[EXOFFI FREELANCE] New Life Chapeter 2

picsart_05-08-09-03-20

 

New Life

Evina93 @2018

Chapter / PG 16

Au, drama, friendship, action.

Do Kyungsoo (Exo), Oc.

Chapter 2

 

 

Rasa bersalah selalu menghantuinya, sikapnya berubah 180 derajat. Semenjak keluar dari rumah sakit ia jarang sekali bicara. Seolah membuat dinding pembatas untuk memisahkan dirinya. Ia tidak datang pada acara pemakam Jongdae karena kondisinya, namun setelah keluar ia pun belum berkunjung ke makamnya.

Kedua orang tua Kyungsoo tidak bisa berbuat banyak, ketiga sahabatnya bahkan selalu membujuknya keluar. Namun Kyungsoo tak menghiraukannya. Orang tua Jongdae tidak menyalahkannya, mereka berfikir ini sudah takdir dari tuhan. Mungkin saja Jongdae lebih bahagia disana, walau untuk beberapa saat terkadang mereka kehilangan sosoknya. Bahkan mereka sama khawatirnya dengan orang tua Kyungsoo pada anak itu.

Tok tok

Tak ada tanggapan, akhirnya ibu Kyungsoo masuk kedalam dengan membawa nampan berisi makanan.

“Soo- ya kau harus makan nak” ia meletakan nampan di meja belajar Kyungsoo. Numun sang anak tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Ia masih betah melihat langit dari balkon kamarnya.

Ibunya mendesah pasrah, terkadang ia menyesal dengan sikapnya dulu. Ia dan suaminya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dibanding memperhatikan sang anak. Sehingga ia tidak terlalu mengetahui perkembangan sang anak, sampai suatu hari telponnya berbunyi dan mengabarkan bahwa sang anak masuk rumah sakit dalam keadaan kritis. Nyawanya seakan terangkat beberapa saat ketika mendengar kabar itu.

Dengan perlahan ia menghampiri sang anak dan memegang pundaknya, “Soo-ya”.

Kyungsoo menoleh, mata itu seolah redup tak ada sinar seperti sebelumnya.

“Ibu” ujaranya lemah.

Sang ibu mengelus surai hitam anaknya dengan penuh kasih. “Soo-ya, ayo makan heum?”.

“Aku tak lapar bu” Ibunya menghela nafas, jika begini terus sang buah hati bisa kembali masuk ke ruang rawat inap. “Tapi kau belum mengisi perutmu sedari pagi”.

“Aku tak berselera” ia kembali menatap langit.

“Kyungsoo, jangan menghukum dirimu seperti ini. Semua ini bukan salahmu. Ini semua sudah takdir tuhan, tak ada yang menyalahkanmu. Kau harus bangkit nak, mungkin saja Jongdae di atas sana sedang menggerutu karena tingkahmu ini. Semua bukan salahmu” sang ibu memeluk sayang anaknya dan kembali mengelus surai hitam legamnya.

“Ibu . .” gumamnya dan memeluk ibunya, ia membenamkan wajahnya. Tidak selang lama ibunya merasakan tubuh anaknya bergetar, Kyungsoo menangis tanpa suara.

***

“Apa ia tertidur?” tuan Do bertanya ketika istrinya baru saja keluar kamar anaknya.

“Eum, aku semakin khawatir padanya, tubuhnya semakin kurus, belum lagi ia selalu bermimpi buruk” wajah nyonya Do menjadi murung. “Ini semua salahku jika saja ..”, “Sttt, jangan menyalahkan dirimu. Kita berdua kurang memperhatikan mereka. Tuan Do, memeluk istrinya yang sudah terisak.

“Ibu, Ayah aku datang!, dimana anak itu?” teriak seseorang dari bawah.

Nyonya Do mengerenyit, “Bukankah itu suara Joohyun?”.

Tuan Do mengagguk, mereka turun kebawah. “Ternyata benar kau” ujar sang ayah.

“Ah, hallo ayah, ibu aku pulang. Dimana bocah itu?” setelah memberi salam pada kedua orang tuanya ia menggulung lengan kemejanya berjalan menaiki tangga meninggalkan koper miliknya.

“Adikmu baru saja tidur, sudahlah nanti lagi saja” cegah sang ibu.

“Huh, dia beruntung kali ini. Awas saja nanti” ia bergumam dengan mengepalkan kedua tangannya.

“Kenapa kau tidak mengabari jika akan pulang, ayah bisa menyuruh seseorang menjemputmu” mereka menuruni anak tangga menuju lantai bawah tak ingin membuat keributan dan membangunkan anak bungsunya.

“Ck, merepotkan. Yang penting akau sudah sampai dengan selamat” Joohyun menuju salah satu sofa dan mendudukinya.

“Ya! Anak ini” yang dibentak hanya menunjukan cengirannya. Nyonya Do hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak sulungnya.

“Kau sudah makan?” tanya nyonya Do.

“Wah ibu tau saja jika aku lapar” Ia tersenyum dan menghampiri ibunya di dapur, giliran ayahnya yang menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.

***

Srak srak srak

Seseorang membuka tirai kamar bernuansa hitam itu, membuat cahaya sang surya menembus setiap kaca jendela.

Tubuh yang sedang terbaring merasa terusik.

“Do Kyungsoo bangun atau aku hajar kau!” seorang wanita berdiri di dekat tempat tidur  dengan melipat kedua tangannya didada.

Kyungsoo yang semula terusik dalam tidurnya mendadak tubuhnya tegang, ia mengenali suara ini, tapi tak mungkin halaunya. Karena yang ia tau orang tersebut sedang tidak berada disini. Dari pada dilanda penasaran ia mencoba membuka matanya, menyesuaikan penglihatannya karena ia baru saja terbangun.

“Sial” gumamnya, setelah ia melihat dengan jelas penampakan seorang wanita yang sedang menyeringai ke arahnya.

“Apa kabar adik manisku?” itu Joohyun, kakaknya.

“Untuk apa kau kemari? Keluar!”usir Kyungsoo dengan tatapan tajamnya.

“Ck” Joohyun berjalan kesamping tempat tidur sang adik, dan menarik lengannya tanpa ampun “Yang harusnya keluar itu kau! Sampai kapan kau seperti ini huh!” ia masih menarik adiknya.

“Ya ya! Ibu!” rengek Kyungsoo.

Bugh

Kyungsoo terjatuh dari tempat tidurnya, “Cepat mandi! Temani aku jalan-jalan sudah lama aku tidak pulang”. Kyungsoo baru saja akan membuka mulut, “Tak ada bantahan, cepat atau aku siram kau di tempat ini juga”.

Blam

Tanpa berperasaan Joohyun membantik pintu itu menyisakan adiknya yang sedang menyumpah serpah dirinya.

Setelah keluar dari kamar sang adik ia tersenyum sekilas, “Jika tidak seperti ini kau tak akan mau keluar dari sangkarmu” gumamnya.

“Ada apa? Kenapa Kyungsoo berteriak?” tanya sang ibu yang baru saja menghampirinya.

“Tidak ada apa-apa, ibu tak perlu khawatir. Sebentar lagi anak itu akan keluar”.

“Benarkah?” Ibunya sedikit terkejut.

“Eum, lebih baik ibu memask untukku” Joohyun menggandeng ibunya menjauh.

***

Tuan dan nyonya Do tersenyum cerah ketika melihat anak bungsu mereka keluar dari kamarnya. Kyungsoo menarik salah satu kursi dan duduk di sana.

“Makanlah” sang ibu memberinya sepiring hidangan.

“Aku tak lapar” tolak Kyungsoo.

“Do Kyungsoo makan!” titah Joohyun.

“Ck kau ini bawel sekali” tapi Kyungsoo mengambil sendok dan memasukan sesuap nasi ke mulutnya. Tuan dan nyonya Do semakin tersenyum senang. Anak sulungnya memang bisa diandalkan untuk saat seperti ini.

***

“Wah sudah lama sekali rasanya” Joohyun merentangkan kedua tangannya sambil berjalan.

“Hanya dua tahun bodoh” ujar Kyungsoo.

“Yak!” Joohyun berancang akan memukul adiknya tapi ia urungkan.  “Maksudku, sudah lama bukan kalu tak keluar rumah sebulan? Ah tidak dua bulan bukan?”. Tak ada bantahan.

“Kenapa kita ke pemakaman?” Kyungsoo mengerenyitkan dahi.

“Hanya ingin memberi salam pada salah satu ‘adik’ kesayanganku” jawab Joohyun.

Deg

Kyungsoo tau makam siapa itu dari fotonya. Tubuhnya seolah kaku, rasa ketakutan dan bersalah seakan menembus hatinya kembali.

“Annyeong Dae-ah, maafkan aku tidak datang melihatmu untuk terakhir kali. Dan ah,aku juga membawa Kyungsoo, Soo-ya kemari” panggil Joohyun, namun sang adik tak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Joohyun menarik lengan sang adik dan berakhir di depan makam Jongdae.

“Tidak ingin memberi salam?” tanya Joohyun. Tapi mulut Kyungsoo seakan terkena lem yang susah untuk dibuka. Joohyun menghela nafasnya. Ia menggenggam erat lengan sang adik.

“Dae-ya, terima kasih sudah menjaga Kyungsoo. Kau sudah seperti kakaknya sendiri, terkadang aku iri, kali ini serahkan saja padaku, kau tak perlu khawatir lagi disana. Aku tau dia memang menjengkelkan, aku akan lebih bersabar tenang saja” Joohyun seperti sedang mencurahkan perasaannya.

“Kakak!” akhirnya ia bersuara. Joohyun tertawa. “Tak ingin mengucapkan sesuatu pada Jongdae?”.

Kyungsoo menelan liurnya “Jongdae-ya, maafkan aku, maafkan aku” tanpa diduga liquid bening sudah meluncur dari mata bulatnya.

Joohyun mengelus punggung sang adik.

“Kyungsoo-ya apa itu kau?” mereka menoleh karena ada yang memanggil.

“Ternyata benar kau, akhirnya aku bisa bertemu denganmu juga nak” seorang wanita seumuran ibunya menghampiri mereka.

“Bibi” gumam Kyungsoo. Tanpa diduga wanita itu memeluknya. “Bibi maafkan aku, karena aku Jongdae, Jongdae . .”

“Sttt, itu bukan salahmu nak, mungkin ini sudah takdir yang di atas, bibi dan paman tidak menyalahkanmu, mungkin Jongdae juga akan merasa sedih dan mengomelimu jika seperti ini” wanita itu yang ternyata Ibu Jongdae menghapus air mata Kyungsoo.

“Maafkan aku bi” ujar Kyungsoo. Joohyun tersenyum lembut di samping keduanya.

***

Mereka sedang makan malam bersama. Joohyun menatap mereka bergantian.

“Ayah, ibu, besok aku akan kembali. Aku tak bisa ijin lama-lama” ujar Joohyun.

“Secepat itukah?” tanya sang ayah.

“Eumh, lalu ada yang ingin  ku bicarakan pada kalian” Joohyun berubah serius.

“Apa itu?” kali ini ibunya yang bertanya.

“Aku akan membawa Kyungsoo, ibu dan ayah bisa mengurus perpindahan sekolahnya bukan?” pinta Joohyun.

“Tentu saja, itu hal yang mudah, akan kami urus” ujar sang ayah.

“Yak!, harusnya kau bicara dulu padaku?” ujar Kyungsoo.

“Kau sulit untuk diajak bicara, jadi terima saja tuan Do kecil” Joohyun menyeringai puas.

‘welcome to my sweet life uri dongsaeng’ pikir Joohyun dengan seringainya.

‘I come to hell’ pikir Kyungsoo berteriak dalam hatinya. ‘siapapun tolong aku?’ itulah arti sorotan matanya saat ini.

To be continue

 

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s