[EXOFFI FREELANCE] Dodeka (Side B)

Dodeka : Side B

©2018, Noctur.Na

Drabble  | Romance | T | EXO’s Member

Disclaimer :

It’s completely my  imagination. I do not own anyone in this story.

———————————————————–

Summary :

Dua belas tulisan pendek dan receh.

———————————————————–

#07

 

“Masih suka Arabika?”

Kata si gadis sambil menyiapkan Arabika pesanan Yixing. Hatinya rindu setengah mati tapi matanya mana sudi menatap Yixing.

 

“Aku tidak pernah suka Arabika kok. Dulu aku suka arabika karena Kau bilang Kau suka.”

 

Oh, bagus—jawaban Yixing membuatnya dapat atensi penuh dari si gadis. Mata segelap biji kopi itu menuntut jawaban atas alasan si lelaki—yang statusnya masih kekasihnya sampai dua bulan lalu—terus datang ke kedai kopinya, pesan Arabika tiap hari Rabu dan Sabtu.

 

“Kalau sekarang, Aku cuma ingin melihat wajah-”

 

“Wajahku, ya?” si gadis menyerahkan Arabika pesanannya, sambil senyum yang Yixing selalu tenggelam di dalamnya, bahkan sekarang.

 

“Iya, wajahmu—punya kantung mata atau tidak, matamu membengkak atau tidak, bisa tidur atau tidak. Aku ingin pastikan Kau tidak bahagia. Aku tidak mau menderita sendiri.”

 

Ups!

Gelas kopi Yixing merosot dari tangan si gadis, jatuh. Tumpah.

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

#08

 

“Ganti password kamar apartemenmu.”

Kris setengah berbisik, sedangkan bahu gadis itu masih bergetar di dekapnya, sweater rajut milik Kris basah dan ia tidak peduli.

 

“Berhenti putar lagu Nirvana kencang-kencang cuma untuk meredam suara tangismu.” Gadis itu hendak melepas peluknya, namun ada tangan yang menahannya.

 

“Harusnya tangismu tengah malam bukan lagi urusanku. Tapi maaf, Aku masih belum terbiasa untuk tidak lari menerobos kamarmu pukul tiga dini hari kalau dengar lagu Smells Like Teen Spirit-nya Nirvana.”

 

Kris mana bisa lupa soal kebiasaan gadisnya yang suka menyiksa diri; menahan tangis supaya tidak terdengar, dan sikapnya yang lebih rela dicap orang gila yang putar lagu rock pagi-pagi buta ketimbang ketahuan menangis sesenggukan.

 

 

Oh ya—Kris suka lupa. Bukan lagi gadisnya.

 

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

#09

 

“Kalau itu keinginanmu—menyelesaikan hubungan kita yang tidak jelas bentuknya ini dengan baik-baik—sepertinya…. Aku tidak bisa.”

Sehun akhirnya buka suara setelah sepuluh menit terakhir cukup sabar menyilakan gadis di hadapannya untuk bicara.

 

“Tidak bisa? Jadi, Kau tidak ingin mengakhirinya? Jadi, Kau… Memaafkanku? Kau mau mulai semuanya lagi dari awal? ”

 

Bah. Tawa Sehun nyaris meledak detik itu juga.

“Kau mulai sinting ya?”

 

Sehun menepuk dua kali bahu si gadis sebelum melanjutkan.

 

“Maaf ya. Aku tidak bisa menyelesaikannya baik-baik, seperti pintamu. Ya Tuhan, kau tidak berpikir Aku akan menangis sambil mendoakan kebahagiaanmu, kan?”

 

Sehun senyum lagi sebelum berdiri, “Tidak usah khawatirkan Aku, Aku punya feeling Kau yang akan lebih menderita dariku nanti.”

 

Persetan dengan suara serak perempuan itu yang berteriak memanggil namanya, Sehun melenggang pergi.

 

Gila. Sehun baru saja dikhianati dan minta mengakhiri baik-baik katanya?

 

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

#10

 

“Sudah makan malam, kan? Beratku naik empat kilo jadi aku harus menderita lagi malam ini, heuheu. Oh ya, jangan tidur malam-malam! Nanti kantung matamu makin tebal—nanti kamu jadi makin keren.”

 

“Malam ini agak dingin, jangan lupa pakai mantel cokelatmu kalau keluar rumah. Yang cokelat yang paling hangat. Yang biru terlalu tipis, yang hitam semakin membuatmu mirip penguntit, dan jangan yang kuning. Kau seperti pisang berjalan, Aku takut kau diculik. Habisnya Kau menggemaskan, keke~”

 

Kyungsoo pernah tersenyum waktu pesan-pesan panjang itu masuk kotak masuk ponselnya. Kyungsoo hafal kebiasaan gadis itu yang suka kirim chat panjang-panjang dan anehnya tidak pernah membuat Kyungsoo bosan.

Yang Kyungsoo juga tahu, nama gadis itu tidak akan pernah muncul lagi di deretan notifikasi ponsel Kyungsoo.

 

Oh, setidaknya satu tahun sekali.

 

Pagi ini misalnya. Meskipun tidak perlu—Kyungsoo tidak mungkin lupa, dan ia harap tidak akan pernah—Kyungsoo cuma ingin nama gadis itu muncul lagi di notifikasi ponselnya.

 

Bukan hari kelahiran Kyungsoo, maupun gadis itu. Kyungsoo tulis di note ponselnya, “Mengambil pesanan Lily putih pukul tujuh pagi.

 

Kyungsoo buka lagi ponselnya, membuka pesan-pesan lama yang sebenarnya cuma butuh satu kali tekan untuk menghapus semuanya.

Kyungsoo tahu, tidak baik menyimpan kenangan-kenangan sedih tentang seseorang.

 

Kyungsoo akan hapus kok, tapi tidak sekarang.

 

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

#11

 

“Kau di mana?”

Suho ingat jelas kata Irene sabtu malam lalu soal toko bunga milik Suho yang harusnya sekali-kali wangi Bungeoppang—kue ikan gendut yang wangi kacang merahnya sampai ke mana-mana—supaya Irene betah. Bosan kalau wangi mawar terus.

 

 

“Maaf, Aku tidak jadi ke tokomu malam ini. Bagaimana kalau minggu depan?”

 

 

Dan Suho menyesal mendengar alasan Irene barusan—lewat telepon.

Sebenarnya Suho sudah tahu soal Irene yang malam ini pilih pergi nonton. Letak masalahnya, Irene pergi dengan laki-laki yang pernah Irene umpat sambil menangis, di depan Suho.

Suho tahu, karena laki-laki brengsek itu terus update foto-foto Irene di snapgram-nya.

 

“Okay.”

 

Suho bisa dengar tawa kecil Irene sebelum bilang ‘sampai jumpa minggu depan!’. Suho langsung tutup teleponnya.

Untungnya Suho sudah rapi-rapi toko. Tinggal kunci pintu toko, dan Suho siap jalan pulang sambil menghabiskan Bungeoppang dingin yang ia beli sambil hujan-hujanan tadi sore.

 

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

#12

 

“Jangan menangis, nanti orang-orang kira Aku habis menamparmu—kayak di drama-drama.”

Biasanya lelucon Luhan berhasil, dan sekarang ia malah semakin tidak enak hati karena leluconnya garing dan si gadis yang tangisnya makin deras.

 

“Maaf, izinkan aku melakukan ini. Dan mungkin, jadi yang terakhir kalinya.”

 

Luhan tahu kalimat yang akan ia ucapkan hanya akan menyakiti dirinya sendiri  Makanya Luhan menghamburkan dirinya, mendekap erat gadis itu, takut-takut Luhan yang menangis selanjutnya.

 

“Aku pernah dengar kalimat menarik soal menyukai dua orang di saat yang sama. Mau dengar?”

 

Luhan tidak berharap gadis itu mengangguk menjawab pertanyaannya. Luhan memang hanya ingin mengatakannya.

 

“Jangan bingung tentang mana yang benar-benar ada di  hatimu sekarang. Kuberi tahu ya—Pilih saja yang terakhir datang, si nomer dua.”

 

 

“—Coba Kau pikir, kalau yang pertama yang sebenarnya ada di hatimu, tidak mungkin kan ada si nomer dua?”

 

Gadis itu ambil langkah mundur, melarikan kedua matanya menuju mata teduh milik Luhan—yang ujungnya hanya membuat rasa sesal si gadis semakin besar.

Luhan tarik nafas panjang lagi supaya kuat.

 

 

“Tidak apa-apa. Aku sadar posisiku si nomer satu ini. Pergilah.”

Luhan tunjukkan senyum supaya kalimatnya barusan terlihat tulus.

 

 

 

—fin.

 

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

Note :

  • Kerasa enggak bedanya sama side A? 😅
  • Ceritain dong mana yang paling kalian suka di side B 😆
  • Kritik saran juseyoo
  • Makasih udah baca sampai sini 😂

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Dodeka (Side B)”

  1. kreatif nih.. sukak

    waktu baca pesan2 di partnya D.O aku juga senyum2, aplalagi “pisang berjalan” hahahahaha.. aku malah bayangin kartun larva yg kuning itu wkwkwkwkwkwk
    tapi ternyata endingnya sedih..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s