[EXOFFI FREELANCE] Take You Home (Chapter 7)

TAKE YOU HOME (Seventh)

Sháo Xī

Chaptered

Romance, Married life, Drama, Angst

PG-15

Byun Baekhyun [EXO] x Go A Young [OC]

Park Chanyeol [EXO]

©

Summary:

Tujuanku bersamanya hanya ada satu: Demi wanita nomor satu dalam hidupku

Disclaimer:

Cerita ini murni karya saya sendiri. Beberapa adegan mungkin terinspirasi dari buku maupun film yang pernah saya baca dan tonton. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan asli tokoh. Tinggalkan jejak karena jejak adalah vitamin penulis J

©

.

.

.

Hah, jadi ini yang namanya hidup baru?

.

.

                                                                                                       .

“Sunbae?”

Baekhyun tersentak saat satu tepukan pelan menyambangi bahunya disertai dengan suara pelan nan ragu-ragu. Ia menoleh ke kanan dan mendapati wajah khawatir A Young. Gadis itu tengah menatapnya dengan sinar cemas di matanya sembari menggenggam secangkir teh hangat. Ia meletakkan cangkir itu di konter dapur, meninggalkan dentingan halus antara cangkir dan meja marmernya.

“Sunbae, kau baik-baik saja?”

Baekhyun berkedip sesaat, sejenak baru menyadari bahwa sedari tadi ia hanya diam memandangi gadis itu tanpa mengedipkan matanya. Ia mengalihkan pandangannya dan lebih memilih menatap konter dapur berbahan marmer. Ia sedikit mencengkram surai depannya dan mendesah berat.

“Apa aku … terlihat baik-baik saja?”

Seharusnya ia bisa mengatakan sesuatu yang bisa membuat gadis itu lebih tenang, tapi nyatanya, hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.

A Young diam. Ia meraih kursi satunya, membiarkan dirinya duduk di samping laki-laki itu, entah laki-laki itu suka atau tidak, ia tak peduli. Ia diam dan hanya membiarkan matanya menatap laki-laki itu seutuhnya. Melihat bagaimana pundaknya tidak bergerak secara normal―menandakan laki-laki itu tidak bernafas dengan baik, melihat matanya yang tidak terfokus, dan melihat bagaimana tangan kurus laki-laki itu menggenggam erat rambutnya.

“Sunbae … aku memang belum pernah mengalaminya, tapi ….” A Young menarik nafasnya perlahan. “Aku yakin bahwa ibu Sunbae akan baik-baik saja. Dokter sudah mengatakannya dan kita bisa melihatnya tadi bahwa ibu Sunbae sudah tampak seperti saat ia di pesta. Ia baik-baik saja, bukan?”

“A Young-ssi,” mulai Baekhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari konter dapur. “Apa yang akan kau katakan dan apa yang akan kau tunjukkan jika kau terluka atau kau sakit di depan orang yang paling berharga bagimu?”

A Young diam dan itu membuat Baekhyun beralih menatapnya. Gadis itu bisa melihat dengan jelas bagaimana rasa frustasi yang ada pada mata laki-laki itu.

“Kau akan menunjukkan bahwa kau baik-baik saja, bukan? Kau akan katakan padanya bahwa kau tidak apa-apa, bukan?” jawab Baekhyun sendiri. “Dan itulah ibuku. Dia akan berpura-pura tidak sakit, ia akan berpura-pura tertawa walau itu sungguh menyiksanya … hanya untuk menunjukkan padaku bahwa ia baik-baik saja.”

A Young menghela nafas perlahan, lalu menggigit bibir dalamnya untuk mencegah ia mengatakan hal yang tidak pantas seperti tadi. Jelas ia belum pernah mengalaminya, tapi kenapa ia malah sok-sokan memberikan ceramah pada orang yang sebenarnya tidak butuh kata apapun?

A Young melirik Baekhyun yang sudah melempar pandangannya ke depan, walau yang bisa ia lihat hanyalah deretan peralatan dapur. Pikiran gadis ini melayang ketika acara makan malam di hari pernikahan mereka yang hanya dihadiri keluarga dekat. Awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai gelas yang tengah dipegang oleh ibu Baekhyun mendadak jatuh dan menjadi satu-satunya sumber bunyi yang memekakkan, lalu disusul oleh ibu Baekhyun yang tidak sadarkan diri. Rasanya itu terjadi sangat cepat sampai-sampai A Young hanya diam terpaku dan baru sadar saat mendengar suara panik Baekhyun. Seluruh keluarga panik, apalagi ketika bunyi ambulans menyusul. Lalu saat di rumah sakit, Baekhyun tak henti-hentinya berjalan mondar-mandir di depan ruang rawat meski semua keluarga menyuruhnya tenang. Bahkan kedua orang tua A Young ikut terlibat supaya laki-laki bermarga Byun itu bisa duduk sampai dokter datang dan menyampaikan kabar, juga tak berhasil melakukannya. Saat dokter datang, dia bahkan tak repot-repot untuk mendengar penjelasan dokter dan langsung menerobos ruang rawat.

Di dalam ruangan itu, hanya ada ibu Baekhyun seorang. Wanita itu sudah sadar sepenuhnya walau A Young bisa lihat ia sedikit lelah. Ibu Baekhyun bahkan sempat tertawa karena putra sulungnya itu sungguh mengkhawatirkannya. A Young memang tahu apa penyakit ibu Sunbae nya itu, tapi entah kenapa rasanya itu sedikit mengerikan daripada yang ia tahu.

“Ah, maaf, kau jadi terpikir, ya?”

A Young mengangkat pandangan dan bertemu dengan mata Baekhyun yang sudah lebih dulu menatapnya. “Apa? Ah … sama sekali tidak. Kalau Sunbae terpikir sesuatu, aku juga harus memikirkannya, kan?”

Baekhyun diam sejenak. Netranya lalu meneliti A Young dan ia mendapati bahwa gadis itu masih belum mengganti gaun biru gelap untuk pesta keluarga tadi. Riasan dan tatanan rambutnya juga masih sama saja seperti tadi.

“Kau … tidak mau berganti baju?” tanya Baekhyun.

“Eoh?” A Young meneliti baju yang ia pakai lalu menggeleng. “Sampai Sunbae tenang, aku tidak akan menghabiskan waktuku hanya untuk berganti baju.”

Baekhyun menghela nafas. “Apa-apaan itu. Kau pasti tidak nyaman, kan?”

A Young menggeleng. “Tidak apa Sunbae, sungguh tidak apa.”

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan apartemennya lalu menoleh. “Aku … belum mengenalkan seluruh ruangan padamu,” ujar Baekhyun.

A Young mengibaskan tangannya. “Sunbae tidak perlu melakukan hal seperti itu. Hanya dengan melihat pintunya, aku sudah tahu ruangan apa yang ada di baliknya.”

Alis Baekhyun terangkat sedikit. “Benarkah?”

A Young mengangguk semangat. “Ruangan berpintu hitam itu pasti kamar mandi. Iya, kan?”

Baekhyun mengikuti arah tunjuk gadis itu dan tatapannya tertuju pada pintu hitam dengan aksen abu-abu dan putih. Laki-laki itu menghelas nafas sedikit. “Itu kamar kita.”

A Young terkesiap. Ia buru-buru menurunkan tangannya. “Benarkah? Ah, maaf, Sunbae,”

Baekhyun mendengus, namun tak pelak, satu sudut bibirnya terangkat. Ia berhasil tersenyum hanya karena kesalahan gadis itu?

“Oh,” A Young menatap Baekhyun dengan mata bulatnya. “Sunbae tersenyum,”

Alis Baekhyun melejit naik, namun sedetik kemudian ia mendengus kembali dan membiarkan sudut bibirnya terangkat. “Uhm, terima kasih, A Young-ssi,”

A Young membalas dengan senyumannya yang lebih lebar dan mengangguk. “Besok aku akan pastikan bahwa ibu Sunbae baik-baik saja. Jadi, Sunbae tidak perlu khawatir lagi.”

Baekhyun diam sambil memandangi A Young. Tangannya lalu terulur, menyentuh punggung tangan kiri A Young sebelum akhirnya menggenggamnya. A Young membulatkan matanya, namun reaksi kaget gadis itu tidak memberikan efek apapun padanya. Baekhyun menenggak salivanya.

“Aku … bisa mengandalkanmu, kan?”

.

.

Hal yang pertama dilihat Baekhyun adalah langit-langit berwarna coklat kayu. Ia mengedipkan matanya sesaat sebelum akhirnya sadar sepenuhnya. Ia bangkit, menggaruk kepalanya sebentar, dan membiarkan rambut hitam legamnya berantakan. Baekhyun menyingkirkan selimutnya lalu bergerak menuju pintu. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mencari air mineral setelah ia bangun dan dapur adalah tujuannya.

Pintu hitam beraksen abu-abu dan putih itu mengayun terbuka saat Baekhyun meraih kenop dan memutarnya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mencium sesuatu yang harusnya tidak ia cium saat bangun. Baunya terasa menyenangkan dan membuatnya menghadap ke depan untuk melihat apa yang dihasilkan dapurnya pagi ini. Tapi, tiba-tiba lelaki bermarga Byun itu terpaku. Di depannya, ia bisa melihat dengan jelas seorang wanita bercelemek tengah melakukan sesuatu pada dapurnya. Ah … maksudnya memasak. Wanita itu mengaduk sesuatu di atas kompor, lalu berjalan sedikit untuk menuju mangkuk yang berisi sesuatu berwarna kemerahan, mencelupkan sesuatu di sana, lalu memasukkannya ke penggorengan. Baekhyun hanya diam mematung tidak melakukan apapun kecuali menatap eksistensi wanita di depannya. Namun, tiba-tiba wanita itu berbalik―hendak menuju konter saat akhirnya matanya bisa menangkap siluet Baekhyun yang hanya diam di depan kamarnya. Senyum wanita itu merekah.

“Selamat pagi, Sunbae,” sapa A Young. “Ah … kau terbangun karena aku?”

“Hah?” tanya Baekhyun sesaat sebelum akhirnya ia berdeham kaku. “Kau sedang apa?”

A Young melihat sekilas ke arah masakannya. “Memasakkan sarapan untukmu,”

“Kenapa?” tanyanya bingung. A Young mengedipkan matanya lalu memiringkan kepalanya, gadis itu tampak bingung. Sebelum gadis itu mengatakan sesuatu, Baekhyun tersadar akan hal yang sempat ia lupakan.

Ia, kan, sudah menikah.

Jadi, bukankah wajar jika gadis itu membuatkan sarapan untuknya?

“Ah … sarapan,” ujar Baekhyun lalu bergerak menuju dapur dan mengintip apa yang gadis itu buat. “Kau buat yangnyeom tongdak dan dakjuk?”

A Young mengangguk. “Kenapa? Sunbae tidak suka?”

Baekhyun menggeleng cepat. “Tidak, aku suka.”

Mendengar itu, A Young tersenyum. Ia lalu bergerak ke konter, mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat. “Sunbae mencari ini, kan?”

Baekhyun menatap gelas yang disodorkan padanya lalu mengambil alih dari tangan A Young. “Kau tahu darimana?”

“Ibu Sunbae pernah bilang kalau Sunbae pasti mencari air hangat ketika bangun tidur,” jawab A Young.

Baekhyun diam sebentar lalu mengangguk sambil tersenyum simpul. “Terima kasih,”

“Ah, Sunbae ganti baju dulu baru kita sarapan, oke?” usul A Young yang ditanggapi dengan anggukan dan langkah Baekhyun kembali ke kamar.

Setelah selesai dengan kegiatan mandinya, lelaki itu bergerak menuju ruang pakaiannya―bermaksud memilih setelan yang akan ia gunakan hari ini. Namun, saat ia masuk, satu setelan lengkap telah menunggunya. Baekhyun mengernyit. Rasanya ia tak melakukan ini semalam. Apa jangan-jangan …. Baekhyun menoleh ke belakang lalu menghela nafas. Pastilah wanita itu yang menyiapkan, bukan? Kapan dia melakukannya? Semalam? Tapi Baekhyun ingat betul bahwa wanita itu sibuk membaca buku hingga jatuh tertidur yang membuat Baekhyun mau tak mau memindahkannya ke tempat tidur. Ah … apa tadi pagi? Wanita itu jelas bangun lebih dulu daripadanya. Bagaimanapun juga, ia tetap takjub bahwa wanita itu tahu selera berpakaiannya.

“Sunbae,”

Baekhyun menoleh ke belakang saat suara bernada lembut itu menyapa rungunya. Kepala wanita itu tersembul dari balik pintu. “Kenapa?”

“Aku menyiapkan setelan yang akan Sunbae pakai hari ini. Tapi aku tidak tahu apakah itu akan cocok denganmu atau tidak.”

Baekhyun menatap dirinya yang sudah memakai semua setelannya kecuali dasi dan jas, lalu tersenyum. “Aku suka, terima kasih.”

Senyum gadis itu merekah. “Benarkah? Ah, syukurlah. Aku akan kembali ke dapur untuk menyiapkan meja.”

“A Young,” panggil Baekhyun, membuat kepala gadis itu yang awalnya menghilang kini kembali menyembul di balik pintu.

“Ya?”

Baekhyun menatap dasi di tangannya lalu mengulurkannya ke arah A Young. “Bisa kau bantu aku?”

A Young menatap bolak-balik antara dasi itu dengan Baekhyun. Selanjutnya, ia mendorong pintu lebih lebar sehingga dirinya bisa masuk, mengambil alih dasi dari tangan Baekhyun, dan sedikit berjinjit untuk mengalungkannya ke leher lelaki itu. Baekhyun memperhatikan wajah A Young ketika dirinya serius mengikatkan dasi untuknya. Kening gadis itu sedikit mengerut dengan tatapannya yang tak lepas dari dasinya yang membuat lelaki itu sedikit menjungkitkan sudut bibirnya. Jujur saja, Baekhyun bisa melakukannya. Kalau tidak, siapa yang akan melakukan untuknya setiap pagi kalau nyatanya satu-satunya eksistensi di apartemennya hanyalah dirinya? Tapi  Baekhyun setidaknya ingin mencoba. Ia memang tidak menyetujui semuanya dari awal, tapi setidaknya ia ingin membalas gadis itu.

“Sudah,” kata A Young sambil membenarkan dasi untuk terakhir kalinya. “Jelek, ya?”

Baekhyun menatap dasi yang sudah terpasang di lehernya. Sedikit miring menurutnya, tapi tidak apa-apa. Ia suka itu. “Bagus, kok. Terima kasih,”

Gadis itu mengangguk semangat. Ia kembali memperhatikan dasi buatannya lalu mendongak menatap Baekhyun. “Sunbae, boleh aku melakukannya setiap hari untukmu?”

Baekhyun diam, menatap gadis dengan tinggi sebahunya itu, gadis yang tengah menatapnya dengan sepasang mata gelap namun jernih miliknya. Lelaki itu mengangguk, sama sekali tak menganggap bahwa itu ide yang buruk.

Melihat Baekhyun menyetujuinya, A Young tersenyum lebar. Ia mundur sedikit dari Baekhyun. “Aku akan siapkan sarapannya,”

Baekhyun menatap punggung gadis itu yang berlari kecil lalu hilang di balik pintu. Ia berbalik, menarik salah satu jam koleksinya dari kotak kaca, dan memakainya. Ia menatap jasnya dan menyadari satu hal. Ia … sudah melakukannya dengan cukup baik, bukan?

.

.

“Sunbae, hati-hati,”

Baekhyun yang tengah membenarkan jam tangan miliknya mengangguk. Ia menatap A Young yang masih menunggui dirinya untuk pergi kerja. Lelaki itu mengerutkan keningnya. “Kau tidak berangkat hari ini?”

“Ah … aku masuk lebih siang hari ini,” A Young menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Sunbae, sudah jam segini. Kau bisa terlambat,”

Baekhyun sebenarnya ingin mengatakan karena dirinya seorang CEO, maka rasanya tidak terlalu masalah jika dirinya terlambat sedikit. Toh, rapat paling pagi hari ini akan dimulai jam 11 nanti. Namun, ia menahan dirinya dan hanya mengangguk sembari melambaikan tangannya. “Oke, oke, aku pergi dulu,”

Baekhyun berbalik, meraih kenop pintu dan memutarnya. Saat pintu itu terbuka, ia berhenti sejenak. Kembali, ia merasa kepalanya penuh dengan hal-hal yang seharusnya tak ia pikirkan, namun malah ia pikirkan. Ia sebenarnya benci akan rasa keraguan yang ia miliki, tapi toh, ia bisa apa?

“Sunbae?”

Suara lembut itu menyadarkannya, membuat dirinya menoleh ke arah A Young yang tengah menatapnya bingung. Baekhyun menghela nafas perlahan lalu memutar langkahnya, menuju gadis yang kelihatan lebih bingung daripada tadi. Lelaki Byun itu meraih bahu A Young lalu mencium kening gadis itu. Ia membiarkan bibirnya berada lebih lama di sana sampai rasa ragu dari dirinya hilang. Setelahnya, Baekhyun mundur selangkah dan ia bisa melihat kedua bola mata indah itu sukses membulat. Lelaki itu berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyum simpul.

“Aku pergi,” pamit Baekhyun.

A Young mengangguk kikuk. “O … oh … hati-hati, Sunbae.”

Baekhyun mengangguk, kembali membuka pintunya dan keluar. Setelah di luar, ia menghela nafas berat. Ia sudah melakukannya, tapi kenapa masih terasa berat? Mengapa perasaannya belum ringan sama sekali? Rasa ini sama seperti pertama kali ia mencium A Young di depan apartemennya. Ia sudah melakukan hal yang menurut hatinya adalah hal yang benar, tapi kenapa―sekali lagi―ia merasa bersalah? Apakah salah jika berusaha memulainya? Salahkah jika ia berusaha menerima takdirnya? Salahkah ia jika membuat perasaan gadis itu melambung?

Baekhyun baru saja hendak melangkahkan kakinya ketika suara teleponnya menginterupsi. Ia berhenti, menarik ponselnya dari saku dan mendapati nama Chanyeol di sana. Setelah menggeser tombol hijau, ia menempelkan ponselnya di telinga. “Ada apa?”

Cepat ke rumah sakit,

Badan Baekhyun menegang. “Ibu kenapa?”

Baekhyun bisa mendengar helaan nafas Chanyeol. “Kau datang saja ke sini,

Panggilan terputus dan sedetik kemudian, Baekhyun memacu langkahnya lebih cepat. Tolong, demi apapun, jangan ibunya.

Jangan.

.

.

“Akan kubunuh kau Park Chanyeol!”

Suara Baekhyun menggelegar di ruangan perawatan VIP itu. Lelaki yang menjadi objek kemarahannya hanya terkekeh. Tatapan Baekhyun lalu teralih ke perempuan yang tengah berbaring sekaligus menahan senyum.

“Ibu tahu hal ini?”

“Tentu saja Ibu tahu,” jawab Chanyeol. “Lihat, kalau tidak kukatakan hal semacam itu, memangnya kau akan datang jika kutelepon?”

“Yak! Tapi bukan begitu juga caranya, bodoh!” Baekhyun beringsut mendekat. “Ke sini kau!”

Chanyeol langsung memepet pada ibunya, memeluk wanita itu yang mulai terkekeh. “Ibu! Dia mau menyerangku!”

“Sudahlah, Baekhyun. Dia hanya ingin bertemu denganmu saja,” lerai ibunya yang membuat Baekhyun makin naik pitam.

“Kenapa ibu malah membelanya?” sesal Baekhyun. “Bagaimana kalau benar terjadi sesuatu pada Ibu?”

“Ibu baik-baik saja, apa kau lihat? Tidak perlu sekhawatir itu, Baek,”

Baekhyun menghela nafasnya. “Tetap saja, kan,” Baekhyun melirik Chanyeol, menghadiahi lelaki bertelinga lebar itu tatapan maut yang hanya dibalas tatapan menantang darinya.

“Kau ingin makan dulu sebelum kerja?” tanya ibunya. “Pergilah dengan Chanyeol―”

“Aku sudah sarapan,” jawab Baekhyun.

Perkataan Baekhyun tadi membuat ibunya dan Chanyeol sukses membelalakkan mata. Mereka berdua tahu pasti kalau lelaki itu selalu melewatkan sarapan, bahkan tak pernah terbiasa dengan sarapan. Sarapan yang pernah lelaki itu makan hanya sebatas roti bakar yang ia buat sendiri jika sedang mood.

“Kau sarapan apa?” tanya Chanyeol bingung.

Yangnyeom tongdak dan dakjuk,” jawab Baekhyun.

“Serius?” tanya Chanyeol kaget. “Kau serius sarapan itu? A Young yang membuatkannya?”

Baekhyun menatap Ibu dan Chanyeol bolak-balik. “Kenapa? Ada yang salah?”

“Wah … perubahan setelah menikah itu memang luar biasa,” ujar Chanyeol.

Baekhyun mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

Ja,” Chanyeol bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Baekhyun dan merangkul saudaranya itu. “Banyak yang ingin kutanyakan padamu. Jadi, bagaimana kalau kita duduk sebentar sebelum kau pergi?”

“Hei, aku banyak kerjaan dan―”

“Tidak ada penolakan. Aku susah payah mengarang alasan supaya kau ke sini, kau tahu?” tanya Chanyeol kesal. “Ibu, aku bawa dia dulu, ya,”

Ibunya mengangguk dan tersenyum penuh arti yang langsung ditanggapi dengan cengiran lebar Chanyeol dan desisan kesal Baekhyun.

Lelaki Park itu menarik Baekhyun ke salah satu bangku kantin yang masih sepi pengunjung. Setelah memastikan saudaranya tidak akan pergi ke manapun, Chanyeol berbalik memesan dua gelas americano dengan dua potong roti. Ia meletakkan pesanannya di meja mereka dan duduk. Chanyeol memandang Baekhyun yang sudah lebih dulu memandangnya.

Chanyeol menarik sudut bibirnya, berusaha tersenyum seperti biasa. “Bagaimana kabarmu?”

“Kau menarikku ke sini hanya ingin basa-basi?” tanya Baekhyun. “Ada apa sebenarnya?”

Chanyeol terkekeh. “Apa tidak boleh aku bertanya kabarmu? Baiklah kalau begitu, bagaimana kabar A Young?”

“Gadis itu baik-baik saja,” jawab Baekhyun.

Alis Chanyeol melejit. “Gadis?”

Baekhyun meraih gelasnya dan membiarkan dirinya menyeruput americano panasnya. “Ada yang salah?”

Chanyeol melipat tangannya dan memincingkan matanya. “Kau belum melakukan apapun padanya?”

Gerakan Baekhyun yang akan menyeruput minumnya untuk yang kedua kali terhenti. Ia melirik Chanyeol yang tengah memandangnya. Lelaki itu menghela nafas dan meletakkan kembali cangkirnya tanpa berniat menyeruputnya lebih lanjut.

“Aku tidak berniat membuat pernikahan kami se-real itu,” jawab Baekhyun. “Kau tahu sendiri bagaimana pandanganku terhadap pernikahan ini, kan?”

“Kau tidak menanyakan hal itu padanya?” tanya Chanyeol.

Baekhyun diam sejenak. “Kurasa itu tak perlu,”

“Byun Baekhyun,” mulai Chanyeol. “Apakah … sedikit sulit bagimu untuk mencintainya?”

Baekhyun menatap Chanyeol. Sesaat, mereka hanya bertukar pandang tanpa ada niatan untuk memulai kembali obrolan―Baekhyun tampak tak berniat menjawab dan Chanyeol tampak tak berniat bertanya kembali. Namun, akhirnya lelaki Byun itu mengalah. Ia mendesah pelan dan menyandarkan punggungnya.

“Sulit,” jawab Baekhyun. “Aku tak bisa melakukannya,”

“Setidaknya cobalah. Buka jarak antara―”

“Aku sudah mencobanya,” potong Baekhyun yang membuat Chanyeol terdiam. “Aku menyuruhnya memakaikanku dasi dan bahkan aku mencium keningnya sebelum pergi. Aku terusan menatap wajahnya selama ia mengikatkanku dasi. Aku bahkan terus memandanginya selama sarapan yang bahkan membuatnya bertanya mengapa aku melakukan itu padanya. Tapi aku tak merasakannya, Chan. Aku malah merasa khawatir. Tidak ada sedikitpun kelegaanku saat aku melakukannya. Maka dari itu aku tak bisa melakukannya.”

Chanyeol diam. Sejujurnya, ia tak tahu ingin mengatakan apa. Saat mendengar Baekhyun telah melakukannya, bagaimana lelaki itu berusaha untuk mencintai A Young, sedikit menyakitinya. Jujur, ia tak menyukai fakta itu. Tapi, hei, apa yang tadi ia usulkan pada saudaranya? Lalu mengapa ia tak rela akan itu?

“Kau tahu pasti bahwa wanita itu pantas untuk kau cintai,” kata Chanyeol setelah sebelumnya suasana di antara mereka hanya diisi suara beberapa orang dan perawat yang lewat.

Baekhyun memejamkan matanya sembari mengangguk. “Aku tahu. Aku tahu itu,”

“Jika kau tahu itu, maka lakukanlah,” suruh Chanyeol yang membuat Baekhyun kembali menatapnya. “Jika sulit, maka hadapi. Ini karena kau masih belum menerimanya. Cobalah, sedikit saja buka dirimu untuknya. Dia mudah untuk dicintai, Baekhyun.”

“Chanyeol, kau tak―”

“Aku paham, Baek,” potong Baekhyun. “Sedikit saja. Kalau kau tak ingin melakukannya untukmu, lakukanlah untuknya. Kalau kau masih belum bisa melihatnya, anggap saja ia orang yang pantas kau beri balas budi. Lakukan … seolah-olah kau merasa berhutang padanya. Oke, aku paham mungkin itu terdengar tidak benar. Tapi itu bisa jadi awal untukmu sendiri.”

Baekhyun diam. Ia mencoba mencerna apa yang Chanyeol katakan. Lelaki Park itu tersenyum simpul.

“Cobalah. Sedikit saja,”

Baekhyun menghela nafas. Sebenarnya ia tak paham terhadap apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Namun lelaki itu mengangguk. “Kucoba … sebisaku.”

Chanyeol terkekeh. “Kau pasti bisa. Konsultasikan saja padaku, oke?”

Baekhyun mendengus lalu kembali menyeruput isi gelasnya. Sementara Chanyeol, lelaki itu memandang Baekhyun. Senyumannya luntur perlahan dan ia beruntung saudaranya itu tak melihatnya. Kalau boleh ia akui, rasanya mulai sekarang ia akan merasa kesulitan memandang lelaki di depannya. Bukan salah Baekhyun juga, toh, lelaki itu mana tahu bahwa istrinya adalah wanita yang masih dicintai Chanyeol. Namun, membayangkan bagaimana Baekhyun berusaha untuk mulai mencintai A Young … ah, Chanyeol tak tahu ingin mengatakan apa. Tapi yang pasti … ia sebenarnya tak menyukai itu. Tapi ia tak bisa melakukan apapun. Ia tak ingin dan tak mampu untuk membenci lelaki ini hanya karena seorang wanita. Mungkin ini saatnya bagi Chanyeol untuk perlahan mundur. Toh, eksistensi dirinya tak akan ada lagi di mata gadis itu, bukan?

Chanyeol kembali mengingat masa SMA nya dulu ketika setiap hari ada gadis yang datang padanya dan menyatakan cinta padanya, namun selalu berakhir dengan penolakan Chanyeol. Jadi, cinta sepihak itu seperti ini rasanya? Dari awal ia memang sadar bahwa A Young memang tak pernah melihatnya. Namun, Chanyeol dengan naifnya tetap berpikir bahwa gadis itu akan berlari ke arahnya karena Baekhyun yang rasanya tak terlalu memikirkan eksistensi gadis itu, bahkan siluetnya pun. Karma itu selalu berlaku, bukan?

Sekarang, Chanyeol hanya bisa berharap bahwa perasaan ini bisa pergi sedikit demi sedikit. Ia sebenarnya tidak rela kalau boleh jujur. Tapi bukankah ini demi kebaikannya juga? Supaya ia bisa sedikit merasa lega? Toh, lagi pula apalagi yang bisa ia lakukan? Bukankah tidak baik jika ia mencintai istri orang lain?

“Aku bisa melakukannya,” gumam Chanyeol.

“Hah? Apa katamu?” ulang Baekhyun.

Chanyeol menggeleng lalu tersenyum sambil menyuapkan rotinya. “Tidak ada. Kau tak mau makan rotinya?”

Baekhyun menghela nafas. “Sudah kubilang kalau aku sudah sarapan,”

Chanyeol mendecakkan lidahnya. “Makanan istri memang lain, ya?”

Baekhyun hanya menatap Chanyeol malas, lalu kembali memilih menenggak minumnya. Melihat saudaranya hanya mengabaikan dirinya, Chanyeol meletakkan semua roti yang masih tersisa di piringnya ke piring Baekhyun yang membuat lelaki itu mendelik kesal. Namun, lelaki bertelinga lebar itu hanya menyunggingkan senyum lebar tak berdosanya yang semakin membuat Baekhyun kesal. Dari apapun di seluruh dunia ini, Chanyeol selalu menganggap Baekhyun lebih berharga dari dirinya. Meskipun mereka tidak punya hubungan darah sama sekali, tapi tak lantas membuat Chanyeol merasa Baekhyun bukanlah siapapun. Walau lelaki itu sering sekali merasa kesal pada dirinya, Chanyeol tak pernah marah atau tersinggung karena ia tahu, saudaranya itu tak akan bisa membencinya. Jadi sekarang, ia meneguhkan dirinya untuk bisa merelakan wanita satu-satunya yang sudah memahat namanya di diri Chanyeol. Tidak apa menurutnya selama saudaranya itu bahagia. Sebab Chanyeol tahu, sudah berapa kesulitan yang Baekhyun tanggung selama hidupnya. Dan sekarang adalah saatnya ia bahagia.

Hei, Byun Baekhyun, suatu saat kau akan sadar betapa beruntungnya kau punya saudara sepertinya.

.

.

To be continue

 

 

 

Shaoxi’s Note

Halo semua, ini pertama kalinya aku menulis di kolom Shaoxi’s note karena ada banyak hal yang ingin aku katakan pada siapapun yang pernah membaca atau singgah di cerita ini. Terima kasih banyak kepada kalian yang sudah sudi membaca cerita ini, sudah sudi membubuhkan jejak kalian di kolom komentar. Kalian tidak tahu betapa itu sungguh berharga bagiku dan aku pasti akan langsung berteriak dan tersenyum ketika notifikasi email dari kalian muncul. Aku juga berterima kasih kepada kalian yang sempat menyemangatiku buat ujian dan masih mengatakan ingin terus menunggunya. Sungguh terima kasih banyak /cry so hard/ Aku tidak tahu apakah ceritaku ini pantas dibaca atau pantas kalian tunggu, tapi sekali lagi, aku berterima kasih banyak. Jeogmal jeongmal neomu neomu kamsahamnidaaaaa JJJ

 

 

 

 

14 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Take You Home (Chapter 7)”

  1. Aku kesel sama baek boleh ga sih please gue ga suka kalo OC teraniayan hatinya tuh ga bisaaaaa hahahaha. Makasih ya author udah update gw nunggu banget lanjutan dr part 6 kemrin. Semoga semangat nulisnya dan cepet update lgi. Hehehe

  2. Hweeee aku bolak balik ngecek baca chapter 6 taunya dah ada chapter 7. Hadu author kamu harus tanggungjawab gue bapeeeer..semoga lancar terus ya buat lanjutin ceritanya

  3. Thats okay..syudah terlatih kok hati ini bersabar..nungguin cb setahun aja sabar kok..apalagi nungguin ujian yg hnya brpa bulan…😂😂😂
    Akhh chan..sinii noona hibur hatimu yg terluka krna cinta spihak chan..nti noona masakin nasgor deh chan..biar srapan mkanan istri jg 😂😂😂
    Fighting!!!!!

  4. Gue ga tau mau komen apa huhuhu serba salah kayak lagu raisa tapi karena gue cewek gue tim anti a ayoung tersakiti pokoknya thor ga mo tau wkwkwkwkw

  5. Thorr..lama banget baru muncul..aq nunggu..my baeky..,senangnya liat dua sodara saling memberi dukungan..semoga tidak ada konflik di keduanya..,baekhyun ayo ” buka hatimuuuu” bukalah sedikit untuk ah young..lanjut thor..semangattt..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s