[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 6)

c5c4b3671362981ade35f2e880264cb9

[6] Love You More

Love, Friends and Ambition

Tittle        = Love You More  (Love, Friends and Ambition)

Author        = Park Shin

Main Cast    = Kim Arin, Byun Baekhyun, Oh Jiho, Kim Taehyung BTS

Cast        = EXO’S members, Yoon Ara, Moon Sojin, Other’s Idol

Genre        = School Life, Friendship, Romance

Length        = Chaptered (16 Eps)

Rating        = General

Disclaimer    = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[6]

Belajar mencintai

Sekembalinya mengantar Arin. Baekhyun menjatuhkan dirinya ke sofa. Keempat temannya yang terkejut dengan kehadirannya lalu mempause film yang baru setengah mereka tonton.

“Kau sudah mengantar Arin? Tanya Kyungsoo dan dijawab anggukan Baekhyun.

“Dia menginap di rumah temannya. Dekat dari sini”

Mereka berempat mengangguk. Kyungsoo menatap Baekhyun lalu duduk disebelah sofa Baekhyun.

“Hey, Baek. Kau tidak ingin mengatakan sesuatu??” Kyungsoo memecah keheningan dibeberapa menit saat mereka kembali menonton film.

“Mwo?” Ungkap Baekhyun yang menyembunyikan wajahnya dibawah bantal.

“Tentangmu dan Kim Arin.”

Baekhyun menatap Kyungsoo sekilas lalu kembali memejamkan matanya.

“Kami Baik-baik saja”

“Kau akan tetap melakukan ‘ini’ Baek?” Kali ini Kai ikut bersuara.

Hening beberapa menit sampai akhirnya Chanyeol mempause filmnya.

“Baiklah sepertinya kita akan membahas hal lain dulu.” Ungkap Chanyeol.

Sehun menepuk punggung  Baekhyun pelan “Hei Bung. Kau tidak akan menjadi pengecut kan?”

Baekhyun hanya diam , perlahan ia membuka bantal yang menutupi wajahnya lalu menatap langit-langit.

“Kalau alasanmu melanjutkan hubungan ini adalah untuk tidak melukai Kim Arin.” Kyungsoo mengambil jeda “… maka menurutku ini salah Baek”

Baekhyun akhirnya duduk dan menatap Kyungsoo lamat-lamat.

“Kyungsoo benar.” Kai  menimpali “Kim Arin, dia terlalu baik untuk berada di hubunganmu dan Jiho”

“Bolehkah aku bertanya satu hal padamu Baek?” Kyungsoo bertanya kembali dan Baekhyun menatapnya.

“Apa kau menyukai Kim Arin?”

Baekhyun bungkam. Ia sendiri tidak tahu dengan kemelut hatinya. Sejujurnya jika boleh diungkapkan dia merasakan agak sedikit melupakan.. Jiho.

“Oke-oke. Aku tidak ingin memaksamu untuk menjawab pertanyaan tadi. Tapi… kumohon Baek aku sangat sangat tidak setuju jika kau melukai Kim Arin lebih Jauh lagi.” Ungkap Kai yang mendapat anggukan dari Kyungsoo, Sehun dan Chanyeol.

“Kau tahu Baek, saat melihatmu bersama Kim Arin. Aku merasa kau sangat tertekan.” Chanyeol mendekat ke Baekhyun. “Sebagai temanmu yang sudah bersama sejak masa puber, aku ingin kau menceritakan masalahmu seperti kau yang biasanya.” Kali ini Baekhyun menunduk.

“Lalu.. apa yang harus aku lakukan?” Baekhyun menghela nafas panjang setelah mengatakannya.

“Aku tidak tahu ini menjadi jalan keluar atau tidak, tapi aku punya ide”Kai  yang menjumput sisa snack di bungkus yang ia genggam, lalu menepukan tangannya untuk menghilangkan remah-remah yang tersisa

“Aku rasa daripada mengungkapkan yang sebenarnya.” Kai menatap Baekhyun “Cobalah untuk mencintai Kim Arin, Baek…”

Baekhyun mendelik “Kau gila?”

Kai mengayunkan tangannya diudara dan membuat tanda ‘tunggu dulu’

“Maksudku sambil menunggu Oh Jiho kembali, cobalah untuk mencintai Kim Arin. Kalau kau memang ditakdirkan dengan Jiho, maka gadis sebaik Kim Arinpun, tidak akan membuat perasaanmu berubah. Tapi… kalau, hatimu goyah pada Kim Arin dan seketika kau mencintainya melebihi cintamu pada Oh Jiho, aku rasa kau menemukan cinta sejatimu. Baek”

PROK PROK PROK

Chanyeol menganggetkan mereka berempat dengan tiba-tiba bertepuk tangan. Sehun yang berada disampingnya menonyor Chanyeol karena nyaris saja jantungnya copot.

“Kau mengagetkanku Chan” Sungut Sehun kesal. Lalu ia kembali menatap Baekhyun.

“Aku tidak begitu yakin dengan ucapan Kai, tapi kurasa itu bukan ide buruk” Ungkapnya setelah puas menonyor Chanyeol

Kyungsoo menepuk bahu Baekhyun lembut “Cobalah untuk belajar mencintainya, Baek.”

Chanyeol merengkuh Baekhyun dan menjitak rambutnya membuat Baekhyun menggeliat di pelukan Chanyeol “Baiklah. Mulai sekarang jangan menyimpan beban sendiri eoh?”

Baekhyun tersenyum dalam hatinya ia bersyukur walau ia diciptakan dengan otak super lambat dan kebodohan yang teramat sangat, ia memiliki sahabat yang mau menerima dirinya apa adanya.

Dan Baekhyun sangat mensyukurinya.

***

Kim Arin masih seperti biasanya, menyapa hangat orang-orang yang ia jumpai. Ia berjalan dengan membawa beberapa buku paket di tangannya dan sesampainya ia digerbang, ia mendapati Byun Baekhyun dan teman-temannya  sedang dihukum didepan pos satpam.

“MASUKAN KEMEJANYA” Yoon Saem menusukan ujung galahnya di pinggang Sehun, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun dan Kai.

“Nde Saem.”

“Sampai kapan kalian seperti ini terus eoh?” Tanya lelaki paruh baya yang sudah mulai memutih rambutnya.

“SANA MASUK KELAS”

“NDE.”

CTAK.CTAK.CTAK.CTAK.CTAK

Sebagai penutup manis dari Yoon Saem dan galahnya, mereka harus menahan perihnya pantat yang terkena sambaran galah.

Arin menghampiri Baekhyun dan mendapati lelaki itu terkejut dengan kehadirannya.

“Gweenchanayo?” Sapa Arin dan hanya dibalas anggukan Baekhyun.

“Annyeong Kim Arin” Sapa Kai lalu dibalas senyuman oleh gadis tersebut.

“Kau menunggu Baekhyun?” Tanya Kyungsoo lalu Arin hanya tersenyum tipis.

“Ugh, romantis sekali” Goda Chanyeol lalu mendapat acungan jempol dari Sehun.

“Kalian baik-baik saja?” Arin bertanya pada keempat namja itu karena melihat adegan tadi.

“Sudah biasa kok” Sehun melakukan wink tapi gagal dan membuat Arin terkekeh.

Keempat namja itu melirik Baekhyun dan menggerakan bibirnya tanpa suara dan tentunya tanpa sepengetahuan Arin.

‘Antar dia..’ Ucap mereka yang membuat Baekhyun menggaruk rambutnya yang tak gatal.

“Aish..” Desis Baekhyun “Ayo kuantar kau ke kelas”

Arin tersenyum simpul lalu merasakan lengan Baekhyun merangkulnya dan meninggalkan keempat temannya yang menggodanya dari belakang.

“Ciee..cie…”

***

“Mau kubawakan?” Arin menoleh. Lalu Baekhyun mengambil 3 buku paket yang dibawa Arin tadi. “Logaritma, Kimia dasar, Fisika Murni” Baekhyun menggelengkan kepalanya “Apa otakmu tidak panas membacanya?” Baekhyun menaikan selempang tasnya yang melorot.

“Tidak. Aku suka membaca buku itu” Arin tersenyum tatkala Baekhyun melihatdengan tatapan horornya pada buku tersebut.  “Tapi aku lebih suka dengan yang sedang membawa buku itu”

Baekhyun manyun lalu menghentikan langkahnya, otomatis Arin juga. “Kau sedang menggodaku, eoh?”

Arin meringis, ia meletakan kedua tangannya yang mengepal lalu melakukan aegyo ‘Sha-Sha-Sha’

“Ini baru menggoda, kan?” Arin menutup wajahnya “Astaga aku malu sekali”

Baekhyun terpaku tapi segera melukiskan senyum lebarnya. Ia tak menyangka gadis itu melakukan aegyo yang membuatnya malu seperti itu.

“Itu imut sekali..” Tanpa sadari Baekhyun mengacak-acak rambut Arin. “Kerja bagus” Lanjut Baekhyun disertai senyuman tipis.

Arin menunduk, menyukai perlakuan Baekhyun barusan.

“Baekhyun-ssi, terimakasih sudah mengantarku.” Baekhyun mengangguk, lalu melambai pada Arin yang sudah masuk ke kelas.

Didepan kelas Arin, Baekhyun masih terpaku dan tersenyum membayangkan aegyo Arin yang nampak lucu baginya.

‘Cobalah untuk mencintainya Baek..’

Dalam pikirannya kata-kata itu terus terngiang dan Baekhyun tanpa sadar menunjukan senyum tipis yang kian lama menjadi semakin lebar hingga mata sipitnya tenggelam

‘Bukan ide buruk’ Ungkapnya dalam hati

“Eh Baekhyun kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?”

“Dia gila”

“Mungkin dia kemasukan hantu”

“Tapi kenapa di depan kelas kita sih? Kan jadi menakutkan”

“Apa dia jadi sinting setelah pacaran dengan Kim Arin?”

“Arin memutuskannya mungkin”

“Dia lucu sekali sih. Ughh sayang sudah milik Arin”

“Kalian ini, berhentilah sok tahu dengan apa yang dilakukan Baekhyun”

“Memangnya kau tahu dia kenapa?”

“Tentu saja. Dia sedang mengejan”

Krik Krik Krik

***

Ini bukan pelajaran Olahraga namun kelas 11 A kosong dan hal tersebut digunakan anak laki-laki untuk bermain basket di lapangan indoor. Awalnya Kim Arin, Moon Sojin dan Yoon Ara tidak tertarik menonton mereka, sampai Irene dengan hebohnya keluar dari kelas disusul teman-temannya. Wendy Son yang sedang mengikat tali sepatunya yang lepas terpaksa berhenti didepan pintu walaupun ia ditinggal teman-temannya.

“Ada apa sih?” Keluh Sojin yang merasa kaget dengan kehebohan tadi.

Wendy menoleh “Kelas kita sedang tanding basket dengan kelas 11G.”

Kim Arin mendongak lalu setelah saling menatap. Yoon Ara mengangguk. “Kau mau nonton?” Ajak Ara dan mendapat anggukan dari Kim Arin.

Mereka menyusul Wendy dan teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai di tribun.  Disana Kim Arin duduk di deretan depan. Lapangan Indoor ini tidak begitu ramai, hanya ada beberapa anak perempuan dipinggir lapangan yang nampaknya adalah murid kelas 11G dan sebagian murid dari kelas 11 A yang ikut menonton.

Arin melihat ketengah lapangan dan disana ia melihat Byun Baekhyun yang melepas almamaternya dan membiarkan kemejanya basah oleh keringat. Arin tersenyum tipis dan merasakan hangat tatkala Baekhyun tersenyum, walau bukan kearahnya.

“Woah lihatlah, Kim Taehyung dan Baekhyun” Sojin menunjuk ketengah lapangan.

Rap monster dari pinggir lapangan menyuruh anak-anak kelas 11A untuk bersorak sebagai wujud menyemangati kelas, tidak mau kalah kelas 11G yang entah dari mana datangnya Yoon Bomi dan Jiyeon juga ikut berteriak layaknya orang gila dipinggir lapangan.

“Yak Son Naeun, jangan mau kalah” Teriak Rap Monster yang menarik Naeun ke bawah dan menyuruh Naeun memimpin pemandu sorak. Naeun yang awalnya malas akhirnya merasa terdorong juga.

“KELAS A KELAS A KELAS A..” Teriak Naeun lalu disambut oleh murid kelas 11A yang ikut-ikutan berteriak.

Kembali ke tengah lapangan dimana dua orang yang saling berhadapan kini menatap mata masing-masing.

“Si Peringkat ekor yang mendapatkan hati peringkat raja. Cukup menarik juga kisah kalian..” Taehyung memancing emosi Baekhyun tatkala mereka saling berhadapan

“Berhenti mengganggu Kim Arin” Ucap Baekhyun lirih namun bisa didengar Taehyung. Lelaki itu tersenyum miring.

“Kalau aku tidak mau?” Baekhyun memejamkan matanya, menahan amarah.

PRITTT

Bola orange itu melambung tinggi di udara. Taehyung berhasil mendapatkannya lalu menggiringnya ke kandang walau Baekhyun beberapa kali mencegatnya. Taehyung melemparkannya kepada Park Jimin dan

GREEP

Bola berhasil di block oleh Oh Sehun dan lelaki itu mengopernya pada Chanyeol. Lemparan yang dengan mudah di tangkap lelaki tiang itu hingga bisa menggiringnya ke kandang lawan dan

BLUKK

1-0

Kelas A seketika merasa kecewa. Son Naeun duduk dikursinya dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk lap keringatnya sampai akhirnya menemukan alamamater bername Tag “Rap Monster”

“Aish, sudah jelas kelas kita kalah.” Keluh Rap Monster, begitu sampai dikursinya ia terkejut mendapati almamternya digunakan Naeun untuk mengelap keringat.

“YAK! ARE U CRAZY?”

“I am not crazy, I am tired” Jawab Naeun yang membuat RapMonster mendengus sebal.

“Aku tidak akan memandu sorak lagi. Kelas kita jelas kalah” Ucap Naeun, membuat Irene yang ada disampingnya juga menatap malas kelapangan.

“Ish..” Gumam Irene “Sudah jelas kita kalah, untuk apa heboh heboh menyemangati mereka” Lirik Irene pada Naeun dan kedua orang itu saling menatap galak.

CEKREK

“Hyak Myungsoo…”

Kim Arin baru saja kembali dari kantin. Dibawanya dua botol mineral di tangannya. Moon Sojin mempersilahkan Arin duduk lagi dan menceritakan bahwa kelas A masih tertinggal jauh.

“Kau mendukung yang mana Arin?” Tanya Sojin dengan lirikan menggoda

Yoon Ara mendengus “Tentu saja Baekhyun. Tapi Taehyung keren juga” ucapnya menyindir Kim Arin.

Arin tersenyum “Aku mendukung dua-duanya” Lalu mereka kembali melihat kelas A yang berusaha mendapatkan bola yang terus saja bisa di block oleh kelas G.

PRITTT PRITTT

“HOREEEE” Riuh pekikan dan teriakan terdengar dari tribun sebrang. Mereka pendukung kelas G yang sudah jelas bisa melawan notabennya kelas A yang bagi mereka lawan kecil.

Kelas A dengan lesu tetap memberi tepuk tangan pada Kim Seokjin, Suga, Park Jimin, Sungkyu, Lee Sungyeol dan Taehyung”

“Gweenchana kalian hebat kok” Ujar RapMonster menunjukan dirinya sebagai Ketua kelas sekaligus teman yang baik untuk tetap menyemangati teman-temannya.

“Kalian keren kok” Ucap murid perempuan yang membuat keenam lelaki itu merasa senang walau mengalami kekalahan.

Kim Arin tidak mengikuti kerumunan itu. Dia menghampiri Baekhyun yang juga sedang menghampiri Arin.

“Kau menonton juga?” Tanya Baekhyun sambil mengatur nafasnya.

Arin tersenyum lembut. “Kau keren sekali.”

“Kau mendukung siapa?”

Arin menyipitkan matanya “Byun Baekhyun” Ucapnya lirih agar tidak terdengar oleh teman-teman sekelasnya. Baekhyun terkekeh hingga matanya tenggelam.

“Ah… ini untukmu” Arin menyodorkan botol minuman dingin yang tadi ia beli. Tentunya Baekhyun menerimanya dengan senang hati karena dia benar-benar kehausan.

“Jadi ada … yang mendukung pihak lawan ya..” Baekhyun yang masih membuka botol minumnya menjadi terhenti lalu melirik kesamping.

“Permainanmu ternyata bagus juga” Ucap Baekhyun yang berhasil membuka tutup botolnya lalu meneguk setengah airnya.

“Aku haus” Taehyung melirik pada botol minum di tangan Arin yang sudah diminum gadis itu setengahnya.

“Eh..” Arin terkejut karena Taehyung merebut botol minumnya “…Aku sudah meminumnya”

Taehyung melirik Arin dengan nakal “Kau meminumnya dengan bibir kan?” Taehyung tersenyum miring pada Baekhyun “Bagus juga. Indirect Kiss” Bisiknya namun bisa didengar lelaki yang kini tanpa sadar meremas botol minum ditangannya.

“Hyak..” Baekhyun melotot lalu sepersekian detik kemudian botol di tangan Taehyung langsung dirampas Baekhyun.

“Kau minum punyaku saja. Aku juga menggunakan bibirku” Ucap Baekhyun sambil melempar botol minum yang kini airnya tinggal setengah dan berhasil Taehyung tangkap dengan kedua tangannya. Selanjutnya Baekhyun dengan senyum kemenangannya meminum botol Kim Arin hingga menghabiskannya tanpa menyisakan setetespun.

“Kau sudah makan?” Tanya Baekhyun lalu dibalas gelengan oleh Arin.

“Kajja…” Baekhyun menggandeng tangan Arin lalu meninggalkan Taehyung… lagi

‘Ugh… aku masih normal tahu.’ Taehyung menatap horor botol minum bekas Baekhyun lalu melemparnya sembarangan. Oke itu tadi sih sebelum Yoon Saem yang entah datang darimana sudah ada disampingnya dengan melempar tatapan galak dan galah tercintanya yang sudah ada ditangannya. Dan terpaksa Taehyung mengambil botol itu kembali.

“Hehe Saem…”

“KAU INI, BUANG-BUANG MINUMAN. SEMBARANGAN LAGI.”

“Ta..tapi Saem..”

“MINUM!! DAN BUANG TEMPATNYA DI TEMPAT SAMPAH !”

“Tap-“

“PALLI!!!”

Dan Taehyung merapalkan umpatan-umpatan lirih pada Yoon Saem  yang membuatnya harus

… meminum bekas air Byun Baekhyun.

***

Baekhyun dan Arin memutuskan untuk makan di kantin. Mereka berdua mengambil tempat favorit Baekhyun dan teman-temannya namun kali ini hanya berdua. Arin duduk dihadapan Baekhyun dengan nampan dan susu strawberry.

“Kau memang penggila strawberry ya”Ungkap gadis itu tatkala melihat di sebelah Baekhyun ada kotak susu yang sama persis dengan miliknya.

“Eo, aku sangat suka strawberry” Ungkapnya lalu memasukan satu sendok penuh nasi. Baekhyun melirik nampan Arin yang sangat sedikit berkebalikan dengannya yang mengambil segunung nasi dan setumpuk lauk pauk.

“Kau sedikit sekali makannya” Baekhyun menusukan daging asap dan kimchi di nampan Arin dan gadis itu menatap Baekhyun lamat-lamat.

“Makanlah yang banyak.”

Arin mengigit bibirnya dan memaksa masuk kimchi tersebut.

Baekhyun menyunggingkan senyumnya lalu kembali melanjutkan makannya.

Arin POV

“Makanlah yang banyak.”

Baekhyun mungkin tidak tahu betapa aku sangat membenci kimchi. Namun entah kenapa, rasanya berbeda saat Baekhyun yang memberinya.

Ya. Kimchi.

Kebanyakan orang korea mungkin sangat menggemarinya. Bahkan ini adalah salah satu makanan khas korea yang dikenal di luar negeri. Namun bagiku, kimchi adalah kenangan pahit.

Flashback

“Ibu.. aku pulang” Arin kecil masuk kerumah.  Sambil menggendong tas Barbie Mariposa, Arin melangkah menunju meja makan.

‘Kosong’

Arin memegang perutnya yang keroncongan. Disekolah tadi, teman teman Arin baru saja mengejeknya.

‘Kim Arin tidak pernah membawa bekal’

‘Kim Arin kan tidak punya Ibu’

‘Aku punya.’

‘Kim Arin juga tidak punya Ayah. Dia tidak pernah menjemputnya’

‘Aku punya kok’

‘Kim Arin selalu jajan di kantin. Karena ibunya tidak bisa memasak’

‘Kasihan padahal ibuku pintar memasak’

‘Ibuku juga’

‘Aku sangat suka kimchi. Dan ibuku selalu membuatkannya untukku’

‘Ibuku juga’

‘Aku yakin Arin pasti tidak pernah makan kimchi’

‘Kan dia tidak punya ibu… hahahaha’

Arin turun dari meja makan dan membuka pintu kamar ibunya. Dilihatnya sang ibu yang sedang tertidur pulas dengan obat-obat putih yang berserakan dilantai, botol soju yang tergeletak sembarangan dan baju Ibunya yang tececer dimana-mana.

“Ayah dan Ibu pasti bertengkar lagi” Batin Arin. Dia perlahan mendekati Ibunya dan berbisik ditelinganya.

“Ibu aku lapar…” Kim Arin menunggu respon Ibunya namun hanya dibalas dengkuran sang ibu.

CKLEK

Arin menoleh cepat kearah pintu. Baru saja suara pintu rumahnya dibuka seseorang.

“Appa…” Langkah kecilnya membawanya sampai ruang tamu dan mendapati sang Ayah dengan pakaian yang berantakan serta jas yang dibuang sembarangan dilantai langsung masuk ke ruangannya.

Meninggalkan Kim Arin yang memegang perut karena kelaparan.

Arin kecil menangis sesenggukan di ruang tamu selama beberapa jam dan membuat Ibunya terbangun.

“Kenapa kau menangis?” Ibunya menekan kepalanya yang sedikit pusing.

Arin berdiri lalu memeluk kaki ibunya “Aku lapar.”

Ibunya memutar bola matanya malas. “Ada ramyeon disana” Tunjuknya didalam kulkas namun Arin menggeleng kuat.

“Aku ingin kimchi bu”

Ibunya mendengus sebal. Dibopongnya Kim Arin kecil dan diletakannya dimeja makan. Ibunya menyodorkan susu strawberry dingin dari kulkas.

“Minum susu ini” Kim Arin menerimanya antusias. “Ibu mau bikin kimchi ya?”

“Bisakah kau tidak merepotkan?”

Arin memanyunkan bibirnya “Aku mau kimchi” Lalu ia menangis lagi.

“KAU ITU MEREPOTKAN SEKALI SIH?” Teriak si Ibu membuat Kim Arin menangis lebih keras dari sebelumnya.

Dan hal tersebut membangunkan sang Ayah dengan wajah kumal dan bau alkohol yang sangat tajam dibadannya.

“ADA APA INI HA? KALIAN TIDAK BISA MEMBIARKANKU TIDUR DENGAN TENANG EOH?” Ayahnya tak kalah hebat dalam urusan volume suara. Akhirnya Kim Arin kecil menyaksikan kembali pertengkaran orang tuanya yang selama ini ia dengar hanya dari kamar Ibunya. Kali ini disaksikan oleh kedua mata Kim Arin, kedua orang tuanya tidak seperti Orang tua teman temannya yang saling menggandeng tangan bahagia, memeluk putra putrinya dan mencium kening ibu, tidak

Yang disaksikan oleh Kim Arin adalah Ibunya yang kena tamparan sang Ayah. Ibunya tak terima dan membalas dengan pekikan yang membuat Kim Arin menutup telinganya.

Ia takut namun tidak ada yang menenangkannya

Ia menangis namun tidak ada yang mendengarnya

“Dia mau kimci ya buatkan! Jangan teriak-teriak”

“Kau pikir aku pembantu hoh? Dia sangat merepotkan!”

“Kau ini ibunya.”

“Kau pikir kau bukan ayahnya eoh?”

“BUATKAN DIA KIMCHI DAN BERHENTI BERTERIAK”

“KAU BUATLAH SENDIRI. AKU TIDAK SUDI”

PLAKKK

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya Arin membenci makanan bernama Kimchi. Karena itu membuatnya ingat akan  kejadian yang mengerikan bagi Arin.

Mungkin kimchi akan membuat sebuah keluarga hangat, seperti kata Minji. Namun tidak untuk keluarga Arin.

Gadis kecil itu menangis semalaman melihat kedua orang tuanya saling mengumpat dan memukul.

Flasback Off

“Kau menangis?”

Kim Arin mendongak dan mendapati air matanya mengalir begitu saja.

“Wae? Apa kimchinya pedas?” Baekhyun mencicipi Kimchinya dan merasa tidak begitu pedas. “Tidak pedas kok” Jelasnya namun akhirnya ia meletakan sumpitnya.

“Kau mau kuambilkan air putih?”

Arin segera menggeleng “Tidak usah, nan gweenchana”

Baekhyun menatap khawatir gadis didepannya “Ada apa, hmm?”

Arin menyingkirkan kimchinya di sudut nampan lalu menjumput nasinya “Akutidak suka kimchi.” Arin tersenyum “Ini membuatku mengingat sesuatu yang tidak ingin kuingat.”

Dan Baekhyun tertohok. Merasa bersalah karenanya.

Baekhyun menatap sendu gadis dihadapannya yang memakan nasinya dengan tak selera. Baekhyun menyadari bahwa ia tidak tahu apapun tentang gadis itu. Dan kali ini, perbuatan yang tidak disengaja olehnya membuat gadis itu mengingat sesuatu yang tidak ingin diingatnya.

“Maaf ya Kim Arin..” Ucap Baekhyun tulus. “Kalau begitu kau makan daging asap ini saja.” Baekhyun menaruhnya di nampan, membuat gadis itu mendongak.

“Terimakasih”

Baekhyun termenung. Memastikan bahwa Kim Arin menghabiskan makanannya tanpa merasa sedih. Sudah dua kali ini Baekhyun mendapati gadis itu menangis dihadapannya.

‘Cobalah untuk belajar mencintainya Baek..’

Kata-kata itu terngiang lagi dipikiran Baekhyun. Kali ini, Baekhyun memantapkan hatinya untuk sejalan bersama Arin.

Sama-sama berjuang mempertahankan hubungannya.

‘Tidak ada salahnya kan aku juga berjuang?’ Batin Baekhyun menenangkan hatinya

Baekhyun merenungkan hal itu kembali.

‘Tapi bagaimana kalau aku benar-benar jatuh cinta pada gadis ini?’

***

Tepat pukul 4 sore Seoul High School membunyikan bel pulang sekolah yang sudah dinanti-nantikan seluruh murid. Angin musim dingin sudah mulai berhembus membuat beberapa murid memilih untuk mengenakan pakaian hangat walau belum masuk Musim dingin.

Kim Arin merapatkan mantelnya. Ia menaruh tas ranselnya ke loker lalu berjalan biasa menuju ke perpustakaan.

Seperti biasa ia menyapa anak-anak yang dijumpainya dan berbincang sebentar dengan Yuri yang sudah mulai menampakan perutnya yang buncit. Setelah itu Kim Arin mengambil buku cetak Trigonometri dan bersandar disamping mesin penghangat yang memang letaknya tak jauh dari tempat kesukaannya.

Kedua headset putihnya sudah terpasang ditelinga dan ia putuskan untuk hanyut mengerjakan soal soal trigonometri yang baru saja diajarkan.

“Kau disini rupanya?” Kim Arin mendongak tatkala sepatu Nike putih berada didepan matanya. “Eoh Baekhyun-ssi”

“Aku mencarimu di kelas.” Baekhyun mengikuti Arin dengan duduk disebelahnya. Ia merasa seperti De Javu, saat ia bertemu Kim Arin pertama kalinya di perpustakaan.

Kim Arin melepas sebelah headsetnya “Kau mencariku? Wae?”

“Pulang bersama. Kau lupa ya..” Kim Arin tersenyum “Mianhae..”

“Kau sering kemari?” Tanya lelaki itu sambil menilik kesana-kemari. “Kau tidak takut sendirian disini?”

“Tidak kok. Aku sudah biasa”

“Hmm kau cukup aneh.”

“Ya aku memang aneh. Tapi kau suka kan?” Arin mendapati Baekhyun yang langsung menoleh kearahnya tatkala mengucapkan hal yang membuat Baekhyun menampakan semburat merah dipipinya. Arin tersenyum karena berhasil menggoda Baekhyun.

“Kau..” Baekhyun masih mencari sisi lain untuk tidak menatap Kim Arin. Untuk menyembunyikan rona wajahnya “…sudah seberapa banyak tahu tentang diriku?”

Kim Arin menghela nafas. Baginya trigonometri yang tengah ia kerjakan tak lagi menarik lagi. Berbicara dengan Baekhyun ternyata membuatnya senang. Lebih senang daripada menemukan jawaban matematika. Ia menutup bukunya lalu menyandarkan punggungnya. Membuat lengannya bersentuhan dengan Baekhyun. Dan Arin baru menyadari bahwa ia sedekat ini dengan Baekhyun. Aroma tubuh Baekhyun seperti bayi… dan Kim Arin menyukainya. Sangat menyukainya.

“Tanggal lahir Baekhyun, alamat Baekhyun, nomor telphone Baekhyun, keluarga Baekhyun, hobi Baekhyun, kesukaan Baekhyun dan yang tidak disukai Baekhyun.” Arin mengerucutkan bibirnya “..hanya itu”

Baekhyun tersenyum tipis “Daebak. Kau terlihat seperti stalker sekarang” Baekhyun terkekeh dan dibalas senyuman manis dari Kim Arin.

“Kau pernah bilang..” Baekhyun menghela nafasnya “..bahwa aku tidak penasaran denganmu, kan?” Lanjutnya lalu menatap Kim Arin

“Hari ini… aku ingin tahu tentang dirimu.”

Arin melipat kedua tangannya keatas perut “Apa yang ingin kau ketahui tentangku Byun Baekhyun-ssi?”

Baekhyun mengunci tatapan Arin “Semua. Semuanya”

Arin membalasnya dengan senyuman tipis. “Joha.”

***

Baekhyun mengantar Arin kerumahnya seperti janjinya. Sepanjang jalan mereka tampak lebih akrab daripada sebelumnya.

Setelah bus yang ditunggu datang, mereka duduk dikursi double dengan Arin yang berada di dekat jendela dan Baekhyun disampingnya.

“Lalu sekarang, apa kau baik-baik saja?” Arin menoleh dan Baekhyun menatapnya dengan lembut

“Sampai saat ini. Yeah. Aku baik baik saja” Arin memaksa senyumnya.

Baekhyun menatap nanar gadis disampingnya. Ia merasa begitu banyak luka yang tersembunyi dari balik senyum Arin selama ini. Setelah gadis itu menceritakan semuanya pada Baekhyun. Laki-laki itu merasa

‘Sangat ingin melindunginya’

“Kau mau mendengarkan musik?” Tawar Baekhyun. Kim Arin mengangguk dan Baekhyun memasangkan sebelah earphonenya ditelinga kiri Arin.

“Jangan tertawa ya.. ini suaraku” Baekhyun mengacak playlistnya dan memutar hasil rekamannya sendiri. Maklum dia sangat suka bernyanyi dan sering merekamnya.

-Baekhyun- Beautiful (OST EXO NEXT DOOR)

“Bagaimana?” Tanya Baekhyun ditengah-tengah lagu.

Kim Arin tersenyum dan berhasil membuat Baekhyun terpesona.

“Ini indah. Nomu Johahe..” Ucap gadis itu lalu merebahkan kepalanya di bahu Baekhyun.

Nyaman.

Dan tanpa Baekhyun sadari, ia juga merebahkan kepalanya dan menumpu pada kepala gadis itu.

Hangat.

Lalu mereka berdua nampak saling menetralkan degub jantungnya yang tak karuan.

“Besok.. kau akan mengantarkku pulang lagi Baekhyun?”

Baekhyun membuka matanya lalu meraih tangan Arin diatas lututnya. Menggenggamnya erat sembari memperhatikan tangannya dan tangan Arin yang kini saling bertaut.

“Tentu saja..”

Dan perlahan, Baekhyun benar-benar belajar bagaimana mencintai Kim Arin

Hingga dirinya tak menyadari bahwa kenyamanan yang ia temukan bersama Arin…

Merubah semuanya

Dan mungkin juga perasaannya…

TBC

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s