[Oneshot] It Has to be You — HyeKim

⌈   It Has to be You   ⌋

  Lu Han & OC`s Kim Hyerim  

 Supported by EXO`s Byun Baekhyun & OC`s Kim Taemi

  Story with Romance, Drama, AU rated by PG-17  type in Oneshot

`Layaknya magnet, Kim Hyerim dipaksa bersentuhan lagi dengan masa lalunya, masa lalu yang dulu disebut-sebut sebagai cinta, masa lalu yang menghubungkannya pada seseorang yang dahulu merupakan poros hidupnya dan seseorang yang menyisihkan kesakitan padanya. Meski ingin menjauh, kembali dirinya dihadapkan lagi pada seorang Luhan, yang mungkin membuatnya kembali merasakan getar-getar cinta.`

Disclaim: This is a work of fiction. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity of plot, character, location are just accidentally. All cast belong to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine  (Inspiration by Bonggu – It Has to be You & KDrama Temperature of Love). Plagiarism, copy-paste without permission, and be a silent readers  are prohibited.


It has to be you, it needs to be you

The one person in me, it was you, I missed you

Laughter that was always warm, that never ended

It came to us again

My love

[ Bonggu – It Has to be You (ost.Temperature of Love) ]

© 2018 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Brengsek! Sialan! Kau bisa tidak, tidak main menculikku begini? Oh, aku paham karena pasti kau tahu aku akan menolak jika tidak diculik begini, tapi kau sungguh kurang hajar, Byun Baekhyun!” adalah sebuah teriakan lengking dari seorang gadis dua puluh tujuh tahun yang seketika main ditarik oleh seorang pemuda yang dulu merupakan juniornya di bangku perkuliahan.

Tentu, keributan kecil tersebut menarik perhatian orang-orang di pendestrian dan mati-matian Byun Baekhyun menahan malu sambil terus menarik Kim Hyerim—gadis yang tadi secara barbar meneriakinya dan tengah berada dalam kuasa genggamnya.

Pintu sebuah cafeteria yang akhirnya melenyapkan keduanya dari pendestrian dan para pejalannya yang sudah mencap keduanya aneh. Dan tatkala keduanya berada di dalam cafe yang agak padat pengunjung yang rata-rata orang kantoran nan tengah meluangkan waktu istirahatnya, Kim Hyerim berusaha melepaskan cengkraman Baekhyun dari lengannya dikawani oleh desisannya sampai berfinal pada bendera putih dalam dirinya, sebab Byun Baekhyun memiliki energi kuat sekali untuk menariknya sejauh ini.

Dimasa Hyerim sibuk melepaskan diri darinya, Baekhyun mengedarkan padang hingga tatapannya bertumbuk pada kursi di ujung yang ditempati lelaki rupawan yang menguarkan aura karismatik—menyebabkan segelintir kaum hawa terkagum akan dirinya dan sempat-sempatnya menoleh hanya untuk meliriknya. Dan pemuda dengan jabatan CEO itulah yang tengah Baekhyun cari, refleks lengannya melambai dan berseru:

Hyung!”

Lekas Baekhyun menguntai langkah mendekati koleganya itu—masih dengan menggeret Hyerim, tentu saja. Hyerim yang kepalang pasrah dengan energi yang telah terkuras habis hanya untuk melepaskan diri dari Baekhyun, hanya menurut mengikuti pemuda itu yang mendadak muncul ditengah lari paginya kemudian main ‘menculiknya’ untuk bertemu CEO yang ingin menandatangani kontrak kerja dengannya yang berstatus pengangguran sekarang.

Kepala Hyerim terangkat, memaksa retinanya bertumbuk pada kelereng manik setenang samudra yang berkilat-kilat itu, tatapan yang kelewat dia kenal dan nyaris membuat Kim Hyerim terbuai kembali bahkan sudah membuat gadis ini mematung dengan mata membola.

“Byun Baekhyun…” bisik Hyerim ditengahpe perjalanan ke sosok pemuda dengan tatapan membius itu. “dia—yang memakai kemeja putih dan jins hitam, bukan CEO yang merupakan kenalanmu itu, ‘kan?” dalam rasa was-was, Hyerim menukas tanya.

Akan tetapi, ketakutannya menjadi nyata kala Baekhyun mengangguk membuat jantung Hyerim seakan jatuh ke ginjal.

“Sialan.” umpatnya sambil membuang wajah.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Love is so not kind
If I approach it, it gets farther away
But love isn’t so bad
Because it calls you to me once again

—6 jam yang lalu—

06.00 AM

Kertas-kertas dengan file-file yang menyisipi, berserakan di atas meja seorang pria dengan posisi tertinggi di perusahaan tersebut. Kacamata bertengger di hidungnya, kepalanya menunduk menelisik dokumen-dokumen, tangan kanannya memegang pena. Tak luput, parasnya pun rupawan, selain kekayaan yang dimilikinya. Banyak perempuan mengantre untuknya, pun banyak pula yang ditolak olehnya.

Sekedar informasi, nama CEO yang menjadi pusat perhatian di ruangannya nan sunyi adalah—

“LUHAN HYUNG!”

—Oh, mungkin kesunyian yang melekat di ruangan Luhan—nama Si CEO—bunyar hanya karena pekikan pemuda yang baru datang dan lahir dengan nama Byun Baekhyun.

Atensi Luhan beralih pada Baekhyun dengan dahi berkerut, sedang kolega sekaligus karibnya itu tampak memasang wajah merengut habis-habisan.

“Ada apa?” tanya Luhan, menutup file dokumen dan menaruhnya, berniat fokus pada Baekhyun yang sedang melonggarkan dasinya membuat pakaiannya kian berantakan.

Diafragma Baekhyun mengempis, dwimaniknya menusuk Luhan sedikit tajam. “Kau menolak rekomendasi penulis dariku?” semprot pemuda Byun ini, nampak menahan diri agar tidak meletup-letup.

Luhan menelengkan kepala, lalu melempar senyum simpul pada Baekhyun yang berdiri di hadapan mejanya dengan dada kembang-kempis.

“Kau selalu mengenalkanku dengan kenalan dekatmu. Bisa dikatakan koneksi. Aku tidak suka itu,” tukas Luhan, kepalanya menggeleng-geleng setelahnya. “Jadi, aku bahkan tidak membuka dokumen berisi rekomendasi penulis itu darimu.”

Jemari Baekhyun bergerayang memijit pelipisnya, tatapannya memelas pada Luhan.

“Oh, ya Tuhan! Demi Neptunus! Kali ini dia memang kenalanku—bahkan mantan gadis yang kusukai—” melihat Luhan menatapnya dengan tatapan bersirat; ‘Tuh, ‘kan, aku benar.’ Baekhyun pun segera bersilat lidah lebih lihai. “—ya skip bagian itu. Dia kakak tingkatku, dia itu sering memenangkan kontes menulis, tahu. Aku juga pernah membaca naskahnya, sebagai sutradara—maksudku calon sutradara saat itu—aku sudah terkagum dengan karyanya makanya aku sangat, sangat, sangat menyukainya. Dia bahkan tak tahu aku mengirimkan data dirinya untuk bekerja di sini. Sekarang dirinya pengangguran setelah satu Korea menghujatnya karena dirinya dikambing-hitamkan menjadi ghost writer penulis Lee Hyunsoo yang dramanya selalu laris, menjadi anjlok.

“Ya, padahal penulis tua itu yang otaknya sudah kering! Malah menyalahkan asisten penulis! Untung saja kenalanku ini memiliki bukti untuk menyalahkannya walau harus kehilangan pekerjaan. Ckckckck.”

Cerocosan Byun Baekhyun yang layaknya kereta api ekspress, memang Luhan dengarkan sampai akhir, sedetail-detailnya. Pun, pria China yang baru kembali ke Korea ini setelah 5 tahun, mengetahui bahwa Byun Baekhyun mengatakan bahwa kenalannya ini difitnah sebagai ghost writer Lee Hyunsoo—penulis termasyhur seantero entertainment Korea Selatan—yang baru-baru ini dituntut atas pencemaran nama baik karena memfitnah satu asistennya sebagai ghost writernya nan menyebabkan kegagalan drama terbarunya.

Kepala Luhan berbelok pada Baekhyun dengan netra membulat. “Maksudmu kenalanmu ini yang difitnah menjadi ghost writer drama Good Day?”

Melihat ketertarikan timbul dalam diri Luhan, pemuda Byun di depannya ini menjadi semangat dan mengangguk-angguk dengan senyuman lebar.

“Iya. Dia selalu menolak kutawarkan kerjaan, dan lihat! Dia mendapatkan bos seperti Lee Jagga (Penulis Lee), ‘kan pada akhirnya.”

Tumpukan dokumen-dokumen yang menjamur di atas mejanya, buru-buru Luhan geledah demi mencari file yang berisikan biodata kenalan Baekhyun yang direkomendasikan untuk menuliskan kontrak dengan perusahaan Luhan yang mencoba wadah baru di dunia perdramaan.

Map coklat tersebut menyambut iris Luhan, jantungnya sudah berdentum kala menatap lekat-lekat map tersebut hingga finalnya membukanya.

Dirinya terpaku pada potret dimensi 3×4 yang terlampir dalam dokumen tersebut sebelum akhirnya menutupnya serta-merta menaruhnya kembali di atas meja. Luhan tatapi Baekhyun—yang sudah kentara senang dengan senyum lebar-lebar—seraya berimbuh:

Okey, kuterima dirinya untuk menandatangani kontrak dengan Dawn Group Inter.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Kakak! Buang juga sampah soju ini! Jangan ada sisa!” titahan dari seorang gadis menggelegar pada kakak perempuannya—mungkin agaknya tidak sopan melihat bagaimana Sang Adik main memerintah kakaknya.

Namun, Kim Hyerim—kakak gadis bernama Kim Taemi—hanya menurut dengan menenteng plastik sampah dan menaruhnya di tempat sampah besar di depan rumah keduanya.

Taemi yang ada di rumah, membaringkan tubuh di sofa sambil memainkan ponsel. Dirinya sedang stress dengan pekerjaannya, belum lagi kakaknya sekarang jadi pengangguran. Jadi, opsi menuruti semua titahannya dipilih Kim Hyerim walaupun harus menjadi babu sekalipun.

TING!

Dering ponsel milik Hyerim sukses menyita atensi Taemi. Sambil mendesis kesal, dirinya mengambil ponsel kakaknya yang tergeletak di atas meja tepat di depannya. Kala membuka notifikasi, terdapat pesan Line dari kontak bernamakan; ‘Cabai Tiram’. Namun pesan yang terisi tak ada previewnya sebab Hyerim memberikan password untuk aplikasi Linenya, membuat Taemi menelengkan kepala dengan dahi berkerut serta menggumam:

“Cabai tiram? Tunggu, jangan bilang lelaki ini lelaki tak waras yang mengejar-ngejar Kak Hyerim dulu.”

KLIK.

Pintu rumah yang ditutup sudah merupakan kode kental Hyerim yang baru selesai membuang sampah dan tengah menjejalkan kaki di atas keset rumah.

Tatkala Kim Hyerim melongos memasuki dapur dan menegak air mineral, Taemi menengok ke arahnya seraya berkata: “Kakak! Kau dapat Line dari cabai tiram.”

BYUR!

Air mancur mini tercipta dari mulut Hyerim hanya karena kalimat yang dilafalkan adiknya. Hyerim terbatuk-batuk, tangannya menepuk-nepuk dada sebelum menyorot adiknya dengan netra membulat.

“Cabai tiram?” lengking Hyerim, bergegas menuju sofa disaat Taemi mengangguk sambil menyodorkan handphonenya.

Dengan mata membola Hyerim membaca Line dari Si Cabai Tiram yang berisikan:

‘Kalau kau ingin pekerjaan, datang lah siang ini pukul 12 ke cafe tempatmu menolakku dulu’

“Woah, woah, jangan bilang dia mau menjadikanmu budaknya.” turut Taemi yang sudah menggeser diri di sebelah Hyerim dan ikut membaca pesan tersebut, berkomentar.

Komentarannya disambut delikan tak suka Hyerim, jika tak ingat adiknya sedang masa-masa stress, dipastikan sebuah tempelengan mendarat di kepala Taemi kini.

Atensi Hyerim sudah mendarat kembali pada pesan di ponselnya, decakannya mengudara dengan gelengan kepalanya.

“Ckckckck. Dasar Byun Baekhyun sialan itu.” geram Hyerim dengan jempol yang seakan-akan mencak-mencak di layar ponselnya, pun ranumnya mengerucut.

Ketika balasan tersebut sudah dikirim, Hyerim menggeletakkan ponsel ke atas meja dan mulai beranjak sambil berpesan pada Sang Adik.

“Jika Si Cabai Tiram itu mengirimkan balasan lagi, read saja, aku ingin lari pagi dulu.”

Punggung kakaknya menghilang di balik pintu dengan derap langkah kaki berbalut ketsnya mulai menjauh. Taemi pun hanya menggeleng-geleng dengan dengusan.

“Lama-lama aku bosan juga melihat kegiatan paginya hanya lari pagi walaupun sekarang hari Sabtu dan libur. Sudah seharusnya dia mulai bekerja lagi. Mungkin Si Cabai Tiram Sinting itu ingin menawarkannya kerjaan bagus.” gumam Taemi sebelum akhirnya membanting punggung ke sofa kembali, berniat malas-malasan di hari Sabtu pagi ini.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Melongo. Hanya itu yang diekspresikan seorang Byun Baekhyun saat melihat balasan pesan yang dikirimkan oleh seorang kenalan yang susah payah ia rekomendasikan pada Luhan.

Sementara itu, CEO tampan tersebut dengan khidmat menyeruput segelas teh manis hangat sembari memanjakan mata dengan memandang pemandangan yang terlukis di luar jendela kantornya—meski yang didapati retinanya hanyalah gedung-gedung pencakar langit nan megah.

Sinyal Si Pemuda Byun berada di sampingnya didapati Luhan, dilirik sekilas koleganya itu dengan lirikan yang sarat akan penasaran.

“Bagaimana? Apakah—ekhem—Kim Hyerim itu menerima tawaran pekerjaan tersebut?” utar tanya Luhan, menyesap kembali tehnya dengan jantung berdentum menanti jawaban Baekhyun.

Bibir bawahnya diberikan gigitan oleh pria bernamakan Byun Baekhyun itu, dirinya menggaruk tengkuk dengan senyum meringis.

“Emmm… dia menjawab… begini.” ucap Baekhyun, ragu-ragu menyodorkan ponselnya pada Luhan sambil gerakan tangannya yang satunya menggaruk belakang kepalanya.

Alis Luhan berjungkit, kurvanya menyipit: menyensor saksama balasan yang diberikan Kim Hyerim—penulis rekomendasi dari Baekhyun—dan mendapati hanya stiker bentuk gif dari orang menonjok lah yang dikirimkan mantan asisten penulis termasyhur itu, mau tak mau membuat Luhan mendengus menahan gelak tawanya.

Disorotnya mata Baekhyun dengan dalam, Luhan menyesap lagi tehnya tuk terakhir kali.

“Pokoknya dia harus bekerja denganku,” tegas CEO tersebut, cangkir tehnya diletakan di atas meja singgasananya. Kemudian Luhan menatap Baekhyun yang sedang menjilat bibir atasnya, intens. “Kau tahu di mana dia tinggal? Sepertinya pagi-pagi begini dia sedang lari pagi, kau bisa menculiknya jika kau yakin dia rekomendasi terbaik untuk menguntungkan perusahaanku.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

—Present Time—

12.12 PM

Kecanggungan dengan jeda hening terjadi pada pertemuan Kim Hyerim dengan CEO Dawn Group Inter, plus lelaki yang dulu ditolaknya—Byun Baekhyun. Hyerim silih berganti menatap Si CEO dan Si Cabai Tiram dengan tatapan laser. Sementara kini CEO tampan rupawan yang berada digaris umur nan sama dengan Hyerim, sibuk membaca naskah cerita karangan gadis Kim itu.

Luhan—nama CEO yang kebetulan, ya kebetulan, mantan kekasih seorang Kim Hyerim—mencuatkan anggukannya dengan mengelus dagu.

“Bagus,” imbuhnya, ditutup lah naskah cerita Hyerim serta menatap perempuan itu dengan mengembangkan sebuah senyuman. “Aku suka ceritamu yang berjudul It Has to be You, ini.” Luhan tersenyum manis dengan berbagai makna di dalamnya.

Di depannya, Sang Dara malah membuka mulut dengan cengkeng mata melebar, diliriknya Byun Baekhyun yang malahan gontai menyesap cairan kofein ke dalam tubuhnya, judes.

“Hei! Byun Baekhyun! Kau main memprint ceritaku yang aku publikasikan di blog pribadiku, ya?!” Hyerim menghardik, geliginya berkelatuk dengan kilatan iris berkobar-kobar, refleks pula tangan kanannya menggebrak meja menyebabkan dua pemuda yang berjumpa dengannya tersentak bahkan Baekhyun nyaris tak tertolong dengan tersedak.

Iris mata Hyerim yang menusuknya tajam seakan membakar kulitnya, jadilah Baekhyun sama sekali tak berani sedikit pun balas menatap dara yang amarahnya tengah tersulut.

Pemuda Byun ini berdehem, cangkir kopinya ditaruh dengan gerakan canggung ke atas meja.

“Aku, ‘kan berniat merekomendasikanmu pada Luhan hyung. Jadi yah… aku ambil contoh tulisan dari blogmu yang itu, lagipula cerita itu yang satu-satunya sudah tamat kemudian cocok diangkat menjadi drama.”

Walaupun Baekhyun bervokal tak enak dengan wajah bersalah, Hyerim setia mengkelatukan giginya dengan iris mata mengeluarkan laser.

“Tetap saja kau harus izin dulu padaku! Ini masalah hak cipta, Cabai Tiram!” sembur Hyerim, jelas sudah dirinya murka. Diam-diam, Hyerim melirik Luhan dengan tatapan sangsi. “Lalu, kau salah memilih cerita untuk dibacakan pada Si Breng—teman CEO-mu ini.”

Tersenyum kalem, Luhan menyahuti. “Kenapa?” kepala Hyerim menoleh padanya dengan sorot tajam. “Apakah kisah Han Yookyung dan Wu Qiang di ceritamu ini menceritakan kisah cintamu yang benar-benar terjadi?” alis Luhan naik sebelah, dari wajahnya ada sarat menggoda yang dia tutupi dengan topeng akting yang kebingungan.

Hyerim mendelik. Secara kasar, dia rebut naskah ceritanya dan merapikannya seadanya, lalu mengangkat tubuh dengan ekspresi kesal setengah mati.

“Aku tidak berniat mengangkat ceritaku ini menjadi drama,” pungkas Hyerim tanpa menoleh pada Luhan. Oleh sebabnya, ditorehkan semua kekesalan dari mimik, pun wajahnya pada Byun Baekhyun yang meringis ketakutan. “Kalau begitu. Aku izin undur diri.” pamitnya, tanpa tahu kesantunan langsung melongos pergi.

Menyaksikan adegan itu, Baekhyun menganga, ditatapnya Luhan dengan raut tak enak. “Akan kukejar dia.” sajak Baekhyun, berdiri dan menggas langkah secepat mungkin menyusul Hyerim.

Telah berpijak di luar cafe, Kim Hyerim mengayunkan tungkai dengan langkah lebar-lebar, kemarahan di wajahnya terbingkai rinci, pun ranumnya berdumel-dumel jengkel.

“Brengsek. Sialan. Memalukan! Dia membaca cerita itu. Akhhhh!!!” gerutu gadis Kim ini, surainya diacak-acak frustasi, ranum bagian bawahnya digigit kuat-kuat.

GREP!

Sekali sentak, lengan Hyerim tercengkram dan menyebabkan tubuhnya berputar, terpaksa retinanya merangkum figur Byun Baekhyun yang terengah di hadapannya. Senyum masam Hyerim otomatis muncul, tahu betul perihal apa yang akan Byun Baekhyun cetuskan dari mulutnya sekon kedepan.

“Hah. Hah. Hah…” napasnya sedang Baekhyun stabilkan, diafragmanya naik-turun, cengkraman yang dibelengunginya pada Hyerim telah putus lantaran dara satu itu menyentaknya. “Kim Hyerim,” Baekhyun memelas. “aku tidak tahu mengapa kau menolak pekerjaan dan peluang bagus ini. Ayolah, sejak di bangku kuliah dulu kau ingin menulis sebuah drama. Kau sekarang sedang pengangguran. Terimalah pekerjaan ini, jangan hiraukan aku yang membuatmu mendapatkannya—”

“—Bukan kau masalahnya!” penggal Hyerim pada sajak kata Baekhyun. Napasnya tak teratur saking membendung emosi nan membucah. Baekhyun yang terbungkam paksa, menatapnya bingung. “Masalahnya adalah CEO-mu itu! Bagaimana bisa CEO kenalanmu itu adalah mantan kekasihku!” semprot Hyerim, berintonasi tinggi. Dilirik kembali cafe di belakangnya dengan kerutan jengkel.

Kelongoan hanyalah respon jaka bernama komplit Byun Baekhyun tersebut. Kurvanya mengerjap-ngerjap dimasa otaknya mencerna kalimat Hyerim yang geliginya berkelatuk kini.

“Tu—tunggu!” cegat Baekhyun, terangkat jua tangan kanannya tatkala Hyerim ancang-ancang berbalik tuk pergi. “Luhan hyung adalah… mantan kekasihmu?” lamat-lamat Baekhyun mengumandangkan frasa tersebut dengan tatapan membola.

Hyerim mengembuskan napas kasar, tersenyum masam dan mengangguk sekenanya.

“Intinya aku tidak akan kerja dengannya.”

Penegasan tersebut menjadi kata-kata terakhir Hyerim sebelum raib dari hadapan Baekhyun yang mematung.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Dalam penantiannya akan Byun Baekhyun nan mengejar Kim Hyerim—yang sejujurnya mantan kekasihnya lima tahun silam—Luhan menyesap khidmat americano kesukaannya, pun tangannya sibuk menscroll down ponselnya dengan menyematkan senyum manis.

Bisa saja Hyerim mengambil kembali file naskah ceritanya sekon lalu. Namun, bukan berarti Luhan tidak memiliki file doc-nya yang sudah dia pindahkah ke ponselnya dari USB milik Baekhyun. Luhan kenal betul Kim Hyerim luar dalam, jadi antisipasi menyimpan file doc naskahnya dilakukan oleh Luhan sebelum berembuk dengan Sang Gadis.

‘Musim semi sangat kental dengan bunga bermekaran di jalan setapak taman nan asri, di mana para insan bersua untuk merileksan diri. Dan di depan taman Seoul Plaza terdapat perpustakaan Seoul City Hall. Di sana, berbanding balik dengan kerileksan para insan di musim nan bersua di Soul Plaza, para insan di Seoul City Hall berkabung dalam asap keseriusan, hening, serta terpekur pada buku-buku. Ujian dan beberapa tugas menyiksa beberapa mahasiswa yang mayoritas bernaung di bawah atap Seoul City Hall. Dan diantaranya ialah Han Yookyung—gadis delapan belas tahun yang baru menempuh jenjang perkuliahan—sedang bergelut dalam materi perkuliahannya, tak luput pula kacamata yang bertengger di pangkal hidung. Namun hari ini berbeda, sebuah awal baru menghampiri Yookyung. Gadis itu sedang melaksanakan retunitasnya di perpustakaan untuk belajar dan mengerjakan tugas, ditemani kopi satu sen dari mesin kopi dan hari ini sebuah insiden terjadi…’

Deskripsi yang dibawakan Hyerim dalam ceritanya membuat memori Luhan terbang pada satu ingatan dengan senyuman yang terbit di kurvanya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

—5 Years Ago—

Musim semi sangat kental dengan bunga bermekaran di jalan setapak taman nan asri, di mana para insan bersua untuk merileksan diri. Dan di depan taman Seoul Plaza terdapat perpustakaan Seoul City Hall. Di sana, berbanding balik dengan kerileksan para insan di musim nan bersua di Soul Plaza, para insan di Seoul City Hall berkabung dalam asap keseriusan, hening, serta terpekur pada buku-buku. Ujian dan beberapa tugas menyiksa beberapa mahasiswa yang mayoritas bernaung di bawah atap Seoul City Hall. Dan diantaranya ialah Kim Hyerim—gadis delapan belas tahun yang baru menempuh jenjang perkuliahan—sedang bergelut dalam materi perkuliahannya, tak luput pula kacamata yang bertengger di pangkal hidung.

Namun hari ini berbeda, sebuah awal baru menghampiri Hyerim. Gadis itu sedang melaksanakan retunitasnya di perpustakaan untuk belajar dan mengerjakan tugas, ditemani kopi satu sen dari mesin kopi dan hari ini sebuah insiden terjadi. Mesin kopi itu marah, tak mau mengeluarkan kopi yang dipesankan Hyerim. Sudah disarangkan tendangan berulang kali oleh Hyerim pada mesin tersebut, bahkan air wajah dara manis itu sudah berekerut-kerut kesal, pasalnya koin barusan ialah koin terakhir yang ia bawa.

“Aish.” Hyerim mengumpat, jemarinya bergerliya mengacak surainya yang sebenarnya sudah sebelas-dua belas dengan rambut singa. Tubuhnya berjongkok di depan mesin, cemberut lalu merengek. “Aaahhh… eotteokhae? (Bagaimana nih)”

Tanpa diketahui oleh gadis yang sedang berjongkok melipat tangan di atas lutut dan menenggelamkan paras dilipatan tangan, seorang pemuda menatapnya dengan tersenyum kecil. Bilang saja pemuda itu memperhatikannya sejak barusan, bahkan sejak dua bulan ini Hyerim berada di perpustakaan, pemuda itu sering memperhatikannya. Bukan bermaksud jadi penguntit atau dirinya menaruh rasa pada sosok manis yang penampilannya urak-urakan di perpustakaan—kantung mata tebal, surai acak-acakan, baju yang sudah kelewat lusuh. Tapi dirinya juga penghuni rutin Seoul City Hall selepas kuliah, jadi mau tak mau menjadi hafal dengan Hyerim.

CLING!

Atensi Hyerim teralih karena suara koin dimasukan ke mesin kopi di depannya berjongkok, menyusup ke gendang telinganya. Lantas kelereng matanya bergerling dan dihadiahi senyum manis pemuda berambut coklat yang berdiri di depannya dengan segelas cappucino.

Cappucino tersebut tersodorkan padanya serta timpalan Hyerim akan hal tersebut hanyalah longoannya serta-merta wajah tololnya sebelum membawa tubuh berdiri.

“A—”

“—Untukmu,” pungkas Si Pemuda, digoyangkan cup cappucino tersebut—kode agar Hyerim mengambilnya. “Kau tidak punya koin lagi, ‘kan? Jadi aku memberikan satu koinku untuk cappucinomu.”

Kelopak Hyerim mengerjap, kepalanya sedikit menunduk tatkala menerima cappucino tersebut dan menyesapnya cepat-cepat. Tetapi, karena baru fresh dari mesin, rasa panas menyapa lidah Hyerim dan refleks dirinya menjauhkan cup dari mulut dengan lidah menjulur sembari dikipasi.

“Hah… hah, panas.” eluh Hyerim dengan lagak tololnya mengipasi lidahnya yang terjulur, mengumpat juga dilakukan dalam hati karena berperilaku demikian di hadapan seorang pemuda asing yang murah hati memberikan satu cup cappucino padanya.

Tawanya ditahan, maka berakhir Si Pemuda Murah Hati tersebut mendengus dengan menutupi mulut dengan tangannya.

“Pelan-pelan, agashi.” komentar Si Pemuda, tersenyum menahan tawa dan timbal balik Hyerim yang sudah reda akan panasnya, hanya tersenyum canggung berlebur dengan malu.

Rona merah membakar pipi Hyerim, dan berusaha ia samarkan dengan menjuntaikan surainya di sebelah pipi sembari menunduk.

“E—iy—iya… teri—ma ka.. sih, Tuan.” akasara Hyerim agak tersendat seakan gadis itu baru belajar bahasa Korea, pun tubuhnya membungkuk canggung.

Lakon dara tersebut nyatanya membuat jaka di depannya terpana, bahkan tanpa sadar tak mengerjap sejak tadi hanya tuk menyarangkan fokus pada Kim Hyerim. Menggemaskan. Frasa tersebut tercuat di kepalanya, menyebabkan sebuah senyum manis terkulum.

Disaat Hyerim berbalik dan ingin angkat kaki, pemuda di depannya mencegat dan tubuh Hyerim berbanting stir menatapnya lagi dengan kernyitan.

Mengulum senyum, sebuah aksara dengan vokal lembut jaka tampan tersebut berkumandang, “Siapa namamu?”

Terlebih dahulu mengerjap dengan terbelit bingung, barulah Hyerim bervokal agak gagap. “A… Kim… Hyerim.”

“Nama yang bagus. Aku akan mengingatnya terus,” pungkas pemuda di depannya, kian tersenyum lalu timbal balik memberitahu namanya setelah meraih tangan Hyerim untuk berjabat. “Luhan. Tolong ingat namaku juga. Aku berkuliah di Yonsei, semester satu.”

Kupu-kupunya mabuk tak kepalang hanya disebabkan berskinship dengan pemuda asing yang baru mengenalkan diri atas nama Luhan.

“Emmm… ya, salam kenal Luhan,” Hyerim menelengkan kepala, pipinya merah habis-habisan. “Aku sebaya denganmu dan berkuliah di Kyunghee.”

Dan dari perkenalan sederhana itu lah, satu hal baru terjadi diantara keduanya yang bergelut dalam kisah baru bersama.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hyung!” vokal Baekhyun yang melengking menyentak Luhan dari bayangan masa lalunya, atensinya lekas terarah pada pemuda Byun itu yang kini menatapnya intimidasi.

Berkerut, Luhan mengutarkan tanya, “Kena—”

“—Jadi Hyerim itu mantan kekasihmu?!” kelakar Baekhyun, menggelegar serta melotot horror.

Tahu informasi itu pasti sudah Hyerim utarakan dengan menggunakannya sebagai prisai penolakan, Luhan hanya tersenyum tipis kelewat tenang serta-merta mengangguk.

“Ya, dia kekasihku lima tahun lalu saat aku masih menempuh pendidikan S1 di Yonsei,” anggukan Luhan finish. Sedang Baekhyun membanting bokong di kursi di depannya seraya mendesah keras. “Aku kembali ke Korea untuk menemuinya, omong-omong dan ya… aku ngotot ingin dia kerja denganku, bagaimanapun caranya.”

Tak mengidahkan cerocosan Luhan, Byun Baekhyun malah menatapnya dalam.

“Bagaimana bisa kalian bertemu dulu? Kenapa kalian putus? Aku rasa ada yang tidak beres dengan hubungan kalian. Dan apa kau sengaja mendekatiku saat menjadi asisten sutradara di Beijing karena tahu—”

“—Aku malah tidak tahu kau adik tingkatnya dan pernah suka pada Hyerim,” terselip senyum agak sarkasnya Luhan dalam perihal Baekhyun mengakui Hyerim gadis yang ia suka di depan Luhan yang notabene mantan pacar gadis ayu itu. Oleh sebabnya Baekhyun bungkam dengan wajah merah padam, malu. “Bagaimana kita bertemu, sepertinya kau bisa baca di naskah It Has To Be You. 100% mirip seperti itu.”

Tenang, Luhan menyesap minumannya dengan Baekhyun yang bengong di depannya, tak luput dengan mulut yang menganga.

Dikatupkan dulu mulutnya sebelum melempar rangkai aksara. “Jadi… naksah itu kisah nyata kalian? Han Yookyung adalah Hyerim dan Wu Qiang adalah dirimu?”

Alih-alih anggukan mantap, Luhan mengedikan bahu dengan rasa ragu.

“Bisa jadi ya. Bisa jadi tidak. Aku tidak ingin terlalu percaya diri bila Hyerim masih mencintaiku karena membuat cerita itu. Tapi dari cara berkenalan, saat mereka berpacaran, dan mereka putus—”

Kurva matanya membelalak, Baekhyun pun menyerobot karena ada mozaik yang tadi belum sempat Luhan jawab. “—Jadi kalian putus karena kau memilih gadis lain yang merupakan teman SMA-mu dulu hanya karena berada dititik bosan akan hubunganmu dengan Hyerim?”

Tembakan Baekhyun tepat sasaran, reaksi Luhan lah jawaban dari tembakan tersebut: membuang muka dengan wajah sendu sarat akan penyesalan.

“Yookyung, aku ingin berbicara denganmu.”

Di hari yang cerah begini, Qiang malahan berucap dengan nada lugas serta membina keseriusan yang meluluhlantahkan keceriaan Yookyung yang terduduk di depannya.

Yookyung mengerutkan dahi, dan merespon. “Ada apa?” dia menyeruput ramennya terlebih dahulu sebelum menaruh sumpitnya. “Kenapa kau serius begitu?” berusaha mencairkan, Yookyung terkekeh namun Qiang malah tetap menatapnya lurus-lurus: penuh keseriusan membuat Yookyung mengatupkan mulut dengan khatam tertawa.

“Aku ingin kita putus saja,” hati Yookyung mencelos saat perkataan seringan bulu itu meluncur dari bibir Qiang. “Nyatanya aku mencintai perempuan lain.”

Kentara ingin menangis dengan mata memerah dan ranum bergetar-getar, Yookyung menumpahkan cecarannya yang tersumbat-sumbat.

“A… apa? Ka…u se… lingkuh? Atau—”

Qiang mengintrupsi dengan gelengan lalu menegaskan, “Aku tidak selingkuh, hanya tidur dengannya saat aku melaksanakan reuni SMA minggu kemarin.”

Otaknya buntu, Yookyung hanya sanggup mengeluarkan napas keras dengan tidak percaya. Jadi ini hasil reuni Qiang saat kembali ke Beijing kemarin? Mata Yookyung sudah kabur dengan air matanya yang menjerit ingin ditumpahkan namun dia tahan.

“Jadi apa kau menghamilinya?” hardik Yookyung, tak tahan air mata meluncur bebas juga.

Qian hanya tersenyum tipis. “Kurasa tidak—entahlah, mungkin belum,” sahutannya membuat Han Yookyung ingin menamparnya habis-habisan, menghajarmya sampai babak belur atau bila bisa membunuhnya jika Yookyung melupakan fakta bahwa pemuda ini ialah pemuda yang amat ia cinta. “Aku… maafkan aku, Yookyung-ah,”

Maaf katanya? Brengsek ini bisa-bisanya mengatakan itu setelah mengoyak dalam hati Yookyung yang memilih memejamkan mata dengan air mata mengucur.

“Aku merasa kau bukan cintaku sesungguhnya,” Qiang melanjutkan dengan tatapan memelasnya. “Ketika aku bertemu dengan Huang Fangyu lagi—”

Oke, jika Yookyung nantinya punya death note, nama Huang Fangyu dan Wu Qiang akan menjadi daftar teratasnya.

“—aku merasa masih mencintainya. Dia cinta pertamaku, jadi… aku rasa… cintaku padanya lebih besar daripada cintaku padamu.”

Yookyung membuang muka, sembab melukis bawah kelopak matanya, napasnya terbuang dengan mimik tak percaya.

Sekon kemudian, kembali Yookyung bina ketegarannya dengan manatap Qiang tajam walaupun kental jua rasa sakit dalam obsidiannya.

“Jadi karena masih mencintainya, kau bercinta dengannya?”

Dan anggukan Qiang tercuat, memperlebar goresan di hati Han Yookyung.

“Aku merasa bosan denganmu, Kyung-ah. Ini bisa dikatakan titik bosanku bersamamu dan kurasa itu menyadarkanku pada nyatanya aku lebih mencintai Fangyu.”

Yookyung berusaha tuli saja saat ini dengan mengepalkan tangan di atas meja. Kemudian netra Yookyung tersita pada ramen yang baru dia makan setengahnya, lalu meraihnya seraya mengangkat tubuh kemudian—

BYUR!

—menumpahkan ramennya di atas kepala Qiang dengan kuah panasnya yang masih mengepul. Wu Qiang hanya memejam netra dengan perasaan tersentak menghampiri, terlalu terkejut dengan aksi Yookyung.

BRUK!

Dibanting mangkuk ramennya yang sudah ludes dengan mie-mienya yang berayap di atas kepala Qiang, oleh Yookyung yang ranumnya bergetar-getar dan matanya berkaca-kaca serta turut bergetar.

“Ya, aku menerima usulan putusmu,” kelit Yookyung tajam dan Qiang hanya menatapnya dengan senyuman lemah, entah bahagia atau bersalah tapi sepertinya bahagia karena sudah terlepas dari statusnya dengan Yookyung dan bisa bercinta dengan puas bersama Fangyu. “Jangan sampai kita bertemu lagi, brengsek. Atau kupastikan kau terbunuh besoknya.”

Penutup dari pertemuan itu adalah kata-kata tajam Yookyung plus punggungnya yang berbalik dengan getar-gemetar di bahu, pertanda Si Gadis menangis dalam diam sambil membekap mulut.

Dan dengan bodohnya, Yookyung mengasakan Qiang menghampirinya, memeluknya, meminta maaf padanya dan mengatakan dia tidak mau Yookyung pergi. Tapi itu hanya angan semata yang menjatuhkan Yookyung ke dalam kabung kesakitan nan mendalam.

‘Itulah dirimu yang telah mengajarkanku cinta dan sakit hati.’ pikir Yookyung dengan isakan yang mulai memecah di tengah taman yang biasa dia pakai lari bersama Qiang dengan berbagi canda tawa.

Luhan membuka episode disaat Yookyung dan Qiang putus, membuatnya terpekur dengan hati berdenyut. Dia bodoh, harusnya dia tidak seperti itu pada Hyerim kala itu, harusnya—sesuai yang gadis itu tuliskan akan perasaan Yookyung saat pergi—Luhan mengejarnya, memeluknya, meminta maaf dan memperbaiki segalanya.

 

“Aku merasa kau bukan cintaku sesungguhnya. Ketika aku bertemu dengan Guan Meixi lagi, aku merasa masih mencintainya. Dia cinta pertamaku, jadi… aku rasa… cintaku padanya lebih besar daripada cintaku padamu.”

“Jadi karena masih mencintainya, kau bercinta dengannya?”

“Aku merasa bosan denganmu, Hyerim. Ini bisa dikatakan titik bosanku bersamamu dan kurasa itu menyadarkanku pada nyatanya aku lebih mencintai Meixi.”

BYUR!

“Ya, aku menerima usulan putusmu. Jangan sampai kita bertemu lagi, brengsek. Atau kupastikan kau terbunuh besoknya. Ingat itu Luhan.”

“Meixi? Iya sayang. Aku sudah memutuskan Hyerim. Aku merasa bersalah padanya tapi aku yakin ini pilihan terbaik dibanding menyakitinya lebih lanjut.” dan Luhan menghubungi Meixi setelahnya dengan sebuah senyuman.

Mengingatnya membuat kepala Luhan pening dan mengukir senyum getir, dirinya memejamkan mata erat-erat dan berfrasa dengan kegetiran mendalam.

“Ya, setelah aku membaca kisahnya, aku merasa aku sangat kejam dan dengan brengsek serta tidak malunya, menghampirinya kembali karena nyatanya… dialah cinta sejatiku.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Day by day, I tried to endure
So I tried to live busily
But the one person I suddenly think of
That person is you
You, who is in front of me

“Hah! Hah! Hah!”

Minggu pagi dilalui Kim Hyerim seperti biasanya: lari pagi. Entah mengapa, dirinya setelah bertemu Lu—lelaki brengsek sialan itu, jadi mempunyai retunitas lari pagi.

Ayo lari pagi, itu menyehatkan lho. Aku ingin pacarku terlihat sehat, karena jika sehat itu pertanda bahagia. Jadi aku juga akan senang kalau kau bahagia bersamaku.

Hyerim menutup netranya, menggeleng dengan rasa jengkel dan mendesis, “Aish.” saat pesan singkat Luhan selalu diterima lima tahun lalu, malah muncul di benaknya.

Lanjut berlari, Hyerim melewati sisi lebih dalam taman dan seketika ingatannya berpergian lagi ke masa lalunya dan Luhan.

HAP!

Luhan menangkap tubuh Hyerim yang nyaris jatuh tersandung kakinya sendiri. Spasi antara keduanya sangat dekat, dentuman jantung keduanya layaknya lagu penghantar tidur nan bersautan. Hyerim terpana kala menatap Luhan yang melengkungkan senyuman dengan tatapan hangatnya.

“Hati-hati, nanti kau terluka.”

Dan saat itu Hyerim maupun Luhan mengklaim diri telah saling jatuh cinta.

 

“Hahhh!!” desah Hyerim berat. Disumpalkan earphone ke telinganya guna menghalau semua kenangan sialan itu namun sebuah lirik malahan mengusiknya.

‘Haru harureul chamaboryeo aesseo

bappeuge bonaen sigan soge

geuraedo mundeuk tteooreun han saram

geu saram neoin geol

nae nunapui neo’

 

“Kim Hyerim, aku menyukaimu.”

“Huh?”

“Mau tidak kau jadi pacarku?”

“Tapi Luhan, kita, ‘kan baru kenal selama empat bulan—”

Bibir Luhan mendarat di plum Hyerim, membungkamnya dan akhirnya menciptakan adegan berciuman di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran di musim panas. Dan dari situ keduanya menjalin hubungan.

“Argh!” erang Hyerim, frustasi, melepas kembali earphonenya dengan gusar.

Lirik lagu yang dia dengar seakan menamparnya yang sok-sokan menyibukan diri tapi pada akhirnya memikirkan Luhan kembali sampai ingatan keduanya pertama kali merajut asmara pun ikut-ikutan muncul di benaknya.

Setelah dirasa acara lari paginya cukup, Kim Hyerim dengan banjir keringat di balik hoodie putihnya, kembali ke rumah. Ketika sibuk menanggalkan sepatu ketsnya, rusuh langkah tungkai menyusup ke gendangnya dan—

“KAK HYERIM!”

—pekikan Kim Taemi membombardir dirinya, membuat Hyerim yang sedang berjongkok, terjengkang dengan mata membelalak.

Kembang-kempis di hidung adik tercintanya dengan mata melotot horror, sudah membuat Taemi seperti banteng mengamuk saja. Sebuah kertas dibentangkan tepat di depan Hyerim olehnya. Dengan kurva menyipit sebab jarak baca yang dekat, Hyerim menelaah aksara-aksara nan terketik di situ.

“Lihat! Pengeluaran kita makin banyak saja. Harga sewa rumah ini juga malahan naik. Belum lagi kita menabung untuk membeli apartemen. Lalu, hanya aku tulang punggung di sini! Mana mungkin kita merepotkan ayah dan ibu,” cecar Taemi, bibirnya mengerut dengan wajah frustasi bercampur kesalnya. “Sudahlah, Kak. Kau terima saja tawaran kerja dari Si Cabai Tiram, kita butuh uang, tahu! Atau kau bisa memilih kita akan ditendang keluar dari rumah ini!” desak Taemi, agak memelas menatap Hyerim yang pikirannya sedang bercabang setelah membaca kertas pengeluaran yang adiknya bentangkan.

Ayat kata Taemi direspon delikan tak suka Hyerim. Posisi Hyerim sudah berpijak di depan Taemi, berkacak pinggang.

“Aku tidak mau!” sargah Hyerim, kelereng dwimaniknya memutar dan emosinya mencapai ubun-ubun lantaran mengingat Luhan. “Asal kau tahu, CEO yang Baekhyun kenalkan padaku untuk menandatangani kontrak adalah mantan pacarku! Si Brengsek dari Beijing itu!” kelit Hyerim, napasnya tersenggal saking emosi nan membendung sudah setinggi langit.

Taemi melongo pada awalnya, dikerjapkan matanya sebelum akhirnya berlakon sama seperti kakaknya—berkacak pinggang dengan dagu terangkat.

Ya! Aku tahu berhubungan dengan lelaki China itu sial! Lihat hubunganku dengan Yifan, absurd sekali dan kadang kita seperti putus padahal tidak. Okey, skip membahas Si Tiang Tonggos itu,” seloroh Taemi, sebal jadi menggerogoti jikalau membahas kekasihnya itu. “Tapi, Kak, bedakan pekerjaan dengan urusan pribadi! Kau tidak bisa jadi pengangguran. Halo! Ini 2018, dan wanita seusiamu masih menganggur? Bagaimana kau bisa hidup, hah?!” ceramah adiknya ini.

Ceramahan adiknya hanya masuk kuping kanan, keluar kuping kiri tentunya.

“Ngomong sih mudah, aku yang menjalaninya susah, Kimi!” oktaf Hyerim naik, saling silih pandang dengan Taemi tanpa mau ada yang mengalah. Well, beginilah jika dua orang keras kepala bersiteru. “Aku tidak bisa berdamai dengan masa laluku mengenai Lu—Si Bajingan Keparat Sialan itu!” Hyerim nyaris menjerit keras mengimbuhkan panggilan ‘sayangnya’ pada Luhan diakhir aksaranya.

Taemi buang rasa pengertiannya. Dia sambar kasar lengan kakaknya dan mulai mengenakan alas kaki untuk keluar.

“Aku tidak peduli!” pungkasnya, sekilas menoreh tatapan tajam pada kakaknya. “Kau harus berdamai dengannya sekarang! Se-ka-rang! RIGHT NOW!” tegas Kim Taemi mulai menarik Hyerim dengan paksa.

Hyerim membelalak, adik kurang hajarnya main menggeret tanpa lihat-lihat bahwa Hyerim menyeker seperti ayam kini.

“Taemi! Aku belum pakai alas kaki!” seru Hyerim saat keduanya menjejalkan kaki di tangga keluar rumah. Tapi, Taemi seakan tuli dan terus menggeretnya, takut-takut itu dijadikan tameng Hyerim untuk lari dari keadaan ini walaupun ia tahu kakaknya tak pakai alas kaki. “Dan mana mungkin aku bisa damai dengannya jika saat putus saja aku menumpahkan semangkuk ramen yang masih panas ke kepalanya! Lalu aku mengancam akan membunuhnya jika bertemu dengannya lagi!”

Putar-memutar bola obsidiannya sedang dilakukan Taemi.

“Aku tidak peduli! Intinya kau harus dapat kerja!”

Jika Kim Taemi sudah bersikukuh begini, Hyerim bisa apa lagi?

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Kupalan asap dari tehnya membuat Luhan seakan dipeluk kehangatan kala meneguknya. Kilatan matanya menatap pemandangan gedung pencakar langit di hadapannya.

“Kali-kali minum susu. Jangan teh atau kopi terus. Minum susu agar kau tinggi!”

Tangan Luhan mengambang dengan bibirnya menyentuh ujung cangkirnya saat vokal sopran Hyerim malahan bergendang di telinganya, membuat kurvanya tertarik melengkungkan senyum.

Luhan menggeleng, beralih pandangannya bertumpu pada meja kerjanya yang berserakan kertas-kertas dan di situ dia berimaji melihat figur Kim Hyerim tertidur dengan lipatan tangan nan menjadi bantalnya, wajah tenangnya saat tidur persis seperti saat dia tidur di Seoul City Hall dan menyebabkan Luhan tersenyum.

Lagi-lagi Luhan menggeleng guna mengenyahkan pikirannya itu, tak habis pikir pula kenapa disetiap kegiatannya yang sesibuk apapun itu, bayang-bayang Kim Hyerim menghantuinya. Apakah ini karma? Atau Tuhan ingin mempetuahkan bahwa cinta sejatinya adalah Kim Hyerim, bukannya Guan Meixi yang hanya menemaninya dikala bosan?

Luhan merasa sudah gila kala dirinya bisa melihat jelas—berkhayal—Kim Hyerim berdiri di depannya, membetulkan dasinya yang miring dengan senyum manis.

“Kau ini harus tampil rapi, seperti tidak diurus saja dengan istrimu ini.” plum Hyerim mengerucut, kegemasan jadi menghampiri Luhan dengan senyuman yang membingkai demikian.

Dan bayangan itu raib, menghapus senyum lebar Luhan yang seketika bergeming dan meringis miris. Merasa kelewat gila dan butuh udara segar, Luhan hengkang dari ruangannya dan sudah menapaki lantai satu gedung perusahaannya.

Hendak melewati resepsionis, Luhan menangkap adegan seorang gadis sedang berbicara dengan logat tak santai pada resepsionisnya sambil menggandeng seorang gadis yang tampak membujuknya untuk hengkang saja. Well, Luhan tidak perlu mengubris kejadian itu jikalau gadis yang kerisihan dalam genggaman gadis yang mengomel itu bukanlah Kim Hyerim.

“Kumohon, ya. Kakakku ini mantan pacar CEO-mu, dia ingin menerima kontrak kerja—”

“—Kim Hyerim!” bass seorang Luhan mencut cecaran Taemi, pun membuat Kim bersaudari dan resepsionisnya menatap ke arah Luhan yang lengannya melambai-lambai bersama cengiran bodohnya.

Salivanya terteguk, Hyerim merasa hatinya mencelos melihat Luhan hanya berspasi beberapa jengkal saja dengannya. Pahat sempurna pemuda itu membuat jantungnya mengaum-ngaum. Ugh, apa-apaan ini? Kenapa jantung bodohnya masih begini pada sosok brengsek itu?

Mengubur keterpanaannya pada Sang Mantan, Taemi mendorong Hyerim sambil berbisik: “Cepat hampiri dia. Buang dendam dan kekesalanmu atau kubunuh bila kau tidak meminta kerja padanya!”

Efek dorongan tersebut membuat Hyerim berpindah posisi sedikit demi sedikit mendekati Luhan yang menebar senyum dan senantiasa menggeret diri mendekatinya. Kala mendapati kaki telanjang Hyerim, Luhan mendengus keras menahan tawa.

“Luhan-ssi! Kakakku ingin menerima kontrak kerja denganmu. Kalian bisa mengurusnya hari ini.” imbuh Taemi tatkala Luhan berpijak di depan kakaknya dan dirinya yang bersembunyi di balik punggung kakaknya sambil mendorong lagi Hyerim hingga tersentak.

Mempersingkat timing, Hyerim sudah terduduk—masih dengan kaki telanjang—di sofa ruangan Luhan dengan pemuda itu di depannya, tak lupa dengan seduhan teh yang mengawani serta jaka Lu yang menyesapnya nikmat. Banding balik dengan Hyerim yang menganggurkan tehnya dan secara malang teh tersebut sudah mendingin.

Kala mulut Hyerim terbuka ingin meloloskan kata, pintu ruangan Luhan diketuk dan Si Empunya Ruang mencetuskan kata masuk. Sosok bertubuh ramping yang merupakan seorang pekerja wanita dengan membawa kotak pun muncul, dirinya memberikan kotak tersebut pada Luhan yang menimpalinya dengan senyum dan ucapan terima kasih. Persekian detik pun, pegawai itu sudah hengkang dari sana.

Luhan menatap Hyerim dengan senyum lembut yang membuat adrenalin dara satu itu menggila. Irisnya menusuk kaki telanjang Hyerim.

“Kakimu,” bariton Luhan, berdiri dan tahu-tahu berjongkok di hadapan Hyerim yang tersentak, pun membelalak. Luhan loloskan isi kotak yang dia terima dari pegawainya: sepatu kets warna putih keluaran vans. “Kakimu bisa terluka jika menyeker begini.” ucap Luhan, dipakaikan sepatu kets tersebut di kaki Hyerim, pun menyimpulkan talinya.

Diperlakukan begitu, Hyerim menelan ludah dengan pipi yang seketika kebakaran. Sudah dipastikan, seorang Luhan kembali meluluhlantahkan hatinya.

Beres menalikan sepatu Hyerim yang dia hadiahkan, Luhan kembali ke posisinya semula sambil menyesap tehnya lagi. Sementara perempuan garis Kim itu baru bernapas kembali sebab menahannya sejak tadi.

“Ekhem,” Hyerim benahi posisinya jadi lebih tegak, berusaha menjalin konversasi sekaligus mengubur atmosfer canggung. Atensi Luhan sudah berpusat padanya, cangkir tehnya ditaruh di tatakan di atas meja, alisnya berjungkit. “Jadi untuk masalah kontrak itu apakah masih berlaku?” tanya Hyerim, tersenyum canggung mengingat perjumpaannya terakhir kali dengan Luhan. Ini diluar nalarnya untuk bertemu lagi apalagi menandatangani kontrak.

Tercuat anggukan Luhan, tangannya mendorong lembut map di atas meja kepada Hyerim. Paham, Hyerim langsung membukanya dan mengambil pena yang terselip di situ, lekas-lekas dirinya menoreh tanda tangannya daripada pikirannya berubah dan endingnya dicekik hingga mati oleh adik perempuan tersayangnya.

“Tentu itu masih berlaku, Kim Jagga, (Penulis Kim)” tutur Luhan. Panggilan tersebut membuat Hyerim menatapnya dengan mengerjap, sedang Luhan sendiri memamer senyum tipis.

“Sepertinya aku yang pertama kali memanggilmu begitu, bukan?” vokal bangga Luhan mengudara dan Hyerim hanya merespon dengan senyum agak masam. “Tapi aku ada syarat,” alis dan dahi Hyerim naik sebelah serta berkerut. “aku ingin kau mengubah naskah dramamu menjadi happy ending.”

Rahang Hyerim turun; menganga.

“Apa?” frasa Hyerim dengan oktaf agak tinggi, air wajahnya mengerut tak suka.

Gontai, Luhan mengangguk serta bersajak: “Aku tak mau Yookyung dan Qiang berpisah begitu saja. Diakhir Qiang menikah dengan Fangyu karena hasil tidur mereka membuahkan kehamilan. Kemudian Yookyung malah terpaksa menikahi Baek Jaesung, adik tingkatnya yang mengejar-ngejarnya semenjak kuliah dan putus dari Qiang—” otomatis Luhan mengidik ngeri membayangkan Kim Hyerim dan Byun Baekhyun menikah. O, dia paham bahwa Baek Jaesung adalah gambaran fiksi Baekhyun dicerita Hyerim. “—aku tidak setuju dengan ending tersebut. Buatlah Fangyu tidak hamil. Kemudian persatukan Yookyung dan Qiang kembali.”

Napas Hyerim terbuang dengan tercenggang.

“Hah! Aku harus merevisinya sangat banyak bila ada perombakan. Jika begitu drama ini tidak bisa tayang sesegera mungkin.”

“Kalau begitu kau bisa tinggal di kantor untuk merevisinya.” timpal Luhan, kalem serta-merta tersungging senyum tenangnya.

Pijitan diberikan Hyerim di pelipisnya.

“Tapi aku menginginkan akhir cerita keduanya seperti itu. Tidak bersama sama sekali.” timbal balik Hyerim adalah kekukuhannya.

“Tapi sad ending memiliki potensi keberhasilan sedikit. Aku ingin drama pertamamu ini sukses dan banyak yang menonton kisah kita—” Luhan meneguk ludah kikuk, begitupula Hyerim yang mematung. Cepat-cepat lelaki China itu meralat, “—maksudku kisah Qiang dan Yookyung.”

Hyerim mengembuskan napas, ditatapnya Luhan dalam. “Aku tidak bisa!” tegasnya. “Ini naskahku, Lu—sajangnim, dan aku ingin mereka berpisah!”

“Tapi aku tidak mau,” respon Luhan, sama-sama keras kepala membuat Hyerim memejamkan manik frustasi. Kenapa CEO sialan ini mengatur-ngatur segala cerita yang dia tulis, sih?

“Karena nyatanya, Fangyu tidak hamil karena sebut saja; one night stand dengan Qiang. Lalu, kau, ‘kan hanya menceritakan sisi Yookyung saat keduanya putus. Ceritakan sisi Qiang, makin hari dia makin merasa kesepian. Dan menyadari cinta sejatinya adalah Han Yookyung, bukanlah Huang Fangyu, cinta pertama yang mengalihkan dirinya karena sedang merasa dititik jenuh hubungannya bersama Yookyung. Berkali-kali dia menyibukan diri tapi bayangan Yookyung selalu muncul. Dia gila, sakau tanpa sosok gadis itu. Dia meninggalkan Fangyu. Dan kembali lagi ke Korea setelah lima tahun untuk mencari Yookyung.”

O, Luhan di sini sudah seperti penulis saja. Dengan lancar lidahnya bercakap begitu. Sementara itu, Hyerim terpaku, beberan Luhan tadi—entahlah ini perasaanya saja atau bukan—semacam curahan hati dan ungkapan kepadanya. Dan brengseknya, jantungnya malah mengaum-ngaum dengan hati menghangat.

“Jangan jatuh cinta lagi padanya, idiot!” umpat Hyerim dalam hati.

“Ubah naskahmu atau kontrak kerja kita batal.”

Okey, skakmat, Kim Hyerim tidak mau dicincang habis-habisan oleh Kim Taemi bila pulang dengan tangan kosong. Well, dirinya juga tidak mau berakhir mengenaskan ditendang dari rumah sewanya.

Buang napas, memejamkan obsidian, lalu membuka kurva kelereng beririsnya, dan berusaha merangkai senyum walaupun kentara terpaksa, dara Kim itu pun finalnya menyuarakan aksara yang diasakan Luhan sejak tadi.

“Baiklah, aku akan mengubah naskah dramaku.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hari pertama Hyerim agak berat, sepertinya. Dara itu bernaung di satu ruangan yang biasanya digunakan rapat, merombak ceritanya untuk menuju akhir yang bahagia. Cup-cup kopi sudah dia teguk berliter-liter banyaknya. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, namun dirinya belum mencapai kata pulang ke rumah. Hyerim ingin menuntaskan naskahnya secepat mungkin walau terbesit rasa jengkel.

“Dasar keparat sialan itu,” umpat Hyerim disela kegiatan jemarinya sibuk menari di atas keyboard laptop. “Apa-apaan sih dia menyuruh segala untuk mengubah naskahnya? Ohhh.. jadi Guan Meixi itu tidak hamil dan dia sekarang sudah putus dengan Meixi, Meixi itu, ya? Huh! Kalaupun begitu, tidak usah menyuruhku mengubah naskahku. Lagian siapa juga yang mau menikah dengan Byun Baekhyun? Errrr!” geligi Hyerim berkelatuk, keras-keras dia memencet tombol enter untuk paragraf baru.

“Aishh!” Hyerim mengumpat saat salah ketik kalimat membuatnya menekan tombol menghapus namun malah kebablasan dengan menghapus kalimat yang tidak salah. Lagi-lagi umpatannya disuarakan, untung tombol undo ada, bila tidak mungkin Hyerim akan meletupkan amarah. “Good! Hari pertama kerja langsung lembur!” semburnya, mengangguk-angguk jengkel.

Dan sejujurnya bukan hanya Hyerim yang masih ada di kantor. Luhan yang ruangannya bersebrangan dengan tempat Hyerim bermalam malam ini, juga masih ada di ruangannya, menyesap kopi hitamnya dengan berdiri di depan jendela kacanya, memperhatikan gerak-gerik Hyerim yang terlihat sebab akan jendela kaca yang tidak dia tutup dengan tirai.

Hyung, kau tidak pulang?” bariton Baekyun menyeruak, pemuda itu baru muncul di ruangannya. Tahu atensi Luhan terjatuh pada siapa, Byun satu ini menghela napas. “Kau keterlaluan, hyung. Masa Hyerim langsung kau suruh lembur?” tutur Baekhyun, merasa prihatin juga dengan keadaan kakak tingkatnya itu.

Tubuh Luhan berbelok padanya. Dengan panorama lampu yang minim di tengah kemerlap malam, senyum Luhan agak samar ditangkap retina Baekhyun.

“Ini terdengar konyol dan agak egois. Tapi dengan dirinya lembur, aku jadi bisa melihatnya sepanjang hari.”

Decakan Baekhyun terlaksana dengan gelengan tak habis pikirnya.

“Orang jatuh cinta memang seperti itu, ya,” komentar Baekhyun, masih geleng-geleng. “Hyung,” panggilan Baekhyun dengan tatapan dalam sudah merupakan kode dirinya sedang membina konversasi serius. Maka Luhan menatapnya dalam dengan tanda tanya. “Kau secara tak langsung mendapatkan kesempatan kedua. Jangan bodoh lagi seperti dahulu kala. Atau kau akan benar-benar kehilangannya. Ketahuilah, aku orang yang super peka, Hyerim juga masih mencintaimu.”

Penuturan Byun Baekhyun itu dipeluk erat-erat oleh Luhan. Semalaman itu dia menemani Hyerim dari ruang kerjanya. Melihat gerak-gerik Sang Gadis dari: menguap berkali-kali, membeli kopi berulang kali dari mesin kopi satu sen, mencepol rambut kusutnya tinggi-tinggi, mengetik dengan mulut gerak-gerak dan wajah jengkel. Luhan tersenyum dibuatnya. Sampai fajar menyapa, Kim Hyerim yang kelelahan sudah terlelap dengan bantal tangannya dan mukanya menyamping maka Luhan bisa melihat paras tenangnya yang menjelajahi bunga tidur. Luhan sampirkan jasnya di bahu Hyerim agar Sang Gadis tidak kedinginan.

Senyum Luhan terbit saat Hyerim menggeliat namun tidak bangun. Kemudian tanpa ragu-ragu setelah menyibak beberapa helai rambut Hyerim yang berjuntai di wajah manisnya, Luhan memangkas spasi hingga ranumnya bertemu dengan plum manis Si Gadis.

Ciuman itu sederhana; tidak ada penggerakan, saling menempel dalam timing yang lama. Setelah beberapa waktu bergulir dan dirasa cukup—meskipun tak rela—Luhan menjauhkan diri dengan perlahan tanpa memutus pandang dari wajah tenang Hyerim.

Segera Luhan melangkah keluar sebelum Hyerim terusik dan memergokinya. Akan tetapi, saat punggung Luhan hendak menghilang di balik pintu, kurva Hyerim membuka, menyipit dengan kerutan kening dan retinanya menangkap punggung Luhan yang raib beberapa sekon kemudian.

Plumnya, Hyerim sentuh dengan wajah berkerut dan mata mengantuk. “Sepertinya aku mimpi dicium oleh brengsek itu.” desisnya lalu tidur kembali.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

It has to be you, it needs to be you
The one person in me, it was you, I missed you
Laughter that was always warm, that never ended
It came to us again
My love

Hari demi hari telah bergulir, menandakan sudah nyaris satu bulan Kim Hyerim berkerja dibawah perusahaan Luhan: Dawn Group Inter. Pun, naskahnya sudah mendekati titik akhir perombakan, namun Hyerim masih dilanda bingung akan akhir apa yang akan menjadi ending Qiang dan Yookyung diceritanya.

“Padahal aku suka ending yang kau buat sebelum revisi,” komentar Byun Baekhyun—yang sukarela melemparkan diri sebagai sutradara drama Hyerim—selagi dirinya terduduk di depan Sang Dara dengan lembar naskah drama dalam kukungan tangan dan tengah dia telaah. “Rasanya… menyentuh, sesak, ketika Qiang dengan Fangyu bersama anak mereka kembali ke Korea, berjalan-jalan di taman tempat Qiang dan Yookyung suka menghabiskan waktu kemudian tak sengaja berpas-pasan dengan Yookyung yang sedang bersama Jaesung dan keduanya telah menikah. Deskripsi yang kau tuliskan: ‘Keduanya berjalan pas-pasan tanpa disadari, karena sesungguhnya kubang takdir hanya menemukan mereka tanpa menyatukan keduanya. Atau Yookyung tetap mengumandangkan dalam diri itu pasti  dirimu, yang membuatku mengerti, cinta itu ada masa kadaluarsa dan ada sepih asam-manis didalamnya bahkan kau juga mengajarkan bahwa cinta tidak perlu bersatu.”

Baekhyun memaparkan komentar dengan geleng-geleng takjub, ditutup olehnya naskah Hyerim yang baru dan masih mengatung itu. Sedang Hyerim memamer senyum tipisnya, dirapikan lah naskah mentahnya itu dan diseludupkan ke dalam tas jinjingnya.

“Tapi sejujurnya, aku merasa memang harus ada perombakan,” imbuh Hyerim, tersenyum penuh arti. “Karena keduanya bukan berpas-pasan dengan sengaja saat bertemu lagi dan tidak berlakon tidak saling mengenal.” Hyerim mengembuskan napas, Baekhyun tentu peka bahwa Hyerim mencurahkan pertemuannya kembali dengan Luhan. Berikutnya, Kim Hyerim beranjak dan tungkainya hendak berayun pergi. “Sudahlah. Untuk sekarang aku perlu memfresh otak memikirkan akhir ceritaku.”

Dan Hyerim hengkang dari sana. Tungkainya menjelajahi pendestrian menuju halte, angin malam menusuk tubuh ringkihnya yang seketika menggigil dan lekas Hyerim merekatkan mantel yang membungkus tubuhnya.

TIN!

Terlonjak, Hyerim membelokan kepala ke samping dan retinya merangkum mobil yang diluar kepalanya ia kenali berserta dengan senyuman manis seorang pria di balik kaca jendela yang diturunkan.

“Butuh tumpangan?” tawar pria tersebut yang tak bukan dan tak lain adalah seorang Luhan.

Tanpa menimbang, Kim Hyerim menggerakan leher: menggeleng, ditarik ujung kurvanya melengkungkan senyum tipis.

“Tidak. Terima kasih, Presdir,” lisan Hyerim mengikrarkan kalimatnya dengan santun. “Saya lebih nyaman menggunakan bus.” tutur Hyerim, badannya membungkuk sopan dan cepat-cepat menggas maksimal langkah kakinya.

Tetapi, bukan Luhan namanya bila patah arang, dirinya terus menguntit Hyerim menggunakan mobilnya secara terang-terangan. Tentu saja perempuan ayu itu risih setengah mati, ingin berlari kencang namun energinya telah terkuras habis apalagi dengan merevisi naskahnya, Hyerim merelakan jam emas tidurnya beberapa hari ini. Tahu Luhan akan terus memaksanya dengan cara halus dan tak langsung, kaki Hyerim berhenti, napasnya berhembus, tubuhnya berbanting stir menghadap mobil Luhan yang sudah berhenti secara manis di depannya plus senyum manis bin lebarnya Luhan juga menyambut retina Hyerim.

“Baiklah,” cetus Hyerim, agak jengkel. “Aku terima tawaranmu—tawaran Anda barusan.”

Cerah muka, pun senyuman Luhan bisa-bisa menerangi jalanan nan gulita di jam segini sebab akan persetujuan Hyerim akan tawarannya.

Menggerakan kepala berartikan kode menyuruh masuk, Luhan bersajak juga: “Masuklah dan tidak usah memanggilku secara formal begitu bila di luar jam kerja,” terselip dengusan menahan tawanya. “kau, ‘kan lebih suka memanggilku Si Brengsek dari Beijing.”

Kelabakan menimpa Hyerim. O, tentu Luhan tahu panggilan itu lantaran Yookyung juga menyebut Qiang begitu di depan Youra—adik Yookyung di naskah yang Hyerim tulis. Tersenyum canggung, digaruk lah tengkuknya sebelum memasuki mobil Luhan dengan berbelit kecanggungan.

Ban mobil mulai bergesekan halus dengan aspal jalanan, menghantarkan keheningan dalam perjalanan dua pasang insan itu. Atmosfer canggung tersebut sungguh menyiksa Hyerim, pun Luhan maka lidah Luhan pun bergerak guna mencairkannya.

“Bagaimana kabarmu?”

Basa-basi yang cukup tidak guna, omong-omong. Tetapi bila ditelaah kembali, pria marga Lu itu menanyakan keadaan Hyerim setelah keduanya berpisah. Beruntungnya, Kim Hyerim paham akan pertanyaan ambigu tersebut.

Senyuman tipis hadir di wajah Hyerim, tanpa menatap, Hyerim melontar: “Baik,” kemudian mendengus miris. “tapi kau tahu aku tidak baik-baik saja dari naskah dramaku itu, bukan?” deliknya. Melupakan posisi apalagi Luhan mengatakan untuk tidak bersikap formal jika di luar jam kerja, Hyerim semerdeka mungkin menunjukkan warna aslinya pada Luhan.

Terfokus pada jalanan yang lenggang, Luhan tersenyum tipis tanpa menyerong pandangan kepada Hyerim yang sekon kini membuang muka ke arah jendela.

“Baguslah.” timpal Luhan yang membuat Hyerim mendesah tak habis pikir.

Bagus kata Si Brengsek ini? Kim Hyerim tersiksa dan seperti kehilangan warna hidupnya setelah keduanya mengikrarkan diri untuk terputus. Keparat sekali memang manusia bernamakan Luhan ini. Merendam umpatan yang ingin dilolongkan dalam hati, Hyerim pun menoreh tatapan pada profil samping Luhan, ada tanya yang ingin ia utarkan dan sudah mengusik di dalam runggunya sejak awal bertemu dengan pria di sampingnya ini.

Terbinar kepenasaran dari iris serta wajahnya, “Apa hubunganmu dengan Guan Meixi berjalan lancar setelahnya?” menyertai Hyerim akan pertanyaan tersebut yang ia sajakan dalam pita suara hati-hati. Sekeparat-keparatnya Luhan, Hyerim masih ingin menjaga perasaan jaka sialan itu.

Dan sesuai prediksinya, kelemahan dalam lengkungan kurvanya tersirat dengan kelereng manik yang berpancar sayu. Ketidakenakan jadi membelengungi Hyerim akan tanya yang main ia lemparkan dalam konversasi ringan keduanya.

Gelengan Luhan menjawab, sebenarnya lebih dari cukup menjawab rasa penasaran Kim Hyerim, tetapi jaka tampan itu menambahkan penjalasan dengan hati terkoyak-koyak. “Tidak sama sekali,” hembusan napasnya sangat berat dengan kuku-kuku nan memutih mencekram erat kemudi.

“Disaat kau bosan akan sesuatu yang kau sukai, kau pasti mencari hal baru tetapi akan kembali kepada hal yang kau sukai, bukan?” vokal Luhan, lemah dengan ringisan miris. “Dan itulah yang kurasakan kepada Meixi, dia hanya pengalihan rasa bosanku karena cintaku sesungguhnya hanya untuk…” kalimat Luhan mengambang, pipinya merah padam sementara Hyerim malahan tuli dengan hanya mendengar degup jantungnya saja.

Terserong tatapan Luhan padanya dengan kepala jaka itu menoleh ke arahnya bersama dengan sematan senyuman manis nan menyebabkan kupu-kupu dalam runggu Hyerim mabuk tak kepayang, obsidian jernih pemuda itu turut berselam jauh ke iris bening Hyerim, berusaha membina keseriusan dan kejujuran yang akan ia ayat katakan.

“… hanya untuk seorang Kim Hyerim, seseorang yang kurindukan presensinya setelah menjalani hari dengan Meixi.” lanjut Luhan, menghangatkan tubuh Hyerim yang terjatuh kembali ke dasar lubang yang Luhan ciptakan dalam elegi-elegi cinta yang keduanya tapaki.

Dan ditiming itu, kehokian sepertinya memihak Hyerim—atau mungkin Luhan?—ketika rem diinjak dan mutlak memberi sinyal keduanya sudah sampai di kediaman Hyerim, membuat keduanya tak perlu berayun-ayun lama dalam suasana canggung dan terbuai akan cinta lama yang sepertinya akan besemi namun ditolak oleh satu pihak, yakni: Kim Hyerim.

Saking tercenggungnya, Hyerim sampai tak sadar mobil yang menumpanginya sudah berlabuh di depan rumah sewanya. Fokusnya tersita penuh pada Luhan yang tersenyum menatapnya dan berfrasa:

“Turunlah. Kita sudah sampai.”

Dwimanik Hyerim mengerjap dungu, bingung akan sekitarnya layak bocah hilang. Lakon dara di sebelahnya nan mematung membuat Luhan tersenyum gemas kemudian melepas sabuk pengaman dan mencondongkan badan ke depan Hyerim. Napas Si Marga Kim ini tertahan saat Luhan berada di depannya, melepaskan safety beltnya lalu menatapnya dengan senyum simpul.

“Aku bilang turun, Kim Jagga.” bisik Luhan di depan parasnya, terbit senyum gemasnya difinal kata.

Roh Hyerim baru kembali ke Bumi, dirinya membuka mulut dengan pipi merona, vokal kelabakannya pun mengudara. “A… iya, terima kasih atas tumpang—“

Plum Hyerim terkunci paksa oleh bibir Luhan ketika pria itu memangkas habis spasi antara keduanya. Cengkeng mata Hyerim melebar, tak menimpali ciuman sepihak Luhan yang memejamkan netra. Ugh, sialan, Hyerim rasanya sinting karena terbuai dan akhirnya membalas ciuman itu dengan sama-sama memejamkan obsidiannya. Lumatan manis dengan decakan hadir ditengah ciuman keduanya dengan Luhan yang memiringkan kepalanya serta-merta mengangkat dagu Hyerim, memperdalam ciuman yang keduanya lakukan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Aaaa! Aku ingin gila rasanya! Ingin gila rasanya! Akh!” rutukan Hyerim tersuarakan sopran di perjalan menuju Dawn Group Inter esok harinya, surainya turut ia acak-acak tanpa mengubris sorotan aneh dari orang-orang di sekitar.

Plum bagian bawahnya diberikan gigitan keras oleh Hyerim. Masih bersarang kuat diingatannya akan manisnya bibir Luhan semalam—yang sudah lama tidak dia cicip selama lima tahun kebelakang—dan ugh, sialan, Hyerim sudah merindukan sentuhan bibir pria bajingan sialan itu yang main menodai bibirnya dan keparatnya, Hyerim membalas ciuman itu tanpa alkohol yang menguasainya atau dalam artiannya, Hyerim 100% dalam keadaan sadar saat melakukannya.

Tangan Hyerim sibuk bergerayang di surainya, frustasi akan dua hal: ending naskahnya dan insiden semalam yang membuat Hyerim lari terbirit-birit layak kucing liar yang hendak ditimpuki massa karena mencuri daging ke dalam rumahnya, tak luput jua wajah kepiting rebusnya.

Saat mengitari sisi dalam Dawn Inter Group, Hyerim dipertemukan oleh Byun Baekhyun yang berlakon resah dengan smartphone menempel di telinganya. Kernyitan Hyerim terlukis, perlahan menggeret tungkai mendekati adik tingkatnya itu.

Hyung, jangan konyol!” pekik Baekhyun. Hyerim terlonjak dibuatnya dengan menepuk-nepuk dadanya. Melihat eksitensi Hyerim yang baru muncul, Baekhyun kelabak dan lekas-lekas memutuskan sambungan kemudian menyapa Hyerim canggung. “O, Hyerim, halo!”

Alis Hyerim naik sebelah, bergerayang dalam rasa penasaran dengan kurva menyipit. “Kau membicarakan aku dengan Luhan, ya tadi?” tembak Hyerim, tepat sasaran dengan Baekhyun yang berlakon kelabakan sebagai jawaban. Hyerim melipat tangan dengan wajah bengis, vokalnya mengikrarkan frasa penuh intimidasi. “Apa? Kalian membicarakan apa tentangku tadi?”

Setelah menggigit keras bawah bibirnya, Byun satu ini membuang napas lalu menatap Hyerim dengan was-was. “Ini masalah naskahmu,” cecarnya, Hyerim pun mengernyit penuh tanya. Ada apa dengan naskahnya yang masih mencari ending itu? “Luhan hyung sudah menuliskan endingnya bahkan menyerahkannya ke stasiun TV dan sudah diterima untuk tayang oleh SBS. Kita juga hendak mencasting pemain—“

Bukan dihampiri kebahagiaan, Hyerim membelalak horror. “—APA?!” serobotnya dengan teriakan lengking, cukup membuat atensi orang-orang yang berlalu-lalang menatap keduanya. “Luhan sudah menuliskan endingnya? Oleh dirinya sendiri?” Baekhyun mengangguk ragu. Hyerim mendesah keras tak habis pikir dengan kepala menyisir ke sana-ke mari frustasi sebelum menusuk Baekhyun dengan iris tajam. “Memangnya dia penulisnya, hah?! Walaupun ini berita membahagiakan karena ada stasiun TV bahkan sekelas SBS yang bukan TV kabel untuk menayangkan dramaku, dan tinggal melakukan casting pemain, aku tetap tidak terima! 100% itu bukan naskahku! Aku tidak mau!” senggak Hyerim, naik pitam.

“Tapinya, Luhan hyung bilang—“

Kim Hyerim kepalang marah, dirinya abaikan pembelaan Baekhyun atas nama pemuda sialan bernama Luhan itu, Hyerim sudah menggas langkah menuju lift lalu menekan tombolnya secara kasar serta menanti dalam kubung kemurkaan yang membelengu kuat dalam runggu dan ingin ditumpahkan lekas-lekas. Angka demi angka yang silih berganti dipandangi tajam oleh iris Hyerim saat sudah berada di dalam lift.

Lantai tiga belas, dirinya sampai di ruangan Luhan. Tungkainya berayun cepat-cepat bin lebar-lebar, menandakan amarahnya. Tanpa menyungging senyum ramah dengan sapaan nan serupa pada seketaris Luhan yang ada di situ, Hyerim main melongos masuk ke dalam ruangan pria keparat itu serta mendapati adegan pria itu sedang terpekur di singgasananya dengan secangkir kopi menemani acara menandatangani berkas-berkas di atas mejanya.

Sinyal Hyerim yang datang diketahui Luhan, pria itu mengangkat wajah, tersenyum kalem walau Hyerim menguarkan aura amarahnya yang sudah ia ketahui sebabnya.

“Akhirnya kau datang juga.” sambut Luhan yang memang sudah menanti perempuan garis Kim yang melangkah mendekat hingga berpijak tepat di depan mejanya. “Bagaimana? Kau senang bukan dramamu akan segera tayang nantinya? Tinggal melalui beberapa proses lagi—“

“—Senang pantat kuda!” sanggah Hyerim, memangku tangan depan dada. Masa bodoh dengan posisi dan di mana keduanya kini, Hyerim mempertaruhkan pekerjaannya dengan berlaku seenak udel di depan atasan brengseknya ini. “Kau main menuliskan akhir kisah Qiang dan Yookyung didramaku itu! Ini drama perdanaku, aku tidak sudi ada orang lain yang main turut campur dalam tulisanku!” semprot Hyerim, berkilat-kilat api dalam obsidian hitam sayunya. “Kau ingin lekas mengeruk uang dari dramaku, huh? Aku paham pemikiran pembisnis macam dirimu, apalagi dengan tipe brengsek sepertimu. Tapi tidak dengan seperti ini!” jerit Hyerim membuat Luhan mengembuskan napas dengan memejamkan mata.

Diberikan pijitan di pelipisnya oleh Luhan, maniknya terekspos lagi menatap Hyerim dalam, meminta pengertian. “Bukan itu maksudku, Hyerim,” pungkasnya, lembut. “Bukan maksudku untuk lekas-lekas mendapat keuntungan dari hasil kerjamu, bukan itu sayang—ah maksudku, Kim Hyerim, Kim Jagga,” Hyerim memberikan tatapan sinis akan lisan Luhan yang keceplosan. “Aku tahu kau kebingungan setengah mati akan akhir cerita ini. Maka aku membuatkannya, menyodorkannya agar kau tidak kelinglungan bahkan sampai menciptakan kantung mata. Karena aku yakin kau akan menuliskan akhir yang begitu. Aku sudah mengirim ke surelmu naskah doc dramamu yang aku tambahkan endingnya, kau bisa membukanya.”

Surelnya memang belum dibuka-buka, oleh sebab itu Kim Hyerim lekas-lekas menarik ponsel dari saku mantelnya dan menggeledah isinya menuju surel. Beberapa sekon kemudian, gadis itu terlarut menelaah bagian ending yang Luhan ‘sodorkan’ padanya. Dan tiap aksara yang dibacanya, kian membuat mata Hyerim melebar dan nyaris seakan ingin lepas dari penempatannya.

Luhan sialan ini menuliskan akhir yang menurut Hyerim ngaur dan tidak akan terlintas diimajinasinya. Qiang dan Yookyung kembali bertemu karena Yookyung terpaksa berkerja di perusahaan Qiang. Yookyung mulai menuliskan sebuah drama dan akhirnya sering berjumpa dengan Qiang yang ingin menarik perhatiannya lagi dan mulai merasakan cinta kembali hingga finalnya keduanya berciuman di dalam mobil. Esoknya, Qiang melakukan lamaran pada Yookyung dan gadis itu mempertimbangkannya selama satu minggu sebelum menerimanya.

Apa-apaan? Kenapa harus ada adegan berciuman dalam mobil lalu melamar dikeesokan harinya? Hyerim mengangkat pandangan tajamnya pada Luhan yang membuat jantungnya terlonjak sebab pria itu memegang kotak cincin yang dibuka, membuat kilauan cahaya cincin berlian di dalamnya menusuk iris Hyerim nan menganga.

“Wah!” takjub Hyerim, bergeleng-geleng pelan. Dirinya mendengus keras, mewakilkan bentuk amarahnya yang hendak disemprotkan. Ponselnya dikantongi olehnya secara kasar setelah membaca naskah menjijikan tadi. “Jadi kau berniat melamar dengan cara begini?” seloroh Hyerim dan Luhan hanya tersenyum menimpalinya, cukup untuk pengganti kata iya. “Sinting!” maki Hyerim, meniupkan napas kesal. “Kau kira aku ingin menerimamu, hah? Pikir dua kali brengsek, jika ingin melakukan sesuatu! Dasar tebal muka!” Hyerim menghardik dengan sorot mata setajam silet.

Meski begitu, Luhan berlakon tenang, dia taruh kotak cincinnya di atas meja lalu menyungging senyum manis. “Tapi kita berciuman,” kelakarnya membuat Hyerim membatu namun cepat-cepat mempersikukuhkan sikap angkuhnya. “Itu sudah lebih dari cukup membuatku tebal muka melamarmu hari ini dan menyodorkan akhir dari kisah Qiang dan Yookyung atau lebih tepatnya… kisah kita berdua.” Luhan beraksara dengan penuh keyakinan dan sungguh itu membuat Hyerim muak.

Cincin mahal berkilauan itu ditatap oleh Hyerim. Kaki jenjangnya tergeret mendekati meja Luhan, lengannya terjulur mengambil kotak itu. Senyuman bahagia serta haru hendak Luhan ukir namun tidak pernah terealisasi oleh aksi Hyerim yang—

PRANG!

—melempar kotak tersebut ke lantai, membuat si cincin berlian yang dua hari lalu dia rancang khusus, termuntahkan dari dalam kotak, bergelinding miris di atas marmer ruang kerjanya. Cengkeng manik Luhan nan melebar, mulai mengedip lalu menyerong diri ke arah Hyerim yang diafragmanya kembang-kempis dengan amarah yang tersulut habis-habisan.

Hyerim tersenyum sinis. “Kau kira aku mau menerimamu kembali?” ayat katanya tak enyahnya seperti senyumannya: sinis dengan menguarkan ketajaman mendalam yang menoreh luka dalam hati Luhan yang membatu seketika. “Ciuman semalam bukan berarti apa-apa, Tuan Lu,” tegas Hyerim, dagunya terangkat dengan tangan berlipat di depan dada. “Kita memang berciuman tapi bukan berarti aku masih mencintaimu. Aku memang mencurahkan isi hatiku tentangmu dalam drama It Has To Be You. Tapi bukan berarti aku masih mencintaimu sekarang. An ex is an example of a failed love. An example always be an example and we must try a something new. Apa kau tahu itu? Aku akan merombak akhir drama ini, tetap happy ending karena itu persyaratanmu denganku tetapi tidak berdasarkan oleh kisah nyata kita. Kau ingin aku kembali padamu? Dream on, Luhan.”

Dengan penurutan yang membuat Luhan seakan sekarat bertumbuk luka yang makin mendalam di hati, Kim Hyerim menapakan kaki ke jalan ke luar dari ruangan Luhan dengan kepalan tangan serta amarah membuncah. Sepeninggalan gadisnya itu, Luhan menatap miris cincin berlian yang berliannya sedikit rusak karena lemparan tadi. Ia pacukan langkah ke arah cincin itu terongok dan mengambilnya, menatapnya miris dengan menyematkannya di kelingkingnya—yang merupakan ukuran jari manis Kim Hyerim.

“Benar. Aku hanya contoh cinta yang gagal dalam hidupmu, Kim Hyerim. Tidak ada gunanya aku kembali dan sudah seharusnya aku pergi lagi, bukan begitu?”

It’s only one love
I look at you but I miss you

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Lima hari berjalan, Hyerim layaknya beruang dalam kurungan. Dirinya megisolasikan diri dari dunia luar, bermodal alasan menyelesaikan naskahnya dan hanya: makan, mandi, tidur, tenggelam dalam bait-bait aksara elegi dalam dunia imajinasinya. Namun, berkali-kali paragraf yang ia ciptakan dalam dunianya dihapus, akhir kisah Wu Qiang dan Han Yookyung belum mencapai kata mufakat dalam dirinya. Dan omong-omong, semenjak insiden di kantornya, Hyerim tidak bersitatap sama sekali dengan Luhan bahkan berhubungan.

“Apa tidak rindu pada seseorang jika mengurung diri di kamar terus begini?” vokal sopran Kim Taemi menyapa Hyerim ketika gadis itu ke dapur untuk meneguk air mineral dengan rambut tercepol acak-acakan dan kantung mata yang berbobot banyak itu.

“Rindu siapa, sih? Byun Baekhyun? Malah aku bosan dengan Line darinya yang menanyakan kelanjutan naskahku karena mereka ingin segera mencasting pemain.” sungut Hyerim setelah meletakan gelas kosongnya ke mesin cuci dan mulai kegiatan mencucinya.

Taemi menatap punggung kakaknya, camilannya dia lempar ke dalam mulut.

“Bukan Baekhyun,” sanggah Taemi, melipat kedua kaki di atas sofa yang dia duduki. Dia sarangkan tatapan menggoda pada kakaknya yang menatapnya bingung seusai mencuci piring dan sibuk mengelap tangannya yang basah.  “Tapi CEO-mu, mantanmu tersayang, Luhan. Aku mengintip saat malam itu dari jendela, omong-omong. Saat kalian berciuman di mobil.”

“Uhuk!” tersedak air liurnya, Kim Hyerim terbatuk. Dipukul-pukul keras diafragmanya. Sedang Taemi makin menyungging senyum menggoda.

“Sudahlah Kak Hyerim, tidak usah gengsi. Aku tahu kalian saling cinta dengan tulus, cinta sejati. Jangan lupakan yang telah terjadi tapi jangan terlarut akan apa yang sudah terjadi. Rujuklah dengan Luhan. Aku pun sudah fine-fine saja dengan Yifan.”

DING! DONG! DING! DONG!

“Woah, sepertinya yang datang itu titisan Dewi Fortuna buatmu ya, Kak,” ujar Taemi ketika tiba-tiba bell rumah berbunyi, dan secara paksa menghentikan konversasi yang ingin Hyerim hindari. “Karena itu Dewi Fortunamu, kau yang bukakan sana.” titah Taemi, tubuhnya kepalang lengket dengan sofa dan pandangannya sudah terfokus lagi ke televisi.

Biasanya kesal setengah mati diperintah oleh adiknya, kali ini Hyerim turuti saja dibanding Taemi menundingnya dengan membawa-bawa Luhan dalam bahan perbincangan. Hyerim mengerutkan dahi saat di intercorm mempampangkan seorang gadis jelita berambut pendek bermodel segi. Spies betina itu mungkin asing bagi Hyerim dan pasti akan ditolak olehnya, tetapi spies jantan yang menemaninya dikenali oleh Hyerim. Byun Baekhyun lah alasan Hyerim membukakan pintu pada tamunya yang disebut Dewi Fortunanya oleh Taemi.

“Baekhyun?” ujar Hyerim, kebingungan setelah pembatas antara ketiganya telah dia bukakan. Baekhyun terlihat tersenyum canggung sebagaimana halnya ketika naskah Hyerim main ditulis oleh Luhan akhirnya. Lalu Hyerim beralih ke gadis rambut segi dengan tatapan menyelidik. “Dia siapa, ya?”

Membuang peduli akan tatapan Hyerim padanya, gadis ini melepas kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. Dilihat dari penampilan serta tas gendong besarnya, gadis ini pasti baru datang menggunakan pesawat—bisa jadi dari luar negri atau kota dan berniat singgah di Seoul agak lama.

Lengan dara ini terjulur, berniat kenalan tetapi wajahnya masam. “Coulee Nazha. Panggil saja Nazha.” aksen mandarinnya yang kental dengan bahasa Koreanya yang kikuk, memberi clue bahwa gadis di depannya ini berasal dari China.

Hyerim terima jabatannya dengan senyum masam: bertimbal balik serupa dengan gadis yang bernama Nazha ini. “Kim Hyerim. Aku juga punya nama beken seperti namamu, yaitu Adeline Kim yang merupakan nama penaku.”

Perkenalan itu singkat dengan terputusnya jabat tangan keduanya setelahnya. Hyerim hendak berlisan, tetapi Nazha senantiasa menyerobot dengan menatapnya dalam.

“Apa kau tahu Luhan akan kembali ke Beijing hari ini?” sembur Nazha, auranya menguarkan ketajaman yang membuat Hyerim mengedik.

Hyerim menoleh kepada Baekhyun, berkerut meminta penjelasan dan pemuda Byun itu dengan baik hati mengangguk. “Ya, Luhan akan pergi ke Beijing hari ini. Nazha datang setelah mendengarnya karena Luhan kembali ke Seoul untuk—“

“—Untuk bertemu dan kembali padamu, Kim Hyerim,” potong Nazha, lurus-lurus menatap Hyerim tepat di obsidiannya. “Apa kau tahu betapa sintingnya sahabatku itu ketika merindu padamu?” kelakarnya naik satu oktaf membuat Hyerim menjadi dungu dengan mengerjap-ngerjap kelinglungan. “Dia ingin menampik, tetapi tidak bisa. Dia saat itu sudah menjadi calon ayah, kau tahu? Tetapi Meixi keguguran. Tahu karena apa? Dia keguguran karena stress! Frustasi! Sebab Luhan setiap hari seperti sakau karena kehilanganmu!” Nazha menggebu-gebu selagi mengisahkan kisah Luhan setelah perpisahannya dengan Kim Hyerim dan gadis Kim itu jadi membatu tanpa mampu berkedip.

Nazha membuang napas, lalu melanjutkan dengan tatapan memohon.

“Dia menyesal. Anaknya pergi karenanya. Gadis yang dia cintai main ia lepaskan. Meixi yang dia kira cinta sejatinya, dia hancurkan tanpa rasa cinta yang ada untuk gadis malang itu membuat Luhan harus menerima caci maki dari keluarga Guan dan bahkan dipermalukan dengan ahhh… kau ingat saat kau dan Luhan putus dan kau menumpahkan semangkuk ramen panas di kepalanya? Déjà vu, Ibu Meixi menyiramnya dengan air ketika dirinya mengatakan ingin membatalkan pernikahan dengan Meixi,” rasa bersalah menyelimuti Hyerim, dirinya menggigit bibir sementara sahabat Luhan di depannya ini berkesinambung berbicara, “kau tahu? Ayah dan ibunya bahkan menendang Luhan dari rumah, tetapi masih berbaik hati untuk membiarkan pria itu mengurus beberapa cabang perusahaan ayahnya. Dan setelah itu, Luhan memutuskan mengambil alih cabang di Seoul, meninggalkan Beijing dan orang tuanya yang masih keki bertemu dengannya. Untuk apa? Mencarimu, Kim Hyerim! Karena dirimu lah tujuan hidupnya sekarang! Dan… okey, aku paham apa yang kau rasa, tapi kumohon! Aku datang-datang jauh ke sini hanya untuk memohon, terimalah Luhan kembali.” Nazha mencecar panjang lebar, tangannya menangkup dengan wajah memohon.

Di sebelah gadis China-Turki itu, Byun Baekhyun turut berlutut dengan mimik memohon yang mana membuat Hyerim melongo.

“Hyerim sunbae,” untuk pertama kalinya, Baekhyun memanggilnya begitu lagi persis seperti saat-saat keduanya kuliah. “kumohon. Luhan hyung saja hanya makan tiga kali selama lima hari setelah ditolak olehmu. Kumohon, kembalilah padanya. Dirinya meracau tak jelas saat jatuh demam kemarin ketika aku merawatnya. Dia mengigaukan namamu, hanya dirimu yang menjadi tujuan akhirnya sekarang setelah perbuatan bodoh dan brengseknya dimasa lalu yang mengacaukan masa depannya.”

Hyerim bergeming cukup lama, dia meneguk ludah kemudian menggeleng.

“Lalu?” cecar gadis Kim ini, akhirnya berbicara. “Itu kesalahannya dengan tidur bersama cinta pertamanya, bermain api di belakangku yang dulu kekasihnya lalu langsung memutuskanku setelahnya karena dia mengatakan mencintai Meixi dan bosan denganku. Kemudian setelah berbohong padaku,” Hyerim ingat saat Luhan menegaskan Meixi tidak hamil ketika membahas perombakan naskah. “bahwa hasil tidur mereka tidak berbuah apa-apa padahal nyatanya ya tetapi keguguran akibat frustasi dengan kesehatan yang menurun. Dia pantas diperlakukan begitu oleh orang tuanya dan orang tua Meixi. Lalu, apa hubungannya denganku? Kalian tahu karma? Nah, itulah yang menimpa Luhan dan juga Meixi. Aku hanya penengah dari alasan karma itu, bukan berarti aku harus bertanggung jawab atas karma yang menimpa keduanya, terkhususnya Luhan.” adalah penegasan dari Hyerim dengan wajah tanpa ekspresi dan akhirnya raib di balik pintu rumahnya meninggalkan Baekhyun dan Nazha yang saling pandang dengan sayu.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

It was love, that was all
It’s still the same
I always waited because I couldn’t give you more
Even if we get a little far apart
We have no choice but to touch

Bolehkah Luhan berasa? Ia berasa Kim Hyerim akan mengejarnya ke bandara meski yang menantinya di bandara adalah Nazha dan Baekhyun. Luhan kini berada di halte bus, dia berniat menggunakan bus untuk menuju bandara dan kepalanya kini mengadah ke langit dengan sendu berserta senyum tipis menemani.

“Itu pasti dirimu, ya?” ujar Luhan, meremas dadanya yang nyeri. “Itu pasti dirimu, ‘kan, Kim Hyerim? Yang membuat hatiku nyeri saat ini.”

Sedang Luhan bergelut dalam kabut melankolis, Kim Hyerim yang berada di rumahnya sendiri karena adiknya harus bertemu Yifan yang baru sampai ke Seoul, berada di bawah gemelut risaunya. Dara satu itu bergeming dengan pikiran bercabang.

Satu demi satu kilasan balik saat dirinya bersama Luhan terus berputar di labirin otaknya, sudah seperti film yang sengaja diputar ulang terus-terusan. Awal keduanya bertemu, awal keduanya ‘kencan’ atau bisa dikata pergi bersama, awal keduanya mulai menjalin kasih ketika Luhan mengungkapkan perasaannya kemudian menciumnya di bawah rindangnya pohon sakura di musim semi, serta kenangan-kenangan manis yang sangat disayangkan untuk dihapus. Kenangan yang luluh-lantah hanya karena pengakuan Luhan yang bermufakat pada kata putus.

Namun, pemuda itu menuntut kesempatan kedua lima hari yang lalu, berusaha memperbaiki kesalahan terbrengseknya lima tahun silam. Tetapi Hyerim menampik, kepercayaannya tertelan di dasar Bumi terdalam, walau sejujurnya dia mengakui: cintanya pada Luhan masih tetap sama, tak berubah seiring berjalannya waktu.

Hyerim mengedip, ekspresinya seperti baru mengetahui hal baru dan telinganya berdengung-dengung seakan mendengar vokal sopran Taemi tempo itu yang mengatakan: “Sudahlah Kak Hyerim, tidak usah gengsi. Aku tahu kalian saling cinta dengan tulus, cinta sejati. Jangan lupakan yang telah terjadi tapi jangan terlarut akan apa yang sudah terjadi. Rujuklah dengan Luhan….”

Air liurnya diteguk Hyerim, rasanya gengsi itu baru dia buang, hatinya baru mengaku kembali dia masih mencintai Luhan. Masih, sangat, tidak ada yang berubah.

“Apa kau tahu betapa sintingnya sahabatku itu ketika merindu padamu?”

“Dia mengigaukan namamu, hanya dirimu yang menjadi tujuan akhirnya sekarang setelah perbuatan bodoh dan brengseknya dimasa lalu yang mengacaukan masa depannya.”

Imbauan-imbauan itu berdengung-dengung dalam otaknya, membuat Hyerim yang sejak siang tadi tepekur dalam rasa gundah bin bimbangnya pun meneteskan air mata dengan rasa sesak membelengungi. Diatas rasa gengsinya dan kejengkelannya pada Luhan, dia masih mencintai pria itu dan Hyerim merasa tolol sudah menampik kesempatan kedua yang ingin Luhan lakukan.

“Apa kau tahu Luhan akan kembali ke Beijing hari ini?”

Kata-kata Nazha siang tadi yang menyusup ke otak Hyerim, membuat dia melihat jam dinding yang ada di kamarnya. Dengan dada membuncah, lekas-lekas Hyerim beranjak dan mengambil jaketnya.

“Luhan…” gumamnya, menyeka likuid yang menetes. “bodoh,” Hyerim mengumpat selagi mengambil kunci mobil yang masih ia cicil setelah mendapat pekerjaan lagi. “Kenapa kau sama bodohnya dengan Luhan, Kim Hyerim? Kalian bodoh karena tidak paham dengan perasaan masing-masing bahkan pada perasaan cinta yang menimpa kalian, kalian bodoh tidak tahu perasaan cinta itu diberikan kepada siapa. Terlambat sadar, kalian jadi menyesal.” rutuk Hyerim, kian merembes air matanya dengan tungkai bergerak keluar rumahnya dan cepat-cepat menuju mobilnya.

“Hiks..” Hyerim meloloskan isakan ketika berada di dalam mobil, menyalakan mesinnya lalu dirinya sempat-sempatnya meraih ponsel dan menghubungi Luhan, memastikan pria itu sudah berangkat atau belum. “Kumohon angkat.” ucap Hyerim penuh harap dengan menggigiti ujung jempolnya, sementara itu linang air matanya makin menjadi.

Dan… panggilan itu tidak terangkat membuat Hyerim patah semangat dan mulai menangis keras. Ingin melajukan mobil namun rasanya tak sanggup apalagi dengan mata mengabur oleh air matanya yang terus-terusan jatuh.

“Maaf,” Hyerim menjedotkan kepala ke kemudinya, menyelunsupkan wajah di situ dengan tangisannya nan menjadi. “aku bodoh, aku terlambat menyadarinya. Aku juga ingin kembali padamu, Lu. Kumohon jangan pergi—“

—TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan di jendela mobilnya, mengintrupsi kegiatan menangis Hyerim yang langsung angkat wajah dan menoleh. Mulutnya menganga, tak percaya akan apa yang retinanya rangkum dan segera dirinya membuka kaca mobilnya.

“Luhan,” ceplos Kim Hyerim, merasa berada didalam khayalannya. Air matanya merembes ketika Luhan yang tadi mengetuk jendelanya tersenyum, membuat Hyerim terpana. “Apa ini sungguh diri—“

Perkataan Hyerim teputus saat Luhan meloloskan kepala ke dalam mobil dan membungkam ranum gadisnya dengan miliknya sembari memejamkan mata. Sentuhan itu menyadarkan Hyerim bahwa sosok Luhan di depannya ini bukan khayalannya saja dan mulai memejamkan mata serta membalas ciuman tersebut.

Dan setelah adegan ciuman di mobil tersebut dengan Luhan yang melongokan kepala dari luar, keduanya pun berlabuh di rumah Luhan. Dan seakan dimabuk asmara tingkat atas, bibir keduanya kembali berpangutan dengan Hyerim melingkarkan kedua tangannya di leher Luhan dan pemuda itu melingkarkan tangan di pinggangnya. Ciuman penuh lumatan dengan kepala saling memiringkan ke arah berlainan itu terputus, keduanya saling melempar senyum dengan wajah bahagia sebelum akhirnya berpangutan kembali serta melebur di atas ranjang dengan Hyerim yang berada diposisi bawah tanpa melepaskan ciuman manis itu serta saling melumat satu sama lain.

Secara seduktif pula, Hyerim mengusak surai Luhan ditengah ciuman tersebut sebelum akhirnya sekon demi sekon, pakaian keduanya sudah ditanggalkan serta berserakan di lantai, keduanya kini bersembunyi di balik selimut setelah melakukan hal indah yang akan keduanya kenang di atas ranjang ini.

Hyerim memposisikan tubuh dengan nyaman di dada bidang Luhan yang terekspos kemudian tersenyum tipis sedangkan pria itu mengelus lembut surainya.

“Aku masih mengira ini mimpi. Aku tidak percaya kau datang.” Hyerim berucap, mengadahkan kepala menatap Luhan yang setia mengelus surainya dengan senyum lembut.

“Karena kau tujuan hidupku satu-satunya. Aku tidak mau kehilanganmu maka aku kembali padamu lagi walaupun harus ditolak lagi olehmu.”

Mendengarnya, Hyerim tersenyum lalu memeluk pinggang Luhan dan menyembunyikan wajah di dada bidang prianya. “Aku sudah tahu akhir naskah dramaku akan seperti apa. Aku tidak peduli lagi dengan masa lalu kita. Biarlah itu jadi masa lalu. Karena itu pasti dirimu, satu-satunya cinta yang ada di hatiku.”

Luhan tersenyum lalu saling silih pandang lagi dengan Hyerim. Kebahagiaan terpancar dari keduanya.

“Dan itu pasti juga dirimu, ‘kan?” Hyerim mengernyit lantas Luhan melanjutkan. “Yang membuat hatiku meledak dan mengajarkanku apa arti cinta serta penyesalan didalamnya. Pastilah itu dirimu.”

Setelah kembali mengikrarkan diri untuk kembali bersama, keduanya bersatu kembali di atas ranjang malam itu. Dimulai dari ciuman lembut penuh lumatan, merembes ke leher jenjang dan setiap inci tubuh milik Kim Hyerim hingga Luhan yang membenamkan diri di dalam wanitanya, membuat keduanya mengenang selamanya malam itu.

Rather than saying I love you
I will tell you something better
Not too hot, not too cold
I’ll always be by your side
I’ll warmly hold you so you won’t be in pain
I’ll give you back all the past days
In the same place
My love

—FIN.


Helloo! Akhirnya saya comeback gaes hahahaha. Bersama HyerLu, tentunya. Sebetulnya mau dibilang comeback juga bukan karena FF ini udah ngedekem dari Januari tapi males aku revisi hwhwhwhwhw. Lalu lihat beberapa fanfic ada yang butuh revisi dan giliran publish, rasanya ingin nangis.

Ya udah lah ya, sampai jumpa lain waktu :’)

.elsa

[ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

3 tanggapan untuk “[Oneshot] It Has to be You — HyeKim”

  1. Penyesalan datangnya selalu belakangan,untungnya luhan masih dikasih kesempatan ke2.jadinya bisa happy ending..deh. lanjut thor cerita tentang hyerlu lagi.

    1. Nah itu penyesalan mah dateng belakangan, makanya jan sok-sokan. Untung hyerim iblis2 malaikat /g, jadi masih dikasih kesempatan buahahahaha. Hyerlu tetep dihati kok :’)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s