[EXO FFI FREELANCE] AFTER THEN (CHAPTER 0.1)

1527408275590.jpg

Title | LET ME IN 2: AFTER THEN

 Author|RHYK/krinvi

Cast|    Byun Baekhyun | Nana Komatsu as Baek Eunha | Bae Irene as Park Aeri

Length|Chapter

Rate | pg 17

Genre|Married-life | Romance | Sad | Friendship |Life |Human

Disclaimer|Cerita ini di publish dalam platform Wattpad

Autor Note’s|Dilarang keras menyalin, menyimpan sebagai dokumen pribadi bahkan mempublish ulang tulisan yang ada dalam cerita ini!! Budayakan rajin membaca dan tinggalkan isi pikiran abis baca dalam kotak komentar ^^

Quotes|

“Hubungan manusia itu tak pernah jauh dari dua hal melepaskan atau mempertahankan.”

Summary this Chapter|

Kau bahagia, kau tertawa, kau gembira, kau terasa terbang.

Lalu,  Ada luka, ada pilu, rindu dan cemburu.

-CHAPTER 0.1-

    “Pengantin wanita dipersilahkan untuk memasuki aula utama,”

Degup jantungnya kian meningkat seiring pintu besar yang terbuka lebar dari sudut pandangnya dan orang – orang yang menjadi saksi hari bersejarah bagi dua insan yang telah melewati halang rintang hanya untuk mencapai kalimat dapat menghabiskan sisa hidup bersama orang yang dicintai.

Kedua insan yang pada hari ini menjadi pemeran utama masing – masing saling bertanya dalam hati mereka seperti ini;

Bagaimana bisa hari seperti sekarang datang pada hari ini?

Sungguhkah dia akan hidup denganku setelah hari ini?

Terlalu banyak tanya di kepala masing – masing hingga keduanya tidak sadar bahwa mereka sudah sama – sama berada di altar. Sebanding dengan tanya yang muncul dalam kepalanya, melihat seseorang yang akan menjadi wanitanya secara hukum dan agama telah berbalut dengan gaun pengantin membuatnya begitu cantik dari hari – hari lain. Kepalanya terasa berat dan pusing, keringat dingin mulai menyelimuti tangannya yang terbalut oleh sarung tangan berwarna putih. Penyebabnya hanya satu, karena dia terlalu cantik dengan gaun pengantin itu.

“Pengantin silahkan berdiri berhadapan,” Riuh para undangan yang telah datang menambah euforia yang terjadi di hari bersejarah dua orang yang sama – sama telah melewati masa – masa gelap dalam hidup mereka, kini akan dipersatukan atas nama Tuhan dan juga negara.

“Oppa, jangan gugup!”teriakan Dawon yang paling kentara di antara riuhnya para tamu yang menyaksikan hari bersejarah mereka berdua.

Hari pernikahan mereka.

Eunha tertawa kecil melihat wajah Baekhyun yang sudah tidak jelas lagi. Wajahnya begitu tegang. Eunha merasa aneh, padahal hal seperti ini bukan yang pertama untuknya.

“Silahkan baca janji yang telah kalian buat di hadapan Tuhan serta para tamu yang menjadi saksi sumpah kalian untuk disatukan dalam ikatan sakral.”

Baekhyun menarik napas dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya sebisa mungkin. Namun, melihat bagaimana melihat bibir Eunha bergerak tanpa mengeluarkan suara mengisyaratkan Baekhyun untuk tenang dan memulai pembacaan sumpah pernikahan dengan benar, membuat perasaan gugup Baekhyun sedikit berkurang, setelah itu Eunha tersenyum meyakinkan bahwa lelaki itu pasti bisa bertahan dan menguasai dirinya kembali.

    “Kepadamu, Nona Baek Eunha.. kepada musim dingin yang mempertemukanku denganmu, aku tidak bisa menjanjikan apapun untuk masa depan kita, tapi paling tidak jika kau tetap mau bertahan di masa tersulit hidupku, tolong jawab dengan sudut pandangmu.”

    “Kepadamu, Baekhyun ahjussi.. kepada musim dingin yang mempertemukanku denganmu, dan peralihan musim semi yang meyakinkanku untuk tetap bersamamu, aku juga tidak bisa menjanjikan apapun untuk masa depan kita, segalanya akan berubah tanpa aku harus merancang masa depan yang sempurna denganmu, tapi paling tidak jika kau tetap mau bertahan di masa sulit hidupku.. tolong sematkan cincin itu di jariku.”

    “Aku bersedia,” Baekhyun pun memberhentikan cincin itu pada tujuan terakhirnya, di jari manis kiri Baek Eunha. Cincin itu tersemat begitu manis di jemari ramping Eunha. Baekhyun tersenyum, perlahan kegugupannya hilang begitu melihat mata Eunha yang berbinar, lalu senyum Eunha makin berkembang dan mengambil satu cincin yang tersisa di kotak beludru warna abu – abu.

    “Aku juga bersedia.” Eunha tersenyum malu – malu.

Tepuk tangan terdengar riuh begitu Eunha usai menyematkan cincin di jari manis kiri Baekhyun. “Kalian telah menjadi pasangan suami – istri sekarang. Semoga Tuhan memberkati kalian.”ucap sang pastur lagi sebagai sahnya pendeklarasian sumpah pernikahan mereka. Baekhyun dan Eunha sebagai pemeran utama hari ini tersenyum bahagia seraya melihat ke seluruh penjuru aula dengan perasaan bahagia.

Tidak hanya bahagia, tapi yang paling bahagia.

Mereka saling memberi hormat setelahnya, para tamu sudah sibuk bersorak dan beberapa meneriaki dengan gembira bahwa keduanya harus berciuman.

    “Cium! Cium!”

    “Oppa!Ayo cepat lakukanlah kami sudah tidak sabar!”teriak Dawon begitu heboh, Jason yang melihat tingkah Dawon hanya menggelengkan kepala saja, ia sudah kebal dengan tingkah ragamnya Dawon, itu hanya sebagian kecil dan tidak akan membuat Jason cukup malu di depan orang banyak.

    “Jason, itu kekasihmu?” sapa Yeri yang berada di sisi paling dekat dengan tempat Jason duduk. Jason hanya menyengir kecil saja, dan Yeri tidak berkata lagi. Ia kali ini sibuk dengan Kyungsoo, si Dokter yang baru saja dilantik sebulan lalu dan juga calon kekasihnya.

“Kyung!Sudah aku katakan padamu, mereka serasi. Kau masih saja memilih Aeri.”gerutu Yeri lalu menyesap jus jeruknya, yang disambut tawa oleh Kyungsoo. “Aku tahu, kau menang. Baekhyun sangat gugup karena terlalu mencintai Eunha.”

“Darimana kau tahu?”

    “Rahasia.”

    Kini, beralih pada Jaebum dan Sowon yang ikut andil sebagai pembawa acara hari bersejarah Byun Baekhyun dan Baek Eunha. “Para tamu dimohon untuk tenang, mempelai pria menitip pesan padaku bahwa proses sakral harus dilaksanakan dengan khidmat.”ucap Jaebum, “Para tamu mohon tenang!” Sowon membuka suara dengan tegas dan penuh penekanan membuat seluruh tamu undangan yang riuh menjadi menenang seketika, menyaksikan itu membuat Eunha terkekeh pelan karena Sowon ketika berbicara tidak pernah benar – benar mengeluarkan suaranya sampai seperti tadi. Biasanya, nada bicara Sowon terdengar tenang, malu – malu dan juga intonasi yang lembut. Jaebum melongo sejenak melihat aksi Sowon yang baru ia lihat hari ini.

    “Pengantin pria dan wanita telah terikat atas sumpah di hadapan Tuhan, kini pengantin pria dipersilahkan untuk mencium pengantin wanita.”ucap Jaebum mengambil alih situasi yang kembali terkendali.

    Baekhyun maju selangkah, sedikit berbungkuk seraya mendekatkan wajahnya ke bibir Eunha. Mata Eunha terpejam, dan dalam detik yang lewat bibir mereka sudah saling menempel untuk beberapa saat. Dan, riuh kembali terdengar begitu Baekhyun menyudahi sesi ciuman singkat sebagai pelengkap prosesi hari sakral ini.

Pernikahannya dengan Baek Eunha.

Pernikahannya dengan Byun Baekhyun.

**

Jeju, malam harinya..

    Eunha merengut begitu tiba di kamar hotel mereka untuk menginap hari ini. Jadwal bulan madu yang terencana ke Venice harus batal lantaran ternyata Baekhyun harus menghadiri workshop di Belgia pada lusa nanti. Dan, perjalanan ke Jeju nyaris batal juga karena pesawat sempat tertunda penerbangannya akibat cuaca yang buruk.

    Eunha menghempaskan tubuhnya pada kasur empuk yang memanggilnya dari tadi semenjak kakinya melangkah masuk ke dalam kamar ini. Ukuran kasur yang besar membuat Eunha hanya menempati seperempat dari luas asli kasur king size itu. Eunha kira, Baekhyun akan menyiapkan sebuah kamar dengan penuh kelopak bunga mawar di sepanjang jalan menuju kasur, dan juga bertebaran di atas kasur untuk mengobati rasa kecewanya saat ini. Namun jangan harapkan hal romantis itu, jika tadi pas turun dari pesawat saja Baekhyun sibuk mencari taksi sementara Eunha harus menderita mual karena jet lag tolong dimaklumi karena Eunha baru naik pesawat untuk pertama kalinya.

Lalu, bayangkan dengan bulan madu hanya selama dua hari satu malam. Hal sebanyak apa yang bisa dilakukan untuk berkencan normal seperti orang – orang yang berbulan madu pada umumnya? Belum sehari jadi istri Byun Baekhyun tapi Eunha sudah sesestres ini.  Eunha memeluk bantal dengan wajah yang bete ketika Baekhyun mendekat, omong – omong tadi dia sibuk mengurus hal – hal kecil seperti barang mereka, memastikan tidak ada service room selama mereka menginap karena Baekhyun benci diganggu ketika memiliki waktu untuk berprivasi.

Dan, hal terakhir adalah mencarikan obat untuk Eunha. Baekhyun tidak mau membuang waktunya hanya untuk merasa tidak enak melakukan apapun ketika bulan madu ini adalah satu – satunya alternatif untuk Baekhyun beristirahat penuh tanpa embel – embel pekerjaan.

Baekhyun sungguh ingin menghabiskan waktunya selama dua hari ke depan hanya bersama Eunha. Baek Eunha istrinya.

Baekhyun sempat terkekeh sendiri sejak melihat Eunha begitu menghempaskan dirinya di kasur dengan wajah betenya. Namun seperti biasa, Baekhyun ingin menggoda istrinya dulu agar wajahnya tidak cemberut lagi, karena semakin Eunha memasang muka masamnya membuat Baekhyun semakin ingin menciumnya.

Baekhyun duduk di sisi Eunha, menatap wanitanya itu penuh sayang. Seraya mengelus rambut hitam Eunha yang ia potong sedikit Baekhyun bersuara, “Kenapa memasang wajah cemberut seperti itu? Aku tidak suka.”

“Jangan bicara, ahjussi.” Eunha menutup wajahnya dengan bantal, namun Baekhyun menarik bantalnya dan melemparnya ke sembarang arah. Baekhyun ikut tiduran di sisi Eunha, ia sama sekali tak bisa berhenti untuk tidak tersenyum, Eunha terlalu menggemaskan dan terlalu cantik untuk diabaikan. “Aku membelikanmu obat, Apotek jauh dari Hotel. Bangunlah dan minum obatnya.” Baekhyun membangunkan Eunha hingga ia mau duduk. Lelaki itu melepas sandal hotel yang ia kenakan dan menyuruh Eunha duduk bersila.

“Tidak mau.” Eunha menolak dengan nada jutek yang terdengar lucu oleh suaminya. Asli. Selama ini sisi Eunha yang ini kemana saja? Menurut Baekhyun, tingkah aktif berlebihan Eunha sudah cukup menjadi pusat sakit kepalanya, namun ada apa dengan gadis yang sedang bertingkah jutek namun imut ini? Sungguh ini Eunha yang ia persunting jadi istri tadi siang di Seoul?

“Kenapa?”tanya Baekhyun seraya mengenggam tangan Eunha, mengelus telapak tangannya lembut. Membuat Eunha merasa bahwa ia sudah menjadi seseorang paling beruntung karena bisa menjadi istri seorang Byun Baekhyun yang berwajah imut di umur yang sudah menginjak kepala tiga. Mungkin, jika didandani jadi seorang perempuan Baekhyun akan terlihat lebih cantik dari Eunha.

“Kau sejak tadi sibuk dengan hal lain dan bukan denganku, kau sibuk dengan barang – barang kita, kau sibuk mengobrol dengan karyawan hotel dan mengabaikanku yang sedang sekarat.” Sesungguhnya Eunha mengatakan itu kehabisan kosa kata untuk dirangkai. Tadinya, ia ingin memperlihatkan pada orang banyak bahwa mereka adalah pasangan serasi yang baru saja menikah, membuat orang – orang iri dengan Eunha. Namun, di Bandara tadi saja seperti seorang atasan melakukan perjalanan bisnis dengan rekannya.

Baekhyun memutar matanya, ia semakin gemas dengan Eunha. Ia berdiri di belakang Eunha yang sedang membelakanginya dan memeluk Eunha dari belakang membuat Eunha tersentak, namun kembali tenang didetik berikutnya. Baekhyun menaruh dagunya di bahu Eunha, memeluk wanitanya penuh kemanjaan. “Kau tidak sedang sekarat, tolong jangan jadi hiperbola.. dan terimakasih karena telah memperlihatkan sisi dirimu yang baru, Baek Eunha.”

“Sama – sama. Aku tidak mau mengonsumsi obat apapun, itu akan membuatku makin mual.” Eunha melepaskan pelukan Baekhyun dan menghadap ke Baekhyun sambil bersedekap. Membuat Baekhyun tersenyum dan menariknya mendekat padanya, kedua tangannya melingkar di pinggang Eunha. Eunha masih cemberut dan enggan menatap Baekhyun.

Baekhyun mencubit hidung Eunha pelan. “Hei nona Byun istriku, dengar dan tatap mataku,” setelah meringis kecil, barulah Eunha menatap Baekhyun. Tatapan Baekhyun membuat Eunha merasa terbang, bahagia, dan membuat jantungnya berdegup terlalu cepat hingga rasanya mau keluar dari tulang rusuknya. “aku sibuk dengan barang – barang sejak turun pesawat, mencari taksi itu karena aku ingin agar kau segera istirahat dan tidak terlalu lama di luar sehingga sakitmu tidak makin parah. Angin di Jeju itu dingin. Jadi, aku mohon jangan seperti ini. Jangan menyiksa diri selama bulan madu kita,sayang.”

“Menyiksa diri?”

“Aku tahu dari tadi kau ingin memelukku, dari tadi terlalu banyak orang jadi kita tidak sempat bahkan hanya untuk bergandengan tangan.”

Hmm” Eunha hanya mendehem lalu memutar mata dan membuat Baekhyun terkekeh.

“Atau kau ingin menciumku?”tanya Baekhyun dengan nada menggoda membuat Eunha melotot menatap Baekhyun dan memekik, “AHJUSSI!” Eunha terbiasa dengan panggilan itu, meski kini dia telah menjadi suaminya Baek Eunha. Eunha merasa bahwa tatapan Baekhyun menjadi lebih serius dan juga hmm –bisa dibilang mesum? Mungkin kata itu terdengar vulgar tapi begitulah kira – kira.

“Aku lebih tersiksa karena aku ingin menggenggam tanganmu,”

“memelukmu erat, lalu menciummu dan juga,” Baekhyun mencium kening Eunha dan menatapnya lagi. “tidur bersamamu.”

Eunha menelan ludah, ia tertawa tak menyangka lalu mengeluarkan apapun yang ada di kepalanya dan belum sempat terkatakan kemarin – kemarin. “Aku tidak percaya kau adalah orang yang mengabaikanku selama hampir dua tahun ini. Bersikap dingin, terus mendorongku untuk pergi dari hidupmu. Aku tidak menyangka bahwa kau juga orang yang mengucapkan sumpah sederhana itu, orang yang bersedia menyematkan cincin cantik ini di jariku hari ini. Membuatku dapat memanggilmu dengan sebutan suamiku. Aku tidak mimpi,kan Tuan Byun?”

Baekhyun tersenyum, lalu menggeleng “Baek Eunha..kenapa kau sulit sekali untuk mempercayai sesuatu?”

Baekhyun melumat bibir Eunha begitu wanita itu ingin menjawab lagi. Eunha ikut meresapi lumatan lembut itu yang membuatnya merasa sedang terbang terjun bebas tanpa pengaman apapun. Mereka yang sempat berdiri kembali terhempas secara bersama di tempat tidur. Baekhyun kembali mendekat pada Eunha dan melanjutkan ciuman yang sempat terhenti tadi, Baekhyun mengubah posisinya menjadi di atas Eunha, mulai menciumi leher Eunha begitu lembut.

Dan, malam pertama mereka berada dalam pernikahan berlanjut pada sesi yang lebih dewasa dan menggairahkan bahkan dinginnya angin malam Jeju tak terasa oleh mereka berdua yang sedang menikmati surga dunia.

**

Sayup – sayup Eunha mengerjapkan matanya yang masih berat. Setelah pandangannya fokus, hal yang pertama masuk ke dalam matanya adalah langit – langit kamar hotel yang dihiasi lampu kerlap – kerlip yang sudah mati. Eunha menoleh ke sisi lain tempatnya tidur, namun tidak ada siapapun di sana. Ketika membuka selimutnya juga ia masih berpakaian lengkap seperti saat datang dari bandara.

Eunha seketika dilanda kebingungan. Tadi malam itu setelah Baekhyun memeluknya dan menatapnya seperti itu selanjutnya bukankah mereka melakukan hal yang dapat membangkitkan hasrat seorang lelaki normal dan sehat macam Byun Baekhyun?

Atau tidak?

“Eh, kau sudah bangun ya?”sapaan Baekhyun adalah hal pertama yang membuat Eunha menarik selimutnya dengan cengkraman. Lelaki itu terseyum manis pada Eunha dan duduk di sisi pembaringan. Tunggu, kepala Eunha tiba – tiba terasa sakit. Ada apa dengan bulan madu mereka? Apa Eunha telah melewatkan malam pertamanya begitu saja? Dengan tidur?

Ataukah, Eunha kurang menarik dimata Byun Baekhyun? Heol! Kalau begitu tidak usah menikah saja sekalian.

“Bagaimana kondisimu? Masih sakit?”tanya Baekhyun kembali membuat Eunha sepenuhnya terbangun dari lamunan.Eunha harus mengklarifikasi semuanya.

“Byun Baekhyun!”seru Eunha membuat Baekhyun mengernyit dan menepuk kepala Eunha dengan sumpit yang ia bawa dari tadi. “Kau tidak sopan ya. Kita menikah bukan berarti kau bisa memanggilku seperti itu, umur kita beda jauh.”

Eunha masa bodoh. Dia butuh penjelasan tentang apa saja yang ia lewatkan hingga dirinya bangun masih dalam keadaan baju yang rapih. “Kau.. tadi malam, tidak menyentuhku?” Pertanyaan Eunha lantas membuat Baekhyun mengernyit, ia lalu memegang dahi Eunha dengan punggung tangannya. “Tidak menyentuh bagaimana? Aku menarikmu untuk bangun dan minum obat, mengusap rambutmu, memegang tanganmu, itu bukan disebut menyentuhmu?”jawab Baekhyun yang membuat Eunha memutar mata, dan melempar selimut yang menutupi tubuhnya. Namun, reaksi Baekhyun tak berlebihan.

“Bukan itu. Maksudku itu, umm itu..” Eunha tampak gugup, membuat Baekhyun yang melihatnya merasa begitu gemas.

“Ini?” Baekhyun mengecup bibir Eunha. Membuat matanya melebar. “Maksudmu adalah kita melakukan hal yang lebih dari itu begitu? Seperti layaknya pasangan? Itu yang kau maksud Baek Eunha?” Pertanyaan balik Baekhyun seperti serangan balik untuk Eunha karena Baekhyun kembali menatapnya dengan tatapan persis seperti tadi malam. Jadi, yang Eunha pikirkan itu nyata atau tidak?

Eunha dengan malu – malu dan penuh kegugupan dalam dirinya menganggukkan kepala. Baekhyun tertawa kecil, sebelum akhirnya ia mengecup bibir, dan pipi Eunha. Baekhyun lalu menangkup pipi Eunha dan dengan cepat melumat kembali bibir Eunha lembut, cukup lama mereka terbuai hingga pada akhirnya Baekhyun yang melepaskannya.

Baekhyun menatap Eunha lagi, dengan pandangan misterius seperti bagaimana dulu saat Eunha mengurus Baekhyun yang sakit saat itu Baekhyun masih seseorang yang dingin dan terus mendorong Eunha untuk pergi. “Kita melakukannya,Eunha.”

huh?”

“Kita sudah melakukannya semalam,”

“tapi pada tengah malam kau menginginkan sesuatu yang menyegarkan.”

“Sesuatu yang menyegarkan?”

“Kau bilang ingin jalan – jalan di tepi pantai tanpa ada orang yang melihat.”

“Lalu?”

“Aku menurutimu,”

“Setelah melakukan itu?”

“Memangnya kenapa?”

“Tidak apa – apa sih, hanya saja aneh.”

“Semua yang ada pada dirimu tidak ada yang aneh. Sekalipun kau aneh, aku tetap cinta padamu dan akan terus di sisimu.”

huh? Coba katakan sekali lagi?”

“Tidak ada pengulangan.” Baekhyun membuka pintu balkon yang diekori Eunha di belakang, ada sebuah saung kecil yang menghadap pantai kemudian mereka duduk di sana. “Ahjussi!

Baekhyun terkekeh tanpa suara sambil membelakangi Eunha. Panggilan itu begitu manis ketika Eunha yang memanggil. Baekhyun berbalik, “Baek Eunha.” Ia mengajak Eunha untuk berdiri berhadapan, tangannya menggenggam erat jemari Eunha mengisi kekosongan yang ada.

“Apa?”

“Terimakasih karena sudah menikahiku.” Baekhyun memeluk Eunha sejenak, lalu Eunha melepasnya. “Seandainya aku tak dihentikan olehmu, hari ini tidak akan datang,kan?” Eunha menatap Baekhyun dengan mata yang berkaca – kaca.

Baekhyun mengelus pucuk kepala Eunha, “Akan datang.”

“Tahu dari mana?”tanya Eunha menatap Baekhyun ragu. “Kita sudah terhubung sejak kau berumur 13 tahun di rumah sakit.” Baekhyun menatap Eunha penuh keyakinan, ia berharap agar kali ini Eunha percaya bahwa sudah dari awal takdir menulis mereka untuk bersama.

“..jika tidak pada musim dingin itu, kita akan bertemu di jalanan dekat tempat kerja paruh waktumu, atau minimarket persimpangan jalan yang sedang direnovasi sekarang. Atau, di bandara saat tak sengaja kita bertabrakkan. Dan, masih banyak kemungkinan lainnya dimana kita masih bisa bertemu dan hari ini tetap akan datang.” Ucapan Baekhyun yang panjang lebar tak langsung membuat Eunha percaya, matanya makin berkaca – kaca. “Kenapa kau begitu yakin?”tanya Eunha lagi, ia sendiri tidak mengerti mengapa rasanya begitu amat sulit memercayai apa yang Baekhyun jelaskan padanya tentang dirinya dari awal memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk ada di hidup Baekhyun.

“Dari awal dirimulah yang terus datang padaku tanpa diminta, dan seiring berjalannya waktu sekeras apapun aku menghindari takdir untuk tidak bertemu denganmu pada akhirnya kita tetap bertemu, pada akhirnya aku rasa bahwa memang sudah sejak awal kau adalah takdirku. Tidak peduli seberapa keras aku menghindarinya kau akan tetap ada, kemudian aku berpikir saat kau dalam bahaya bahwa aku harus menghadapi takdir ini dengan berani, sekalipun itu dalam bahaya. Bukankah Tuhan menciptakan manusia agar saling melindungi saat dalam bahaya?”

Air mata Eunha jatuh juga, ia terharu dengan setiap kalimat yang terucap. Ia tertawa renyah lalu menganggukkan kepala seraya menatap Baekhyun. “Kau benar ahjussi.”

“Baek Eunha, menurutmu apa hal yang ingin kau dengar dan yang belum aku ucapkan?”

“Entahlah, untukku daripada kalimat yang terucap aku lebih memercayai apa yang terucap dari hati. Mungkin, suatu saat aku ingin mendengarnya darimu, namun itu tidak menjadi masalah besar untukku. Aku mencintaimu adalah kalimat yang belum kau ucapkan sampai sekarang.”

“Baek Eunha?”

“Ya?”

Baekhyun mengecup bibir Eunha kilas, “Aku mencintaimu.”

Baekhyun mengusap air mata Eunha lalu mereka sama- sama tersenyum bahagia. “Terimakasih sudah mencintaiku, dan akupun juga. Selamanya.”

“Selamanya.”

Bahagia itu dapat diraih dengan usaha yang keras, sebagaimana nasib yang memberikanmu pilihan dan akan membawamu pada takdir yang sudah tertulis. Semua orang mempunyai kesempatan untuk memperbaiki takdir mereka jika salah dalam memilih langkah dalam banyaknya pilihan pada garis nasib, tidak semua hal akan membuatmu ke dalam tahap bahagia. Untuk tiba ke tahap itu kadang kau harus merasakan sakit dulu dari pengorbanan dan perjuangan, jika sudah maka kau akan dapat bahagia yang setimpal sebagaimana takdir yang telah menetapkan sebuah garis merah yang akan menghubungkanmu dengan orang yang kau cintai.

Maka, tolong percayalah bahwa Tuhan itu selalu ada menyertai setiap pilihan dan langkah hidup yang kau ambil.

THE END

[diketik 3/5/2018]

 

6 tanggapan untuk “[EXO FFI FREELANCE] AFTER THEN (CHAPTER 0.1)”

  1. so sweet…..
    Terharu banget lihat kisah cinta eunha ma baekhyun..
    sisi lain eunha terliht nih…
    ternyata dia ngmbekan..

    smoga eunha sma baekhyun bisa menghdapi rintangn dalm rumah tanggany….
    Setelah byk pengorbanan dan rintangn yg mereka hdapi akhirny bisa mempersatukan mereka. ..

    ini critany tetap lnjut kn kk..
    blom the end kn.. 😰😰😢

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s