[EXOFFI FREELANCE] STORM (Chapter 1)

Title               : Storm

Author           : HaiWind

Cast               :           Oh Sehun

                                    Kim Nari

                                    Jung Sin-Hwa

                                    Park Chanyeol

Length           : chapter

Genre : Romances

Rating           : 15+

“Semuanya terasa seperti badai yang mengombang-ambingkan kita. Tapi aku tetap berharap akan sebuah akhir yang bahagia.”

Disclaimer : ini adalah FF remake dari salah satu FF suju yang juga aku buat. Dulu ff ini castnya Kyuhyun, Lee Hana, dan Donghae. Jadi kalau jumpa FF yang ceritanya sama tapi beda cast, itu ff ku dan juga hanya di publish di FB. Jadi FF storm ini tidak akan ada di site lain. Karena aku hanya post di FB. Oh iya! Ada juga FF dengan judul yang sama dan main cast nya juga kebetulan sama. Kalian bisa lihat di Hana kingdom. tapi ceritanya sangat berbeda. Jadi, ini asli buah pikiranku. Aku buat disclaimer ini hanya untuk memberi kalian penjelasan jika kalian menjumpai ff yang sama dengan judul yang sama. Terimakasih…

-*******************************************************-

Chapter 1

(Are You Still love me?)

 

Pria itu masih saja asyik meneguk wine yang sedari tadi menjadi temannya. Dia bahkan mengabaikan sahabatnya yang masih setia menemaninya.

 

“Oh Sehun apa kau ada masalah?” Tanya Kris yang sudah tak tahan dengan tingkah pemabuk temannya ini.

 

“Hyung…apa aku harus tetap diam dengan semua ini?” Sehun memukul dadanya “Di sini…terasa sangat menyesakkan…aku tak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi hyung…aku masih sangat mencintainya.”

 

“Apa kau sedang membicarakan Nari? Sehunna…sadarlah! dia itu adikmu. Mau berapa lama lagi kau mencintainya? Lagi pula…kau sudah memiliki istri.”

 

“Aku tak menerima itu semua!!!” Sehun memukul meja mereka dengan kuat, bahkan beberapa pengunjung lainnya melihat ke arah dua pria itu.

 

“Gara-gara pernikahan konyol itu, aku dan Nari harus berpisah. Aku masih sangat mencintainya, dan dia juga pasti begitu.”

 

Kris menghela nafasnya. Dia tak tahu lagi harus berkata apa pada Sehun.

-******-

 

Nari masih setia duduk di pinggiran lapangan sekolah dasar itu. Dulu dia juga bersekolah di sini. Dia menatap lapangan yang luas dengan tatapan kerinduan. Melihat lapangan itu dia kembali teringat dengan kenangan lamanya bersama Sehun dulu.

 

Saat itu dirinya masih kelas 3 dan Sehun sudah kelas 6. Setiap pulang sekolah, sambil menunggu orangtua mereka menjemput Sehun dan Nari pasti akan bermain-main di lapangan ini. Mereka saling kejar-kejaran dan tertawa bersama. Nari merindukan semua itu.

 

Nari merasakan sesuatu menyentuh pundaknya, dia tertarik dari lamunannya dan mendapatkan Sehun yang sudah duduk di sampingnya dengan kepalanya yang menyender pada pundak Nari.

 

“O…oppa….”

 

“Diamlah! Aku hanya ingin tidur sebentar saja di sini.”

 

Nari terdiam. Dia membiarkan Sehun tertidur di pundaknya. Dia tak masalah dengan ini semua. Dia juga rindu dengan moment seperti ini.

 

 

 

 

Sehun memasuki rumah besarnya dia mengabaikan istrinya yang menyambutnya dengan senyuman hangat.

 

“Yeobo…kau semalam dari mana? Kenapa tidak pulang?”

 

“Aku lembur!” dustanya. Semalam dia tertidur di mobil.

 

Sehun menjawab dengan dingin dan singkat membuat Sin-Hwa tersenyum miris. Suaminya ini memang selalu dingin dan cuek kepadanya. Tak pernah ada kata-kata hangat dan romantis yang keluar dari mulutnya itu.

 

Sin-Hwa mengejar Sehun ke kamar mereka. Sehun hendak membuka kemejanya tapi Sin-Hwa langsung memeluk pria itu dengan erat.

 

“Kalau kau masih capek istirahat saja. Tak usah balik ke kantor.”

 

“Lebih baik aku di kantor melepas lelah ku dari pada aku diam di rumah ini bersamamu!”

 

Sehun menyentakkan tangan Sin-Hwa dengan kasar. Dia risih jika di peluk wanita ini. Walaupun Sin-Hwa adalah istrinya tapi dia tak pernah menyentuh wanita itu. Baginya hanya Nari lah satu-satunya.

 

Sehun sudah selesai bersiap untuk ke kantor. Dia keluar dari kamarnya berjalan menuju ruang makan. Saat memasuki ruang makan dia mendapati Nari dan Sin-Hwa yang sudah duduk di meja makan. Matanya dan Nari bertemu, tapi dengan cepat Nari mengalihkan pandangannya.

 

Sehun berjalan mendekat ke meja makan dan duduk di depan Nari.

 

“Nariya…ku dengar kau membeli sebuah apartment!” Sin-Hwa membuka suaranya membuat pandangan Sehun tertuju pada Nari.

 

“Nee…unnie aku sengaja membelinya. Aku tak mau mengganggu kalian lebih lama lagi. Aku akan pindah secepatnya.”

 

Rahang Sehun mengeras saat mendengar kalau Nari akan meninggalkan rumah ini. Baginya melihat Nari saja setiap hari sudah bisa menghibur dirinya.

 

Tak!

 

Sehun meletakkan sumpitnya dengan kasar. Sin-Hwa dan Nari terkejut dengan perbuatan Sehun itu. Sehun tak perduli, dia berdiri dan langsung melenggang pergi tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Nari dia tahu kalau Sehun marah dengan kepergiannya. Tapi dia memang harus pergi, dia harus menjauh dari Sehun.

 

 

 

 

Nari memainkan ponselnya sambil menunggu seorang guru yang masih saja mengajar di dalam kelas itu. Ini sudah hampir waktunya untuk bell pulang, tapi bell di sekolah menengah atas ini belum juga berbunyi.

 

Akhirnya bell berbunyi. Nari langsung menyimpan ponselnya dan matanya sibuk mencari sosok yang sedari tadi di tunggunya itu. Tak lama pria bermarga Park itu muncul bersama tas selempangnya.

 

“Sunbae….” Sambut Nari dengan senyumnya. Chanyeol memperhatikan senyuman dan juga wajah hoobaenya, dia tahu kalau ada sesuatu yang aneh dari senyuman itu. Nari sepertinya ada masalah.

 

“Yak! Kau kenapa? Wajahmu itu seperti orang gila saja!” Chanyeol mencoba untuk bercanda.

 

Nari memanyunkan bibirnya dan memukul lengan Chanyeol. Dia kesal dengan candaan tak berguna pria ini.

 

“Sunbae…apa kau lulus sekolah dasar dengan murni?”

 

“Wae?”

 

“kau itu bodoh atau gimana? Masa kau tak bisa membedakan orang gila dengan yang waras? Aku ragu dengan semua ijazah dan sertifikat yang kau dapatkan selama ini.”

 

Nari berjalan duluan, dia kesal dengan kelakuan Chanyeol. Selama ini dia merasa kalau Chanyeol itu pria yang paling peka, tapi nyatanya dia sama saja.

 

“Yak!!! Tunggu aku!”

 

Chanyeol berlari mengejar Nari yang sudah berjalan jauh di depan sana. Tumben Nari marah padanya. Benar dugaannya, Nari pasti sedang ada masalah sekarang.

 

Langkah Chanyeol terhenti saat dia mendapatkan Nari yang terduduk dengan kepala yang tertunduk di taman sekolah. Chanyeol menghela nafasnya lega dan mendekat pada Nari.

 

“Kim Nari…Kau sebenarnya kenapa eoh?” tanyanya sambil duduk di samping Nari.

 

Nari tak menjawab, dia masih saja menunduk. Kalau dia bicara sekarang mungkin air matanya akan mengalir saat ini juga.

 

“Yak….”

 

Chanyeol menyentuh pundak Nari dan dengan lembut dia menarik kepala Hoobaenya itu agar bersandar di pundaknya.

 

“Cerita samaku…kau ada masalah apa?”

 

“Sunbae…saat kau menyukai seseorang yang tak seharusnya kau sukai, apa yang akan kau lakukan?”

 

“Aku akan meninggalkannya.”

 

Chanyeol menatap lurus ke depan. Dia mengerti apa dan siapa yang di bicarakan Nari saat ini.

 

“Waeyo? Bukannya kalau kita menyukai seseorang kita harus tetap mempertahankannya?” Nari menarik kepalanya dari pundak Chanyeol dan menatap Chanyeol yang masih saja menatap ke depan.

 

“Nariya…saat kau menyukai seseorang, kau juga harus realistis. Jangan sampai akal sehatmu juga di permainkan oleh cinta itu. Terlebih jika itu cinta yang salah. Contohnya saja begini, mengkonsumsi narkoba itu memang sangat menyenangkan. Kau akan serasa terbang saat memakai itu. Tapi narkoba itu membawamu kepada kematian, itu juga sangat berbahaya. Kau tahu akan fakta itu, lalu kau akan menjauhi atau tetap memakai itu?”

 

“Aku akan menjauhinya….”

 

Chanyeol kembali memberi perhatiannya pada Nari. Dia tersenyum pada gadis itu dan membelai lembut rambutnya dengan senyuman yang masih saja melekat di wajah tampannya.

 

“Cinta juga seperti itu. Gunakan akal sehatmu. Jangan karena itu menyenangkan lalu kau akan tetap mengikuti cinta yang salah itu, masih banyak orang di luar sana yang bisa menjadi menggantikan cinta yang salah itu.”

 

Nari terharu mendengar ucapan Chanyeol, memang sunbaenya ini dari dulu sangat pintar memberi kata-kata seperti ini. Tak heran kalau almarhum istrinya yang terkenal akan kecantikannya itu jatuh hati pada pria ini.

 

“Sunbae…gomawoyo…aku sangat senang karena ada kau di sini.”

 

Nari memeluk Chanyeol. Dia sangat senang dan sangat bersyukur karena memiliki pria seperti Chanyeol di sampingnya.

 

‘Aku juga senang kalau kau bisa melupakannya Nariya…aku akan tetap di sampingmu.’

 

 

 

Nari sudah pindah ke apartment barunya hari ini. Ada rasa lega di hatinya karena akhirnya dia bisa menjauh dari Sehun, tapi bagian lain dari hatinya berteriak bahkan menjerit memintanya untuk kembali ke rumah Sehun.

 

Sebagian dari dirinya masih ingin bersama dengan Sehun. Masih ingin menatap wajah tampannya lagi dan masih ingin mendengar suaranya.

 

Dia tak boleh membiarkan dirinya terlena dalam cinta yang salah ini. Semua perasaan yang mereka miliki sudah menjadi rasa yang salah dan harus di putuskan sejak 5 tahun yang lalu. Nari seharusnya memutuskan semua rasa ini sejak mereka menjadi saudara tiri, tapi dia tak pernah berhasil karena dia harus selalu menatap wajah kakak tirinya setiap hari. Dan keputusannya untuk pindah dan menghidari Sehun, dia harap bisa menjadi jalannya untuk melupakan pria bermarga Oh itu.

 

Ding…dong….

 

Baru lagi Nari ingin membaringkan tubuhnya di sofa yang di letakkannya di ruang tamu, bell rumahnya berbunyi. Memaksanya untuk bangkit dan membuka pintu.

 

“Aish…siapa sih yang bertamu malam-malam begini….”

 

Nari membuka pintu apartmentnya dan mata nya terbelalak melihat siapa yang ada di depan pintunya saat ini.

 

Pria ini, apa yang di lakukannya malam-malam begini?

 

“Apa kau tak akan mengizinkan oppamu masuk Kim Nari?”

 

Nari langsung tersadar begitu suara seseorang yang di ketahuinya bukan suara dari pria yang di hadapannya ini menyebut namanya. Dan benar saja, seorang pria yang bertubuh lebih pendek dari Sehun muncul dari belakang pria tinggi ini.

 

“Suho oppa? Kau sudah pulang?”

 

“Yak! Kau harus mempersilahkan oppa-oppa mu ini masuk dulu baru kau bicara.”

 

Tanpa memperdulikan tanggapan Nari, Suho langsung masuk ke apartment adiknya meninggalkan Sehun dan Nari yang masih saling memandang.

 

“Yak! Cepat masuk!”

 

Suara Suho dari dalam sana menarik perhatian dua orang yang dari tadi masih saling memandang. Nari mengambil kantongan plastik dari tangan Sehun dan masuk ke dalam di ikuti Sehun di belakangnya.

 

“Yah…Kim Nari! Kau memang sangat ahli eoh menghabiskan uang orangtua. Kau bisa saja tinggal di rumah Sehun,” oceh Suho.

 

“Aku ingin lebih mandiri. Mau sampai kapan kau membuatku tetap tinggal di rumah orangtua eoh? Memangnya aku sepertimu?”

 

Suho menatap Nari dengan tajam sebentar lagi mereka pasti akan berantam. Setiap kali bertemu bertengkar itu sudah seperti makanan bagi dua Kim bersaudara ini.

 

“Keumanhae…apa kalian tak capek berantam terus? Aku sudah bosan melihat pertengkaran tak bermutu kalian!” ucapnya sambil meraih kaleng beer yang ada di meja.

 

Sejak Sehun mengenal kedua orang ini, dia memang selalu menyaksikan perkelahian mereka. Keluarga Sehun dan keluarga Nari memang sudah bertetangga sejak lama. Bahkan sebelum ayah Suho dan Nari meninggal mereka sudah bertetangga dan hubungan ketiganya sudah sangat dekat.

 

Suho beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi Sehun dan Nari di tinggal berdua.

 

“Kim Nari, katakan alasanmu yang sebenarnya. Kenapa kau pindah?” Sehun membuka suaranya. Sedari tadi dia ingin menanyakan hal ini pada Nari.

 

“Aku sudah bilang kan…aku tak ingin menganggu kalian. Aku juga ingin lebih mandiri.”

 

“Pembohong!” ucap Sehun dengan penuh penekanan. Dia mencengkram lengan Nari dengan kuat membuat Nari meringis kesakitan.

 

“O…oppa…sakit….”

 

“Bagaimana bisa kau begitu teganya eoh? Bagaimana bisa kau menyiksaku lagi? Aku sudah cukup menderita dengan pernikahan kedua orangtua kita yang membuatku tak bisa memilikimu dan sekarang kau ingin pergi dariku? Apa kau memang tak mencintaiku lagi?”

 

“Oppa…bukan…bukan seprti itu…aku—“

 

Ucapan Nari terputus saat mereka mendengar pintu kamar mandi yang sudah terbuka, menandakan Suho yang sudah selesai dengan urusannya di situ.

 

Sehun melepas cengkramannya pada lengan Nari. Dia berdiri dari sofa dan mengambil jaketnya lalu melenggang pergi dari apartment Nari.

 

Suho yang baru saja keluar dari kamar mandi bingung melihat Sehun yang tiba-tiba pergi dengan wajah marah.

 

“Nariya…waeirae? kenapa Sehun pergi?”

 

“Molla!” jawabnya dengan singkat.

 

Dia berdiri dari sofa juga dan pergi ke kamarnya meninggalkan Suho yang tambah bingung melihat tingkah kedua dongasengnya itu.

 

“Ada apa dengan mereka?”

 

 

 

 

SEE YOU ON NEXT CHAPTER

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] STORM (Chapter 1)”

  1. Ditunggu nextnya thor!🔜
    Kyaa.. chanyeol emang ++++ deh!💕
    Nyesek ya kalo ada diposisi sehun sama nari…, tapi yg lebih kasihan lagi itu si shi wa… :’

  2. Anyeong mimin..izin baca min..
    pemeran utama oc.x spa min,si nari aatau si shi wa..???
    Ksian bnget sma ssi shi wa istri sehun,pasti nyesek banget klw jdi dia..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s