[EXOFFI FREELANCE] Pieces of Yours (Chapter 1)

 

PIECES OF YOURS

Title : Pieces Of Yours – The Day We Met | Author : Rn | Cast : GG’s Kim Taeyeon & Exo-k’s Byun Baekhyun [main cast] – Byun Hyun Jung (OC) & Park Seung Woo (OC) [other cast] | Genre : Friendship, Sad, Family, Romance | Length : Chaptered  | Rating : PG-15 / T

DISCLAIMER

All the cast doesn’t belong to me. I just owned the story. No one can copy-paste this fiction, don’t claim this as yours. And i don’t i have any permission to gave many characters to all of casts that’s not their real characters, this is just for develope the storyline.
If there’s some similarities it was really an accident.

Also Posted in https://www.purpleblue05.wordpress.com

SUMMARY

Aku melihatmu, saat itu kau sendiri, lalu aku menemuimu, tapi mengapa? Saat itu aku bahkan tidak mengenalimu. Percaya saja, ada sesuatu yang terus memaksa diriku menemuimu.

 “That day, i see you alone, and suddenly i feel something that bring me to you.

***

PROLOG

Angin terus berhembus kencang, hujan terus mengguyur kota, seakan ikut menemani hati yang kini terluka.

Ditengah hujan lebat, ia hanya diam. Tak melakukan apapun. Hanya menatap kosong, rumput taman yang kini kian basah.

Semua tau ia tengah berpikir dan berharap.

Bagai dihantam beribu cambuk, aku hanya ingin semuanya tak terjadi.

Seandainya semuanya terungkap sejak awal, aku hanya ingin mengatakan aku tak ingin semuanya sampai sejauh ini.

Ia tidak tau apakah ia harus mulai melangkah mundur atau tetap bertahan dengan perasaan yang sejak lama menemaninya sampai sejauh ini.

Ia membutuhkan mesin waktu. Yang bisa membawanya jauh sebelum kenyataan ini terungkap. Ia hanya butuh itu. Namun, semuanya mustahil.

CHAPTER I

Seoul

March, 9th 2015

Aku hanya berdiri disini. Sendiri, tanpa seorangpun berada di dekatku. Hanya ditemani angin yang terus berhembus, membuatku sedikit mengeratkan mantel panjang yang aku kenakan.

Aku tak tau apa yang membawaku kesini. Semua ini seakan terjadi dengan sendirinya. Tanpa ada perintah sedikitpun yang diterima olehu saraf-saraf tubuhku. Aku merasa ada sesuatu yang lain disini. Pantai sepi tak seorang pun disana.

1 jam, 2 jam, sama sekali tak membuatku bosan. Bahkan perlu digaris bawahi bahwa hari ini tepat aku bertambah umur. Dan bayangkan saja, bukannya berkumpul dengan keluarga atau sahabatku, aku malah disini, dan untuk kesekian kalinya aku mengucap kata “sendiri”. Entah apa yang kali ini merasuk pikiranku, tetapi ia seakan ingin berteriak sekencang-kencangnya bahwa aku pernah ke tempat ini dan ini salah satu tempat favoritku. Meski aku harus mengakui bahwa ini pertama kalinya aku mengunjungi pantai ini. Aneh bukan?

Dan untuk kesekian kalinya, 1 jam berikutnya berlalu. Perlu ku tegaskan aku sama sekali tak merasa bosan, atau apapun itu, jika saja tak ada seorang pun yang tiba-tiba menepuk bahuku seenaknya. Dan ini membuatku merinding. Perlahan aku berbalik, dan hampir saja aku pingsan, kala melihat siapa yang memegang bahuku. Seorang pria yang tampaknya seumuran denganku tengah tersenyum ke arahku. Dan ini membuatku sedikit gugup, meski amarah tetap saja menguasai diriku.

“Ya! Permisi tuan, apakah kau pernah belajar mengenai etika ketika dihadapkan dengan orang yang sama sekali kau tidak kenal?” ucapku.

“Aaa.. Maafkan aku, aku tidak sengaja menepuk bahumu. Aku hanya merasa bosan, berhubung aku melihatmu, dan sepertinya kau sedang seperti melamun, aku hampiri saja kau.” ucapnya.

“Ya..ya.. Tapi bisakah kau tidak menepuk bahuku seenaknya? Bukankah kau bisa mengajakku berbicara, tanpa harus menyentuh bahuku seperti tadi?”

“Maafkan aku.” ucapnya.

“Ya.. Baiklah.” ucapku.

“Ehm.. Naneun Baekhyun imnida.” baekhyun? Ya, aku sudah hafal.

“Naneun Taeyeon imnida, baekhyun-ssi.”

“Nama yang bagus. Apa yang sedang kau lakukan di tempat sepi seperti ini?” tanyanya.

“Entahlah. Aku saja bingung mengapa aku pergi ke tempat ini. Meski hari ini aku berulang tahun.”

Ups, apa yang aku katakan?

“Hari ini kau berulang tahun? Dan kau berada di tempat seperti ini? Saeng il chukkae hamnida.. Saeng il chukkae hamnida. Saranghaneun taeyeon-ssi, saengil chukkae hamnida.” benarkah? Dia menyanyikan lagu ulang tahun untukku?

“Khamsahamnida. Untuk pertanyaanmu sebelumnya, aku tidak tau.” ucapku sambil membungkukkan badan saat berterima kasih.

“Cheonmaneyo.”

Beep..beep..beep..

Ponselnya berbunyi.

“Taeyeon-ssi, aku harus pulang. Senang bertemu denganmu.”

“Senang bertemu denganmu juga.” ucapku.

***

Taeyeon berjalan menyusuri jalan kearah rumahnya. Musim salju selalu membuatnya terus ingin keluar rumah. Meski udara diluar sangatlah dingin. Butiran demi butiran terus turun dari atas langit Seoul. Menemani tiap langkah kaki Taeyeon yang terus mengetuk jalan yang ditapakinya. Senyuman itu terus terlukis indah di bibirnya. Kedua telapak tangannya yang dibalut sarung tangan, ia masukkan ke kedua saku jaketnya.

Mengingat berjam-jam yang lalu ia hanya diam memerhatikan suasana pantai yang meracuni pikirannya, membuatnya kini kelaparan. Diperhatikan sebuah kedai makanan dengan asap dari masakan didalam sana terus mengepul, dan dalam waktu yang singkat, segera ia kesana.

Suara lonceng kedai terdengar begitu Taeyeon masuk kedalam sana. Dan beruntunglah Taeyeon, hanya ada beberapa pengunjung disana. Segera Taeyeon memanggil sang pelayan. Lalu memesan apa yang hendak ia makan.

Menunggu..

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampa berisi makanan. Tanpa menunggu lama, Taeyeon segera melahap makanan itu, tanpa henti.

Suara lonceng kedai kembali terdengar. Dan entah apa yang memerintahnya, Taeyeon segera membalikkan tatapannya dari makanan ke arah pintu kedai. Seorang pria dengan setelan jas panjang tengah memasuki kedai itu. Dan tak salah lagi, itu….

Byun Baekhyun?

Kedua tatapan itu bertemu dan Baekhyun hanya menyunggingkan senyum terbaiknya. Lalu, bergerak ke arah meja Taeyeon.

“Bolehkah aku bergabung?” tanya Baekhyun.

“Boleh.”ucap Taeyeon.

“Khamsahamnida Taeyeon-ssi.” ucapnya.

“Sudah lama berada disini?” tanya Baekhyun.

“Tidak. Eh, bukankah kau mengatakan kau ingin pulang? Apakah pemilik kedai ini orang tuamu?” tanya Taeyeon asal.

“Hahaha.. Tentu saja tidak, HyunJung yang menyuruhku kesini untuk membelikannya makanan.”

“HyunJung?” kata Taeyeon berusaha mencari tau.

“HyunJung, lebih tepatnya HyunJung hyung. Si kakak menyebalkan.” ucap Baekhyun.

“Ooo.. Kau punya kakak?” tanya Taeyeon.

“Ya. Tiri.” ucap Baekhyun lirih.

“Tiri? Maafkan aku jika…..”

“Tak apa.” potong Baekhyun.

“Baiklah. Kita tidak usah membahas itu.”

“Ya.”

sedetik kemudian keadaan menjadi hening. Diikuti dengan kedatangan seorang pelayan membawa pesanan Baekhyun, namun Baekhyun belum ingin beranjak. Dan tiba-tiba Taeyeon kembali bersuara.

“Hey, sepertinya kita seumuran. Kau masih bersekolah ?” Tanya Taeyeon.

“Ya tentu saja.” Jawab Baekhyun.

“dimana?”

Baekhyun menyebut nama sekolahnya, lebih tepatnya universitas yang saat ini ia tempati mencari ilmu. Yang sedetik kemudian membuat Taeyeon kaget dengan suara yang cukup tinggi.

“BENARKAH?”

“Ya! Bisakah kau kecilkan suara mu itu, eoh?” ucap Baekhyun sambil memegangi telinganya.

“Maaf.” kata Taeyeon sedikit menundukkan kepalanya menahan malu.

“Kau tau tidak. Aku juga bersekolah-perguruan tinggi- disana.”

“Tapi aku tinggal 2 tahun.” ucap Baekhyun.

“Aku baru ingin memulai. Kupikir kita setingkat, ternyata jauh.”

Ponsel Baekhyun berbunyi seakan menginterupsi kegiatan keduanya.

“Ya..ya.. Aku tau. Aku sedang bersama seseorang. Tunggu saja, hyung.”

Sambungan terputus.

“Wae? HyunJung oppa menunggumu?”

“Hey,hey! Apa yang kau katakan? “Oppa” ?” tanya Baekhyun sambil mengangkat salah satu alisnya.

“Ya, ada apa?” taeyeon membalas dengan tatapan bingung.

“Aku juga lebih tua darimu! Kenapa kau tak memanggilku seperti itu?”

“Kita baru saja kenal, Baekhyun-ssi.”

Setelah mengucap kalimat terakhirnya, Taeyeon kini mengutuk kebodohannya mengatakan hal seperti itu.

“Hey sadarlah! Beruntung kita sudah saling mengenal, sedangkan HyunJung hyung? Mengenalmu saja tidak. Huh..”

Sudah kuduga. Dia akan mengatakan itu. Bodohnya aku!

“Sudahlah tidak usah membahas itu. Lebih baik kau pulang sekarang.” kata Taeyeon kehabisan kata-kata.

“Baiklah. Annyeong Taeyeon-ssi. Lain kali panggil saja aku “oppa” aku tidak keberatan sama sekali.” kata Baekhyun berjalan keluar sambil melambaikan tangan ke arah Taeyeon.

“Huh..” ucap Taeyeon sambil mengendus.

***

What a tired day! Batin Taeyeon.

Ia segera mendarat diatas tempat tidur, setelah merasakan kelelahan yang menghampiri dirinya. Meski hanya berdiam diri di pantai dan bertemu dengan seseorang yang cukup aneh baginya, meski orang itu tak aneh, entah kenapa semua itu membuatnya lelah.

Kejadian yang menghampirinya hari ini, bisa terbilang aneh. Pertama, ia dibawa oleh tubuhnya sendiri ke pantai sepi, dengan pemikiran yang seolah-olah mengatakan bahwa itu tempat favoritnya. Dan kedua, ia bertemu dengan seorang pemuda, berjarak kurang lebih 3 tahun lebih tua darinya, yang juga dari nama terdengar tak asing. Ya, Baekhyun. Otaknya seakan terus berputar setelah mengingat kejadian hari ini.

Deo dangdang hage neon Mr.Mr. nal bwa Mr.Mr.

Ponsel Taeyeon tiba-tiba berseru seakan mencoba untuk menginterupsi kegiatan Taeyeon. Kilat Taeyeon segera mengambil ponselnya. Dan seulas senyum kini nampak di bibirnya.

Park Seung Woo menelponnya.

“Yobeseyo, SeungWoo-ya!” ucap Taeyeon girang.

“Saengil chukkae Taeyeon-ah! Apakah aku yang pertama?” ucap suara di seberang sana.

“Gomawo SeungWoo-ya. Sayangnya kau bukan yang pertama. Baekhyun yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun untukku.”

“Baekhyun? Siapa dia? Jangan bilang…..”

“Pemuda cukup aneh bagiku. Yang menemuiku ketika aku di pantai pagi tadi.”

“Ooo.. Bagaimana jika kita merayakan ulang tahunmu?”

“Ide yang bagus.”

“Aku akan mentraktir mu makan malam, sesukamu. Untuk sahabatku ini.”

“Waaahhh.. Ok, jam berapa?”

“Pukul 8 di restoran Han ahjumma.”

“Baiklah.” kata Taeyeon lalu memutuskan sambungan.

Menyadari sesuatu, Taeyeon segera keluar dari kamarnya. Dengan tergesa-gesa ia menuruni tangga yang menjadi penghubung lantai 1 dan 2 rumahnya. Dan begitu memijak anak tangga terakhir. Dua siluet manusia yang kian dikenali oleh Taeyeon membuatnya segera berjalan ke arah dua sosok tadi.

“Eomma, Appa!” ucap Taeyeon riang. Meski sudah masuk perguruan tinggi, sikap Taeyeon yang terkadang kekanak-kanakan masih sering muncul, tatkala gadis itu tengah senang.

“Ya.. Taeyeon-ah.” ucap appa Taeyeon.

“Duduk disini.” ucap eomma taeyeon berikutnya.

“Kau hari ini berulang tahun. Dan eomma appa ada sesuatu untukmu.”

Tak butuh waktu lama, sebuah kotak berwarna merah cukup besar terlihat setelah sebelumnya eomma Taeyeon mengambil sesuatu didalam lemari dapur. Dan tak salah lagi setelah membuka kotak itu, nampak sebuah kue dengan balutan cream berwarna ungu dengan rentetan kalimat disana.

Untuk Taeyeon tersayang.

Selamat ulang tahun.

Dan itu semua membuat Taeyeon benar-benar senang.

“Masih ada lagi. Tutup matamu.”

Taeyeon segera menutup matanya. Dan begitu mendengar aba-aba dari eomma dan appa nya untuk segera membuka mata, Taeyeon benar-benar terkejut didepannya terletak sebuah kalung dengan sebuah liontin cantik yang tergantung di kalung itu didalam sebuah kotak berwarna biru yang menganga lebar dihadapannya.

“Gomawo eomma appa!” ucap Taeyeon lalu berhambur kepelukan kedua orang tuanya.

“Ya Taeyeon-ah. Jaga ini baik-baik.” ucap kedua orang tua Taeyeon.

Tanpa ragu, Taeyeon langsung memakai kalung itu, membiarkannya melingkar indah di lehernya, membawa kesan berbeda dari penampilannya.

“Ini sangat indah.” ucap Taeyeon, sambil memegang kalung itu, “sepertinya aku akan menggunakannya malam nanti.”

“Malam? Kau mau kemana?” tanya appa Taeyeon.

“Makan malam.” ucap Taeyeon sambil tersenyum.

“Bersama siapa?”

“Park Seung Woo.”

“Sahabatmu itu? Lain kali kau harus mengenalkannya dengan kami.” ucap eomma Taeyeon.

“Ne eomma.” ucap Taeyeon

***

Taeyeon untuk kesekian kalinya tersenyum melihat pantulan dirinya di depan cermin. Lengkap dengan dress selutut birunya, dengan sebuah aksesoris yang ia pasang tepat di sisi kanan rambutnya. Seakan telah berdiri lama disana, segera ia mengambil tas kecil yang telah ia siapkan sebelumnya, tas berwarna putih polos dengan sebuah pita kecil berwarna pink pastel tepat di bagian tengahnya.

Sesaat kemudian ponselnya berbunyi. Kilat ia segera menyambar ponsel yang telah ia masukkan kedalam tas tadi.

Sebuah pesan masuk.

From : Park Seung Woo

( at 07.56 p.m. )

Kau dimana sekarang? Aku menunggumu. Ingat, jangan sampai terlambat, aku malas menunggu. Hehehe..

Taeyeon sedikit kesal melihat pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Seharusnya SeungWoo rela menunggunya meski harus berjam-jam, karena hari ini ia berulang tahun, SeungWoo pula yang mengajaknnya.

To : Park Seung Woo

( at 07.58 p.m. )

Iya..iya.

Send!

Taeyeon segera melangkah turun kelantai bawah. Belum beberapa langkah ia kakinya bergerak, Taeyeon kini terhenti. Dan lagi-lagi ia melupakan sesuatu yang penting.

“Siapa yang akan mengantarku? Appa sedang bersama dengan rekan kerjanya, sedangkan aku sama sekali tidak memiliki nomor taksi, aku tidak dapat mengendarai kendaraan, bagaimana ini?” ucap Taeyeon sambil menggaruk kepalanya kebingungan.

Setelah berdiri disana beberapa menit, akhirnya Taeyeon memutuskan untuk jalan kaki. Berhubung jarak restaurant yang dimaksud JungGu tidak terlalu jauh dari rumahnya. Mungkin lain kali ia harus belajar menyetir mobil.

Taeyeon hanya berjalan menyusuri jalan yang kian ramainya. Bersyukur ia pergi bukan pada waktu yang terbilang cukup larut, jika begitu, mungkin ia tidak akan sampai dirumah. Taeyeon terus melanjutkan perjalanannya, sesekali ia melihat ke arah kiri-kanan, berusaha melihat hiruk pikuk kota Seoul malam ini. Kini ia melirik jam yang terpampang di layar ponselnya, sambil berhenti ditempat ia berdiri sekarang.

Aku akan dimarahi habis-habisan kalau begini oleh anak itu! Argghh..

Suara mobil membuat Taeyeon sedikit menoleh. Mobil itu tepat berhenti disampingnya. Mengaku curiga dan berbagai pikiran negatif memenuhi otaknya, Taeyeon segera melanjutkan perjalanannya. Dan sekarang suara berat seorang pria kini menyerukan namanya.

“Taeyeon-ssi!”

“Taeyeon-ssi!”

Sepertinya dia mengenalku.

Dengan ragu Taeyeon perlahan menoleh ke sumber suara. Dan matanya kini membulat sempurna tatkala melihat siapa yang sejak tadi memanggilnya.

Byun… Baekhyun? Mau apa dia?

Taeyeon segera berjalan ke arah Baekhyun. Dan tak butuh beberapa detik ia sudah berada dihadapan pria itu.

“Annyeonghaseyo Taeyeon-ssi.” Ucap Baekhyun sambil membungkuk.

“Annyeonghaseyo. Wae?” balas Taeyeon.

“Eodiga?”

“Apakah itu penting untukmu?” tanya Taeyeon sambil mengenyitkan dahi.

“Tidak juga. Aku hanya melihatmu sendiri, dan mungkin ada baiknya jika aku menawarkan diri untuk mengantarmu.” ucap Baekhyun.

“Tak usah.”

“Gwaenchana Taeyeon-ssi. Lagipula sepertinya kau sedang buru-buru. Apakah kau masih menolak kebaikanku ini?”

“Apa yang sebenarnya diinginkan pria ini?!” Taeyeon menghela nafas panjang, “Baiklah.” ucap Taeyeon setengah hati.

“Ok! Kalau begitu silahkan masuk.” ucap Baekhyun sambil membuka pintu mobil untuk Taeyeon.

Taeyeon segera masuk kala Baekhyun membuka pintu mobil untuknya. Baekhyun pun segera masuk melalui pintu yang lainnya dan duduk di kursi kemudi.

“Jadi kau mau kemana?”

“Myeongdong. Ada restaurant disana yang ingin aku datangi.”

“Oh. Baiklah.” ucap Baekhyun.

Setelah beberapa kalimat yang keduanya ucapkan, keadaan menjadi hening. Tak ada seorangpun diantara mereka yang ingin bersuara. Keduanya hanya fokus dengan apa yang mereka kerjakan. Taeyeon fokus membalas pesan, sedangkan Baekhyun ia hanya sibuk menyetir. Dan tentunya keadaan seperti ini tidak disukai oleh Baekhyun. Siapa yang menyangka ia berpikir layaknya ia sedang menjadi supir saat ini? Seorang supir yang sedang mengantar seorang anak majikan. Setidaknya Taeyeon mengajaknya berbicara. Namun sia-sia saja sepertinya gadis itu tak mau berpaling dari ponselnya.

“Hey! Bisakah kau tidak fokus ke ponselmu saja?” tanya Baekhyun tetap melihat lurus.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Tidak ada.” ucap Taeyeon santai.

“Paling tidak kau mengatakan sesuatu. Kalau seperti ini, aku terkesan sedang mengantar anak majikanku.”

Taeyeon hanya menghela nafas, “Lagipula kau yang memaksaku bukan? Jadi, kau harus tanggung resikonya.”

Semua itu membuat Baekhyun mulai kesal.

Kau harus sabar Baekhyun. Kau harus terima resiko.

“Eh, aku belum mendengar sebutan ‘oppa’ sejak tadi.” kata Baekhyun tiba-tiba yang membuat Taeyeon menoleh.

“Apakah itu harus?”

“Yaaa.. Setidaknya begitu sebutan kepada seorang gadis yang lebih muda ke pris yang lebih tua darinya. Paling tidak kau bisa menyebutku ‘sunbae’. mungkin seperti ini “annyeong Baekhyun oppa, annyeong Baekhyun sunbae-nim.””

“Dasar menyebalkan!” batin Taeyeon, “ya..ya..ya Baekhyun oppa.” kata Taeyeon dengan penekanan di kata terakhir.

“Hahaha.. Bukankah seperti itu lebih baik.” ucap Baekhyun sambil tertawa kecil.

Keadaan kembali hening. Keduanya saling bungkam. Hingga sebuah restaurant yang begitu dikenali Taeyeon, membuatnya angkat bicara.

“Berhenti disana.” ucap Taeyeon sambil menunjuk ke arah restaurant yang ingin ia kunjungi.

“Benarkah disana? Itu restaurant milik Han ahjumma bukan? Aku sering sekali kesana karena Han ahjumma keluargaku.” jawab Baekhyun.

“Oh.” jawab Taeyeon.

***

Kini Taeyeon tepat berada dihadapan sahabatnya Park Seung Woo. Wajah kesal benar-benar tampak diwajahnya. Yang membuat sahabatnya itu hanya memasang tatapan penuh kebingungan mulai sejak Taeyeon ia lihat turun dari sebuah mobil dengan seorang pria yang tidak ia kenal yang membukakan pintu untuk Taeyeon. Taeyeon hanya duduk diam tanpa sedikitpun berniat untuk mengatakan sesuatu kepada Seungwoo.

“Taeyeon-ah. Gwaenchana?” tanya Seungwoo.

“Ya.” jawab Taeyeon singkat.

“Siapa yang tadi mengantarmu? Kelihatan asing.”

“Byun Baekhyun. Orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku.” ucapa Taeyeon datar.

“Baekhyun sunbae-nim? Astaga, aku baru tau kalau Baekhyun yang kau maksud adalah dia. Aku sempat berpikir bahwa Baekhyun yang kau maksud adalah dia, Namun karena kau sama sekali tak menyebutkan nama lengkapnya, aku jadi ragu. Nah, apa yang membuatmu kesal sekarang?” jelas Seungwoo panjang lebar.

“Jadi kau mengenalnya?”

“Tentu saja. Pria seperti dia, pria populer yang banyak disukai oleh para gadis. Siapa yang tidak tau dia? Kau benar ketinggalan informasi taeyeon-ah.”

“Pria seperti dia disukai para gadis? Yang benar saja. Baru bertemunya saja, dia sudah membuatku kesal. Dengan menyuruhku memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’. Menyentuh pundakku seenaknya saat di pantai waktu itu. Benar-benar diluar dugaan.” ucap Taeyeon kesal.

“Hahaha.. Kalau begitu jangan sampai kau jatuh hati padanya. Tunggu, bagaimana bisa dia mengantarmu?”

“Tidak akan dan tidak akan pernah. Dia menemuiku di jalan.” ucap Taeyeon datar.

“Astaga, jadi kau jalan kaki kesini?”

“Ya.”

“Baiklah, kalau begitu tutup matamu terlebih dahulu. Ada yang ingin aku berikan.” kata Seungwoo.

Tanpa menunggu lama, Taeyeon sudah menutup matanya. Dan secepat mungkin Seungwoo memanggil seorang pelayan, untuk membawakan sesuatu padanya.

“Buka!” ucap Seungwoo.

Taeyeon diam tanpa mengeluarkan kata-kata ketika sebuah boneka beruang berwarna biru tepat berada di depan matanya, menutupi wajah sang pemberi. Park Seung Woo.

“Untukmu.” ucap sebuah suara dibalik boneka, “Kuharap kau menyukainya, kau menyukai warna biru bukan?” lanjutnya.

“Aaa.. Gomawo Seungwoo-ya! Benar-benar diluar perkiraan kau akan memberiku hadiah.”

“Kau kira aku sejahat itu? Sama sekali tidak memberikan apapun kepada sahabatku?” ucapa seungwoo sambil mengangkat salah satu alisnya.

Park Seung Woo. Kim Taeyeon. Keduanya sudah dekat semenjak kecil. Berbagai hal dilakukan keduanya bersama. Ketika kesedihan menyelimuti salah satunya tak heran jika salah satu lainnya akan terus menemani. Bersama, satu kata yang tak pernah hilang. Berbagai anggapan mengenai mereka pun sering berdatangan, yang mengatakan bahwa hubungan keduanya bisa dipastikan lebih dari sahabat. Namun, mereka hanya menganggap bahwa itu suatu hal yang biasa.

***

Seoul
March 10th 2015

Taeyeon terbangun dari tidurnya tatkala sinar matahari mulai menembus setiap celah kecil kamarnya. Menambah kehangatan–meski tak dapat dijamin– di pagi musim dingin. Taeyeon berjalan pelan kearah jendela, membuka jendela kamarnya, yang menampakkan setumpuk salju yang belum juga mencair. Jalan-jalan di sekitar kompleks perumahan Taeyeon tetap sepi, hanya ada beberapa siswa yang berjalan kaki kearah stasiun bus.

Untuk apa mereka pergi se-pagi ini?

Taeyeon melirik jam dinding yang menghiasi dinding kamarnya. Dan begitu pandangannya tertuju pada jam dinding itu, matanya membulat seketika. Dia terlambat. Taeyeon segera menyambar handuk miliknya dan secepat mungkin masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Keluar dari dalam sana, Taeyeon segera mengambil celana jeans panjang dengan sebuah sweater berwarna putih dan syal berwarna pink pastel miliknya, memakai ketiga dalam waktu yang cukup singkat. Dan tanpa basa-basi rambutnya segera ikat kuncir kuda asal-asalan lantaran waktu yang tak akan pernah mundur, meski Taeyeon sudah menangis bahkan memohon dihadapannya.

Segera ia turun kelantai bawah, seorang pengurus rumah di rumah Taeyeon sudah berada di meja makan sambil mengambil beberapa piring yang telah kosong untuk segera ia cuci, hanya tersisa sepiring pancake disana. Itu pasti milik Taeyeon. Taeyeon segera mengarah kesana.

“Ahjumma, dimana appa dan eomma?” tanya Taeyeon sambil merapikan pakaiannya.

“Mereka tadi pagi sekali. Mereka keluar kota, mereka ingin membangunkan nona, namun mereka takut, karena nona masih tertidur pulas. Saya sudah membangunkan anda, namun anda tidak bangun juga.”

Taeyeon melirik jam tangannya.

“Tidak! Tinggal 10 menit lagi. Aku harus naik apa?”

“Ahjumma, bisakah kau menelpon taksi?” tanya Taeyeon.

“Tentu. Tunggu.”

2 menit kemudian.

“Taksi akan segera datang.” ucap wanita paruh baya yang Taeyeon sebut ‘ahjumma’ .

***

“Kumohon ahjussi, aku tidak akan terlambat lagi. Kumohon izinkan aku masuk.. Kumohon.” ucap Taeyeon nampak mulai pasrah.

“Bagaimana ya? Saya juga tidak bisa memperbolehkan mu masuk begitu saja. Karena peraturan adalah peraturan, saya juga tidak bisa melanggar.” ucap petugas penjaga gerbang kampus Taeyeon.

“Untuk pertama dan terakhir. Kumohon..” kata Taeyeon lagi sambil berusaha meyakinkan petugas yang berdiri dihadapannya.

Belum lama Taeyeon memohon, seorang pria yang begitu dikenali Taeyeon muncul, dengan sebuah earphone yang bertengger di lehernya.

“Taeyeon?” ucap pria itu.

“Dia lagi.” batin Taeyeon sambil membuang muka, “Baekhyun-ssi?” ucap Taeyeon lagi.

“Ya! Kau masih menyebutku seperti itu?” tanya Baekhyun sambil menautkan kedua alisnya.

“Aaa.. Terserah saja! Aku tidak bisa masuk, yang aku butuhkan sekarang masuk kesana, dan belajar. Bukan meladenimu seperti sekarang.”

Tanpa menunggu lama, Baekhyun beralih kearah petugas penjaga gerbang, tampak mengatakan sesuatu pelan hingga Taeyeon sama sekali tak dapat mendengarnya. Dan sedetik kemudian, pintu telah terbuka lebar.

‘Apa yang ia katakan?’ batin Taeyeon. “Khamsahamnida ahjussi, Khamsahamnida.” ucap Taeyeon sambil membungkukkan tubuhnya beberapa kali.

Dengan jelas Taeyeon melihat Baekhyun sudah pergi berlalu dari tempat pria itu semula. Taeyeon berlari kecil kearah pria itu. Namun sialnya pria itu terlalu cepat berjalan. Membuat Taeyeon menjadi lebih kelelahan. Ditinggal jauh, akhirnya Taeyeon memutuskan untuk langsung ke kelasnya.

***

Taeyeon terduduk malas di bangku lapangan dimana beberapa seniornya tengah bermain basket. Sambil memegang sebuah novel tebal yang belum ia selesaikan. Entahlah ia sedang membaca atau sedang memperhatikan senior-seniornya. Dan seorang pria seumuran dengannya tiba-tiba datang duduk tepat disampingnya sambil melingkarkan salah satu lengannya di leher Taeyeon.

“Ada apa denganmu?” tanya Seungwoo.

Taeyeon tak merespon.

“Hey! Taeyeon-ah..” kata Seungwoo lagi.

“Ya? Kau mau tau? Aku sedang kesal. Aku kesal selalu bertemu dengan Baekhyun itu. Dan dia membuatku kelelahan pagi tadi, karena mengejarnya.” ucap Taeyeon dengan suara yang meninggi.

“Mengejarnya? Jangan bilang, kau mengejarnya karena ingin meminta tanda tangannya? Astaga, aku tidak habis pikir. Baru semalam kau mengucapkan untuk menjauhinya, tidak akan jatuh hati padanya. Sekarang, kau malah mengerjarnya. Bagaimana? Apa yang aku bilang. Jika suatu saat kau benar-benar suka dengannya, jangan sampai kau lupa denganku…” ucap Seungwoo panjang lebar sebelum ia melanjutkan kalimatnya Taeyeon sudah menatap lurus ke arah Seungwoo. Dengan tatapan tajamnya, seolah-olah ia ingin memperingati Seungwoo agar ia segera berhenti, sebelum ia menghabisi anak itu.

Seungwoo secara tiba-tiba bungkam tak ingin membuat singa dihadapannya tiba-tiba mengamuk, “Taeyeon-ah, jangan marah seperti ini. Kau kelihatan menyeramkan.” ucap Seugwoo pelan.

“Sudah kubilang, aku tidak akan pernah menyukainya!!! Bisakah kau berhenti membahas tentangnya?!! Bisakah kau tidak langsung menuduhku seperti itu, eoh?!!” ucap Taeyeon keras yang membuat beberapa orang yang lewat melihat kearahnya.

“Ya..ya. Aku tau, aku hanya bercanda. Oleh karena itu, jangan diam seperti tadi. Kau ingin membuat sahabatmu ini, hanya diam mengikuti apa yang kau lakukan, kau pikir itu tidak membosankan?…” kata Seungwoo yang tiba-tiba terputus lantaran Taeyeon segera bersuara, “Bisakah kau berhenti?” ucap Taeyeon datar.

“Iya. Tentu.” ucap Seungwoo sedikit menunduk.

Diikuti dengan akhir dari ucapan Seungwoo, rombongan senior-senior Taeyeon dan Seungwoo melewati mereka selepas bermain basket. Dan tepat pada saat itu Baekhyun muncul dengan seulas senyuman ramah yang ia tujukan pada Taeyeon.

“Taeyeon…” ucap Baekhyun.

Taeyeon hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Dan tepat setelahBaekhyun pergi suara tertawaan pria disamping Taeyeon kembali menggema di telinganya. Segera Taeyeon kembali menatap pria muda disampingnya, yang dilihat kembali menunduk.

to be continued.

Author Note 

Hello!  Well, ini adalah ff lama aku, udah tahunan, dan setelah sampe ke chapter 6 hingga 10, sedih banget karena di blog pribadi udah sepi pengunjung, sementara aku yang butuh banget komentar, kritik, saran mengenai chapter-chapter itu dari para readers.

Hingga akhirnya aku mutusin untuk kirim ini sebagai ff freelance di blog ini😊 semoga kalian suka dengan ceritanya, semoga ini alurnya gak terkesan kecepetan, komentar kritik saran kalian sangat berguna untuk aku😊

Terima kasih

 

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Pieces of Yours (Chapter 1)”

  1. heeyoo heyoo authornim~~
    aku izin baca ya disini xD btw aku suka alur yang manis gini trus baekhyunnya suka godain” gitu bikin melting ㅠㅠ

    tapi yang aku sayangkan bngt karakter utamanya itu Taeyeon :” kurang ngena feel nya kalo mnrt readers yg pecintah OC bersatu dengan baekhyun x’D

  2. Annyeong thor~😊 keputusan thor ngirim cerita ini tepat banget!!top dah.. suka banget sm alurnya!next chapternya jangan lama2 ya thor~ku tunggu dirimu.. wkwk .fighting!

    1. Annyeong:)) seneng banget ada yg komen:D baguslah kalau kamu suka, thankyouu for reading:)) untuk chap selanjutnya udah ku kirim kok:)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s