[EXOFFI FREELANCE] Remember (Chapter 2)

Title : Remember

Author : Jasmine_xxbbb

Genre : Romance, hurt, drama

Rating : PG – 15

Length : Chapter

Cast : Park Chanyeol (EXO), Kim Anna (OC), Yeri (Red Velvet), Kim Jong In (EXO), Lucas (NCT), Jungwoo (NCT), Baekhyun (EXO)

Summary

Kenangan itu terus berputar di pikiranku, tatapannya, senyumnya, suaranya, bahkan aku masih bisa merasakan hangatnya saat berada di pelukannya.

“Jangan mengagumiku seperti itu, aku tahu aku ini cantik dan-“

“Kau benar, kau memang cantik.”

“Mana mungkin aku bisa tahan berjauhan denganmu.”

“Agar kau membuka matamu itu, aku ingin melihat matamu.”

Dislaimer : Cerita ini di buat berdasarkan pemikiran saya pribadi. Seluruh cast milik Tuhan YME. Di mohon untuk tidak menjiplak cerita ini.

Disclaimer : Cerita ini di buat berdasarkan hasil pemikiran saya sendiri. Beberapa adegan terinspirasi dari drama, film, dan lagu. Seluruh cast milik Tuhan YME. Akun wattpad Jasmine_xxbbb.

Chapter 2

Suasana kelas hari ini jauh berbeda dari biasanya, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara. Semua fokus mengerjakan soal matematika, termasuk diriku. Aku sedikit kesusahan di beberapa soal, beruntungnya aku sudah belajar dari jauh-jauh hari, jadi aku tidak terlalu kesulitan mengerjakan soal ini.

Setelah satu jam kami harus mengumpulkan lembar jawaban kami. Kami berbaris untuk mengumpulkan kertas jawaban, masih ada beberapa orang yang belum selesai mengerjakan soal sehingga mereka menyontek diam-diam, dan itu termasuk Chanyeol.

“Aku harap nilaiku tidak buruk.” Ujar Yeri. Yeri menyenderkan kepalanya di atas meja dengan tangannya memijat dahinya.

“Nilaimu pasti bagus.”

“Aku tidak tahu.” Aku ikut menyenderkan kepalaku di atas meja dan memejamkan mataku. Tiba-tiba dahiku terasa sakit seperti ada yang menyentil dahiku, saat aku membuka mataku Chanyeol duduk di lantai dan menyenderkan kepalanya di sisi mejaku.

“Kenapa kau menyentilku? Ini terasa sakit tahu.” Aku mengusap dahiku perlahan.

“Agar kau membuka matamu itu, aku ingin melihat matamu.” Chanyeol mengubah posisinya menghadapku.

“Jangan duduk di sana, ambil saja kursimu.” Chanyeol tidak menurutiku, dia justru duduk di tempatnya menghadap ke belakang.

“Kepalaku rasanya ingin pecah.” Ujar Chanyeol.

“Kau bertingkah seolah-olah kau belajar keras.” Seru Yeri yang masih terpaku di posisinya tadi. Chanyeol memukulnya dengan buku miliknya perlahan.

“Yak!” seru Yeri.

Datang empat orang ke meja kami dua diantara mereka laki-laki dan lainnya perempuan. Kurasa mereka sepasang kekasih melihat mereka salin bergandeng tangan. Salah satu dari mereka menatapku dengan tajam, dia adalah Aeri. Aku tidak tahu alasannya sangat tidak suka denganku, kami satu kelas saat kelas 10.

“Apa yang kalian lakukan disini? Kalian dari kelas sebelah bukan?” ujar Yeri. Mereka menyeringai, entah kenapa aku merasa akan ada keributan disini.

“Itu bukan urusanmu, kami kesini hanya untuk menemui teman kami Anna.” Ucap salah satu laki-laki dari mereka.

“Ada urusan apa kalian dengan Anna?” seru Chanyeol.

“Hanya masalah kecil, benarkan sayang?” ucap kekasih Aeri yang aku tidak tahu namanya.

“Kau benar, Anna bisakah kita berbicara secara empat mata?” ucap Aeri menatapku.

“Bicara saja disini.” Seru Chanyeol berdiri dari tempatnya.

“Diam saja kau, memangnya kau pikir kau siapa?” ucap pacar Aeri. Dia mengangkat tangannya ingin memukul Chanyeol, tetapi Chanyeol menahannya.

“Kau berani padaku?!” seru pacar Aeri.

Sudah kuduga ini akan terjadi. Aku terkejut saat pacar Aeri memukul pipi kanan Chanyeol. Chanyeol langsung membalas dengan memukulnya, setelah itu mereka terlibat perkelahian.

“Aeri hentikan kelakuan pacarmu itu sekarang!”

“Kenapa? Kau tidak suka pacarku memukul Chanyeol?”

“Kubilang hentikan sekarang.”

“Aku tidak mau.”

Orang-orang mulai mengerumuni kami, menyebalkan. Aku mencoba menghentikan mereka untuk berkelahi, namun naasnya aku terkena siku pacar Aeri, aku terjatuh.

“Anna!” Yeri menghampiriku dan menarikku agar menjauhi mereka. Pipiku terasa sakit.

Setelah itu guru Kang datang menghentikan mereka. Wajah mereka sudah babak belur. Mereka di bawa oleh guru Kang ke ruang kedisiplinan.

“Anna sebaiknya kau ke ruang UKS sekarang.” Ujar Yeri.

“Tidak perlu, aku baik-baik saja.”

***

Saat jam istirahat aku pergi ke ruang UKS membawa roti dan air mineral untuk Chanyeol. Saat aku masuk aku melihat Chanyeol yang sedang berbaring di atas kasur.

Dia tertidur, aku duduk di sisi ranjang dan menaruh roti dan air mineral di atas meja. Ada banyak memar di wajahnya dan ada plester di pipinya. Aku terkejut saat Chanyeol membuka matanya.

“Aku tahu aku memang mempesona.” Ujar Chanyeol melihatku.

Aku diam memperhatikan wajahnya yang memar. Dia memang sangat bodoh, seharusnya dia tidak perlu meladeninya. Melihatnya seperti ini membuatku sedih. Chanyeol mengambil roti yang kuletakkan di meja.

“Apa ini untukku? Wah kau baik sekali padaku. Kenapa kau tidak sekalian membawa seluruh makanan yang ada di kantin?” aku tidak menjawabnya, mungkin ini hanya sepele untuknya tapi tidak denganku. Karena diriku dia terluka seperti ini. Aku sangat kesal dan marah, hingga air mataku mengalir begitu saja.

“Kenapa kau yang menangis? Aku yang terluka bukan kau.” Chanyeol meraihku ke dalam pelukannya.

“Sudahlah jangan menangis, aku baik-baik saja.” Chanyeol mengusap punggung dan kepalaku. Tangisanku semakin pecah saat dia melakukan itu padaku.

Setelah seperkian detik aku melepaskan pelukannya, aku sudah lebih tenang sekarang. Chanyeol mengusap air mataku dan mengelus pipiku.

“Kau ini cengeng sekali.” Chanyeol menarik pipiku dengan gemas.

“Makanlah rotinya.” Ucapku dengan suara yang sedikit serak.

“Chanyeol!” seru Lucas yang baru datang bersama Jungwoo, Baekhyun, dan Yeri.

“Kau baik-baik saja?” ujar Jungwoo.

“Aku baik-baik saja.”

Aku diam memperhatikan Chanyeol, bukankah itu terasa sakit saat berbicara maupun tertawa? Dia memang tidak pernah berubah. Tapi, apa yang mau di bicarakan Aeri? Kurasa aku tidak punya urusan dengannya. Setiap Aeri mendatangiku masalah selalu datang padaku.

Aku butuh waktu sendiri untuk memikirkan ini semua, aku selalu stres saat Aeri mendatangiku seperti tadi.

“Aku harus keluar sebentar.” Aku bergegas berjalan keluar UKS. Mereka memanggil namaku beberapa kali tapi aku tidak menyahutinya.

Aku memutuskan untuk duduk di kursi bawah pohon sambil melihat mereka yang sedang olahraga. Angin meniup rambutku membuat rambutku sedikit beterbangan. Aku memejamkan mata menikmati hembusan angin ini, nyaman.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin di dahiku, begitu aku membuka mataku Jong In berdiri di hadapanku dengan senyum khas nya.

“Minumlah.” Jong In memberiku susu pisang padaku.

“Kau pasti sedang stres.” Jong In meminum jus buah miliknya.

“Aku tidak perlu menjawabnya bukan?”

“Benar.” Jong In terkekeh mendengar jawabanku.

Ku lihat Jong In memperhatikan anak-anak yang sedang bermain basket di sana. Aku jadi teringat Jong In tidak di izinkan bermain basket lagi oleh ibunya, Jong In tidak memberitahuku alasan ibunya tidak mengizinkannya bermain basket lagi.

“Apa kau tahu? Alasan ibuku tidak mengizinkanku bermain basket karena adikku. Adikku dulu sering kali bermain basket tapi saat dia mengalami kecelakaan dan kakinya patah ibuku tidak mengizinkanku lagi untuk bermain basket.”

“Memangnya kenapa?”

“Dia khawatir jika adikku akan sedih saat melihatku bermain basket.”

“Apa kau mau main? Bersamaku? Sekarang?” Jong In menatapku cukup lama, kurasa pikirannya berkecamuk menjadi satu saat ini.

“Jangan bercanda nona Kim.” Jong In menyenderkan punggungnya di kursi meminum jusnya.

“Ayo.” Aku berdiri dan bergegas ke lapangan, anak-anak yang sedang bermain basket tadi sudah tidak ada.

Aku mengambil bola yang tergeletak di lapangan dan mengambul-ambulkannya, aku melihat Jong In masih duduk disana. Aku melambaikan tangan padanya mengajaknya bermain. Aku tersenyum saat Jong In lari menghampiriku.

“Ayo kita main, jika aku menang kau harus mentraktirku.” Ucapku. Jong In memiringkan kepalanya menimbang.

“Baiklah, tapi jika aku menang kau harus mentraktirku makan di kantin besok.”

“Setuju.”

Baru saja kami bermain sekitar lima belas menit skorku sudah tertinggal jauh dengannya, aku memang payang di bidang olahraga. Tapi aku senang melihat Jong In tersenyum bahagia saat bermain, seperti seluruh beban di pundaknya hilang begitu saja.

Aku mengangkat kedua tanganku menyerah, aku lelah setelah ini aku harus masuk ke dalam kelas.

“Kau harus mentraktirku besok di kantin.”

“Aku tahu, Jong In aku harus kembali ke kelas, da-ah.” Jong In mengangguk menyeka keringat di dahi dengan tangannya. Baru saja aku berjalan beberapa langkah Jong In memanggilku.

“Anna!” aku menoleh ke belakang.

“Terima kasih!” aku tersenyum dan mengangkat kedua jempolku.

Hanya perasaanku saja atau itu memang benar aku merasa Chanyeol mendiamkan aku. Biasanya dia selalu berbicara padaku saat di kelas, tapi sejak tadi diam saja. Aku harus berbicara dengannya saat pulang nanti.

“Chanyeol boleh aku pinjam pulpenmu?” ujar Yeri menyentuh pundak Chanyeol. Tanpa basa-basi Chanyeol langsung memberikannya pada Yeri, ini aneh tidak biasanya Chanyeol meminjamkan barangnya pada Yeri.

Karena aku harus ke perpustakaan terlebih dahulu saat jam pulang aku jadi harus mencarinya. Kurasa tidak susah mencarinya dengan postur tubuhnya yang tinggi itu. Ah itu dia!.

“Chanyeol!” seru ku. Tetapi dia tidak menghentikan langkahnya, aku harus berlari untuk menghampirinya.

“Apa kau tidak mendengarku? Aku memanggilmu.” Chanyeol tidak merespons ucapanku, dugaanku benar dia marah padaku.

“Kau marah kenapa padaku?” Chanyeol memasang headset di kepalanya.

“Aku sedang berbicara padamu!” aku berhenti di hadapannya, tapi ia justru melewatiku begitu saja. Dia benar-benar marah padaku.

Aku melihat Chanyeol di hampiri dua wanita di sana, dia Wendy dan Irene. Wendy satu kelas denganku dan Chanyeol, dan Irene itu entahlah aku hanya tahu namanya saja. Tunggu, kenapa Wendy menggandeng tangan Chanyeol? Bahkan Chanyeol tidak menghindar sama sekali, menyebalkan. Aku memutuskan untuk naik taxi saja untuk pulang ke rumah, moodku hancur.

Di hari berikutnya dia masih mendiamkan aku, aku sudah mencoba berbicara padanya, membelikan minuman untuknya tapi tetap saja, keras kepala.

“Anna!” Aku menoleh melihat Jong In masuk ke dalam kelas. Ah aku janji mentraktirnya.

“Ayo!” aku menarik tangan Jong In keluar kelas, aku sengaja memperkeras suaraku agar Chanyeol bisa mendengarnya.

Aku membelikan makanan dan minuman sesuai permintaannya. Lahap sekali dia makannya, dia pasti sangat lapar, aku hanya memesan camilan untukku dan sekotak susu pisang.

“Sekarang aku sudah bisa main basket sepuasku.”

“Benarkah?! Wah itu berita bagus.”

“Kemarin aku menceritakan semua perasaanku yang tidak bisa main basket pada ibuku, dan dia mengubah pikirannya itu.”

“Baguslah, aku ikut senang mendengarnya.”

Tiba-tiba Aeri datang dengan pacarnya kemari. Aku menghela nafasku melihat mereka, aku ingin segera mengakhiri ini.

“Ikut denganku tanpa pacarmu itu jika kau berani.” Ujarku menatap tajam matanya.

Aku berjalan dengan Aeri mengikutiku dari belakang. Aku melihat Chanyeol yang sedang makan bersama Yeri dan Baekhyun disana, aku menatapnya sekilas.

“Bicaralah.” Aku menuntunnya ke taman di tempat yang agak ramai.

“Aku ingin kau mengembalikan buku oak itu padaku.”

“Cih. Itu bukan milikmu. Berhentilah merasa memiliki milik orang lain.”

“Apa kau bilang?”

“Kenapa? Kau tersinggung? Itu sebuah fakta.”

“Berani-beraninya kau!”

Aeri menarik rambutku dengan kencang, aku membalasnya dengan melakukan hal yang sama padanya. Namun Aeri melepaskan tarikannya dan mendorongku hingga jatuh, sebelum Aeri menamparku aku mengambil tong sampah dan melemparkannya, Aeri sudah di penuhi dengan sampah saat ini.

Orang-orang melerai kami, setelah itu aku mendengar suara peluit di belakangku. Guru Kang datang bersama Yeri di belakangnya.

“Apa yang kalian lakukan?! Kalian berdua ikut aku sekarang!” seru guru Kang.

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Remember (Chapter 2)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s