[EXOFFI FREELANCE] 8 Minutes (Ficlet)

8 Minutes

©2018, Noctur.Na

Ficlet | Romance | T | EXO’s Do Kyungsoo

Disclaimer :

It’s completely my  imagination. I do not own anyone in this story.

———————————————————–

Summary :

Kyungsoo cuma belum melupakan sepenuhnya. Sebenarnya ia juga tidak yakin bisa.

———————————————————–

Detik sebelumnya tangan Kyungsoo masih mantap mendorong pintu kedai, sambil melupakan soal mobilnya yang mogok—yang mau tidak mau membuatnya naik bus dan berjalan sejauh sepuluh meter dari halte—kemudian melangkah masuk sambil merapikan rambutnya yang sedikit basah karena gerimis di luar. Hanya ada segelas kopi hangat di kepalanya sekarang, cukup untuk menjadi alasannya berbelok dulu ke kedai kopi sebelum sampai ke tujuan semestinya.

 

Dan imaji soal kopi hangat itu menghilang entah kemana di detik berikutnya.

 

Kalau saja bukan karena suara ramah si pelayan yang terlanjur menyambutnya di depan pintu, inginnya Kyungsoo memutar tumitnya dan berlari sejauh mungkin saat matanya harus bertemu dengan sepasang manik cokelat yang jauh dari kata asing baginya, yang—entah harus Kyungsoo syukuri atau rutuki—tepat sekali sedang menatap pintu masuk, tepat di mana Kyungsoo berdiri sekarang.

Mungkin karena terusik bunyi bel yang tergantung di pintunya, yang suara nyaringnya sampai ke segala penjuru ruangan.

 

 

Atau, sedang menunggu seseorang, ya?

 

 

Kyungsoo hafal sekali makna tiap tarikan di wajahnya. Yang saat ini memang agak aneh. Bingung, antara harus pasang raut kecewa karena pria yang muncul di balik pintu bukanlah seseorang yang ia tunggu, atau harus pasang wajah terkejut karena yang muncul adalah seorang Do Kyungsoo. Pria yang tahun lalu masih jadi alasan munculnya tujuh puluh persen senyum di wajah perempuan itu.

Sampai di suatu malam yang mendung, Kyungsoo—dengan segala keegoisannya—mengakhiri semuanya. Pikirnya, itu yang terbaik untuk gadis itu. Apa yang bisa diharapkan dari ‘si pekerja serabutan’ Do Kyungsoo?

 

 

Ya Tuhan—Kyungsoo jadi lupa harus pesan kopi.

” Oh, sorry—I’ll take a large hot americano, please. Oh, and a vanilla muffin!”

 

 

Empat menit Kyungsoo harus menunggu pesanannya sambil dihujani tatapan aneh dari  gadis itu. Sedikit tersiksa, dan Kyungsoo rasa ia benar-benar berhutang maaf atas eksistensinya di sini. Mengganggu.

Kyungsoo langsung melangkahkan kakinya ke sudut ruangan saat pesanannya datang, persetan soal degup jantungnya yang  menggila di tiap hentak sepatunya. Dan sekotak muffin vanila mendarat di meja gadis itu tepat di langkah terakhir Kyungsoo.

 

“Wajahmu jelek kalau bengong begitu, makan ini saja supaya ada kerjaan.”

 

Kyungsoo katakan sambil memainkan tali tasnya dengan jari-jarinya. Kebiasaan yang tidak pernah hilang kalau sedang berhadapan dengan gadis itu, dan tentu saja gadis itu menyadarinya.

 

“Kalau rasa Vanila, aku tolak.”

 

Kyungsoo suka dibuat habis pikir oleh jalan pikiran gadis itu. Oh hei, Kyungsoo hafal betul varian muffin kesukaannya.

 

“Akhirnya setelah bertahun-tahun jadi penggila muffin vanila, bosan juga? Sebentar, Aku pesankan yang cokelat ya.”

 

Refleks gadis itu menghentakkan heels-nya dan mendesis pelan karena kelewat gemas. Kyungsoo tahu, ia hanya perlu pura-pura bodoh—mengeluarkan senyum bodohnya, kemudian memutar kaki hendak memesan muffin cokelat—supaya bisa lihat ekspresi gemas itu lagi. Kyungsoo tahu, gadis itu tidak akan bisa menolak muffin vanila.

 

“Ya sudah, aku pergi dulu. Maaf aku mengganggu.”

 

Kyungsoo punya caranya sendiri untuk minta maaf. Maaf karena sampai detik ini Kyungsoo masih tidak mengerti kenapa melupakan gadis itu harus sesulit ini.

Kyungsoo bubuhkan senyum hangat sebelum pergi. Entah momen apa lagi yang bisa mempertemukan Kyungsoo dengan si empunya manik cokelat—kesukaan Kyungsoo.

Kyungsoo bersumpah ia tidak akan mengatakan hal ini, niat Kyungsoo sebenarnya bukan hanya minta maaf. Ada sepasang manik cokelat yang ia rindukan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi ia bisa menatapnya—nyata, bukan lewat foto-foto lama mereka yang masih Kyungsoo simpan—dari jarak sedekat ini?

Tidak ditolak mentah-mentah pun sudah cukup. Apalagi, melihatnya sebahagia ini sekarang. Kyungsoo senang.

 

 

 

Do Kyung Soo Kau benar-benar tega—hanya itu? Untuk yang pertama setelah satu tahun, dan aku cuma boleh melihatmu selama delapan menit?”

Oh Demi Tuhan—jantung Kyungsoo hampir meledak.

 

 

Ragu-ragu Kyungsoo memutar bahunya demi memastikan kalimat itu muncul dari balik bibir tipisnya. Ya Tuhan, kuatkan Kyungsoo—kini ia ditatap instens oleh si sepasang manik cokelat.

Kyungsoo menarik lengan bajunya, pura-pura lihat jam, demi terlihat keren.

 

“Oh ya, kau terlihat menyedihkan sendirian begitu. Lagipula Aku masih punya waktu.”

 

Ucap Kyungsoo sambil mendaratkan tubuhnya di sofa kosong di hadapan gadis itu, dan memposisikan satchel bag-nya supaya nyaman—Kyungsoo tidak bisa memprediksikan akan sepanjang apa konversasi ini.

 

“Okey. Jadi, siapa laki-laki beruntung yang sedang kau tunggu—dengan muka bodoh itu—sekarang?”

 

Kyungsoo harus memastikan satu hal. Perihal peluang untuk kembali, mengingat perkara melupakan harus sesulit itu.

 

—fin.

 

 

 

16 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] 8 Minutes (Ficlet)”

  1. “Mantan terindah” nya kyungsoo..hehehe, mencari2 peluang to membuka kembali pintu si gadis..haha..abaikan thor kata2 saya..si kyungsoo nyesel kayaknya putus..

    1. Mantan terindah 😂 wkwkwkwk
      Emang nyesel dia, ngarep ngarep masih ada peluang 😂

      Makasii yaa udah sempetin baca +ninggalin jejaak 😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s