[EXOFFI FREELANCE] When I Thought About You

WITAY.jpg

When I Thought
About You

By Damchuu

Oh Sehun x Park Hyojin

| Fluff, Hurt  | Series / PG-15 |

DISCLAIMER:

This story and characters are fictitious. This story and characters are fictitious. Certain long-standing institutions, agencies, and public offices are mentioned, but the characters involved are wholly imaginary. Don’t copy without permission!!

SUMMARY

“Broken things like me are better alone”

-oooOooo-

Sepi kembali menemaninya dalam kedinginan malam. Tangannya melipat di dada sambil sesekali memutar bola mata. Merenung dan menjauh dari keramaian, hal yang selalu dilakukannya ketika kenangan manisnya kembali mengusik. Kenangan manis? Mungkin lebih tepat menyebutnya kenangan menyedihkan dengan seorang gadis.

Sehun kembali mengacak-acak rambutnya frustasi ketika ribuan pertanyaan di otaknya kembali berhamburan. Tentang kenangannya yang tidak pernah sedikit pun bisa dilupakan atau kenapa kenangan itu memilih tinggal dan membuat matanya terus basah oleh air mata. Sehun tidak tahu dan tidak ingin tahu. Mungkin membiarkan ingatan itu menjamur di memorinya akan lebih baik daripada terus mencari cara untuk menghilangkannya seperti orang gila.

Matanya terpejam. Mata yang selalu digunakannya untuk memandangi langit setiap malam itu mulai lelah menghadapi dunia yang kejam. Kadang, perasaannya berkata bahwa ia telah membuat keputusan bodoh atau ia memang orang yang bodoh? Ia menghianati pacarnya sendiri untuk seorang wanita yang bahkan baru sekali ia temui sekali di sebuah nightclub. Tapi akhirnya, wanita itu mencampakkannya untuk seorang laki-laki yang jauh lebih kaya darinya, Sebuah balasan yang setimpal bukan?

Sehun beranjak dari sofa ruang tamunya. Tidak baik membiarkan pikirannya terus berfantasi liar seperti ini. Secangkir kopi panas mungkin akan menghangatkan otaknya yang hampir membeku.

Sebuah jumper melekat di tubuhnya. Mungkin karena ini hari Minggu, banyak sekali pasangan yang berjalan-jalan hari ini. Sehun lalu mempercepat langkahnya, ia benci suasana seperti ini―seolah hanya dirinya yang berjalan tanpa pasangan disini. Dengan tergesa ia memasuki kedai kopi yang ia tuju, kemudian menuju meja pesanan, “Americano satu.

Sepertinya hari ini langit kembali tidak memihaknya. Hujan turun dengan deras di jalanan kota Seoul, membuat siapa pun yang berjalan di bawahnya harus mencari tempat berteduh. Begitu juga Sehun, ia terjebak di kedai kopi ini dengan segelas kopi panasnya. Kedua matanya menatap sendu jalanan. Hanya ada beberapa orang yang menembus hujan dengan payung atau mantel yang dibawanya. Ia terlalu banyak melamun hingga memori kembali menguasai otaknya.

“Kau gila? Bagaimana kita akan pulang di tangah hujan yang selebat ini hanya dengan sebuah jaket?” Hyojin menyeka rambutnya yang terkena air hujan. Ia baru saja pulang dari makan malam dengan Sehun dan hujan turun saat itu juga. Tapi Sehun dengan bodohnya membuat mobilnya ditilang, sehingga kepolisian terpaksa harus mendereknya. Jadi disinilah mereka, berteduh di teras  toko dengan ide konyol dari pacarnya.

“Aku tidak memaksa jika kau ingin ketinggalan drama favoritmu,” bohongnya. Sehun sebenarnya tidak pernah peduli dengan drama-drama bodoh yang memang selalu ditonton oleh Hyojin. Hanya saja mereka sedang tidak punya pilihan lain saat ini, lagipula jarak apartemennya juga tidak teralu jauh dan ia tidak bisa membiarkan Hyojin sakit.

“Bagaimana kalau bajuku basah? Aku kan tidak bawa baju ganti,” rengeknya lagi, tepat ketika mereka akan bersiap-siap untuk berlari.

“Nanti kupinjami bajuku.”

“Bajumu? Yang benar saja Sehun, kau tahu ukuran tubuhmu lebih―” Ucapan Hyojin terhenti ketika salah satu jari Sehun berada diatas bibirnya, seolah mengatakan padanya untuk berhenti bicara.

“Kau terlalu banyak bicara Hyojin-ah. Jadi kau mau ikut denganku atau tetap disini?” ucap Sehun pada akhirnya. Ia mengangkat jaketnya ke atas kepalanya, bersiap menerobos derasnya hujan. Hyojin yang melihat hal itu lalu mendekatkan dirinya pada tubuh Sehun, berlindung di bawah lengan pria itu.

“Awas saja kalau kau memberiku kemeja putih transparan itu.”

“Tenang saja, aku akan memberimu yang lebih seksi dari itu.”

Sehun tertawa mengingat momen-momen tersebut. Namun sedetik kemudian, ia langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi datar seperti biasanya. Sehun memukul-mukul kepalanya pelan, bagaimana ia bisa terhanyut hingga sejauh itu hanya karena hujan?

Setegah jam kemudian, hujan perlahan reda. Sehun pun melangkahkan kakinya keluar dari kedai kopi tersebut.

Jalanan kembali dipenuhi orang-orang yang kembali melaksanakan aktivitasnya. Merasa tidak punya tempat tujuan, Sehun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Tinggal di rumah sangat membosankan, jadi tidak ada salahnya kan ia menjernihkan pikirannya sejenak?

Tanpa terasa, langkah kakinya menuntunnya pada sebuah taman. Sehun terdiam. Didudukkan dirinya di salah satu ayunan. Satu menit … Dua menit … Tiga menit … Hanya keheningan yang dijumpai. Suara deru napasnya yang sedikit tidak teratur seakan menjadi musik pengisi keheningan. Bohong jika Sehun mengatakan lupa dengan apa yang pernah terjadi di sini. Bohong jika Sehun mengatakan ia ingin melupakan apa yang terjadi di sini untuk mengurangi beban di hatinya, karena nyatanya hati kecilnya selalu menampakkan senyum tipisnya ketika ia mengingat hal itu.

“Aku tidak menyukai Hyerim. Harus berapa kali kukatakan padamu?”

Gadis yang menjadi lawan bicaranya itu masih setia memalingkan wajahnya. Oh, ia bukanlah gadis pencemburu yang tidak bisa hidup tanpa melihat pacarnya barang satu detik. Tapi tadi siang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri gadis genit itu tengah memeluk pacarnya sedang senyuman bahagianya, bagaimana ia bisa tidak marah?

“Hyojin-ah.” Sehun kembali merajuk.

“Pergi!” titah Hyojin dingin tanpa menoleh sedikitpun.

Mendengar hal itu Sehun kembali menghela napas pasrah. Sudah ribuan cara ia kerahkan untuk memenangkan hati Hyojin, tapi apa yang didapatnya hanyalah nihil. Hyojin tampaknya sudah terlanjur kecewa padanya, “Hei, liat mataku. Apa kau pikir aku bodoh karena mau merelakan gadis sepertimu hanya untuk seorang Jung Hyerim?”

“Siapa yang tau kau sudah mulai bosan denganku,” ucap Hyojin dengan putus asa. Raut kecewa tergambar di wajahnya. Sehun yang melihat hal itu tak kuasa untuk tidak merengkuh tubuh mungil gadis itu. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Hyojin.

“Mana mungkin aku bosan denganmu?” ucap Sehun setelah beberapa menit mereka terjebak dalam keheningan.

“Mana mungkin aku tahu―” ucapan gadis itu terpotong. Buru-buru ia mendorong tubuh Sehun kemudian menatap langit sembari menengadahkan tangannya, “Salju!” ucapnya girang. Tatapan sendunya seakan hilang begitu saja.

Hyojin memandang Sehun dengan manik yabg menyipit bak bulan sabit karena tertawa, membuat Sehun mau tak mau kembali jatuh ke dalam pesona gadisnya itu. Untuk kedua kalinya Sehun membawa Hyojin yang masih kegirangan ke dalam rengkuhannya. Ia menatap Hyojin dengan hangat kemudian berujar dengan pelan.

“Mau kubuktikan sebesar apa cintaku?”

“Apa?”

Sehun menggantungkan kalimatnya. Ia lalu menempatkan bibirnya di atas bibir Hyojin. Melumatnya dengan sangat lembut tanpa peduli dinginnya salju mampu membekukan mereka kapan saja.

Sehun kembali menepis semua bayangan yang kini memenuhi otaknya. Entah mengapa dadanya terasa begitu sesak mengigat setiap detail kejadian tersebut. Tanpa terasa matanya memanas, seolah siap menjatuhkan bulir-bulir air mata yang pastinya akan sulit dihentikan. Buru-buru Sehun bangun dari posisi duduknya kemudian berjalan pulang secepat mungkin sebelum memori yang lain kembali memenuhi pikirannya.

Sebenarnya ada apa dengan hari ini? Mengapa ia bernostalgia begitu banyak?

Sebuah penyesalan selalu datang di akhir. Pertanyaan seperti apakah kau akan kembali? seakan terasa basi di dirinya. Apa yang dilakukannya selama ini hanyalah menunggu, menungu, dan menunggu. Walaupun ia tahu penantiannya itu hanya akan berujung sia-sia.

Sehun melangkahkan kakinya ke rumahnya yang sepi. Yeah, walaupun sebenarnya dulu tidak sesepi ini. Sembari membiarkan lampu rumahnya padam, ia berjalan mendekati kulkasnya untuk mengambil sebuah botol soju. Didudukkan dirinya pada kursi dapur sembari menegak segelas soju dalam diam.

Ia tidak pernah terhanyut dalam kenangannya hingga sejuh itu. Ini seperti kembali menorehkan luka baru di atas luka lamanya yang belum sembuh benar. Anggap saja hal yang baru dialaminya adalah sebuah mimpi buruk di musim panas, cara paling ampuh ketika kenangan buruknya kembali menghantui.

But all of his dream is a nightmare, and last chance to forget about it just a glass of alcohol.

-END-

I’m back with another story!! XD

Masih Sehun-Hyojin kok (emang OTP sih :v) dan alurnya di sini emang maju mundur, semoga nggak bingung ya pas bacanya (fyi, the word with italic is flashback if you still confused)

Keep in touch with me:
Instagram: Kei.zester
Wattpad: Keizester
Personal Blog: seveneXsion

Regards,
Damchuu

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] When I Thought About You”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s