[EXOFFI FREELANCE] AFTER THEN (Chapter 1)

Title | LET ME IN 2: AFTER THEN

  Author|RHYK/krinvi

Cast|   Byun Baekhyun | Nana Komatsu as Baek Eunha | Bae Irene as Park Aeri

Length|Chapter

Rate | pg 17

Genre|Married-life | Romance | Sad | Friendship |Life |Human

Disclaimer|Cerita ini di publish dalam platform Wattpad (@krinvi)

Autor Note’s|Dilarang keras menyalin, menyimpan sebagai dokumen pribadi bahkan mempublish ulang tulisan yang ada dalam cerita ini!! Budayakan rajin membaca dan tinggalkan isi pikiran abis baca dalam kotak komentar ^^

Quotes|

“Hubungan manusia itu tak pernah jauh dari dua hal melepaskan atau mempertahankan.”

Summary this Chapter|

Kau bahagia, kau tertawa, kau gembira, kau terasa terbang.

Lalu,  Ada luka, ada pilu, rindu dan cemburu.

__

Prolog | Chapter 0.1

-1-

Musim Panas, Juni

“Kau janji padaku untuk tidak mencampuri urusan pekerjaan, tapi bulan madu hanya ke Jeju saja.” Eunha mencibir pada Baekhyun yang masih menggenggam tangannya erat, sementara yang dicibir hanya memaklumi sikap anak muda calon istrinya yang akan menjadi istrinya pada dua hari ke depan.

“Kau mau kita hanya ke Bucheon saja? Baiklah, itu lebih menghemat uangku dan menghemat waktu pula.”tawar Baekhyun yang membuat Eunha makin memanyun ria dan menatap Baekhyun dengan mendelik. “Aku baru sadar bahwa kau pelit sekali, Tuan Byun.” Eunha tertawa renyah, lantas mereka terhenti. Ah, lebih tepatnya Baekhyun yang lebih dulu berhenti melangkah begitu mendapati seorang wanita keluar dari gerbang rumah Miyeon. Eunha yang tadinya menatap Baekhyun menjadi ikut mengalihkan bola matanya menuju apa yang Baekhyun tatap.

Eunha ingin melepas tangannya dari genggaman Baekhyun, namun lelaki itu tak melepaskannya. Justru, lelaki itu malah semakin membawa Eunha ikut serta untuk mendekat pada wanita itu yang menyambut kedatangan Baekhyun dan Eunha dengan senyum cantiknya. Untuk persekian detik, matanya sempat melihat pada tangan kedua insan itu yang tertaut erat. Namun setelahnya, ia menatap wajah kedua insan itu yang sumringahnya mereka tutupi, tapi tetap bagaimana pun juga dia tahu bahwa keduanya sedang berbahagia. Dan, dirinya sendiri turut senang untuk itu. Meski, agak aneh karena dirinya merasakan seperti ada jarum yang menusuk hatinya saat ini. Rasa sakitnya tak hebat, namun tetap terasa.

“Lama tak bertemu kalian, aku kemari untuk menitipkan Yunheo lagi. Tidak apa,kan?”tanya Aeri berharap mendapat sambutan positif dari mereka. Eunha melepaskan genggaman tangannya dari Baekhyun, “T-tidak masalah unni. Itu lebih baik daripada tidak ada yang menjaganya, iyakan ahjussi.

Eunha menyenggol lengan Baekhyun hingga lelaki itu menoleh lalu menatap Aeri lagi. “Itu juga maunya Ibu, aku tidak bisa membantahnya dan aku mendukung keputusannya dan keputusanmu. Tidak baik meninggalkan Yunheo sendirian, dia masih butuh pengawasan dan perhatian dari orang dekat.”

Baekhyun menjawab dengan nada yang membuat Eunha merasa bicara dengan Baekhyun yang dulu. Sebelum menghilang dari pandangannya selama lima tahun. Aeri hanya tersenyum, senyum yang begitu kaku dan miris. “Pasti kalian ingin bicara banyak,kan? Aku tinggal dulu kalau begitu.” Eunha pamit undur diri, namun Baekhyun menariknya kembali untuk berdiri di sisinya. “Bukan Tuan Byun –‘  Aeri terlihat tergesa dengan tutur katanya, “Aku ingin bicara denganmu, Eunha-ssi.”lanjutnya lagi.

Eunha menunjuk dirinya sendiri, dan Baekhyun yang meninggalkan mereka untuk memberi ruang bagi keduanya berbincang. Namun, baru mau membuka pintu masuk rumahnya, Baekhyun menoleh pada kedua wanita yang pernah ia cintai dan yang sedang ia cintai.

“Ibunya Yunheo –‘ Yang dipanggil menoleh, dan yang tidak dipanggil juga ikutan memandang Baekhyun, lalu bergantian menatap Aeri yang dipanggil oleh Baekhyun. Eunha merasa bahwa, sebutan itu hanya untuk membuat perasaannya tak memburuk. Eunha manusia, dan ia wanita ditambah ia sedang jatuh cinta. Jadi, adalah hal wajar baginya untuk merasa cemburu bukan?

“Aku harap kau baik-baik saja, dan jangan khawatir tentang putramu. Banyak orang yang akan menerimanya dengan tangan hangat mereka, ada Eunha, Ibuku dan Aku. Jadi, jalani semuanya dengan tenang.”

Mendengar itu, Aeri tersentuh bahkan mata cantiknya sudah berlinang air mata yang masih ia tahan karena berada di hadapan calon istrinya Baekhyun. Dirinya hanya tersenyum lalu mengangguk, dan setelahnya Baekhyun masuk ke dalam rumah Miyeon hingga hanya menyisakan Aeri dan Eunha saja di luar pekarangan rumah Miyeon.

“Jadi, perlukah kita bicara di tempat lain unni?”

Aeri menggeleng cepat, “Tidak perlu, di sini saja.” Eunha mengangguk sementara Aeri merogoh sesuatu dari dalam tas, “Aku akan menitipkan ini padamu.”katanya seraya memberikan sebuah buku ukuran A5 semacam buku jurnal berwarna biru dan coklat. Namun, yang warna coklat sudah agak usang dan biru yang masih baru. “Apa ini?”

“Aku harap hanya kau yang tahu soal ini,untuk yang buku coklat di dalamnya ada nama pemilik tolong bantu aku untuk kembalikan itu padanya. Dan yang biru, tolong tulis perkembangan Yunheo, ada beberapa catatan khusus tentangnya, aku harap kau bisa membacanya dan beritahu Ibu Miyeon secara lisan saja.” Aeri menjelaskan, “Kenapa Baekhyun ahjussi tidak boleh tahu ini?”

“Karena dia tidak ada hubungannya dengan ini. Dan juga, aku tidak memintamu mengembalikan buku coklat itu ke orangnya secepat mungkin. Tapi, sesempat dan sesiap dirimu saja.”

Eunha memasukkan buku itu ke dalam tas kecil yang ia bawa. Sebenarnya itu tas snap-bag milik Baekhyun namun dia tidak suka memakai pergi dengan tas jika hanya jarak dekat. “Oh begitu, baiklah aku mengerti. Oh ya, boleh aku meminta pendapatmu tentang isi sumpah pernikahan yang akan kami ucapkan lusa?”

Eunha mengambil secarik kertas HVS dari dalam tasnya, dan menyerahkannya pada Aeri. Lantas, Aeri membacanya dan setelah memasang wajah senyum yang muram ada binar bahagia yang terpancar dalam matanya, bahkan garis bibirnya terangkat begitu ia selesai membacanya. “Aku suka dengan isinya, dia benar-benar menginginkanmu untuk bersamanya sampai akhir hayat.”

Eunha terlihat ikut sumringah, seraya menerima kembali kertas itu dan mengembalikannya lagi ke dalam tas. “Benarkah?Menurut unni hal seperti itu tidak kekanakkan bukan?”

“Keseriusan itu dikemas dalam hal kekanakan, aku rasa dia benar-benar memahamimu Eunha-ssi. Dan juga, boleh aku minta satu hal lagi padamu?”

Eunha mengangguk sebagai tanda menyanggupi permintaan Aeri. “Boleh aku memelukmu?”

Eunha tersenyum, lalu memeluk Aeri erat. “Tolong jaga Yunheo,”ucap Aeri, “Pasti unni.”

“Dan juga, tolong berbagialah kau dengannya dan itu perintah sekaligus permintaanku. Aku mendoakan kebaikan untuk pernikahan kalian.”

Eunha melepas peluknya, ia menatap Aeri kecewa. “Apa kau tidak akan datang?”

“Kerja sosialku sudah mulai, dan aku tidak ingin membuat orang lain kecewa dengan kehadiranku di sana. Jadi, tolong jalani isi sumpah pernikahan kalian dengan baik. Mengerti?” Aeri menarik napas, untuk mensterilkan matanya yang sudah memanas. Rasa sesak terus mengerubungi dirinya, tepat setelah membaca isi sumpah pernikahan mantan suaminya.

Isinya begitu mengingatkan akan dirinya yang tidak melakukan semua itu pada saat pernikahannya dengan Baekhyun masih berlaku, di lima tahun silam.

Eunha mengangguk.

“Baiklah, aku harus pergi. Aku akan ketinggalan kereta terakhir jika tidak bergegas.” Aeri menarik koper kecil yang ia bawa. Dan Eunha meneriakan sebuah kalimat begitu punggung Aeri menjauh dari pandangannya.

“Aeri unni! Kau juga harus bahagia sama sepertiku! Harus!”

Namun, Aeri hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi pada Eunha. Dan Eunha masuk ke dalam rumah.

└A F T E R T H E N┘

4 bulan kemudian, Musim Gugur

EUNHA

“Eunha-ssi?”

“Nde!? Tim-jangnim?”

“Kau bisa menggantikan Jooyeon untuk liputan di Gwangju habis makan siang ini?”

Pekerjaan memang tidak pernah tahu diri dengan datang seenaknya dan pergi saat dinantikan.

Aku tersenyum pada Ketua Tim Han Guman yang menawariku siaran lapangan yang mendadak. Anak baru sepertiku memang tidak ada pilihan selain mengiyakan dan menjalankan. “Baiklah, tentu saja dengan senang hati.”jawabku menangguk masih memasang senyum formalitas, jenis senyum yang tidak datang dari hati namun aku merasa senang.

Sambil membawa kertas yang ia lipat menjadi seperti tongkat estafet dia menyungging lega, “Baguslah, Jooyeon tiba-tiba harus operasi usus buntu. Keluarganya yang tadi menghubungiku.”

Aah begitu ya..” Aku hanya mengiyakan lalu mengetikan laporan liputan kemarin yang harus aku serahkan pada pimpinan redaksi hari ini. Sebenarnya, ini bukan jenis kerjaan yang harus aku selesaikan, namun sekali lagi karena aku anak baru jadi aku harus menguasai semuanya termasuk hal-hal sepele seperti fotokopi, menyiapkan rapat dan sebagainya.

“Siapkan dirimu setelah makan siang dan temui Haewoo di parkiran, ada beberapa staf lain di sana. Ini materi liputannya, jangan memulai liputan jika cuaca buruk. Kau mengerti?”pinta Pak Han padaku membuat aku segera berdiri seraya menerima berkas yang tadi ia lipat menjadi buntelan.

“Aku mengerti! Aku akan bekerja keras Pak Han!”

Pak Han menepuk bahuku dari luar kubikelku dan berlalu dari sana. Aku pun kembali duduk lalu membuka lemari kecil yang berada di sisi kaki kananku, mengambil makanan instan dan coklat bar dari sana. Makan siang ke luar atau ke Kantin Kantor tidak akan sempat untukku karena jika Pak Han meminta bersiap setelah makan siang itu artinya dalam waktu kurang dari 30 menit aku harus sudah berada di mobil bersama para staf lain. Itu menyebalkan namun bukan berarti menganggu. Bekerja cepat dan diburu oleh waktu dan atasan yang banyak mau sudah menjadi makananku dalam pekerjaan apalagi sewaktu aku hanya seorang paruh waktu di toko waralaba ataupun restoran dan semacamnya. Hak sebagai pekerja tidak akan ada harganya.

Meski begitu, aku suka dengan cara kerja Pak Han. Beliau juga sering membantuku jika sedang dalam kesulitan akan jangka waktu pengumpulan laporan liputan, dan dia adalah satu-satunya yang tahu bahwa aku sudah menikah.

Diusia yang bisa dikatakan muda jika di negara maju seperti Korea dan Jepang.

Ah, omong-omong soal pekerjaan baruku setelah keluar dari D Magazine adalah kini menjadi salah satu staf reporter lapangan, aku baru dilantik sekitar beberapa bulan yang lalu setelah menyelesaikan masa trainee selama tiga bulan pada musim semi lalu. Dan sekarang masih tahun yang sama dan musim memasuki gugur. Untuk itu Pak Han melarangku untuk memulai liputan jika cuaca buruk.

Setelah menghabiskan coklat bar sebagai gigitan terakhir, aku bangun mengambil beberapa dokumen yang perlu diserahkan kepada pimpinan, mengambil tas ranselku yang mirip pendaki gunung ketimbang orang ingin liputan. Lingkungan kerjaku bisa dibilang lebih bersahabat dibandingkan dengan D Magazine, aku tidak merasa tertekan walau kadang pekerjaan mendadak seperti inilah yang membuatku lebih tertekan karena aku tidak ada persiapan sebelumnya.

Ah, lagi-lagi aku lupa. Omong-omong soal suamiku, aku ingin tertawa sendiri jadinya kalau menyebutnya begitu. SUAMI. Ya Tuhan, apa yang salah dengan diriku? Begitu aku sadar, aku berada di dalam lift di mana ada beberapa staf lain atau staf baru yang masih menjadi trainee menatapku heran. Mungkin aku bagai orang gila untuk mereka.

Aku menunjukkan ponselku sambil menunjuk layarnya. “Aku sedang membaca humor lucu dari suamiku. Maaf jika menganggu kalian.” Aku tersenyum kaku, dan setelahnya mereka tak menghiraukanku. Beberapa orang ada yang keluar dari lift begitu tiba di lantai yang mereka tuju. Yah, mereka juga tidak percaya kalau aku sudah menikah. Aku ingat betul, waktu pesta penyambutan karyawan baru di divisiku, ketika aku bilang bahwa aku sudah menikah tidak ada satu pun dari mereka yang percaya padaku, mereka bilang mustahil bahwa anak kecil sepertiku sudah punya suami. Padahalkan memang benar aku sudah punya. Sampai, Pak Han yaitu Ketua Tim ku yang sekarang juga sama percayanya seperti mereka. Sangat yakin bahwa aku hanya tukang mengkhayal karena kebanyakan minum alkohol. Padahal, menyentuh alkohol barang satu teguk saja dilarang oleh suamiku.

Meski akhirnya Pak Han percaya juga.

Suami, suami. Mungkin ada yang muak mendengarnya. Aku sendiri juga, jadi kita sebut suamiku dengan Baekhyun saja.

Baekhyun adalah suamiku.

Iya, kalian benar. Si Byun Baekhyun itu suamiku sekarang. Pasti kalian tidak percaya juga,kan? Sama denganku, kadang aku bingung harus percaya bahwa Baekhyun itu suamiku nyata atau hanya delusiku saja.

Delusi yang menjadi nyata bisa bukan? Tentu saja bisa. Semua itu tergantung bagaimana pada keputusan Tuhan. Jika kau menyerah, tapi Tuhan bilang tidak maka kau tidak bisa menyerah bukan?

Lupakan sejenak curhatku. Aku mengetuk pintu Ruang Pimpinan. Ada sinyal untuk menyuruhku masuk, jadi aku membuka pintu. Aku tersenyum menyapa Bu Hee. Nama lengkapnya Ji Heera. Namun karena sifat pimpinan yang terkenal dengan temperamen, tegas, berkharisma dan angkuh jadi orang memanggilnya seperti orang bergidik ngeri, Hee (Hiii~). Aku harap, tidak ada yang tertawa ketika aku menjelaskan itu. Namun, Baekhyun tertawa saat itu.

Dia sedang sibuk dengan tanaman hiasnya, nampaknya dia lebih sayang dengan tanaman dan binatang ketimbang mahluk bernyawa yang sama seperti dirinya. Aku mendekat menuju mejanya, “Eunha-ssi?” dia memanggilku. Suaranya saja membuatku gemetar, padahal hasil kerjaku juga belum diperiksa. Sejauh ini, aku belum pernah berurusan dengannya terkait hal negatif yang dapat memengaruhi karirku yang baru seumur jagung ini.

“Kau mau liputan lapangan hari ini?”tanya beliau. Ini basa-basi Baek Eunha, hatiku bermonolog. “Iya Bu, ada apa ya?”

Dia membalikan badan, menatapku dengan tajam di balik lensa minus kacamatanya yang berframe bulat. Bu Hee adalah salah satu wujud wanita karir sesungguhnya yang pernah aku temui. “Kemana?”

“Pak Han bilang Gwangju. Tapi.. ada apa?”

“Kau yakin laporanmu tidak ada perbaikan seperti yang anak magang lakukan? Kenapa kau harus pergi ke lapangan?”

Aku menelan salivaku, “Tentu saja karena beliau adalah atasanku.”

“Lalu aku siapa di sini?”

Buntu. Aku salah menjawab, dia memajukan langkahnya satu langkah. Mengambil dokumen yang baru aku letakan. “Anda adalah atasan Pak Han dan atasanku juga, Bu Ji Hee.”

Aku sudah tak punya waktu lagi untuk mendebatkan peran Bu Hee sekarang, aku harus ke bawah sebelum aku harus menyusul dengan bis dan memakai uangku sendiri. “Aku..”

Dia membuka lagi lembaran berikutnya, matanya menatap kertas seperti sedang men-scan dengan cepat dalam waktu kurang dari lima menit. Setelah itu ia menutup dokumen itu dan melemparnya di meja layaknya bos-bos eksekutif yang tidak menyukai kinerja bawahannya.

Sudut bibir Bu Hee terangkat tipis, aku sampai harus menyipitkan mata hanya untuk melihat itu. “..puas dengan hasil kerjamu.”lanjut Bu Hee membuatku membulatkan mata. Bukan karena pujiannya, namun karena chat yang baru masuk bahwa mobil liputan akan segera berangkat. Aku membungkukkan badan, lalu berbicara masih dalam keadaan yang sama. “Terimakasih atas pujian Anda, Bu Hee. Maaf sebelumnya tapi aku harus bergegas sekarang. Silahkan hubungi aku segera jika Anda ingin mengatakan hal lain. Selamat siang!”

Aku menegapkan badanku kembali, lalu setelah itu langsung berlalu dari hadapan Bu Hee dengan mengambil lari terbirit menuju tangga darurat karena menunggu lift yang masih di lantai 15 terlalu lama.

“Byun Baekhyun, seandainya aku bisa menggunakan kuasamu untukku agar tidak diusik oleh Bu Hee. Segalanya pasti tidak akan sesulit ini.”

Aku menggumam seraya menuruni tangga darurat yang sepi, suaraku tidak berteriak namun menggema dari atas hingga ke bawah atau dari tempatku berada hingga ke atas mungkin. Namun, aku ingat bahwa ini adalah pilihanku dan Baekhyun tidak memaksaku untuk terus bekerja. Bahkan ia pernah menyarankan agar aku sebagai Istri yang menunggu suaminya pulang kerja saja, tanpa harus lelah lari ke sana-kemari mencari berita. Aku juga mau membuat Baekhyun bangga sebagai suamiku dengan hasil kerja kerasku sendiri.

└A F T E R T H E N┘

BAEKHYUN

Aku tersenyum begitu mendengar pendapat seorang rekan seniorku mengenai Eunha –istriku. ISTRI. Kadang memikirkan soal sebutan itu aku merasa lucu sendiri. Aku tidak menyangka akan mempunyai keberanian untuk memiliki sebuah hidup baru bersama orang lain yang bisa mendukungku saat aku benar, mengingatkanku saat salah namun tidak menghakimiku saat aku memiliki kehidupan yang jauh dari kata terang melainkan hanya penuh gemerlapnya dunia di selimuti rasa sepi dan rindu.

            “Aku tidak menyangka bahwa kau akan menikah dengan gadis seperti Eunha, dia seperti memiliki kekuatan tersendiri, dia tidak naif seperti bawahanku yang lain, kinerjanya juga cekatan dan tepat. Terlepas dari dia istrimu, aku menyukainya.”

Heeji sunbae bertutur seperti itu lewat telpon. Dia juga mengatakan bahwa Eunha akan melakukan liputan ke luar kota, aku turut lega karena pemikirannya tentang Eunha tidak buruk, justru Eunha yang nampaknya sudah pesimis sendiri untuk bekerja di bawah sunbae seperti Heeji karena dia bercerita padaku bahwa Heeji orang yang mengerikan untuk seorang pimpinan redaksi.

Ah, aku jadi ingin tertawa sendiri jika ingat cerita Eunha tentang Heeji yang ia panggil dengan sebutan Hee namun karena rapat masih berlangsung, jadi tidak mungkin aku tertawa seperti orang tak waras,kan?

Jadi, setelah merasa tak ada yang perlu dibahas lagi aku berdiri membuat moderator rapat, sekretaris baruku dan jajaran direksi lainnya menghadap padaku yang duduk di kursi tengah. “Aku rasa cukup untuk hari ini, persetejuan lainnya silahkan bicarakan dengan rekanku Namjoon dan sekretarisku. Terimakasih untuk kehadiran kalian.” Aku menundukan kepala sebagai salam hormat pada mereka yang lebih tua dariku dan sebagai rekan kerja lalu berlalu dari Ruang Rapat.

Omong-omong soal Heeji sunbae, aku belum sempat mengatakan pada Eunha bahwa dia adalah rekan seniorku semasa kuliah dulu. Lagipula, aku tahu Eunha ingin meraih impiannya dengan tangannya sendiri tanpa bantuanku. Aku hanya ingin mendukungnya tanpa harus membebaninya dengan reputasi, kekuasaanku dan koneksiku.

Mungkin nanti, aku akan mengejutkannya. Dia bilang padaku begini; “Ahjussi, tidak ada yang percaya padaku kalau kau adalah suamiku. Jangankan soal itu, soal aku sudah menikah saja juga tak ada yang percaya.”

Saat itu ia melipat wajahnya hingga aku hanya memberi tawa renyah, dan menghanduki rambutnya yang masih basah karena keramas. “Tidak perlu orang lain. Aku percaya kalau kau istriku, dan aku suamimu. Bukannya begitu juga sudah cukup?”

Sajang-nim?” Soona melambaikan tangannya di depan wajahku, dia menyengir lebar penuh maklum saat aku menyadari bahwa dari tadi aku menyunggingkan senyum sendiri. “Anda sehat sekali kelihatannya. Apa ada yang Anda perlukan?” dia bertanya dengan nada meledek.

Aku segera memasang ekspresi datar, dan menarik senyum tipis. “Sekretarisku bilang bahwa dia meninggalkan ponsel pribadiku di sini.”

Ponsel pribadiku hanya berisi kontak di luar pekerjaan,rekan dan orang-orang penting. Dan itu tak jauh dari istriku, keluargaku, teman dan juga seseorang yang pernah mendapuk dua status itu, ah ralat. Bahkan ketiganya dia pernah rasakan.

Soona melongok pada bawah mejanya dan menyerahkan ponsel itu padaku, “Anda jadi sering lupa barang setelah menikah,Sajang-nim.”gerutu Soona padaku, aku hanya menaikkan bahu lalu menyimpan ponsel itu di saku celana. “Kebiasaan dua orang yang jadi satu akan saling bertukar dan itu terserap dengan sendirinya entah baik atau buruknya.”

Soona memanyunkan bibir dan mencibir, “Anda terlihat menikmati hidup pernikahan Anda, Sajang-nim.”

Aku hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan meja resepsionis menuju pintu keluar. Aku mengetikan beberapa kalimat untuk Eunha agar menjaga kesehetan dan kembali dengan selamat dengan ponsel pribadiku. Namun, panggilan dari Miyeon –ibuku membuatku berhenti melangkah saat menjawabnya.

“Anakku, bisa kau segera ke Rumah Sakit Han Seoul sekarang?! Dia dalam keadaan darurat!”

Begitu saja, aku segera meluncur untuk menemui Ibuku dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Untuk berkian kali aku dibuat tidak tenang dengan kata Rumah Sakit. Semoga dia baik-baik saja.

Bersambung..

[diketik, 11.58 -25/05/2018]

Hai semua? Mohon maaf lahir bathin yaa

Oh ya, mau kasih tau kalo kemaren itu kenapa THE END? Itu kalo di wattpad  sy jadiin EPILOG LET ME IN. Jadi berubah dong kak? Bukan yang seperti di blog ini?

Iya bukan. Aku ada alasan tersendiri kenapa mengubah EPILOG LMI  ehehehe

Jadi, awalnya kan LET ME IN  itu mau cuman mau diadakan spesial chapter aja.. cuman kalo dipikir kok jadi ada konflik baru (pas aku nulis chapter extra itu) nah akhirnya setelah bertanya pada readers di wp.. mereka setuju dan meminta untuk buat cerita baru aja, dengan judul baru pula.

Jadi.. lagi.. kalo dibilang ini SEASON 2.. yah gak juga tapi iya masih berlanjut dari LMI hahaha okelah terserah mau nyebut ini apa, yang penting kalian gak bingung aja

That’s it! Jangan lupa baca WILL YOU BE THERE ^^

EHC KAPAN DI UP? #GUEyakin ini udah pada banyak nanyain

Kalo sabar: nunggu di web ini aja 😊 kalo gak sabar: buka di wattpad @krinvi thankseeuu

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] AFTER THEN (Chapter 1)”

  1. Q juga taj prcaya baek nikahhh..pgnny dia ttap ‘avalaible’ biar bisa dinikmati brsama huahahahhahhahahaha

    Jadi dsini si unni bkal ttep ada yes?smoga tak jd pelakor yess..huahahahahah

    Fighting!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s