[EXOFFI FREELANCE] Entre (Chapter 8)

ENTRE (Part 8 – Kysse og Aurora)

By Shin Eun So / Nugichan (WP)

 

Casts :

Kwan Eunhye (OC), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO),

Hwang Min Hyun (Wanna One), Park Sohee (OC), Moon Reina (OC)

and Other Casts

 

AU, Romance, Hurt/Comfort

Chapter – PG’17

This is only a FICTION. The plot and story originally come from my mind.   

 

            Indahnya perpaduan warna aurora di langit

            Semua akan terlihat berbeda

Jika aku melihatnya langsung dari bola matamu.

Embun salju menyapu lembut kaca bus yang tengah membawa beberapa turis untuk menuju salah satu hotel di Kota Tromso, Norwegia. Ini adalah negara kedua yang Reina dan lainnya kunjungi setelah kurang lebih 3 hari menghabiskan liburan di Swedia. Mereka memutuskan untuk mengisi momen malam pergantian tahun dengan menyaksikan langsung pertunjukkan tarian aurora di langit kota terbesar di utara Norwegia, Tromso.

Ini mungkin masih seperti mimpi bagi beberapa orang yang pertama kali menginjakkan kaki mereka di negara-negara skandinavia, tak terkecuali Eunhye. Tak pernah terpikir olehnya dapat mengunjungi negara-negara di Benua Eropa dengan gratis, ia bahkan pernah memprediksi mungkin akan butuh sekitar 3 sampai 4 tahun hingga tabungannya cukup untuk membayar liburan ke Eropa. Bagaimanapun juga, Eunhye sangat bersyukur atas apa yang ia dapatkan sekarang.

Tanpa disadari segaris senyum di bibir Eunhye telah menarik perhatian seorang Oh Sehun, memunculkan pertanyaan di benaknya. Namun hal itu tak bisa mengalahkan rasa penasarannya saat fokusnya beralih pada sosok lelaki yang tengah menatap keluar jendela dan sesekali menarik nafas dalam kemudian menghebuskannya keras. Sehun yakin, tak hanya dirinya yang merasakan perubahan sikap Chanyeol, si maniak game online itu tak seaktif biasanya.

~  ~

“Astaga, gelap sekali! apa kita bangun terlalu pagi?” Sohee memandang heran keadaan Kota Tromso yang masih gelap, bahkan lampu jalanan masih menyala dengan terangnya.

“Semoga hari ini tidak akan terjadi Null Sun” tanggap Minhyun seraya melihat arlojinya yang hampir menunjukkan jam 9 pagi.

Null Sun ? berarti tidak akan muncul matahari sepanjang hari.” Sambung Eunhye, mengingat fenomena yang wajar terjadi di beberapa negara Eropa di bagian utara saat musim dingin tiba.

“Wahh..daebakk… apakah tak apa melakukan perjalanan ke bukit pada cuaca seperti ini?” Sohee mulai merasa ragu akan rencana Reina untuk mengunjungi salah satu tempat yang dijadikan wisatawan sebagai titik terbaik menyaksikan aurora borealis.

“Semua akan baik-baik saja Sohee, prediksi mengatakan jika malam ini cuaca langit akan cerah. Bukankah kita berencana untuk melewati malam pergantian tahun dengan menonoton aurora secara langsung? Lagi pula ada tiga orang pria yang selalu siap menjaga kita.” Sahut Reina, sekilas ia melirik ke arah Chanyeol, berharap setidaknya gurauan itu mampu memancing sedikit reaksi darinya, namun pria itu masih betah dengan ekspresi datarnya.

“Sebaiknya kita segera berangkat, bus tur telah tiba.” Ajak Sehun berbarengan dengan mini bus yang berhenti tak jauh dari mereka.

~  ~

“Woaahhh… ramai sekali.”

Kali ini giliran Minhyun yang berseru mengungkapkan kekagumannya. Mereka berenam telah tiba di area perbukitan yang menjadi salah satu tempat favorit untuk merayakan tahun baru. Salah satu bagian paling pinggir Kota Tromso yang terkenal sepi itu kini berubah menjadi ramai, beberapa restoran dan kedai berlomba menjajakan makanan hangat mereka.

Reina dan lainnya memutuskan untuk menyewa bungalow sebagai tempat peristirahatan sementara, sekedar untuk menaruh barang dan berganti pakaian. Jam sudah menunjukkan lewat pukul 12 siang, langit kota Tromso tak lagi semuram pagi tadi. Ini merupakan pertanda baik bagi mereka yang benar-benar menantikan pertunjukkan aura borealis.

“Aku dan Minhyun ingin membeli cokelat panas. Ada yang ingin ikut?” ajak Eunhye.

Belum ada tanggapan dari yang lainnya hingga Reina membuka suaranya.

“Aku dan Chanyeol akan berjalan-jalan di area perbukitan sebelah timur, katanya di sana juga ada sebuah clay house yang dijadikan club. Jika menarik, aku akan mengajak kalian kesana nanti. Kau sendiri Sohee?”

Sohee yang tiba-tiba mendapat pertanyaan nampak bingung, hingga ia memahami maksud ekspresi lain dari wajah Reina.

“Ah, aku dan Sehun oppa juga akan berjalan-jalan, mungkin kami akan berburu aneka kuliner di sini. Iya kan oppa?”

Sehun hanya menjawab pertanyaan Sohee dengan gumaman, walau batinnya sendiri menolak ide couple tour itu.

Akhirnya mereka berpisah dan berjanji akan berkumpul kembali sebelum jam 12 malam. Eunhye dan Minhyun memilih sebuah kafe berlantai dua tak jauh dari penginapan. Mereka memilih tempat duduk di samping pagar pembatas sehingga mereka dapat melihat langsung aktivitas beberapa turis.

“Kau harus mencoba hotdog, sozisnya benar-benar lezat.” Eunhye langsung merekomendasikan salah satu menu andalan di kafe itu setelah ia mendapatkan satu gigitannya.

“Emm, kau benar. Ini benar-benar enak.” Sahut Minhyun.

Eunhye tersenyum, namun detik berikutnya ekspresinya berubah.

“Minhyun-a, terimakasih dan….maaf”

Dahi Minhyun mengkerut, ia memelankan kunyahannya seraya memperhatikan Eunhye yang menunduk. Hingga detik berikutnya gadis itu kembali mengangkat wajah yang mengakibatkan netra keduanya bertemu.

“Maaf membuatmu terlibat.”

Minhyun menghela nafasnya seraya tersenyum, ia lantas meneguk air mineral dan kembali mengambil potongan sosis yang ada di piring.

“Aku pikir telah terjadi sesuatu denganmu. Eunhye, apa kau melihat diriku seperti orang yang terbebani?”

“Tidak, hanya saja …. aku merasa seperti orang yang telah memanfaatkanmu demi keuntungan diriku sendiri.”

“No..no.. bukan seperti itu. Bukankah kau yang meminta tolong kepadaku, dan aku dengan senang hati memberikan pertolongan kepadamu.”

“Terimakasih Minhyun, selain Nara, kau adalah orang yang mampu memahami diriku. Aku benar-benar bersyukur memiliki teman sepertimu.”

Senyum kembali terbit di wajah gadis itu, membuat Minhyun turut merasa kelegaan, namun entah mengapa ada satu rasa yang mengiring ke dalam hatinya, kecewa.

“Bagaimana sikap Sehun dan Chanyeol terhadapmu?” tanya Eunhye kembali.

“Mereka bersikap wajar terhadapku, namun akhir-akhir ini, aku merasa aneh dengan sikap Chanyeol.”

Eunhye termenung sejenak. Ternyata semua orang benar-benar merasakan perubahan sikap Chanyeol. Awalnya ia pikir pria itu hanya akan bersikap acuh terhadap dirinya, namun nyatanya hal itu juga membawa dampak pada yang lain. Apakah pria itu benar-benar tidak bisa melupakan kejadian tempo hari lalu? Apakah ia benar-benar memendam rasa itu di hatinya?

~  ~

“Apa kau sakit?”

Chanyeol yang berjalan beriringan dengan Reina di belakanganya hanya menggeleng pelan. Sejak mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di area timur perbukitan, Chanyeol tak sedikitpun mengeluarkan satu kata. Disini Reinalah yang aktif bertanya layaknya seorang reporter, mencoba mencari alasan yang menyebabkan pria itu berubah menjadi pendiam.

“Ishh, apa aku sedang berjalan dengan benda mati sekarang?”

Indra pendengar Chanyeol dapat dengan jelas menangkap gumaman Reina, pertanda gadis itu tak mampu lagi membendung rasa kesalnya. Chanyeol masih betah dalam diamnya, hingga langkahnya terhenti di sebuah batu besar yang terletak di pinggir tebing bukit yang berbentuk agak landai. Obsidiannya menyapu pemandangan pohon-pohon pinus yang tumbuh menjulang tinggi dan tertutup salju. Langit yang terlihat kelabu benar-benar kontras dengan suasana hatinya sekarang. Perlahan ia mengambil sebuah benda dari dalam sakunya. Ia lantas menatap dalam benda itu, membuat memorinya beberapa hari lalu terputar kembali di benaknya.

            Flashback

Dua buah paper bag berisi beberapa setel pakaian hangat menggantung di kedua tangan Chanyeol. Setelah ia menuntaskan pembayaran di kasir, pria berlesung pipi itu segera meninggalkan toko, namun langkahya terhenti ketika ada seorang anak kecil yang mencegatnya di depan pintu.

            “Hai tuan, apa kau ingin membeli perhiasanku?”

Chanyeol mengerutkan keningnya seraya memperhatikan anak kecil bermata amber yang tengah membawa beberapa aksesoris yang sebagian besar berwarna perak.

            “Apa kau memiliki kekasih?”

Chanyeol berhasil dibuat terhenyak dengan pertanyaan anak yang fasih berbahasa inggris itu. Ia nampak bingung sejenak kemudian mengangguk pelan.

Anak kecil itu tersenyum kemudian merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya.

“Belilah ini ! ini buatan kakekku yang paling spesial. Dia bilang jika kau memberikan ini kepada orang yang kau cintai, maka kekuatan akan mengikat cinta kalian berdua hingga sulit dipisahkan. Hanya 100 nok”

Chanyeol hanya tertawa dalam hati mendengar betapa hebatnya anak itu mempromosikan barang dagangannya, bagaimanapun ia adalah salah satu orang yang tak begitu percaya dengan hal-hal berbau mitos.

“Tidak, terimakasih.” Tolaknya halus, ia bersiap melangkah pergi, namun anak kecil itu menarik lengan bajunya.

“Akan kuberi diskon, 50 nok.”

Dan entah bagaimana akhirnya, anak itu berhasil membuat Chanyeol mengeluarkan selembar uang nok dari dalam dompetnya untuk membeli benda berbentuk kepingan kristal salju itu.

~  ~

“Chanyeol, kau tidak ikut?”

Minhyun hampir saja akan menutup pintu lift, namun ia urungkan begitu melihat Chanyeol yang masih berada di luar.

“Tidak. Aku ingin bermain ice skitting.” Sahut Chanyeol, hingga ia mendapat anggukan dari Minhyun yang kembali menutup pintu lift.

Chanyeol mengedarkan pandangan ke sekeliling salah satu resor ski terbesar di kota Stockholm-Swedia itu. Jika dugaannya benar, gadis itu masih berada di lantai satu untuk pergi ke toilet. Hingga detik berikutnya, senyum mengambang di bibirnya kala netranya menemukan keberadaan gadis yang tengah melihat daftar paket aktivitas resor ski.

Two packet ice skitting for us, please.”

Chanyeol langsung memotong perkataan Eunhye begitu gadis itu ingin memesan paket. Ia dapat menangkap keterkejutan dari wajah gadis itu, dan hal itu berhasil membuat debaran jantungnya meningkat. Entah mengapa ia benar-benar merindukan momen saat gadis itu berdiri di dekatnya sehingga ia bisa langsung menatap kedua netra indah itu.

Dan kali ini Chanyeol menang, ia berhasil membuat Eunhye menuruti keinginannya untuk bermain ice skitting bersama. Bisa dikatakan itu adalah salah satu momen terindah yang Chanyeol alami selama liburan itu. Momen dimana saat ia dapat melihat paras gadis itu dari dekat, menggenggam tangannya dan tertawa bersamanya. Namun momen indah yang hanya terhitung tak sampai satu jam itu mulai runtuh ketika mereka terlibat pembicaraan serius.

“Hwang Minhyun, aku menyukainya.”

Chanyeol menarik nafas dalam, hatinya sungguh terkejut akan kalimat lugas yang diucapkan Eunhye. Ia lantas berusaha menarik kedua sudut bibirnya dan mengeluarkan kekehan walau terasa sedikit berat.

“Sepertinya sainganku akan bertambah lagi.”

Sorot mata gadis itu berubah, seakan tak menerima gurauan Chanyeol.

“Aku serius”

Wajah gadis itu memerah, matanya terlihat berair. Chanyeol menghentikan tawanya, gadis itu bersungguh-sungguh.

“Aku akan terus berjuang!”

Chanyeol ikut merubah air mukanya, sungguh ia berharap genangan air cukup tertahan di pelupuk mata gadis itu. Ia paling benci ketika melihat manik indah itu memerah hingga pipinya yang merona harus basah karena air mata.

Eunhye menarik nafas dalam seraya memejamkan matanya. Terlihat bagaimana ia mencoba untuk mengendalikan dirinya dengan baik. Ia lantas kembali membuka matanya dan memandang ke arah Chanyeol.

“Terimakasih Chanyeol, kau telah mengajakku bermain ice skitting. Aku ingin menyusul Sohee dan Reina. Aku pergi dulu.”

Ya, hanya sampai disitu akhir dari kebersamaan Chanyeol dan Eunhye. Tak ada kalimat penjelas dan tanggapan dari mulut gadis itu. Jika dilanjutkan pun, perdebatan mereka tak akan ada akhirnya. Chanyeol dengan egonya dan Eunhye dengan tekadnya, sulit untuk mengalah.

Chanyeol hanya bisa tertunduk, seraya memandang kritsal salju perak yang ia beli dari seorang anak kecil bermata amber. Niat awal di hatinya ingin memberikan benda itu kepada Eunhye harus tertahan. Ia lantas meremas benda itu itu dalam genggamannya kemudian melemparnya ke atas tumpukan salju, hingga benda perak itu tertanam separuhnya.

Chanyeol benar-benar tak peduli dengan omong kosong yang anak kecil itu katakan, pada kenyataannya ia harus berjuang sendiri untuk meyakinkan hati orang yang dicintainya. Hingga beberapa tapak kakinya melangkah, ia merasa jaketnya tengah ditarik-tarik seseorang. Chanyeol berbalik dan menunudukkan wajahnya, melihat langsung seorang gadis kecil yang tangannya tengah memegang ujung jaketnya, sedangkan satu tangannya lagi memegang benda yang beberapa waktu lalu ia abaikan, kristal salju perak.

 

Flashback end

~  ~

Eunhye sekali lagi melirik ponselnya, berharap ada notifikasi balasan.

“Mereka belum membalasnya?” tanya Minhyun seraya mengeluarkan tripod dari dalam tasnya.

“Sohee sedang ada di bungalow. Sedangkan Reina, aku belum mendapat balasan darinya.”

“Sehun dan Chanyeol?”

Eunhye kembali menggeleng. Ini sudah hampir jam 11 dan teman-teman lainnya masih belum datang juga. Mereka akan berjanji untuk berkumpul di atas bukit untuk melihat langsung pertunjukkan aurora sembari merayakan detik pergantian tahun.

Selesai menata meja dengan bahan makanan untuk pesta barbeque, Eunhye menghampiri Minhyun yang tengah mengambil foto penampakan aurora yang muncul hanya dalam hitungan menit.

“Mereka indah bukan?”

Minhyun memperlihatkan gambar yang berhasil ia tangkap.

“Ini keren sekali, aku juga ingin  …oommo.”

Wae?” Minhyun heran dengan tingkah Eunhye yang tiba-tiba berlari menuju ke arah ranselnya.

“Aku lupa membawa kameraku.”

Eunhye menggerutu dirinya sendiri, bagaimana bisa dia lupa membawa kamera. Ia benar-benar tak ingin momen tarian aurora hanya terekam dalam otaknya.

“Tak apa, kau bisa pakai kameraku.” Tawar Minhyun.

“Bukannya sombong, tapi kamera yang ku bawa memiliki daya tangkap bagus untuk merekam fenomena aurora. Dan ini permintaan khusus dari sahabatku Nara.” Sungguh, kalau bukan karena sahabatnya Nara, ia tak berniat turun kembali dari bukit untuk mengambil kameranya.

“Aku akan menemanimu mengambilnya.” Ucap Minhyun.

“Tidak usah, aku bisa mengambil sendiri. Lagi pula makanan sudah tertata di meja. Kau tak perlu khawatir, di bukit ini juga banyak turis.” Eunhye mencoba meyakinkan.

“Baiklah”

~  ~

Sekilas terlihat kembali tarian aurora dari langit berwarna kehijauan dengan gradasi pink dan ungu. Eunhye sengaja memperlambat langkahnya menuruni bukit agar ia bisa sambil menikmati pertunjukkan fenomena alam yang indah itu.

Berbekal dengan cahaya dari ponselnya, Eunhye berjalan melewati pepohonan pinus yang tumbuh tinggi dengan dahan yang tertutup salju. Sesekali ia berpapasan dengan turis yang juga tengah menaiki bukit untuk mencari spot terbaik. Tanpa Eunhye sadari, seseorang tengah memperhatikan dan mengikutinya. Hingga tak lama kemudian Eunhye merasa seseorang menarik tangannya dan menyandarkan tubuhnya ke batang pohon pinus berukuran cukup besar.

Refleks Eunhye memekik, ia lantas mengarahkan cahaya ponselnya ke wajah orang yang menariknya. Betapa terkejutnya Eunhye begitu melihat sosok itu.

“Sehun, ada apa?” Eunhye masih mencoba menetralkan debaran jantungnya karena terkejut, ia pikir ada orang yang berniat jahat padanya.

Sehun diam tak menjawab. Perlahan ia mendekat dan meletakkan kedua tangannya ke pohon, tepat di samping wajah Eunhye.

“Berhenti berpura-pura.”

Satu kalimat akhirnya meluncur dari bibir tipis pria itu. Mata elangnya menatap tajam ke dalam manik Eunhye.

“Apa maksudmu?” Eunhye yang mulai merasa tak nyaman dengan sikap Sehun mencoba menenangkan dirinya. Ia tak mau terlihat gegabah dan kehilangan diri di depan pria itu.

“Kau tau alasan mengapa aku hanya perlu waktu tiga detik untuk membatalkan penerbangan ke New Zealand dan mengikuti kalian? Lebih tepatnya untuk menyaksikan drama yang kau mainkan sendiri”

Dalam, sungguh apa yang dikatakan Sehun dapat mewakili semua apa yang Eunhye khawatirkan selama ini. Pria itu sepertinya telah mengetahui rencana yang disarankan Nara kepadanya.

“Bagaimana kau begitu yakin jika aku hanya berpura-pura?” Eunhye sangat yakin jika Sehun pasti tak memiliki bukti konkret jika ia hanya mengandalkan perasaannya saja.

“Sabtu malam, 20 Juni, kurang 11 menit pukul 8 malam. Kau bersama sahabatmu Nara berkunjung ke Kafe Woody. Meja nomor 9, caramel mocha latte, macchiato, dan soufflé. Termasuk pembicaraan kalian tentang pria itu, Hwang Minhyun dan rencana keberangkatanmu ke Swedia. Apa ini semua masih belum meyakinkan?”

Eunhye merasa sedikit keringat membasahi dahinya yang tertutup topi jaket, suhu tubuhnya tiba-tiba meningkat bahkan mengalahkan hawa dingin salju di bukit itu. Ia benar-benar merasa bodoh sekarang, kafe yang ia kunjungi bersama Nara sekaligus sebagai tempat mereka bertemu dengan Minhyun adalah salah satu cabang Green Wood, pusat kafe terbesar dan terbaik di Korea Selatan, dan Oh Sehun adalah cucu dari CEO perusahaan itu, dan itu artinya ia juga memiliki wewenang terhadap bisnis yang dikelola kakeknya.

Helaan nafas keluar dari bibir Eunhye, ia masih mencoba mengendalikan dirinya.

“Baiklah, aku memang berpura-pura menyukai Minhyun. Namun dibalik rencana itu semua, aku sungguh bertekad untuk lepas darimu. Aku ingin mengakhiri semuanya Sehun-a.”

Eunhye terkesiap begitu Sehun semakin memangkas jaraknya, ia bahkan dapat merasakan hembusan nafas Sehun yang menerpa wajahnya.

“Jangan jadikan siapapun sebagai alasanmu.”

Eunhye terhenyak, Sehun begitu pandai, seakan dapat menebak arah pembicaraan Eunhye yang akan melibatkan Sohee sebagai salah satu alasannya.

“Seberapa banyak aku di hatimu?” Setelah terdiam sejenak, Eunhye mencoba memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang ia sendiri bahkan tak yakin untuk menanyakannya.

Sehun tak menjawab, ia justru dengan cepat menempelkan bibirnya di bibir gadis itu, seakan memberi jawaban seberapa berarti gadis itu untuknya.

Sehun hanya menempelkan bibirnya, namun ia begitu terkejut dengan respon Eunhye yang menggerakkan bibirnya, ia juga dapat merasakan cengkraman gadis itu di kerah jaketnya.

Seakan tersadar, Eunhye segera melepas tautan bibirnya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak berani menatap Sehun.

“Ini seharusnya tidak terjadi, bagaimana jika ada yang melihat kita?” Dirinya masih tak percaya atas apa yang dilakukannya barusan. Apakah hawa dingin telah merusak kinerja otaknya.

“Aku harap begitu.”

Kembali Eunhye begitu terkejut dengan sahutan Sehun yang begitu berani. Ia bahkan tak memikirkan sedikitpun resiko yang akan terjadi.

Tarian aurora kembali menghias di langit kota Tromso, mempiaskan langit kosong malam itu, membuat kesan pesona yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Kombinasi warna nan indah itu hanya dapat dilihat Eunhye dari pantulan obsidian seorang Oh Sehun yang kembali mendekatkan wajahnya. Jemari pria itu menggaris lembut sisi wajahnya, selembut bisikkan pria itu tepat di atas bibirnya.

“Sesungguhnya, kau sudah mengetahui jawabannya sendiri, Eunhye-a.”

Sehun kembali membawa Eunhye tenggelam pada ciuman yang dalam, seakan menjadi kesimpulan berbagai perasaan yang membuncah di hati mereka. Sekali lagi Eunhye harus mengalah pada egonya. Eunhye benci mengakui, jika pria itu masih menggenggam kuat satu bagian di hatinya.

Aurora menjadi salah satu saksi kedua insan yang masih terpaut kuat itu, tak terkecuali sepasang mata yang ikut menyaksikan dari balik pepohonan pinus dan dinginnya udara bukit.

 

Author’s notes :

            Ada yang masih ingat FF ini ?

            Syukur banget kalo masih ada yang inget, hehe

            FF ini terbengkalai sekian bulan semenjak kegiatan full week yang harus aku jalani di awal tahun. Liburan ini aku kembali termotivasi untuk melanjutkan nulis FF.. dan jujur, berasa absurd.

            Ditunggu like and commentsnya yaa..

 

           

Satu komentar pada “[EXOFFI FREELANCE] Entre (Chapter 8)”

  1. penasaran, sepasang mata itu siapa? Kak Ff ini jgn lupa di lanjut yha tetap semangat menulis, di sini kami menunggu chapter selanjutnya :v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s