[EXOFFI FREELANCE] WILL YOU BE THERE (Chapter 6)

CYMERA_20171115_234923.jpg

Title |    Will You be There

Author|RHYK

Cast|        Rose [Blackpink]    as Ra Joona

Park Chanyeol [EXO] as Jo Chanyeol

Han Sunhwa as Han Jina

Additional Cast| Ong Seungwoo [Wanna One] as Ha Seungwoo

Length| Chapter

Rate | PG 17 (terserah kalian aja sih mau rate berapa. Baca aja. Jangan di contoh kecuali udah dihalalin *eehh)

Genre| Alternate Universe – Drama – Romance –Sad –Life –Marriage life

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Quotes| Dalam kisah ini, akankah seseorang menantiku di sana?

Summary this Chapter|

Previous Chapter | [0.1] Intro Cast >>

[1] ] Domino >> [2] One night stand

[3] Beautiful Nightmare >> [4] Doubt >>

[5] Promise>> [6] Day of Heartbreak

Jangan menyiksa diri sendiri, membuat dirimu tertekan, merasa frustasi semata-mata hanya demi melindungi kisahmu. Cinta tak pernah seindah itu. Tak selamanya, orang yang mati-matian kau lindungi bahagianya, justru bisa menjadi sebuah sentral untuk membuat sebuah luka untukmu.

[6]

Suasana ruang itu masih hening, hanya terdengar deru nafas yang saling menyeru keras di ruang berisi tiga nyawa itu, ketiganya saling melempar pandang tanpa membalas satu-sama lainnya. Dua orang dominan ke arah gadis dengan kaos hitam yang ia kenakan, wajahnya masih begitu muram karena mengantuk. Sementara seorang lainnya menatap 50:50 antara lelaki yang duduk di sebelahnya dan juga seorang wanita yang masih memasang wajah tidurnya, sementara yang menjadi satu-satunya bergender lelaki di ruang itu menatap seorang wanita dengan kaos hitam yang adalah pemilik bangunan ini.

Lelaki itu membuang nafasnya kasar, lalu berucap dengan nada pelan. Sebelumnya perbincangan memang sudah terjadi antara wanita lainnya yang ada di ruangan itu juga. Kini, si wanita pelapor takut bahwa salah satu dari mereka akan marah dengannya, karena membocorkan rahasia besar. Tentu saja besar, ini adalah tentang harga diri seorang wanita dan akalnya yang mungkin saja hilang sesaat.

“Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami –Joona-ya?”ujar si gadis dengan dress putih lebih dulu, ia melesatkan serangannya tepat sebelum lelaki itu ingin membuka mulutnya, “Tidak,”jawabnya dengan nada ambigu, lantas dengan cepat lelaki yang ada di hadapannya menaruh barang bukti yang menjadi kecurigaan mereka, namun wajah wanita yang seperti dinterogasi oleh teman-temannya hanya mengulas senyum kecil. “Apa kau hamil?”tanya teman lelakinya dengan nada menahan marah, kemungkinan karena khawatir. Dengan pasrah yang ditanya hanya mengangguk, “Menurut alat itu ya, tapi aku belum periksa dengan benar ke Rumah Sakit,”ujarnya terdengar tenang, namun tangannya terus saja mencengkram lengannya bersilang. Matanya kian berkabut, lalu kedua orang itu menatapnya nanar dan juga kaget.

Seungwoo menarik nafas, menarik semua rambutnya kebelakang. Ini adalah kegilaan yang pernah ia dengar dari seorang gadis pintar dan skeptis tentang cinta, “Joona –ya. Bagaimana bisa kau menahan tangismu dengan berkata santai seperti itu! Kau –‘

Soojin menyela dan menahan Seungwoo agar tidak lepas kendali, Soojin tahu bahwa kejadian seperti ini bisa membuat lelaki itu murka dan menggunakan temperamen.“ –Seungwoo, tenanglah.”

Seungwoo kembali duduk,namun ia masih terlihat begitu murka entah pada Joona karena tidak bisa menjaga diri ataukah orang yang melakukan itu pada Joona.“Siapa yang melakukan ini padamu?”tanya Seungwoo dengan nada lirih, ia terdengar begitu frustasi daripada orang yang terkena kemalangan. Joona menarik nafas lagi, ia menggigit bibirnya sebentar,“Aku ingin memberitahu kalian dari awal –hanya saja, sulit rasanya untuk membuat kalian kecewa.”ujar Joona dengan gugup.

Soojin tanpa sadar menitikkan air matanya, lalu melangkah dan memeluk Joona, mengelus punggung gadis itu.“Kami tahu kau bagaimana, Ra Joona. Tapi, kau melakukan itu bukan semata-mata karena ingin bukan? Kau pasti sudah terjatuh untuknya.”

Joona mengangguk, “Aku tidak tahu mengapa, namun begitu aku melihatnya untuk pertama kalinya rasanya aku begitu bahagia.” lalu ia ikut menangis setelah menahan isaknya sejak Seungwoo datang.Seungwoo kini tidak dapat marah setelah melihat kedua gadis dihadapannya menangis, meski bukan karenanya namun karena situasi, ia menjadi tidak dapat berkata apa-apa lagi.

∞∞∞

Dua minggu kemudian..

Aroma khas Rumah Sakit begitu menusuk indra pencium gadis itu, dua minggu berlalu perutnya sedikit lebih besar dari sebelumnya, ia sempat melihat beberapa orang yang duduk agak jauh darinya di lorong yang sama diantar oleh suaminya atau mungkin ibu atau mertua mereka. Namun, hanya gadis itu sendiri, ralat. Dia tidak sendiri, ada seorang teman perempuannya yang setia duduk di sampingnya, seraya menepuk pelan punggung wanita itu mengisyaratkan bahwa tidak perlu ada yang ditakutkan ataupun dikhawatirkan.

“Ra Joona –ssi?” suara lembut yang berasal dari seorang perawat  menyapa telinga kedua perempuan muda itu, lantas keduanya saling lempar pandang. “Yang mana Ra Joona –ssi?”tanya perawat itu lagi, lantas tangan Soojin mengangkat tangan Joona yang tidak mau terangkat, perawat itu tersenyum manis, “Silahkan masuk, temannya juga boleh ikut jika nona takut.”katanya sambil tersenyum lagi, dengan tangannya yang memegang diktat membuka sebuah pintu dimana dokter ginekologi yang akan memeriksa kandungannya berada di dalam.

Soojin sudah berdiri, sementara Joona masih termangu menatap pintu yang terbuka. Namun, setelah melihat seorang wanita kepala 30 –an mungkin keluar dengan wajah berbinar dengan perutnya yang sudah sangat besar membuat Joona akhirnya bangun juga dan masuk ke dalam ruang konsultasi. Begitu muncul di dalam ruangan, sang dokter tersenyum menyapa kedua perempuan itu, ada dua dokter di sana, yang satu memegang jas kedokterannya, yang satu lagi memakai jas putih itu dan duduk di kursi miliknya. Ia menyambut ramah, “Selamat datang, yang mana nona Ra?”tanya dan sapa dokter dengan rambut panjang yang diikat kebelakang, Joona mengangkat tangannya dan bersuara, “Aku nona Ra, uisa-nim.”

Dokter yang duduk dengan memegang baju lab miliknya lantas bangun dan tersenyum cantik, “Silahkan duduk, agasshi. Jangan takut, dokter Choi sangat baik.”katanya dengan mengulas senyum, begitu terlihat anggun dan juga polos. Seakan, tidak ada celah pada wanita itu. Lantas yang dipuji hanya tersipu lalu bersuara, “Dokter Han, kau ingin kembali?”tanya seseorang yang disebut dokter Choi tadi. Dokter wanita yang anggun itu mengangguk seraya kembali memakai jas labnya, “Hasil tesku di department urologi keluar hari ini,mungkin penantianku untuk mempunyai seorang anak selama 2 tahun dengan suamiku akan segera berakhir.”pungkasnya seraya tersenyum bahagia, wajahnya berseri-seri. “Baiklah, aku turut senang jika hasilnya baik.”

Joona hanya membungkam mulutnya, ia merasa iri pada dokter itu,karena memiliki segalanya yang membuat Joona menandainya sebagai seseorang yang sempurna,namun di sisi lain ia merasa sedih mendengar kalimat dokter cantik itu. 2 Tahun untuk dua orang yang menantikan seorang anak pastilah amat sangat lama untuk mereka, namun Joona? Ia tidak menantikan siapapun, justru dengan mudah Tuhan memberikan janin yang ada di dalam perutnya. Dokter Han tersenyum pada Joona, matanya menatap perut Joona yang sedikit besar, “Berapa usia kandunganmu,nona?”tanya dokter Han, Joona memegang perutnya lalu tersenyum kecil, “Mungkin 4 bulan lebih? Aku baru akan memeriksanya hari ini, uisa-nim.”jelas Joona malu-malu, dokter Han mengangguk paham lalu menundukkan kepalanya tersenyum simpul, walau hanya sedikit tersenyum kelihatannya ia memang tulus, “Silahkan tidur di atas, aku akan segera memeriksamu,nona Ra.”

“Han Jina?”panggil dokter Choi lagi begitu dokter Han berada di ambang pintu untuk melangkah keluar dari ruangan, ia menoleh dengan alis naik, “Traktir aku jika hasilnya baik, call?”todong dokter Choi seraya menyengir, dokter Han hanya tersenyum dan memberi ibu jarinya untuk dokter Choi.

Setelah dokter Han berlalu, dokter Choi memeriksa kandungan Joona dengan USG, sementara Soojin tampak khawatir melihat Joona yang diperiksa. “Nona Ra, aku yakin kau sangat senang dengan kehadiran bayi ini, dia terlihat sangat kuat ditubuh ibunya yang sangat kecil.”ucap dokter Choi ramah sambil melihat layar monitor USGnya, lalu terdengar sebuah degup jantung yang teratur, dan ada denyut yang dapat Joona rasakan membuatnya menatap takjub layar monitornya dan Soojin yang menutup mulutnya sendiri tak menyangka, “Kau dengar? Dia berdetak, Joona –ya.”imbuh Soojin terharu mendengar itu, Joona hanya tersenyum kecil, “Sebelum masuk ke sini, aku terus berfikir apa sebaiknya aku gugurkan saja janin ini?”ujar Joona dengan mata yang berkaca-kaca, dokter Choi tersenyum memahami, “Memangnya ada apa? Apa ada yang kau takutkan,nona Ra?”tanya dokter Choi dengan nama depan Sooyoung.

“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini pada dia. Namun, setelah aku mendengar detak jantungnya yang sangat keras, aku bahkan tidak mampu untuk berkata-kata, uisa-nim.”ujar Joona begitu tenang, namun ada sekelebat sorot cemas di matanya. “Gwaenchanha, kalaupun, nantinya ia tidak mau bertanggungjawab atas yang dia lakukan, Tuhan pasti akan membalasnya, nona Ra.”imbuh dokter Choi mengulas senyum meyakinkan, yang membuat Joona mengangguk pada akhirnya.

“Wah!uisa-nim,kau menakjubkan sekali.”puji Soojin,

“Yang terpenting adalah kau harus tetap menjaga kesehatan, dengan makan-makanan yang bergizi dan jangan berada dibawah tekanan sehingga janinmu juga sehat juga tumbuh dengan baik. Dokter Han yang tadi di sini, butuh menunggu waktu cukup lama untuk mendapatkan seorang keturunan, jadi nona Ra –kau harus mensyukuri kehadiran bayi ini untukmu.”lanjut dokter Choi memegang tangan Joona, menguatkan gadis itu agar keluar dari rasa bimbangnya.

“Benar, mungkin ini adalah salah satu anugerah dari Tuhan yang kau fikir hilang, dia telah kembali dalam bentuk yang lain. Orangtuamu pasti akan bahagia karena kau mempunyai teman, disaat aku dan Seungwoo sibuk nanti.”kekeh Soojin spontan membuatnya merasa bersalah setelahnya karena membawa topic sensitif untuk Joona.

∞∞∞

“dokter Han! Jina –ya!”teriak dokter itu dari ambang pintu ruang prakteknya, namun yang dipanggil hanya terus berlari, lalu menghilang di ujung koridor Rumah Sakit. Dokter cantik itu lalu memerintahkan asistennya untuk menemui Jina secepatnya.

Langkah Jina memelan begitu tiba di atap atau taman Rumah Sakit yang ada di atas gedung Rumah Sakit, matanya kosong tak menerawang, pipinya sudah basah dengan air mata yang sudah mengering, dengan tangannya yang mengenggam kertas yang berisi hasil lab –nya ia melangkah gontai menuju pembatas besi, yang menandakan ujung gedung itu.

Baru beberapa menit lalu ia mendengar hal yang sangat tidak ingin ia dengar, namun memang tidaklah asing ditelinganya. Ia sering mendengar itu pada saat masa belajarnya, dan juga di film-film, ataupun seminar yang sering ia datangi bersama jajaran dewan direksi dokter Rumah Sakit Universitas Seoul.

Helaan nafasnya yang terdengar begitu putus asa bercampur dengan angin yang menderu cukup kencang. “Bagaimana bisa? Tuhan. Bagaimana bisa hal ini terjadi padaku?!” Ia menatap langit tak bersua dan tanpa batas, cukup cerah hingga ia bingung siapa yang harus ia marahi dalam keadaan ini.

Ia hilang akal, dengan memandang miris tulisan berfont tebal dalam kertas itu. Berdasarkan hasil Lab, nona Han Jina ditemukan kelainan letak mulut rahim sehingga tidak dapat mengandung.”

Kedip matanya melemah, irisnya menggelap –kepalanya menengadah memandang langit kembali dengan pikirannya yang menghampa. Jantungnya seperti berhenti berdetak, tidak ada lagi yang dapat ia katakan pada suaminya bahkan ia tak dapat memenuhi perjanjiannya dengan Ibu Mertua –nya. Air mata itu terus mengalir pelan, seiring langkah kakinya yang mulai melepas sepatunya, menaiki besi pembatas gedung dan berdiri di atasnya. Hidupnya sungguh telah menjadi akhir hari ini. Dengan akhir yang menyedihkan.

Kepalanya kemudian terisi memori-memori manis saat bersama Chanyeol, entah mengapa memori itu datang dan berganti dengan memori buruk tentang pertengkarannya dengan Chanyeol, perkataan orang-orang pada saat jamuan makan siang beberapa bulan lalu dan juga perjanjian konyolnya dengan sang mertua.

Benar. Perjanjian itu  usai, ia harus mundur dari pernikahan ini dan meninggalkan semuanya. Namun, Jina tidak cukup mampu untuk itu. Ia mencintai suaminya amat sangat bahkan mungkin sedalam laut abisal dimana matahari tak mampu menembusnya. Namun, apa perasaan Chanyeol akan tetap sama jika tahu tentang ini?

Sepertinya tidak. Karena, dalam diampun ia menantikan seorang anak. Seorang anak yang dikandung dari rahim istrinya –Han Jina. “Maafkan aku tidak dapat mewujudkan mimpimu.”

Jina ingin memundurkan langkahnya, “Tunggu!!dokter Han?”teriak suara itu dari kejauhan, ia pun berlari kecil mendekat pada Jina yang sudah berdiri ditepian beton luar pagar pembatas. “Jangan mendekat!Semuanya berakhir untukku.” Jina mengangkat tangannya rendah, menginterupsi untuk Joona menghentikan langkahnya. “Begitupun aku, dokter Han. Aku merasakan perasaan yang sama denganmu dua tahun lalu.”

“Apa maksudmu?”

“Perasaan penuh duka dan kelam. Hidupmu seperti berakhir meski jantungmu berdetak tanpa henti. Aku mohon, jangan mengambil keputusan gila itu dan turunlah dari sana.”ujar Joona membujuk Jina, “Tidak. Ini lebih rumit. Jika aku tidak bisa hamil aku harus memenuhi janjiku dengan ibu mertuaku untuk menceraikan suamiku. Kau kira, aku bisa melakukan itu?huh?”

Joona memejam sebentar, kemudian tangannya bergerak menyingkap rambutnya yang panjang. Dirinya ikut frustasi melihat orang yang ia kira mempunyai hidup yang baik – baik saja. “Aku tahu ini berat, dokter Han. Lalu, kau ingin membuat suami anda bersedih?”

Jina mengusap bawah matanya dengan lengan kemejanya, begitu memilukan. “Kau tahu apa tentang hidupku?Hanya kita berpapasan tadi –kau bisa tahu keseluruhan hidupku?”tanya Jina membuat Joona sempat tertegun. Yang Jina katakan tidaklah salah. Namun, tindakan Jina juga bukan sebuah tindakan yang dapat dibiarkan saja. Joona memutar otak untuk membujuk Jina, maksudnya, segala masalah bukan akhir dari hidup. Dengan terpaksa, akhirnya Joona memutuskan untuk membuka lukanya sendiri demi menyelamatkan hidup orang lain.

“Aku merasa berat ketika aku tahu bahwa aku hamil dimana keadaanku belum dalam pernikahan. Aku hanya bertemu dengan dia sekali, dan setelah itu kami tidak pernah bertemu.Anda fikir itu tidak berat untukku?Aku sudah mengecewakan orang tuaku yang meninggal dalam kecelakaan –semasa hidup mereka aku selalu mengabaikan mereka, dan hingga detik ini aku dalam penyesalan. Apa kau tahu bagaimana rasanya menjalani hidup dengan perasan penuh sesal?hm. Jadi, aku mohon, hentikan berbuat hal gila –itu akan menyakiti suami anda, dokter Han.”

Beberapa rekan Jina yang merupakan dokter seperti Hayoung dan Junmyeon datang ke atap dengan menyiapkan rekan medis lainnya. Sementara, peristiwa itu telah menjadi tontonan banyak pasang mata yang terdiri atas kerabat pasien, staf rumah sakit, dan juga pasien.

Dengan wajah paniknya Junmyeon mengusap wajahnya sendiri penuh frustasi. Jina yang dirinya kenal tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini. Junmyeon sadar bahwa situasi Jina memang begitu naas, namun ini  bukan jalan keluar terbaik. Dengan berani, lelaki itu mengambil langkah besar dan hanya berjarak dua meter dari mantan kekasihnya itu. “Han Jina! Tenanglah, mari kita cari cara terbaik untukmu.”

Hayoung, selaku dokter yang memberikan hasil diagnosa atas Jina juga ikut mengusahakan agar Jina turun dari atas pembatas itu. “Kau juga bisa melakukan tes ulang, mungkin itu salah –ayo turun dari sana.”

Joona mundur begitu Soojin menelponnya, “Kenapa kau ikut campur tanpa bilang padaku?! Aku nyaris dimarahi Seung Woo. Tahu!?”dengus Soojin menarik Joona untuk kembali masuk ke dalam koridor Rumah Sakit. Hingga, Joona hanya menyaksikan itu dari kejauhan, berharap agar rekan dokter Han dapat mengubah pikirannya untuk tidak berbuat hal gila itu.

“Dia mau bunuh diri. Masa aku yang melihatnya diam saja.”

“Kenapa?”

“Dirinya menantikan seorang anak amat lama, dan sayangnya dia tidak bisa mengandung.”

Soojin kini membekap mulutnya sendiri, cukup terkejut mendengar itu. Ia berpikir bahwa kenapa Tuhan bisa begitu adil pada umatnya. Temannya yang tidak punya siapa – siapa, malah diberikan seorang bayi yang entah siapa ayahnya. Sementara, seorang wanita yang memiliki pernikahan bahagia harus rusak hanya karena ia tidak dapat mengandung.

Soojin membawa Joona dalam peluknya, sementara seorang lelaki dengan setelan tuksedo hitamnya masuk ke dalam area atap dengan wajah yang sudah tidak bisa dikatakan. Panik, mencoba tenang, takut ada di dalam matanya dan menyampur jadi satu.

“Ayo kita pulang saja. Kau sudah berpikir terlalu keras hari ini, Joona. Tidak baik untuk janinmu.”pinta Soojin dan membawa Joona dalam rangkulannya.

**

“Jika kau tidak cinta pada Chanyeol, maka silahkan saja bunuh dirimu. Berhenti menjadi kekanakkan Han Jina!”seru dokter Choi yang merupakan spesialis ahli kandungan. Terkenal dengan kalimat tajam namun bermaksud baik membuat dokter Choi hampir menjadi artist di Rumah Sakit Universitas Seoul ini. Jina yang mendengar itu hanya mengernyit, selain kepalanya mulai sakit entah karena apa, ia merasa malu karena menjadi tontonan orang banyak. Benar apa yang dokter Choi katakan, dirinya bukan anak kecil lagi.

“Aku sudah menelpon Chanyeol. Ini bukan akhir.”

Junmyeon mengangguk membenarkan, “Turunlah. Jika kau tidak ingin menjadikan kami semua sasaran empuk amarah Chanyeol dan ayahmu.”

Setelah membuat Jina lengah, dengan cepat tangan Junmyeon meraih tangan Jina dan membawanya untuk jatuh  dan tentu saja Junmyeon lah yang menjadi sasaran empuk untuk matrasnya. Entah kenapa Chanyeol selalu menjadi orang yang paling membuat Han Jina tidak berdaya untuk melakukan apapun. Apakah Jina begitu mencintai seorang Jo Chanyeol, ataukah ada sesuatu yang lain. Sibuk dengan pikirannya yang menimbulkan tanya, sebuah tangan besar dan kekar sudah mengangkat Jina dari atasnya, wajah Jina sudah pucat, dan ia sudah pingsan.

Dan, orang yang membawa Jina yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya.

Jo Chanyeol.

Jina segera dibawa oleh pihak medis, dan Sooyoung membantu Junmyeon untuk berdiri. Sementara Hayoung mengikuti Jina dan Chanyeol ke dalam. Junmyeon hanya memandang dari jauh pada Jina yang sedang berada di atas brankar.

“Terimakasih sudah menolong Jina.”

“Tak perlu. Aku hanya bertindak sebagaimana harusnya, dokter Choi.”

“Itu bukan karena kau ada rasa,kan?”

Junmyeon membersihkan jas kedokterannya, lalu mengangguk. Setelahnya, ia hanya pergi meninggalkan dokter Choi tanpa kata.

**

Sementara Jina ditangani, Hayoung hanya memegang jas dokter milik rekannya itu dan juga kertas hasil tes yang memunculkan malapetaka ini. Hayoung kemudian melipat kecil kertas itu dan memasukkannya ke saku jas dokternya begitu yang ia dapati kini Chanyeol berjalan menuju dirinya yang berdiri di meja pengawasan.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa istriku bisa melakukan hal gila itu?”tanya Chanyeol dengan matanya memandang Hayoung intens dan kesal yang membuat Hayoung hanya menggidikkan bahu dan menggeleng seraya memejamkan mata dengan memijat ringan dahinya yang berdenyut tak henti sejak tadi. Hayoung juga tidak tahu ada apa dengan hasil tes yang begitu mencengangkan. Dia bahkan sudah hampir mencoba hampir tiga kali tes pada Jina, dan hasilnya sama.

“A – Aku rasa.. begini, kau ingin mendengar ucapanku sebagai teman istrimu atau rekannya?”

Muncul sebuah kerutan di dahi Chanyeol yang makin tegas, meski dari tadi sudah muncul kerutan sejak di atap tadi. Dokter yang menangani Jina kemudian menghampiri keduanya yang sedang dalam pikirannya masing – masing. “Tuan Jo?”

“ –dokter Han mengalami shock setelah stress jangka panjang yang membuatnya benar – benar hilang kesadaran. Untuk saat ini, mari biarkan istirahat sejenak. Aku juga memberikan obat bius agar dia bisa istirahat lebih lama.” Setelah itu dokter Ha segera berlalu, sementara Chanyeol hanya kembali duduk di sisi Jina yang terbaring dengan infus di tangan kirinya dan diikuti Hayoung yang menaruh jas kedokterannya di ujung tempat tidur Jina. Hayoung memandang Jina lesu, “Aku masih ada beberapa urusan yang belum selesai. Mari bicara nanti saja, Chanyeol –ssi. Aku permisi..”pamit Hayoung yang segera berlalu tanpa repot – repot lagi menunggu jawaban dari Chanyeol. Hayoung benar – benar butuh susunan kalimat untuk menjelaskan situasi ini pada Chanyeol.

**

Mata Joona yang sempat menerawang pada bagaimana padatnya jalan raya kini hanya menatap Soojin yang sedang asik berchatting ria dengan Seungwoo. “Kau tahu..saat kita melewati UGD, aku seperti melihat dia.”

“Dia siapa?” Soojin masih asik dengan layar datar itu. Ada beberapa emotikon menangis yang Soojin kirim untuk Seungwoo, membuat Joona hanya menyenderkan kepalanya pada jendela bus tak bersemangat. “Ayah bayi ini.” Joona membuang napas pelan, seperti sudah tidak berharap apa – apa. “Ahh aya bayi –mwo!? Kau serius!?” Mata Soojin teralihkan seratus persen fokus pada Joona dengan melotot paling maksimal. Bahkan, saking kerasnya ia berucap membuat orang – orang satu bus memandang Soojin dan Joona heran.

Joona hanya memutar mata saja, “Kau memalukan. Ayo turun!”dengus Joona dan menekan bel tanda untuk bus berhenti pada halte berikutnya.

Soojin tak berhenti menyesap teh lemon yang ia pesan, bahkan tidak sampai sepuluh menit tinggal tersisa setengah gelas saja dari ukuran gelas single yang tinggi. “Jadi jelas kau tahu dia pasti kau tahu identitasnya,kan?” suara Soojin terdengar seperti wartawan yang sedang mengejar berita karena deadline, membuat Joona hanya mengetukkan jemarinya pada meja lalu mengangguk, dia menjadi senang dengan wangi aroma coffe di café namun tidak suka meminumnya, apalagi melihat orang yang minum membuatnya ingin menghardiknya dengan segera. Itu sebabnya, Soojin hanya memesan teh lemon saja.

“Namanya Jo Chanyeol.” Joona menjawab, ingin menyesap teh lemon Soojin namun tidak jadi. Mata Soojin sudah membulat maksimal dengan menatap Joona meminta jawaban lebih.

“Pekerjaannya? Alamat rumahnya?”

“Hanya Jo Chanyeol saja yang aku tahu. Kami bertemu di penyebrangan jalan dekat lampu lalu lintas dekat sebuah bar random yang aku kunjungi.” Joona tak menatap kemanapun, hanya seperti mengingat kembali pertemuan acak yang benar – benar mengubah hidupnya dalam semalam. Ada binar di mata Joona yang membuatnya bahagia, dan Soojin tidak mampu berucap selain bertanya agar Joona meneruskan ceritanya hingga selesai. Karena, untuk pertama kali Joona berbagi siapa lelaki yang menghamilinya seperti ini.

“Terus?”

“Dia mengembalikan dompetku yang terjatuh, mengenalkan namanya, dan aku mentraktirnya minum Bir sebagai balas budi atas kebaikannya. Kami minum bersama, mengobrol bersama.”

“Selanjutnya?”

“Sebelumnya aku yang melihat dia untuk pertama kali di Hotel tempat kerja paruh waktuku.” Joona justru mengalihkannya pada sudut cerita yang lainnya yang membuat Soojin kemudian mengernyit setelahnya.

“Hotel?”

“Iya, Hotel Venice.”

Mendengar nama Hotelnya saja membuat Soojin merinding, Soojin tahu benar bahwa itu bukan Hotel yang bisa di tempati oleh sembarang orang. Mengingat kondisi Joona dan dirinya hampir mirip yang jelas tidak mungkin untuk menaruh harapan besar yang mujur, berharap bahwa pangeran jatuh cinta pada gadis tukang roti itu tidak mungkin. Hal itu akan terjadi jika kita hidup di dunia dongeng. “Itu Hotel bintang lima. Hanya VIP dan VVIP saja yang ke sana, Ra Joona. Jika semuanya terlalu jauh bagaimana? Kau bisa terluka, Joona..”

“Karena itu.. aku hanya akan bilang padanya saja nanti mungkin.”

“Kau mau menelponnya sekarang?”

“Dia tidak meninggalkan apa – apa. Bahkan nomor telpon.”jawab Joona tersenyum miris. Nada bicaranya terdengar begitu sakartis membuat Soojin merasa pipinya tiba – tiba saja basah. Ada apa dengan nasib temannya ini? Mengapa begitu rumit dan memusingkan kepala.

“Ra Joona! Kau –benar – benar! Aku tidak mengerti padamu.”dengus Soojin sambil terisak dan menutupi wajahnya sendiri dengan telapak tangan, lantas Joona hanya menggeleng dan menepuk bahu Soojin, menenangkan temannya.

BERSAMBUNG..

Jadi… kalian di team siapa?? #teamjoona or #teamjina

 

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] WILL YOU BE THERE (Chapter 6)”

  1. Dan plis, kalo ada chapter yang dipassword kasih pemberitahuan dulu, sama dikasih tau cara dapet passwordnya

    *eh ngarep chapter password-an cie😂😅

  2. Hay thor, kapan updet?😂😂

    *author be like: ini anak nyelo amat

    Maap thor, bagus sih ff nya
    Jadi ditunggu2in kan 😂
    Di tunggu next chapt nya ya thor😚

  3. Mau ndukung joona tapi kok dikira dukung pelakor😂 cukup di ff aja ngedukung yang kaya joona, real life nya jangan😋

  4. aku berada di team chanyeol with me aja..
    dihh dari pada bingung kan..
    sedih malah akunya…
    jina joona sedih semua… hhhuuuuuaaaaaaaa
    jangan bilang entar anak joona buat jina??

  5. Q d tim d chanyeol aja sudah..aman..huahahahahahahah
    Akhirnyaaaa..penantian panjang berbuah maniiisssss….
    Mkin ksni mkin riweh ajaaa…jina ya…fighting..joona ya..fighting jugaa…chanyeol sma noona aja ya?huahahabababab

Tinggalkan Balasan ke VeeHun Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s