[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Ninth Page

I M P E R F E C T

By Damchuu

Oh Sehun x Park Hyojin

| School-life, Fluff, Hurt  | Series / PG-15 |

DISCLAIMER:

This story and characters are fictitious. Certain long-standing institutions, agencies, and public offices are mentioned, but the characters involved are wholly imaginary. |

 

Previous: [First Page] [Second Page] [Third Page] [Fourth Page] [Fifth Page] [Sixth Page] [Seventh Page] [Eigth Page]

Look from every side she is perfect. Perfect daughter for her parents, perfect student for her teacher. Also. Perfect demon for her nightmare.

 

-oooOooo-

 

Pagi ini diawali dengan sebuah topik panas mengenai salah satu pangeran sekolah yang kabarnya sudah memiliki pacar.

Baiklah, ini terlalu hiperbola. Mari buat ini lebih mudah. Laki-laki itu―sebut saja Oh Sehun―baru saja membuat heboh seantero sekolah dengan memposting fotonya dengan seorang gadis di instragram. Sebenarnya itu wajar mengingat Sehun sudah sering melakukan hal yang sama. Hanya saja sebuah kata yang tertera di caption-nya membuat semua itu menjadi tidak wajar. Kata ‘mine’ tertera dengan sangat anggun hingga mengundang ratusan komentar masuk.

oohsehun

Mine.

857 likes
204 comments

Ini hanya tangan. Berulang kali Hyojin berusaha mendoktrin pikirannya dengan kalimat itu. Mengabaikan komentar-komentar yang pastinya dipenuhi rasa penasaran itu, Hyojin lebih memilih menjelajahi hal lain. Maniknya tertarik pada postingan yang berada di bawahnya. Itu milik Chanyeol. Laki-laki itu tampak mengunggah videonya yang sedang mengcover lagu Taylor Swift yang berjudul ‘Mine. Hyojin bergidik sendiri melihatnya. Jika mengabaikan foto sang gadis di postingan Sehun, bukankah interaksi mereka secara tidak langsung ini tampak seperti … kode? Hal-hal kecil seperti inilah yang terkadang membuat Hyojin percaya pada rumor kalau mereka berdua pacaran.

Gadis itu menggeleng berusaha menghalau pikiran negatif yang ada di otaknya. Sehun sudah mengatakan jika semua itu tidak benar, kalau begitu bukankah ia harus belajar mengendalikan pikiran liarnya mulai sekarang. Mungkin saja mereka tidak sengaja.

Sebuah notifikasi baru masuk ke ponselnya. Awalnya Hyojin mengabaikannya karena pikirnya itu tidak terlalu penting. Lagipula tidak lama lagi ia juga sampai di sekolah. Tapi notifikasi-notifikasi lain yang ikut berhamburan masuk membuatnya gatal untuk tidak melihat. Ketika menemukan sumber di mana suara ricuh itu berasal, betapa kaget Hyojin melihat fotonya di sana.

oohsehun

139 likes 
54 comments

Gila! Gila! SEHUN GILA! Apa yang sebenarnya ada dipikirannya? Sepertinya bekerja sama dengan Sehun sama dengan siap untuk senam jantung setiap hari. Hyojin tahu jika ini bagian dari perjanjiannya, tapi setidaknya laki-laki itu harus mengabarinya dulu kan?

Bahkan ketika mobil yang ditumpanginya sampai di gerbang sekolah ia tidak segera beranjak keluar. Raganya terasa kosong. Tidak, Hyojin bukannya takut kepada para gadis itu. Pikirannya lebih melayang pada apa dampak yang akan ia terima dari keputusan bodohnya ini. Tidak mungkin kan kalau ia menyerahkan punggungnya lagi untuk dijadikan korban.

“Nona, tidak turun?” Suara yang datang dari arah kemudi itu membuyarkan lamunannya. Benar, siap atau tidak, setuju dengan perjanjian itu sama dengan siap menanggung risikonya. Buru-buru Hyojin memberesi barang-barangnya, kemudian turun dari mobil.

“Hyojin-ah!” Belum sampai melangkah, lengannya lebih dulu diapit oleh Nara. Gadis itu tampak terengah dengan keringat yang mengucur di sepanjang pelipisnya.

“Dikejar anjing lagi?” Hyojin masih ingat beberapa hari yang lalu Nara sempat bercerita jika ada anjing yang mengejarnya hingga harus bolos jam pertama. Namun Nara menggeleng.

“Bukan. Kali ini lebih mengerikan.” Nara menuntun Hyojin untuk mulai berjalan, “Tetanggaku memelihara kucing dan hewan itu tidak bisa berhenti mengikutiku dari kemarin.” Tangannya meraba kulitnya sendiri ketika menyadari bulu kuduknya meremang. Apalagi saat mengingat bulu-bulunya yang berhamburan, rasanya Nara ingin pindah rumah saja.

Dan Hyojin tidak bisa untuk tidak menahan tawanya mendengar hal tersebut. Oh ayolah, itu kucing-hewan yang notabenya jauh lebih jinak dari anjing.

“Ah, benar aku sampai lupa. Aku tadi mencarimu.” Nara menepuk dahinya, lupa dengan tujuan utama mencari Hyojin.

“Aku? Ada apa?”

“Ah, itu… tentang berita semalam.”

“Berita apa?” Bukannya menjawab, Hyojin malah kembali mengajukan pertanyaan. Bahkan keningnya sampai mengkerut saking penasaran.

“Ck, dasar! Bahkan berita sepenting ini kau tidak tahu? Anak-anak kelas bahkan sudah ribut sendiri membicarakannya sejak semalam.”

Perkataan Nara itu lantas membuat jantung Hyojin berdegup tidak karuan. Berita penting apa? Ini bukan tentangnya dan Sehun kan?

Diamnya Hyojin sebagai sinyal bahwa ia tidak mengerti membuat gadis bermarga Jung itu lantas berdecak tidak terima. Tatapan matanya seolah mengatakan ‘kau benar-benar tidak tahu?’ dengan nada mengejek.

“Park Saem!” Nara meninggikan suaranya, “Studi bandingnya ke Bucheon dibatalkan dan aku belum menyelesaikan satu pun tugasnya.” Ia mengerang frustasi. Raut putus asa tergambar jelas di wajahnya. Berbeda jauh dengan Hyojin yang malah tampak senang. Ketika Nara mengatakan tentang Park Saem entah mengapa perasaan lega menerpa hatinya dengan keras sekali.

“Jadi…” Nara melanjutkan, “Pinjami aku buku tugasmu ya?” Tangannya menempel menjadi satu membentuk isyarat seakan memohon. Tanpa berpikir dua kali, Hyojin mengangguki permintaan Nara. Sebenarnya tanpa acara dramatis seperti tadi ia pasti dengan senang hati meminjamkan bukunya.

Assa!” Nara berteriak senang. Jangan lupakan sebuah lompatan kecil sebagai atraksi ceremonialnya. Ia lantas menggenggam tanga Hyojin erat, kemudian berlari, “Ayo, kita sudah telat!”

oOo

Apa yang ditakutkannya tidak benar-benar terjadi.

Ini sudah jam istirahat dan tampaknya belum ada pergerakan apapun dari teman-temannya mengenai Sehun. Itu bagus tentu saja. Tapi tetap saja … rasanya aneh.

“Hei, Park!” panggil Yuta. Laki-laki yang duduk di depannya itu memutar tubuhnya, kemudian menatap penasaran pada Hyojin.

Hyojin yang awalnya fokus pada buku novel di tangannya mengalihkan atensinya, “Apa?” jawabnya tanpa minat. Apa yang dikatakan laki-laki itu biasanya tidak penting. Paling tidak jauh-jauh dari snack, PR, dan sebuah lelucon garing.

“Aku pinjam buku tugasmu ya?” Lihat, tepat sesuai ekspektasinya, “Aku sebenarnya sudah mengerjakannya tadi malam tapi—”

“Bilang saja kau main PS dengan Taeyong sampai pagi,” sela Hyojin. Salah satu tangannya digunakan untuk menyangga kepalanya. Ia sudah kelewat hapal dengan kebiasaan laki-laki ini. Melihat Yuta yang kemudian menyengir secara tidak langsung menunjukkan kalau tebakannya tepat sasaran lagi.

“Aku pinjam buku tugasmu ya?” ulangnya lagi karena tadi belum mendengar persetujuan dari pemiliknya.

Hyojin mengangguk sebagai jawaban, kemudian kembali fokus pada novelnya, “Tadi dibawa Nara. Minta saja padanya.”

Yuta tersenyum. Ia membentuk tanda setuju menggunakan jempolnya, kemudian berteriak, “JUNG NARA!”

“APA?” Gadis itu membalas tidak kalah kerasnya.

“AKU PINJAM BUKU HYOJIN!”

“MASIH KUPAKAI, KERJAKAN SENDIRI SANA!”

“PUTRI FIONA!”

“IYA, IYA SEBENTAR!”

“Dasar menyebalkan!” Hyojin yang mendengar percakapan keduanya plus umpatan-umpatan Yuta untuk Nara hanya bisa tertawa sendiri. Padahal jarak mereka tidak sampai lima belas langkah—yang kalau dipikir-pikir akan lebih mudah jika salah satu dari mereka berjalan mendekat daripada berteriak seperti itu.

Mendengar suara kekehan datang dari arah belakangnya, Yuta kembali berbalik, “Hyo,” panggilnya, “Kau pacaran dengan Sehun ya?”

Hyojin sontak menghentikan tawanya. Buku yang tadinya ada di genggamannya kini beralih posisi ke meja, “A..apa?”

Yuta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Kau tahu sendiri kan kalau tadi pagi Sehun memposting fotom—aish, pelan-pelan!” Sebuah buku mendarat dengan keras di kepalanya. Jangan tanya lagi siapa pelakunya, tentu saja Nara. Gadis itu tidak pernah main-main kalau menggunakan kekuatannya. Untung saja dia perempuan. Kalau tidak Yuta mungkin sudah mengajaknya berduel di lapangan.

“Kau ini sebenarnya perempuan atau laki-laki? Mulutmu bahkan tidak jauh berbeda dengan Minah.” Nara ikut duduk di sebelah Hyojin. Menatap tajam Yuta yang juga melakukan kegiatan serupa.

“Dia tidak pacaran dengan Sehun.”

Hyojin yang terkejut menoleh. Mendapati wajah serius Nara di sana. Sungguh, ia tidak menyangka Nara akan berkata demikian. Seingatnya ia belum pernah bercerita apa-apa tentang Sehun pada Nara.

“Aku bertanya padanya kenapa kau yang jawab?” Yuta mendesis. Masih tidak rela acara interogasinya diganggu Nara.

“Memangnya apa bedanya kalau aku yang menjawab?” tukas Nara tidak kalah sinis, “dan mulutmu bisakah berhenti menyebarkan rumor yang aneh?”

“Cih, kau kira mulutmu sama saja, begitu?” Yuta membalikkan badannya. Berdebat dengan Nara memang tidak ada habisnya.

Sedangkan Nara kini tersenyum menang dengan gerakan tangan seolah mengusir. Ketika Yuta sudah benar-benar sibuk dengan tugasnya, diletakkan kepalanya di meja dengan tangan sebagai bantalnya, “Aish, lelahnya. Park Saem gila ya memberi tugas semacam itu pada muridnya,” gerutunya dengan mata setengah terpejam. Namun Hyojin yang biasanya ikut menimpali kini terdiam.

“Nara-ya,” panggilnya pelan.

“Hm?” Nara mendongak. Kembali disejajarkan tubuhnya dengan Hyojin. Gadis itu tampak akan mengatakan sesuatu, namun sebelum benar-benar berujar ia menghela nafasnya berat, “Tenang saja, belum ada yang tahu tentang taruhanmu dengan Sehun.”

“Bagaimana—”

“Kau gila ya membuat taruhan semacam itu dengan Sehun? Kalau ayahmu sampai tahu bagaimana? Memangnya belum cukup rotan kemarin? Demi tuhan, tubuhmu iu bukan besi, Park Hyojin.” Namun ucapan Nara itu bagaikan angin lalu untuk Hyojin. Ia lebih tertarik mendengar jawaban dari ‘bagaimana kau bisa tahu semua itu?’.

“Jung Nara,” panggil Hyojin sekali lagi dengan penuh penekanan, “darimana kau tahu?”

Tapi Nara tetap tidak peduli. Direngangkan ototnya yang kaku karena menulis, “Aku lelah,” tukasnya. Kembali diletakkan kepalanya di meja, “Bangunkan aku kalau Park Saem datang ya?” Tanpa menunggu persetujuan, Nara sudah lebih dulu memejamkan matanya.

oOo

Pada akhirnya Hyojin tetap tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Nara benar-benar menutup rapat mulutnya dan itu membuat Hyojin kesal sendiri. Sebenarnya ia ingin bertanya sekaligus memprotes Sehun habis-habisan. Tapi tugas dari Park Saem membuatnya harus terjebak di dalam kelas seharian ini. Terlebih guru bertubuh gendut itu berdalih akan memberikan nilai lebih jika tulisannya bagus. Tapi apa? Pada akhirnya berbagai coretan mendarat di bukunya. Dan hal itu menambah daftar kekesalannya dalam satu hari ini.

“Nara-ya, temani aku ke perpustakaan ya?” ajak Hyojin yang tengah membereskan bukunya itu menghentikan kegiatannya sejenak. Di depannya Nara tampak menimang.

“Aku mau, tapi aku ada ekstra hari ini.” Gadis itu tampak menyesal, “Mau pinjam buku apalagi memangnya?”

“Harry Potter,” tukasnya dengan mata berbinar, “aku tinggal butuh seri terakhirnya.”

Jawaban Hyojin itu sama sekali tidak membuat Nara terkejut. Ia bahkan masih tidak habis pikir bagaimana Hyojin bisa tahan membaca buku setebal itu. Ayolah, bahkan sekarang sudah ada versi film-nya yang pasti jauh lebih praktis daripada harus membaca kumpulan huruf itu.

“Bagaimana kalau—”

Suara gebrakan pintu mengejutkan hampir setengah penghuni kelas. Semuanya menoleh. Di ambang pintu tampak wajah seseorang yang sudah sangat familiar.

“Siapa yang namanya Park Hyojin disini?”

Suara gebrakan itu sukses merengut perhatian seluruh penghuni kelas. Perlahan mereka menoleh, dari yang awalnya mengarah ke ambang pintu kemudian beralih ke arah bangku tempat Hyojin duduk di mana gadis itu tengah menunjuk dirinya sendiri dengan tampang bodohnya.

Karena terlalu lama terdiam, salah seorang temannya menyentaknya agar Hyojin segera menemui orang yang mencarinya itu. Namun saat Hyojin hendak berdiri, Nara buru-buru menahannya.

“Biar aku saja,” ucap Nara tiba-tiba.

Hyojin tentu saja menggeleng tidak setuju. Yang benar saja, kenapa Nara yang pergi ketika dirinya yang dipanggil? Ia lantas menarik tangan Nara untuk kembali duduk, “Tidak usah, aku yang dipanggil,” kukuhnya untuk tetap pergi.

“Lepas!” Nara melepaskan genggaman Hyojin pada lengannya. Dalam sekali sentakan tangan keduanya terpisah, menyisakan Nara yang kini tersenyum menang di sebelahnya, “Kau duduk manis di sini saja tuan putri atau aku akan mengadukanmu pada Pengacara Jung tentang tadi.” Begitu ucapnya sebelum beranjak menghampiri segerombolan wanita yang menunggu tidak sabar di ujung pintu sana.

Benar juga, siapa yang bisa menghentikan seorang Nara? Padahal Hyojin punya serangkaian ancaman yang lebih ampuh untuk mencegah Nara pergi. Bodoh sekali dirinya tidak berpikir sejauh itu tadi. Masih dengan raut sebalnya, Hyojin memandangi punggung sang sahabat yang kian menjauh. Bibirnya pun dengan manisnya terus mengeluarkan serapahan untuk Nara.

“Maaf, Hyojin sedang tidak enak badan—”

Hanya sampai di sana yang dapat di simaknya. Selanjutnya kelas kembali ramai dan suara percakapan mereka seolah tenggelam. Ditambah lokasi tempat duduknya yang jauh dari pintu seolah tambah mendukungnya untuk berhenti menguping.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian Nara kembali. Gadis itu duduk di bangkunya kemudian memberesi buku-bukunya tanpa mengucap sepatah kata pun.

“Kenapa?” tanya Hyojin pelan. Diamnya Nara tidak menandakan jika ia baru saja mendengar berita buruk kan?

“Itu, Mira memintamu ke ruang musik. Dia bilang Chanyeol ingin merekrutmu masuk ke ekstra musik.”

“Chanyeol Oppa?” Hyojin memastikan jika telinganya tidak salah dengar. Nara lantas mengangguk. “Lalu kenapa bukan dia sendiri yang kemari?”

“Tanyakan sendiri saja.”

Hyojin mengangguk. Tanpa berinisiatif menanggapi lagi, ia segera memberesi bukunya. Ruang musik berada di lantai pertama sehingga setelah keluar dari kelasnya, ia harus menuruni tangga terlebih dahulu.

Hyojin berbelok di salah satu tikungan lorong. Jalan itu merupakan salah satu ruangan yang paling ditakuti anak-anak sekolahnya karena suasananya yang remang-remang walaupun di siang hari sekalipun. Hyojin memang bukan orang yang percaya rumor aneh seperti itu, tapi keadaan di mana hanya dirinya yang berada di lorong membuat Hyojin berjalan dengan perlahan.

Selangkah.

Demi selangkah.

Hingga Hyojin merasakan bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang, ia lantas menoleh ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

Yeah, mungkin itu memang hanya pikirannya saja.

Ketika Hyojin hendak melangkah, tangannya tiba-tiba saja ditarik oleh seseorang. Cukup keras, sampai-sampai punggungnya membentur di dinding dengan sebuah telapak tangan yang membekap mulutnya. Dalam sejekejap mereka sudah berpindah ke dalam ruang pertemuan.

“YAAA—”

“Ssttt… ini aku!”

“YA!” Hyojin buru-buru mengubah teriakannya dalam mode berbisik. Untung saja ia sedang berbaik hati, sehingga tidak perlu melepaskan tinjunya pada wajah mulus Sehun.

“Kau baik-baik saja?”

“Kau gila ya memposting fotoku di akun SNS-mu?” Bukannya menjawab pertanyaan Sehun, Hyojin malah melontarkan pertanyaan lain.

“Berarti kau baik-baik saja.” Sehun menyeringai. Tidak memedulikan bagaimana raut frustasi Hyojin saat mengatakannya, “Ini yang kau sebut mengerikan?”

Hyojin mencebik. Ini baru permulaan, terlalu dini untuk menyimpulkan. Sehun tidak tahu saja bagaimana liarnya mereka.

“Teleponku kenapa tidak diangkat?”

“Hah?” Perlu beberapa detik untuk Hyojin memahami pertanyaan Sehun. Barulah setelah itu ia buru-buru mengecek ponselnya. Di sana tertera 5 panggilan tidak terjawab dari Sehun, “Sepertinya tidak sengaja ku-silent.” Hyojin memundurkan kepalanya, menghindari tangan Sehun yang hendak menjitaknya.

“Dasar!”

“Sudah ya, aku ada urusan.”

Namun lagi-lagi Hyojin kalah cepat. Sehun terlebih dulu menggapai tangannya, “Mau kemana?”

“Ruang musik.”

“Kenapa kau ke sana?”

Hyojin mengendikkan bahunya tanda tidak tahu, “Chanyeol Oppa yang memintaku ke sana.”

“Chanyeol … oppa?” ulang Sehun memastikan. Hyojin lantas mengangguk. “Kenapa kau memanggilnya oppa?”

“Dia yang menyuruhku.”

“Tidak boleh,” larang Sehun dengan nada tegasnya.

“Kenapa?”

“Pokoknya tidak boleh!”

“Tapi Chanyeol Opp—”

“Sekali lagi memanggilnya oppa, kucium kau.”

Hyojin lantas tertawa. Setelah beberapa kali bersama dengan Sehun ia sadar jika hampir setengah dari yang ia katakan hanyalah bualan, “Ancamanmu benar-benar menyedihkan,” ucap Hyojin dengan kepala yang menggeleng-geleng bak meremehkan, “sudah, aku harus pergi sekarang.”

Dan untuk kesekian kalinya Sehun kembali menahan tangan Hyojin, “Kau tidak akan pergi kemana-mana.”

“Apalagi kali ini? Chanyeol—”

Sehun memutar matanya malas. Laki-laki itu lagi, “Kalau itu masalahnya, aku yang akan bilang padanya nanti.”

oOo

“Aish, kenapa beli es krim? Kau kan baru saja sembuh,” protes Sehun ketika melihat Hyojin keluar dari toko makanan dengan membawa sebuah es krim ukuran jumbo. Ia baru saja selesai mengantarkan Hyojin dari toko buku karena gadis ini tidak mau berhenti merengek tentang Harry Potter dan para kawannya. Parahnya lagi, Sehun yang harus membayar semua belanjaannya sebagai hukuman karena melarang menemui Chanyeol-begitu katanya tadi.

“Dasar cerewe—hei, kembalikan!” teriak Hyojin ketika mendapati es krimnya kini sudah berpindah ke tangan Sehun—ralat, mulut Sehun lebih tepatnya. Tubuh mungilnya melompat-lompat, berusaha menggapai es krim dari tangan Sehun lebih tinggi 10 cm darinya sehingga tangannya hanya mampu menggapai sampai atas sikunya saja.

“Tidak boleh!”

“Dasar menyebalkan!”

“Makan saja punyamu.” Sehun memberikan sebuah kue pada Hyojin. Melihat ekspresi kesal sejak tadi tidak mau terlepas dari wajah Hyojin membuat Sehun gemas sendiri. Ia lantas mengacak rambut Hyojin sebelum berjalan lebih dulu menyusuri mall ini.

Hyojin mencebik, namun tetap mengekori Sehun, “Kakimu sudah tidak apa-apa?” tanyanya ketika melihat cara berjalan Sehun yang sedikit pincang.

Mendapati pertanyaan Hyojin, Sehun refleks melirik kakinya, “Sudah lumayan.”

“Perlu kugendong?”

“Candaanmu payah sekali.”

“Siapa yang bercan—” ucapannya terputus ketika Sehun tiba-tiba menutup mulut Hyojin menggunakan tangannya. Hyojin tentu saja protes, namun buru-buru mengurungkan niatnya tersebut ketika melihat Sehun tengah berbincang dengan seseorang melalui ponselnya.

“Kau bawa kemana Hyojin?!”

Baru saja Sehun akan menyapa dengan kata-kata seperti ‘halo’ dan semacamnya, tapi sang penelepon lebih dulu berteriak dengan nyaringnya. Refleks Sehun menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Dia di sampingku, ada apa?”

“Ada apa kau bilang? Berikan ponselnya pada Hyojin!”

Bisa tidak Chanyeol tidak berteriak? Gendang telinganya hampir pecah setiap kali mendengar laki-laki ini berbicara.

“Tidak mau.” jawabnya lagi sembari mengangkat tinggi-tinggi ponselnya. Rupanya Hyojin sejak tadi mendengar percakapannya. Gadis itu terus saja menarik-narik seragamya serta merengek untuk menyerahkan ponselnya pada Hyojin. Sehun jadi bingung harus menempatkan fokusnya ada siapa.

“Pokoknya dia tidak akan pergi kemana-mana. Sudah ya?”

“Tunggu! Oh Sehu—”

Tanpa mempedulikan protes dari Chanyeol, Sehun terlebih dulu memutuskan sambungan teleponnya. Namun belum sempat ia mendapatkan ketenangan, protes keduanya terlebih dulu datang. “Kenapa kau matikan?”

“Dia berisik.” Sehun melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Hyojin di belakang masih dengan raut kesal.

Tidak mau menyerah, Hyojin kembali menarik kaus Sehun, “Sudah, ayo kita kembali saja. Chanyeol oppa pasti sudah men—”

Cup.

Hyojin terdiam.

Itu tadi apa?

“Sudah kuperingatkan kau untuk tidak memanggilnya oppa.” Sehun memberi penekanan pada bagian akhir. Tapi tampaknya itu sia-sia melihat sang lawan bicara masih setia terdiam di tempatnya.

“Kk..kau.. apa yang kau la..lakukan tadi?” ucapnya terbata. Ah, memalukan sekali. Kendalikan dirimu Park Hyojin!

Sehun menyeringai, “Kau bilang mau makan es krim tadi.”

“Hah?”

“Mau lagi?”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Boleh.”

oOo

Musik berdentum sangat keras di salah satu bar elit Seoul. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang karena memang hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Salah satunya adalah seorang wanita di sudut ruangan yang tengah menghabiskan tetes terakhir dari vodka di gelasnya. Sudut bibirnya terangkat ketika melihat orang yang ditunggunya datang dengan sebuah amplop di tangannya, “Pesananmu,” ucapnya sembari menjatuhkan tubuhnya pada sofa.

Thank you,” jawabnya dengan riang, “kulihat dari wajahmu tampaknya belum ada perkembangan.”

Laki-laki itu mengangguk setuju, “Orang-orang itu sangat pandai membereskan pekerjaannya, menyebalkan sekali.” Ucapannya itu mengundang tawa dari wanita dihadapannya. Ia melonggarkan ikatan dasinya. Menambah kesan berantakan yang sudah kentara, “Lalu bagaimana dengan Park Hyojin?”

Wanita yang awalnya fokus pada tumpukan dokumen yang baru dibawa mendongakkan kepalanya, “Gadis kecil itu?” Ia menyeringai, “Tenang saja, biar aku yang tangani.”

-oooOooo-

Ini absurd banget, sumpah XD. Kalo ada typo dan semacamnya tolong dimaklumi, lagi males revisi :v

Keep in touch with me:
Wattpad:
Keizester
Personal Blog:
seveneXsion

Regards,
Damchuu

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Ninth Page”

  1. Entah humorku yang lagi receh… Ngakak pas bgian postingan sehun-chanyeol samaan, trs pas sehun larang hyojin manggil oppa ke chanyeol. Heuuu bilang aja kmu cemburu hun, atau kmu mau dipanggil oppa juga? 😌😌

  2. Aduh … aku ngakak pas Yuta manggil Nara ‘Putri Fiona’ – awalnya aku kira pujian. Tapi tiba2 inget film Shr*k 😀
    Dan Sehun … OMO!! OMO!! cemburu kamu, nak? Main nyosor aja.. >//<
    Hmmm~ di paragraf terakhir, kira2 bakal terjadi apa ya?
    Keep writing and fighting, Chingu -ya … ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s