[EXOFFI FREELANCE] Remember (Chapter 3)

Title : Remember

Author : Jasmine_xxbbb

Genre : Romance, hurt, drama

Rating : PG – 15

Length : Chapter

Cast : Park Chanyeol (EXO), Kim Anna (OC), Yeri (Red Velvet), Kim Jong In (EXO), Lucas (NCT), Jungwoo (NCT), Baekhyun (EXO)

Summary

Kenangan itu terus berputar di pikiranku, tatapannya, senyumnya, suaranya, bahkan aku masih bisa merasakan hangatnya saat berada di pelukannya.

“Jangan mengagumiku seperti itu, aku tahu aku ini cantik dan-“

“Kau benar, kau memang cantik.”

“Mana mungkin aku bisa tahan berjauhan denganmu.”

“Agar kau membuka matamu itu, aku ingin melihat matamu.”

Disclaimer : Cerita ini di buat berdasarkan hasil pemikiran saya sendiri. Beberapa adegan terinspirasi dari drama, film, dan lagu. Seluruh cast milik Tuhan YME. Akun wattpad Jasmine_xxbbb. Thank you!

Chapter 3

Saat ini aku terduduk di ruang kedisiplinan bersama Aeri. Aku mencoba menenangkan perasaanku, akh kepalaku pusing. Untuk pertama kalinya aku masuk ke ruang kedisiplinan ini, ruangan ini tidak terlalu besar, ada beberapa kursi dan satu meja.

Buku oak, buku itu di buat oleh temanku Oh Sehun saat aku berhasil mendapat rangking satu di kelas saat itu. Aku menamainya oak karena cover buku itu bergambar pohon oak yang indah. Dulu aku sempat tidak sengaja menghilangkan buku itu, dan sialnya buku itu di temukan Aeri.

Dia tidak ingin memberikannya padaku walau aku sudah memintanya dengan baik-baik, akhirnya Sehun lah yang mengambil buku itu dari Aeri. Sehun tidak memberitahuku bagaimana dia bisa mendapatkan buku itu kembali, aku juga tidak terlalu peduli dengan hal itu. Semenjak itu aku tidak pernah membawa buku itu ke sekolah dan aku simpan di kamarku.

Guru Kang menanyaiku dengan beberapa pertanyaan dan aku menjawabnya dengan sebisa mungkin. Beberapa kali aku dan Aeri berargumen, yang akhirnya guru Kang memutuskan untuk menghukum kami. Aku di suruh membersihkan ruang musik yang sangat berdebu itu, sedangkan Aeri harus membersihkan WC perempuan selama tiga hari.

Saat aku masuk ke dalam kelas aku bergegas duduk dan memakai earphoneku, aku tidak ingin menjawab pertanyaan Yeri dan lainnya. Sayup-sayup aku masih bisa mendengar Yeri membicarakanku dengan Chanyeol.

“Kau baik-baik saja?” ucap Chanyeol menyentuh tanganku. Aku menatapnya dan mengangguk padanya sekilas.

“Apa kau ingin ku antar ke ruang UKS?” ujar Yeri.

“Tidak.”

Chanyeol bergegas berdiri dan menggendongku dengan bridal style.

“Yak apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!” orang-orang memperhatikan kami sepanjang koridor kelas, aku menyembunyikan wajahku di dada Chanyeol.

Chanyeol menurunkan aku di atas ranjang UKS dan menarik selimut menutupi kakiku. Karena penjaga UKS sedang tidak ada Chanyeol mengambil kotak P3K dan meletakkannya di meja mencari plester untukku.

Aku diam memperhatikan gerak-geriknya dia terlihat serius sekali mencari plester itu. Dia tersenyum saat menemukan plester yang ia inginkan, Chanyeol langsung memasangkannya di pipiku. Aku tidak sadar jika di pipiku ada sedikit luka di sana, mungkin pipiku terkena kukku Aeri tadi.

Setelah memasangkannya Chanyeol meniup-niupkan plester di pipiku, itu bahkan tidak berpengaruh pada lukaku, dia memang bodoh.

“Aku kesal melihatmu terluka seperti ini, awas saja jika Aeri berani melukaimu lagi.” Aku diam menatapnya.

“Kau sudah tidak marah lagi padaku?”

“Mana mungkin aku bisa tahan berjauhan denganmu.” Aku terkekeh mendengar jawabannya, Chanyeol duduk di ujung ranjang sana menatapku.

“Kau iri melihat Jong In bermain basket denganku bukan?” aku tersenyum mengejeknya.

“Tidak, aku aku aku, yah kau benar! Seharusnya aku yang bermain basket denganmu bukan dia.”

Aku sudah tahu alasannya marah padaku, saat aku bermain basket dengan Jong In aku tidak sengaja melihat Chanyeol yang sedang melihat kami bermain basket. Tetapi aku pura-pura tidak tahu alasannya marah padaku.

“Chanyeol.” Chanyeol menoleh ke arahku.

“Terima kasih.” aku tersenyum padanya. Entah bagaimana aku hidup jika Chanyeol tidak ada di kehidupanku selama ini.

“Jangan menatapku seperti itu!” Chanyeol berdiri dan memunggungiku.

“Chanyeol.”

“Apa?”

“Lihat aku.”

“Tidak mau.”

“Kau akan menyesal nanti.”

“Baiklah-baiklah kenap-“ saat Chanyeol berbalik aku mencium sekilas pipinya.

Aku menatap intens matanya, aku tertawa saat melihat wajah Chanyeol yang kaku seperti itu. Chanyeol tetap berdiri di posisinya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

“Kau kenapa?” aku berjalan mendekatinya, memegang dahinya, suhunya normal.

Chanyeol menurunkan tanganku yang berada di dahinya dan meletakkan di pipinya. Aku terkejut saat pipinya terasa lebih hangat di bandingkan dengan dahinya.

Chanyeol meraih tanganku satunya menaruhnya di dada bidangnya. Degupan jantungnya cepat sekali, entah mengapa jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya, pipiku terasa panas.

Aku menatap Chanyeol dengan tatapan apa-yang-kau-lakukan. Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan perlahan, hidung kami saling bersentuhan hingga aku bisa merasakan deruan nafasnya. Hingga tinggal kurang dari satu cm jarak bibir kami, aku menutup mataku menunggunya sampai suara jeritan Yeri membuatku tersadar kembali.

“Tolong aku!” aku mendorong Chanyeol agar menjauh dariku.

Aku berlari keluar melihat Yeri ketakutan di sana.

“Ada apa Yeri?” dengan tangan gemetar Yeri menunjuk sesuatu di dekat jendela, saat aku lihat lebih jelas lagi ada seekor cecak di sana.

“Yak! Itu hanya cecak!” seru Chanyeol di belakangku.

“Tapi cecak itu tadi mendarat di sepatuku!”

Mereka terlibat argumen lagi, pipiku masih terasa panas karena kejadian tadi. Chanyeol pasti melihat pipiku yang memerah tadi, memalukan sekali.

Suara bel masuk kelas berbunyi, aku langsung saja berjalan menuju kelas meninggalkan mereka yang masih berargumen, bahkan mereka tidak menghentikan perdebatan mereka saat mendengar suara bel.

***

“Nona, kau ingin pergi ke mana?” ucap Bibi dengan wajahnya yang di penuhi keringat.

“Aku ingin membeli sesuatu, memangnya ada apa?”

Bibi menatapku dengan dalam seperti ingin mengatakan sesuatu yang buruk padaku. Bibi membawaku duduk di sofa ruang tamu.

“Bicaralah.”

“Tuan dan nyonya mereka

“Mereka mereka mengalami kecelakaan nona.” Alisku terangkat begitu mendengarnya.

“Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang?”

“Mereka sudah tidak ada nona.”

“Ap-apa maksudmu tidak ada?” Bibi menunduk tidak ingin menatapku.

“Mereka tewas karena sebuah kecelakaan mobil.”

Hatiku seperti tersambar petir begitu saja, aku diam, aku memang tidak dekat dengan kedua orang tuaku. Tetapi begitu mereka tidak ada hatiku terasa perih dan sedih.

Aku bangun dari dudukku dan berjalan keluar rumah dengan mata penuh dengan air mata. Aku tidak menyangka ini akan terjadi padaku, aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun Appa yang jatuh hari ini.

Aku berjongkok dan menangis sekencang mungkin, sudah cukup aku tidak merasakan kasih sayang orang tua ku. Kini mereka meninggalkan aku untuk selamanya, kejam sekali mereka.

Jika saja aku bisa merasakan sedikit saja cinta dari mereka, aku akan merelakan mereka dengan tenang. Tapi, aku bahkan tidak merasakannya sekali pun. Apa salahku? Dosa apa yang pernah ku buat? Kenapa Tuhan kejam sekali padaku?

“Anna?”

“Kau baik-baik saja?” aku mengenal suara itu, Chanyeol.

Aku langsung berdiri dan memeluk erat dirinya. Chanyeol mengelus kepalaku mencoba menenangkanku. Aku suka rasa nyaman ini, membuatku menjadi lebih tenang seketika.

Tetapi aku merasakan sesuatu yang cair di telapak tanganku, saat aku lihat itu adalah darah. Chanyeol jatuh ambruk ke arahku, aku menahannya agar tidak jatuh. Aku melihat seseorang berlari dengan membawa pisau di tangannya.

“Anna.”

Aku menelentangkan badannya dan membuat kepalanya di atas pahaku. Aku mengambil handphoneku mencoba menelefon ambulance secepat mungkin, tetapi Chanyeol menahan tanganku, Chanyeol menggelengkan kepalanya.

“Jangan, biarkan aku mati saja. Aku tidak mau dia melukaimu.”

“Apa maksudmu?!” aku sangat panik saat ini, aku mencoba melihat sekitar mencari pertolongan tetapi tidak ada satu orang pun disini.

“Ku mohon bertahanlah Chanyeol!” aku segera menghubungi ambulance kemari.

“Aku suka saat kau memanggil namaku.” Mata Chanyeol mulai sayup-sayup menatapku.

“Anna, aku mencintaimu.” Tangan Chanyeol menyentuh pipiku dan mengusap air mataku.

“Kau sangat cantik, cerewet, dan cengeng sekali.”

“Jangan berbicara seperti itu Chanyeol ku mohon.” Air mataku semakin deras keluar. Aku tidak mau kehilangannya, ku mohon.

“Jangan me-menangis lagi, ka-kau harus kuat, tidak akan ada lagi yang akan melindungimu.

“Kau tidak boleh terluka sedikit pun dan kau harus selalu bahagia.” Aku meraih tangan Chanyeol dan menggenggam erat tangannya.

“Aku mencintaimu Chanyeol, sangat, ak-aku sangat mencintaimu!” aku menempelkan bibirku dengan bibirnya, memperdalam ciumannya yang terasa asin karena air mataku.

Tetapi aku tidak merasakan Chanyeol membalas ciumanku, oh tidak Chanyeol menutup kedua matanya. Aku menggerak-gerakan badannya tapi Chanyeol tidak kunjung membuka matanya, aku mencoba menepuk-nepukkan wajahnya tetapi tidak ada reaksi apa pun darinya.

Aku mengecek nafas di hidungnya tapi aku tidak merasakan hembusan nafasnya sedikit pun. Tidak, jangan tinggalkan aku Chanyeol kumohon!

Suara sirene ambulance terdengar di indera pendengaranku, mereka terlambat! Aku memeluk tubuhnya menangis kencang. Aku mencintaimu Chanyeol.

***

Enam tahun kemudian.

Sinar matahari membuatku terbangun dari tidurku, hangatnya sinar matahari menyapu permukaan kulitku saat aku membuka hordeng. Memejamkan mata mencoba lebih merasakan hangatnya di tubuhku, jika saja rasa hangat ini mampu menembus hatiku, aku akan merasa senang, sangat.

Rasa itu masih saja membekas di sana, aku kesal aku tidak mampu menghilangkan rasa itu walaupun aku sudah berusaha keras. Harus sampai kapan aku hidup seperti ini? Kenangan itu terus berputar di pikiranku, tatapannya, senyumnya, suaranya, bahkan aku masih bisa merasakan hangatnya saat berada di pelukannya.

Lagi-lagi air mataku mengalir, yang kini menjadi tangisan. Aku merindukannya, sangat merindukannya, jika saja waktu bisa berputar kembali, sekali saja untuk mengobati rasa sakit ini.

Kejadian itu masih terasa seperti kemarin terjadi, dimana kedua orang tuaku dan Chanyeol meninggal di hari yang sama. Aku teringat pelaku yang menusuk Chanyeol yang sudah di dalam penjara saat ini, dia di hukum 10 tahun penjara, cih bahkan itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang ku alami selama ini.

Teman-temanku seperti Yeri, Lucas, dan Jungwoo mereka sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Yeri bekerja di salah satu majalah sebagai editor. Lucas, tidak ku sangka dia sukses sebagai model di Korea Selatan. Jungwoo, dia menjadi salah satu di di sebuah stasiun radio.

Ah! Aku teringat dengan Baekhyun, dia sedang kuliah di luar negeri, dia tidak pernah menghubungiku sekali pun semenjak Baekhyun tahu jika Chanyeol sudah meninggal, bahkan dua tidak datang di upacara pemakaman orang tuaku.

Aku langsung menuju kantorku saat selesai bersiap. Saat di perjalanan di dalam mobil aku tidak sengaja melihat seekor anjing yang terlihat sangat kurus dan kotor. Tanpa pikir panjang aku segera menepikan mobilku dan menghampiri anjing itu. Aku merasa kasihan dengan anjing ini, saat aku mengelusnya anjing ini mendekatiku seperti meminta pertolongan dariku.

Aku menggendong anjing ini dan membawanya ke klinik hewan yang tidak jauh dari sini. Saat anjing ini di periksa, dia di kasih beberapa suntikan vitamin untuknya. Anjing ini kekurangan gizi, sepertinya aku harus memeliharanya.

Aku memutuskan untuk memutar arah kembali ke apartemenku. Aku langsung memandikannya begitu aku sampai dan memotong kukunya yang sudah panjang. Anjing ini memiliki bulu berwarna putih yang sangat cantik, aku teringat memiliki makanan anjing yang tadinya ingin aku jadikan hadiah untuk anjing milik Yeri.

Awalnya anjing ini terlihat takut denganku tetapi saat aku mengelus dan memberinya makan dia terlihat mulai menyukaiku. Aku harus memberikan nama untuk anjing ini, sebentar bagaimana jika White? Namanya cocok dengan warna bulunya.

“Makanlah White.”

Suara dering handphoneku terdengar dari dalam tasku, nama Kyungsoo tertera di layar handphoneku.

“Halo?”

‘Kau dimana?’

“Di apartemen.”

‘Aku akan ke sana.’ Kyungsoo mematikan sambungan telefonnya.

Kemarin Kyungsoo membuat janji denganku untuk membicarakan pekerjaan. Belakangan ini aku merasa sangat stres karena aku sibuk mendesain produk baru yang ingin ku buat.

Aku membuat brand ku sendiri sejak aku lulus SMA dan aku mengambil jurusan seni Creative arts dan Desain di Amerika. Saat itu aku merasa tidak ingin berada di Korea, aku selalu terbayang-bayang kenanganku bersama Chanyeol di mana pun aku berada.

Awalnya aku merasa ragu untuk kembali ke Korea, karena aku yakin aku akan teringatnya kembali. Cih, alasan macam apa itu, bahkan saat di Amerika pun aku masih terbayang dirinya.

Sebelum Kyungsoo datang aku mengirim pesan padanya agar bertemu di Cafe dekat apartemenku saja. Aku mengambil tasku yang tergeletak di atas sofa dan segera berjalan keluar menuju Cafe.

Saat aku masuk aroma kopi langsung menyambutku, aku melihat Kyungsoo yang melambaikan tangannya padaku. Dia terlihat berbeda hari ini, dengan pakaian yang serba hitam.

“Kau terlihat berbeda.”

“Setelah ini aku ingin mengunjungi makam pamanku.” Aku mengangguk mengerti.

Setelah dua puluh menit kami membahas soal marketing produk baru yang akan kami luncurkan aku segera masuk ke dalam mobilku dan mengendarainya menuju kantorku.

Saat aku sampai para pegawaiku menunduk hormat padaku, aku hanya beberapa kali datang kemari dalam seminggu, karena jika tidak mereka akan bekerja terlalu santai disini, aku lebih suka mengerjakan pekerjaan di luar area kantor.

Aku mengambil buku sketch milikku yang tertinggal di kantor. Apa kalian masih ingat dengan buku oak? Buku ini lah yang kugunakan untuk menggambar desain brand ku, seperti baju, hoodie, skirt, pants, dan masih banyak lainnya.

Aku memutuskan untuk pergi ke sungai Han untuk mencari inspirasi desain baru yang ingin ku buat. Beruntungnya aku hari ini tidak terlalu panas seperti kemarin, rasanya aku ingin berendam air es kemarin.

Terbesit dalam pikiranku pakaian musim panas untuk wanita, sedikit sexy tetapi masih terlihat sopan.

Aku melihat seorang namja yang mendorong sepeda yang sedang di naiki seorang yeoja, sepertinya yeoja itu sedang belajar mengendarai sepeda, mereka terlihat bahagia.

Namja itu melepaskan tangannya dan yeoja itu mengendarainya dengan sedikit goyang tidak seimbang. Namun tidak berlangsung lama yeoja itu menabrak seorang kakek yang sedang berjalan.

Aku terkejut karena kejadian itu tidak jauh dariku, namun yeoja itu tidak menolong kakek itu dia hanya menoleh sekilas dan berlari membawa sepedanya.

Aku menghampiri kakek itu, dan melihat sikunya sedikit lecet.

“Kakek, apa kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja.” Kakek itu mencoba untuk berdiri, aku membantunya dengan memegang lengannya.

Ada seorang yeoja yang berlari menghampiri kakek ini, dia terlihat sangat khawatir. Yeoja ini ternyata cucu dari kakek ini, tetapi kenapa dia menatap tajam ke arahku?.

“Larilah cepat!” ucap kakek ini dengan keras. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya menatap kakek dengan bingung.

Yeoja itu berjalan mendekatiku dengan pelan, dia memerhatikan pakaian yang kukenakan. Kurasa aku harus segera lari dari sini, aku menghitung dalam hati 1…2.. tiba-tiba dia memelukku dengan sangat erat.

Aku diam membeku takut jika sesuatu hal yang buruk terjadi padaku. Dia tertawa saat memelukku. Perasaanku semakin tidak enak, apa dia memiliki penyakit kejiwaan?

“Anna! Kau Anna bukan?” ucap yeoja ini setelah memelukku.

“Kau benar. Kau siapa?”

“Kau tidak ingat denganku?

“Aku Irene!”

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s