Maliciously Missing — Len K [Chapter 01]

 

 

Maliciously missing

(.n)people who, for whatever reason, decide they simply don’t want to be found

Ketika Junmyeon merasa hidupnya sudah lengkap—pekerjaan yang memberinya kestabilan finansial (walau punya jam kerja yang gila) serta rumah yang selalu hangat karena keberadaan kekasihnya—tiba-tiba sebuah kejutan datang; Choi Minrin, kekasihnya, hilang tanpa sebab dan jejak.

Kenapa Minrin menghilang begitu saja ketika hubungan mereka baik-baik saja?

Apa alasan di balik menghilangnya Minrin?

Siapkah Junmyeon menghadapi fakta-fakta yang akan menyambutnya?

 

 

MALICIOUSLY MISSING

 

 

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied; I own the plot. This is a work of fiction. Names, characters, businesses, places, events, and incidents are either the product of the author’s imagination or used in fictitious manner. Any resemblance to real persons, living or dead, is unintentional and purely coincidental. No profit taken from this work

 

Starring: Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC), Oh Sehun EXO, etc | Rate: T | Genre: Drama, Mystery

 

Special thanks to Kak IRISH for the poster and Kak Liana  for being my beta

 

WARNING!!

Non-canon!AU, possibly OOC, typo(s). Setting take place in Indiana, USA. Rate may changes. Additional casts to be added. I did the research related to missing person’s cases and Indiana state itself, and other things in this fiction, but still, I’m sorry if you find some inaccuracy.

 

 


 

 

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi lewat tiga puluh lima menit. Namun, di saat orang-orang bersiap untuk berangkat kerja atau sekolah atau aktivitas lainnya, Junmyeon justru mengemudikan mobil pulang ke rumahnya setelah melewati shift malam di rumah sakit tempat ia bekerja. Gurat-gurat kelelahan nampak melekat di wajah rupawannya, menjadi bukti bagaimana ia bersikeras melawan kantuk sembari menangani pasien-pasien yang datang.

Helaan nafas panjang keluar dari mulut Junmyeon ketika mobilnya sudah berhasil masuk garasi rumah. Junmyeon mengambil tas kerja sekaligus snelli yang tersampir di kursi samping pengemudi sebelum dengan malas menyeret tungkainya masuk ke dalam rumah. Indra penciumannya segera mencium bau masakan yang berasal dari dapur. Mengikuti aroma sedap itu, Junmyeon bergegas ke dapur di mana Minrin nampak berkutat dengan masakannya.

“Hei.” Junmyeon menyapa Minrin yang masih sibuk mengabaikan keberadaannya.

Minrin memutar badan dan menemukan senyum tipis Junmyeon yang menyiratkan kelelahan. Alih-alih tersenyum bersimpati, Minrin justru memberikan senyum terbaiknya. “Hei!” Serta tidak lupa menyapa Junmyeon dengan ceria.

Junmyeon mengambil satu kursi kosong pada pantry. “Jadi, apa menu kita pagi ini, Chef Minrin?”

“Menu kita pagi ini adalah gimbap, Dokter Junmyeon.”

“O, rasanya sudah lama aku tidak makan gimbap,” gumam Junmyeon ketika satu fakta tersebut terlintas dalam kepalanya.

“Maka dari itu, aku sengaja membuatnya. Spesial untukmu.” Minrin membalas dengan satu kedipan mata yang membuat Junmyeon tertawa pelan.

Detik berikutnya, Minrin kembali sibuk menyiapkan makan pagi. Meski hanya gimbap, Minrin bersikeras untuk menatanya layaknya hidangan restoran, sedikit menyombongkan titelnya sebagai chef lulusan Le Cordon Bleu. Walau Junmyeon suka menggeleng-gelengkan kepalanya akan kebiasaan Minrin yang satu ini, Junmyeon tidak pernah menyuarakan protes. Siapa yang tidak suka menikmati hidangan lezat dengan tampilan sekelas makanan di restoran bintang lima dan begitu instagrammable, walau itu hanya makanan sederhana?

Enjoy the meal.” Gimbap yang sudah ditata sedemikian apiknya tersaji bersamaan dengan senyum manis Minrin.

Tanpa banyak suara, Junmyeon melahapnya. Kini, perutnya tidak seberisik tadi. Junmyeon menandaskan makanan pertama yang masuk ke perutnya dalam hampir sepuluh jam terakhir. Tidak ada pujian yang keluar dari lisan Junmyeon. Bagaimana matanya konstan terpejam dan membuka, disertai gumaman tidak jelas, dan betapa lahapnya Junmyeon makan sudah menjadi tanda bahwa kelezatan masakan Minrin tidak perlu diragukan.

Minrin tertawa kecil melihat polah makan kekasihnya. “Setelah ini, jangan lupa tidur dan istirahat yang cukup.”

Junmyeon mengangguk. “Kau akan berangkat kerja?”

“Ya. Sejujurnya, aku sudah agak terlambat. Biarlah, masih ada Oh Sehun.”

Netra Junmyeon mengawasi Minrin yang telah mengenakan seragam chef  warna hitam kebanggaannya. Ada kilatan rasa bersalah di mata Junmyeon. “Bukankah sudah kubilang untuk tidak menungguku pulang?” Satu kebiasaan Minrin adalah selalu menunggu Junmyeon untuk pulang dan memasakkan makan pagi setiap Junmyeon menyelesaikan long shift-nya.

Minrin menggeleng. Tangan Minrin membelai lembut wajah Junmyeon.  “Aku tidak bisa mengabaikanmu yang sudah bekerja semalam suntuk.”

“Baiklah. Kuantar kau.”

“Tidak, tidak perlu.”

“Tapi—“

“Tidak ada tapi, Jun. Yang kau perlukan saat ini adalah istirahat yang cukup. Oke?”

Junmyeon tahu apa arti dari tatapan yang diberikan Minrin saat ini. Itu adalah tatapan di mana Minrin bersikukuh pada pendirian atau keputusannya. Tidak ada yang bisa mengubah ketetapan Minrin.

“Baiklah.” Seulas senyum tipis terlukis di bibir Junmyeon.

“Bagus.” Minrin memberi ciuman singkat pada bibir Junmyeon. “ Sekarang mandilah—kau bau keringat dan benar-benar tercium seperti rumah sakit. Setelah itu, tidurlah. Bagaimana dengan pijatan selepas aku pulang kerja?”

“Ide yang bagus.”

“Oke. Aku pergi dulu.” Minrin menyambar kunci mobilnya sebelum pergi.

Have a nice day!”

Have a nice … rest.”

 

 

“Kau terlambat.” Sehun—sang sous chef—mengganti ucapan selamat paginya dengan kalimat yang baru ia lontarkan pada Minrin disertai raut sebal; alis bertaut, bibir mengerucut, dan tangan yang dilipat di depan dada. Polusi udara di dapur tempat mereka sekarang seakan menambah rasa kesal Sehun.

“Maaf.” Minrin menyeringai, tidak tampak bersalah dan itu semakin membuat Sehun merasa kesal. “Aku harus memastikan Junmyeon tidak melewatkan makan pagi dan mengingatkannya untuk istirahat yang cukup. Dia baru saja kembali dari long shift-nya.”

Sehun melunak. Dia tahu kekasih Minrin itu bekerja sebagai dokter di rumah sakit dan sering mempunyai jam kerja yang gila. “Long shift setelah tiga puluh jam jam kerja?” Mulut Sehun terbuka lebar akibat dari keterkejutannya.

“Aku sudah memastikan bahwa ini akan jadi yang terakhir.” Minrin memutar kedua bola matanya. Ia setuju bahwa jam kerja Junmyeon itu gila. “Satu rekannya berhalangan dan Junmyeon satu-satunya orang yang bisa ia ajak untuk bertukar shift. Kau tahu sendiri bagaimana Junmyeon, kadang ia terlalu baik. Aku, sebagai kekasih yang merangkap sebagai pendamping kesehatan pribadi Junmyeon, harus memastikannya untuk tetap sehat. Dia sudah merawat banyak orang; seseorang harus benar-benar memperhatikan dan merawatnya karena jika ia sakit, akan ada banyak pasien yang kecewa dan mencari-carinya.”

Sehun tersenyum tipis. “Pendamping kesehatan pribadi? Memangnya kau Baymaxx?”

“Begitulah.” Minrin mengangkat bahu cuek. “Jadi, apa saja yang kulewatkan di dapur tercinta kita ini?”

“O, ya. Syukurlah.” Sehun bernafas lega. “Aku punya banyak pekerjaan untukmu.”

 

 

 

Seperti saran Minrin, Junmyeon menghabiskan harinya di rumah dengan tidur, sangat lama dan nyenyak. Sebenarnya, Junmyeon tidak ingin tidur selama itu. Hanya saja dia benar-benar merasa lelah dan tubuhnya memaksanya untuk terpejam. Ketika Junmyeon terbangun, hari sudah siang. Masih ada sedikit waktu bagi Junmyeon untuk membersihkan diri sebelum melengkapi laporan untuk follow up pasien.  Jadi, selepas mandi air hangat yang mampu merilekskan otot-ototnya, Junmyeon mengambil beberapa croissant yang ia buat bersama Minrin tempo hari sebagai camilan teman menulis laporan diiringi lagu-lagu dari Oasis.

Saat sore hari tiba, Minrin baru pulang. Seperti biasa, setelah mandi, ia kembali sibuk di dapur, memasak hidangan makan malam sederhana untuk dinikmati bersama Junmyeon di ruang tengah sembari menonton serial favorit mereka di Netflix.

“Kapan kau akan berangkat kerja?” Seraya memberi pijatan di bahu dan punggung Junmyeon, Minrin bertanya.

Junmyeon yang sedang berbaring tengkurap di lantai beralaskan karpet sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat jam. Kepalanya kembali terbenam dalam bantal sofa diikuti desahan panjang. “Satu jam lagi,” jawabnya, “dan rasanya aku tidak ingin berangkat.”

Minrin tertawa. “Kenapa?”

“Kau tentu lebih tahu alasannya, Minrin. Jam kerjaku itu kadang tidak manusiawi.” Junmyeon menjawab disertai desahan panjang yang menyiratkan kelelahan. “Aku juga masih sangat, sangat mengantuk.”

“Tentu, tentu, tapi bukankah kau berencana mengambil spesialis?”

“Ya, lalu?”

“Ketika kau sudah menjadi spesialis, jam kerjamu mungkin jadi lebih tidak manusiawi.”

Erangan Junmyeon terdengar. “Tapi, aku benar-benar ingin mengambil spesialis,” tegas Junmyeon.

“Aku tahu itu.” Minrin mengecup kepala Junmyeon. “Great power comes with great responsibility, you know?” Junmyeon mengangguk. “Lagi pula, akan ada kejutan yang menantimu setelahnya.”

Kepala Junmyeon sedikit berputar ke belakang agar ia dapat melihat Minrin. “O, ya? Katakan apa itu.”

“Besok kau libur?” Alih-alih menjawab, Minrin justru balik bertanya.

“Mm-hm.”

“Aku juga libur!” Minrin kegirangan.

“Jadi?” Seulas seringaian muncul di bibir Junmyeon yang sebenarnya sudah tahu apa yang dipikirkan Minrin, tapi jika ia menjawab seperti yang Minrin inginkan, di mana bagian serunya?

“Kupikir kau adalah Dokter Kim Junmyeon yang Cerdas dan Disukai Semua Orang,” cibir Minrin seraya memberi tekanan kuat pada bahu Junmyeon, memberi rasa sakit yang cukup membuat sang dokter mendesis.

Well, aku sudah terlalu lelah dan kurasa otakku sudah mulai aus.” Sebuah alasan dilontarkan oleh Junmyeon dan mendapat balasan berupa jitakan di kepalanya. Kini Junmyeon berteriak ‘aw’ yang keras.

“Jadi, artinya…” Lagi-lagi, Minrin dengan sengaja memberi tekanan pada punggung Junmyeon dan kekasihnya itu memohon-mohon untuk berhenti menyiksanya. “Kita bisa menghabiskan waktu berdua! Kau punya ide? Aku berpikir bahwa pergi ke Danau Michigan adalah hal yang bagus. Kita bisa bermain kayak, bersepeda, atau lomba naik jet ski—aku yakin bisa mengalahkanmu—atau hanya berjalan-jalan. Bagaimana menurutmu?”

Tentu, hal menyenangkan yang datang bersama musim panas adalah waktu untuk menikmati berbagai permainan di air atau hanya menghitamkan kulit ditemani satu-dua gelas minuman dingin. Kemudian, saat malam, api unggun, alunan lagu diiringi petikan gitar, marshmallow bakar, dan cerita horor adalah perpaduan yang sempurna. Sudah lama sekali Junmyeon tidak merasakan pengalaman musim panas seperti itu semenjak dia memasuki dunia orang dewasa.

“Itu bagus,” kata Junmyeon, “tapi aku ingin untuk menghabiskan waktu hanya berdua denganmu di rumah. Kita bisa berpelukan seharian dan maraton serial di Netflix sambil memesan segala jenis makanan cepat saji.”

“Jun!” Minrin berseru. “Demi Tuhan, kita sudah sering melakukan itu—“

“Tapi, kita tidak pernah melakukannya selama dua puluh empat jam nonstop!”

Minrin membuat suara seperti orang muntah dan Junmyeon tertawa. Sungguh suatu kesenangan tersendiri untuk bisa menggoda Minrin.

“Ini musim panas, Jun! Kapan lagi kita bisa punya waktu libur bersamaan?”

Kekasihnya itu ada benarnya. Sejak awal mereka mulai berkomitmen dalam hubungan ini, mereka berdua menyadari bahwa ke depannya, tidak akan ada banyak waktu bagi mereka. Namun, mereka bertekad untuk membuat setiap waktu yang mereka habiskan berkualitas.

“Baiklah.”

Telinga Junmyeon seketika berdenging, tidak siap menerima tingginya desibel suara yang dihasilkan saat Minrin berseru kegirangan. Tubuhnya juga tidak siap ketika Minrin dengan tiba-tiba menjatuhkan diri di atas tubuhnya sebelum mengecup pipi Junmyeon cukup lama. Tawa halus dikeluarkan oleh Junmyeon berkat kelakuan kekasihnya yang bisa menjadi penuh afeksi. Minrin berpindah ke samping Junmyeon dan kesempatan itu dimanfaatkan Junmyeon untuk melingkarkan tangannya ke pinggang Minrin, menarik pemilik marga Choi tersebut agar mendekat padanya hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

“Jika sudah begini, rasanya aku tidak ingin berangkat kerja.” Junmyeon bergumam, dengan sengaja menyentuhkan hidungnya pada hidung Minrin.

“Kau tahu jika aku tidak suka mempunyai kekasih pemalas.”

“Aku tahu.”

Setelah lima belas menit sesi berpelukan tanpa suara, Junmyeon akhirnya dengan berat hati melepaskan Minrin dan mulai bersiap-siap. Dia tidak sabar untuk menikmati waktu liburnya yang teramat singkat bersama Minrin.

 

 

***

 

 

Sisa-sisa kelelahan akibat seharian berkutat di Danau Michigan kemarin masih dirasakan oleh Junmyeon, tapi bukan lelah yang menghisap semua energinya dan membuatnya lemas sampai harus bergantung pada lebih dari satu venti kafein. Lelahnya kali ini berbeda. Ya, memang benar dia lelah, tapi dirinya merasa senang dan segar setelah menghabiskan waktu bersama kekasihnya tanpa ada pekerjaan yang membayang-bayangi. Terlebih lagi, pagi ini, ia berkesempatan untuk berangkat kerja bersama Minrin.

Pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit dengan shift yang padat membuat dunianya terasa terbalik. Bukan hanya sekali-dua kali ia harus berangkat kerja saat Minrin terlelap, atau  Minrin yang harus berangkat kerja saat dirinya baru pulang dari shift malam yang menambah lebar kantung matanya. Wajar jika pagi ini, saat mereka berkesempatan berangkat bersama membuat mood Junmyeon melonjak tajam.

“Haruskah aku menjemputmu nanti? Kurasa aku bisa,” tawar Junmyeon pada Minrin ketika mobilnya berhenti di depan restoran tempat Minrin bekerja.

“Tidak perlu,” balas Minrin seraya melepas sabuk pengaman dan meraih tasnya di kursi belakang. “Jangan tersinggung, ya, tapi jam kerjamu itu gila dan tidak menutup kemungkinan jika kau bisa terlambat satu jam dari jam pulangmu. Tidak menutup kemungkinan akan ada long shift untukku.”

Junmyeon mengerang. “Bisakah kau tidak mengingatkanku akan jam kerjaku?”

Minrin tertawa. Satu tangannya ia bawa untuk ia letakkan pada pundak Junmyeon. “Tidak apa-apa, sungguh. Jangan tunggu aku, oke?”

Junmyeon merasa kecewa, namun sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas ketika ia melihat senyuman manis yang dilontarkan Minrin. “Oke.”

Have a nice day.” Satu ciuman singkat mendarat di bibir Junmyeon.

Have a nice day.”

Minrin melambaikan tangannya begitu ia keluar dari mobil dan saat Minrin sudah benar-benar masuk ke dalam restoran, Junmyeon kembali melajukan mobilnya.

 

 

 

Saat Junmyeon pulang, rumahnya tampak sepi. Tidak ada suara Minrin yang ikut bergumam mengikuti lagu apa saja yang tengah berputar, tidak ada aroma masakan seperti biasa, tidak ada sepatu Minrin di rak dekat pintu masuk, dan tidak butuh jenius untuk menyimpulkan bahwa tidak ada sosok Minrin di rumah. Memang terkadang Minrin pulang larut dan rumah yang sunyi senyap adalah satu-satunya yang menyambutnya. Kali ini, kesunyian yang menyambutnya terasa begitu janggal dan berbeda, tapi Junmyeon tidak tahu apa penyebabnya.

Setelah masuk kamar, membersihkan diri, dan berganti baju, Junmyeon menuju ke dapur. Rasanya aneh, melihat dapur yang hampir selalu sibuk kini sunyi senyap. Satu sticky note yang tertempel di pintu lemari pendingin menyita perhatian Junmyeon. Tulisan acak-acakan khas Minrin yang mungkin hampir menyamai tulisan dokternya mengisyaratkan bahwa ia bisa memanaskan makanan di microwave dan untuk jangan menunggunya pulang.

Didorong oleh rasa lapar, Junmyeon memanaskan hidangan yang sudah disiapkan Minrin pada wadah Tupperware jingga. Sembari menunggu hidangan itu hangat, Junmyeon memeriksa ponselnya. Siapa tahu Minrin mengirim pesan padanya jika ia pulang terlambat atau semacamnya, tapi nihil. Tidak ada kabar dari Minrin sama sekali. Pesan terakhir dari Minrin adalah saat jam makan siang tadi di mana ia mengeluhkan si commis chef yang hampir mengacaukan sausnya.

Belum ada rasa khawatir pada Junmyeon. Memang jarang bagi Minrin untuk pulang larut atau terlambat, tapi bukan berarti tidak pernah. Namun, ketika jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, rasa cemas mulai memenuhi Junmyeon. Fakta bahwa Minrin akan berusaha menghubunginya—dengan cara apa pun—untuk memberitahukan bahwa ia akan pulang terlambat dan sampai sekarang tidak ada kabar apa pun dari Minrin membuat Junmyeon semakin gelisah dan panik. Saat suara wanita operator yang berkata bahwa nomor Minrin berada di luar jangkauan menyapa pendengarannya, Junmyeon kalut. Ini tidak biasa.

Berusaha menguasai rasa paniknya, Junmyeon berusaha menghubungi Sehun, berharap bahwa Minrin bersama pemuda bermarga Oh itu atau minimal, Sehun mengetahui keberadaan Minrin.

“Hyung, ada apa?” Sehun bertanya begitu sudah tersambung. Suaranya terdengar berat  dan Junmyeon merasa sedikit bersalah karena sudah menganggu waktu istirahat si sous chef, tapi segera Junmyeon kesampingkan rasa bersalah itu.

“Sehun, apa kau tahu di mana Minrin?”

Aku tidak melihatnya sejak pulang tadi.”

Sial. Junmyeon mengumpat dalam hati. Mati-matian ia berusaha menenangkan dirinya.

Kenapa memangnya, Hyung?”

“Minrin …”Tenang Junmyeon, tenang. “Minrin … dia belum tiba juga di rumah dan ponselnya tidak aktif. Apa mungkin dia bersama temannya yang lain atau ada janji? Ini tidak biasanya. Minrin selalu memberiku kabar jika akan pulang terlambat, sekarang tidak ada kabar apa pun darinya.”

Ada sedikit jeda. Sehun berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan di antara kantuknya.

Setahuku ia tidak memiliki janji apapun, Hyung. Aku akan menghubungi yang lain. Mungkin mereka tahu keberadaan Minrin.”

“Ya, aku mohon bantuanmu.”

Sambungan telepon terputus dan Junmyeon tidak tinggal diam. Ia berusaha menghubungi siapa saja yang sekiranya mengetahui keberadaan Minrin. Bukan hal yang sulit karena Junmyeon sendiri tahu betul bahwa lingkaran pertemanan Minrin tidak begitu luas. Ya, Minrin memang cukup dikenal, tapi mereka yang betul-betul masuk ke dalam lingkaran pertemanan Minrin bisa dihitung dengan jari, tidak jauh berbeda darinya.

Beberapa orang sudah Junmyeon hubungi dan hasilnya masih nihil. Tidak ada yang tahu di mana Minrin, dan saat Junmyeon sudah bersiap menelepon 911, ponselnya berdering. Sehun kembali menghubunginya dan Junmyeon mengharapkan kabar baik.

“Bagaimana, Sehun?” Kepanikan jelas tergambar dalam suara Junmyeon.

Tidak ada yang mengetahui keberadaan Minrin, Hyung.”

Oke, Junmyeon semakin panik. Sirkuit otaknya mendadak sibuk. Segala macam skenario mulai bermunculan tanpa ia minta. Bagaimana jika Minrin diculik? Bagaimana jika saat ini Minrin tengah dalam bahaya dan membutuhkan bantuannya? Bagaimana jika saat ini Minrin tengah sekarat? Atau … meninggal? Tidak, tidak, Junmyeon harus tetap berpikir jernih, untuk menemukan Minrin.

“—yung!”

O, sial! Bagaimana Junmyeon bisa berpikir jernih jika yang menghilang adalah Minrin?! Tunggu, mungkin Minrin tidak menghilang. Bisa saja, kan? Mungkin saat ini, Minrin tengah berada di sebuah bar, menikmati asupan alkohol bersama orang lain. Apa? Orang lain? Mengapa dia bersama orang lain dan bukannya Junmyeon? Apa Junmyeon sudah melakukan kesalahan?

“Hyung!”

Tidak. Dirinya dan Minrin baik-baik saja. Hubungan mereka memang tidak selamanya manis seperti film-film romantis yang membuatnya mengernyitkan dahi saat menontonnya, tapi bukankah dalam setiap hubungan memang ada saat-saat naik dan turun? Sejauh ini, semua konflik antara dirinya dan Minrin bisa terselesaikan dengan baik.

“Hyung!”

Namun, bagaimana jika Minrin sudah bosan dengannya dan pergi begitu saja? Kemudian, dalam hitungan hari Minrin akan muncul di depan pintu bersama pria lain dan bersiap untuk memindahkan barang-barangnya? Itu … tidak mungkin, kan? Minrin tidak akan pergi begitu saja. Minrin bukan tipe orang seperti itu.

Kenapa Minrin menghilang? Tunggu, apa Minrin benar-benar menghilang? Memang ada kemungkinan selain menghilang?

Junmyeon-hyung!” Seruan Sehun dari seberang menyadarkan Junmyeon.

“Ya?” Junmyeon tersadarkan dari lamunannya.

Aku tahu mungkin kau sangat panik sekarang, tapi kumohon agar kau tetap tenang dan menelepon nomor darurat

“Aku akan pergi.”

apa?” Sehun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Hyung, bukannya aku lancang, tapi itu tidak efektif, jadi

“Aku akan pergi ke kantor polisi untuk memasukkan laporan orang hilang.”

Baiklah, baiklah. Ada yang bisa kubantu lagi?

Junmyeon menggeleng, walau ia tahu Sehun tidak bisa melihatnya. “Untuk sekarang kurasa cukup. Terima kasih.”

Tentu. Jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku.”

“Ya.”

Tanpa menunggu balasan dari Sehun, Junmyeon sudah mengakhiri panggilan tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Junmyeon segera menyambar jaket dan kunci mobilnya sebelum meluncur ke kantor polisi dengan kecepatan di atas rata-rata. Persetan sekali jika nantinya ia mendapat surat tilang. Pikirannya sudah kacau, kepalanya serasa mau meledak, dan adrenalin yang terpompa ke seluruh tubuhnya membuatnya tidak mempedulikan sekitar. Yang jadi fokusnya kali ini adalah Minrin.

Setiba di kantor polisi, Junmyeon masih tidak bisa tenang. Kakinya bergerak-gerak dan helaan nafas keluar berkali-kali. Tidak perlu seorang ahli untuk menerjemahkan bahasa tubuh Junmyeon sebagai suatu kegelisahan.

Seorang petugas dengan nama Ashmore yang tertera pada name tag-nya, membuka dokumen baru pada komputer jinjingnya, bersiap melakukan interogasi.

“Mengenai Choi Minrin, kekasih Anda yang kemungkinan menghilang, kami mengharapkan kerjasama Anda untuk memberi informasi sejelas-jelasnya.” Jika saja situasinya berbeda, mungkin Junmyeon sudah memuji pelafalan nama Minrin oleh petugas itu. “Apa kekasih Anda punya nama selain Choi Minrin? Sebuah alias, misalnya, atau nama gadis.”

“Emily. Itu nama baratnya, Emily Choi. Biasanya, ia dipanggil ‘Em’.”

Petugas Ashmore menuliskan jawaban Junmyeon pada laptop sebelum bertanya lagi. “Di mana tempat dan tanggal lahir Nona Choi Minrin?”

“Seoul, Korea Selatan. Empat belas September, tahun sembilan tiga.”

“Apa Nona Choi Minrin memiliki tanda khusus di tubuhnya, seperti tanda lahir, tato, luka, tahi lalat, atau semacamnya?”

Telinga Junmyeon memerah karena mau tidak mau ingatannya melayang pada tubuh Minrin. Setelah setengah tahun tinggal bersama, tidak mungkin Junmyeon belum pernah melihat Minrin tanpa sehelai benang pun.

“Ia punya bekas luka jahitan di pinggang kirinya yang sedikit memanjang sampai punggung. Sekitar … sepuluh sentimeter, mungkin? Ya, sekitar itu.”

“Tinggi dan berat badan Nona Choi Minrin?”

“Seratus enam puluh enam sentimeter, empat puluh enam kilogram.”

“Apa warna mata dan rambutnya?”

“Warna rambutnya hitam, panjangnya sebahu lebih sedikit. Matanya berwarna coklat gelap.”

“Apa Nona Choi Minrin memiliki kelainan fisik ataupun psikis?”

“Tidak. Dia sehat secara fisik maupun psikis.”

“Di mana terakhir ia terlihat?”

“Aku mengantarkannya kerja pagi ini. Dia bekerja sebagai head chef di Provision. Saat aku menghubungi rekan-rekan kerjanya, mereka semua mengatakan bahwa Minrin—atau Emily—terakhir terlihat saat jam kerja sudah selesai. Seperti biasa, ia jadi yang paling akhir keluar dari restoran.”

“Bagaimana penampilannya saat terakhir terlihat?”

“Pagi ini ia berangkat kerja mengenakan seragam chef-nya yang berwarna hitam, tapi ia selalu membawa baju ganti. Ia membawa trench coat warna khaki dan celana warna coklat, serta flat shoes warna putih.”

“Oke. Apa anda punya foto terbaru dari Nona Choi Minrin?”

“Tentu, tentu.” Junmyeon segera membuka galeri ponselnya dan menyerahkannya pada Petugas Ashmore.

Foto itu tepat diambil Junmyeon saat mereka pergi ke Danau Michigan kemarin untuk bersenang-senang barang sehari. Di foto itu, Minrin mengenakan diving suit warna hitam dengan garis abu, tersenyum lebar seraya memegang dayung dan berdiri di atas papan paddle. Rambutnya basah kuyup karena Junmyeon benar-benar ingat jika saat itu, Minrin baru saja jatuh ke air.

Junmyeon kembali mengumpat dalam hati. Padahal kemarin mereka masih bisa bersenang-senang, menikmati waktu libur barang sehari di musim panas di tengah-tengah jadwal mereka yang padat-padatnya, lalu kemudian dalam hitungan jam, semua euforia itu berubah jadi petaka. Bagaimana bisa?

“Kami juga membutuhkan kontak Anda agar kami dapat menghubungi Anda ketika kami menemukan perkembangan akan kasus ini.”

Junmyeon segera memberikan petugas itu nomor ponselnya.

“Baiklah, kami rasa informasi yang kami butuhkan untuk saat ini sudah cukup. Terima kasih atas kerjasama anda, Tuan Kim.”

Junmyeon membalas uluran tangan petugas Ashmore seraya tersenyum tipis. “Aku juga berterima kasih. Aku mengharapkan kabar baik dari kalian.”

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”

“Baiklah. Sekali lagi, terima kasih.”

 

And the search begins…

 

 

 

A/N :

Hai, ketemu lagi sama Len. Kali ini Len balik dengan fanfiksi chaptered setelah sekian lama betah bikin oneshot. This fanfic is already like my baby since I’ve been working on this for months, hahaha. Lagi, sankyu buat kak Irish yang udah rela ngebut bikin posternya juga Kak Liana yang bersedia jadi beta reader di sela-sela kesibukan. You all are the best!

 

Maliciously Missing will be updated once every two weeks on Saturday. So stay tune!

 

Ada pertanyaan, kritik, saran, atau cuma pengen ngobrol? Mampir kesini ya!

LINE Twitter | Instagram | Wattpad | Curious Cat

4 tanggapan untuk “Maliciously Missing — Len K [Chapter 01]”

  1. Minrin oh Minrin dmn kau brada?
    junmen jd kalut khilangan dirimu
    bkl ga konsen krj, pa lg dg inhuman long shift nya itu di RS
    moga jdwl updatenya ontime, bs bc trus & cpt ktmu lg Minrin

Tinggalkan Balasan ke Malcazia Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s