[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 4)

[4] Love You More

Love, Friends and Ambition

Tittle                     = Love You More (Love, Friends and Ambition)

Author                 = Park Shin

Main Cast           = Kim Arin, Byun Baekhyun, Oh Jiho, Kim Taehyung BTS

Cast                       = EXO’S members, Yoon Ara, Moon Sojin, Other’s Idol

Genre                  = School Life, Friendship, Romance

Length                 = Chaptered (16 Eps)

Rating                   = General

Disclaimer           = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[4]

Laki-laki dan pernyataan cinta

Baekhyun melangkahkan kakinya dengan berat. Pelajaran hari ini baginya cukup membosankan. Apalagi kenyataan kalau Baekhyun,

Tidak berhasil mendapat nilai 90

Melainkan

“Daebak Baek, kau mendapat nilai 60.” Ujar Kai yang memang duduk disampingnya. Kini mereka sedang duduk dipinggir lapangan dengan pohon rindang yang menjadi tempat favorit mereka.

“Kau mengalahkan Woohyun” Tambah Sehun. “Kau kemasukan dewa pintar ya”

TAK

Chanyeol menjitak Sehun “Tentu saja dia belajar.” Bela Chanyeol.

“Kau.. apa kau belajar dengan Kim Arin?” Semua mata yang tadinya mengarah pada Kyungsoo, sekarang mengarah pada Baekhyun yang menatap kertas hasil ujiannya dengan nanar.

Mereka saling melempar pandang. Namun dari mereka tidak ada yang tahu mengapa Baekhyun membisu.

“Baek, kau mau tau satu fakta?” Baekhyun mulai tertarik namun masih memasang wajah muram. Semuanya lalu memperhatikan Kyungsoo yang akan memberi tahu sesuatu.

“Kim Arin..” Baekhyun melebarkan matanya mendengar Kyungsoo menyebut namanya “Kemarin dia bertanya padaku tentang dirimu.”

Baekhyun menelan ludahnya di tenggorokannya yang kering “Mwo?”

“Tenang saja, aku tidak membeberkan tentang suratmu dan Oh Jiho.” Baekhyun menghela nafas panjang.

“Selama ini aku dan Arin semakin dekat” Baekhyun mulai merasakan keanehan dengan nada bicara Kyungsoo.

“Hei.. Kyungsoo kau mau merebut dia dari Baekhyun?” Chanyeol terlihat tersulut namun dicegah Kai “Lanjutkan bicaramu Kyungsoo”

“Asal kau tahu Baek. Dia… “ Semuanya benar-benar hening dan menunggu Kyungsoo melanjutkan kalimatnya.

“….. menyukaimu”

***

Flashback

Kyungsoo dan Arin pulang bersama. Arin menepati janjinya untuk mentraktir Kyungsoo. Sesampainya di halte mereka harus berpisah karena tidak satu arah.

“Kau yakin bahwa kau benar-benar menyukai Baekhyun?” Kyungsoo memastikan bahwa yang ia dengar di kedai tadi bukanlah khayalan belaka. Fakta tentang Kim Arin memang menyukai Baekhyun.

“Kau tidak percaya?”

“Hanya saja..”

“Aneh kan?” Kyungsoo menoleh setelah Arin mengatakannya. Arin menatap jalanan yang kini dihiasi lampu temaram dan kendaraan yang berlalu lalang.

“Aku menyukainya saat itu juga. Saat dia mengatakan cinta padaku”

Dan Kyungsoo menyesal menanyakan hal tersebut, karena dia sekarang merasa

….sangat bersalah.

***

Setelah mendengar penjelasan Kyungsoo, Baekhyun berbaring di bangku taman berukuran 3×4 yang sudah usang di atap sekolah. Tempat favoritnya sekaligus tempat dimana ia melepas rindu pada Jiho. Hanya saja, kali ini Baekhyun terngiang-ngiang perkataan Kyungsoo.

“Dia menyukaimu”

Aish

Baekhyun PoV

Dia menyukaiku?

Bagaimana bisa?

Kenapa jadi rumit begini sih?

Haruskah aku membuat Arin membenciku? Supaya aku bisa putus dengannya dan dia berhenti menyukaiku?

Apa harus begitu ya?

Kan aku jadi merasa jahat

Aku memandang langit yang mendung. Pelajaran Kimia ini aku putuskan untuk membolos. Bagiku masalah yang aku hadapi sekarang lebih rumit dari rumus karbon yang Han Saem ajarkan setiap hari.

TING

Aku mengambil benda persegi panjang di almetku. ‘Siapa sih mengganggu saja?’

“Kau dimana?”

Siapa ini? Aku tidak menyimpan nomor ini di kontak. Apa ini Han Saem atau jangan-jangan..

“Aku Kim Arin. Kau dimana sekarang? Kyungsoo bilang kau tidak ada dikelas”

Heol, darimana dia dapat nomorku? Apa Kyungsoo yang memberinya?

Ish aku harus balas apa? Aku tidak ingin menemuinya sekarang sungguh.

Ah tidak usah kubalas. Aku melempar benda itu disamping dan aku kembali berbaring memejamkan mataku.

Arghhhhh kenapa menyebalkan sekali sih

“Di atap”

***

Arin merasa ini pertama kalinya ia mendaratkan kakinya ditempat terbuka dengan semilir angin yang lumayan kencang. Ditambah banyak tumpukan kursi dan meja yang sudah rusak. Ia tidak menyangka ada tempat seperti ini di sekolah.

Ia mendekat ke pinggir atap. Sambil berpegangan pada tralis tua yang membentang ia menunduk kebawah.

“Hah.. tinggi sekali” Ucapnya lalu Kim Arin menegakan kepalanya kedepan. Dari sini, lapangan hijau dan gedung kelas 12 bisa nampak begitu jelas. Ditambah gedung-gedung tinggi di luar sekolah yang menjulang menghiasi pemandangan yang terbalut langit biru yang sedikit mendung.

“Wah… ini tempat yang bagus” Arin memeluk teralis besi itu dan menumpukan dagunya di kedua lengannya yang ia lipat. “Sangat menenangkan”

“Kau tidak masuk kelas?” Arin tersentak lalu menoleh kesamping. Itu Baekhyun.

“Kelasku kosong.” Jawab gadis itu lalu kembali melihat kedepan.

“Ada apa?”

Arin menoleh ke Baekhyun. “Aku hanya ingin bertemu denganmu” ‘bogoshippeo ’ Ralat didalam batin Arin tentunya.

Baekhyun menaikan alisnya. Dilihatnya Kim Arin yang tengah menatap rerumputan hijau dilapangan. Tanpa Arin tahu, Baekhyun tersenyum tipis. Tapi akhirnya Baekhyun merutuki kebodohannya.

“Aku tidak tahu ada tempat seperti ini. Apa ini tempat favoritmu?”

“Ya begitulah.”

Arin mengangguk-angguk. “Kenapa kau tidak masuk kelas Baekhyun-ssi?”

“Aku malas”

Arin tersenyum tipis “Bagaimana ulangan Bahasa Inggrismu?”

Baekhyun tersenyum masam “Aku gagal”

“Benarkah?” Raut kecewa nampak ditunjukan diwajah Arin, namun ia tersenyum kembali “Tidak apa. Kau masih bisa memperbaikinya di Ulangan selanjutnya. Semangat ya” Arin mengepalkan kedua tangannya kearah Baekhyun dan lelaki itu hanya mematung.

“Akh… aku lupa membawa bukumu.” Baekhyun memukul keningnya dan mendapat gelak tawa dari Arin.

“Gweenchana. Kau boleh menyimpannya”

Dan Baekhyun hanya mengangguk-angguk seperti orang bodoh.

Arin tersenyum “Pertanyaanmu…” Baekhyun menatap Arin lagi “Kau tidak ingin tahu jawabannya?”

Baekhyun menampakan wajah bingung

“Kenapa aku menerimamu?”

Angin kencang tiba-tiba melewati mereka berdua. Anak rambut Arin berterbangan begitu juga dengan Baekhyun. Entah mengapa Baekhyun merasa Arin tampak begitu cantik. Rambut yang ia kucir kuda, tangannya yang menyelipkan anak rambutnya ketelinga dan mata itu..

“Aku kan gagal, sepertinya aku harus menunggu di ulangan selanjutnya kan?”

Arin tersenyum lagi. “Eo. Kau benar”

Mereka berdua kembali hanyut dalam suasana diam. Sampai Arin merasa bosan hanya melihat kedepan. Ia lalu perlahan-lahan menoleh kesamping. Dilihatnya Baekhyun yang kini juga melakukan hal yang sama, melipat kedua tangannya diatas teralis dan memejamkan mata.

Arin PoV

Jika dilihat dari sisi ini, Baekhyun sangat tampan.Rambutnya yang acak-acakan,Kemeja putih yang tidak dimasukan, terbalut almet yang sedikit kusut, celana yang press di kakinya dan sepatu nike putih yang membalut kakinya. Yah hanya saat seperti ini aku bisa mengamati Baekhyun dengan lamat-lamat. Mungkin ini memang style Baekhyun. Berbeda dengan anak-anak kelas A yang memang rapi dan tertata.

Baekhyun sangat tampan.

Dan aku memang tidak bisa memungkiri bahwa aku jatuh pada pesona lelaki yang belum pernah aku kenal sebelumnya.

‘Saranghae’ Batin Arin dan ia merasa geli sendiri

***

“Kau harus belajar keras Baek, jangan sering membolos”

Baekhyun hanya tersenyum.

“Aku ke kelas ya. Sampai jumpa”

Arin melangkah melewati Baekhyun namun beberapa saat kemudian ia membalikan badannya menghadap Baekhyun kembali.

“Itu nomerku.. kau bisa menyimpannya” Ucapnya dengan gestur malu-malu lalu kembali ke kelas dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.

Baekhyun menatap layar ponselnya. Menatap nomor yang tertera di kotak masuk pesannya. Jemarinya menekan layar dan menambahkan nomer tersebut ke kontak.

‘Kim Arin’

Lalu Baekhyun memasukan benda itu ke saku dan kembali ke kelas.

Tanpa Baekhyun tahu, semalam Arin menggeliat di kasurnya menatap sederet nomor asing yang dikirim oleh Kyungsoo.

‘Ini nomer Baekhyun.’

‘Terima Kasih’

‘Tidak gratis Nona Byun’

‘Catatan Kimia, otte?’

‘Lebih dari cukup’

Gadis itu berkali kali merasa geli karena merename nomor Baekhyun.

‘Pacarku’

‘Nae namja’

‘Byunnie <3’

‘Baekhyunnie’

‘Hyunnie’

Ah lucunya

Arin terkikik sampai akhirnya ia mengakhiri khayalan menggelkan itu dengan memberi nama kontak Baekhyun.

“Baek <3”

***

“Dasar lelaki brengsek”

PLAK

“Teganya kau memutuskanku begini, eoh?”

Gadis yang memakai seragam abu abu pressbody itu menampar sekali lagi pada lelaki dihadapannya. Almet dongkernya sudah kusut karena di tarik-tarik oleh gadis berpoles bibir merah dengan rambut hitam sebahu.

“Aku bosan denganmu. Kau suka menggoda laki-laki lain”

“Kau brengsek Kim Kai ”

PLAK

“Cukup Kim Nayeon. Kita akhiri sampai disini”

“Eoh.. begitu ya. Wae? Kau menemukan yang lebih cantik dariku? Siapa ? Gadis di sekolahmu?”

“Iya.”

“Pembohong”

“Tidak, akan kutunjukan. Dia disana.”

Gadis bernama Kim Nayeon itu menoleh kearah yang ditunjuk Kai.

***

Dilain tempat, Arin menatap jalanan dengan ekspresi lelah. Pulang kerumah adalah hal yang menyebalkan baginya. Jika bisa memilih ia ingin kemanapun asal tidak pulang. Sayangnya Moon Sojin les memasak dan Yoon Ara membantu Ibunya di kedai. Dan tidak mungkin jika Arin meminta Baekhyun menemaninya karena tadi saat kekelasnya, Baekhyun dan teman-temannya sudah menghilang. Perpustakaan, rumah kedua kesukaannya sedang dipakai kelas 12 untuk tugas syuting drama.

Kini tinggalah dia yang termenung di halte sambil memikirkan pergi kemanapun sampai petang. Dengan begitu ia bisa langsung tidur dan mendapati dirinya terbangun besok pagi.

“Dia… dia pacarku”

Arin menoleh dan terkejut ketika lelaki berkulit coklat tiba-tiba merangkulnya dari belakang. Arin tahu siapa dia. Kim Kai, pemain basket yang dulu sering menemui Krystal tapi ia tidak tahu mengapa Kai merangkulnya dan mengklaim dirinya

“Dia pacarku sekarang pergilah”

“Hah… apa ya-“

“Tolong diamlah” Potong Kai dan berbisik pada Kim Arin “Bantu aku mengusir nenek sihir ini”

Arin menyadari ada gadis lain didepannya yang memakai seragam yang berbeda. Gadis itu menatap tajam Arin yang tidak tahu menahu.

Arin mencoba menggeliat di rangkulan Kai, tapi lelaki itu kuat sekali.

“Pergilah”

Dan gadis itu menghentak-hentakan kakinya sebal dan memilih pergi, mencegat taksi yang lewat hingga mobil itu  hilang dari pandangan.

“Huh… aku menyesal pernah menyukainya”

Arin menoleh dan melihat lelaki tan itu menghela nafas panjang.

“Kai-ssi, bisakah kau melepaskan tanganmu ‘ini’?” Arin sukses membuat Kai langsung tersentak dan melepaskan rangkulannya.

“Ah mian.. dan terimakasih” Arin hanya mengangguk-angguk.

“Gadis itu terus mengejarku. Ish aku muak dengannya” Arin hanya terkekeh mendengar Kai yang kini duduk disampingnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Kai bertanya pada gadis disampingnya.

“Sebenarnya aku ingin pulang tadi, tapi busku sudah lewat.” Ucap Arin yang membuat Kai merasa bersalah.

“Oh maafkan aku. Aku akan mengantarmu. Aku bawa mobil.” Kai mengucapkannya dengan wajah yang bersungguh-sungguh.

“Kau sudah punya SIM?”

Dan Kai menaikan sebelah alisnya “Belum sih, tapi tidak masalah untukku”

Arin menggelengkan kepalanya dan mengekor dibelakang Kai. Sesampainya dimobil mereka sedikit saling sapa dan bercengkrama. Bagi Arin mudah sekali langsung dekat dengan siapapun, tapi entah kenapa dengan Baekhyun sangat berbeda.

“Bagaimana hubunganmu dan Baekhyun?”

“Ehm… baik-baik saja”

Lampu merah menyala dan Kai menoleh ke Arin yang nampak fokus kejalanan. Didalam hati Kai, ia merasa sedikit tidak enak menanyakan perihal Baekhyun. Tentunya, ia harus hati-hati.

“Oh, ya lusa,  Kyungsoo ulang tahun”

Arin langsung menoleh kearahKai yang sedang menginjak pedal gas karena lampu merah berganti lampu hijau.

“Benarkah?”

“Eo. Apa kau sibuk setelah ini?”

Arin menggeleng. “Ehm tidak kok. Wae?”

“Ayo kita belanja”

***

Bukan hal yang aneh bahwa Kai lebih tahu distro dan letak-letak di Mall Lotte ini ketimbang Arin. Gadis yang memang baru pertama kali kemari. Dan kenapa Kai lebih hafal? Karena pacarnya sering sekali minta ditemani kemari.

“Ah disana”

Kai menunjuk salah satu distro pakaian laki-laki. Disana banyak sekali hoddie, jaket dan mantel khusus laki-laki. Di sampingnya sepatu kets dan beraneka macam tas.

“Kyungsoo suka warna hitam. Ehm dan apa yang cocok untuknya ya?” Ucap Kai sambil menerawang di depan manekin.

“Hoddie?”

“Dia sudah punya banyak Hoddie?”

“Jaket? Mantel?”

“Dia bilang itu sudah memenuhi lemarinya”

“Jam tangan?” Usul Arin lagi

“Ah.. jam tangan.” Arin menaikan alisnya. Dia mengajak Arin keluar distro namun Kim Arin memilih untuk tetap disini.

“Apa Kyungsoo suka syal?” Tanya Arin

Kai mengangguk “Dia suka syal rajut. Ehm, kurasa itu hadiah yang cocok untuknya”

“Baiklah aku akan memilih disini saja”

“Oke nanti aku akan kemari lagi”

Sepeninggal Kai, Arin berada di bagian syal rajut. Disana ia memilah mana yang rasanya pantas untuk Kyungsoo.

Arin berfikir berkali-kali dengan Syal yang menurutnya cocok untuk Kyungsoo.

Warna hitam polos atau Hitam dengan garis garis perak?

Lalu ia mengambil benda persegi dan memfoto dua syal yang ia letakan bersebelahan. Lalu mengirimkan gambarnya kepada Kyungsoo.

‘Pilih satu’

Tak berapa lama Kyungsoo membalasnya

‘Kenapa? Menurutku syal hitam perak lebih bagus. Untuk siapa itu?’

‘Rahasia’

Arin tersenyum simpul. Lalu ketika akan pergi ia melihat syal yang dipakai di manekin yang sedikit menarik perhatiannya.

Syal dengan motif merah marun dan dipinggirnya dibalut warna kuning emas. Entah mengapa ia membayangkan jika Baekhyun memakainya.

‘Baiklah aku akan membeli ini juga’

***

“Rumahmu besar juga.”

“Tidak sebesar yang terlihat”

“Apa lebih besar?”

Arin menggelengkan kepala dan Kai terkekeh.

“Senang berkenalan denganmu Kim Arin. Kau sangat menyenangkan ternyata”

“Kau juga.”

“Aku merasa kita cocok dalam urusan bercakap-cakap. Yeah kau cukup menarik untuk seorang laki-laki jika saja kau bukan milik Baekhyun. Aku bukan tipe yang suka mengambil milik orang lain.” Ucap Kai diakhiri smirk nya yang cukup ‘menggoda’

“Ey kau menggoda ku sekarang?”

“Kalau kau bosan dengan Baekhyun. Hubungi aku” Kali ini Arin tertawa. “Bercanda kok” Ujar Kai melanjutkan.

“Tapi kita bisa berteman kan?”

“Tentu saja”

“Baiklah. Sampai Jumpa.” Kai akan masuk kedalam mobilnya namun sebelum melaju, kaca mobilnya diturunkan.

“Oh ya… beri aku kontakmu” Arin nampak bingung tapi akhirnya ia memberi nomernya pada Kai.

“Sebagai hadiah pertemanan kita, aku akan memberimu sesuatu yang menakjubkan”

TING

Arin merasakan hapenya bergetar dan saat membukanya

“Hahhahaa” Arin tak bisa menahan tawanya

“Kurasa itu cukup sebagai hadiah. Selamat tinggal”

Arin melambaikan tangannya pada mobil Kai yang hilang di tikungan. Arin merasa geli menatap foto yang baru saja dikirim Kai.

Foto Baekhyun yang berpose didepan kamera dengan mulut yang seperti ingin mencium.

Ugh.. menggelikan

***

Arin PoV

Seperti biasa, aku memasang topeng palsuku dengan menyapa ramah anak anak yang ku temui dari gerbang sekolah sampai koridor. Sesampainya di koridor utama aku menuju ke loker dan  terkejut melihat  dasi yang tergerai panjang tergantung di lokerku. Aku  mengambil dasi itu lalu membaliknya.

‘KIM ARIN’

Ah ini dasi cadanganku waktu kelas 10.

 

Flashback

“KIM ARIN”

Hosh! Hosh! Hosh!

Arin terkejut ketika mendapati seorang namja berada dibelakangnya dengan wajah memerah, bulir keringat di dahi dan pipinya serta seragam yang berantakan.

“Taehyung, ada apa?”

“Hosh.. hosh.. kau ada dasi lebih?”

Eh?

Arin mengangguk. “Eo ada” Arin mengambilnya di loker. Karena dasinya sudah terbentuk, Taehyung memakainya langsung dan merapikan seragamnya.

“Ada apa Taehyung?”

“YAK KIM TAEHYUNG”

Yoon Saem dengan galah panjangnya mendekati Taehyung yang berdiri santai disamping Kim Arin. Arin yang tidak tahu apa apa merasa ikut takut dengan tampang seram Yoon Saem yang berteriak memanggil nama Taehyung.

“Eoh kau sudah memakai dasi?” Ucap Yoon Saem tak percaya setelah beberapa langkah berada didepan Taehyung.

“Tentu saja, aku sudah memakainya dari tadi Saem”

“Bohong. Kalau sudah kenapa kau lari eoh?”

“Aku … ak..u takut dengan tongkat anda Saem”

“Ish.. lain kali pakai seragam yang benar.”

“Yep” Taehyung membungkuk selepas kepergian Yoon Saem. Guru Kedisiplinan.

“Hah.. hampir saja aku mati”

“Kau ini…” Desis Arin.

“Hei Kim Arin. Terimakasih sudah membantuku” Taehyung akan melepas dasinya namun Arin mencegahnya

“Pakai saja dulu, nanti ketahuan Yoon Saem”

“Ehm baiklah. Kau tidak masuk kelas?”

“Aku sedang menata lokerku.”

“Baiklah aku akan menunggumu”

Kim Arin menaikan alis merasa aneh dengan tindakan Taehyung, biasanya dia akan mengganggunya.

“Karena hari ini kau sudah membantuku. Anggap saja aku absen mengganggumu hari ini”

“Tck dasar..” Arin menutup pintu lokernya “Kajja..”

“Aku akan mengembalikan ini” Ucap Taehyung sambil menunjuk dasi yang dipakainya.

“Tentu saja”

“Tapi nanti setelah kau punya pacar.”

Arin berhenti melangkah “Mwo?”

“Aku tidak punya dasi dan aku tidak bisa membuatnya. Kau harus membuatkannya untukku jika ini terurai”

“Hei… kau menyebalkan.” Arin melanjutkan langkahnya disusul Taehyung yang kini disampingnya.

“Bagaimana?”

“Kau ini ada-ada saja”

“Kalau kau punya pacar. Aku tidak mungkin menyuruhmu membuatkannya untukku. Nanti bisa bisa dia cemburu.” Taehyung terkikik membuat Arin ikut tertawa.

“Itu bukan masalah. Aku akan tetap membuatkannya untukmu”

“Kau tahu aku menyukaimu kan?” Arin melambatkan langkahnya dan menatap Taehyung yang kini menatapnya juga

“Kau tahu istilah gantung sepatu di sepak bola?” Arin memiringkan kepalanya tanda agak sedikit ragu “Artinya mereka berhenti dari dunia sepak bola”

“Apa yang kau bicarakan sekarang Taehyung?”

Taehyung berhenti melangkah tepat dipintu masuk kelas 10A. Kim Arin yang berada selangkah didepannya ikut berhenti juga.

“Dasi ini..” Tunjuk Taehyung pada dasi yang dipakainya “….aku akan menggantung dasi ini, kalau kau sudah punya pacar”

Arin terkekeh “Kau ada-ada saja”

Taehyung ikut tertawa “Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi hehe” Taehyung merangkul Kim Arin dan masuk kelas bersama walaupun Kim Arin berkali-kali mencoba melepaskan rangkulan Taehyung.

Flashback Off

 

Kim Arin tersenyum tipis mengingatnya.

“Dia benar-benar kekanakan”

 

Dilain tempat

Sehun merasakan bahunya sangat nyeri tatkala Kyungsoo yang diatasnya sedang mencoba naik dinding tua yang berada di pembatas taman belakang sekolah. Mereka terlambat dan tidak mungkin mereka akan masuk gerbang utama kalau berani menghadapi Yoon Saem dengan galah panjangnya. Mereka akhirnya memilih melewati dinding tua dimana tingginya sekitar dua meter dan jika dilompati akan langsung menembus taman.

Kai dengan bada atletisnya lebih dulu melompat tanpa bantuan. Namun tidak untuk Kyungsoo dan Baekhyun yang sedikit pendek..

“Ey, Kyung…sakit, kenapa lama sekali eoh?” Keluh Sehun yang kini merasakan kakinya sangat linu menahan beban Kyungsoo.

“Se..be..ntar.. lagi, aku belum bisa menggapainya. Bisakah kau lebih tinggi?”

“Chanyeol, ayo berdiri” Perintah Baekhyun pada Chanyeol.

“Baek, ini melelahkan, kau tahu badanmu makin berat saja”

“Hei ayo, nanti ketahuan Yoon Saem” Pekik Kai dari balik dinding. Akhirnya mereka berempat berusaha untuk mendorong kedua bocah mungil tersebut.

BUK

Baekhyun berhasil mendarat begitu juga dengan Kyungsoo. Dalam hitungan beberapa detik, kedua namja tiang itu berhasil melewati dinding dan mendarat sempurna.

Sangat sempurna sampai-sampai mereka tidak mengetahui bahwa ada seseorang dibelakang mereka  menonton hal tersebut dari awal sampai akhir.

“Kalian luar biasa” Ucap seseorang itu.

“Ah.. biasa saja.” Jawab mereka bersamaan. Chanyeol yang suka sekali dipuji kini tengah merapikan rambutnya lalu ketika ia menoleh kebelakang…

‘Mati Kita’

Kejadian itu diwarnai insiden Yoon Saem berlari mengejar 5 murid bandel dengan galah yang ia lambungkan keatas udara. Seketika koridor yang masih banyak anak-anak yang belum masuk kelas menjadi ikut panik karena suara Yoon Saem yang menggelegar sekaligus kelima orang yang berlari tak beraturan dan menabrak semuanya.

“BERHENTI KALIAN BOCAH NAKAL..”

Masih berlari namun Yoon Saem terus berteriak membuat orang-orang dikoridor ikut merinding

“OH SEHUN, KIM KAI MASUKAN KEMEJA KALIAN!!!”

“PARK CHANYEOL DIMANA ALMAMATERMU…”

“DO KYUNGSOO POTONG RAMBUT TEBALMU!!!”

“YAK BYUN BAEKHYUN, PAKAI DASIMU!!!”

“KALIAN SEMUA BERHENTIIIII”

 

Kembali ke loker

Arin terperanjat mendengar suara menggelegar dari Yoon Saem, guru kedisiplinan yang memang setiap pagi terus berteriak memanggil murid-murid yang entah kenapa suka mencari gara-gara dan kali ini ia melihat Chanyeol yang tiba-tiba meminjam Almamater milik Lee JongSuk yang kebetulan sedang memakai baju Olahraga dan  akan memasukan almetnya keloker, Oh Sehun dan Kai yang bersembunyi di balik sela-sela loker untuk memasukan kemejanya sambil mengatur nafasnya, dan

… Baekhyun yang berlari kearahnya.

 

Arin PoV

Tunggu.. Baekhyun, berlari kearahku?

Ini seperti De Javu…

Baekhyun benar-benar berhenti didepanku. Ia membungkuk dan menggunakan dua tangan dilututnya untuk menahan tubuhnya. Lalu ketika ia mendongak, bulir-bulir keringat menghias wajahnya, rambut yang berantakan dan nafas yang tidak beraturan.

Ketika ia menegakan badannya sambil mengatur nafas…

“Bisakah..hosh hosh.. aku hosh.. pinjam dasi itu?” Baekhyun menunjuk pada dasi yang terurai panjang di tangan kiriku.

Aku melihat seragam Baekhyun dan yeah dia memang tidak memakai dasi. Aku mengangguk dan memberikan dasi itu pada Baekhyun.

Baekhyun melingkarkan dasi itu dikerahnya namun ketika dua sisi dasi itu bertemu dia tampak kewalahan.

“Aish..”

Aku tersenyum “Apa aku boleh membantumu?”

 

Baekhyun PoV

“Apa aku boleh membantumu?”

Aku mendongak dan terkejut ketika melihat wajah Kim Arin yang hanya beberapa centi didepanku. Dia sedang membuatkan dasi untukku. Dan bodohnya kenapa aku mematung seperti ini?

Ish kenapa dekat sekali aku kan jadi…

Merasa aneh..

Tunggu jantungku biasa saja kan?

Tidak-tidak-tidak.

Jantungku berdebar kencang, Arin tidak menyadarinya kan?

Astaga.

Tapi jika dilihat dari dekat, Kim Arin terlihat cantik dan bibir pink tipisnya…

Tunggu… apa bibir?

Aku memejamkan mata dengan pikiran kotorku, oh tidak aku tidak akan melewatkan momen ini.

Kim Arin juga wangi. Bukan wangi semerbak seperti Parfum Ji Yeon atau wangi seperti parfum Bomi, bukan wewangian bunga atau apapun. Tapi wangi yang yeah membuatku merasa… nyaman.

Tanpa kusadari aku tersenyum memandang wajah Kim Arin yang sangat fokus dengan dasi.

 

“Ya ampun, romantis sekali mereka”

“Eiy, aku jarang melihat mereka berduaan. Kupikir mereka sudah putus”

“Ternyata masih sama Baekhyun, Yah aku patah hati melihat ini”

“Daebak… ini momen hebat bagi mereka”

“Astaga aku tidak menyangka Kim Arin melakukannya”

“Kim Arin memang menyukai Baekhyun”

“Aku juga ingin jadi Baekhyun..”

“Tolong buatkan dasi untukku Minah”

PLAKK

 

“Kemari anak nakal” Yoon Saem berhasil menarik kerah almamater Kyungsoo dan Chanyeol ditangan kirinya, menarik tas Kai dan Sehun ditangan kananya, mereka diseret paksa sampai akhirnya sampai dihadapan Baekhyun dan Kim Arin.

“Baek.. jangan coba-coba lari dariku” Titah Yoon Saem pada Baekhyun.

“Aku sudah pakai dasi Saem” Yoon Saem menatap seragam Baekhyun yang sedikit lebih rapi dari keempat namja dikedua tangannya dan dasi yang terpasang rapi dikemeja putihnya.

“Iya. Tapikau terlambat bodoh…”

“AAA….” Baekhyun memekik ketika Yoon Saem menjewer telinga Baekhyun. Membuat Arin merasa tidak tega.

“Kalian ikut denganku keruangan, pallli” Yoon Saem menyuruh Keempat namja dibelakangnya mengikutinya dan masih dengan menjewer telinga Baekhyun mereka berjalan menuju ke ruang BP.

Arin menatap Baekhyun tidak tega.

“Ternyata dasi itu berguna juga ya” Arin terperanjat karena Taehyung entah darimana datangnya tiba-tiba ada disampingnya dan menyenggol bahunya.

“Aku mengembalikannya diwaktu yang tepat” Kim Arin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ayo ke kelas” Ajak Arin pada Taehyung. Mereka berjalan bersama dan Taehyung merangkulnya.

Dan Kim Arin meliriknya “Oh aku lupa” Lepas Taehyung.

“Bagaimana berpacaran dengan Baekhyun?” Tanya Taehyung sambil menyakukan kedua tangan nya di celana.

Arin tersenyum tipis “Yeah.. begitulah”

“Aku tidak menyangka kau menyukai lelaki nakal, bandel dan… bodoh” Taehyung mengucapkan kalimat terakhirnya sedikit lebih pelan dan penuh penekanan. Mendapat lirikan dari Arin Taehyungpun berhenti tertawa.

“Yeah.. aku tahu cinta itu buta.” Lanjutnya menemani perjalanannya ke kelas bersama Arin “Tapi aku sedikit tidak rela kau bersama Baekhyun.” Kim Arin menoleh meminta penjelasan dari Taehyung

“Apa dia mencintaimu?” Oke itu membuat Kim Arin langsung membelalakan matanya.

“Dia mengucapkannya saat menembaku” Jawab Arin.

“Setelah itu… apa dia mengucapkannya lagi?”

Arin berhenti tepat didepan pintu kelas, Taehyung juga demikian melihat Kim Arin yang berhenti berjalan.

Arin bungkam karena setelah dipikir-pikir Baekhyun memang tidak mengatakannya.

“Apa harus?” Tanyanya pada Taehyung

Taehyung tersenyum miring “Kau itu naif sekali. Kau pasti dibohongi” Selanjutnya Taehyung lebih dulu masuk kedalam kelas karena melihat Ahn Saem berjalan dibelakang Arin.

“Haksaeng Kim kenapa kau tidak masuk kelas?” Tanya Ahn Saem pada Arin yang mematung didepan kelas.

“Eoh aku akan masuk” Arin membungkuk lalu masuk kekelas dan mendaratkan dirinya dikursi nomor 3 barisan tengah.

TING

Arin menatap ke depan untuk melihat Ahn Saem yang masih bersiap-siap membuka pelajaran. Diambilnya handphone di saku almamaternya

‘Saranghae’

-Kim Taehyung-

Arin menoleh kebelakang tepat di kursi barisan terakhir dekat jendela. Menatap Taehyung yang kini melakukan love sign dengan tangannya. Kim Arin hanya menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan kembali untuk fokus kepada Ahn Saem.

TING

Arin terpaksa membukanya

‘Laki-laki sangat mudah mengatakannya. Kau masih percaya dia memang menyukaimu?’

Dan Kim Arin menyesal membacanya.

 

Didalam hatinya ia membenarkan perkataan Taehyung. Sampai sekarang ia sering bertanya pada dirinya sendiri. Bagaimana perasaan Baekhyun padanya, apa memang dia menyukainya atau apa dia memang memikirkan Kim Arin disetiap waktunya seperti yang dilakukannya, atau menyimpan nomor Kim Arin dengan nama penuh cinta atau

Yeah Arin akui dirinya belum mendapat pernyataan cinta lagi dari Baekhyun.

‘Apa harus?’

‘Laki-laki sangat mudah mengatakannya. Kau masih percaya dia memang menyukaimu?’

 

Pelajaran hari ini nampaknya membuat Kim Arin tidak fokus dengan kata-kata Taehyung yang menyebalkan itu.

 

Menyebalkan.

Tapi memang benar..

 

TBC

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s