[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 17)

Poster Secret Wife Season 2 '''

Tittle                : Secret Wife Season 2

Author            : Dwi Lestari

Genre              : Romance, Friendship, Marriage Life

Length            : Chaptered

Rating             : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer                  : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note           : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

 

Chapter 17

(Reality Show)

Meski berada di sisimu
Hatiku seolah tak berada di sisimu
Karena aku selalu merindukanmu

Sepanjang perjalanannya menuju ruang kerja, Soah mendapat sapaan dari karyawannya. Senyum mengembang terukir jelas di bibirnya. Entah apa yang membuatnya terlihat bahagia? Yang pasti dia berangkat lebih siang dari biasanya. Bahkan jika dilihat ini sudah hampir jam makan siang.

Dia kembali menyunggingkan senyum, ketika melewati ruang sekretarisnya. Yang mampu membuat sang empunya mengangkat alis, melihat tingkah tak biasa dari atasannya. Dengan cepat dia menyusul atasannya ke ruangnya. Ada beberapa hal perlu dilaporkannya. Namun tertunda karena belum hadirnya Sang Atasan.

Setelah meletakkan coatnya di gantungan, Soah duduk manis di kursinya. Banyak berkas yang menumpuk di meja. Dia memang memiliki banyak pekerjaan hari ini. Belum lagi beberapa meeting yang harus dihadirinya sebelum peluncuran produk baru perusahaan. Sepertinya dia harus menyiapkan tenaga ekstra untuk pekerjaannya hari ini.

Bunyi ketukan pintu ruangannya terdengar. Dari sana munculnya sekretaris cantiknya dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Tanpa harus menyuruhnya masuk, gadis itu sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.

“Ada apa Sekretaris Min?” tanya Soah yang sudah mengambil satu berkas dari tumpukan di mejanya.

“Berkas yang harus anda tandatangani,” jawab Sang Sekretaris. Dia juga menyerahkan map yang di bawanya.

Soah menerima mapnya dengan senang hati. Membacanya sebentar sebelum membubuhkan tandatangannya. “Apa semua orang sudah siap?” tanyanya kemudian. Dia mengembalikan mapnya.

“Iya.” Sekretaris Min mengangguk. “Meeting akan dimulai tiga puluh menit lagi,” jelas Sang Sekretaris kembali.

“Aku mengerti,” jawab Soah singkat. Dia kembali memfokuskan pandangannya pada berkas yang diambilnya tadi. Membaca kata demi kata yang tertera di sana. Menandai bagian yang menurutnya kurang pas.

Tangannya kembali terulur mengambil berkas lain. Hanya butuh waktu tiga menit untuknya memeriksa satu berkas. Dia memang memiliki kemampuan yang mengagumkan. Tak heran sejak perusahaan itu di wariskan padanya, produk dan namanya menjadi begitu terkenal. Efisien dan efektif adalah prinsipnya. Dia tak suka menunda-nunda waktu. Bahkan dia tak ragu melayangkan protes pada pegawainya yang bekerja tak sesuai dengan prinsipnya.

Sekretaris Min masih setia memandang segala gerak-gerik atasannya. Selalu seperti yang dia kenal. Cepat, cekatan, dan juga anggun. Tiga sisi itu tak bisa dipisahkan dari diri atasannya. Dia sangat tahu itu. Pekerjaannya juga menjadi ringan semenjak atasannya adalah gadis yang kini sibuk dengan berkasnya.

Soah berhenti membalik berkasnya saat merasa masih ada sepasang mata yang mengawasinya. Dia mengangkat wajahnya. Dan benar saja, sekretarisnya masih berdiri di sana. “Apa masih ada yang ingin kau sampaikan Sekretaris Min?” tanyanya.

Sekretaris Min hanya tersenyum. Dia masih enggan bersuara.

“Kenapa? Ada yang aneh denganku?” tanya Soah kembali dengan raut penuh tanyanya.

Sekretaris Min menggeleng, masih dengan senyum yang mengembang.

“Duduk saja jika memang ada yang ingin kau sampaikan. Kau tak lelah berdiri terus?”

Sekretaris Min mendudukan dirinya kemudian. Kakinya memang sudah cukup lelah menopang dirinya tadi. “Darimana saja anda baru berangkat?” Akhirnya Sekretaris Min bersuara.

“Rumah sakit,” tutur Soah singkat. Dia kembali membaca berkasnya.

“Anda sakit?” tergambar raut cemas di wajah oval Sekretaris Min.

“Tidak,” jawab Soah singkat. Pandangannya belum ia alihkan dari berkasnya.

“Lalu untuk apa anda datang ke sana?” Sekretaris Min masih memberi pertanyaan. Rasa penasarannya masih kuat, itulah kenapa dia tak henti menggali informasi dari atasannya tersebut.

“Melepas implan dan periksa kandungan.” Soah masih tak memandang sekretarisnya.

Sekretaris Min terdiam. Dia masih mencerna perkataan Soah. Dia mengangkat alisnya ketika sudah paham. Matanya juga membulat, seperti terkejut. “Anda berencana hamil?” tanyanya sedikit ragu. Itu hanya asumsinya, karena memang itulah jawaban masuk akal dari tindakan atasannya tersebut.

Soah tersenyum sambil memandang wajah Sekretaris Min. Tersenyum karena merasa lucu dengan ekspresi yang diberikan gadis di depannya. “Kau bisa menyebutnya seperti itu,” jawabnya kemudian. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sekretaris Min masih memandang Soah dengan pandangan tak terbacanya. Entah apa yang sedang dipikirkannya. “Apa yang membuatmu berubah pikiran? Bukankan di awal anda bersi keras ingin menundanya,” kata Sekretaris Min kemudian.

Soah mengambil napas dalam. Masih dengan pandangan yang sama, ke arah berkasnya. “Ada banyak hal yang terjadi. Dan ada banyak hal yang membuatku merubahnya. Aku tak bisa menyebutkannya.”

“Aku mengerti. Itu hak anda,” ucap Sekretaris Min sambil mengangguk. “Aa, artikel yang membahas skandal anda dengan Sehun sudah terhapus. Sekarang sudah tidak ada satu pun artikel itu di internet,” lanjutnya.

“Baguslah! Reporter Jung menanganinya dengan baik.”

“Anda di undang di Reality Show.”

“Untuk apa?”

“Rumor yang sudah menyebar tak akan mereda dengan sendirinya. Anda harus mengkonfirmasinya untuk meredakan rumor tersebut,” jelas Sekretaris Min.

Soah tampak sedang berpikir. Memang benar yang dikatakan sekretarisnya. Bahkan ada kemungkinan dia akan diteror fans Sehun karena tidak terima. “Haruskah aku datang!” Terdengar nada ragu di setiap ucapannya.

“Terserah anda. Jika memang anda siap diserang fansnya Sehun, anda tidak perlu datang,” ucap Sekretaris Min dengan nada mengejeknya.

Soah tersenyum mengejek. “Jawaban macam apa itu!” Dia berdecak sebal kemudian. “Kau memang benar sih. Kapan acaranya?”

“Besok.”

“Baiklah! Aku tak punya pilihan bukan.”

“Anda harus siap dengan segala kemungkinannya. Jika perlu diskusikan dengan Sehun, supaya nanti jawaban kalian sama. Aku dengar Sehun juga diundang.” Sekretaris Min kembali bersuara. Kali ini terdengar lain. Bukan nada mengejek, namun memberi solusi.

Soah mengangguk. “Terimakasih.”

Meeting akan dimulai lima menit lagi,” ujar Sekretaris Min setelah melirik jam tangannya.

“Emmh. Kau duluan saja. Aku akan segera ke sana setelah membaca ini.” Soah menunjukkan berkas yang dimaksudkannya.

-o0o-

Annyeong haseyo Sehun-ssi. Bagaimana kabar anda?” Itu adalah kalimat pembuka dari pembawa acara tersebut.

Ya, Sehun sekarang sedang mendatangi undangan sebuah Reality Show. Setelah libur sekitar dua hari, itu adalah jadwal pertamanya. Dia tahu jika acara kali ini pasti akan berputar tentang skandalnya. Meski sudah dihentikan peredaran artikelnya, namun tak akan merubah kabar yang sudah beredar.

Dengan senyum mengambang dia menjawab, walaupun sebenarnya dia sedikit memaksakannya. “Baik. Seperti yang anda lihat,” ucapnya dengan ramah.

“Terimakasih sudah datang. Padahal sebenarnya anda sedang sibuk-sibuknya mempromosikan album baru,” ucap Sang Pembawa Acara kembali.

“Iya,” jawab Sehun sambil tersenyum.

“Ini tentang skandal mengejutkan yang baru-baru ini ada. Anda hampir tidak pernah memiliki skandal dengan seorang wanita. Bagaimana anda menjelaskan tentang hal ini?” ucap pembawa acara tersebut kembali.

Sehun terlihat mengambil napas dalam. Dia memang sudah mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tapi tetap saja rasa gugup itu datang. Takut jika dia akan melakukan kesalahan yang akan merugian pihak lain.

“Sebenarnya saya terkejut setelah membacanya. Kemampuan reporter sekarang luar biasa. Aku selalu berusaha untuk tidak terlihat, namun pada akhirnya tetap ketahuan,” jelas Sehun panjang lebar. Dia terdiam setelahnya.

“Jadi anda membenarkan artikel tersebut, jika anda sedang berkencan dengan CEO dari Hera Fashion.” Sang Pembawa Acara kembali melayangkan pertanyaan. Ah, lebih tepatnya menanggapi perkataan Sehun.

“Bukan seperti itu. Kami memang dekat, tapi kami tidak berkencan,” tutur Sehun kembali.

“Dekat dalam artian apa?”

“Kami berteman.”

Sang pembawa acara tersenyum aneh. Bingun dengan ucapan Sehun. “Jika hanya sekedar berteman. Bagaimana anda menjelaskan masalah foto tersebut?” Lagi, itu suara pembawa acara.

“Saya cukup kecewa dengan foto tersebut. Seharusnya, diperlihatkan kejadian setelah ciuman itu.” Sehun kembali berucap. Dia menarik napas dalam sebelum kembali berkata. “Itu adalah kesalahan. Hari itu aku mentraktirnya minum. Dan aku cukup mabuk. Aku benar-benar tak sadar jika aku menciumnya saat itu, tapi kemudian dia menamparku. Dia sangat marah setelahnya.”

“Ah, jadi itu hanya salah paham maksud anda.”

“Iya, begitulah. Anda tahu sendirikan bagaimana jika kita sedang mabuk. Kita tak akan pernah sadar dengan apa yang kita lakukan.”

Pembawa acara tersebut tersenyum sambil mengangguk. Membenarkan perkatan Sehun. “Sejak kapan anda mengenal Kim daepyo?”

Saat Sehun akan menjawab Sang Pembawa Acara kembali bersuara. “Tamu kita yang lain sudah datang.”

Sehun menoleh mengikuti arah pandang Sang Pembawa Acara. Dia cukup terkejut melihat kedatangan seorang gadis dengan balutan dress berwarna putih. Dia tak pernah menyangka jika gadis itu juga diundang di acara tersebut. Tatapan bersalah terpancar jelas dari sorot matanya. Ya, sejak malam di mana gadis itu melarangnya menemuinya sebagai pria yang mencintainya, dia benar-benar melakukannya. Dia memang belum bisa membuang perasaannya.

“Selamat datang Kim daepyo,” sapa Sang Pembawa Acara.

Gadis itu tersenyum manis. Juga menunduk hormat pada Sang Pembawa Acara.

“Anda bisa menyapa pemirsa terlebih dulu.”

Gadis itu berbalik menghadap kamera. Dia menunduk hormat sebelum berucap. “Annyeong haseyo. Kim Soah imnida.” Cukup lantang dia berkata.

“Silahkan duduk.”

“Lama tak bertemu Sehun-ah,” tutur Soah menyapa Sehun. Dia melayangkan kepalan tangan yang disambut baik oleh Sehun. Dia ikut duduk di sebelahnya.

“Kalian benar-benar terlihat dekat ya,” ucap Sang Pembawa Acara merespon. Dia cukup terkesima dengan cara menyapa mereka.

Soah hanya tersenyum menanggapinya.

“Anda benar-benar terlihat cantik dari dekat.”

“Terima kasih,” ucap Soah menutup mulutnya. Ada seburat merah di pipinya. Sepertinya dia sedang tersipu.

Sehun hanya bisa memandang penuh arti gadis tersebut. Dia merasa gadis itu masih penyimpan marah padanya. Meski tadi menyapanya, dia yakin itu hanya akting di depan kamera. Aktingnya sunggu bagus. Gadis itu pasti akan sukses jika menjadi artis. Sayang sekali, gadis itu tak pernah tertarik dengan dunia hiburan. Sehun sangat tahu itu.

Pembawa acara tersebut kembali menyinggung tentang skandal mereka. Kali ini dia menunjukan pertanyaannya pada Soah.

“Seperti yang Sehun bilang, itu memang salah paham. Dan kami memang tidak berkencan. Bagaimana mungkin aku mengencani sahabatku? Itu bukan gayaku. Apalagi ini Sehun. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku,” jelas Soah diselingi senyum menawannya.

“Kembali ke pertanyaan tadi. Sejak kapan kalian saling mengenal?”

“Sekitar umur lima tahun.” Soah terdengar ragu mengatakannya. Dia memang sudah sedikit lupa. “Apa aku salah?” kini pertanyaan itu ia tujukan untuk Sehun.

“Iya, dia benar,” tutur Sehun.

“Wah, sudah selama itu. mungkin bisa diceritakan suka dukanya persahabatan kalian.”

Soah mulai bercerita. Yang kemudian disambung Sehun. Mereka tertawa mengingat beberapa hal lucu ketika bercerita. Si Pembawa Acara kadang ikut menanggapi cerita tersebut. Suara penonton yang hadir di studio juga ikut meramaikan suasana.

Setelahnya mereka diberi pertanyaan lain. Dengan tanggap dan tanpa ragu mereka menjawab. Mereka saling bertukar pikiran seolah tidak terjadi apapun di antara mereka. Meski sebenarnya Soah masih marah dengan pria itu, dia sangat pandai menjaga sikap.

Acara yang berdurasi satu jam itu akhirnya selesai. Itu lebih tepat disebut wawancara. Karena memang acaranya hanya membahas dua orang tersebut, Sehun dan Soah.

Soah dengan cepat meninggalkan studio. Dia mengambil tas dan coat yang dititipkan pada sekretarisnya. Dia memang berangkat bersama gadis yang sudah menjadi asistennya sejak dia menjabat menjadi seorang CEO. “Apa jadwalku setelah ini?” tanya Soah yang sudah memakai coatnya.

Meeting lanjutan kemarin,” jawab Sang Sekretaris setelah melihat tabletnya.

“Kita kembali ke kantor sekarang,” ajak Soah.

“Iya.” Sekretaris Min mengangguk setuju. Dia ikut melangkah di belakang atasannya.

Di belakangnya Sehun sedang berusaha mengejar Soah. Dia ingin meminta maaf dan meluruskan kesalahan di antara mereka. langkah cepatnya terhenti kala melihat Soah sudah memasuki mobil. Dia kembali ingin melangkah, namun ditahan oleh manajernya.

“Kau masih ada jadwal setelah ini,” tutur Sang Manajer.

Sehun hanya bisa membuang pasrah napasnya. Matanya masih tertuju pada mobil silver yang mulai meninggalkan basement. Sepertinya dia memang masih harus menyimpan rasa bersalahnya. Dia akan mencari kesempatan lain untuk meminta maaf. Ya, harus. Atau dia akan kehilangan sahabatnya untuk kedua kalinya.

-o0o-

Soah masih betah memandang bintang di langit. Sejak dia menikah, dia punya kebiasaan baru. Merenung sambil melihat bintang. Jika biasanya dia menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca atau menggambar, sekarang berbeda. Dia lebih banyak melamun dan termenung. Banyak sekali perubahan pada dirinya setelah berganti status.

Dia mulai menyukai memasak, padahal sebelumnya dia benci pekerjaan itu. Dulu berbelanja di supermarket maupun minimarket adalah pekerjaan melelahkan, karena dia harus mengantri untuk membayarnya. Namun sekarang dia mulai terbiasa melakukannya. Dan masih banyak hal yang tak disukai yang mulai dilakukannya. Kebersamaan dengan pria itu memang berdampak cukup besar untuknya.

Dia kembali meminum susu yang di bawanya. Setelah memeriksakan kandungan di rumah sakit, dia mulai banyak meminum susu. Itu anjuran dokternya. Dia juga menjaga asupan gizi yang masuk ke tubuhnya. Dia harus sehat untuk mempersiapkan kehamilannya. Apalagi menurut dokter, berat badannya sedikit kurang ideal untuk persiapan kehamilan. Dia harus banyak makan mulai sekarang.

Dengusan halus terdengar dari hidungnya. Dia cukup bosan hari ini. Ditambah suaminya tak memberinya kabar seharian ini. Biasanya dia selalu memberi kabar meski hanya pesan singkat. Tapi hari ini, “Hah,” dia kembali mendengus kesal.

Setelah membereskan piring yang tadi berisi makanan ringan juga gelasnya, Soah berniat memasuki kamarnya. Pintu penghubung balkon terbuka, menampakkan pria jakung yang sudah menjadi teman hidupnya. Dia terdiam, menatap sendu pria itu.

Pria itu tersenyum hingga menampakkan gigi putihnya. Rambutnya masih bercat sama seperti terakhir di ingatan Soah. Poni yang biasanya menutupi dahinya kini terbelah. Guratan lelah juga terlihat di wajahnya. Meski demikian, pria itu masih terlihat menawan dengan balutan kaos dan jaket kulit.

“Kau di sini. Aku mencarimu sejak tadi,” ucap pria itu.

Suaranya terdengar merdu di telinga Soah. Entah mengapa semua yang berhubungan dengan pria itu tampak indah. Jantungnya mulai berpacu dengan cepat. Perasaan asing kembali mengusiknya. Ada apa dengan dirinya? Sebegitu hebatnya pria itu hingga mampu membuatnya terjatuh. Dia benar-benar telah mencintai pria itu. Melihat kehadirannya membuat hatinya berbunga-bunga.

“Ayo masuk, di sini dingin,” ajak Soah. Tentu saja, dia hanya mengenakan piyama tipis kesukaannya.

“Kau habis minum?” tanya pria itu di sela-sela perjalanannya.

Soah mengangguk. “Minum susu,” jawabnya.

“Susu. Di usia segini.” Pria itu tampak terkejut dengan penuturan istrinya.

“Kenapa memangnya? Susu itu baik untuk kesehatan,” jawab Soah dengan dengusan. Memprotes perkataan suaminya. “Lagipula itu susu khusus untuk pengantin baru,” lanjutnya dengan lirih.

“Kau bilang apa tadi?”

“Sudah ah, tidak penting juga. Kau sudah makan?” Soah memberi pertanyaan lain untuk mengalihkan.

“Emmh,” ujar pria itu disertai anggukan. Tangannya terulur menarik pinggang Soah. dia memeluknya dari belakang. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. “Maaf ya, aku tak mengabarimu seharian ini. Aku tak sempat pegang ponsel tadi,” ucapnya terdengar menyesal. Dia bisa mencium wangi shampo dan parfum istrinya. Aroma vanila bercampur mint. Membuatnya tenang dan menguapkan rasa rindunya.

Hanya anggukan yang diberikan Soah. Dia memantung mendapat perlakuan itu. Dadanya semakin bergemuruh. Hingga membuatnya tak mampu mengungkap perasaan yang dirasakannya sekarang. Entah bahagia atau sesuatu yang lain. Yang pasti dia tak bisa menamainya.

“Bagaimana wawancaranya tadi?” Pria itu kembali bersuara, masih dengan posisi yang sama. Namun kepalanya kini sudah ia angkat.

“Biasa saja. Hanya membahas seputar skandal itu. Juga beberapa pertanyaan tentang hubunganku dengan Sehun.” Ada nada lain di ucapan Soah saat menyebut nama Sehun. Pria itu bisa merasakannya.

“Kau masih marah pada Sehun?”

Soah hanya diam. Malas menjawab. Dia juga tak tahu apa dia masih marah atau tidak. Tapi yang pasti dia masih enggan bertemu dengan pria itu.

Pria itu melepaskan pelukannya. Membalik tubuh Soah. Menatap wajahnya karena tak mendapat jawaban.

Soah membuang muka mendapat tatapan tak mengenakkan dari suaminya.

“Aku anggap iya,” ucap pria itu lagi. “Segera berbaikanlah. Tak bagus marahan lama-lama.” Pria itu mengacak pelan puncak kepala Soah.

Soah hanya menatap datar suaminya. Dia tak berniat menjawab.

“Aku mandi dulu.” Pria itu segera berlalu.

Soah mengarahkan pandangannya pada gerak suaminya, yang kini menghilang di balik pintu. Dia melangkah meninggalkan kamarnya. Menuju dapur. Meletakkan gelas dan piringnya di tempat cuci. Menyalakan kran dan membersihkannya.

Tenggorokannya terasa kering, setelah mencuci piring tadi. Tungkainya membawanya mendekat ke kulkas. Mengambil sebotol air mineral. Meminumnya dengan perlahan. Dia masih termenung melihat isi kulkasnya. Sudah habis. Hanya tersisa kimchi, dua butir telur, dua buah apel dan sedikit daun bawang. Kenapa dia tak menyadarinya? Dia harus berbelanja besok jika tidak ingin kelaparan.

Menonton TV adalah pilihan selanjutnya. Dia belum mengantuk meski jam sudah menunjuk di angka sebelas. Beberapa kali dia mengganti chanel karena acaranya tak begitu menarik. Drama menjadi pilihan terakhirnya. Selain karena ceritanya bagus, juga Sang Pemeran yang dikenalnya. Dia pernah menyewa pria itu menjadi model produk perusahannya.

Dia tertawa melihat adegan yang lucu. Tak sadar jika pria yang mengenakan kaos oblong dan celana selutut tengah memperhatikannya. Pria itu berjalan mendekat. Ikut duduk di samping Soah. “Belum tidur?” tanyanya.

Soah yang masih menahan tawa menoleh. Dia menggeleng. “Belum mengantuk,” jawabnya sambil membenarkan posisi duduknya.

Suasana hening terjadi setelahnya. Sedang fokus dengan drama yang sedang tayang. Soah mengalihkan pandangan, ketika drama tersebut menampilkan kissing scene. Tatapannya bertemu dengan suaminya.

“Kenapa? Kau juga ingin,” ucap pria itu menggoda. Dia juga mendekatkan wajahnya.

Rona merah terlihat jelas di pipi Soah. Dia malu tentu saja. Layangan bantal ia lakukan untuk menghentikan godaan pria itu. Dia kalah cepat karena pria itu berhasil menghindar.

“Aku bisa memberikannya jika kau mau,” ujar pria itu lagi dengan kedipan nakalnya.

Soah memutar malas bola matanya. Dia berdiri bermaksud pergi. Tangannya ditarik hingga membuatnya terduduk di pangkuan pria itu.

“Mau ke mana?” ucap Sang Pria tanpa rasa bersalahnya.

“Mau tidur.”

“Sebentar saja.” Pria itu mendekatkan wajahnya. Tanpa aba-aba menempelkan bibirnya pada Soah. Mempraktekan apa yang baru dilihatnya dalam drama. Soah memejamkan matanya. Dia terbuai. Bahkan dia kini ikut membalas apa yang pria itu lakukan padanya.

Saat tangan pria itu mulai nakal. Dia menghentikannya. Melepas tautan bibirnya. “Jangan di sini.”

Pria itu tersenyum. Paham dengan maksud istrinya. Tangannya terulur mengambil remot kontrol untuk mematikan TV. Meninggalkan ruang itu dengan menggendong istrinya ala bridal. “Berpeganglah jika tidak ingin jatuh” perintahnya kemudian.

Soah menurutinya. Dia mengalungkan tangannya di leher suaminya. Dia tak bisa menolak apapun yang akan pria itu lakukan padanya. Anggap saja ini sebagai bonus pengobat rasa rindunya.

to be continue……..

Saya balik lagi dengan chapter 17. Gimana menurut kalian?

Semoga tetep suka ya…..

Maaf lama baru bisa update. Virus malasnya nggak mau hilang.

 

Terimakasih sudah setia menunggu.

Selamat hari raya Idhul Fitri, bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin, jika saya punya salah. Sepertinya banyak ya, hahahaha…

 

See you next time.

 

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 17)”

  1. Seneng ih liat Chanyeol dan Soah bermesraan gitu.. Kapan Soah hamilnya..? Dan kapan pernikahan mereka dipublikasikan..? Ga sabar bakalan liat keluarga park bahagia..

    1. Aku juga seneng kok nulisnya… 😁😁😁
      Wah banyak sekali pertanyaannya…
      Ditunggu saja ya sayang….😘😘😘
      Terimakasih…….

      Aku juga berharap mereka bakalan bahagia…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s