[EXOFFI FREELANCE] WILL YOU BE THERE (Chapter 5)

Title |  Will You be There

Author|RHYK

Cast|               Rose [Blackpink]         as Ra Joona

Park Chanyeol [EXO] as Jo Chanyeol

Han Sunhwa as Han Jina

Additional Cast| Ong Seungwoo [Wanna One] as Ha Seungwoo

Length| Chapter

Rate | PG 17 (terserah kalian aja sih mau rate berapa. Baca aja. Jangan di contoh kecuali udah dihalalin *eehh)

Genre| Alternate Universe – Drama – Romance –Sad –Life –Marriage life

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Quotes| Dalam kisah ini, akankah seseorang menantiku di sana?

Summary this Chapter|

Previous Chapter|[0] Teaser >> [0.1] Intro Cast >>

[0.1] Intro Cast >>

[1] ] Domino >> [2] One night stand

[3] Beautiful Nightmare >> [4] Doubt >>

[5] Promise

Janji. Kesepakatan yang dibuat atas persetujuan antara dua manusia, umumnya hanya antara dua orang, meski janji juga bisa dibuat untuk kesepakatan orang banyak demi mencapai tujuan tertentu. Namun, ini hanya tentang dua orang manusia yang sedang punya kuasa sementara manusia yang satu hanya seseorang memiliki sebatas cinta, lalu dibalik keputusasaan salah satunya, sebuah kesepakatan dibuat. Tanpa sadar, bahwa perjanjian itu dapat menghancurkan harap seseorang. Cepat atau lambat.

[5]

2 Years a go..

Bulan ini menjadi minus dua bulan sebelum pernikahan keluarga keturunan dokter dan pemilik hotel itu terlaksana, dan seperti biasa, menemui calon ibu mertua menjadi rutinitas gadis bermata segaris itu selama enam bulan terakhir. Tentu saja ia sendiri, dan tidak mengajak calon suaminya, karena tidak berkaitan dengan hal-hal yang akan dua wanita berbeda rentang usia itu bincangkan.

Lantas, wanita muda itu duduk dengan anggun di hadapan calon ibu mertuanya yang sepertinya sudah datang lebih dulu darinya, “Eomoni, maafkan aku menunggu lama.”ia membuka perbincangan, tak lupa kurva dibibirnya membentuk sebuah lesung pipi yang panjang membuatnya makin anggun dan cantik. Wanita paruh baya itu hanya mengulas senyum memaklumi dan menyesap teh chamomilenya dengan elegan, dan wanita yang ada dihadapan sang ibu calon mertuanya ini hanya menatapnya ramah, tak kalah elegan.

“Tidak apa-apa, aku tahu itu tuntutan profesimu. Jadi, pernikahan kalian terlaksana dua bulan lagi bukan?”tanya sang calon ibu mertua terlihat anggun namun tegas, kemudian disambut oleh anggukkan membenarkan calon menantunya itu, “Ne, eomoni.. semuanya sudah siap dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.”ujar Jina, seraya menerima cangkir teh krisan yang baru diantarkan oleh seorang waitress.

Tak lupa, Jina mengulas senyum sebagai ucapan terimakasih pada sang waitress bagaimanapun, Jina adalah seorang wanita ramah yang benar-benar baik pada seluruh orang. “Jika kau tidak ada yang dikhawatirkan, sepertinya aku sangat tepat memintamu datang hari ini.”ungkapnya membuat Jina mengerutkan dahinya, sepertinya saat ini bukan pembicaraan santai seperti pertemuan sebelumnya. “Ne?apa maksud anda?”tanya Jina lalu menyesap tehnya, “Mari kita buat kesepakatan, mungkin sebuah perjanjian yang hanya aku dan Jina –ssi saja yang tahu.”

Jina mengurungkan niat untuk menyesap tehnya ketika mendengar kalimat yang terlontar dari bibir nyonya Jo. Garis wajah Jina tak menenang sama sekali, bahkan terkesan benar-benar penuh tanya. “Perjanjian.. tentang apa,eomoni?”

“Jika kau tidak punya anak dari rahimmu dalam dua tahun, maka ceraikan Chanyeol. Karena, yang berhak menjadi istri Chanyeol adalah seseorang yang sedang melaksanakan tugasnya di luar negeri sana.”ucap sang ibu berkata santai, sedangkan Jina bingung kini ia sedang diancam ataukah direndahkan oleh calon mertuanya? Itu terdengar seperti Jina bukan wanita baik-baik dan tampak tidak sehat, gadis itu panas mendengarnya. “Jadi, anda fikir pernikahan ini terlaksana hanya karena aku menginginkan harta Chanyeol, begitu?”

Ibu Chanyeol tertawa anggun, ia kemudian menggeleng dan masih tersenyum, dengan mendapati Jina yang sedang menatapnya tidak percaya. “Bukan, bukan begitu. Aku tahu kau adalah wanita baik-baik, Jina-ssi.Hanya saja, ini lebih sulit dari yang kau bayangkan, nona Han. Jadi, lebih baik kau menyetujui kesepakatan ini.”sahut Ibu Chanyeol berusaha mengatakan halus agar Jina harus menyetujui perjanjian ini. Jina tersenyum miring mendengar titah Ibu dari lelaki yang ia cinta. Lantas, gadis itu menyedakapkan tangannya. “Bagaimana jika aku tidak menyetujui perjanjian ini?”

Tanya Jina membuat Ibu Chanyeol mengeluarkan kartu As yang ia yakin akan membua Jina bungkam,“Keluargamu bergantung padamu, aku tahu banyak celah yang bisa membuat Rumah Sakitmu berhenti beroperasi.”

Jina benar-benar terbungkam begitu mendengar perkataan halus nyonya Jo, lantas ia tidak dapat berkutik, bukan ia tidak mau, seperti yang dikatakan bahwa keluarganya bergantung pada keputusan Jina, dan ia tidak mungkin menghancurkan kehidupan banyak nyawa hanya untuk keputusan bodohnya tidak ingin menyetujui perjanjian itu. Namun, mau Jina fikir berulang kali juga, kedengarannya perjanjian itu benar-benar terlihat konyol. Maksud Jina, tidak mungkin ia tidak hamil dalam dua tahun ini. Jadi, akhirnya meski berat hati, gadis itu memberikan jawaban, “Baiklah, aku menyetujui itu.”

∞∞∞

“Kemungkinan terbesar adalah teman anda tengah hamil, biasanya di awal umur kandungan calon ibu sering merasakan mual di pagi hari, itu normal untuk orang yang sedang hamil, Tuan.”

Kalimat itu terus menghantui kepala Seungwoo seusai perjalan pulang dari apotek ke flat Joona, hingga dari flat Joona kembali ke toko rotinya. Tentu saja, Seungwoo mendengarkan penjelasan aneh itu dari apoteker yang melayaninya saat di apotek –membeli obat untuk Joona, maksud Seungwoo itu memang masuk akal saja untuk wanita yang sedang hamil.

Tapi, Joona? Kalbu dan logika lelaki itu sangat yakin bahwa Joona hanya mual karena kelelahan. Maksudnya, selama ini Joona skeptis dan apatis dengan dunia romansa, ia tidak pernah bercerita bahwa ia sedang jatuh cinta selama –Tunggu, mengingat konversasi dengan Joona beberapa bulan silam membuat Seungwoo menggebrak nampan yang berisi adonan rotinya cukup keras, membuat seluruh orang di dapur itu tersentak. “Boss!Ada apa dengan anda?”tanya salah satu karyawannya dengan wajah bingung, lantas, Seungwoo hanya melepas apronnya dan berkata, “Tolong buat adonan baru, aku harus kembali ke rumah dulu.”

Ne, boss..”jawab salah seorang karyawannya yang bertubuh gembul, dan yang lainnya hanya menatap atasan mereka yang meninggalkan dapur dengan perasaan bingung dan penuh tanya. Karena, boss-nya bukan tipe seorang yang galak seperti tadi, dan menurut mereka itu menyeramkan.

Seungwoo kembali ke rumahnya, lantas dengan langkah gontai ia merebahkan dirinya di sebuah sofa. Menghela nafas panjang, logika dan hatinya tidak sinkron lantas begitu ada panggilan dari Soojin ia hanya mengabaikannya saja.

∞∞∞

Soojin hanya mendecak kecil begitu panggilan telfonnya tidak dijawab oleh Seungwoo, sambil melangkah santai menuju flat Joona ia mengirim pesan teks pada kekasihnya itu yang berinti bahwa ia sudah tiba di tempat yang diminta oleh lelaki itu, lantas tidak menunggu balasan dan hanya sekedar memberi kabar, Soojin berjalan keluar dari elevator dan berhenti pada pintu paling ujung dari lorong, ia menekan bel interkom sebanyak dua kali.

Lalu, menekan lagi sekali dan pintu baru terbuka. Joona tampak membulatkan matanya terkejut seakan ia tidak menyangka kedatangan tamunya ini. Soojin melangkah masuk tanpa Joona pinta, lantas ia menanggalkan sepatu pantopelnya dan menaruhnya di rak yang tersedia, lantas bertelanjang kaki di dalam flat Joona. “Kau bilang akan datang nanti malam,”imbuh Joona yang duduk di sofa, sementara Soojin berjalan menuju kulkas dan mengambil minuman berkarbonasi kaleng dan membukanya, lantas dengan nikmat meneguk minuman tersebut.

“Tiba-tiba saja, aku berubah fikiran. Seungwoo tidak bisa bekerja nanti karenamu.”sahut Soojin frontal saja, bukan karena ingin mengajak Joona bertengkar, hanya saja Soojin bertipikal bicara spontan hanya sesuai dengan fakta saja.Joona hanya tersenyum masam saja lantas ia ingin mengambil alih minuman yang dipegang Soojin namun batal, ia hanya menelan salivanya saja dalam-dalam. “Kenapa?tidak jadi minta?”tanya Soojin seraya menyodorkan minuman kaleng yang masih berisi setengah lagi, Joona hanya menggeleng pelan –ia hanya ingat bahwa dia tidak sendiri, namun ada orang lain di dalam perutnya, entah nyata atau tidak.

“Tidak jadi.” Soojin hanya menaikkan bahunya, lalu meneguk minumannya lagi. “Oh ya, bagaimana perutmu?”tanya Soojin membuat Joona membelalakan matanya menatap Soojin, “Apanya?!” yang justru dibalas dengan kerutan di dahi gadis berponi itu. “Perutmu masih mual atau tidak? Memangnya kau berfikiran tentang apa?” Soojin menanggapi cuek, “Periode menstruasiku tidak lancar akhir-akhir ini, apa aku stress ya, Joona –ya?” Soojin bertanya-tanya, “Lalu, apa kau sudah melakukan itu dengan Seungwoo?”tanya Joona ambigu, membuat Soojin menaikkan sebelah alisnya, “Itu apa? –‘ Soojin membelalak, “mwo!?itu .. itu?”Soojin terbata,matanya masih membulat. “Hei! Aku sayang dengan diriku, dan Seungwoo bukan orang yang menjalin hubungan karena itu.Dia menghargai wanita.”ujar Soojin menutupi dadanya.

Joona hanya tertawa kecil, lalu Soojin merasa ada yang aneh dengan Joona. Ia pun teringat dengan pesan Seungwoo, lalu dimulailah misinya. “Joona –ya, kau.. badanmu terlihat lebih berisi,”

hmm..tidak juga.”Joona mengelus pipinya sendiri, lantas ia bangun dari tempatnya, Soojin mengamati gadis itu, dan ia menemukan titik terang –tidak hanya pipi, namun perut gadis itu juga sedikit membuncit, namun Soojin bukan ingin menanyakan itu. “Sejak kapan kau mual?” tanya Soojin membuat Joona menghentikan aktivitasnya yang sedang mengangkat jemuran bajunya yang ada di balkon flatnya. “Dua atau tiga hari lalu,mungkin?” Joona tampak menerka saja, lalu membawa semua cucian keringnya ke dalam, Soojin ikut membantu Joona melipati pakaian.

SOO JIN

Aku sesekali mencermati Joona yang bolak-balik mengerjakan sesuatu, sementara aku melipat pakaian yang baru saja kering dari jemuran, aku bukannya tidak mau bekerja sama dengan Seungwoo mengenai apa yang sedang aku fikirkan, namun, kalau diteliti lagi aku merasa aneh juga pada Joona, gadis itu bukan tipe gadis yang perduli dengan tata letak barang, ia cenderung rapih seadanya dan tak mementingkan pewangi ruangan, namun nampaknya Joona baru saja membeli itu karena masih tertempel price tagnya disana.

Ia juga bukan tipe yang enggan untuk meminum atau memakan apa yang sudah dicicipi oleh orang lain, namun tadi Joona seperti tidak mau meminum itu karena aku sudah meneguknya lebih dulu. Itu, bukan kebiasaan Joona. Maksudnya, tidak mungkin seorang wanita mengubah kebiasaannya begitu cepat, kan?Kecuali memang ada yang memintanya ataupun ada orang yang membuatnya ingin berubah. Atau merupakan sebuah bawaan –yang terakhir aku ingin lupakan saja.

“Seungwoo bercerita padaku bahwa beberapa bulan lalu kau sedang kasmaran pada seseorang? Itu benar?”tanyaku lagi, Joona yang sedang mencuci piring di dapur membelakangiku segera menoleh ke arahku, lantas ia fokus pada aktivitasnya lagi. “Mungkin, tapi sepertinya kami tidak dalam takdir yang sama.” Joona menjawabku dengan nada rendah, intonasinya melemah, ia kemudian membuang nafasnya. Lalu berjalan ke arahku, cucian piringnya yang belum selesai ia tinggal begitu saja, “Aku lelah, ingin tidur. Apa kau bisa melanjutkan sisanya, Soojin –ah?”tanyanya padaku tanpa menunggu jawabanku ia segera masuk ke dalam kamar, dan menutup pintunya.

Buk!

“Baiklah, aku akan kerjakan.”kataku lalu menyelesaikan sisa pekerjaannya. Aku tertegun begitu melihat hanya baru dua piring yang bersih di wastafel, dan yang lainnya masih kotor.Apanya yang lelah jika hanya dua piring?tanyaku dalam hati. Dan itu, kembali menambah asumsiku. Lalu, jika apa yang aku fikirkan adalah benar –aku segera menggeleng, lalu merapihkan perkerjaan Joona yang belum usai.

Soojin side’s end

Flat Joona begitu hening. Keran wastafel baru saja mati, dan Soojin mengelap tangannya dengan lap tangan. Langkahnya menuju kamar Joona, Soojin kira –awalnya gadis itu mengunci kamarnya, namun ternyata tidak. Dan, Joona benar-benar tidur nyenyak di atas kasurnya, Soojin menaikkan selimut Joona hingga menutupi selangka gadis itu, merasa mengantuk juga akhirnya Soojin masuk ke toilet kamar Joona dan membasuh wajahnya.

Kotak P3K terbuka, beberapa handuk yang tersusun jatuh di lantai, Soojin merasa heran, lantas memungutnya dan mengembalikan barang-barang itu ke tempatnya, namun ketika Joona meletakkan kotak P3K sebuah benda jatuh dari atas cermin. Lantas, ia hanya menaruh kotak obat itu ke tempatnya dan baru kembali mengambil barang yang terjatuh tadi dengan tangannya yang berkulit lembut dan jemarinya yang lentik.

Soojin mengernyit begitu yang ia temukan sebuah test-pack berwarna pink. Dan, begitu melihat hasilnya mata Soojin melebar sempurna, matanya tak berkedip untuk persekian detik. Soojin langsung teringat dengan kata-kata Seungwoo yang mencurigai sikap Joona yang aneh. Lantas, gadis itu segera keluar dari kamar Joona, dan menggenggam ponselnya erat –mata Soojin tak bisa diam, lantas tanpa sadar ia menjatuhkan bulir bening miliknya. Pantas, semua sudah jelas dan jawabannya benar-benar tidak bisa diterima nalar Soojin, “Lelaki mana yang pantas membuat Joona menjadi seperti itu.”

Sungguh, Soojin ingin mati saja sekarang daripada harus dipinta untuk memihak siapa diantara kedua orang ini.

∞∞∞

Lelaki itu terlihat gelisah di meja kerjanya, beberapa kali jemarinya mengetuk meja import dari Turki itu. Nafasnya yang begitu tergesa menandakan kegelisahannya yang tak juga mereda. Sesungguhnya, jika tidak ada Jina lelaki berparas manis dan tampan ini terus seperti itu sekitar empat bulan terakhir ini. Ia seperti dihantui oleh malam gelap dimana ia tidak mendapatkan cahaya sedikitpun. “Ya Tuhan, seharusnya aku tidak melakukannya pada gadis itu.” Tiba-tiba saja ada suara ketukkan pintu mengaburkan fikiran gundah direktur Hotel Venice itu.

Tok tok!

“Masuk.”pintanya singkat, lantas ketika yang menyembul dari pintu adalah orang yang ia kenal bahkan teman akrab membuat sebuah senyuman merekah di bibir lelaki bertubuh tinggi itu. “Ternyata kau, Eunwoo. Ada apa?”tanya Chanyeol, “Kebetulan pernikahan temanku di ballroom hotelmu.Sekalian saja ke sini.”ujar Eunwoo yang baru saja ingin melandaskan pantatnya di sofa empuk, ditahan oleh Chanyeol, “Ayo mengobrol di luar denganku.”

Mereka kini berada di rooftop Hotel Venice, Chanyeol tahu betul kapan waktu rooftop itu sepi, karena kalau bukan topic sensitif yang akan dibicarakan maka ia tidak akan memilih tempat ini sebagai destinasi terakhirnya. Ia tidak ingin membuat gossip tidak jelas mengenai dirinya yang bisa membuat reputasi hotelnya hancur.

“Sepertinya kau muram sekali, wajahmu benar-benar –‘desis Eunwoo dengan wajah ethrealnya. Chanyeol tak menyangkal, justru ia membenarkan sambil duduk santai. “Begitulah,”

“Apa ini tentang kebohonganmu yang harus aku katakan pada Jina?”tanya Eunwoo yang disambut oleh anggukkan Chanyeol, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu membuat Eunwoo membulatkan matanya sejenak. Chanyeol hanya membuang nafasnya kasar, terdengarnya seperti orang frustasi yang habis putus cinta, “Ada apa sebenarnya?”tanya Eunwoo, “hm, ingat saat aku ke bartendermu sekitar empat bulan lalu sepertinya –‘

“Ya, ingat tentu saja. Hari itu kau singgah sebentar dan pergi. Dan kau memintaku berbohong pada Jina.”

“Benar. Hari itu aku menolong seorang gadis mabuk yang hampir tertabrak, aku berhasil menyelamatkannya. Lalu, sebagai tanda terimakasih ia mentraktirku minum.”

“Lalu, masalahnya apa?”tanya Eunwoo menatap Chanyeol biasa saja, “Kami minum sampai hang-over,”jawab Chanyeol lesu. Eunwoo menaikkan sebelah alisnya, “Lalu?”

“Aku menciumnya.”jawab Chanyeol singkat, membuat Eunwoo tertohok sesaat. Lantas ia masih tertawa renyah dan menyahut, “Aku fikir apa –ciuman saja –‘ Chanyeol mencela, “Tidak. Tidak sampai situ –intinya aku mengkhianati istriku malam itu. Aku tidak pulang ke rumah malam itu.”

Eunwoo berteriak, lalu menurunkan intonasi bicaranya.“MWO!?Kau gila?! Jangan bilang kau ‘ Chanyeol memotong, nafasnya masih terdengar begitu frustasi, ia mengusap wajahnya, “Aku melakukannya. Memikirkan satu kesalahanku benar-benar membuatku hampir ingin mati. Jina terlalu baik untuk aku sakiti, dan sama sekali aku tak punya niat untuk menyakitinya, sampai kapanpun.”jelasnya terdengar begitu frustasi.

Eunwoo masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan temannya, pasalnya ia tahu betul jawaban Chanyeol diluar fantasinya, maksudnya –Jina terlalu sangat entahlah orang banyak bilang wanita itu sangat baik, seperti tanpa kekurangan. Lalu, suaminya menyelingkuhinya –walaupun hanya semalam, itu benar-benar hal yang kelewat kejam menurut Eunwoo. “Kau sungguh –wah. Gila sekali.”

“Aku sungguh hilang akal malam itu, lalu apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan Chanyeol membuat Eunwoo terseret ke dalam permasalahan pelik temannya ini, mungkin tidak masalah jika saja permasalahan pada fakta pertamanya adalah Chanyeol sudah menikah, itu sesuatu yang sangat sakral dan tidak bisa dinodai dengan hal gila seperti itu. Eunwoo ikut memutar otak, mencari solusi untuk Chanyeol, “Apa kau menjelaskan pada gadis itu sebelumnya kalau kau telah menikah?”

Chanyeol tampak berfikir, lalu menjawab. “Tidak. Aku tidak berfikir tentang itu karena pertengkaranku dengan Jina benar-benar membuatku hilang akal malam itu.”

“Aku fikir kehidupan kalian akan berjalan tanpa pertengkaran,” Eunwoo beragumen tentang kehidupan pernikahan temannya itu, Chanyeol hanya memutar matanya malas, “Tentu saja tidak mungkin –bodoh. Apalagi terlalu banyak tuntutan dari pihak keluargaku dan keluarga Jina untuk kami mempunyai seorang keturunan.”geram Chanyeol masih tidak reda juga, Eunwoo hanya menepuk bahu kanan Chanyeol lalu menjawab, “Lalu, kau ingin menjelaskan apa pada istrimu tentang pengkhianatan semalammu? Gadis itu terlibat one-night-stand denganmu.”

Dan Chanyeol, sungguh tidak tahu harus menjawab apa dan melakukan apa.

∞∞∞

“Jadi, bagaimana hasil tesku?”tanya Jina pada dokter ahli kandungan yang berkerja di satu rumah sakit dengannya, lantas, dokter itu masih menatap layar komputernya baik-baik, dan membuka amplop coklat yang baru saja ia ambil dari hasil lab, tangannya menyentuh batang kacamatanya dan memperbaiki posisinya. Dokter itu belum menjawab pertanyaan Jina, sementara wajah wanita itu sudah secerah ketika orang jatuh cinta, memang wanita itu sudah telat periode bulanannya selama empat hari, merasa diabaikan tanyanya, Jina kembali bertanya, “dokter Park?” masih dengan wajah berserinya.

Jina sangat penuh harap dengan hasil tes itu, karena dengan begitu perjanjiannya dengan ibu mertuanya akan berakhir. Jina sangat mencintai Chanyeol, ia tidak berfikir mengenai warisan Chanyeol yang banyak, ia hanya mencintai pria itu dengan tulus, dan tanpa syarat –sebagaimana Chanyeol. Mereka mengikrarkan sumpah itu yang membuat mereka kini terikat hingga mati. Sepertinya, penantian panjang dan melelahkan Jina dan Chanyeol akan berakhir, namun, sungguh –faktanya selalu tidak seperti itu.

Dokter Park menghela nafas panjang, lalu bersuara setelah diam agak lama. “dokter Han, hasil tes menunjukkan bahwa kau sedang tidak hamil.”jawab dokter Park setenang mungkin. Mendengar itu, senyum cerah yang merekah diwajah Jina sirna. Lalu, wanita itu mencoba untuk tersenyum kembali, “Apa kita perlu melakukan tes ulang?dokter Park. Siklus datang bulanku sudah telat,” Jina kemudian terdiam, ia berfikir begitu banyak –bagaimana bisa hasilnya tidak hami? Padahal, ia banyak berhubungan dengan suaminya selama masa suburnya. Lalu, apa kini Tuhan harus menyuruhnya menunggu kembali?

“Dokter Han, aku harus mengatakan satu hal lain padamu tentang hasil tes ini.”ucap dokter Park, sorot matanya nampak begitu –sulit dikatakan,namun sekilas ia seperti mengatakan hal yang buruk dan Jina dapat merasakan itu. Lantas, kini kedua bola mata Jina sudah dipenuhi oleh likuid yang tertahan di pelupuk matanya. Jina dalam ketakutan yang luar biasa, meski wanita itu juga tak dapat mendefiniskan bagaimana perasaan yang ia rasakan detik ini.

“Han Jina –ssi, aku berbicara ini sebagai temanmu. Aku menyimpulkan dari hasil tesmu dan hasil dari lab bahwa kau tidak dapat mengandung. Kau tidak akan bisa mengandung seorang anak seperti wanita normal lainnya, maafkan aku mengatakan seperti ini padamu.” Dokter Park yang mengatakan fakta itu menjatuhkan air matanya lebih dulu, sungguh ia merasa bersalah karena harus membacakan diagnosa mengerikan itu dari bibirnya sendiri. Sementara yang didiagnosa hanya tertegun dengan pandangan yang kosong, “Hayoung –ah, tolong katakan ini hanya kesalahan hasil, bisa saja tertukar dengan orang lain.hm?”ujarnya dengan nada memohon, wanita itu enggan percaya dengan semua yang ia dengar.

Dan, kini Jina benar-benar dalam ambang kegilaan.

To be continued..

 

 

 

 

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] WILL YOU BE THERE (Chapter 5)”

  1. akhirnya critany update lgi ya kk…
    kisahny bgitu rumit. ..
    duh baper bacany..
    aq bingung deh yg dimaksud ibu chanyeol tentang perjanjian itu…
    dia kok blg ada wanita diluar negri yg lbih berhk menikahi chanyeol. apakah itu jangan2 joona ya kk?? ( hehe kepo)
    tpi knp hrus dua tahun ya..
    Duh penasaran bgt kk..

    aq sdih liht jina gk bsa puny ank.
    Pasti htiny hancur sebagai seorg perempuan..
    Chanyeol sehrusny kmu tuh brusaha nyari joona minta maaf ma dia dan jjur sma istrimu.. Walaupun itu berat. hehehe

    Ditunggu next chapter y kk..
    semangt trus nuangkan ide2nya..😊😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s