[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 11)

Our Story [Chapter 11]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, sad/hurt, school life

Length : Chaptered

Rate : T

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 11

Exam

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Jangan lupa tinggalkan jejak ya…

♣ ♥ ♣

Katanya waktu berlalu dengan cepat jika kau menikmatinya. Ternyata itu benar. Sehun, dan Ah Ra merasa baru beberapa hari lalu mereka pacaran. Dan apa? ini sudah bulan ke –empat mereka menyandang status sebagai pasangan kekasih. Waktu berlalu sangat cepat saat mereka menikmati masa-masa indah pacaran. Oh, tak usah diceritakan, sekali lihat saja semua orang juga bisa tahu mereka sangat bahagia. Tapi mereka melupakan sesuatu. Mereka itu masih seorang pelajar. Seorang pelajar yang masih harus melewati ujian untuk bisa naik kelas. Sehun sebenarnya masa bodoh dengan semua ujian itu. Toh dengan tidak belajar ia tetap bisa naik kelas tahun lalu. Peduli apa soal peringkat, yang penting naik kelas.

Itu tahun lalu. Saat Sehun bisa tetap berleha-leha dimasa-masa ujian. Tahun ini tidak. Ada Ah Ra yang terus mengomelinya dan menyuruhnya belajar setiap hari. Sehun sudah menolak dengan ketus. Ia juga sudah mencoba merayu kekasihnya itu agar berhenti menjejalkan semua buku dan soal itu padanya. Tapi tak berhasil. Ah Ra tetap bersikukuh menyuruh Sehun belajar.

Ah Ra sendiri bukan tidak paham dengan perangai Sehun. Ia hanya sangat ingin Sehun berubah. Sebentar lagi mereka kelas tiga, dan tak mungkin Sehun bisa terus-terusan begini. Kekasihnya itu bisa tak lulus nantinya. Karena itu meski yang mereka akan hadapi ini baru ujian kenaikan kelas, Ah Ra tetap berusaha sangat keras membuat Sehun mau belajar. Oh, Ah Ra sama sekali tak menyangka. Apa selama ini ia tak memperhatikan Sehun selama dikelas? Bagaimana mungkin ia tak tahu bahwa pria itu bahkan tak pernah membuka bukunya?

“Sehun, setidaknya lihat soal yang aku sedang jelaskan” kata Ah Ra frustasi. Ia sudah selesai menjelaskan lima belas soal, sementara Sehun bahkan tak membuka bukunya.

“sayang, aku sudah pernah melakukan ini. Percayalah, aku pernah melalui ini dengan cara baik” Sehun berucap sembari memegang tangan Ah Ra dan menunjukkan wajah sok manisnya

“berada di peringkat terakhir, kau bilang baik?” Ah Ra menarik dan memindahkan tangannya yang semula di genggam Sehun ke kepala pria itu

“apa gunanya peringkat? Yang penting itu naik kelas” protes Sehun sembari memegangi kepalanya yang lumayan sakit akibat pukulan Ah Ra

“terserahmu. Jangan salahkan aku jika nanti aku meminta Sae Jin yang mengajarimu” Ah Ra tak punya pillihan lain. Ia kewalahan menghadapi Sehun. Maka jalan terakhir yang bisa ia ambil hanyalah mengancam Sehun. Asal tahu saja, Sehun menganggap diajari Sae Jin lebih menyeramkan daripada berkelahi melawan bos mafia

“oh, tidak. Jangan Sae Jin. Kau paham benar seberapa menyeramkannya gadis itu saat mengajari seseorang. Jangan, jangan Sae Jin” Sehun berucap sembari membuka bukunya.

Sehun benar-benar tak ingin mengulang pengalamannya beberapa bulan lalu. Saat ia dan Ah Ra meminta Sae Jin mengajari mereka. Sehun bukannya berlebihan. Tapi Sae Jin memang semenyeramkan itu. Gadis itu akan terus menjelaskan, tanpa peduli dirinya sudah hendak muntah. Gadis itu bahkan melempar Sehun dengan penghapus, karena mengajak Ah Ra mengobrol saat ia menjelaskan. Sae Jin bisa jadi mimpi buruk. Jadi sekarang ia memilih menurut pada Ah Ra saja

“Sae Jin, kau tak tahu seberapa banyak aku menyayangimu” gumam Ah Ra dengan senyum puas

Jika Sehun dan Ah Ra memilih belajar di dalam kelas yang memang sedang sepi, kerena semua murid sedang belajar di perpustakaan atau tempat lain,  maka Sae Jin dan Chanyeol memilih lantai atap sekolah sebagai tempat mereka belajar. Beberapa bulan berlalu dan tempat ini menjadi tempat favorit Sae Jin dan Chanyeol. Lebih tepatnya, tempat kesukaan Sae Jin. Karenanya Chanyeol merubah lantai kosong itu menjadi tempat yang nyaman seperti sekarang. Dari barang-barang tak terpakai, tapi masih bagus di gudang, Chanyeol membuat tempat itu nyaman. Ada empat kursi dan dua meja. Serta tenda yang melindungi mereka dari teriknya sinar matahari maupun hujan

“Sae Jin, kau tidak lapar?” tanya Chanyeol sembari memperhatikan wajah serius Sae Jin didepannya. Mereka duduk berseberangan di satu meja.

Sae Jin hanya menjawab dengan gelengan dan terus focus pada buku didepannya. Gadis itu bahkan tak menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencatat.

Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Sae Jin selalu se-serius ini jika sedang belajar. Tidak tahukah gadis itu bahwa Chanyeol ingin makan bersamanya? Tak kehabisan cara, Chanyeol lalu dengan sengaja mendorong buku Sae Jin dengan sikunya. Chanyeol pikir Sae Jin akan menyadari maksudnya, tapi apa? gadis itu malah menggeser bukunya agar tak bersentuhan dengan siku Chanyeol

Sae Jin melirik sekilas pada Chanyeol dengan alis menukik, seolah kesal. Padalah Sae Jin hanya pura-pura. Ia paham apa yang Chanyeol inginkan. Ia hanya ingin menjahili Chanyeol. Sekedar mengingatkan. Jika Sehun dan Ah Ra sudah menjadi pasangan kekasih, tidak dengan Sae Jin dan Chanyeol. Mereka belum resmi menjadi pasangan kekasih. Bukannya Chanyeol tak berani mengungkapkan perasaannya pada Sae Jin. Tapi Sae Jin yang tak ingin mendengar pernyataan cinta dari Chanyeol.

Tepatnya dua minggu setelah kejadian di halte bus, Chanyeol mengajak Sae Jin ke lantai atap ini. Tujuannya apa lagi jika bukan mengungkapkan perasaannya. Sehun dan Ah Ra sudah meresmikan status mereka, dan Chanyeol pikir hari itu adalah kesempatan bagus. Tapi belum sempat Chanyeol berucap hari itu, Sae Jin sepertinya sudah lebih dulu mengerti.

Chanyeol masih ingat. Sae Jin saat itu menunduk, memilin jemarinya dan berucap dengan hati-hati. Pertama kalinya ia melihat Sae Jin merasa khawatir dan gugup.

 

Flashback

“aku tahu apa yang ingin kau katakan. Tapi kau harus tahu. Aku belum sedewasa Sehun dan Ah Ra. Hubungan seperti itu butuh komitmen dan juga rasa tanggung jawab penuh. Lagipula_” Sae Jin tampak sangat ragu sebelum akhirnya lanjut berucap, “lagipula, aku hanya ingin menyukai satu pria seumur hidupku. Pria pertama yang kusukai, dan nantinya akan jadi pria terakhir yang akan aku cintai seumur hidupku” selesai dengan kalimat barusan, Sae Jin mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk dan menatap Chanyeol penuh harap. Berharap, pria itu mengerti

Sae Jin ragu. Bukan pada Chanyeol, tapi pada dirinya sendiri. Hidupnya sendiri saja sudah cukup menguras tenaga. Sebut saja soal sekolah, soal beradaptasi di luar rumah juga soal hubungannya dengan sang ayah yang tak kunjung membaik. Sae Jin merasa belum pantas untuk bisa menyandang gelar sebagai kekasih Chanyeol. Masalahnya sendiri saja belum bisa ia tuntaskan, bagaimana bisa ia mengurusi Chanyeol nantinya? Bukankah hubungan asmara seperti yang Chanyeol maksud bertujuan membuat satu sama lain merasa bahagia? Jika boleh jujur, Sae Jin belum yakin ia bisa membuat Chanyeol bahagia.

Chanyeol terdiam. Ia tak tahu kenapa dirinya merasa sangat senang atas penolakan Sae Jin barusan. Bukankah harusnya ia sedih? Ia baru saja kalah sebelum berperang. Barulah setelah Sae Jin mengucapkan kalimat berikutnya, Chanyeol paham kenapa ia tak harus bersedih

“aku harus jadi diriku yang paling baik untukmu. Karena itu jika kau tak keberatan, tunggu aku” Sae Jin berucap masih dengan menatap Chanyeol. Perlu Chanyeol tahu, Sae Jin mati-matian menahan tangannya yang gemetar dan juga perutnya ingin meledak karena mendadak banyak kembang api disana

Chanyeol paham maksud Sae Jin. Pria lalu memberikan senyuman terbaiknya sebagai jawaban pada mata penuh harap gadis didepannya. Menunggu kata Sae Jin? kenapa tidak?

“kau tahu? Dirimu yang sekarang ini sudah terlihat sangat baik dimataku dan sudah sempurna untuk hatiku. Tapi jika itu kemauanmu. Baiklah, tak masalah. Akan kutunggu”

Chanyeol pun mengajak Sae Jin pergi darisana. Di jalan menuruni tangga, Chanyeol bertanya pada Sae Jin yang berjalan dibelakangnya. Sebenarnya ia hanya ingin menghapus suasana canggung diantara mereka

“bisa kau beri aku semacam jaminan? aku butuh jaminan” Chanyeol berucap dengan yakin. Ia perlu memastikan bahwa pria yang Sae Jin maksud adalah dirinya.

Sae Jin lalu turun satu langkah dan membuat dirinya sejajar dengan Chanyeol. Gadis itu menggerakkan tangannya, lalu memasukkannya kedalam saku blazer Chanyeol. Aduh, Sae Jin merasa seperti gadis aneh sekarang. Kenapa tidak memegang tangan Chanyeol saja? kenapa malah memasukkan tangannya ke dalam saku jas sekolah Chanyeol?

“ah, kenapa aku seperti ini? harusnya aku memegang tanganmu ‘kan?” sungut Sae Jin sembari menunduk malu. “maaf, tapi aku belum berani memegang tanganmu” tambah Sae Jin

Chanyeol hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir mengapa bisa menyukai gadis seaneh Sae Jin. Tapi apa peduli Chanyeol? Dia bahagia. Bahkan karena perbuatan tak biasa Sae Jin barusan ia sudah sangat senang

Flash back end

 

Chanyeol tersenyum saat kembali mengingat momen itu. Pria itu kemudian kembali menyikut buku Sae Jin dan akhirnya berhasil mendapat atensi gadis itu. Sae Jin akhirnya menoleh padanya

“aku ingin makan” kata Chanyeol

“aku tahu. Kenapa tidak makan saja? kenapa mengganguku?” Sae Jin bicara sambil menutup buku-bukunya dan menggeser benda itu ke pinggir meja.

Sae Jin lalu mengeluarkan kotak bekal Chanyeol dari tas pria itu. Membukanya, menyodorkannya ke depan Chanyeol, lalu memberikan sendok pada pria tadi. Sembari Sae Jin melakukan semua hal tadi, Chanyeol tak henti memandang gadisnya dengan tersenyum

“makanlah” ucap Sae Jin dengan lembut sembari menopang dagu didepan Chanyeol

“aku ingin makan bersamamu”

“aku disini. Aku akan melihatmu makan” tolak Sae Jin. Ia sedang tak berselera untuk makan saat ini

“bagaimana bisa aku makan, sementara kau tidak? aku juga tak akan makan, jika kau tidak makan” Chanyeol menjauhkan kotak bekalnya. Ia memang lapar, tapi makan sendirian sementara Sae Jin tak makan, bukanlah sesuatu yang ia sukai. Ia tahu Sae Jin memang kehilangan nafsu makan beberapa hari ini. Karena itu ia memaksa sekarang. Ia tak ingin Sae Jin sakit nantinya. “makan bersamaku ya?” bujuk Chanyeol sembari mengisi penuh sendoknya, lalu meletakkannya di depan Sae Jin. Ia sebenarnya tak merasa keberatan untuk menyuapi Sae Jin. Tapi ia yakin gadis itu akan menolak

“satu suap saja. Setelah itu kau yang makan” Sae Jin mengalah dan menuruti kemauan Chanyeol. Dengan wajah tak suka ia mengunyah makanannya

Chanyeol juga menurut. Dengan berat hati ia menghabiskan makanannya sendirian. Sembari makan, Chanyeol mengajak Sae Jin bicara soal bagaimana mereka nantinya. Sebentar lagi Sae Jin akan naik kelas. Itu artinya, Chanyeol akan lulus. Lantas bagaimana mereka nanti?

“dunia tak akan kiamat. Kau mau tak lulus?” tanya Sae Jin karena tak tahan melihat wajah sedih Chanyeol. Sae Jin juga pernah memikirkan ini. Ia juga merasa sedih, tapi mau bagaimana? Chanyeol harus tak lulus agar mereka bisa tetap bertemu setiap hari? Lagipula Chanyeol akan kuliah, bukannya pindah keluar negeri atau luar bumi

“kau harus memegang kata-katamu. Jangan coba-coba melirik pada pria lain”

“aku hanya menyukai satu pria di bumi. Tenang saja” balas Sae Jin sambil kembali membuka bukunya. Chanyeol sudah selesai makan, dan itu artinya mereka harus lanjut belajar

“oh, benarkah? Kau yakin? Meski ada pria yang lebih tampan dariku? Meski dia lebih mempesona dariku? Meski nanti kau sudah kuliah?” tanya Chanyeol bersemangat.

Chanyeol tak perduli soal status mereka yang nyata-nyata belum siapa-siapa. Ia menyayangi Sae Jin dan begitu sebaliknya. Peduli apa soal status jika hatimu sudah memilih?

“hanya Chanyeol, bahkan hingga waktuku di bumi berhenti”

Chanyeol tersenyum sembari menggeleng. Harusnya ia yang membuat Sae Jin terbang kelangit, tapi apa barusan? Dirinya sendiri yang terbang. Oh, Chanyeol tak mampu menahan senyum lebarnya.

Sae Jin melirik pada wajah tersenyum Chanyeol, gadis itu lalu menggeleng pelan, “jangan tersenyum seperti itu, aku masih harus belajar” gumam Sae Jin berusaha focus pada bukunya

~

Hari berikutnya dilalui siswa kelas dua dengan liburan karena siswa kelas tiga sedang manghadapi ujian akhir mereka. Setelah Chanyeol selesai ujian, selanjutnya Sehun, Ah Ra dan Sae Jin lah yang menghadapi ujian kenaikan kelas.

Hasilnya, sudah tentu bisa ditebak. Sae Jin, Ah Ra dan Sehun berhasil naik ke kelas tiga, sedangkan Chanyeol berhasil lulus, dan diterima di universitas yang ia inginkan.

~

Selama berada di tingkat akhir sekolah, tak banyak yang berubah pada rutinitas Sehun, Ah Ra dan Sae Jin. Semua hampir sama, kecuali jam belajar yang bertambah.

Keadaan yang tak berubah juga terjadi pada hubungan Sae Jin dan ayahnya. Pria itu masih saja dengan egonya dan pikiran sempitnya. Ibu Sae Jin sudah lelah menjelaskan pada suaminya. Sekarang wanita hanya focus merawat Sae Jin dan memastikan putirnya itu tak kehilangan kasih sayang darinya.

Mungkin Sehun adalah satu-satunya orang yang merasa hidupnya berubah. Melihat usaha ayahnya yang tak pernah lelah mengetuk hatinya, Sehun luluh. Ia mulai ikut melunakan hatinya dan alhasil hubungannya dengan sang ayah semakin membaik. Belum lagi hubungan Sehun dengan Ah Ra yang semakin hari terasa sangat manis. Meski terkadang ada pertengkaran karena mereka berdua sama-sama keras kepala, dan Sehun bukanlah tipe pria disiplin seperti yang Ah Ra inginkan, tapi mereka masih bisa melewati itu.

 

Few months later

“aku tak mau menonton film seperti itu lagi” Ah Ra bicara sambil membenarkan rambutnya yang lumayan tak beraturan

Sehun, Ah Ra, Sae Jin, dan Chanyeol baru saja keluar dari gedung bioskop. Hari ini adalah hari terakhir ujian kelulusan untuk Sehun, Ah Ra dan Sae Jin. Ide menonton adalah milik Chanyeol. Tapi film horror adalah ide Sehun.

“film tadi seru, Ah Ra. Kau saja yang terlalu penakut. Lihat Sae Jin” Sehun menunjuk Sae Jin dengan dagunya, dan pria itu langsung mendapat tatapan tak suka dari Sae Jin

“Sae Jin memang tak takut pada apapun” sungut Ah Ra

“kalian sudah menentukan akan kuliah di universitas mana?” tanya Chanyeol sambil melirik pada Sae Jin yang berjalan di sebelahnya. Chanyeol sangat berharap Sae Jin akan meneruskan kuliah di universitas yang sama dengannya, agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama nantinya

Maksud Chanyeol ini ditangkap dengan baik oleh Sehun dan Ah Ra. Dua orang itu tersenyum penuh maksud sembari menatap Chanyeol

“kau akan kuliah di kampusnya Chanyeol oppa ‘kan Sae Jin?” tanya Ah Ra meledek

“…” Sae Jin diam.

Gadis ini sedang bingung. Ini juga yang sedang menggangu pikirannya akhir-akhir ini. Kuliah? Haruskah ia kuliah? Bukannya Sae Jin tak mau, hanya saja ia seperti butuh waktu untuk memikirkan masa depannya. Ia merasa butuh berpikir tentang apa yang ingin ia lakukan, apa yang ia harus lakukan dan apa yang akan ia lakukan

Chanyeol ikut terdiam dan menatap Sae Jin. Ia merasa ada yang sedang mengganggu pikiran gadisnya. Chanyeol paham bagaimana Sae Jin. Jika gadis itu diam, menunduk dan memainkan kakinya, itu artinya Sae Jin sedang memikirkan sesuatu yang rumit.

Chanyeol sedikit kecewa. Ini artinya ada kemungkinan Sae Jin tak akan masuk di universitas yang sama dengan dirinya.

“hey..” Chanyeol berucap sambil menginjak pelan ujung sepatu Sae Jin dan berhasil membuat Sae Jin tersadar. Gadis itu menatap Chanyeol dengan bingung
“kau mau es krim?” tawar Chanyeol

“aku mau dua” jawab Sae Jin

“jalan” setelah Chanyeol berucap Sae Jin lantas melangkah menuju tempat penjualan es krim. Chanyeol segera menyusul setelah menyuruh Sehun dan Ah Ra menunggu di tempat parkir

Ah Ra yang melihat adegan barusan tersenyum kecil. Ah Ra selalu terpesona dengan perlakuan Chanyeol pada Sae Jin. Pria itu bahkan tak menuntut adanya status diantara mereka, tapi tetap memegang janjinya untuk menunggu. Pria itu juga selalu mencoba mengerti semua yang Sae Jin inginkan. Lihat saja. Chanyeol berjalan dibelakang Sae Jin, dan bukannya disebelah temannya itu. Karena apa? Karena Sae Jin suka saat Chanyeol berjalan dibelakangnya. Tidakkah mereka sangat manis?

“Ah Ra? Kau sedang apa?” tanya Sehun yang bingung akan senyuman kekasihnya itu

“tidak ada. Ayo”

 

Sae Jin tak bisa menahan diri untuk tak menikmati dua es krim ditangannya. Gadis itu terlalu focus pada benda itu, hingga tak memperhatikan jalan menuju tempat parkir. Chanyeol juga sedang focus memegang tiga es krim dibelakang Sae Jin. Mereka berdua terkejut saat suara klakson mobil terdengar sangat keras.

 

TIIIIIIINNNN…..

….

To Be Continued …

 

Terima kasih sudah membaca…

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 11)”

  1. Kayaknya so sweet pasangan saejin ama chanyeol deh..,pembuktian cinta g perlu kata2,tapi dengan perbuatan..,kenapa mesti Tiiiinnn sih..trus TbC. Positif thinking aja deh..lanjut thor..

  2. Dear Chanyeol, bkn dirimu saja yg melted denger kata-kata (penolakan) Saejin.. daku juga >//< biarpun di tolak, tp rasanya kok tetep adem ya 😀
    Fighting Chanyeol – Saejin ❤
    Aku harap-harap cemas setelah baca kalimat 'Tiiiinnn' U_U
    Keep writing & fighting Chingu -ya …
    #XOXO

  3. Ini hasil kejadian dari tiinnnnnn nya romantis : chanyeol ngelempar eskrimny trus nangkap sae jin.
    Ato miris : saejin/chanyeol ketabrak trus es krimny mental ksna kmari n leleh kena matahari???
    Demiii apaaaa syebel akyu tuh liat kata tiiinn trus continue 😂😂😂

    Fighting!!!💪💪💪😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s