[EXOFFI FREELANCE] Remember (Chapter 1)

 

 

20180714_084136_0001Title : Remember

Author : Jasmine_xxbbb

Genre : Romance, hurt, drama

Rating : PG – 15

Length : Chapter

Cast : Park Chanyeol (EXO), Kim Anna (OC), Yeri (Red Velvet), Kim Jong In (EXO), Lucas (NCT), Jungwoo (NCT), Baekhyun (EXO)

Summary

Kenangan itu terus berputar di pikiranku, tatapannya, senyumnya, suaranya, bahkan aku masih bisa merasakan hangatnya saat berada di pelukannya.

“Jangan mengagumiku seperti itu, aku tahu aku ini cantik dan-“

“Kau benar, kau memang cantik.”

“Mana mungkin aku bisa tahan berjauhan denganmu.”

“Agar kau membuka matamu itu, aku ingin melihat matamu.”

Chapter 1

Sinar matahari membuatku terbangun dari tidurku, hangatnya sinar matahari menyapu permukaan kulitku saat aku membuka hordeng. Memejamkan mata mencoba lebih merasakan hangatnya di tubuhku, jika saja rasa hangat ini mampu menembus hatiku, aku akan merasa senang, sangat.

Rasa itu masih saja membekas di sana, aku kesal aku tidak mampu menghilangkan rasa itu walaupun aku sudah berusaha keras. Harus sampai kapan aku hidup seperti ini? Kenangan itu terus berputar di pikiranku, tatapannya, senyumnya, suaranya, bahkan aku masih bisa merasakan hangatnya saat berada di pelukannya.

Lagi-lagi air mataku mengalir, yang kini menjadi tangisan. Aku merindukannya, sangat merindukannya, jika saja waktu bisa berputar kembali, sekali saja untuk mengobati rasa sakit ini.

Flashback, enam tahun yang lalu.

“Anna! Tunggu aku!” Aku menoleh kebelakang, dia memang tidak pernah berubah, selalu saja telat. Aku menatap kesal padanya, dia datang dengan nafas yang belum teratur.

“Maafkan aku, aku lupa menyetel alarmku tadi malam.” aku diam tidak menjawabnya, tanganku kulipat di depan dada. Dia mencari sesuatu dari dalam tasnya sambil mengumpat karena tidak kunjung menemukannya.

“Ah! Ini dia!” dia mengeluarkan sekotak susu rasa pisang dari dalam tasnya.

“Ambilah, ini untukmu.” dia menyodorkannya padaku, aku melihat sekilas susu kotak itu dan melanjutkan jalan.

“Yak! Ini untukmu, apa kau tidak mau? Baiklah, aku akan meminumnya.” aku menghentikan langkahku dan menatapnya, dia menusukkan sedotan ke kotak susu. Tanpa pikir panjang aku langsung merebut susu dari tangannya dan langsung meminumnya.

“Apa kau memaafkan aku sekarang?” dia berjalan mundur di hadapanku dengan tersenyum lebar.

“Yak! Jangan berjalan mundur seperti itu, bahaya!” aku memegang kedua lengannya berusaha memutarnya.

“Jika kau tidak menjawab aku akan berjalan seperti ini terus sampai sekolah.”

“Aku memaafkanmu Park Chanyeol.” Tidak memutar dia justru berjalan ke depan yang membuatku tidak sengaja menabraknya.

“Yak! Apa yang kau lakukan?” Chanyeol memegang pundakku dengan tangan satunya mengusap pucuk kepalaku.

“Anak yang baik.” Aku terdiam saat dia melakukan itu, jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya.

“Ayo sebelum kita terlambat.” Chanyeol merangkul pundakku sambil kami berjalan, bisa-bisanya dia memperlakukanku semaunya seperti itu, menyebalkan.

Kami berjalan ke arah yang sama, aku dan Chanyeol berada satu kelas di tahun ini. Saat kami masuk suasana kelas selalu ramai dan berisik, aku heran kenapa mereka berbicara dengan suara kencang seperti itu, aku merasa kasihan dengan pita suara mereka.

Aku duduk di paling belakang bersama Yeri, Chanyeol duduk tepat di depanku. Terkadang aku merasa terganggu karena aku tidak bisa melihat ke papan terhalang oleh tubuhnya. Berulang kali aku mengatakan padanya untuk pindah tempat duduk di belakang dekat jendela di samping Yeri, tapi dia tidak pernah mendengarkanku.

Saat jam istirahat aku dan Yeri makan siang di kantin bersama Baekhyun, Jungwoo, dan Lucas.

“Besok ada tes matematika bukan? Aku rasa nilaiku akan hancur.” ujar Yeri.

“Kenapa kau tidak minta ajari Lucas saja? Dia itu selalu dapat nilai sempurna.” seru Jungwoo dengan semangat.

“Memangnya dia selalu dapat nilai sempurna di pelajaran matematika?” ucapku mengehentikan kunyahanku.

“Tidak, dia pandai di pelajaran biologi.”

“Yak! Aku ini sedang serius!” Yeri melemparkan selada ke wajah Jungwoo.

“Jangan terlalu di pikirkan, memangnya siapa yang senang dengan pelajaran itu?”

“Aku.” Chanyeol datang dengan membawa nampan makanannya menggeser Baekhyun agar ia bisa duduk.

“Ini dia Chanyeol si pintar.” ucap Lucas menaruh telur di nampan Jungwoo.

“Pintar macam apa? Pintar mendapat nilai jelek?” ucap Yeri mengejek Chanyeol yang sedang lahap makan.

“Nilaimu juga tidak sebagus itu Yeri.” ujar Chanyeol. Kami tertawa kecuali Yeri yang cemberut mendengar perkataan Chanyeol.

***

Sebelum pulang aku mampir ke toko buku yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Deretan buku yang berjajar membuatku senang saat melihatnya, aku selalu merasa senang saat pergi ke toko buku maupun perpustakaan. Aku mencari buku tentang matematika untuk tes besok, sebenarnya aku sudah belajar dari jauh-jauh hari, hanya saja aku ingin lebih memahami lagi.

Aku lansung menuju kasir begitu aku menemukan buku yang kuinginkan. Aku memutuskan untuk tidak melihat-lihat seperti biasanya karena aku harus belajar untuk tes besok.

“Ini dia kembaliannya, terima kasih.” Aku sedikit menundukkan kepalaku. Wangi ramen langsung tercium begitu aku keluar dari toko buku, toko buku ini memang bersebelahan dengan kedai ramen, akh aku lapar.

Aku menatap orang yang sedang melahap ramen, aku langsung menelan salivaku. Aku harus segera pulang untuk masak ramen instan dan pergi belajar setelah itu.

Aku di temani lampu penerangan jalan yang sudah mulai redup saat aku berjalan pulang. Sejujurnya aku sedikit takut setiap aku melewati jalan ini, di sini sangat sepi saat malam dan ada seekor anjing besar yang tinggal di kawasan ini, kerap kali anjing itu menggongong dengan kencang yang membuatku takut.

Tunggu, bukankah itu Chanyeol? Sedang apa dia di depan minimarket dengan dua cup ramen di hadapannya? Aku berjalan meghampirinya dan menepuk pundaknya.

“Sedang apa kau disini?” Chanyeol terkejut saat aku menepuk pundaknya.

“Duduklah.” aku menurutinya dengan duduk di kursi sebelahnya.

“Makanlah, aku melihatmu tadi. Aku kasihan melihatmu menatap orang yang sedang makan ramen tadi. Jadi aku membelikanmu ramen.” Chanyeol membuka cup ramen dan meletakkannya di hadapanku. Aku memerhatikannya yang sedang makan ramen itu, aku tersenyum melihatnya.

“Yak! Aku menyuruhmu untuk makan, bukan untuk mengagumi ketampananku.” Aku memukulnya perlahan dengan sumpitku.

Aku langsung memakan ramen ini, aku kaget ternyata ramen ini masih panas sekali, aku memakannya dengan membuka mulutku dan meniupnya. Lidahku seperti terbakar rasanya, aku langsung masuk ke dalam minimarket untuk membeli dua botol air mineral.

Aku memeberi air mineral satunya untuk Chanyeol, aku melanjutkan makanku dengan lebih perlahan. Aku merasa cukup kenyang memakan ramen ini, rasanya isinya lebih banyak dari dugaanku. Aku baru tersadar Chanyeol sedang memperhatikanku dengan dalam.

“Jangan mengagumiku seperti itu, aku tahu aku ini cantik dan-“

“Kau benar, kau memang cantik.” Chanyeol mendekatkan kursinya dan menatapku. Aku menatap balik matanya, pipiku terasa panas. Aku bergegas berdiri dan berjalan menjauhi Chanyeol.

“Tunggu aku Anna!” bodoh sekali aku, pasti Chanyeol melihat pipiku yang memerah tadi, memalukan. Chanyeol berjalan di sampingku dengan kedua tangannya di belakang.

Saat sudah sampai di depan rumahku, Chanyeol memandang rumahku sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Aku akan masuk ke dalam.”

“Masuklah ini sudah malam.” Aku mengangguk, saat aku ingin masuk ke dalam halaman rumahku Chanyeol menahan tanganku.

“Sebentar.”

“Kenapa?” tiba-tiba Chanyeol mencubit kedua pipiku dengan gemas.

“Aku ingin melakukan ini, kau ini kapan cepat besarnya?” Aku memukul kedua tangannya dan menarik tangannya dari pipiku.

“Ini sakit tahu.” Aku mengusap kedua pipiku.

“Pulanglah.” Ucapku. Chanyeol tersenyum dan mengangguk. Dia melambaikan tangannya padaku dan berjalan menjauh dari rumahku, aku memperhatikannya dari sini, saat dia sudah jauh aku masuk ke dalam rumahku.

“Aku pulang.” Seruku. Seperti biasa, rumah ini selalu sepi, Appa dan Eomma jarang sekali pulang ke rumah karena kesibukan mereka.

Mereka seorang pembisnis, entahlah aku tidak pernah melihatnya langsung apa pekerjaan mereka. Saat aku kecil aku di rawat oleh pembantu di rumahku, ah tidak mereka bukanlah pembantu, untukku mereka adalah keluargaku.

Aku langsung membuka pakaian seragamku dan pergi mandi. Aku mendengar suara dering handphoneku saat aku selesai mandi. Nama Baekhyun tertera di layar handphoneku, tumben sekali dia menghubungiku.

“Halo?”

‘Anna, apa aku menggangumu?’

“Tidak, ada apa?” aku duduk di kursi meja belajarku.

‘Ah tidak, aku hanya ingin bertanya soal tesmu besok.’

“Apa?”

‘Apa aku perlu membantumu?’

“Kau tidak perlu repot-repot, kurasa aku bisa mengerjakan tes besok, yah walaupun tidak seluruhnya.”

‘Baiklah, selamat malam.’

“Malam.”

Ini aneh sekali, dia bahkan tidak pernah menghubungiku sebelumnya. Kurasa kepalanya baru saja terbentur sesuatu dengan keras. Sudahlah, aku tidak ingin terlalu memikirkannya. Membuka buku, menyiapkan pensil dan penghapus, baiklah aku harus belajar malam ini.

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Remember (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s