[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN 2: AFTER THEN (Prolog)

Title | LET ME IN 2: AFTER THEN

  Author|RHYK/krinvi

Cast|   Byun Baekhyun | Nana Komatsu as Baek Eunha | Bae Irene as Park Aeri

Length|Chapter

Rate | pg 17

Genre|Married-life | Romance | Sad | Friendship |Life |Human

Disclaimer|Cerita ini di publish dalam platform Wattpad

Autor Note’s|Dilarang keras menyalin, menyimpan sebagai dokumen pribadi bahkan mempublish ulang tulisan yang ada dalam cerita ini!! Budayakan rajin membaca dan tinggalkan isi pikiran abis baca dalam kotak komentar ^^

Quotes|

“Hubungan manusia itu tak pernah jauh dari dua hal melepaskan atau mempertahankan.”

Summary this Chapter|

Kau bahagia, kau tertawa, kau gembira, kau terasa terbang.

Lalu,  Ada luka, ada pilu, rindu dan cemburu.

FROM THE PAST-

Baekhyun

                ahjussi,” suara lembutnya memecahkan lamunanku kala aku dan Eunha memutuskan untuk makan di salah satu minimarket yang tak jauh dari rumahku dan Eunha. Kami baru pindah rumah hari ini dan hari ini adalah minus dua hari sebelum upacara pernikahan. Makan di minimarket? Iya, keinginan Eunha hanya sebatas sesederhana itu.

Hanya ada dua mangkuk ramyun yang asapnya sudah mengepul dan juga dua botol cola yang menjadi favoritnya sejak lama.

“setelah lima tahun kau menghilang dari hidupku, aku pernah bertemu di bandara denganmu untuk pertama kalinya. Kau sadar tidak?” Eunha bertanya seperti itu membuatku teringat dengan apa yang aku lamunkan sebelum dia bersuara dan memanggilku dengan sebutan kesukaannya. Dan itu hanya berlaku bagi seorang Baek Eunha seorang.

“Menurutmu bagaimana?”

“Tidak tahu, makanya aku tanya padamu.”

“Bagaimana jika itu bukanlah yang pertama setelah lima tahun?”

Pertanyaan balikku sukses membuat kening Eunha memunculkan kerut kentara yang menandakan ia bingung, namun ia masih sibuk menyeruput kuah dari ramyun miliknya. “Jika itu bukan yang pertama, lalu kapan?”

“Pada waktu di mana kau paling merindukanku?”tanyaku terkekeh namun tidak dengan ekspresi Eunha yang menanggapiku dengan wajah serius. Entah dia sedang sibuk dengan isi ramyunnya yang sudah mau habis, atau dia sedang dalam masa akhir menstruasinya.

“Jangan bercanda, ahjussi.

Tidak ada alasanku untuk tidak tertawa setiap kali Eunha berada di dekatku. Dia seperti energi positif yang memancarkan kebahagiaan. Apa hanya aku yang merasa begitu? Entahlah, aku tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dia. Lantas, tanganku spontan memegang pucuk kepalanya, rambutnya sangat lembut begitu telapakku menyentuhnya, dan sebuah belaian lembut dan gemas aku berikan padanya membuat Eunha justru memanyunkan bibirnya.

Ia adalah tipikal yang benci diganggu ketika sedang makan. “Atau aku yang merindukanmu tanpa sadar?”

huh?

Dan, seperti biasa kini bisa aku lihat pipinya merona begitu aku usai mengatakan hal yang sebenarnya masih sedikit aneh. Perasaan yang hadir, keinginan yang hadir begitu aneh. Karena meski aneh itu semua tentangnya. Tentang Baek Eunha.

Suatu hari jauh sebelum pertemuan mereka di bandara. .

Kepulangan Baekhyun ke Korea adalah sesuatu yang memang dirinya sendiri tunggu – tunggu. Namun, kepulangan dirinya tak jarang membawa Baekhyun pada perasaan bosan dan juga bingung. Bosan karena ia ke Korea hanya akan bertemu orang – orang dekatnya, menghadiri rapat, lalu kembali lagi pulang ke rumah. Dan bingung karena setelah melakukan semua itu ia tidak tahu harus melakukan apa.

Apa hidupku selama hampir 30 tahun ini berisi tentang Park Aeri? Salah satu pemikiran Baekhyun yang mencuat di permukaan adalah tentang itu. Sebegitu acuhnya kah dirinya pada dunia saat masih bersama Aeri? Tidak salah. Aeri adalah pusat dunianya seorang Byun Baekhyun.

Dan itu dulu.

Bagaimana dengan sekarang? Baekhyun sendiri juga tidak tahu. Yang membuatnya stres akhir – akhir ini adalah ponselnya hilang saat di pusat perbelanjaan saat menemani Dawon  mencari tren desain pakaian terbaru untuk musim gugur yang akan datang bulan depan. Baekhyun bukan tipe ceroboh, namun kecerobohan itu datang ketika dia melihat seseorang yang membuatnya berjanji bahwa ia akan hidup lama sebagaimana ia menasehati gadis remaja itu pada musim dingin beberapa tahun lalu.

Selain berisi kontak penting, ponsel itu juga berisi cctv dari jalanan gelap menuju rumah gadis itu berada. Dan, parahnya sebelum ponselnya hilang ia belum membuka cctv itu lagi setelah pulang ke Korea.

“Oppa, kenapa kau stres sekali padahal hanya ponsel yang hilang.”

“Itu bukan hanya ponsel, isinya penting.”

“Sepenting apa?”

“Sebanding nyawaku,”

“Nyawamu bukan Park Aeri lagi?”

“Diamlah.”

Dawon tertawa renyah, tidak menyangka ekspresi Baekhyun akan seserius itu padahal seperti kata dirinya tadi bahwa itu hanya sebuah ponsel. Maksud Dawon, membeli ponsel baru bukan hal yang sulit untuk Baekhyun di hidupnya yang sekarang, itu hanya sejumlah kecil dari uang yang ia hasilkan selama di luar negri. Bukan teknisnya begitu?

Untuk mencairkan suasana yang tegang membuat Dawon memilih untuk menyikut lengan Baekhyun yang membuat lelaki itu menoleh, “Kita sudah menghubungi polisi. Kau bisa memback-up semua data penting itu lewat akun surelmu. Tapi kau buat semuanya jadi sulit, oppa.”

“Karena segalanya memang begitu.”

“Sulit itu dirimu sendiri yang membuat. Semua hal kembali pada dirimu sendiri. Sulit atau mudah..”

Baekhyun mengangkat bahunya, “Dawon!”

Dari kejauhan Jason memanggil, dan dengan wajah dinginnya Dawon menoleh yang membuat Baekhyun menyikut lengan Dawon bergantian. “Kau juga, apa sulit ya tersenyum di hadapan pacarmu sendiri? Jangan sampai dia pergi darimu karena jarang melihat kau tersenyum saat bersama dia.”sindir Baekhyun terang – terangan saja.

“Itulah kenapa aku sebal mengajakmu pergi denganku oppa.”

hyung! Kau tidak ikut pulang?!” teriak Jason dari tempatnya masih berdiri. “Aku ingin mencari camilan dulu, kalian duluan sajalah.”

“Aku duluan oppa.”

Sepeninggal mereka Baekhyun membuang napasnya pelan, setelah menyapu pandang dari banyaknya toko di sepanjang jalan kakinya melangkah ke sebuah minimarket  di persimpangan jalan. Waktu sudah bisa dikatakan larut, jadi tempat semacam ini sudah sepi pengunjung. Baekhyun menaikkan tudung hoddie yang ia kenakan. Ia tidak cukup senang jika ada orang yang mengenalinya pada saat – saat seperti ini. Baekhyun mengambil dua kantong snack  dan tiga kaleng bir lalu membawanya ke kasir.

Namun begitu tangannya menaruh semua barang belanjaannya di kasir, matanya justru membulat ke bukaan maksimal yang tertutup oleh tudung hoddie yang dalam begitu ia melihat sang kasir yang sedang sibuk menghitung belanjaannya dengan barcode barang.

Kakinya tanpa sadar mundur selangkah, matanya masih tak mengedip menatap seseorang yang tidak kembali membalas tatapannya.

Adalah dia.

Dengan rambut yang masih sama berwarna hitam pucat, bedanya adalah kini ia berponi dan potongannya sedikit lebih pendek daripada saat pertemuan mereka di kedai soju. Bibirnya tak memakai pelembab atau pewarna yang membuat wajahnya terkesan lebih cerah, namun meski begitu Baekhyun tahu bahwa ia baik – baik saja.

Ada beberapa buku yang terbuka lebar di sisi komputer yang digunakan untuk menginput barcode barang. “Memang di sini kau bisa konsentrasi belajar?”tanya itu lolos saja dari mulut Baekhyun yang lantas membuat si penanya segera mengatupkan mulutnya rapat setelah bertanya.

Lantas, kepala gadis itu menoleh pada buku – buku yang terbuka dan menumpuk, masih sibuk mengambil kantong plastik dari laci bawah ia menjawab, “Waktuku tidak cukup banyak untuk menemukan tempat yang layak untuk belajar, Tuan..”

“semuanya jadi 4500 won.” Namun, saat gadis itu mengangkat wajahnya menatap Baekhyun, lelaki itu justru menundukkan kepala, mengambil selembar won pecahan lima puluh ribu. “Ambil saja kembaliannya.” Tangan Baekhyun langsung menyambar kantong plastik berisi belanjaannya dan dengan cepat melangkah keluar dari minimarket itu, mengambil seribu langkah bagai jalan cepat.

Baekhyun menyembunyikan diri di balik bangunan sebuah tikungan sekitar 500 meter dari minimarket. Dia kembali memantau dengan sudut matanya yang sipit, benar saja, gadis itu keluar dari minimarket terlihat celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Namun, tidak lama karena ia kembali masuk ke dalam dengan wajah kecewa. Baekhyun sendiri hanya memegang dadanya, napasnya memburu meski tidak berlari. “Kenapa anak itu selalu membuatku merasa tidak tenang?”

 

└LET ME IN

Teng! Waktumu habis. Minimarket jawabannya.” Aku menarik hidungnya pelan, menghilangkan lamunannya. Namun, ia malah memanyunkan bibir dan menatapku dengan kerutan di keningnya yang tak kunjung hilang.

E U N H A

                ‘Minimarket..’ Aku menggumam ketika Baekhyun menjawab bahwa tempat belanja praktis dan kecil itu jawabannya. Tempat pertemuan kami bukan di bandara hari itu. Bukan yang pertama. Aku menatapnya dengan kening mengerut, mencoba mengingat kembali. Dan.. Aku ingat!

“AH! HARI ITU!” kataku menyeru antusias, tidak ada lagi kerutan menandakan kebingunganku atas jawabannya. Saking gregetannya dengan diriku sendiri aku sampai memukul bahu Baekhyun berkali-kali, “IYA KAN HARI ITU?! hari itu kau yang memakai hoddie abu-abu, kau yang bertanya padaku apa aku bisa konsentrasi belajar di sana. Aku benar kan?” Masih dalam euforia kemenanganku karena tidak terlihat bodoh di depan Baekhyun aku sampai menutup mulutku sendiri sambil tertawa girang.

Baekhyun tertawa menatapku, ia tiba-tiba bangkit dari tempat duduk di depanku dan duduk di sisiku membawaku ke dalam rangkulannya. “Kenapa kau masih bisa ingat apa yang aku pakai hari itu?”tanya Baekhyun.

“Kau adalah orang pertama yang bertanya padaku apa aku bisa konsentrasi di sana.. aku ingat juga karena tingkah anehmu yang sangat mencolok dan juga..’

Aku menggantung ucapanku, membuat Baekhyun menatapku dengan jenis tatapan penasaran menunggu jawaban. Aku suka dengan tatapannya yang seperti itu, membuatku merasa bahwa dia benar-benar menjadikanku pusat perhatiannya dan aku merasa bahwa diriku berharga untuknya. Jika kalian iri padaku, aku sarankan satu hal pada kalian. Menunggu yang tepat itu memang membutuhkan waktu yang lama, karena waktu yang lama itu akan membawa kita pada rasa selamanya.

“Juga apa?”

Aku terkekeh, lalu menggosok jariku pada baju yang ia kenakan lalu menaruhnya tepat di indra penciuman Baekhyun. “Aroma dan parfum mu. Sebenarnya sih beberapa kali ada orang yang jenis parfumnya sama denganmu, tapi percampurannya berbeda. Dan, hanya kau yang memiliki aroma seperti ini.”

“Itu sebabnya kau mengenaliku?”

“Ya begitulah, aku tidak begitu yakin karena jujur saja aku tidak pintar dalam mengenali suara. Rasanya, ketika kau berbicara suaramu seperti dalam mode mute dalam pendengaranku, jadi aku hampir melupakannya.” Aku tertawa jika mengingat itu, namun memang begitu nyatanya. Aku menundukkan kepala, takut Baekhyun akan marah padaku. Karena lupa pada suaranya.

“Eunha,” Aku menoleh dan cup! Baekhyun mengecup bibirku cepat. Aku langsung gelagapan untuk menyapu pandang, khawatir akan jadi tontonan gratis orang. Namun aku tidak dapat berkata apa-apa dan hanya menatapnya. Justru, aku hanya bilang padanya hal yang sejak tadi mengganjal di hati. “Hari itu aku mengejar ahjussi hingga keluar minimarket, tapi kau sudah tidak ada. Kenapa kau hari itu menghindariku?”

Baekhyun sempat mengalihkan pandangannya dariku kepada meja kasir yang ada di dalam minimarket, namun tak lama dia memandangku kembali. “Karena aku seperti merasa sekarat saat melihatmu di hadapanku begitu tiba-tiba. Tapi, aku juga merasa sekarat karena tidak bertemu denganmu pada menit dan detik sebelum itu di hari itu. Aku merasa stres karenamu. Yang bodohnya aku tidak menyadari satu hal penting saat itu..”

Aku menunggu jawabannya, “Hal penting?”

“Ya, hal penting. Dan hal penting saat itu adalah aku yang merindukanmu.” Hatiku seketika seperti dicairi oleh timah panas dan meleleh bagai coklat lezat yang diminum pada musim dingin. Rasanya hangat dan menyegarkan, yang membuatku tak berhenti menatapnya dengan tersenyum.

“Jawabanmu membuatku merasa buntu untuk menggodamu lagi, ahjussi.” Baekhyun hanya menggeleng namun hal terakhir yang ia katakan adalah; “Cepat makanlah ramyunmu, dan kita pulang Eunha-ya.”

Tapi, jawabanku justru membuatku mendapatkan jitakan di kepala walau pelan. Karena aku bilang; “Eoh, Baekhyun-ah!” Dan itu tidak sopan sama sekali. Justru minus dua hari pernikahan kami hanya dihabiskan dengan melakukan hal sederhana seperti ini, namun kebahagiaanku setara dengan orang-orang yang melakukan perjalanan keluar negri dengan fasilitas mewah.

Sekali lagi, jika fantasi dapat menjadi nyata.. aku ingin menghentikan waktu sekarang juga.

[diketik, 24/05/2018 – 21.04]

Notes:

Haihaihaihai~ apa kabar dengan kalian? Masih inget sama LET ME IN? iya ini lanjutannya, dibilang season 2 yah bukan sih tapi masih lanjutannya gitu dah pokoknya hehehehe.. fokus cerita akan menuju pada Baekhyun- eunha – atau Baekhyun – aeri atau Eunha-Aeri. Atau ketiganya

Oh ya, prequel HMT akan publish nanti abis ini kelar hehehe jadi gue minta sorry kalo ada yang nunggu..

Maaf juga baru publish lagi di sini soalnya kemaren-kemaren lupa mulu masa -_-

Pokoknya komentar jangan lupa ~

Will you be there dan Everything has Changed akan dilanjut nanti 😊

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN 2: AFTER THEN (Prolog)”

  1. duh senangny ad lnjutan cerita dari eunha sma ahjussi..
    Dah kangen banget …
    soalny dah lma…
    kira2 siapa orang ketigany ya antra baekhyun ma eunha…

    pokokny ditunggu selalu kk rahayk ceritanya.
    Diriku sanggup menunggu walaupun lama. 😘😘😘😘

  2. Wahhh…ada sequelnya lagi Let me in, seneng banget nih ama cerita eunha and ahjussi baekhyun.kayaknya rumahtangga eunha bakal ada konflik ya di cerita sekarang.semangat ya thor..

    1. bukan kayaknya, tapi emang makanya ada lanjutannya.. bukan sequel tapi apa yaa.. sambungan dari yang epilognya kemaren.. eh btw nanti epilog yang di wattpad bakal di posting di sini jadi chapter 0.1 kok tenang aja..
      kalo penasaran siapa visual Eunha di cek aja wattpad aku di krinvi

  3. Aku sampe lupa dg dirimu..huh (becanda ding hahahahahha)
    Manisnya baek disini….jd pgn nyulik buat disimpan dirumah biar ad yg manisin jg drumah huahahhaahhahahaahhhaha
    Dan akyu kangen dua ff lainnyaaaa…hampa hdupku menanti sebegitu lama huahahahahhaah
    Fighting!!!

    1. iyaya? lama banget.. soalnya mau ngirim freelance kalo pas weekend lupa mulu aing
      oiya.. cuma mau kasih tau aja epilog versi web sama wattpad beda hahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s