[EXOFFI FREELANCE] ANEMONE – A LITTLE SECRET (A) [PART 7]

ANEMONE - a little secrets (a).jpg

ANEMONE – A Little Secret (A)

Story & Art by DTH9707 (Twitter: @xdth9707 IG: DTH9707)

CAST

You can find at the story

GENRE

Romance, Sad, Hurt

LENGTH

Chapter

Rating

18

This is story pure of my mind. So, please comment for your appreciate. And, typo at everywhere. You can find the same story at my wordpress (Blackangel1004.wordpress.com) and my wattpadd (@DTH9707)

♣♣♣

Ri Chan menghela napas kesal untuk kesekian kalinya. Ia meruntuk terus karena harus terjebak hujan dan kini ia berada di sebuah mini market. Mana ia lupa membawa payung pula. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Hari ini ia ada tugas kelompok yang akan dipresentasikan senin depan. Baru malam ini, tugas kelompoknya selesai. Tadi ia mengerjakannya bersama dengan Cheon Sa. Karena sahabatnya itu satu kelompok dengannya. Seusai dari rumah Cheon Sa, ia mampir terlebih dahulu ke mini market dekat rumahnya

Cuaca yang tidak menentu sehingga Ri Chan tidak mempersiapkan apapun, termasuk payung. Kini ia berada di dalam mini market sambil memandang hujan dari balik jendela kaca besar minimarket tersebut. Satu kantong plastik yang berisikan kebutuhannya berada di atas meja panjang yang tersedia di mini market tersebut. Ia duduk sambil memandang hujan.

Pria jangkung baru saja masuk ke dalam mini market. Pria itu mengambil mie instan dalam cup dan mulai meracik mie instan tersebut. Lalu, berjalan ke arah kasir. Setelah membayar, pria itu duduk di sebelah Ri Chan. Ri Chan yang baru menyadari kehadiran pria tersebut langsung menolehkan kepalanya ke arah pria itu.

“Chanyeol!”

Chanyeol yang masih menunggu mienya matang sambil menikmati hujan turun, menoleh ke arah sumber suara. Mata besarnya melotot saat melihat sosok Ri Chan yang berada di sebelahnya. “Kenapa kau bisa ada disini?” Tanya gadis itu sambil menunjuk ke arah Chanyeol dengan jari telunjuknya. Ri Chan memaperhatikan sepertinya pria itu baru saja pulang dari kantornya, terilhat dari pakaian formal yang dikenakan, tanpa jas. Kemeja abu-abu dengan kancing atasnya yang tidak dikaitkan dan celana kain berwarna hitam. Wajah lelah tidak luput dari wajah tampan pria itu.

“Yaaa aku mau makan mie instan,” jawab Chanyeol dengan nada bingung. Ia bersumpah. Ia tak merencanakan pertemuan ini. “Kau kenapa ada disini? Ini sudah jam berapa?” Sisi Chanyeol yang cerewet tidak bisa ia bendung lagi.

“Aku baru saja pulang dari rumah temanku untuk mengerjakan tugas kelompok,” jelasnya. “Tapi aku mampir kemari untuk membeli beberapa kebutuhanku. Dan, sekarang aku terjebak,” tambahnya lagi sambil memandang malas ke arah hujan.

“Kau sudah makan?” Tanya Chan Yeol.

“Aku sudah maa..”

Ucapan Ri Chan terpotong saat suara perut yang berasal darinya keluar. Chan Yeol mencoba menahan tawanya. “Pasti, kau belum makan!”

“Enak aja kalau ngomong, aku sudah makan!”  Ucap Ri Chan kesal.

“Lalu, kenapa perutmu berbunyi?”

“Sumpah, aku sudah makan tadi!” Ri Chan mengangkat tangan kanannya dan menampilkan jari tengah dan jari telunjuknya. Gadis itu kembali mengingat saat di rumah sahabatnya itu. Ia bahkan menghabiskan porsi paling banyak di antara teman-temannya yang lain. Gadis itu memang dijulukki ‘perut karet’, karena kegemarannya yang suka makan.

“Tapi, aku lapar lagi,” ucap Ri Chan dengan polosnya. “Semua ini karena hujan. Hujan membuat nafsu makanku meningkat!”

Chanyeol tertawa mendengar celotehan gadis yang ada disampingnya. “Iih, jangan menertawaiku!” Kini Ri Chan melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Maaf maaf,” kata Chan Yeol.

“Ini untukmu,” Chanyeol menyodorkan mie cup miliknya. “Aku yang mentraktirmu. Kau bisa menganggap ini sebagai bentuk permintaan maafku.”

Ri Chan melirik sebal ke arah Chan Yeol, tapi tangannya merebut milik pria jangkung tersebut. Chan Yeol kembali menahan tawanya karena tingkah gadis itu tidak sesuai dengan perbuatannya. Chan Yeol pergi mengambil mie cup instan lagi, meracik dan kembali membayarnya. Kemudian, ia duduk kembali di sebelah gadis itu dan juga menyodorkan botol mineral kepada Ri Chan yang diterima oleh gadis itu.

“Kau tidak bawa payung, hm?” Tanya Chan Yeol sambil melirik ke arah kantong belanjaan gadis itu.

“Kalau aku bawa, pasti aku sudah tidak ada di sini. Aku pasti sudah memeluk guling kesayanganku,” ucapnya dengan mulut yang masih mengunyah mie. Bodoh, jika harus menjaga image kepada orang baru. Perutnya lebih penting.

Chan Yeol membuka tutup mie cupnya dan ikut menikmati mienya. “Kau tidak dimarahi orangtuamu?” Tanyanya sambil mengunyah mienya

“Tidak. Orang tuaku bekerja di luar negeri. Aku tinggal sendiri.”

“Cepat habiskan. Nanti aku antar pulang!”

Ri Chab memalingkan wajahnya ke arah Chan Yeol. “Kau tidak mencoba menculikkukan?”

Chan Yeol membalas tatapan gadis cantik yang ada di sebelahnya itu, “Jika aku menculikmu, apa untungnya bagiku? Malah adanya, aku rugi. Karena sepertinya kau suka sekali makan.” Canda pria itu yang langsung saja mendapat tatapan sebal dari Ri Chan.

“Walaupun begitu, aku memiliki ginjal yang sehat dan siap untuk dijual dengan harga mahal.” Pembelaan terhadap dirinya sendiri membuat Chan Yeol terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Semenjak dua hari yang lalu, dimana Chan Yeol memberanikan diri untuk berhadapan dengan Ri Chan dan menyanyikan lagu untuknya, hubungan mereka semakin dekat. Bahkan, hubungan mereka seperti pertemanan yang sudah terjalin lama. Sifat Chan Yeol dan Ri Chan yang sama-sama easy going terhadap semua orang, membuat mereka mudah menjalin pertemanan. Chan Yeol bersyukur. Walaupun ia harus menyimpan perasaannya, tapi ia bisa mengenal dan berdekatan secara langsung walaupun hanya sebatas pertemanan. Ini lebih dari cukup baginya.

“Aku tidak akan berniat buruk padamu. Kalau aku melakukan hal yang tidak baik padamu, Donghae Hyung pasti akan membunuhku,” ucapnya. Chan Yeol sedikit mengetahui jika Dong Hae, sahabatnya itu, menganggap Ri Chan sebagai adik kandungnya. Bisa dibilang melalui Dong Hae-lah, ia mengetahui tentang Ri Chan.

“Apalagi, kekasihmu itu..” tambah Chan Yeol lagi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ri Chan tersenyum hambar saat Chan Yeol menyebut ‘kekasih’, mengingatkan dirinya mengenai Sehun. Kekasihnya yang hilang tanpa kabar dan sebuah noda lipstik di kemeja kekasihnya itu. Noda yang penuh tanda tanya.

Ri Chan mengaduk-adukkan mie cupnya. Rasanya, nafsu makannya tiba-tiba hilang. Chan Yeol yang asyik menghabiskan makanannya, akhirnya sadar perubahan gadis yang ada di sebelahnya itu. “Ayo, cepat makanlah. Kalau tidak, mienya akan mengembang.”

Ri Chan tersenyum kecil dan menuruti perkataan pria yang memiliki kuping lebar itu. “Nanti, aku akan mengantarmu pulang dengan selamat. Percayalah!”

Gadis itu menganggukan kepalanya.

♣♣♣

Jarak antara rumah dengan minimarket sebemarmya tidaklah jauh jika menggunakan kendaraan, tapi lumayan jika harus berjalan kaki. Untung saja, Chan Yeol bertemu dengan Ri Chan. Sehingga gadis itu bisa pulang dengan selamat. Waktu semakin larut malam tentunya bisa menyebabkan kerawanan bagi setiap perempuan yang keluar malam. Hujan sudah tidak terlalu deras tapi masih bisa membuat tubuh basah kuyup.

Ri Chan menyipitkan matanya saat melihat sebuah mobil yang ia kenal terparkir di depan rumahnya. “Yang mana rumahmu?” Tanya Chan Yeol sambil menengok area perumahan.

“Yang itu.. yang ada mobil Lamborghini merah,” jawab Ri Chan sambil menunjuk ke arah mobil mewah tersebut.

“Sepertinya Jong In datang. Mau apa dia datang ke rumah orang malam-malam begini?” Tanya Ri Chan pada dirinya. Chan Yeol menatap sebentar gadis itu. “Jong In?”

“Iya, Jong In. Mungkin kau lebih kenal dengan panggilan Kai.” Chan Yeol menganggukan kepalanya saat Ri Chan menyebutkan nama Kai. Chan Yeol tidak terlalu akrab dengan nama asli Kai. Chan Yeol tahu bagaimana image Kai yang terkenal playboy.

“Dia temanku sejak kecil,” tukas Ri Chan.

Chan Yeol menghentikan mobilnya di belakang mobil Kai. Lalu, ia meraih payung yang berada di bagian tengah mobil jeep mewah miliknya dan memberikannya kepada Ri Chan. “Pakailah, agar kau tidak kehujanan.”

Ri Chan sempat menolak tapi pria itu memaksanya kembali. “Kau bisa menitipkannya ke kafe ku. Karena beberapa hari ini aku tidak akan kesana.”

Sedikit semburat kekecewaan muncul di wajah cantiknya. “Sepertinya aku akan merindukan kopi buatanmu.”

Chan Yeol terkekeh. “Jika kau ingin, kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau.”

“Terima kasih atas tumpangannya, Chan Yeol!” Pria itu membalasnya dengan senyuman lembutnya.

Dari dalam mobil, Kai melihat sebuah mobil yang merupakan keluaran asli dari Korea Selata, KIA Sport GT4, dari balik kaca spionnya. Ia mengernyitkan dahinya saat sosok gadis yang ia kenal keluar dari mobil tersebut. Ri Chan membuka pintu mobil dan segera membuka payungnya. Ia pun keluar dengan payung yang melindunginya dari hujan. Gadis itu sekali lagi mengucapkan kata terima kasih kepada Chan Yeol lagi.

Ri Chan berdiri di sisi jalan. Menunggu, mobil Chan Yeol yang hendak pergi. Kai mengarahkan tatapannya ke arah mobil produk Korea Selatan yang melewati mobilnya. Ia menatap tajam lepergian mobil tersebut. Rasa tak suka terbesit di hatinya. Sepeninggalnya Chan Yeol, gadis itu melangkahkan kakinya ke arah mobil milik Kai. Gadis itu mencoba mengintip dari balik kaca mobil berwarna gelap itu. Tiba-tiba kaca mobil turun dan menampilkan wajah tampan Kai. Ri Chan sedikit terkejut karena ada beberapa bekas memar di wajah Kai.

“Ada apa denganmu, Jong Ini? Kau habis berkelahi dengan siapa? Ayo, masuk ke dalam rumah. Aku akan mengobatimu!”

Ri Chan menarik pintu kemudi agar terbuka. Menaikan kaca mobil sehingga menutup kembali dan menarik Kai keluar. Sebenarnya Ri Chan sedikit agak kewalahan karena ia harus menopang tubuh Kai yang babal belur sambil memegang payunh serta kantong belanjaanya.

Ri Chan menjatuhkan tubuh Kai ke sofa ketika sampai di ruang keluarga. Kemudian meninggalkan Kai yang sedang meringis kesakitan. Pria itu menatap langit-langit atap rumah Ri Chan sambil kembali melayangkan pikirannya kepada kejadian ia berkelahi. Gadis itu kembali dengan membawa baskom yang diisi oleh batu es, handuk tipis dan obat merah. Ri Chan duduk di sebelah kai sambil membungkus batu es dengan handuk yang kemudian mendekatkan kepada luka-luka memar yang ada di wajah Kai.

“Apakah ini perbuatan dari wanita yang kau kencani, huh? Kalo iya, dia sangatlah kuat. Sampai-sampai bisa membuatmu babak belur seperti ini,” sarkasnya. Kai hanya meringis kesakitan.

“Ini bukan perbuatan seorang wanita.”

Gadis itu menatap sebal Kai. “Lalu, wanita mana yang kau rebut dari kekasihnya?” Tanya Ri Chan. Kini Kai menatap gadis disebelahnya dengan tatapan sebal juga. Apa sehina itukah dirinya sehingga Ri Chan selalu berpikiran negatif mengenai dirinya.

Aku ada alasan atas kejadian ini, Chan-ah. Tapi aku tidak bisa memberitahumu karena aku tidak ingin menyakiti perasaanmu, ucap Kai dalam hatinya.

“Enak saja! Kau suka sekali memberikan komentar negatif padaku, Chan-ah. Aku memang brengsek, tapi tidak sebrengsek yang kau pikirkan.”

‘dan tidak sebrengsek kekasihmu,’ tambahnya dalam hati.

“Maaf. Lalu, hal apa yang sampai membuat babak belur seperti ini?” Tanyanya. Kini, Ri Chan meneteskan obat merah ke kapas putih yang kemudian mengobati luka pria itu.

“A-aku hanya mencoba melindungi perasaan wanita yang sedang diselingkuhi kekasihnya saat di club tadi. Pria itu terpergok oleh kekasihnya sedang bersama selingkuhannya di club. Aku melindungi wanita itu karena kekasihnya berlaku kasar. Sehingga, aku memukulnya dan akhirnya terlibat baku hantam dengan pria itu,” jelas Kai. Pria itu berbohong.

“AAAUUWW!! SAKIT SHIN RI CHAN!!” Teriak Kai. Sepertinya Ri Chan terlalu menekan kapas dengan kuatnya pada luka Kai. Ri Chan yang terbawa emosi dengan cerita karangan Kai sehingga tanpa sadar terlalu menekan luka Kai.

“Maafkan aku, Jong In. Aku terbawa emosi saat kau bercerita tadi. Sungguh, aku minta maaf!” Ucap Ri Chan menyesal.

“Tidak apa-apa.”

Tanpa disadari, Kai menatap wajah cantik gadis yang sedang mengobati lukanya. Ri Chan yang sangat berhati-hati dalam mengobati Kai, agar pria itu tidak merasa sakit. Walaupun masih terdengar beberapa rintihan yang lolos dari bibir seksi pria berkulit tan itu. “Apakah kau berhasil memberikan pelajaran bagi pria yang menyelingkuhi kekasihnya itu?” Tanyanya.

“Aku belum puas menghajarnya!”

Ri Chan menghentikan aktivitasnya sebentar lalu menatap Kai, namun gadis itu kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu mengobati luka Kai. “Kalau misalkan aku yang berada di situasi tersebut. Jika, sahabatmu, Sehun, berani bermain api dibelakangku. Apa yang akan kau lakukan?”

DEG

Rasa tertohok sempat ia rasakan. Seperti, jantungnya akan copot dari tempatnya saat pertanyaan itu keluar dari bibir kecil milik Ri Chan. Kai menatapnya lekat, “Kenapa kau menanyakan hal itu? Apakah Sehun menyelingkuhimu?” Tanya Kai. Pria itu ber-akting seolah tidak tahu apa-apa. Namun dalam hatinya, ia mengetahui sesuatu rahasia. Rahasia yang menyakitkan.

“Tidak. Aku hanya bertanya saja,” ucap Ri Chan.

I kill him.

Ri Chan kembali menatap Kai lagi. Kai dapat melihat kedua mata yang menurutnya indah itu sedang menahan air matanya.

“Apa benar kau akan melakukannya?” Tanyanya meremehkan.

“Aku serius akan melakukannya.”

“Kenapa?” Tanyanya lagi.

“Karena aku akan melakukan apapun demi gadis yang aku cintai. Jika ada yang melukainya, membunuh pun, akan aku lakukan.”

Tubuh Ri Chan terasa kaku. Kini, Kai dan Ri Chan saling menatap satu sama lain seakan tatapan mereka saling terkunci. Seperti waktu sedang dihentikan, itulah yang mereka rasakan. Ri Chan memutuskan kontak matanya. “Selesai,” ucapnya mengisi kecanggungan diantara mereka sambil membersihkan kotak P3K-nya.

“Ini sudah malam. Kau bisa tidur disini. Dikamarku. Aku akan tidur di kamar orang tuaku,” ucap Ri Chan sambil beranjak dari sofanya. Saat Ri Chan menaikki anak tangganya, “Maafkan aku, Ri Chan..” Kai kembali berbicara yang membuat langkahnya terhenti. “Tapi, aku serius dengan perkataanku yang tadi. Maafkan aku, jika itu membuatmu canggung. Lupakan pengakuanku yang tadi karena aku tak ingin membuat hubungan kita menjadi canggung dan kau pergi meninggalkanku.”

Ri Chan menoleh ke arah Kai yang masih duduk di atas sofa. “Baiklah, aku tak akan meninggalkanmu.” Kai menatap gadis yang juga menatap kearahnya.

“Selamat  malam, Jong In.”

“Selamat malam,” balasnya sambil meratapi kepergian Ri Chan.

Kai mengusap wajahnya kasar. Ia mengutuk mulutnya yang meloloskan perasaan yang sebenarnya terhadap Ri Chan. Kenapa ia bisa sebodoh ini? Bagaimana hubungannya dengan Ri Chan setelah gadis itu tahu perasaan sebenarnya? Kini perasaan takut mulai menjalar di hati Kai. Ia takut jika Ri Chan akan meninggalkannya. Pengecut? Memang. Pengecut yang tidak berani mengungkapkan hatinya karena takut ditinggalkan.

TO BE CONTINUED

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] ANEMONE – A LITTLE SECRET (A) [PART 7]”

  1. Pengen segera kebongkar lah perselingkuhan Sehun, aku pengennya Ri Chan sama Jongin aja 🙂 Aku baca cerita ini tiap chapter tapi di sebagian chapter komentarku kok gk ada ya?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s