunya.

“Aku tahu kau pasti kecewa padaku. Karena itu… maafkan aku. Sebagai gantinya, aku akan membelikan makan siang mahal hari ini. Kuharap kau bisa menerimanya” Ibunya mengambil sebuah undangan dari tasnya.

“Dan kau bisa datang ke pernikahanku.. sebagai kerabat”

Arin menunduk membiarkan air matanya menetes, dengan segera ia mengelapnya.Ia tak ingin terlihat cengeng dihadapan ibunya.

“Apa aku…” Suara Arin tercekat “… membuatmu malu?”

Kini giliran sang ibu yang diam.

“Aku…” lanjutnya “…selalu peringkat satu, aku cerdas dan selalu juara dalam olimpiade.” Lagi lagi ada jeda dalam ucapannya “… apa itu tidak cukup membuatmu bangga bahwa aku adalah putrimu?”

“Rin-ah…”

“Aku mandiri dan aku berusaha untuk tidak merepotkan siapapun. Jika aku salah aku akan segera memperbaikinya…” Arin menangis kali ini ia biarkan tangisnya membasahi pipi “… apakah masih belum cukup?”

“Arin-ah..”

Arin menatap nanar undangan dimeja itu “Jangan lakukan itu, jebal”

Mata sang ibu membola “Rin-ah.. bukan seperti itu. Ibu hanya tidak ingin mereka tahu bahwa ibu mempunyai anak saat SMA. Kau tahu betul itu kan? Mereka bisa saja menggagalkan pernikahan ini.”

Mereka terdiam, hingga beberapa menit kemudian makanan datang. Sang pelayan yang tadinya tersenyum langsung menegang tatkala melihat suasanya meja tersebut sedang buruk.Lalu ia menyajikan dengan cepat dan melirik sedikit ke Arin yang tengah menunduk membersihkan bekas air mata.

“Silahkan dinikmati…”

Selepas pelayan itu pergi, sang Ibu berdiri mengambil tasnya. “Aku pergi.”

Baru berbalik sang ibu terhenti tatkala Arin memanggilnya “Eomma….” ia berbalik “Maksudku.. Jeon Yura-ssi..” Arin meralatnya dengan memanggil nama ibunya

“Aku ucapkan selamat atas pernikahanmu. Kuharap kau bahagia. Jadikan ini kesempatan untuk kau menjadi istri dan ibu yang baik. Kalau kau punya anak nanti, jangan membentaknya, jangan mabuk dihadapannya, buatkan ia masakan yang dia inginkan, jangan terlalu sering meninggalkannya dan juga…” Arin menarik nafas panjang “….sayangi dia, jangan biarkan dia menangis sendirian.”

Tas yang digenggam Jeon Yura merenggang. Air matanya tiba-tiba menetes.

“Maaf aku tidak bisa datang, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Arin berdiri sejajar didepan ibunya “Untuk terakhir kalinya… aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Aku merindukanmu.” Arin tersenyum lalu membungkuk “Terimakasih telah merawatku dan juga.. maafkan aku” Arin membungkuk. Ia melewati sang ibu dan ketika Arin keluar dari restoran. Sang Ibu melihat punggungnya dari kaca besar disana.

“Anak itu…” Ia terisak lalu mengusapnya “… Arin-ah…”

***

Arin lupa bahwa ia meninggalkan tasnya disekolah. Bahkan ia kini tidak membawa sepeserpun uang untuk naik taksi atau bus. Jaraknya lumayan jauh jika kembali kesekolah. Hingga ia memutuskan berjalan kaki sembari menata perasaannya yang campur aduk. Ditengah keramaian kota Seoul, di antara lalu lalang manusia yang menyebrang jalan, diantara keluarga yang tengah bercengkrama di taman bermain, Arin menatapnya nanar. Ia berhenti di sebuah bangku pinggir jalan tatkala merasa kakinya sudah letih. Didepannya nampaklah seorang ibu dan anak kecil yang tengah digendong dan sang ibu mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba saja air mata itu turun tanpa seijinnya, dan semakin lama semakin deras. Arin membiarkannya dan menangkupkan kedua tangannya kewajah.

‘Hari ini benar-benar melelahkan’ Batin Arin

Ditengah keramaian kota Seoul, di antara lalu lalang manusia yang menyebrang jalan, diantara keluarga yang tengah bercengkrama di taman bermain, Arin menangis. Dadanya nyeri walaupun sudah ia tepuk, ia terisak, tapi tetap saja sakit.

Hari itu Arin merasa ingin menghilang, lebur menjadi debu agar sakit didadanya mereda.

Dan ditengah tangisannya, seorang lelaki dari sebrang jalan berdiri menatapnya sedari tadi.

 

Lelaki itu..

Byun Baekhyun

 

Yang entah sejak kapan berdiri mematung melihat Arin menangis di sebrang jalan.

Baekhyun ingin sekali kesana. Memeluk gadis itu dan membiarkan ia menangis sepuasnya. Baekhyun ingin berada disisinya dan Baekhyun ingin gadis itu… berhenti menangis.

Baekhyun ingin itu… lalu perlahan mendekati gadis itu

“Kim Arin..” Ucapnya lirih.

 

Ditengah langkahnya, suara dari handphonenya mengintrupsi. Tanpa melihat siapa yang menelpon,, ia menempelkannya ditelinga sambil terus menatap Arin.

“Baekhyunnie…. Saengil Chukkae…”

 

Langkah Baekhyun berhenti. Setengah jalan menuju tempat Kim Arin. “Oh… Jiho?”

“Selamat Ulang Tahun… Sayang..”

 

Baekhyun terdiam. Matanya terus menatap ke gadis yang tengah sesenggukan di sebrang jalan dan telinganya mendengar ucapan Jiho yang tiba tiba menelponnya. Entah apa yang ada di pikiran Baekhyun, otak super lambatnya makin melambat dan membuatnya terdiam…

seperti orang bodoh

 

 

TBC

 

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 7)”

  1. Ya ampun tuh ibu, kok malu sih ngakuin arin anaknya..udah ninggalin,sekarang nyuruh jangan panggil eomma.., baekhyun lagi..pake bimbang..udah putusin.dong mau ke arin apa ke jiho..plinplan sih ,kasian arin masalahnya banyak..,lanjut thor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s