[Twelveblossom] Dear Husband: Hold Back The Tears

20180222_130634_0001

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love YouI’m Okay Even It’s Hurt – If You Were Me – When You and I Become Us – Dealing With You – My Eyes On YouLove, Lies, and Life

Twelveblossom(Twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Nara, Liv, dan Chanyeol | Romance, Marriage Life & Friendship | Wattpad: twelveblossom | Line@ @NYC8880L

“I will close my eyes so I can’t see. I will hold back the tears, don’t worry. Just go on your way. I’m alright.” ―I’ll Be Fine, Sura

-oOo-

Nara menekuni jendela kamar. Sudah satu minggu ia keluar dari rumah sakit, kembali ke kediaman Keluarga Park. Nara sempat berdebat beberapa kali dengan Chanyeol karena dirinya ingin tetap tinggal di apartemen Sehun. Tentu saja Chanyeol murka dan tak mengijinkan sebab suami dari adiknya itu tidak menunjukkan batang hidungnya ketika Nara sakit. Kemarahan itu enggan menular pada Nara. Gadis itu justru menunggu dengan tenang. Nara memang terluka akan sikap Sehun yang memutuskan komunikasi, tetapi rasa rindu dan sayangnya pada sang suami terlampau besar mengalahkan amarahnya.

Nara hanya dapat bersedih. Dalam pikirannya masih bergulat mengenai masa lalu Ahra. Entah mengapa, kemungkinan jika Ahra mengandung membuatnya sakit hati. Ia tak bisa membayangkan apabila Sehun mengetahui hal tersebut. Sehun pasti terluka, pikir Nara. Hanya membayangkan Sehun terpuruk saja membuat Nara semakin berduka. Ia tak ingin cintanya bersedih sedikit pun, Nara tahu ini bodohmau bagamaina lagi? Nara tidak bisa mengendalikan lajur benaknya.

Ponsel yang berada di genggaman Nara pun berbunyi menandakan apabila ada pesan singkat yang masuk. Si gadis mengakhiri lamunan, kemudian memilih membaca pesan dari Kang Daniel. Nara memang menunggu Daniel untuk menghubunginya sebab pemuda itu sudah beberapa hari ini pergi keluar negeri untuk mengerjakan bisnis barunya.

“Daniel sudah sampai di Seoul. Dia akan berkunjung ke sini,” baca Nara. Gadis itu berdiri membuat gaun tidur berwarna putih yang kini di kenakannya bergerak. Si gadis menatap cermin yang berada di hadapannya. Pantulan dirinya pun terlihat.

Nara tersenyum kecut melihat perbedaan parasnya. Ia kelihatan menyedihkan. Nara semakin kurus. Raganya minta dikasihani atau paling tidak menggambarkan apabila si gadis tengah menderita. Nara yang bahagia lenyap begitu saja dalam hitungan minggu.

“Kira-kira apa yang akan dikatakan Sehun saat melihatku dalam kondisi begini? Pasti dia sangat senang karena usaha balas dendamnya terwujud,” Nara berbicara pada kekosongan. Gadis itu menggeleng. “Dia pasti sedih. Sehun pernah berucap kalau dirinya mulai menyukaiku,” lanjutnya. Nara memegangi dadanya yang pedih.

Si gadis tahu jika Sehun menghilang karena mengejar George. Mungkin pria itu mendapatkan suatu fakta yang membuat suaminya memutuskan untuk pergi begitu saja. Selama empat belas tahun, misteri kematian Ahra mulai terungkaptentu saja benak Sehun berpusat pada masalah itutak ada satu pun celah untuk memikirkan keadaan Jung Nara. Si gadis berusaha memahami.

“Aku merindukanmu, Sehun,” kata Nara sedih.

“Apa dia ketiduran?” tanya Chanyeol pada Liv.

Mereka diam-diam masuk ke kamar Nara hanya sekedar mengecek keadaan si adik.

Liv yang melangkah lebih dulu memeriksa si gadis yang tengah berbaring terlentang di atas ranjang. Liv dapat melihat mata Nara yang sembab. Wanita rupawan tersebut menghela napas berat. Liv tahu Nara menderita, itu mengusik serebrumnya.

“Iya, kelihatannya dia menangis lagi,” jawab liv pelan. Ia duduk di tepi ranjang mengusap kening Nara. “Dokter Hwang baru saja berkunjung untuk memberinya obat penenang,” sambung Liv.

Chanyeol mendekat. Ia mengamati Nara, tatapannya sedih. Nara sekali lagi harus berkorban menghadapi keegosian keluarganya. Andai saja Chanyeol memiliki kemampuan untuk mengubah segalanya, ia pasti dapat membuka mulut atas semua yang terjadi empat belas tahun lalu. Chanyeol merasa tak berguna.

“Nara semakin kurus. Apa yang harus kita lakukan, Liv?” tanya si pria putus asa

“Nara seperti memikirkan sesuatu. Dia bahkan hanya berbicara kepada Daniel.” Liv mengalihkan atensinya pada Chanyeol. “Apa kau tak bisa membawa Sehun kemari? Aku mohon, berhenti keras kepala. Nara bisa meninggal kapan pun.”

“Aku sudah menemui Sehun di Tokyo. Dia bersikeras untuk mengungkapkan semuanya. Laki-laki yang dicarinya menghilang begitu saja.” Chanyeol meraup wajah. Pria itu merasa beban di pundaknya terlampau berat.

“Aku sudah menduga kau akan menjawab demikian. Maka dari itu, aku menghubungi ayahmu,” timpal Liv.

Pria berpakaian kemeja dan celana kain itu pun terkejut. Rautnya berubah dingin. “Apa yang kau lakukan?” intonasinya meninggi.

Liv berdiri. “Karena hanya dia yang memiliki kekuasaan untuk membuat kau dan Sehun berhenti mengganggu Nara.”

Chanyeol menyengkram pundak Liv membuat istrinya merintih kesakitan. “Aku memang membiarkanmu bertindak sesuka hatimu dan mengatur sesuai kemauanmu untuk banyak hal. Tapi bukan berarti, kau bisa mencampuri urusan kami

Memangnya kenapa? Bukankah Tuan Park juga ayahmu? Kenapa kau menjauhkan Nara dengan keluarganyaargh!” ucapan Liv terputus ketika Chanyeol mendorong Liv kasar hingga jatuh ke lantai.

Chanyeol tertawa dingin. “Karena aku tidak ingin yang terjadi pada Ahra juga menimpa Nara,” jawabya. Ia melangkah pergi setelah menekan seluruh kalimatnya, meninggalkan istrinya.

Liv tidak menangis karena wanita itu kuat. Ia hanya memeggangi perut, takut terjadi sesuatu pada kandungannya. Si wanita belum memberitahu Chanyeol mengenai kehamilannya hingga saat ini. Chanyeol terlampau tak menyukai anak-anak. Liv takut apabila si pria justru akan melenyapkan janinnya sebab di awal pernikahan mereka, ada perjanjian untuk tidak memiliki bayi.

Nara berganti pakaian. Baju tidurnya sengaja ditanggalkan, gaun selutut berwarna biru muda menjadi pilihan. Ia enggan memoles parasnya yang pucat, hanya surainya disisir. Nara bergerak membuka pintu menuju ruang keluarga untuk menemui Daniel.

Gadis itu tersenyum simpul ketika melihat sang pemuda menunggu. Nara duduk di sofa tepat di hadapan Daniel.

Daniel memberikan ekspresi sedih melihat keadaan Nara. Pria itu segera mengendalikan diri, duka yang tadi terlihat dimanipulasi dengan senyum tulus. “Noona, kau tampak tidak baik-baik saja,” kata Daniel memulai pembicaraan.

Nara menggeleng. “Aku sehat,” timpalnya. Nara menghela napas. “Apa kau bertemu Sehun?” tanyanya kemudian.

Daniel bersandar ke sofa. Ia melipat tangan di depan dada. “Iya,” jawabnya singkat.

Nara menginginkan balasan lebih dari itu. Daniel telah bertemu sehun atas permintaan Nara. Si gadis tak tahu keadaan yang terjadi. Ia hanya ingin Daniel membantu Sehun serupa dulumenjadi sumber informasi bagi pria itu. “Kau pasti tidak ingin mengatakan padaku apa saja yang kalian bicarakan

Memang tidak karena itu akan menyakitimu,” potong Daniel. “Kau tidak boleh mengetahui apapun karena yang kita hadapi memiliki kuasa yang lebih besar dari Sehun. Dia ingin menjagamu.”

Nara menatap Daniel lama. Ia menggigit bibir ragu dengan yang akan diucapkan. “George memberitahuku jika Ahra hamil,” bisik Nara.

Daniel berpindah tempat duduk menjadi di samping Nara. “Apa karena itu kau pingsan, Noona?”

Nara menggeleng. “Aku merasakan nyeri di dadaku. Aku masih setengah sewaktu kau datang membantuku.” Ia mengambil jeda menatap sepupu Sehun tersebut. “Aku melihat potongan-potongan kejadian yang mengerikan. Setiap aku masuk dalam kenangan itu, Ahra selalu datang menyakitiku.”

Si pemuda menautkan alis. “Apa ini semua karena hipnoterapi Minhyun?” Daniel mengepalkan tangan setelah mendapati Nara mengangguk. “Kau terus mengalami mimpi buruk dan Sehun membiarkan itu terjadi

Aku baik-baik saja Kang Daniel,” pangkas Nara. Ia tidak ingin Daniel meluapkan amarah. “Aku memahami jika Sehun memaksaku mengingat karena itu diperlukan untuk mengungkap semuanya.”

Daniel tertawa dingin. “Berhenti menjadi orang baik, Jung Nara. Itu membuatku muak,” ia berucap dingin. “Sehun hanya ingin tahu pelaku pemerkosaan Ahra. Dia hanya ingin tahu apakah Ahra pergi dengan suka rela atau terpaksa. Dia hanya ingin tahu apakah Ahra mengkhianatinya atau tidak. Dalam pikirannya hanya ada Ahra,” ujar Daniel ia berusaha mengendalikan kemurkaan. Dia sungguh sangat marah melihat gadis yang dicintainya dibodohi.

“Kau berkata seakan Sehun mengetahuinya sejak lama,” sela Nara.

“Dia tahu Ahra hamil sudah sejak awal. Oh Sehun bahkan membantu keluargamu untuk memalsukan data visum saudarimu. Mereka mengorbankanmumenjadikan alasan bahwa operasi tranplantasi jantunglah yang membuatnya meninggal. Dia tidak hanya mati otak, tapi pendaharan pada kandungannya yang menyebabkan semua itu, Noona. Mereka membuatmu merasa bersalah hingga kini” ucapan Daniel terpotong karena Nara menamparnya.

Gadis itu menangis. Ia menutup kedua telinganya enggan mendengar semua fakta yang digelontorkan Daniel.

Lantaran marah, Kang Daniel justru berlutut di hadapan Nara. “Aku mohon, jangan begini lagi. Semua bukan salahmu, Jung Nara.” Perlahan Daniel meraih tangan Nara lalu menggengamnya. Jari-jari pria itu menghapus airmata Nara.

“Siapa yang melakukan itu pada Ahra?” tanya Nara masih tersedu.

“Aku dan Sehun hyung belum mengetahuinya. Orangku kehilangan jejaknya, tapi hari ini George ditemukan meninggal di apartemen sewaandi Tokyo,” jawabnya. Daniel menghela napas kasar. “Sehun hyung memintaku agar menjagamu. Kau tidak diperbolehkan menceritakan kenangan yang dirimu lihat pada orang lain.”

Nara mengangguk. “Apa aku bisa bertemu dengannya?”

Daniel membuang muka. Pria itu kembali duduk di atas sofa.

“Apa kau ingin mencoba naik pesawat?” tawar Daniel.

Nara diam, selang beberapa sekon si gadis menimpali, “Iya, kenapa tidak?”

“Kata Daniel, kau akan pergi ke Tokyo,” vokal Chanyeol saat memasuki kamar Nara. Pria itu sudah menanggalkan pakaian kerjanya berganti dengan kaus biru serta celana jeans selutut. Chanyeol membawa nampan yang berisi kue dan susu cokelat untuk adiknya.

Tanpa menunggu persetujuan sang kakak duduk di samping Nara yang kini sedang berada di ranjang sambil melamun. Chanyeol meletakkan nampannya di nakas samping tempat tidur.

Nara tak menanggapi, ia membuang muka.

“Kau tidak boleh ke sana,” tambah Chanyeol setelah tak mendapatkan balasan. Pria itu menghela napas maklum. “Bagaimana dengan traumamu terhadap ketinggian?” tanyanya lagi. Ia menyentuh bahu Nara agar menghadap ke arahnya.

“Minhyun akan membantuku, dia menyuntikkan obat tidur

tidak boleh, itu akan mengganggu jantungmu,” potong Chanyeol.

Nara membolakan mata. Entah mengapa ia sudah muak dengan semuanya. Segala hal mengenai dirinya. “Ini tubuhku, Park Chanyeol. Itu menjadi hakku untuk melakukan segala hal sesuai dengan keinginanku.”

Chanyeol memberikan raut terluka. Ia sedih. Ekspresi itu tak bertahan lama, selang beberapa sekon si pria terlihat marah. “Jangan gegabah Jung Nara. Jangan membuat pengorbanan Ahra sia-sia,” bisiknya sengit.

Nara beranjak dari ranjang. “Ahra tidak berkoban untukku. Jangan pernah lagi menyalahkan diriku!” seru Nara. Ia menunjuk Chanyeol, Nara kehilangan kendali. “Dia berniat membunuhku. Bukan aku yang membunuhnyabukan aku!” koar Nara, dia histeris. Si gadis berlutut, surainya acak-acakan. Ia menutup telinga sebab ada dengung ganjil yang terus menghardiknya. “Ahra hamilibu memanggilnya jalang. Dia jahatbukan akubukan karena diriku dia meninggal.”

Chanyeol yang melihat keadaan adiknya puk cekatan bertindak. Amarahnya menguap entah ke mana. Ia medekati Nara, berlutut di sampingnya, kemudian mendekapnya erat. Chanyeol tak beralih meskipun Nara memberontak.

“Nara,” gumam Chanyeol lembut. “Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku mohon, tenanglah,” hibur sang kakak.

“Kenapa kalian menyembunyikan semuanya dariku?” isak Nara. Dia sangat lelah sebab airmatanya enggan dapat berehenti.

Chanyeol meraih wajah adiknya, ia merangkum dengan tangan agar Nara dapat melihat sepasang mata itu. “Aku berjanji pada Ahra untuk menjagamu. Aku tidak ingin kau ikut campur masalah ini. Tapi, semua rencana untuk mengungkapkan orang yang membuat Ahra hamil tidak berjalan lancar. Kemudian, Sehun memberikan solusi agar kita membuatmu mengingat lagi. Ada sesuatu dalam kenangan itu,” jelas Chanyeol.

Nara menggeleng beberapa kali. “Aku hanya tahu jika Kak Ahra berniat membunuhku

Dia depresi karena ….” Chanyeol tak melanjutkan ucapannya. Ia menatap Nara lebih dalam, kemudian Chanyeol memilih jalan lain. “Ibumu datang beberapa bulan sebelum kejadian itu. Dia meminta Ahra untuk ke Jepang agar dapat menjalani tes kemungkinan dirinya menyumbangkan organ tubuh. Mereka bertengkar mengenai dirimu. Ahra seolah-olah diminta mati untuk menggantikan kau. Ahra merasa tidak diinginkan, kemudian dia mulai ke bar. Semua terjadi begitu saja. Ahra tiba-tiba menghilang dari pandanganku dan Sehun. Dia ternyata sudah berada di Jepang menemuimu. Tak berselang lama, kami menerima kabar kematiannya.”

“Jadi dia begitu karena diriku

―Tidak, Nara. Ahra kehilangan karakternya karena semua aturan keluarga kita.” Chanyeol menyela. “Sudah pernah kukatakan sebelumnya jika Sehun terlampau terluka. Dia menyalahkan siapa saja yang menjadi pemicu kematian Ahra. Terlebih lagi, Sehun belum mendapatkan pelakunya. Sehun memilih menyelidikinya diam-diam karena enggan membuat nama Ahra tercemar serta perusahaan kita goyah.”

“Aku ingin bertemu Sehun. Aku harus bertemu dengannya,” pinta Nara. Gadis itu mulai lemas.

Chanyeol menyentuh pipi adiknya, Nara demam. “Jangan pergi ke Tokyo, aku akan membawa Sehun ke sini untukmu.”

Daniel melangkahkan kakinya melewati lorong sebuah hotel ternama yang terletak di pusat Kota Tokyo. Pria itu datang kemari tanpa pengawalan. Ia bahkan menerima kode akses khusus untuk membuka lantai dua puluh satu bangunan tersebut. Daniel menarik lengan kemejanya sampai ke siku. Pria itu menegapkan badan bersiap bertukar informasi dengan sepupunya. Ini bukan pertama kalinya Daniel berkunjung ke sana. Satu minggu lalu, setelah ia mendapatkan dokumen mengenai Ahra dan saran dari GuanlinDaniel pun setuju untuk membuat kesepakatan.

Daniel masuk ketika pintu mewah di hadapannya terbuka secara otomatis. Ia langsung disuguhi ruangan yang mengusung konsep Eropa. Ada Sehun yang tengah berdiri di jendela kaca luasmenyuguhkan pemandangan Kota Tokyo di malam hari.

“Kau datang,” kata Sehun dingin. Sehun masih mengenakan jas hitam, ia terlampau menawan malam ini. Kendati demikian, parasnya tampak kosong. Ia kehilangan aura kehidupannya.

Daniel duduk di salah satu kursi saat Sehun memerintahkan. “Nara memintaku agar membawanya ke Tokyo,” ucap Daniel memulai topik sensitif itu.

Sehun menarik napas panjang. “Tak bisakah dia menungguku? Aku akan kembali padanya,” vokal Sehun sendu. “Aku di sini bukan hanya bertujuan memuaskan rasa penasaran. Aku telah berjanji pada Ahra untuk menyeret laki-laki yang telah menghamilinya.”

Daniel mendengus. “Seberapa penting perjanjian itu hingga kalian memanfaatkan gadis yang tak bersalah.”

Sehun meraih sloki yang berisi wine. Ia menjawab tegas, “Perjanjian itu adalah perwujudan dari rasa bersalahku, semetara Nara ialah kuncinya. Aku tidak memanfaatkannya, diriku hanya menempatkan Nara sesuai dengan tugas yang harus dia lakukan untuk membayar atas jantung Ahra. Jika tidak begitu, Nara akan selalu merasa bersalah karena dirinya tak mengentahui kebenarannya.” Pria itu lalu duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari Daniel.

“Nara tak berhutang budi sama sekali pada Ahra,” sergah Daniel. Ia melemparkan dokumen ke atas meja. “Itu adalah keterangan dari dokter yang pernah melihat Ahra berupaya mendorong Nara saat mereka di lantai paling atas rumah sakit. Selain hal tersebut, Ahra juga beberapa kali mencoba mencekik Nara,” ungkap Daniel geram, rautnya mengeras. “Bukankah kau mencintai Nara, Hyung? Apa kenyataan bahwa Nara menderita tidak menyakitimu?” lanjutnya.

Sehun tersenyum simpul. Dia enggan menjawab sebab pikirannya terbelah menjadi dua antara yang diperlihatkan sekarang dengan yang disembunyikan. Perasaan Sehun memang membeku untuk orang lain, namun tidak apabila sudah membicarakan mengenai Nara.

Daniel memberikan beberapa foto lagi kali ini potret tersebut menampilkan keadaan Nara. “Dia masih bermimpi buruk setiap tidur. Nara hanya bisa beristirahat jika meminum obat penenang. Tapi, itu tak dapat dikatakan istirahat karena setiap bangun, gadis itu semakin sedih karena mimpinya.” Daniel menekan diafragma. “Paling tidak, kembalilah pada Nara. Dia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi. Nara hanya merindukanmu,” sambungnya. Selanjutnya, Daniel membuka dokumen yang ada di atas meja. “Guanlin menemukan rekaman CCTV tentang pria yang membawa Ahra ketika mabuk. Kami sedang menyelidikinya

Namanya Lee Younhwan. Dia adalah salah satu teman dekat Ahra. Aku sudah mengetahuinya,” potong Sehun. Ia menghela napas, lalu bersandar ke sofa. “Aku telah menghajarnya sampai dia sekarat. Tapi, bukan dia pelakunya. Ada seseorang lagi yang mengambil Ahra ketika mabuk saat itu, setelah mereka keluar dari klub.”

Daniel menautkan alis. “Siapa? Maksudku, apa tidak ada rekaman CCTV yang lain. Aku pasti dapat menemukannya.”

“Semua rekaman saat kejadian itu lenyap begitu saja.” Sehun memijat pelipis. “Aku benar-benar membutuhkan ingatan Nara,” sambungnya.

“Temui Nara, Hyung. Kau akan mendapatkan ingatannya. Nara tak bercerita banyak padaku,” timpal Daniel lantas membuat Sehun mengangguk.

Benar, Sehun setuju dengan mudah.

Bukan, Sehun tak hanya ingin ingatan gadis itu.

Sehun juga merindukan Nara.

Sangat merindukannya.

Nara berulang kali mengerjapkan netra. Gadis itu tidak yakin dengan yang dilihatnya sekarang. Ia tadi berniat ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan diri, lalu sewaktu Nara kembali ke ruangangadis itu melihat Sehun berada di sana. Sehun duduk di tepi ranjang, mengenakan kaus hitam dan celana jeans. Nara mendapati si pria menatapnya lurus. Nara benar-benar enggan mengendalikan diri lagi. Kakinya melangkah begitu cepat menuju suaminya.

Sehun berdiri ketika mendapati istrinya berjalan untuk menghapus spasi di antara mereka. Ia memerhatikan gadis itu seolah kerinduan sempat mengisi pikirannya. Sehun dapat mencium aroma tubuh Nara yang selama hampir dua bulan ini ia inginkan. Pria itu sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Bahkan ketika Nara menyentuh rahangnya.

“Kenapa kau jadi sangat kurus, Sehun?” tanya Nara. Ia mengusap paras suaminya, seakan ia memeriksa apakah Sehun terluka atau tidak. “Apa kau tidak makan dengan baik?” lanjutnya.

Sehun tidak tahan lagi akan keadaan Nara yang tergambar begitu menyanyanginya. Hatinya tercubit oleh sedikit rasa bersalah. “Bagaiaman bisa kau menanyakan keadaanku, tapi kau sendiri tampak tidak baik?” Pria itu memberikan pertanyaan sebagai gantinya.

Nara tersenyum. “Aku jadi sangat sehat saat melihatmu,” balasnya lembut.

Sehun menggenggam jari-jari Nara yang mengusap rautnya, kemudian mencium punggung tangan sang istri. “Bertahanlah sedikit lagi, Nara. Aku berjanji untuk segera mengakhiri semuanya,” bisiknya sebelum menunduk kemudian meraih tengkuk si gadis lalu mengecupnya.

Kelopak Nara tertutup ketika merasakan kelembaban bibir suaminya. Gadis itu mengalungkan tangan di leher Sehun ketika si pria menariknya agar lebih dekat. Kaitan bibir mereka kali ini tidak membara, kecupan sayang penuh kerinduan yang sesuai untuk mendeskripsikan.

Sehun memberi jarak pada paras mereka, meskipun begitu hidung keduanya masih dapat bersentuhan. Pertama kalinya dalam dua bulan terakhir Sehun tersenyum lepas. Bebannya memang belum sepenuhnya hilang, tapi mendapati gadis kesayangannya berada di dekatnyamembuatnya seringan bulu. Sehun ingin hidup begini selamanya, hanya ada dirinya dan gadis yang dicintai.

“Aku mencintaimu,” bisik Nara.

Sehun enggan menjawab. Dia hanya memberikan ciuman di kening Nara. “Maafkan aku,” gumamnya teramat pelan hingga Nara tak dapat mendengar.

Chanyeol memberikan cangkir kopi pada sahabatnya. Mereka berada di ruang makan. Chanyeol meminta Sehun menemuinya di sini saat si pria sudah menidurkan Nara. Adiknya itu memang keras kepala, Nara bahkan tak membiarkan Sehun beranjak sedikit pun dari kamar. Nara juga tidak lagi meminum obat penenangnya, entah apa yang dilakukan Sehun untuk membuat si adik kelelahan sampai tidur pulas. Dia tak ingin tahu sama sekali. Walaupun sebenarnya dia sangat penasaran.

Chanyeol memerhatikan Sehun dari rambut sampai kaki. Pria itu menyipitkan mata saat melihat bercak merah di leher Sehun yang terlihat ketika sahabatnya itu tak sengaja menggaruk leher.

“Apa alergimu kambuh?” tanya Chanyeol memancing Sehun yang sedang fokus menonton televisi.

Sehun melejitkan bahu. “Tidak,” jawabnya datar.

“Lalu kenapa itu?” Chanyeol tidak menyerah sambil menunjuk leher Sehun.

“Nara menggigitnya.”

Chanyeol menyemburkan kopi yang barusan diminum, untung tak mengenai lawan bicaranya sebab Sehun bisa saja naik pitam. “Apa yang kalian lakukan sampai saling menggigit begitu?” koar si pria ada nada kesal di sana.

Sehun pun memutar bola mata, keasyikannya menoton pertandingan terganggu akibat pertanyaan bodoh Chanyeol. “Apa aku harus menceritakan berapa kali aku membuat Nara organisme?” Sehun balik bertanya.

Chanyeol mendengus. “Tidak perlu, itu hanya membuatku muntah,” selorohnya. Ia kembali mengimbuhi, “Kau boleh meniduri adikku, tapi jangan sampai membuatnya hamil. Awas saja.”

“Terserah, apa kita di sini hanya membicarakan omong kosong ini?” Sehun mulai kesal.

Pria jangkung yang menjabat sebagai kakak tiri Nara pun tertawa. “Tidak juga, maaf.” Ekspresinya kembali serius. “Tuan Parkmaksudnya ayah biologisku bertindak sangat aneh belakangan ini.”

Alis Sehun bertaut.

“Begini, dia menemui beberapa dokter yang pernah memalsukan catatan kesehatan Ahra. Dia juga mencari tahu catatan kesehatan terbaru Nara. Padahal dia tak pernah ikut campur pada kehidupan Nara. Tuan Park yang terkenal rajin berselingkuh itu, bahkan menemui Han Haera. Entah apa yang mereka bicarakan. Dia sama sekali enggan turut serta pada kehidupan anak-anaknya, well kecuali saat aku menikah karena memang banyak media bisinis yang meliput.”

“Selama ini yang diketahui Nara, jika ibu dan adik kalianPark Ryujin tinggal bersama Tuan Park,” timpal Sehun. Pria itu memijat pelipis. “Aku meminta Daniel merahasiakan catatan kesehatan Nara yang terbaru. Apalagi sesi terapinya untuk mengingat kembali. Tapi, kekuatan kita masih belum cukup.”

Chanyeol menghela napas. “Jika dugaan kita benar … bagaimana cara kita melindungi Nara? Padahal, kita juga harus membuatnya kembali ke Korea. Apa menurutmu kita harus mengumpankan Nara sekali lagi?” ujar si pria santai.

Sehun membuang muka. Gagasan yang tepat, tapi hatinya berat. “Dia akan menyingkirkan Nara dengan mudah kalau rencana kita gagal,” balasnya dingin.

Chanyeol pun muram mendengar prediksi Sehun.

Bonus Part

“Sehun,” panggil Nara. Gadis itu menggeliat kecil agar pria yang kini sibuk mengecupi lehernya mendengarkan.

Yes, Baby?” jawab suaminya, sedikit tidak rela memisahkan diri dari raga si wanita. Sehun mengubah posisi yang tadinya menindih Nara menjadi terlentang.  Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.

Nara tersenyum. Ia mendekat agar dapat memeluk Sehun lebih erat. “Aku ingin punya hewan peliharaan. Kata Daniel, itu membuatku tidak stress,” pinta Nara manja.

Sehun enggan langsung menjawab. Pria itu mengusap kening Nara yang berpeluh akibat kegiatan malam mereka. Tadinya, Sehun akan mengomel soal dirinya yang tak suka memelihara sesuatu. Akan tetapi, melihat paras Nara yang rupawan membuatnya luluh. Maka dari itu, Sehun mengecup beberapa kali pipi Nara sebelum menjawab. “Apa yang ingin kau miliki?” tanya Sehun lembut.

Tatapan Nara berbinar-binar. “Aku ingin punya anak anjing,” katanya antusias. Nara membalas netra Sehun yang memandangnya teduh. “Samoyed!” imbuh si gadis.

“Ah, begitu rupanya.” Sehun mengangguk-angguk. “Bagaimana kalau kau memelihara Kang Daniel? Bukankah dia mirip seperti Samoyed? Lagi pula, Daniel juga patuh padamu,” balasnya jahil.

Nara merengek. “Tidak, Daniel terlalu berisik.”

Suaminya pun tertawa mendengar penjelasan Nara. “Paling tidak, dia bisa menjagamu.”

“Aku tidak perlu Daniel untuk menjagaku. Aku sudah punya kau,” sergah Nara. Dia menepuk paras suaminya.

Sehun membelai surai Nara. Ia memberi kecupan singkat di puncak kepala sang istri. “Bagaimana jika aku yang ternyata berniat mencelakaimu?” gumamnya.

Nara menggigit bibir. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada Sehun. “Aku percaya padamu,” kata Nara sendu.

Baby, jika suatu saat nanti kau sangat lelah dengan diriku atau ketika aku terlalu menyakitimu … minta Daniel untuk membawamu pergi. Karena selain Chanyeol, aku hanya memercayai Kang Daniel untuk menjagamu,” kata Sehun.

Nara merangkum paras Sehun. Dia menggeleng beberapa kali. “Aku tidak ingin pergi kemana pun,” bisiknya di telinga prianya.

Gadis itu merasakan kesedihan Sehun yang menjalar kepada dirinya juga. Sebagai penghiburan, Nara menarik Sehun ke bibirnya. Si gadis melumat bibir atas dan bawah suaminya bergantian. Nara membelai otot perut Sehun agar pria itu membuka mulutnya, mempertemukan lidah mereka.

“Jung Nara,” desah pria itu ketika Nara berada di atasnya.

Pelan-pelan Nara merasakan bagian bawah Sehun mulai menegang. Entah keberanian dari mana, Nara mulai menyatukan tubuh mereka sekali lagi. Gadis itu mengernyit ngilu. Nara menengadahkan kepala ketika merasakan Sehun berada pada dirinya. Nara melihat mata Sehun tertutup menahan kenikmatan yang diberikan oleh gadisnya.

Sehun segera membuka mata, saat sang istri mulai bergerak. Ia melihat kesempurnaan pada paras si gadis. Hanya Nara yang dapat membakarnya. Setiap sentuhan menimbulkan percikan api. Rasa yang membuncah itu memanaskan raganya.

“Sehun-ah,” erang Nara, ketika tangan Sehun meremas dan sesekali menghisap payudaranya.

Sehun merasakan kedutan pada milik Nara setelah beberapa menit mereka bergerak. Sehun meraih pinggang Nara agar si gadis tak kualahan. Tangan Sehun menyisihkan surai yang menutupi paras istrinya. Ia  tahu Nara hampir  mencapai puncak. Si gadis menyembunyikan wajahnya di pundak Sehun. Gigitan kecil ia rasakan pada lehernya sebagai pelampiasan gairah Nara. Setelahnya, pria itu tak tinggal diam, ia mengubah posisi menjadi menindih Nara karena dirinya belum puas.

Nara kini tengah melayang mencapai kenikmatan yang selalu membuatnya gila. Dia menyengkram lengan Sehun erat saat suaminya bergerak cepat di atasnya. Nara berulang kali melenguh, ketika milik Sehun mencapai bagian terdalam. Gadis itu terpesona pada Sehun untuk kesekian kalinya. Sehun memang hebat dalam urusan ranjang. Dia juga sangat berhati-hati menjaga Nara tak terlalu lelah.

Nara hampir berteriak ketika dirinya mencapai puncak untuk kesekian kali, kalau saja bibir Sehun tak membungkam. Gadis itu tergopoh-gopoh membalas ciuman panas Sehun. Si pria melepas tautan bibir mereka ketika Sehun akan mengeluarkan sperma. Biasanya Sehun tak ingin menumpahkan benihnya pada rahim istrinya, namun kali ini berbeda. Nara memeluknya erat, dia menancapkan kukunya pada punggung Sehun.

“Lepaskan di dalam, aku mohon,” pinta Nara penuh kesedihan.

Sehun tentu saja hendak memberontak, akan tetapi ucapan Nara tadi, sekali lagi membelah benaknya. Dalam kondisi normal ia akan mudah memutuskan dengan akal sehat. Namun, ia berada dalam posisi yang merenggut akal sehatnya.

Sehun mengerang putus asa.

Sehun menengadah, meresapi kenikmatan yang hanya didapatkan dari wanitanya.

Nara menang kali ini.

-oOo-

a/n:

Part selanjutnya dapat dibaca dengan klik 》》 Special part: Everything For You.

Oh ya, boleh ya cek akun Wattpad ku usernamenya twelveblossom atau wattpad.com/twelveblossom 

Selain itu kalian juga bisa add Line@ twelveblossom tinggal search id >> @NYC8880L (menggunakan @)

2 tanggapan untuk “[Twelveblossom] Dear Husband: Hold Back The Tears”

  1. Huaaaaaaaaaaaaaaa kenapa makin kesini makin ribett cintanya merekaaaaa hiks hikss…
    Daniel ah…jgn ngarepin nara ya..sni sma noona ajaa 😂😂😂😂

    Fighting!!!!!!tak sbar menunggu slanjutny ad konflik apaaaaaa ,😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s