[EXOFFI FREELANCE] Dodeka (Side A)

Dodeka : Side A

©2018, Noctur.Na

Drabble  | Romance | T | EXO’s Member

Disclaimer :

It’s completely my  imagination. I do not own anyone in this story.

———————————————————–

Summary :

Dua belas tulisan sangat pendek dan receh.

———————————————————–

01.

Mana ada bioskop di Melbourne yang pakai subtitle bahasa Korea, Kim Jongdae.

Jangan hujat Jongdae lagi, ia sudah melabeli dirinya tolol sejak tiga puluh menit terakhir. Yang bisa ia lakukan sekarang cuma menatap pasrah pintu teater 7 yang akan ditutup dua menit la—

 

Brukkk!

 

Ya Tuhan Jongdae ingin pulang. Salah Jongdae sendiri yang menghalangi pintu masuk, tertabrak sedikit saja ia sudah jatuh tersungkur—posisinya persis bersimpuh menyembah pintu teater.

 

“Kau tidak apa-apa?—Oh! So-sorry ! Are you ok-aaah”

 

Bukan maaf yang layak memang, seseorang menarik tangan si penabrak berhubung pintu teater akan ditutup satu menit lagi—pintu teater 7.

 

Tunggu. Tadi dia bilang apa?

 

Jongdae buru-buru lari masuk dan mencari si penabrak tadi, untungnya lampu masih menyala dan Jongdae langsung bisa menemukan gadis kuncir kuda dengan pita merah yang tadi menabraknya.

Cepat-cepat Jongdae berjalan menuju bangku kosong di sebelahnya—Jongdae tulus ingin bilang terima kasih untuk pihak bioskop karena Jongdae bisa duduk di mana saja, unallocated seat.

 

“Eh-oh. Maaf, Aku mendengarmu bicara bahasa Korea, dan ini memalukan, tapi bahasa Inggrisku menyedihkan—” Jongdae ambil nafas dulu.

 

“—Boleh Aku duduk di sini? Kalau-kalau ada dialog yang tidak kumengerti, kau satu-satunya yang bisa kutanya.”

 

Ya, Jongdae agak gila. Akibat menabung demi nonton di bioskop, Jongdae kurang makan selama satu bulan.

 

“Oh, kenalkan. Aku Kim Jongdae, barangkali ibumu melarangmu berbicara dengan orang asing.”

 

Jongdae menahan lengan gadis itu supaya tidak pergi. Lampu padam, film dimulai, dan Si gadis yang pipinya dibuat merah padam tidak punya pilihan.

 

 

02.

“Okay! Sekarang kita buka sesi telepon—Oh sudah ada penelepon pertama! Halo?”

 

Sebenarnya, Minseok punya cita-cita gila yang sejak dua tahun lalu ia idamkan.

“Halo, A-Aku Min..Seong ! Iyah, namaku Minseong.”

Kalau guling dipelukan Minseok diberi nyawa, guling Minseok sudah mati sesak nafas karena dipeluk Minseok. Minseok deg-degan setengah mati.

 

“Okay, Minseong. Jadi, dari semua bintang tamu yang hadir di studio malam ini, siapa yang paling kau suka? Apa yang ingin kau katakan?”

 

Entah bagaimana cara si penyiar mempengaruhi cara kerja otak Minseok dengan suaranya, setelahnya Minseok tidak tahu apa yang baru saja ia katakan.

 

“Aku paling suka Kau. Dan yang ingin kukatakan, tolong sediakan satu hari saja tanpa bintang tamu, hanya ada kau saja, dan kau bahas apapun tentang dirimu.”

 

Minseok gila.

 

Studio ricuh. Tapi, baik Minseok maupun si penyiar, keduanya belum mengatakan apa-apa lagi.

 

Yak, Kim Minseok aku tahu Kau di sana—Kau harus mentraktirku makan siang besok setelah kelasku selesai berhubung honorku kali ini dipotong karena teleponmu.”

 

Biar sekalian saja studio menggila.

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

 

 


03.

“Kakak suka anak-anak ya?”

Kedua matanya yang sehangat musim semi beralih. Dari gadis berambut ikal yang tidak mau duduk diam di pangkuannya ke tangan Baekhyun yang menyodorkan boneka tangan bentuk jerapah—ugh, tangan Baekhyun jadi gemetar waktu kelingkingnya tidak sengaja menyentuh jari manis si kakak cantik.

“Sangat!”

Tidak sopan kan kalau bicara tanpa kontak mata? Tatapan sehangat musim semi itu mendarat di manik mata Baekhyun seutuhnya.

 

“Aku senang ikut acara sosial—semacam ini. Apalagi kalau harus main sama anak-anak. Celetukan polos mereka selalu membuatku tertawa. Oh—Kau selalu hadir di acara sosial Kami satu tahun terakhir, Kau juga suka, ya? ”

 

Ya Tuhan, Baekhyun takut meledak kalau ditatap lama-lama begitu.

 

 

 

 

 

“I…Iya. Aku juga suka kakak.”

 

Kan. Otak Baekhyun konslet.

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

04

“Wen, tidak bisa ya kita—Kau dan Aku yang masih anak sekolah ini—dapat shift malam?”

Gerak tangan Wendy berhenti, pulpennya ia taruh di meja, dan Chanyeol akhirnya dapat atensi Wendy seutuhnya. Meskipun Wendy tahu persis, Chanyeol—lagi-lagi—cuma mau menyampaikan ide kelewat imajinatifnya.

 

“Coba bayangkan Wen kalau kita dapat shift malam, lalu Kak Eunwoo tidak sengaja mengunci gedung saat kita masih di dalam. Kita terjebak semalaman, di IKEA Wen! IKEA!

 

Kan.

 

“Kita bisa tidur nyenyak di sini, Wen. Aku sudah mengincar kasur di lantai dua sejak hari pertama kerja. Kau mau tidur di mana? Mau kupilihkan juga kasurnya? Kasur di samping kasurku juga terlihat empuk kok.”

 

Ya Tuhan, kuatkan Wendy supaya tidak lompat dan menyumpal mulut Chanyeol detik itu juga.

 

Wendy menyerah. Seempuk-empuknya kasur di IKEA, mana bisa Wendy tidur di kasur seberang Chanyeol.

 

“Kalau begitu Aku tidur di rumah. Aku yang akan telepon Kak Eunwoo—Aku masih waras, Park Chanyeol.”

 

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

05

“Coba ya, kakimu yang kelewat panjang itu bisa lebih bermanfaat untuk orang lain.”

Kedua matanya menyerang Tao, sedangkan tubuhnya masih mempertahankan posisinya—mengambil buku di rak paling atas.

 

“Susah ya bilang minta tolong?” Tao malah memangku dagu sambil senyum.

 

“Kau memang senang ya melihat orang menderita?”

 

“Tidak kok. Aku cuma senang melihatmu susah payah lompat-lompat gitu—Kakimu sependek itu, ya?”

 

Ia selalu dibuat menyerah oleh Tao.

“Hwang Zi Tao Yang Mulia, boleh aku minta tolong? Kakiku yang pendek ini tidak sampai untuk mengambil buku di rak paling atas.”

 

 

Akhirnya Tao berdiri, sambil senyum, lagi.

 

“Tentu! Sini Aku gendong.”

 

Gila.

Detik berikutnya Tao dipukuli bertubi-tubi pakai buku seadanya. Cuma sebentar. Mereka lebih dulu kena omel penjaga perpustakaan berkat Tao dan tawanya yang sampai ke tiap sudut perpustakaan.

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

 

 


06

“Selamat Kim Jongin. Kepalamu tadinya mau kupukul kalau ternyata ini cuma omong kosong.”

Soojung mengeratkan mantelnya, kemudian menyiku Jongin yang sibuk menangkap tiap sudut mengagumkan dari matahari terbit di penghujung musim dingin.

Lima detik, sepuluh detik—Soojung diabaikan, dan yah, Soojung paham kok. Ia selalu kalah saing dengan si Canon di tangan Jongin.

 

Sampai tiba-tiba mata lensa si Canon berbelok, terangkat lurus menuju Soojung.

 

Terakhir. Jangan bergerak, atau Kau akan merusak foto masterpiece-ku. Ini sudut yang paling kusukai.”

 

Duh, Soojung jadi bingung harus pasang senyum seperti apa.

 

“Sempurna.”

 

Soojung mau terbang. Setidaknya sampai malamnya Soojung periksa kamera Jongin.

 

Kurang ajar, Jongin cuma memotret jidat selebar lapangannya Soojung.

◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾

 

Note :

  • Mana yang paling kalian suka?
  • Kritik-saran juseyo 😅
  • Makasih udah baca sampe bawah! Sampai ketemu di side B ! 😆

 

 

 

 

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Dodeka (Side A)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s