[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Seventh Page

(IM)PERFECT VER. 3

[ I M P E R F E C T ]

By Damchuu

| Oh Sehun x Park Hyojin |

| School-life, Fluff, Hurt  |

| Series / PG-15 |

| DISCLAIMER: This story and characters are fictitious. Certain long-standing institutions, agencies, and public offices are mentioned, but the characters involved are wholly imaginary. |

Previous: [First Page] [Second Page] [Third Page] [Fourth Page] [Fifth Page] [Sixth Page]

Look from every side she is perfect. Perfect daughter for her parents, perfect student for her teacher. Also. Perfect demon for her nightmare.

-oooOooo-

Sebenarnya aturan main ayahnya cukup mudah.

Ikuti semua perkataannya!

Hanya satu itu! Karena sekali membantah, maka tamatlah riwayatmu!

Contoh paling mudah adalah dirinya sendiri. Hyojin tentu saja ingat pukulan rotan pertamanya. Cukup satu kata yang tergambar di benaknya: Sakit! Ia bahkan masih ingat setiap sentuhan rotan itu. Tapi bodohnya ia senang sekali mengulanginya padahal sudah tahu itu akan sakit sekali. Dan yang kemarin, pukulan kelimanya mungkin?

Haha, itu lucu ketika ia mengingat berapa kali rotan itu sudah mengenai punggungnya. Padahal memorinya yang berharga itu bisa ia gunakan untuk menghafal rumus phytagoras daripada mengingat hal tidak berguna seperti itu.

“Apollo ternyata saudara kembar dari Artemis!” Suara lengkingan Nara itu mengundang lirikan tajam dari orang-orang di perpustakaan, “Dan tunggu! Dia anak Zeus?”

“Diamlah bodoh! Semua orang juga tahu itu!” Hyojin mendesis. Apollo, Artemis, dan Zeus. Oh ayolah, bukankah sudah jadi rahasia umum jika mereka bertiga memiliki hubungan keluarga? Bukannya apa-apa, Hyojin hanya merasa jika kehebohan Nara saat ini tidak ada gunanya.

“Yang kaubilang semua orang itu terkecuali aku.” Bibir Nara mengerucut ketika seseorang di ujung ruangan menyentaknya untuk diam, “Ayo keluar dari sini.”

“Eh, kau sudah selesai membaca?”

“Tentu saja belum, sayangnya seseorang sudah dengan senang hati menghancutkan mood-ku” Nara menutup buku di depannya. Padahal jarang-jarang sekali Nara mau membaca buku setebal itu. Tapi salah sendiri berteriak seperti tadi.

Tanpa banyak bicara Hyojin mengekori Nara yang menyeretnya ke dalam sebuah cafe bernuansa klasik. Beberapa sepeda antik dipajang di pojok ruangan sebagai hiasan, sedangkan meja yang mereka gunakan sekarang pun memiliki hiasan yang cukup sulit untuk sekedar dikerjakan oleh seniman biasa. Nara bilang semua teman-temannya merekomendasikan cafe ini padanya tapi ia belum sempat kemari karena jadwal kuliahnya yang sangat padat.

“Kudengar saham Golden Group sedang turun,” ucap Nara tanpa mengaihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.

Hyojin mengangguk setuju. Ia memang tidak tahu pasti tetek bengek perusahaan keluarganya itu. Tapi ia dengar akhir-akhir ini ada beberapa masalah internal di perusahaan sehingga berakibat fatal pada turunnya saham. Ditambah lagi ayahnya yang seolah hilang ditelan meja kerjanya semakin menguatkan fakta jika kini mereka sedang berada dalam krisis yang cukup serius.

“Sebaiknya kau juga hati-hati. Lawanmu itu benar-benar mengerikan.” Nara bergidik ngeri mengingat bagaimana usaha orang-orang itu memenangkan tender beberapa bulan yang lalu, “Eh, kau tidak melakukan hal aneh akhir-akhir ini kan?”

“Melakukan apa?” Hyojin berkelit. Satu-satunya kesalahannya adalah membiarkan Sehun tahu mengenai luka di punggungnya. Bukan masalah besar kelihatannya, tapi jika dibiarkan tentu saja akan berakibat fatal.

Nara tampak mengendikkan bahunya, “Hanya bertanya.” kemudian kembali larut dalam ponselnya. Tidak berbeda dengan Hyojin yang juga terus mengecek ponselnya setiap tiga puluh detik sekali. Gadis itu tampak gelisah. Ia baru saja mengirimkan pesan kepada seseorang. Dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda orang itu akan membalas pesannya.

Baiklah. Mari buat ini lebih jelas. Hyojin baru saja mengirimkan pesan kepada Sehun untuk mengajaknya bertemu. Tapi laki-laki itu seakan mengabaikan pesannya. Tapi tidak berselang lama sebuah pesan balasan masuk membuat senyumnya merekah tanpa sadar.

From: Oh Sehun
Boleh. Mau bertemu dimana?

To: Oh Sehun
Besok. The Heaven. Pukul 4

Hyojin tersenyum sendiri ketika akhirnya mendapatkan kepastian dari kegelisahannya sejak tadi. Bahkan Nara tidak mampu mengusik rasa senangnya yang entah mengapa terlihat terlalu berlebihan. Barulah sebuah sapaan bernada bass mampu membuatnya menoleh. Rasa kaget dan heran seperti bercampur menjadi satu ketika irisnya tanpa sadar bersinggungan dengan laki-laki di belakangnya.

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Begitu ucapnya diiringi senyum yang seolah tidak mau memudar dari bibirnya.

“Chanyeol… Oppa?”

oOo

Hyojin memandangi jalanan yang basah dengan malas. Tangannya bertopang dagu sembari sesekali melirik jam yang melingkar di tangannya. Menunggu itu membosankan. Karena itu Hyojin benar-benar benci menunggu. Dan apa ini, terhitung sudah tujuh menit berlalu sejak kedatangannya namun Sehun belum juga menampakkan dirinya.

Baru saja Hyojin akan beranjak dari tempat duduknya jika manik matanya tidak dengan cepat menangkap gerakan seseorang masuk ke dalam cafe. Laki-laki itu tampak mengarahkan pandangannya pada seluruh penjuru ruangan, kemudian berhenti tepat pada tempat duduknya.

“Lama menunungguku?” Sehun duduk dihadapannya dengan sisa-sisa air hujan di bajunya.

“7 menit 42 detik lebih tepatnya.” Gadis itu menatap tanpa minat jam tangannya. Sehun memilih untuk mengabaikan sarkasme itu dan membaca buku menu di tangannya.

Hyojin mengambil nafas panjang. Oke, ini berlebihan. Ia tidak sedang dalam prosesi eksekusi mati atau semacamnya, tapi entah mengapa jantungnya berdegup kencang sekali, “Baiklah, aku tahu ini memang sangat tidak penting bagimu, tapi—”

“Apa menu terbaik disini?”

Hyojin kembali memberengut. Bagaimana tidak kesal, laki-laki itu memanggil seorang pelayan ketika Hyojin berada di tengah kalimatnya. Apalagi sekarang ia sedang dalam mode serius.

“Oh Sehun!”

“Kau pesan apa?”

Sekali lagi, sepertinya Hyojin harus ekstra sabar menghadapi sikap Sehun yang double-super-menyebalkan. Lantas dengan nafas berat ia menjawab, “Cafe Latte.

“Kalau begitu aku sama.”

Pria itu lantas menyerahkan buku menu pada pelayan tadi. Senyuman manis yang tercetak di bibirnya membuat Hyojin ingin sekali meninju wajah tampannya. Tidak lama kemudian minuman yang mereka pesan datang.

“Jadi bagaimana?” Sehun membuka percakapan mereka yang sempat tertunda tadi.

“Bukankah itu seharusnya pertanyaanku?”

Sehun mengangkat ketiga jarinya, kemudian menekuknya satu per satu, “Aku tidak tahu apa-apa; aku tidak melihat apa-apa; aku tidak mengatakan apa-apa. Apa itu cukup?”

Hyojin baru akan membuka suaranya, jika Sehun tidak kembali memotong.

“Tapi tentu saja ini tidak gratis.”

“…”

“Masih ingat dengan perjanjian lama kita? Be my fake girlfriend then I’ll keep your secret.

Mendengar hal itu Hyojin lantas berdecih, “Aku tidak tahu kau akan jadi serendah ini hanya karena sebuah taruhan. Tapi apa yang membuatmu berpikir aku melakukan ini hanya karena kau melihat itu?” Hyojin lantas tersenyum—atau lebih tepatnya menyeringai. Hal tersebut lantas membuat Sehun kembali bertanya-tanya apa rencana seperti apa yang sebenarnya dipikirkan oleh gadis di hadapannya ini, “Bagaimanapun tidak ada jaminan jika kau tidak akan membocorkannya. Kalau begitu … berani membuat perjanjian tertulis?”

“Oh ayolah, apa kita harus sampai sejauh ini?”

“Sebenarnya tidak, tapi mau bagaimana lagi aku penganut simbiosis mutualisme. Dan bukankah akan lebih menguntungkan jika kita bekerja sama? Maksudku, Aku akan menjadi pacar palsumu jika kau mau megabulkan satu permintaanku.”

“Apa itu?”

Not much. I just want you to take me to somewhere.

Hening selama beberapa saat. Sehun masih mencerna apa yang dikatakan Hyojin, “Somewhere? So where it is? London? LA?

“Masalah itu akan kupikirkan nanti.” Hyojin memajukan tangannya untuk mengajak berjabat tangan, “Jadi kita deal?”

“Tunggu dulu. Aku masih butuh waktu untuk berpikir.”

“Kau lama.” Hyojin menopang kepalanya, “Sebenarnya apa lagi yang perlu kau pertimbangkan? Kita sudah tampak seperti simbiosis mutualisme.”

“Simbiosis mutualisme apanya? Aku hanya memintamu untuk menjadi pacar palsuku. Tapi kau memintaku untuk menjaga rahasiamu itu dan membawamu ke suatu tempat. Ini berat sebelah namanya.”

“Berat sebelah apanya? Menjadi pacar palsumu itu pekerjaan yang berat tahu. Ditambah lagi fans-fans gilamu itu. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.” Hyojin mengelus bulu kuduknya meremang, “Dan kau, aku hanya memintamu menjaga rahasiaku. Kecuali bagian di mana aku memintamu untuk untuk membawaku pergi ke suatu tempat, kau bahkan tidak perlu membuang tenaga untuk sekedar bicara. Jadi bisa dimengerti kan kenapa ini simbiosis mutualisme?”

Oh sial! Bagaimana gadis ini pintar sekali memainkan kata-katanya? Sehun bahkan sampai kehabisan kata untuk menanggapinya.

“Jadi bagaimana?” Hyojin kembali bertanya, “Deal?

Terdengar suara hembusan nafas berat dari laki-laki di depannya. Dengan ragu Sehun menerima uluran tangan Hyojin, “Deal.” Dan kata-kata Sehun itu berhasil membuat sebuah senyuman terukir di bibir Hyojin.

Memecah suasana, Hyojin menyentuh minumannya yang terabaikan sejak tadi, “Jadi aku harus bagaimana?”

-oooOooo-

Aku mau tanya dong, adakah yg suka Chanyeol nggak di sini? (atau lebih suka Sehun? :v) Kalau ada alasannya apa? Lagi penasaran aku, kali aja bisa buat ngembangin karakternya dia XD

Keep in touch with me:
Instagram: Kei.zester
Wattpad: Keizester
Personal Blog: seveneXsion

Regards,
Damchuu

 

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Seventh Page”

  1. Suka Chanyeol atau lebih suka Sehun? Hmmm~ klo di tanya perasaan sebenernya sih, aku suka mereka berdua plus Kai. wkwkkwk … 😀 #SKY
    Tapi klo di cerita ini, berhubung Sehun yg lebih sering muncul, jd lebih suka Sehun. Kedepannya, kuberharap Chanyeol juga dapat banyak part >//< terutama dgn Hyojin.
    Fighting Chingu -ya !!

  2. Ini kenapa chanyeol muncul nama doang 😂😂 poor poor 😂 kak kei be like: hehh terserah yg bikin lah/😂😅
    Aku suka chanyeol sehun, tapi gk sebesar sukaku ama bang baekhyun/gknanyaoyy/😅 klo nanya baekhyun aku siap kok ngejelasin alasannya wkwk *dilemparbatu. Mf gk bisa bantu kak 😂😂

    1. Aduh, ngakak aku baca komenmu 😂😂

      Wkwk, ceye nitip nama doang. Itupun sebenernya awalnya ga ada, aku seselin 😂

      Wahh, fans Baek yaa 😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s