[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 18)

Poster Secret Wife Season 2 '''

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 18

(Feeling For You)

Aku merasa kau akan datang, sehingga aku terus menunggumu

Kalau aku menangis, aku mungkin tak bisa melihatmu

Soah membereskan pakaian yang berserakah di lantai kamarnya. Ini adalah ulah suaminya yang membuangnya sembarangan. Mengingat kejadian semalam membuat jantungnya kembali berdetak keras. Kupu-kupu juga seolah menggelitik perutnya. Seulas senyum juga tersungging melihat wajah damai suaminya yang masih terpejam.

Setelah meletakkannya ke dalam keranjang, dia berjalan menuju jendela. Menyibak gorden kamarnya. Matahari sudah nampak tinggi. Dia memang sedikit kesiangan tadi. Pandangannya ia alihkan pada jam dinding kamarnya. Masih ada waktu sebelum jadwal Sang Suami. Dia berencana membuat sarapan terlebih dulu, baru kemudian membangunkannya.

Masih dengan senyum mengembang, Soah menuju dapur. Membuka isi kulkasnya. Dia baru ingat jika persediaan makanannya sudah habis. Jika dia berbelanja terlebih dulu, tak akan sempat. Pria itu pasti tak akan mendapat jatah sarapan darinya. Dia memutar otak untuk membuat hidangan dari bahan yang masih tersisa. Dia terfikirkan satu menu. Menu yang hampir tak pernah dibuatnya.

Dia merogoh kantung roknya. Mengambil ponsel dari sana. Membuka laman internet untuk mencari resep hidangan yang sedang difikirkannya. Dia mengangguk paham membacanya. Nasi goreng kimchi menjadi pilihannya. Setelahnya, dia mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Nasi, kimchi, daun bawang, kecap manis, bawang bombai, telur, bawang putih, minyak wijen, minyak sayur, merica dan garam. Karena tidak ada daging, dia meninggalkan bahan tersebut.

Dia memulai dengan memotong kimchi menjadi lebih kecil. Memotong dadu bawang bombai. Mengiris tipis daun bawang dan mencincang halus bawang putih. Mengambil wajan, lalu memanaskannya. Menuangkan minyak sayur adalah langkah selanjutnya.

Bawang bombai dan bawang putih ditumis terlebih dahulu. Setelah harum dia memasukan kimchi. Mengaduknya dengan rata. Sekitar lima menit kemudian, dia menambahkan daun bawang. Melihat daun bawang yang sudah sedikit layu, Soah mematikan kompornya. Memasukkan nasi dan mengaduknya rata. Ditambahkan minyak wijen dan kecap manis sebelum menyalakan kompor kembali.

Langkah akhir, dia menambahkan garam dan merica bubuk. Mencicipinya sedikit sebelum diangkat. Menyajikannya dalam piring. Sebagai pelengkap dia menggoreng telur mata sapi. Setuhan akhir, meletakkan telur di atas nasi dan menaburkan irisan daun bawang yang masih ia sisakan sedikit. Benar-benar terlihat lezat.

Sempurna merupakan ungkapan yang tepat untuk hasil pekerjaannya. Makanan hasil masakannya sudah ia tata rapi di meja. Tinggal memanggil prianya. Setelah melepas apronnya dia bermaksud pergi, namun pria itu sudah lebih dulu datang dengan wajah segarnya. Sangat ketara jika dia baru selesai mandi.

Morning,” sapa Soah. “Sarapannya sudah siap.”

Pria itu terheran dengan apa yang tersaji di meja. Baru kali ini hanya satu menu yang ada di meja makan. Itupun menu yang tak pernah dibuat istrinya. “Nasi goreng kimchi,” ucapnya mengenali nama masakan tersebut.

“Emmh. Maaf, aku kehabisan bahan makanan. Hanya ini yang tersisa untuk dimasak. Aku akan belanja setelah ini,” jelas Soah sambil tersenyum tak enak. Dia merasa sedikit bersalah tentang hal itu.

“Tak apa. Ini juga sudah mengenyangkan,” tutur pria itu. Dia mendudukan dirinya kemudian. “Selamat makan,” ucapnya kembali dengan cukup lantang. Dia mulai mengambil sendok dan menyuapkan makanan.

Soah dibuat senang olehnya. Dia ikut duduk dan makan. “Bagaimana rasanya. Aku baru pertama kali membuatnya?” tanyanya terdengar ragu. Dia takut jika rasa masakannya tak enak di lidah pria itu.

Pria itu menghentikan kunyahannya. Menatap dalam mata istrinya. “Apa yang tidak bisa kau lakukan? Kenapa setiap kali kau melakukan sesuatu, selalu berhasil.”

Soah mengangkat alisnya tak paham. “Apa maksudmu?”

Dia mengacungkan ibu jarinya. “Ini sangat lezat,” ujarnya kemudian. “Jadi, apa yang tak bisa dilakukan oleh istriku,” ucapnya lagi setelah menelah makanannya.

“Tidak ada. Bahkan jika aku belum pernah melakukannya, hanya dengan sedikit belajar aku pasti bisa melakukannya,” jawab Soah penuh percaya diri. Dia juga mengedipkan nakal kelopak matanya. Senyum aneh juga terpampang di wajah cantiknya.

“Dasar.” Pria itu mengacak pelan rambut istrinya. Juga ikut tersenyum setelahnya.

-o0o-

“Kau tak pernah menggunakan kartu kredit yang aku berikan,” ucap Chanyeol setelah memeriksa ponselnya. Pria itu memang sudah memberikan fasilitas hidup berupa kartu kredit di awal-awal pernikahan mereka.

“Belum,” jawab Soah yang sudah meletakkan kembali botol parfumnya. Dia sudah rapi dengan penampilannya. Hari ini dia ada meeting penting untuk proyek barunya. Dia berbalik dan mendapati tatapan tajam suaminya.

“Kenapa? Aku tahu, penghasilanku mungkin tak sebanyak dirimu. Tapi, bagaimanapun juga aku ini suamimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk memberikanmu nafkah.” Hanya itu kalimat yang dapat direkam Soah. Pria itu masih berucap panjang, namun dia sela dengan memberikan kecupan singkat di bibir. Pria itu seketika terdiam. Mengedipkan matanya beberapa kali. Sepertinya dia masih belum paham dengan apa yang istrinya baru saja lakukan. Dia menatap tajam setelahnya.

Soah hanya memberikan senyum manis. Sebenarnya dia tak memiliki alasan pasti mengapa dia tak menggunakan kartu kredit yang pria itu berikan. Karena itu, dia memilih membuat pria itu diam. Merasa masih mendapat tatapan tajam dari suaminya, dia kembali mengecup singkat bibir suaminya. “Saranghae oppa,” ucap Soah kemudian masih dengan senyum manisnya.

Pria itu benar-benar dibuat frustasi oleh Soah. Dia ingin marah tapi tak bisa. Sikap istrinya barusan benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Dia bahkan membuang muka saking gemasnya. Dia ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya, tapi bingung harus berbuat apa? Yang bisa dilakukannya hanyalah mengusap pelan surai panjang istrinya dengan kedua tangannya. Kecupan di dahi juga ia berikan. “Kenapa aku tak bisa marah padamu?” tuturnya kemudian.

Soah mengulurkan tangannya. Memeluk erat pria itu. “Karena itu, berhentilah membahas itu. Aku pasti akan menggunakannya, tapi nanti. Bukankah kita harus berhemat. Kau bilang kau ingin punya anak kan.” Kepalanya sudah ia sandarkan di dada suaminya.

Pria itu mendesah. Dia dibuat kagum dengan pemikiran istrinya. Gadis itu bahkan sudah berfikir jauh ke depan. “Aku tahu. Tapi memang aku memberikannya khusus untukmu. Jika untuk kebutuhan anak kita nanti, aku sudah mempersiapkannya. Kau tidak perlu khawatir.” Usapan lembut pada rambut istrinya juga dia berikan.

Gomawo.” Lagi senyum manis itu masih menghiasi wajah cantik Soah.

“Emmmh,” jawab pria itu dengan anggukan. “Kau bilang ada meeting kan. Kau belum mau berangkat.”

Soah melepas pelukannya. Mengangguk kemudian. “Aku berangkat dulu,” tuturnya setelah mengambil tas dan ponselnya. Saat akan melangkah tangannya ditahan pria itu. “Ada apa?”

“Aku antar ya!” tawar pria itu.

“Kau yakin. Bagaimana jika…” Belum sempat Soah menyelesaikan kalimatnya pria itu sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan kecupan ringan. Sama dengan apa yang dilakukannya tadi.

“Tidak ada penolakan. Tunggu di sini, aku ambil jaket dulu.” Pria itu segera berlalu, memasuki walk in closetnya.

Soah hanya mendengus kesal. Pria itu memang kadang suka seenaknya. Dia merogoh tasnya mendengar deringan ponselnya. Sekretarisnya menghubunginya. “Yeobseyo, ada apa Sekretaris Min?” jawabnya memulai pembicaraan.

“Aku mengerti. Aku memang sudah mau berangkat, sampai bertemu di kantor.” Itu adalah kalimat penutup yang Soah katakan. Dia baru sadar jika suaminya tengah memperhatikan tingkahnya. Pria itu sudah terlihat rapi dengan penampilannya.

“Ayo,” ajak pria itu sambil mengulurkan tanannya.

Soah menerima uluran tangannya. Menggandengnya erat menuju tempat di mana mobil mereka terparkir.

“Aku mungkin tak akan pulang untuk beberapa hari ke depan,” ucap Chanyeol memulai pembicaraan. Pandangannya kembali fokus pada jalan.

Soah yang terlihat sibuk dengan tabletnya menoleh. Tersenyum dan mengangguk. “Aku mengerti,” ucapnya kemudian.

“Kita sudah sampai,” tutur Chanyeol yang melihat istrinya kembali fokus pada tabletnya. Dia sudah mematikan mesin mobilnya.

Soah memeriksa keadaan sekitarnya. Memang benar yang dikatakan suaminya. Dia tak pernah sadar jika perjalannya akan terasa singkat. Mungkin efek dari sibuknya memeriksa laporan yang ada di e-mailnya. “Terimakasih sudah mengantarku, oppa. Aku masuk dulu.” Soah memberikan kecupan singkat di pipi Chanyeol.

“Jangan pulang sendiri. Mintalah Aera untuk mengantarmu.”

Soah mengangguk. Dia melambaikan tangan setelah menutup pintu. Masih betah memandang mobil itu yang mulai berjalan menjauh.

-o0o-

“Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol. Dia duduk di tepi ranjang Sehun. Tangannya terulur menyentuh kening pria albino yang tengah berbaring. Suhu cukup panas masih dapat dirasakannya.

Sudah hampir lima hari pria berkulit paling putih itu berbaring. Setelah sebelumnya pingsan sehabis konser. Para rekannya ingin membawanya ke rumah sakit, namun pria itu begitu keras kepala dan berkata hanya ingin tinggal di dorm. Dan inilah akibatnya, demamnya tak kunjung reda. Setiap hari semakin terasa panas. Juga disertai hadirnya batuk dan pilek. Padahal ini adalah musim panas.

“Kau bukan hanya sakit karena kelelahan kan?” Lagi, Chanyeol membuka suara. Di kamar itu memang hanya ada dia dan Sehun. Yang lain sedang sibuk di luar kamar.

“Maksud hyung?” Suara Sehun terdengar serak dan cukup lirih, namun pria jakung itu masih bisa mendengar.

“Jika hanya kelelahan, sehari istirahat biasanya kau sudah sembuh. Ini sudah hampir lima hari dan keadaanmu masih tak berubah. Justru bertambah parah. Kenapa? Kau punya masalah?” Chanyeol masih setia memberikan pertanyaan.

Sehun hanya menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya kelelahan,” jawab Sehun masih dengan suara lirihnya.

“Jangan bohong. Aku bisa membacanya.”

Sehun hanya memberikan tatapan datarnya. Ucapan Chanyeol memang ada benarnya, hanya saja dia enggan mengakuinya.

“Kau bertengkar dengan Kim daepyo?” Chanyeol sepertinya belum menyerah memberikan pertanyaan pada pria yang tengah berbaring itu.

Sehun membulatkan matanya. Dia cukup terkejut bagaimana pria yang tengah duduk di sampingnya bisa tahu. Dia juga memberikan tatapan aneh. Namun mengangguk kemudian.

“Jadi benar! Padahal aku hanya asal menebak.” Bohong saat dia mengatakan jika dia asal menebak. Dia tahu apa yang menimpa hubungan persahabatan rekan dan istrinya tersebut. Tapi dia memilih tak memberitahu. Memang belum ada yang tahu hubungan barunya dengan Soah. Mungkin Baekhyun, tapi pria itu juga terlihat ragu karena dia bisa memberikan seribu alasan tiap pria bermarga Byun itu membahasnya.

“Aku tak tahu kenapa kalian bertengkar. Segera berbaikanlah. Minta maaf jika memang kau salah. Kau banyak berubah setelah kembali bertemu dengannya,” lanjut Chanyeol.

Sehun mengangguk. “Terimakasih hyung,” tuturnya masih dengan nada yang lirih. Khas orang sakit.

“Istirahatlah lagi. Jangan banyak pikiran jika memang ingin sembuh. Kau sudah minum obatmu?”

Sehun mengangguk.

“Aku keluar dulu,” pamit Chanyeol.

-o0o-

Dengan langkah tak bersemangatnya Soah menuju apartemennya. Wajah lelah terlihat jelas. Matanya dipejamkan sebentar sebari menunggu pintu lift terbuka. Kepalanya juga ia sandarkan pada dinding. Untung saja hanya ada dia di dalam lift tersebut, jadi dia tak perlu malu dengan penilaian orang.

Setekah pintu lift terbuka, dia kembali berjalan tak bersemangat. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini. Belum lagi tour ke perusahaan lain untuk meeting dengan para klien. Benar-benar menguras tenaganya. Dan lagi pria yang sudah berstatus sebagai suaminya tak memberinya kabar berhari-hari. Pesan yang dikirimkannya tak dibalas. Telfon yang dilakukannya juga diabaikan. Membuatnya semakin pusing.

Tangannya menutup mulut karena menguap. Dia sudah mengantuk. Secepatnya dia harus menuju kamar untuk bertemu bantal dan selimutnya. Dengan tergesa dia menekan password apartemennya. Membuang sembarang heelsnya sebelum memakai sandal rumahannya. Tanpa menyalakan saklar lampu, dia bergegas menuju kamarnya.

Matanya sudah sedikit terpejam. Tangannya terulur meraba dinding. Dia sudah hafal dimana letak saklar lampu kamarnya. Dengan cepat pula dia menekannya. Seketika matanya terbuka lebar. Dia tersadar karena seorang pria tengah tersenyum manis padanya.

Surprise,” ucap priaa itu masih dengan senyum manis. Di tangannya memegang kue yang di atasnya terdapat lilin bertuliskan angka satu sebanyak tiga buah.

Soah menatapnya heran. Ini bukan ulang tahunnya, juga bukan ulang tahun pria itu. Lalu untuk apa kue tersebut? Di sela kebingungannya, pria itu sudah menariknya untuk duduk di sofa kamarnya.

Happy anniversary, sayang,” ujar pria itu setelah menyalakan lilin.

Anniversary?” ulang Soah sambil mengangkat alisnya.

“Emmh,” jawab pria itu disertai anggukan. “Yang ke seratus sebelas hari.”

Soah tertawa. “Bukankah biasanya yang ke seratus. Kenapa ini yang ke seratus sebelas?”

“Seharusnya begitu. Tapi kau tahukan jika aku masih ada promosi album waktu itu,” tutur pria itu lagi.

“Iya sih,” jawab Soah membenarkan.

“Tiup lilinnya dulu. Jangan lupa buat permohonan.”

Soah termenung. Dia memang sedang membuat permohonan. Entah apa? Dia mengatakannya dalam hati. Matanya kembali ia buka. Setelah mendapat anggukan dari suaminya, dia meniup lilin tersebut. “Terimakasih.” Tangannya terulur memeluk pinggang suaminya. Menghirum aroma tubuh prianya yang selama ini dirindukannya. Hal itu bisa membuang rasa lelahnya.

“Sama-sama sayang.” Pria itu membalasnya dengan memberikan usapan lembut di surai panjang istrinya. “Jadi apa permohonanmu?”

“Rahasia. Nanti tak akan terkabul jika aku memberitahukannya padamu,” Soah melepaskan pelukannya dan menatap tajam pria itu. “Lalu apa yang kau minta?”

Pria itu mendekatkan wajahnya. Mengecup singkat bibir istrinya. “Aku harap kau cepat hamil,” ucapnya kemudian.

“Bagaimana bisa cepat hamil jika kita jarang melakukannya,” tutur Soah lirih sambil membuang muka. Cukup lirih karena pria itu tak bisa mendengarnya dengan jelas.

“Kau bilang apa?”

“Bukan apa-apa? Aku akan memotong kuenya.” Dengan cepat tangannya mengambil pisau. Dia benar-benar memotong kue tersebut. Meletakan potongan kecil pada piring kecil yang ada di meja. “Ini tidak ada kacangnya kan?” tanyanya sambil memberikan piring itu pada suaminya.

“Tentu tidak, kau kan alergi kacang.”

Soah menyuapkan kuenya. “Mashita,” ucapnya di sela-sela kunyahannya. Dia makan dengan lahap. Tak heran jika di sekitar mulutnya terdapat mayones.

Pria itu menarik wajah Soah. Mendekatkan bibirnya. Melumat bibir tipis istrinya. Dia membersihkan sisa-sisa mayones yang menempel di sekitar mulut istrinya. Dengan wajah tanpa dosa, dia kembali memakan kue setelah melepaskannya.

Soah masih membulatkan matanya. Dia belum paham dengan apa yang barusan suaminya lakukan. “Yak,” protesnya setelah tersadar.

“Siapa suruh makannya berantakan,” jawab pria itu masih dengan wajah tak berdosanya.

Aish, bilang saja mau mencuri kesempatan,” kata Soah dengan nada protesnya.

“Ini.” Chanyeol mengulurkan kotak beludru berwarna merah pada Soah, masih dengan senyum yang mengembang.

“Apa ini?” Soah yang masih ragu akhirnya menerima kotak tersebut.

“Buka saja.”

Seperti perintah suaminya, dia membuka kotak tersebut. Benda berkilau itu mampu membuatnya menyipitkan mata. Kalung emas putih berliontinkan dua kupu-kupu dengan mutiara di atasnya. Sungguh indah. Dia tak sadar jika setitik air mata meluncur melewati pipinya. Dia terharu sekaligus bertanya. Dari mana pria itu tahu jika dia sangat menyukai hewan mungil tersebut.

“Kau tak menyukainya?” tanya pria itu ragu melihat reaksi istrinya. Gadis itu terdiam menimbulkan banyak pertanyaan.

Soah menatap sendu suaminya. Antara senang dan sedih, pria itu tak bisa membedakannya.

“Kau menangis?” tanya pria itu kembali yang melihat bekas air mata Soah. Dia mengusapnya.

“Dari mana kau tahu jika aku menyukai kupu-kupu?” Masih dengan tatapan sendu Soah berucap.

Pria itu merebut kotaknya. Mengambil kalung dan memakaikannya. “Kau yang bilang sendiri, dulu.”

“Aku. Kapan? Aku tidak ingat pernah memberitahukanmu.”

“Tentu saja. Kau bahkan mungkin tak ingat jika kita pernah berkencan dulu. Meski hanya sehari.”

Soah tersenyum samar. Dia ingat sekarang. Dia memang pernah mengatakan hal itu. Tak disangka jika pria itu akan mengingatnya sampai hari ini. “Terimakasih, oppa,” ucapnya sambil mencium singkat pipi suaminya.

“Kau menyukainya kan?”

“Emmh. Ini indah.” Kepalanya ia sandarkan pada lengan suaminya. Untuk hari ini, dia ingin bermanja dengan suaminya. Dia bahkan tak peduli dengan tubuhnya yang masih terasa lengket karena keringat. Salahkan pria itu yang mengabaikannya beberapa hari ini.

“Kau belum berbaikan dengan Sehun?” ucap pria itu setelah lama terdiam. Masih dengan tangan yang mengusap surai panjang Soah.

Soah yang masih betah menyandar di lengan suaminya menggeleng. Tidak ada kata yang keluar setelahnya.

“Dia sakit. Sudah lima hari.”

Soah hanya diam. Ada sedikit rasa sakit mendengarnya. Apa sampai sebegitu besarnya dampak kemarahannya. Sebenarnya tak mengerankan. Mengingat dulu pria bermarga Oh tersebut juga mengalaminya. Dia akan sakit jika tak segera berbaikan dengannya. Kenapa sekarang terulang lagi? Benar jika mereka memiliki ikatan yang sebenarnya lebih dari seorang sahabat. Mungkin seperti anak kembar.

“Kau tak akan menjenguknya? Dia sangat keras kepala tak mau dibawa ke rumah sakit,” pria itu kembali menjelaskan.

Soah masih bereaksi sama, diam. Dia mendengus pasrah kemudian. “Haruskah!” ucapnya ragu.

“Jika kau tak keberatan. Siapa tahu dia akan sembuh setelah melihatmu. Tapi semua terserah kamu sih.”

Soah hanya diam. Dia justru menguurkan tangannya untuk memeluk suaminya. Memejamkan matanya, berharap akan segera terlelap.

-o0o-

Soah kembali menarik tangannya saat akan memencet bel. Dia masih ragu dengan tindakannya. Lagi dia mengulurkan tangannya, namun kembali ia tarik. Dia mengutuki dirinya sendiri karena kebodohannya. Mengapa hanya hal sepele dia tak bisa melakukannya.

Dia memang sedang berada di depan dorm para personil EXO tinggal. Tujuannya untuk menjenguk Sehun. Dia bahkan sudah membuatkan bubur untuk pria albino tersebut. Setelah mengambil nafas dalam, dia kembali mengulurkan tangannya. Namun, belum sempat tanganya menyentuh bel, pintu di depannya sudah terbuka. Dengan cepat dia menarik tangannya.

“Kim daepyo,” ucap seseorang yang dia yakini bernama DO.

Soah menunduk hormat memberi salam. “Annyeong haseyo,” ucapnya kemudian.

Pria itu juga membalas salam Soah. “Ada perlu apa?”

“Apa Sehun ada?” tanya Soah dengan ragu. Dia terlihat tak enak mengatakannya.

“Ada. Mari silahkan masuk,” ajak pria itu.

Soah mengikuti kemana pun pria itu membawanya. Dia bertemu personil EXO yang lain di ruang TV, sepertinya. Dia tersenyum dan memberi salam pada mereka. Dan kembali melangkah menuju sebuah ruang yang diyakininya sebagai kamar Sehun.

“Ini sudah hari keenam dia sakit. Dia susah sekali dibujuk untuk makan dan minum obat. Aku harap anda bisa melakukannya,” ucap pria tampan itu kembali. Dia membukakan pintu kamar Sehun kemudian. “Aku akan mengambilkan makanan untuknya.”

“Ini saja, aku membawakan bubur untuknya.” Soah memberikan bubur yang di bawanya.

“Aku akan menaruhnya di mangkuk dan membawakan minum. Anda bisa menemuinya terlebih dulu.”

“Iya, terimakasih,” ujar Soah.

Pria itu tersenyum dan berlalu pergi.

Dengan ragu Soah berjalan mendekat. Sehun benar-benar terlihat mengenaskan. Wajahnya pucat dengan handuk kecil di dahinya. Tubuhnya di bungkus selimut yang cukup tebal. Soah mendengus kesal. Mendudukan dirinya pada kursi samping ranjang. Tangannya terulur mengambil handuk dan menyentuh keningnya. Terasa begitu panas.

“Kau bodoh atau apa sih? Kenapa kau sakit hanya karena hal itu? Membuat orang cemas saja,” ucap Soah cukup lantang.

Sehun membuka matanya. Pandangannya masih buram. “Soah-ya,” ucapnya kemudian. Pandangannya sudah sedikit jelas sekarang.

“Iya ini aku, Soah.”

Mianhae.” Sehun kembali berucap, masih dengan nada lirih. Dia ingin bangun, namun sepertinya tak berhasil karena kepalanya pusing. Soah membantunya kemudian. Menyandarkannya pada dashbor ranjang.

“Aku akan memaafkanmu jika kau sembuh.”

Sehun tersenyum samar. Dia senang melihat sahabatnya masih sama. Ini memang kesalahannya sudah membuat gadis itu marah. Dan akibatnya dia sakit setelah melakukannya.

“Kau bukan lagi bocah berusia dua belas tahun, kenapa masih sakit karena merasa bersalah denganku?”

Sehun ingin menjawab, hanya saja fisiknya terlalu lemah. Dia hanya bisa mendesah pasrah. Dan kembali tersenyum samar mendengar celotehan gadis itu.

DO datang dengan membawa nampan berisikan semangkuk bubur, segelas air putih, sendok, dan juga obat. “Kau harus makan,” ucapnya menyerahkan nampannya.

“Terimakasih,” ucap Soah menerima nampan tersebut.

“Aku harus pergi. Ada jadwal setelah ini,” pamit DO.

“Hati-hati, hyung,” tutur Sehun.

DO tersenyum sebelum menutup pintu.

“Ini, kau harus menghabiskannya. Aku sudah susah payah membuatkannya untukmu,” ujar Soah sambil menyerahkan nampannya. Karena Sehun sangat lambat, dia menarik kembali nampannya. Meletakkannya di nakas samping tempat tidur. “Biar aku saja yang menyuapimu.” Dengan hati-hati dia menyapkan bubur hasil masakannya.

Sehun menerimanya dengan senang hati. Dia juga terlihat lahap memakan suap demi suap yang diberikan Soah. Seulas senyum tak lepas dari bibirnya. Sebegitu berdampaknya melihat gadis yang tengah menyuapinya. Rasa mualnya melihat makanan mendadak hilang. Begitu juga dengan pusingnya. Semua terasa ringan. Apalagi mendengar nada mengeluh yang keluar dari mulut sahabatnya. Semua seperti obat tak terlihat untuknya. Bahkan dia yakin akan sembuh meski tanpa meminum obatnya.

“Terimakasih,” ucap Sehun setelah menelan pil dan menghabiskan minumannya.

Eoh. Jangan sakit lagi hanya karena aku marah padamu,” tutur Soah masih dengan nada mengeluhnya.

Sehun mengangguk. Ini adalah hari paling membahagiakan setelah pertengkarannya dengan gadis itu. Tanpa pikir panjang dia menarik gadis itu. Mendekapnya erat, menyalurkan perasaannya.

“Saat ini aku akan membiarkanmu. Tapi tidak lain kali,” keluh Soah, namun dia membalas pelukan pria itu.

Sehun kembali tersenyum mendengarnya. Perasaan hangat menyelimuti hatinya. Dia berjanji tak akan lagi membuat gadis itu marah. Atau dia akan kehilangan hal-hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

Mereka tak sadar jika sepasang mata mengawasi tingkah mereka sejak tadi. Seulas senyum tercetak di wajah tampannya. Dia menutup pintu dengan hati-hati agar apa yang dilakukannya tak diketahui kedua orang tersebut.

to be continue……..

Saya balik lagi dengan chapter 18. Gimana menurut kalian?

Semoga tetep suka ya…..

Terimakasih sudah setia menunggu.

See you next time.

 

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 18)”

    1. Iya, bang Sehun harus segera sembuh, biar jengukan mbak Soah gk sia-sia…
      Thanks ya…. 😘😘😘

  1. lah kalo hubungan mereka gak ada yang tau trus gimana entar pas soah hamil.. kan timbul pertanyaan siapa yg menghamili??
    lega kalo udah pada berbaikan…
    dihhh sinyal keponya chan muncul dehhh

    1. Ikutin alur saja, nanti pasti akan terjawab pertanyaan-pertanyaan yg timbul.
      Baikan kan emang Bagus, biar melegakan hati….
      Bang Chan kan emang gitu, suka kepo…
      Thanks ya….. 😘😘😘

  2. Yg ngintip itu pasti chanyeol…
    Haha mulai deh sok taunya..
    Duh kak kapan si hubungan mereka kebongkar, gemes aku. Seenggaknya mulai pada curiga gitu dikit”…
    Kok kayaknya adem ayem aja. Oh ya semoga cepet dikasi dedek deh buat mba soahnya…
    Ok tetep dinanti pokoknya…
    Loveyou..

    1. Bisa iya, bisa tidak…. Wkwkwkwkwk….
      Gak pa pa kok, kan cuma pengen nebak….
      Mereka kan gk suka ngumbar kemesraan, itulah kenapa hubungan mereka tampak awet gk ketahuan…. 😉😉😉
      Semoga saja ya….
      Terimakasih…
      Love you too…. 😘😘

    1. Gak ah, dia hanya ingin memastikan, itulah mengapa dia mengintip… 😁😁😁
      Thanks ya….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s