[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 10)

Our Story [Chapter 10]

aliensss

Genre : au, drama, romance, fluffy, friendship, hurt/comfort, school life

Length : Chaptered

Rate : T

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 10

Best Day…

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum. Jika terdapat kesamaan dalam cerita, saya pastikan itu tidak disengaja.

Find me on wordpress (sharlomereficul.wordpress.com)

or

wattpad (@alien_sss)

warn ! Chapter ini panjang…jadi persiapkan diri anda untuk kemungkinan yang bisa terjadi. Keracunan, mungkin?

♣ ♥ ♣

Pagi ini Chanyeol memutuskan untuk berangkat dengan bus menuju sekolah. Alasannya? Ini hari special dan ia harus pulang bersama Sae Jin. Ia sudah mendengar semua hal yang harus ia tahu dari Ah Ra, dan ia rasa ia sudah mengerti bagaimana akan bersikap pada gadis itu sekarang.

Setibanya ia di sekolah ia langsung mendatangi kelas Sae Jin. Ia mendapati gadis itu sedang berbincang dengan Sehun dan Ah Ra. Tanpa memperdulikan tatapan beberapa siswa lain, Chanyeol berjalan menuju meja Sae Jin.

oppa? Ada apa?” seperti biasa, yang bertanya lebih dulu adalah Ah Ra. Ah Ra sendiri tak mengerti kenapa, tapi setiap ia melihat Chanyeol muncul dihadapannya,  tiba-tiba ia merasa bahwa ialah orang yang ingin pria itu cari.

“tunggu aku pulang sekolah nanti” kata Chanyeol pada Sae Jin

Dan seperti biasa pula, tatapan tanpa ekspresi dari Sae Jin adalah yang Chanyeol dapat.

“kau Sae Jin. Aku bicara padamu, Sae Jin” ulang Chanyeol tegas

“kami pulang bersama” kata Sehun tanpa diperintah. Sehun tentu saja masih kesal akan keras kepala Chanyeol kemarin. Dan apa sekarang? Chanyeol ingin pulang bersama Sae Jin? lalu bagaimana dengan dirinya? Sedikit takut, karena sejak pengakuannya dihari itu, Chanyeol terlihat sangat percaya diri mendekati Sae Jin

“hey, Sehun. Kau bisa pulang sendiri” diluar dugaan siapapun, Ah Ra malah ikut membantu Chanyeol. Tentu saja, Ah Ra bisa menangkap maksud yang Sae Jin tidak dapat tangkap. Chanyeol ingin pulang bersama gadis yang ia sukai, dan Ah Ra paham akan itu

“biasanya aku pulang dengan Sae Jin” kata Sehun sambil menatap Ah Ra kesal

“hari ini kau pulang sendiri saja” balas Ah Ra sambil mengedipkan matanya sebagai isyarat agar Sehun mengerti. Rasanya Ah Ra ingin memukul kepala Sehun sekarang. Kenapa ia tak bisa mengerti. Apa Sehun tak pernah menyukai seorang gadis? Pikirnya

“aku tidak mau. Aku mau dengan Sae Jin ha_”

“aku pulang sendirian” Sae Jin memotong ucapan Sehun ataupun Chanyeol yang memang sedang ingin berucap

“hey..banyak orang di bus Sae Jin. Kau harus punya bodyguard” Ah Ra kembali berusaha membantu Chanyeol
“lagipula, kau yang bilang ingin pulang cepat hari ini. Padahal ‘kan ini hari ulang tahunmu” celetuk Ah Ra

Chanyeol dan Sehun sama-sama menatap Sae Jin dengan terkejut. Sehun terkejut karena ia sama sekali tidak tahu bahwa temannya yang aneh itu sedang berulang tahun hari ini. Oh, tahu begini Sehun akan merencanakan sesuatu atau paling tidak membelikan Sae Jin sesuatu.

“ini” Ah Ra kemudian memberikan sebuah kotak berukuran kecil pada Sae Jin
“harusnya aku bisa menyiapkan yang lebih dari ini. Tapi aku yakin kau akan menolaknya. Selamat ulang Sae Jin, temanku. Semoga kau selalu panjang umur dan bahagia..” kata Ah Ra sembari melebarkan lengannya. Berniat memberikan sebuah pelukan untuk Sae Jin

“Ah Ra…” panggil Sae Jin sembari memundurkan tubuhnya

“ck..aku tahu. Bahkan memelukmu saat ulang tahun pun tak bisa kulakukan. Ah, aku kesal” protes Ah Ra

“hey, aku sedang berulang tahun. Kenapa kau menunjukan wajah kesalmu itu?” Sae Jin dengan sengaja memukul pelan lengan Ah Ra. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Ah Ra kesal

“aku menyayangimu, teman” sambung Ah Ra dengan wajah tersenyum

“maaf, aku tidak” balas Sae Jin

Sae Jin lalu kembali menoleh pada Chanyeol yang masih mematung disana. Ia tak tahu apa yang Chanyeol pikirkan hingga menatapnya demikian

“kau ulang tahun hari ini?” tanya Chanyeol pada Sae Jin.

Awalnya Chanyeol tertarik pada Sae Jin karena gadis itu yang terlihat sangat berbeda dari gadis kebanyakan. Semakin ia mengenal Sae Jin, tanpa sadar ia sudah jatuh pada gadis itu. Ia juga tak tahu, tapi hatinya bilang Sae Jinlah orang yang memang diciptakan untuknya. Dan dengan senang hati Chanyeol menerima itu.

Lalu sekarang satu kebetulan aneh lagi ia dapati. Ia dan Sae Jin lahir di tanggal dan bulan yang sama. Chanyeol juga berulang tahun hari ini. Bukankah itu semua seperti sudah diatur? Keyakinan Chanyeol semakin penuh. Ia dan gadis itu memang ditakdirkan bersama.

“kenapa? kau suka sekali bertanya yang aneh-aneh” omelan Sehun menyadarkan Chanyeol

Belum sempat Chanyeol membuka mulutnya, beberapa siswi mendatanginya sembari membawa hadiah. Mereka adik kelas yang menyukai Chanyeol. Sangking sukanya pada Chanyeol, mereka bahkan mencari tahu kapan Chanyeol berulang tahun

oppa, selamat ulang tahun” kata salah seorang gadis sembari memberikan hadiahnya pada Chanyeol. Siswi itu dan teman-temannya kemudian pergi. Meninggalkan Sehun dan Ah Ra serta wajah terkejut mereka.

Chanyeol memegangi hadiahnya. Ia tak pernah se-senang ini dihari ulang tahunnya. Tentu saja bukan karena hadiah barusan. Tapi karena ia dan Sae Jin punya tanggal lahir yang sama. Chanyeol kembali menoleh pada Sae Jin, menatap gadis yang juga sedang menatap padanya itu

“kau menyebalkan, Sae Jin” kata Chanyeol sembari tersenyum. Ia merasa Sae Jin memang semenyebalkan itu. Gadis itu mencuri perhatiannya dengan cara yang unik, gadis itu membuatnya tergila-gila, dan sekarang, gadis itu bahkan punya tanggal lahir yang sama dengannya. Semua itu membuat Chanyeol semakin jatuh hati pada Sae Jin.

Sae Jin tertegun. Dalam hati, gadis itu tak henti bersyukur. Ia mengucapkan terima kasih karena sudah diperbolehkan melihat senyuman indah Chanyeol barusan. Oh, Sae Jin tak butuh hadiah apapun hari ini. Cukup melihat Chanyeol yang tersenyum seperti sekarang.

Dan apa yang barusan Chanyeol katakan? Pria itu juga berulang tahun di hari ini? Tanpa Sae Jin sadari, ia ikut menaikkan sudut bibirnya. Sebuah lengkungan indah itu akhirnya bisa Chanyeol lihat dengan jelas. Sae Jin yang tersenyum padanya. Oh, Chanyeol sudah mendapatkan hadiah terbaik tahun ini.

“tunggu aku sepulang sekolah nanti” kata Chanyeol lagi, lalu pria itu pun pergi dari kelas Sae Jin

Sepeninggal Chanyeol, Sehun dan Ah Ra terus menatap Sae Jin. Mereka terkejut karena barusan Sae Jin baru saja tersenyum pada Chanyeol. Dan tentu saja, senyuman itu manis sekali. Siapapun bisa melihat, Sae Jin hanya tersenyum seperti barusan pada Chanyeol

“kenapa?’ tanya Sae Jin pada kedua temannya yang terus menatapnya dengan aneh

“temanku ini sudah besar..akhirnya” seru Ah Ra girang. Ia senang akhirnya Sae Jin bisa bersikap layaknya orang normal. Setidaknya menyukai seseorang adalah hal normal yang bisa Sae Jin lakukan. Semua ini juga membuat Ah Ra mengerti. Orang yang Chanyeol sukai itu adalah Sae Jin, dan sebuah kejutan lain untuknya, Sae Jin ternyata  juga menyukai Chanyeol.

“kau terlihat aneh, Sae Jin.  Percaya padaku” timpal Sehun dengan wajah tak sukanya

“kau yang aneh Sehun ! kenapa tadi kau tak mengerti isyarat yang kuberikan. Hampir saja Sae Jin batal pulang bersama Chanyeol oppa” Ah Ra bicara sembari mencubit lengan Sehun

“kenapa kau sangat membela Chanyeol? kau mau dia berbuat jahat pada Sae Jin? lihat Sae Jin. Dia masih kecil, dia juga aneh dan tak tahu apapun. Chanyeol bisa saja berbuat jahat pada putri kecil kita ini, Ah Ra” Sehun berucap selayaknya seorang ayah. Lalu apa tadi katanya? Sae Jin putrinya dan Ah Ra?

“putri kita? Dalam mimpimu ! aku tak mau punya suami keras kepala dan tidak peka sepertimu !” tolak Ah Ra. Untuk sesaat Ah Ra merasa pipinya bersemu merah karena ucapan Sehun barusan

“jadi, jika Sehun tak keras kepala dan sedikit peka, kau akan mau menjadikannya suami?” kali ini Sae Jin yang bertanya. Ia mengambil kesempatan ini untuk tahu isi hati Ah Ra dan pandangan gadis itu soal Sehun. Oh, Sae Jin sebenarnya juga sudah bosan menunggu Sehun mengakui perasaannya pada Ah Ra. Sehun bahkan tak berani untuk sekedar mendekati Ah Ra lebih nekat lagi. Jika terus begini, Ah Ra bisa direbut pria lain

“akan kupikirkan. Aku sudah pernah bilang dia tampan ‘kan? kurasa masalahnya hanya ada pada perangainya itu” Ah Ra bicara sembari menopang dagunya dengan kedua tangan didepan Sehun. Gadis itu memperhatikan wajah Sehun yang sekarang berjarak hanya belasan sentimeter dari wajahnya.

“aku bisa berubah jika kau mau” balas Sehun sembari mendekatkan wajahnya pada Ah Ra

Ah Ra tak bergeming. Ia terus menatap Sehun dan sebaliknya. Oh Sae Jin bergidik ngeri dari bangkunya. Pemandangan didepannya sekarang persis seperti adegan di drama-drama ataupun novel romantis. Sae Jin tak tahan, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Biasanya sehabis ini akan adegan manis ‘kan?

“Sehun, Ah Ra. Anak kalian ini masih kecil. Kumohon jangan lakukan hal seperti itu didepanku” kata Sae Jin

Sehun dan Ah Ra sama-sama tersenyum setelah sama-sama menoleh pada Sae Jin.

~

Arah rumah Sehun dan Sae Jin memang sama. Karenanya mereka tak jarang pulang bersama selama ini. Itu juga yang Sehun jadikan alasan agar bisa pulang bersama Sae Jin dan Chanyeol hari ini. Meski tadi Ah Ra sudah menyuruh Sehun mengalah, pria itu tetap tak mau membiarkan Sae Jin pulang dengan Chanyeol. Ternyata rumah Chanyeol juga searah dengan mereka, dan itu membuat Sehun kesal. Jika begini ia tak bisa mencari alasan agar pria itu tak pulang bersama mereka.

Kekesalan Sehun bertambah karena Ah Ra mengajaknya pulang bersama. Belum lagi paksaan Ah Ra yang tak bisa ia tolak. Maka dengan berat hati Sehun membiarkan Sae Jin dan Chanyeol pulang bersama, sementara ia pulang bersama Ah Ra.

“kau mau langsung pulang?” tanya Ah Ra setelah mobilnya berjalan

“memangnya aku harus kemana lagi?” ketus Sehun

“mau menemaniku?” tanya Ah Ra

Ah Ra mengajak Sehun ke sebuah toko pakaian. Gadis itu memang ingin membeli beberapa pakaian hari ini. Ia harusnya mengajak Sae Jin, jika saja Chanyeol tak mengajak gadis itu lebih dulu.

“Sehun, apa ini bagus untuk-ku?” tanya Ah Ra sambil menunjukkan sebuah dress hitam pada Sehun

“apapun yang kau pakai pasti bagus, Ah Ra. Tak usah bertanya, ambil saja dan cepat selesaikan ini” jawab Sehun sambil melipat tangan didepan Ah Ra. Dimana-mana menemani gadis berbelanja adalah bukan ide yang baik untuk seorang pria.

“yaah, kau memujiku atau apa barusan?” kesal Ah Ra

“aku memujimu, tentu saja” angguk Sehun mengejek. Setelahnya mereka berdua malah sama-sama tertawa

Selesai dengan tawa mereka, Ah Ra mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Sehun terdiam

“Sae Jin menyukai Chanyeol oppa, benarkan?”

Sehun tak bisa mengelak lagi. Siapapun bisa melihat ekspresi wajah yang Sae Jin dan Chanyeol tunjukkan tadi. Ada tali tak kasat mata yang mengikat dua orang itu. Juga atmosfer manis yang selalu terasa saat dua orang itu bersama. Tak ada yang bisa memungkiri itu. Maka Sehun pun menjelaskan apa yang ia tahu. Ia bercerita soal pengakuan yang Chanyeol buat saat di halte beberapa hari lalu. Ia juga membenarkan bahwa ia juga merasa Sae Jin teman mereka itu, memanglah menyukai Chanyeol. Ah Ra mengiyakan dan setuju.

Ah Ra dan Sehun keluar dari toko pakaian itu tanpa menenteng apapun. Mereka hanya melihat-lihat dan mengobrol selama tiga jam yang lalu. Melihat-lihat dan tertawa akan lelucon masing-masing. Tak pernah Sehun duga bahwa menemani seorang gadis berbelanja akan semenyenangkan ini. Dan tak pernah Ah Ra sangka bahwa seseorang seperti Sehun berhasil membuatnya terus tersenyum, bahkan tertawa selama tiga jam tadi.

Sementara itu, tiga jam yang sama Sae Jin habiskan dengan menatap langit-langit kamarnya. Ia masih memikirkan apa yang Chanyeol katakan saat mereka di halte tadi.

“kita, Sae Jin. Bukan hanya kau dan aku, tapi kita. Aku ingin kau berada di sisiku”

Sae Jin tak mengerti apa yang Chanyeol maksud. Ia juga tak mengerti akan tatapan teduh yang pria itu berikan padanya. Semuanya membingungkan untuk Sae Jin. Sikap Chanyeol padanya membuatnya bingung, juga perasaannya pada Chanyeol. Sae Jin bingung. Benarkah ia menyukai Chanyeol? benarkah itu? lalu, harus bagaimana Sae Jin dengan perasaannya itu? harus diapakan perasaan seperti ini?

“ah, aku bingung” Sae Jin memilih membenamkan wajahnya dibawah bantal. Tanpa Sae Jin duga, bayangan wajah Chanyeol yang tersenyum tadi muncul dikepalanya
“ah…ini menyebalkan..” erangan frustasi Sae Jin teredam oleh bantal diwajahnya. Sae Jin hanya membayangkan wajah tersenyum itu, tapi lihat efeknya. Ia ingin melompat-lompat karena terlalu senang.

~

 

Hari berganti minggu, minggu kemudian berganti bulan. Perkembangan yang bagus ada pada hubungan Sehun dan Ah Ra. Dua orang itu lebih sering menghabiskan waktu berdua tanpa Sae Jin. Dan baik Sehun maupun Ah Ra sama-sama merasa bahwa kebersamaan mereka sangat menyenangkan. Seperti sekarang, sembari menunggu Sae Jin mereka asyik mengobrol sembari sesekali tertawa. Ini sabtu malam, dan Sae Jin bilang ia ingin jalan-jalan.

Sae Jin memicingkan matanya melihat Ah Ra dan Sehun yang tertawa bersama. Oh, Sae Jin senang melihat ini. Sehun memang menyukai Ah Ra dan Ah Ra tampak sangat senang bersama Sehun. Belakangan ini Ah Ra juga tak pernah mengeluh soal kebiasaannya yang buruk itu. Jika begini, Sae Jin bisa benar-benar tenang.

“apa yang kalian tertawakan?” tanya Sae Jin setelah ia duduk di sebelah Ah Ra

“kau mau tahu saja. Ini urusan kami” Sehun menjawab dengan tampang menyebalkannya

“tidak ada Sae Jin. Sehun hanya bercerita tentang kakek pikun yang tinggal didekat rumahnya” kata Ah Ra

“oh.” Angguk Sae Jin yang mendadak bingung. Biasanya dengan gampang ia akan meminta Sehun dan Ah Ra menemaninya berjalan mengitari taman. Tapi sekarang sepertinya tak bisa. Sehun dan Ah Ra butuh ruang sendiri, dan itu tanpa dirinya. Sae Jin tak ingin jadi penggangu, meski sedikit banyak ia merasa tak suka. Ia akan kehilangan waktu berkumpul bersama dua orang itu
“maafkan aku, tapi sepertinya aku harus pulang” Sae Jin berucap sembari berdiri

Sehun mengomel mendengar ucapan Sae Jin. Dia sudah menyempatkan waktu datang dan berharap bisa mmenghabiskan waktu bertiga, seperti dulu. Meski tak menampik bahwa ia sangat senang hanya berdua saja dengan Ah Ra, tapi ia juga rindu untuk menghabiskan waktu bertiga seperti sekarang. Melakukan pendekatan dengan Ah Ra membuatnya kehilangan waktu mengobrol dengan Sae Jin, dan ya, Sehun sedikit merasa kehilangan.

Di sisi lain, Ah Ra juga merasa demikian. Ia merasa sudah sangat jarang mengobrol dengan Sae Jin. Selain karena ia yang lebih banyak bersama Sehun, akhir-akhir ini Sae Jin juga lebih sering diculik Chanyeol.

Dengan pertimbangan tak mau mengganggu kencan Ah Ra dan Sehun, Sae Jin berniat membatalkan rencananya mengajak dua temannya ini jalan-jalan di sekitar taman.

“apa maksudmu? Mengganggu bagaimana? Kepalamu terbentur, teman?” ejek Sehun sambil menarik ujung rambut Sae Jin pelan. Oh, dia rindu ini. Ia rindu memperlakukan Sae Jin bak ayah yang kejam.

“bukankah kalian butuh waktu berdua saja? setahuku itu yang pasangan butuhkan. Hanya berdua, tanpa gangguan” jelas Sae Jin lagi

Sehun dan Ah Ra saling menatap dan serentak mengangguk. Mereka paham apa yang Sae Jin bicarakan dan merasa sedikit kesal. Mereka ternyata belum bisa memaklumi kebiasaan Sae Jin yang selalu suka menyimpulkan segala hal hanya dari sudut pandangnya saja.

“itulah sebabnya aku tak suka kau yang selalu menyimpulkan sesuatu hanya dari sudut pandangmu” kata Ah Ra
“aku dan Sehun tak mungkin datang, jika kami mau berduan saja. Kami bisa menolak dan mengatakan alasan-alasan yang masuk akal. Kau tahu, kami ahli melakukan itu” sambung Ah Ra

“kalian tak butuh berdua saja? Tak masalah jika aku ikut dengan kalian?” tanya Sae Jin

“tentu saja tidak. Lagi pula aku dan Sehun bukan pasangan kekasih yang harus punya waktu berduaan” perkataan Ah Ra segera mendapat tatapan tak suka dari Sehun

Apa kata Ah Ra barusan? Bukan pasangan kekasih, jadi untuk apa Sehun berubah jadi pria yang sedikit disiplin beberapa minggu kemarin? apa gadis ini belum mengerti perasaanku, batin Sehun. “belum menjadi pasangan kekasih. Segera..” tanpa ragu Sehun mengucapkan kalimat tadi. Sehun berpikir ini adalah waktunya. Ia akan mengungkapkan perasaannya pada sekarang juga. Pendekatan selama tiga minggu sudah lebih dari cukup. Ia juga merasa bahwa Ah Ra nyaman bersamanya. Jadi kenapa tidak coba saja, mumpung ada Sae Jin disini, pikirnya.

“jangan bermim_”

“aku menyukaimu, Ah Ra. Maukah kau jadi kekasihku?” tanya Sehun penuh harap. Ia sangat berharap Ah Ra mau menerimannya. Oh, Tuhan ! tolong aku sekali ini..kata pria itu dalam hati

“Sehun, ta_ta_”

“aku tak akan memaksamu. Aku juga tak akan lantas menyudahi pertemanan kita. Aku menyukaimu sebagai temanku, tapi aku juga ingin kau menjadi teman hidupku nantinya” oh, Sehun tak tahu darimana ia mempelajari semua kalimat barusan

Ah Ra serasa terbang kelangit. Pria didepannya sekarang terlihat sangat mempesona. Kalimat yang baru saja ia keluarkan sangat sederhana dan juga jujur. Ah Ra pastikan tak ada yang bisa menolak permintaan semanis tadi. Termasuk dirinya. Maka dengan penuh harap Ah Ra menoleh pada Sae Jin. Gadis itu seakan meminta persetujuan dari temannya itu.

Sae Jin paham akan tatapan yang Ah Ra berikan. Dan selanjutnya tanpa ragu, Sae Jin mengangguk. Oh, ini yang Sae Jin tunggu. Sehun akan bisa membuat Ah Ra bahagia. Ah Ra berada di tangan yang tepat. Sehun memang bukan pria sempurna, tapi sejauh yang Sae Jin tahu, Sehun bertanggungjawab dan yang paling penting, Sehun itu selalu jujur.

“apa dia pria baik untuk-ku, Sae Jin?” Ah Ra sudah gila. Ia serasa ingin menangis saat itu juga. Ia baru saja mendengar pernyataan cinta paling tulus, dan yang paling membuat Ah Ra terharu, pria itu melakukannya didepan teman terbaik mereka. Apa yang bisa lebih membahagiakan daripada merasakan cinta dari orang disekitarmu?

“akan kubunuh dia, jika dia menyakitimu” kata Sae Jin sebagai balasan. Gadis ini menatap Sehun dalam dan berdoa. Berdoa semoga kedua temannya ini bisa jauh lebih bahagia saat bersama nanti. Meski tak pernah mengatakannya, Sae Jin sangat menyayangi dua temannya ini.

“kau hanya perlu mengiyakan, Sae Jin. Kau merusak momen manisku” Sehun berucap kesal. Gadis ini benar-benar tak bisa bersikap manis padaku, umpatnya.

“oh, baiklah. Terima dia Ah Ra. Kurasa dia akan menangis, jika kau tolak. Dia sudah lama menyukaimu” tanpa takut Sehun marah, Sae Jin membongkar rahasia Sehun

“Sae Jin !” kesal Sehun

“kau suruh aku membantumu. Sudah kulakukan dan kau malah marah. Kau ini pria baik bukan, Oh Sehun?” ledek Sae Jin

“astaga, Ah Ra! Kenapa kita bisa menyayangi makhluk seperti dia?” Sehun menghentakkan kakinya frustasi. Ia sedang harap-harap cemas menunggu jawaban Ah Ra dan apa? Sae Jin malah membuatnya malu
“kenapa di_”

Ucapan Sehun terputus. Pria itu berharap napasnya tak putus. Saat ini Ah Ra sedang memegang tanganya dan menatapnya tepat dimata. Oh, Sehun ingin tenggelam dengan bahagia saat Ah Ra menganguk dan berkata iya. Gadis itu menerimanya. Sehun senang, tentu saja. Dengan ragu-ragu ia membawa Ah Ra dalam pelukannya.

Sae Jin menatap geli pada wajah malu-malu yang dua temannya itu tunjukkan. Dasar remaja kasmaran, ejeknya.

Dua pasangan baru itu masih berpelukan beberapa menit kemudian. Mereka baru melepaskan pelukan mereka saat Sae Jin mengomel. “sudah kubilang, aku tak harusnya ikut disini” kata Sae Jin sambil melipat tangan dan menatap sok sinis pada Ah Ra dan Sehun
“jadi sekarang kalian pacaran?” tanya gadis itu lagi. Sae Jin memasang wajah biasanya. Dalam hati, ia senang hingga ingin berteriak.

“kenapa?” tantang Sehun sambil merangkul Ah Ra tanpa canggung, “kau kebe_”

“asal tahu saja. Kurasa aku juga sudah menyayangi kalian. Karena itu, tetaplah bahagia seperti sekarang”

Sehun dan Ah Ra tak tahu harus merasakan perasaan yang mana lebih dulu. Mereka sangat senang karena akhirnya Sae Jin mengucapkan sesuatu yang manis. Tapi raut wajah dan nada bicara gadis itu kelewat datar, hingga mereka sulit percaya. Benarkah Sae Jin menyayangi mereka?

“dia Sae Jin”

Akhirnya, Sehun dan Ah Ra hanya bisa mengatakan kalimat itu sembari mengangguk paham. Mereka memilih mempercayai ketulusan dari kalimat datar barusan.

 

Dari 365 hari yang ada, pasti ada satu hari yang diciptakan dengan judul Hari Terbaik dalam setiap hidup manusia. Jika kau tak percaya hari itu benar sudah diciptakan, maka apa salahnya membuatnya sendiri?

 

…..

 

To Be Continued …

 

a/n

bukan hanya kalian, aliensss juga ngerasa geli setengah mati waktu ngetik chapter yang ini. Ampun ! jadi pengen jambak si tiang !

keracunan yang anda alami setelah membaca ini, bukan tanggungjawab aliensss..

 

terima kasih sudah membaca…

 

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 10)”

  1. Ini bacany jd ikutab ngebut sekebut alurnya d chapter ini tapi syukaaaaaa
    Cman hati jd terpompa dua kali lebih cepat n otak bekerja 2 kli lebih cepat jugaaa huahahahahahaha

    Fighting!!!!!😊💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s