[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 20)

Poster Secret Wife Season 2 '''

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 20

(Bring Up)

Semoga lagu yang dipenuhi penyesalan ini akan menggapai langit

Aku berdoa sepanjang malam berharap aku bisa menyentuh hatimu

Senyum mengembang masih terpatri di wajah tampan Chanyeol. Setelah saling bertukar pesan dengan istrinya, lelah yang dirasakannya setelah tampil di panggung perlahan memudar. Sejak hari di mana istrinya menyampaikan kabar gembira, dia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya setiap hari. Bahkan jika memiliki banyak waktu luang, sampai lima kali dalam sehari. Dia teramat bahagia dengan kehidupannya sekarang. Keinginannya untuk menjadi seorang ayah, benar-benar akan terwujud. Tak ayal, kadang rekan-rekannya dibuat terheran dengan tingkahnya yang kelewat aneh.

Seperti sekarang, senyum itu masih terlihat bahkan saat dia sudah berada di dorm selepas menyelesaikan konsernya. Langkahnya begitu ringan. Terkadang juga bersiul. Tangan panjangnya mengambil gitar. Memainkan melodi baru yang terngiang di otaknya. Saat seperti inilah, dia bisa membuat lagu. Dengan cepat dia mengambil buku dan menuliskan komposisi nada yang baru saja dimainkannya. Mengulangnya beberapa kali, hingga terdengar nada yang indah di pendengarannya.

“Kau tak mandi?” suara khas Baekhyun terdengar di indranya. Ya, pria yang sudah menjadi teman sekamarnya sejak debut baru saja keluar dari kamar mandi. Dia terlihat segar dengan rambut setengah basahnya.

“Nanti saja, aku baru saja terfikirkan melodi baru,” jawabnya cepat. Tangannya masih sibuk menggesek senar gitar.

“Akhir-akhir ini kau terlihat bahagia,” ucap Baekhyun kembali setelah memakai kausnya.

Chanyeol hanya mengangguk. Dia kembali memainkan serangkaian nada yang baru ditulisnya. “Ada banyak hal baik yang kualami akhir-akhir ini.”

“Bagaimana kabar Kim daepyo?”

Chanyeol menghentikan permainan gitarnya. Menatap aneh rekan sekamarnya. Kenapa pria itu bisa memberikan pertanyaan yang aneh. “Apa maksudmu? Bagaimana aku tahu? Dan kenapa bertanya padaku?”

“Jangan berpura-pura. Kau pikir aku tak tahu.”

Chanyeol masih menatap aneh Baekhyun. Seolah di depan wajahnya tergambar tanda tanya besar.

“Aku tahu kau sudah menikah dengannya.”

Chanyeol mengangkat alisnya sebentar. Langsung tergantikan dengan membulatkan mata. Menatap tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

Baekhyun tersenyum melihat ekspresi bingung di wajah rekannya. “Awalnya aku ragu, tapi setelah mendengar percakapanmu dengannya keraguanku hilang. Dan lagi, Kim daepyo mengiyakannya,” jelas Baekhyun panjang lebar.

Masih dengan tatapan tajam dan penuh tanya, Chanyeol memandang Baekhyun. Sang Empunya yang paham kembali bersuara, “Kau ingat hari di mana kau menelfonnya, dan bertanya perihal flashdiskmu beberapa waktu lalu? Saat itu, Kim daepyo bersamaku. Dia menyelamatkanku dari kejaran fans dan mengantarku pulang ke dorm.”

Chanyeol masih diam. Entah mencoba mengingat kapan kejadian yang dimaksud Baekhyun atau karena tak pernah menduga jika rahasianya akan terbongkar. Yang pasti, mereka hanya saling menatap. Seolah berkata dengan bahasa yang hanya mereka berdua ketahui.

Hyung, makan malam sudah siap?” ujar seseorang yang membuka pintu tanpa mengetuk. Dia memandang ke arah dua orang yang diam sambil menatap. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya lagi.

Chanyeol lebih dulu memutus kontak matanya. Mengangguk sebelum menjawab, “Iya, nanti aku ke sana. Aku mau membersihkan diri.” Dengan cepat dia memasuki kamar mandi, tanpa menanggapi perkataan Baekhyun yang tadi.

“Ck ck ck,” decak Baekhyun sambil menggelengkan kepala. “Dia tak pernah benar-benar serius menjawab ketika ditanya,” lanjutnya.

“Memangnya apa yang kalian bicarakan?” Raut penuh tanya tergambar jelas di wajah pria berkulit tan tersebut.

“Bukan urusanmu, Hitam,” jawab Baekhyun sambil menepuk pelan pundak pria itu. “Ayo, aku sudah lapar,” ajaknya sambil berlalu.

Pria itu hanya mengangkat bahu karena tak paham. Mengikuti langkah rekannya kemudian, setelah sebelumnya menutup pintu kamar.

-o0o-

Soah membuka kamar kakaknya. Sejak kembalinya dia ke Korea, ini kali pertama dia menginjakkan kaki di rumah peninggalan ayahnya. Rumah yang memberikannya banyak kenangan. Dan juga membuatnya melakukan banyak hal. Bukan tanpa alasan, mengapa dia memilih tinggal di apartemen dan bukan di rumah ini. Dia belum siap dengan fakta bahwa di sendirian di kota itu.

Dia hanya diam setelah pintu terbuka. Mengamati setiap ornamen yang ada di dalamnya. Di atas dipan terdapat foto besar kakaknya. Terlihat angkuh karena tak memperlihatkan senyumnya. Khas kakaknya ketika menjadi model iklan dulu.  Matanya kembali menelisik mengitari ruang. Foto di bingkai yang terletak di atas nakas kembali menarik perhatiannya. Tungkainya membawanya mendekat. Terduduk di ranjang yang masih terbungkus kain putih. Tanpa perlu menarik kainnya, pantatnya sudah mendarat di sana. Mengambil bingkai tersebut.

Seulas senyum terlihat di bibirnya. Itu adalah potret dia bersama kakaknya. Mengingat penampilan di masa mudanya membuatnya ingin tertawa. Betapa dulu dia terlihat seperti anak lelaki sungguhan. Pakaian serta gaya, didukung dengan potongan rambut yang kelewat pendek. Alasannya sederhana. Dulu dia tak ingin kehilangan sahabat rasa saudaranya, Sehun. Jika dia berpenampilan seperti gadis pada umumnya, dia takut jika pria itu akan jatuh cinta padanya. Bahkan tanpa penampilan itu, pria itu sudah jatuh hati padanya.

Oppa, aku merindukanmu.” Usapan lembut ia berikan pada potret kakaknya. Seketika angannya menerawang mengingat kali terakhir pertemuan mereka.

Flashback

21 Maret 2008

Appa, tidak bisakah aku tidak ikut?” tanya Soah yang duduk di kursi belakang. Mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan sedang. Di sampingnya duduk kakak laki-lakinya yang terlihat sibuk memainkan ponsel.

“Memangnya kau mau tinggal di sini sendirian?” sahut kakak laki-lakinya. Pandangannya sudah ia alihkan pada adik perempuannya.

“Masih ada Imo, aku bisa tinggal dengannya. Ya, ya. Appa,” tutur Soah kembali masih dengan nada memohonnya.

“Apa yang membuatmu berubah pikiran, Sayang? Padahal kemarin kau begitu antusias.” Kini suara lembut ibunya yang terdengar.

“Benar kata ibumu, apa yang merubah pikiranmu?” Kali ini baru suara Sang Ayah.

“Aku baru ingat, jika aku punya janji membuatkan hodie untuk Sehun di hari ulang tahunnya nanti.” Gadis berambut pendek itu kembali bersuara. Masih terdengar nada sedikit memohon dari tuturnya.

“Hanya karena itu?” Itu suara Sang Ayah.

Sang kakak juga ikut menatap aneh gadis setengah pria tersebut. Ibunya bahkan sampai menghadap ke belakang mendengar penuturan putrinya.

Soah mengangguk dengan cepat.

Sang Kakak tersenyum. Dia juga mengacak pelan puncak kepala Soah. “Sebegitu sayangnya kau pada Sehun,” tutur Sang Kakak kemudian.

“Bukannya begitu. Tapi aku sudah janji. Tidak mungkin kan aku mengingkarinya?” ucap Soah lagi masih dengan nada memelasnya.

“Jika memang begitu, apa boleh buat?” jawab Sang Ibu.

“Aku akan menyusul kalian setelah lulus nanti. Aku janji.” Soah mengacungkan kelingkingnya sebagai pendukung.

“Baiklah! Berjanjilan satu hal?” Kakaknya kembali bersuara.

“Apa?” pandangannya kini ia alihkan ke arah kakaknya. Soah dapat melihat senyum tulus dari pria itu.

“Kau harus memanjangkan rambutmu. Saat kau menyusul nanti, pastikan rambutmu sudah panjang. Berpenampilanlah layaknya kebanyakan gadis,” ujar kakaknya panjang lebar.

“Tapi.”

“Tidak ada tapi-tapian. Jika kau mau, kau bisa pergi. Jika tidak, jangan harap bisa turun dari mobil ini.” Kini Sang Ayah yang bersuara.

Soah kini menatap Sang Ibu, memohon bantuan. Tapi sepertinya ibunya setuju dengan kedua anggota keluarga yang lain. Terbukti dengan senyum yang ditampilkan yang juga disertai anggukan.

“Iya deh, Soah setuju,” pasrahnya kemudian.

Mereka semua tertawa mendengar penuturan gadis setengah pria tersebut. Tak terkecuali Sang Supir yang sedari tadi menjadi penonton.

“Gadis pintar,” ucap kakaknya lagi. Tangannya masih setia mengacak rambut pendek adiknya.

Mobil itu berhenti di persimpangan. Menurunkan gadis setengah pria tersebut. “Jaga dirimu baik-baik, Sayang,” ucap Sang Ibu.

Soah mengangguk. “Kalian juga. Sampai jumpa lagi,” ucapnya sebagai salam perpisahan.

Setelah memastikan Soah mendapat kopernya, mereka kembali melajukan mobil. Soah melambai sebelum berbalik. Senyum manis tak henti tersungging dari bibirnya. Dia bersiul senang sambil menyeret kopernya. Baru sekitar sepuluh langkah, dia mendengar decitan rem keras. Serta bunyi tabrakan keras. Seketika itu, tubuhnya menegang. Dia masih belum sanggup menoleh. Tersemat harapan di hatinya semoga bukan mobil yang ditumpangi keluarganya.

Setelah memantapkan hati, Soah menoleh. Tubuhnya limbung, terduduk lemas di trotoar. Tidak ada kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaannya sekarang. Mobil yang ditumpangi keluarganya sudah terbalik. Tak jauh dari situ ada truk yang sedikit ringsek bagian depannya.

Flashback off

Perasaan sesak kembali datang. Nafasnya sedikit memburu. Ingatan kecil itu membuat jantungnya berdebar. Setelah mengambil nafas dalam beberapa kali, sesaknya mulai berkurang. Tangannya kembali mengusap foto kakaknya.

“Aku sudah memanjangkan rambut dan berpenampilan seperti gadis. Aku sudah menapati janjiku. Aku harap kau bisa melihatku, Oppa.”

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Suara itu membuat netra Soah beralih. Dari melihat potret kakaknya, menuju asal suara. Bibi keduanya sudah berdiri di ambang pintu. Perlahan dia mulai berjalan mendekatinya.

“Hanya sedang ingin ke mari,” jawab Soah kemudian. Dia mengembalikan bingkai foto itu ke tempat asalnya.

“Kau ingin tinggal di sini?” Lagi, terdengar pertanyaan dari Sang Bibi.

“Mungkin nanti, setelah aku melahirkan,” tutur Soah sambil tersenyum.

“Maksudmu?” tanya bibinya yang tak paham. Sebelum Soah membuka suara, bibinya sudah lebih dulu membuat kesimpulan. “Kau hamil?”

Soah mengangguk.

“Kau yakin dengan pilihanmu. Bukankah itu akan berdampak untuk kese…” belum sempat bibinya melanjutkan kalimatnya, Soah lebih dulu memberikan isyarat untuk diam.

“Selama aku tidak keguguran lagi, itu tidak akan jadi masalah,” jelas Soah kemudian.

“Kau sudah berkonsultasi dengan Dokter Song?”

Soah kembali mengangguk.

Bibinya menghela nafas. Seolah tidak setuju dengan pelikiran keponakannya. “Aku tidak akan menghalangi keputusanmu. Tapi berjanjilah, jangan mempersulit dirimu.”

-o0o-

Daepyonim mau pesan apa?” tanya sekretarisnya setelah memasuki kafe.

“Latte. Sepertinya macaronnya enak,” jawab Soah.

“Aku saja yang mengantri. Daepyonim cari saja tempat duduk yang nyaman. Ibu hamil tidak boleh lelah,” ujar Aera setengah bercanda.

Soah tersenyum miring. Namun dia mengikuti perkataan gadis itu kemudian. “Aku mengerti.” Langkahya menuju meja yang ada di pojok ruang. Dekat jendela. Sengaja, karena memang pemandangannya cukup indah. Dia baru saja menyelesaikan meeting bersama kliennya tadi. Karena haus dia mengajak gadis bermarga Min tersebut mampir ke sebuah kafe.

Tak lama gadis itu datang membawa pesannya. Kafe itu memang terlihat sepi. Maklum saja ini jam kerja kantor juga masih jam sekolah. Biasanya memang tempat ini ramai dengan anak SMA.

“Jadi kau berkencan dengan pria itu?” tanya Soah setelah meminum lattenya. Tadi pagi, dia tak sengaja melihat sekretarisnya diantar oleh seorang pria.

Seburat merah dapat Soah lihat di wajah sekretarisnya. Gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu tersipu. Dia meneguk minumannya kembali sebelum bersuara. “Iya.”

“Sudah berapa lama?”

“Tiga bulan.” Raut berseri tergambar gamblang di wajah manis Aera.

Soah tersenyum setelah meletakkan cangkirnya. “Sebegitu bahagianya dirimu?”

“Tentu saja. Dia sangat baik.”

“Karena pria itu atau karena pada akhirnya kau bisa membuka hati untuk pria lain.” Soah kembali bersuara setelah menelan macaronnya.

“Maksud daepyonim?”

“Bukankah kau masih belum bisa melupakannya?”

Aera mengangkat alisnya tak paham.

“Kau masih sering gugup kan jika di dekat Chanyeol,” tutur Soah kembali. Dia melirik dari ekor matanya. Kembali menyuapkan macaron ke mulutnya.

Aera terdiam. Pandangannya mendadak kosong. Memang benar yang dikatakan bosnya. Tapi itu rasanya salah, mengingat bagaimana status pria itu sekarang.

“Tidak perlu merasa bersalah. Aku tidak akan marah.”

Aera menatap tajam bosnya, seolah minta penjelasan dari argumen yang baru saja di ucapkannya.

“Kita tidak akan pernah tahu, dengan siapa kita akan jatuh cinta. Jadi selama kau tak merusak hubungan kami, kenapa aku harus marah?”

“Ya Tuhan, kenapa kau jadi membahas itu.”

“Aku tahu seberapa keras usahamu untuk hal ini. Jadi aku hanya berusaha menghargainya.”

Aera hanya tersenyum mengejek sebagai tanggapan. Dia kembali meminum minumannya.

“Jadi ceritakan bagaimana kau bisa memutuskan berkencan dengannya?”

-o0o-

Brak. Pintu ruang latihan itu terbuka lebar. Menampakkan seorang gadis dengan wajah tegangnya. Para personil EXO yang kebetulan telah selesai dengan koreografinya menoleh. Menatap tak percaya gadis yang berdiri di sana.

Sehun adalah pria yang pertama kali mendekat. “Ai-chan,” sapanya pada gadis tersebut. “Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi. Dia terkejut melihat raut tegang di wajah sahabatnya.

Soah hanya menatap datar Sehun. Nafasnya memburu. Dia tak sadar jika tungkainya kembali membawanya melangkah. Berjalan ke arah Sehun.

Saat Sehun pikir gadis itu akan menemuinya dugaannya salah. Gadis itu melewatinya. Pandangannya tak lepas dari gerak tubuh sahabatnya. Sampai dia melihat gadis itu memeluk pria yang sudah lima tahun ini menjadi rekannya.

“Aku takut,” itu adalah kalimat pertama yang Soah ucapkan setelah memeluk pria itu.

Semua mata kini tertuju pada tingkah Soah yang tak biasa. Menimbulkan pertanyaan besar untuk mereka. Jelas saja, mereka tak pernah melihat kedekatan kedua orang yang tengah berpelukan sekarang. Kecuali, pria bermarga Byun.

Pria itu menegang. Dia merasakan nafas memburu Soah. Ditambah tubuh bergetarnya. Apalagi keringat dingin sepertinya muncul di sepanjang kening gadis itu. Dengan sigap, dia membalas pelukan gadisnya. Ya, dia tahu apa yang terjadi pada gadisnya. “Tidak apa-apa. Ada aku. Aku di sini. Jangan takut,” ucapnya berusaha menenangkan. Usapan lembut ia berikan pada surai panjang Soah.

Pria itu memberi isyarat berhenti saat Sehun mendekat. Perasaannya ikut tak menentu melihat kondisi istrinya. “Kau mendengar suara itu lagi?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya. Meski dia tak yakin apakah Soah akan menanggapinya atau tidak.

Anggukan kepala, dapat dia rasakan. Soah menanggapinya. Dia membuang kasar nafasnya. Pikirannya bertambah kacau melihatnya. Usapan halus masih ia berikan pada Soah. “Tidak apa-apa. Jangan takut. Aku masih di sini.”

Dengan hati-hati dia membawa istrinya menjauh. Di abaikannya tatapan penuh tanya dari rekannya. Dia akan menjelaskannya nanti. Yang jadi prioritasnya sekarang adalah bagaimana membuat istrinya tenang.

Dia ikut membaringkan diri. Masih dengan memeluk istrinya. Ya, dia memutuskan untuk membawa istrinya ke kamarnya. Pesan pria yang tak ingin disebutkan namanya, terngiang di otaknya. Hal pertama yang harus dilakukannya yaitu membuatnya tenang. Jika perlu, buat dia tertidur.

Dia bisa merasakan dengusan halus dari hidung istrinya. Sudah terlihat biasa, tidak memburu seperti tadi. Tubuh bergetarnya juga sudah tak terasa. Keringat dinginnya juga tampak menghilang. Perasaan lega menyelimutinya. Dia berhasil menenangkan gadisnya. Tepukan pelan di punggung Soah masih dia berikan. Dia ingin membuat gadis itu semakin terlelap.

“Apa yang membuatmu kambuh, Sayang?” ucap pria itu meski tahu tak akan mendapat respon. Gadisnya sudah terlelap. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut istrinya. Betapa dia sangat merindukan gadis itu. Seminggu lebih, dia tak melihat wajahnya. Kecupan dalam dia berikan di kening Soah.

Dia beranjak. Tenggorokannya terasa kering. Dia memang belm sempat minum setelah latihan tadi. Langkah lebarnya membawanya menuju dapur. Mengambil air dalam kulkas.

Rekannya sudah berkumpul di depan TV. Menatap tajam Chanyeol yang baru kembali dari dapur. Tatapan minta penjelasan dapat dilihatnya. Setelah menarik nafas dalam. Dia ikut duduk, bergabung bersama rekan-rekannya.

“Jadi, hyung benar-benar sudah menikah dengannya?” Sehun adalah orang pertama yang membuka suara.

Dia tak merasa heran mendengarnya. Mungkin Baekhyun sudah menjelaskannya pada mereka. “Ya, kami memang sudah menikah,” jawabnya mantap. Mungkin inilah saat yang tepat untuk memberitahu rekan-rekannya, meski sebenarnya keadaannya tak sesuai harapan.

Ada perasaan sakit saat mendengarnya. Sehun merasakannya. Sekarang dia tahu, kenapa gadis itu menolaknya dulu. “Sejak kapan?”

“Sehari, sebelum ulang tahunmu.”

Sehun tersenyum miring. Itu bahkan sudah sangat lama. Dan saat itu, dia bahkan belum mengingat siapa Soah. Jadi itu bukan kebetulan saat pria itu datang memberitahukan Soah ingin menemuinya. Bisa jadi, mereka memang datang bersama.

“Bagaimana bisa kau menikah dengannya?” Masih Sehun yang bersuara. Pria itu masih tak terima dengan apa yang baru saja dia dengar. Yang lain memilih diam, meski masih terbesit banyak pertanyaan.

Di situlah Chanyeol menceritakan kronologinya. Bagaimana dia dan gadis bernama Kim Soah menikah. Dan tentu kabar gembira yang sudah didengarnya.

-o0o-

Daepyonim,” suara Sekretaris Min menggema begitu Chanyeol memasuki apartemennya.

Tadi sebelum dia membawa istrinya pulang, dia memang mendapat telfon dari gadis itu yang bertanya perihal keberadaan wanita yang ada digendongannya. Dia bisa melihat jelas raut khawatir di wajah gadis yang pernah singgah di hatinya. Bahkan kini gadis itu ikut membantunya membaringkan Soah di ranjangnya. Memberikan selimut hangat kemudian.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa kambuh?” Suara berat Chanyeol terdengar setelah memastikan istrinya berbaring dalam keadaan nyaman. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Soah.

“Aku rasa dia tak meminum obatnya,” jawab Aera ragu. Dia memang belum yakin dengan apa yang baru saja diutarakannya.

“Obat?” Chanyeol kembali bertanya.

“Kau sudah tahu kan apa penyakitnya. Setelah kambuhnya hari itu, dia masih mendapat perawatan. Dokter Song adalah dokter yang menanganinya selama dia di sini. Aku juga baru tahu baru-baru ini, jika dia diam-diam selalu mengikuti terapi dengan Dokter Song,” jelas Aera.

Chanyeol memejamkan matanya sebentar. Kenapa dia bahkan sampai tidak tahu? Ya Tuhan, suami macam apa dia yang bahkan tak tahu bagaimana kondisi kesehatan istrinya? Dia menghela nafas. Mengutuki kebodohannya.

“Dia tidak ingin membuatmu khawatir. Karena itu dia menyembunyikannya.”

“Tapi aku tak pernah mendapati obat apapun di sini.” Entah kenapa Chanyeol ingin mengatakan hal itu.

“Kau sudah pernah masuk ruang pribadinya?”

Chanyeol menggeleng. Dia tahu sekarang. Dia memang tak pernah membahas ruang itu sejak hari di mana istrinya enggan memberitahu kata sandinya. Jadi ruang itulah tempat istrinya menyimpan rahasianya. “Dia tak memberitahukan kata sandinya.”

“Bagaimana bisa? Aku saja pernah memasukinya.”

“Dia memberitahumu?” tanya Chanyeol memastikan. Rasanya tak adil jika bukan dirinya yang tahu tentang tempat priabdi itu.

“Sebenarnya tidak sih. Waktu itu dia terburu-buru dan lupa menguncinya. Kami ada janji, jadi aku menjemputnya kemari. Saat aku mencarinya, aku tak sengaja menemukan tempat itu. Aku masuk begitu saja, karena kupikir dia ada di ruang tersebut.”

“Jadi kau tahu kata sandinya?”

Aera menggeleng. “Tapi sepertinya aku tahu. Mau aku coba bukakan?”

Awalnya Chanyeol ragu. Setelah mempertimbangkan beberapa alasan dia mengangguk setuju. Mereka akhirnya berdiri di depan ruang pribadi Soah. Berbekal keyakinan, Aera mulai memasukan kata sandi yang difikirkannya. Dan benar saja, pintu itu bisa dibuka.

“Dari mana kau tahu jika itu kata sandinya?” tanya Chanyeol yang terheran. Dia tak pernah menyangka jika gadis itu bisa membobol ruang tersebut.

“Sekedar pemberitahuan, jika dia tak suka kata sandi yang rumit,” jelas Aera dengan senyum manisnya.

Pemandangan pertama yang tampak setelah membuka pintu adalah foto Soah berukuran cukup besar di dinding. Dengan pose di mana dia tak menatap kamera. Mengenakan minidrees lengan pendek bermotif bunga. Rambut panjangnya digerai, di atasnya disematkan topi bermotif. Duduk di bangku kayu dengan posisi kaki kanan menyentuh lantai, sedang kaki kirinya menggantung di udara. Tersenyum manis hingga menampakkan sebagian giginya. Di tangan kanannya melingkar jam tangan dengan warna cukup manis.

Chanyeol menatap tak percaya foto itu. Itu terlalu indah. Posenya begitu menarik, hingga terlihat seperti seorang model.

“Itu fotonya saat masih kuliah di ESMOD,” jelas Aera. Dia masih ingat penjelasan yang diberikan bosnya dulu.

Mereka semakin berjalan masuk. Ruang dengan ukuran yang tidak lebih besar dari kamar tidurnya itu penuh dengan ornamen. Di pojok kanan dari foto besar tadi, terdapat rak buku. Berbagai buku dengan ketebalan berbeda berjejer manis di sana. Tepat di bawah bingkai foto tadi terdapat meja kerja lengkap dengan kursinya. Di samping kirinya terdapat rak yang dihuni beberapa alat melukis. Sampingnya lagi ada lemari kaca yang menyimpan gitar di sana.

Langkah lebar Chanyeol membawanya mendekat. Tertarik dengan gitar yang di simpan manis di lemari tersebut. Beberapa buku untuk menulis nada ada di sampingnya, dan juga segelas pensil.

“Kau percaya jika dia bisa bermain gitar?” ucap Aera dengan nada bertanyanya.

Chanyeol menoleh dan mengangkat alis. “Memangnya dia bisa?”

Aera mengangguk. “Dia berhenti bermain piano di usianya yang ke sepuluh. Alasannya sederhana, hanya karena dia benci fakta jika kakaknya lebih handal dalam hal itu.”

“Dan setelah itulah dia mulai belajar bermain gitar, begitu maksudmu?” kata Chanyeol menyela.

“Justru itu adalah hal terakhir yang dicobanya. Dia belajar balet setelahnya. Karena dia pernah terkilir saat belajar, dia berhenti. Lalu mempelajari biola, celo, harpa, bahkan seruling. Merasa tak ada yang cocok dia berhenti. Dan terakhir, dia memilih gitar.” Aera terlihat antusia menceritakannya. Dia masih mengingat cerita dari bibi bosnya. Dia memang mendapat informasi detail tentang bosnya dari bibi keduanya.

Chanyeol sedikit tercengang. Namun tersenyum akhirnya. Dia senang mendapat pengetahuan baru tentang istrinya. Netranya kembali menelisik. Menemukan benda yang tertutup kain. “Apa ini?” Chanyeol menunjuk benda itu. Saat tangannya terulur ingin membuka kain penutupnya, Aera mencegahnya.

“Jangan!” Aera ingat apa yang ada di balik kain itu. Lukisan bergambar wajah mantan kekasih Soah. Sekarang dia ingat, jika pria yang dilihat di lukisan Soah dulu adalah pria yang diketahui sebagai mantan kekasih bosnya. Karena itu dia tak ingin membuat Chanyeol kesal dengan melihat lukisan tersebut.

Sepertinya Chanyeol tak mengindahkannya. Terbukti dengan sudah ditariknya kain penutup tersebut.

“Sudah kubilang jangan. Itu lukisan tentang…” Aera tak melanjutkan kalimatnya melihat lukisan tersebut. Bukan seperti apa yang terakhir dilihatnya. Dia tercengang, sungguh.

Chanyeol juga. Dia bahkan membulatkan mata tak percaya. Itu adalah dirinya. Ya, dia sangat yakin. Dan gadis itu, mungkin Soah. Lukisan itu memang menggambarkan dirinya tengah mencium seorang gadis yang diyakininya sebagai istrinya. Di tengah padang rumput dengan pemandangan langit sore. Dalam lukisannya terdapat beberapa kata dalam Bahasa Inggris.

Our love story like a beautiful music, I hope. KSA love PCY.” Aera membaca kalimat yang terdapat dalam lukisan. “Kapan dia melukis ini?” tanyanya entah pada siapa. Karena memang tak ada tanda jika kalimatnya ditujukan pada pria di sampingnya.

Chanyeol masih belum bersuara. Pandangannya masih fokus pada lukisan tersebut. Dia tahu inisial itu. KSA adalam nama istrinya. Kim So Ah. Dan PCY adalah namanya. Park Chan Yeol. Ada perasaan aneh menyusup ke hatinya. Senang, bahagia, juga terharu. Semua melebur menjadi satu. Air matanya hampir jatuh, jika dia tak bisa menguasai dirinya.

-o0o-

Chanyeol keluar dari kamar mandinya dengan mengusap rambut basahnya. Setelah berdebat dengan istrinya tadi, dia memilih membersihkan diri. Perdebatan kecil tentang kegiatan istrinya. Kamarnya sepi karena memang istrinya sedang memasak, meski tadi dia sudah melarangnya. Dia terpaksa membiarkan karena melihat istrinya memang sudah lebih baik.

Dia melihat ponsel istrinya bergetar di nakas. Tangannya terulur mengambil ponsel tersebut. Dokter Song adalah nama yang tertera di sana. Dia mengangkat alisnya tak tahu, namun detik kemudian tersadar mengingat ucapan Aera semalam. Tanpa pikir panjang dia menggeser ikon berwarna hijau tersebut.

“Kim daepyo, aku hanya ingin mengingatkan jika kita hari ada sesi terapi. Datanglah setelah makan siang.” Suara seorang wanita langsung menggema di telinga Chanyeol. Dia bisa bernafas lega karena ternyata itu adalah perempuan. “Aa, anda juga tidak lupa meminum obatnya kan. Jangan sampai anda mengalami stres. Itu akan berdampak buruk untuk kesehatan mental anda.”

Oppa, sarapannya sudah siap,” ucap Soah yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.

Chanyeol menoleh dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Senyum manis istrinya adalah pemandangan pertama yang dilihatnya.

“Aku setuju dengan rencana anda hamil, karena janji yang anda buat. Rajin minum obat dan datang saat ada sesi terapi. Karena anda pernah keguguran sebelumnya, pastikan itu tidak akan terjadi lagi. Atau anda akan kesulitan untuk hamil lagi.”

Penjelasan Dokter Song membuat Chanyeol mendadak kosong. Poin yang dia ingat adalah pernah keguguran. Kapan? Kapan itu terjadi? Kenapa setelah sekian lama tinggal dengan gadis (bukan kini dia sudah menjadi wanita) tak lantas  membuatnya memahaminya. Dia selalu percaya diri jika dia sangat mengenal wanita itu, tapi nyatanya itu hanya kepercayaannya saja.

“Kim daepyo?” suara Dokter Song kembali Chanyeol dengar. Karena memang sejak tadi dia tak bersuara.

“Iya, akan aku sampaikan padanya Dokter Song,” ucap Chanyeol lantang. Dia segera memutus sambungan telfonnya. Matanya masih tertuju pada wajah istrinya. Dia bisa melihat perubahan mimik wajah Soah.

Ya, Soah kaget tentu saja. Harapannya kini hanyalah semoga Dokter Song tadi tak mengatakan sesuatu yang ingin dirahasiakannya. Tapi melihat bagaimana ekspresi wajah suaminya mustahil Dokter Song yang sudah merawatnya itu tak mengatakan apapun.

Masih dengan tatapan kosongnya Chanyeol menatap Soah. Dia melempar asal ponsel itu ke ranjang. Matanya masih tak lepas dari raut wajah istrinya. Begitu banyak pertanyaan yang mendadak berkeliaran di otaknya. Dia ingin berucap tapi rasanya begitu sulit.

Soah hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia tahu dia yang salah di sini. Seharusnya dia jujur dari awal tentang kondisinya. Tapi mengingat jika hatinya sudah jatuh pada pesona pria itu, membuatnya mendadak ciut. Dia tak ingin pria itu meninggalkannya, ketika dia sudah berhasil membangun kepercayaan pada pria itu. Dia tak ingin kembali hancur seperti kala itu. Kala di mana dia harus kehilangan orang yang dianggap sebagai tempat pemberhentian terakhirnya.

“Apa maksudnya Dokter Song? Apa benar jika kau pernah keguguran?”

Soah menelan kasar salivanya. Terlambat, pria itu sudah mendengarnya. Dia tidak akan mengelak kali ini. Setelah menghembuskan nafas dalamnya, Soah berjalan mendekat. Menarik lengan pria itu. Mengajaknya duduk di ranjang. Sudah saatnya dia jujur pada pria itu. Jika memang nanti pria itu memilih meninggalkannya, dia mungkin sudah siap. Kemungkinan itu memang pastilah ada.

“Maaf sebelumnya. Maaf karena tak jujur dari awal.” Entah mengapa rasa bersalah mulai menggerogotinya. Terasa sakit, namun akan semakin sakit jika dia tak mengungkapnya. Tangannya masih menggenggam tangan pria itu.

Chanyeol tak bereaksi apapun. Dia tak tahu harus melakukan apa. Pikirannya masih kosong. Dia hanya diam menanti setiap kata yang keluar dari bibir istrinya.

“Memang benar aku pernah keguguran. Setahun yang lalu sebelum aku kembali ke negara ini.” Soah mengambil nafas dalam setelah mengatakan itu.

“Kau mengandung anak pria itu?”

Soah mengangguk.

Ada sesak yang mengganjal ketika mendengarnya. Chanyeol mengambil nafas dalam, berusaha untuk menetralkan emosinya. Dia tidak boleh terbawa emosi sebelum mendengar sampai selesai cerita istrinya.

“Aku juga baru tahu setelah kehilangannya. Setelah hari di mana dia memilih melepaskanku. Aku pergi ke Inggris. Aku tidak ingin mengikuti ajakan Imo untuk kembali ke sini, jadi aku bersembunyi. Hanya dua minggu, karena setelahnya Imo berhasil menemukanku. Saat aku lari dari kejaran pengawal yang akan membawaku, aku tak sengaja menabrak pengendara sepeda. Benturannya sangat keras, sampai aku tak sadarkan diri.” Soah mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan.

“Saat aku terbangun aku sudah berada di rumah sakit. Dan Imo memberitahukan jika aku keguguran.” Soah berhenti. Dia belum menemukan kata yang tepat untuk melanjutkan ceritanya.

Sedang Chanyeol masih diam. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Dia hanya menatap datar istrinya.

“Selama masa perawatan, PTSD-ku kambuh. Aku melukai tanganku sendiri, itulah kenapa aku mendapat bekas luka ini.” Soah menunjukan bekas lukanya. “Aku mendapat perawatan intensif selama tiga bulan di sana. Setelah itu aku baru kembali ke negara ini.”

“Jadi, itu alasanmu ingin menunda kehamilan?” akhirnya pria itu merespon.

Anggukan kembali Soah berikan. “Aku belum siap jika harus kehilangan lagi.”

Chanyeol menarik Soah. Mendekapnya penuh kasih. “Seharusnya kau cerita dari awal. Dengan begitu aku tak akan memaksamu.”

Soah menggeleng di dekapan suaminya. “Aku sudah berjanji padamu.”

Chanyeol memejamkan matanya sebentar. Dia tak pernah menyangka jika istrinya mau membahayakan diri untuknya. “Terimakasih, Sayang.” Usapan lembut ia berikan pada surai panjang istrinya kemudian.

-o0o-

“Kenapa kita ke sini lagi?” tanya Aera pada Soah. Ya, mereka kini tengah mengunjungi kafe yang tempo hari mereka datangi.

“Macaronnya enak,” jelas Soah dengan senyum manisnya.

Aera tersenyum mengejek. “Jadi, ceritanya bosku yang cantik ini sedang nyidam.”

“Apaan sih!” Soah tersipu.

“Ya sudah. Sana cari tempat duduk. Aku yang akan memesan.”

Soah mengangguk. Dia pergi meninggalkan Aera yang sedang mengantri. Netranya menemukan orang yang dicarinya. Sebenarnya, dia memang sedang ada janji dengan seseorang di tempat itu. “Kau sudah lama?” sapanya kemudian. Dia ikut duduk berhadapan dengan pria itu. Meja di depannya terdapat secangkir kopi yang isinya tinggal setengah.

Pria yang tadi sibuk dengan ponselnya menoleh. Mendapati sahabatnya sudah datang dia tersenyum, hanya sebentar. Setelahnya raut aneh terpampang di wajahnya. Dia masih belum terima dengan fakta yang didapatinya beberapa hari yang lalu. Matanya menelisik mengamati penampilan Soah dari atas sampai bawah. Rasanya masih tak rela jika kini sahabatnya sudah berstatus sebagai istri orang. Terlebih lagi itu adalah rekannya.

“Jadi sekarang kau sedang hamil?” Sakit saat mengatakannya. Itu adalah hal mengejutkan kedua yang didengarnya hari itu.

“Iya, delapan minggu,” jelas Soah. Sebisa mungkin dia menunjukan wajah ramahnya. Dia tahu jika pria yang duduk di depannya masih kecewa dengannya.

“Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal?” Lagi, masih dengan nada sedikit tingginya pria itu bersuara.

“Aku sudah memberitahumu.” Soah tak bohong saat mengatakannya. Meski pada akhirnya dulu dia mengatakannya sebagai candaan.

“Kau yang bilang jika itu hanya candaanmu.”

“Maaf. Kau sudah tahu sendiri kan alasannya.”

“Jadi kau menemui pria ini?” ucap Aera meletakkan pesanannya di meja. Dia juga menunjuk pria yang duduk di depan bosnya. “Aku akan tunggu di mobil. Kalian mengobrolah yang santai,” ucapnya lagi sebelum kedua orang tersebut bersuara. Dia ingin memberi ruang mereka untuk menyelesaikan masalahnya.

Aera benar-benar pergi meninggalkan mereka. Dia tahu batasannya. Saat akan membuka pintu mobil, tepukan pelan mendarat di pundaknya. Seorang wanita cantik menghampirinya.

“Kau yang bernama Min Aera?” tanya wanita itu kemudian.

“Iya, benar,” jawab Aera.

Plak. Tamparan keras mendarat di pipi Aera. Rasanya begitu sakit. Sambil memegangi pipinya, Aera hendak protes. Namun perkataan wanita itu membuatnya diam.

“Berhenti menemui suamiku.”

“Apa maksud anda?” tanya Aera yang tak paham.

“Kau pikir aku tak tahu, jika selama ini kau berkencan dengannya. Pria bernama Hwang Johan itu, suamiku.”

Aera membulatkan mata. Menatap tak percaya pada wanita di hadapannya. Dia seperti di sambar petir. Sakit mendengarnya, sungguh. “Itu tidak mungkin. Kau hanya mengada-adakan,” bantahnya. Dia mencoba menepis kemungkinannya. Dia tak terima dengan perkataan wanita itu. Terlebih, dia baru pertama kali bertemu.

“Dasar wanita murahan.” Wanita itu bermaksud menampar Aera kembali. Namun tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh seseorang. Wanita itu mencoba memberontak. Dia ingin melepaskan tangannya.

“Tidak baik, menyelesaikan masalah dengan kekerasan,” ucap orang itu.

“Bukan urusanmu. Lepas!” Akhirnya wanita itu dapat membebaskan tangannya. “Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu. Jika sekali lagi kau mencoba menggoda atau menemui suamiku. Aku akan menghabisimu.” Setelah berkata itu, wanita tadi meninggalkan Aera dan kedua orang yang muncul entah dari mana.

Eonni, kau baik-baik saja?” tanya Soah yang memegang bahu Aera. Gadis itu akan terjatuh jika Soah tak memegangnya. Tadi Soah memang baru keluar dari kafe. Dia berjalan cepat bersama Sehun menghampiri Aera melihat kejadian tadi.

Air mata Aera tumpah. “Aku tidak tahu jika dia sudah beristri,” ujarnya sambil terisak.

Soah menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Mencoba memberinya kekuatan.

“Bawa masuk ke mobil saja. Tak enak dilihat banyak orang,” tutur Sehun memberi saran. Mereka memang baru saja menjadi pusat perhatian orang yang kebetulan lewat.

-o0o-

Soah berjalan tergesa memasuki hotel. Dia menekan angka di mana tujuannya datang. Bar hotel. Setelah mendapatkan telfon jika sekretarisnya tengah mabuk di sana, dia bergegas pergi. Dengan langkah sedikit cepat, dia berjalan.

Sampai di sana dia melihat gadis itu sudah tak sadarkan diri dengan kepala di sandarkan pada meja. Dia membuang kesal nafasnya. Sebegitu berefeknya kejadian siang tadi. Gadis itu pasti bertengkar atau bahkan mungkin putus dengan kekasihnya.

“Anda mengenalnya nona?” tanya seorang bartender ketika dia duduk di samping gadis itu.

“Iya, dia sekretarisku. Terima kasih sudah menghubungiku dan menjaganya,” ucap Soah tulus.

“Tidak masalah,” jawab Sang Bartender. Dia kembali pamit undur diri karena harus melayani tamu yang lain.

Soah mengusap pelan kepala Aera. “Eonni, kau baik-baik saja?” Meski dia tahu tidak akan mendapat respon, Soah tetap berucap.

“Kau sebenarnya kenapa sih? Merepotkan orang saja.”

Suara tak asing mengema begitu saja di telinganya. Soah menoleh untuk memastikan jika pemikirannya benar. Benar saja, seorang pria tengah membopong pria lain yang sedak mabuk. Si Pria yang mabuk seperti enggan pergi bersama pria tersebut. Saat sudah dekat, Soah menyapa orang itu. “Oppa.”

Pria itu menoleh. Mengangkat alis mendapati pemandangan langka di depannya. “Sayang, apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria yang dipanggil oppa oleh Soah.

Soah menunjuk gadis yang sudah terlelap karena mabuk.

“Itu Aera?” tanya pria itu lagi. Pria yang dibopongnya sudah tak sadarkan diri.

Soah mengangguk. “Aku mendapat telfon dari bartender jika dia mabuk. Aku segera bergegas kemari,” jelasnya kemudian.

“Aku ke sini juga karena mendapat telfon jika dia mabuk.” Tangan pria itu menunjuk ke arah pria yang sudah tak sadarkan diri. “Dia memang selalu menyusahkan,” keluhnya kemudian. “Tunggu di sini! Aku akan bawa Sehun ke mobil. Setelahnya aku akan membawakannya untukmu.” Pria itu menunjuk gadis yang terlelap di samping Soah.

“Kenapa tidak biarkan saja mereka di sini?” ujar Soah yang langsung mendapat tatapan tajam dari pria itu.

Namun pada akhirnya pria itu tersenyum. Mengangguk setuju dengan ide istrinya. “Bagus juga.”

-o0o-

“Bagaimana reaksi mereka saat terbangun, aku benar-benar penasaran,” Chanyeol membuka obrolan di sela-sela makannya. Setelah memastikan kedua orang yang dikenalnya berada di tempat aman, dia membawa pulang istrinya. Dan sekarang, dia sedang sarapan bersamanya.

Soah hanya tersenyum di sela-sela kunyahannya. “Kaget tentu saja,” jawabnya setelah menelan makanannya.

“Bagaimana bisa kau terfikirkan ide itu?” tanya Chanyeol kembali.

“Aku hanya merasa kasihan pada Aera eonni. Ini kali pertama aku melihatnya berkencan selama hampir setahun bersamanya. Tapi dia mendapat orang yang salah. Pria itu ternyata sudah memiliki istri,” jelas Soah. Dia kembali memasukan makanan ke mulutnya.

“Kenapa dia sampai tidak tahu?”

“Istrinya baru kembali dari Amerika setelah menyelesaikan studinya.”

-o0o-

Sehun masih betah memandang wajahnya di cermin. Dia mengenakan bathrobe setelah mandi tadi. Rambutnya masih setengah basah. Pikirannya menerawang mengingat kejadian semalam. Dia mengacak rambutnya sambil mengutuki kebodohannya. Dia sudah membuat kesalahan fatal. Bagaimana tidak, dia sudah meniduri seorang gadis. Terlebih gadis itu masih perawan sebelumnya. Dia benar-benar brengsek. Lagi, dia mengacak kasar rambutnya.

Dia ingat dia pergi ke bar semalam. Melepas stres dari tuntutan kerja serta fakta jika sahabat yang disukainya sudah menikah. Dia masih belum terima dengan yang satu itu. Apalagi suami dari sahabatnya adalah rekannya.

Tapi yang membuatnya heran, mengapa dia bisa berada di kamar hotel bersama gadis itu? Singkat cerita, dia yang masih setengah mabuk mendengar seorang gadis menangis. Dengan sedikit enggan dia beranjak dari tempatnya berbaring. Gadis itu mengumpat serta menyebutkan nama seorang pria yang diyakininya sebagai kekasihnya. Gadis itu terlihat frustasi. Mungkin habis putus dengan pria yang disebutkan namanya tadi.

Karena terlalu berisik. Sehun membentaknya. Mereka yang masih setengah mabuk kemudian berdebat. Dan berakhir dengan semakin kerasnya gadis itu menangis. Tak tega melihatnya, dia memeluknya mencoba menenangkannya. Dia mungkin sedikit tahu bagaimana perasaan gadis itu. Dia dibuat semakin frustasi karena gadis itu tak kunjung berhenti menangis. Entah mendapat dorongan dari mana dia akhirnya mencium gadis tersebut dan dia melakukannya. Salahkan gadis itu yang juga membalas ciumannya.

Bukan, bukan. Ini memang salahnya. Gadis itu hanya terbawa suasana. Jika saja jiwa brengseknya tidak muncul, ini tidak akan pernah terjadi. Tapi sebenarnya itu murni karena mabuk. Dia mengusap kasar wajahnya dan kembali mengacak rambutnya. Apa yang harus dikatakannya pada gadis itu jika terbangun nanti?

Minta maaf. Ya, dia harus melakukannya. Entah dia akan mendapat pukulan atau cacian dia harus siap. Itu memang resiko yang harus ditanggungnya. Terlebih lagi dia sudah mengenal gadis itu, meski hanya sebatas pekerjaan dan nama. Gadis itu adalah sekretaris sahabatnya. Min Aera. Jika sampai sahabatnya tahu… Ah, dia tak ingin membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sementara itu di luar ruang, gadis yang tengah terbaring di ranjang menggeliat pelan. Kepalanya ia gelengkan karena sedikit pusing. Netranya menelisik ke setiap sudut ruang. Memejamkanya beberapa kali. Detik berikutnya membulat sempurna. Sepertinya dia teringat sesuatu. Karena setelahnya dia mendudukan diri, tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Kepalanya ia gelengkan ke kanan dan ke kiri. Seperti tengah mencari seseorang.

Dia bernafas lega tak menemukan siapapun. Dia ingat kejadian semalam. Betapa memalukan dirinya. Tangannya memukul kecil kepalanya. “Bodoh, bodoh. Kenapa aku sampai terbawa perasaan?” makinya pada diri sendiri.

Ceklek. Bunyi pintu terbuka mengalihkan atensinya. Seorang pria muncul dari sana. Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap. Pria itu bahkan berhenti di tengah pintu, melihat gadis itu sudah terbangun. “Kau sudah bangun?” ucap pria itu menyapa. Dia berjalan mendekat ke ranjang.

Gadis itu membuang muka. Dia malu, tentu saja.

“Maafkan aku, noona,” ucap pria itu lagi setelah mendudukan diri di tepi ranjang.

Gadis itu memejamkan matanya. Dia merasa tak enak mendengar permintaan maaf pria itu. Dia menggigit bibir bawahnya. Mencoba mencari kata yang tepat untuk diucapkan. Pada akhirnya dia memilih bangkit. Menggulung tubuhnya dengan selimut. Memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.

Pria itu terus menatap apapun yang dilakukan gadis di depannya. Gadis itu belum membuka suara, jadi dia harus menunggu jawaban dari Sang Gadis.

Gadis itu menatap tajam pada pria itu. “Lupakan. Anggap saja tidak pernah terjadi. Lagipula kita sama-sama sedang mabuk semalam.” Tepat setelah mengatakan itu, gadis itu berlari ke kamar mandi.

to be continue……..

Saya kembali lagi.

Ini Chapter terpanjang yang pernah saya tulis. Sampai 23 halaman A4 di Ms.Word

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.

Tunggu saja next chapternya…

See you.

16 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 20)”

  1. Wkwkwk ada ada aja kelakuan Soah sama Chanyeol, tapi ku harap ada kisah indah kelak antara Sehun dan Aera.
    Ditunggu next chapnya ya thor, fighting 💪
    Oh ia Thor, ternyata responnya Sehun di luar dugaan, ku kira dia bakal ngamuk dan ngancurin hubungan Soah n Chanyeol, eh ini malah kejebak masalah sama Aera hahaha

    1. Pasutri geje ya itu Soah-Chanyeol… 😂😂😂
      Semoga saja ya, Sehun sama Aera… 😍😍😍

      Oke, semangat.. 💪💪💪
      Kan Sehun udah dewasa, makanya dia berfikir dulu sebelum bertindak, dan lagi dia kan udah sayang ma Soah, nggak mungkin lah tega ngerusak kebahagiaan orang yg disayangnya…

  2. yeeeeeeee…. chapter ini panjanggg… senang bacanya
    ohh jadi soah dah pernah hamil sama orang itu… seneng juga karna chanyeol masih mau menerima.. duhhh dah deg deg’an aja bacanya.. takut chanyeol murka..

    yakkk.. sehun udah gede… wkwkwk

    1. Iya, pakai banget malahan…. 😊😊😊
      Bener, Kakakku Soah pernah hamil sama si dia…
      Bang Chan mah mau Soah gimana pun tetep nerima, kan udah Cinta setengah mampus… 😍😍😍

      Emang Bang Sehun udah gede,
      Thanks ya..
      Jangan bosan menunggu… 😘😘😘

    1. Mungkin bakalan marah atau tambah seneng??? 🤔🤔🤔
      Ditunggu saja di next chapter

  3. Chapter ini,aq suka ceritanya thor,ada tegang ketika chanyeol mau liat lukisan soah,ada tegang ketika chanyeol tau rahasia soah..namun lega tidak ada konflik diantara mereka,aq suka sehun sama aera saja..wkwk…lanjut ya thor..i’ll be waiting..

    1. Sengaja dibikin panjang biar puas. 😁😁😁
      Sehun sama Aera? Kita lihat saja nanti ya.
      Terima kasih dukungannya
      Jangan bosan menunggu.
      😘😘😘

    1. Bang Sehun kan udah dewasa 😊
      Iya, aku jga berharap banget.
      Thanks ya… 😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s