[EXOFFI FREELANCE] BROKENHEARTED (TWOSHOT 1)

BROKENHEARTED

lilcrushme

.

Park Chanyeol

Bae Irene

.

Genre: AU, Romance, Angst

Length: Two Shoot

Rating: PG-13

Disclaimer: plot orisinil buatan author yang dibumbui dengan sedikit rasa cemas dan sakit hati. Author sepenuhnya tidak bertanggung jawab apabila nantinya pembaca merasakan perasaan campur aduk sebagai akibat setelah membaca karya fiksi ini. *halah* cerita ini juga pernah di posting di official wattpad lilcrushme.

.

Matahari meninggi, cahaya terangnya menembus kerasnya jendela kaca kamarku yang beraksen putih itu. Sudah pagi ternyata, matahari menyelamatkanku dari sendunya malam tadi bersama hujan.  Ya, hujan tadi malam, yang menjadi saksi bisu kebodohan dua anak manusia yang merelakan sisi egoismenya menghancurkan diri mereka sendiri. Menghancurkan hati masing-masing pemiliknya, seakan isak tangis terasa bagai alunan musik merdu yang semakin didengarkan semakin mengiris hati. Seolah-olah tadi malam adalah akhir dari dunia. Dan ternyata benar, semua berakhir  disambut riuh gemuruh langit, dentuman pintu dan hancurnya hati milikku.

.

/

.

Hari minggu pertama dibulan januari, semua terlihat putih, salju turun seolah-olah mereka juga ingin bergembira dimusim dingin ini. aku merapatkan jaketku dan berjalan kearah kampus yang berada tidak jauh dari lokasi tempat  tinggalku.

“Irene, kau sendirian?” Seseorang menepuk sebelah bahuku dengan tangannya yang berlapis sarung tangan marun. Ah, Park Chanyeol, teman satu genk ku saat disekolah dulu. Ia mengambil universitas yang sama denganku namun kami terpisah oleh jurusan yang berbeda. Kehadiran Chanyeol dan pertemuan kami yang intens akhir-akhir ini membuatku akrab dengannya, seolah-olah ia adalah malaikat penjaga setelah aku jauh dari orang tuaku yang berada di Canada.

“ofcourse, I do. Kapan aku pernah jalan dengan orang lain, aku bahkan belum memiliki teman dikampus baru ini. you’re my only friend.” Aku tersenyum kearahnya. Chanyeol  menarik tanganku cepat. “baiklah nona Irene, mari kuantar ke kelas.” Ucapnya cepat dan membawaku menuju kelas. Laki-laki ini selalu muncul dihadapanku saat aku butuh bantuan, ia bahkan pernah melewatkan kelas cinematography-nya demi menemaniku mencari kain untuk kelas drafting & pattern-ku. Chanyeol adalah lelaki menyenangkan yang memiliki kharisma dibaliknya, aku tak memungkiri kalau ia memang benar-benar lelaki idaman banyak peremuan. Terlepas dari karakternya yang baik, penolong, dan cepat bergaul, secara fisik wajahnya yang rupawan serta tinggi yang semampai menjadikan Chanyeol salah satu dari lelaki-lelaki terkenal di kampus kami.

Tak terasa perjalanan menuju kampus, akhirnya kami sampai di lorong ketiga kampus ini. perempuan-perempuan yang berada disekitar tempat ini seketika menoleh kearahku dan chanyeol dengan tatapan membunuh, seolah-olah aku adalah santapan lezat yang bisa menambah energi pada musim dingin ini. Aku menghentikan langkahku. Chanyeol yang tadinya tetap berjalan menghentikan langkahnya, menoleh kearahku dengan ekspresi bertanya-tanya.

“disini saja Chanyeol-a, aku bisa jalan sendiri ke kelas. Aku tidak ingin jadi santapan lezat macan-macan milikmu yang sedang menatap kita disana.” Aku menunjuk perempuan-perempuan itu dengan lirikan mataku, Chanyeol terbahak. “hahaha! Tentu aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Rene” ucapnya sambil memegangi perutnya dan terus tertawa, mentertawakan imajinasi liarku barusan. “Baiklah, baiklah. Silahkan masuk kelasmu tuan putri, aku akan pergi ke kantin.” Ucapnya memberi jalan untukku melewatinya menuju kelas.

“kau tidak kelas?”

“hmm, biar kutebak. Tidak.” Ia tersenyum  sambil membuat ekspresi berbinar.

“lalu untuk apa kau ke kampus. Park Chanyeol?” Aku memberi penekanan pada namanya. Rajin sekali lelaki ini pergi ke kampus disaat libur.

“untuk mu.” Ia mengacak-acak rambutku, tersenyum sembari langkahnya beranjak pergi. Ah, park Chanyeol, kurasa kita harus berteman sampai nanti.

.

13 Februari mungkin adalah hari paling menyenangkan hidupku, hari dimana ribuan kupu-kupu berterbangan didalam perutku. Masih kuingat senyumnya yang sumringah seolah-olah aku adalah bidadari yang datang berkunjung begitu ia tau aku berada didepan apartmentnya untuk mengantarinya cheesecake yang baru aku buat untuknya.

.

Aku baru saja menyelesaikan salah satu eksperimen baruku, no baked strawberry cheesecake yang baru saja kubuat beberapa menit yang lalu. Satu loyang penuh untukku? Kurasa tidak, lebih baik aku membaginya untuk Chanyeol dan Wendy tetangga apartmentku.

Aku buru-buru mengemas beberapa potong untuk Wendy dan beberapa potong lagi untuk Chanyeol. Harus kulakukan dengan cepat karena cheesecake ini enak dimakan saat masih dingin, selain itu aku juga tidak mau pulang kembali keapartmentku terlalu larut malam.

Knock knock knock

“Hei, Irene. Ada apa malam-malam kesini?” Wendy membukakan pintu apartmentnya. “ah wendy, maaf mengganggu, aku baru saja membuat cheesecake, If you don’t mind, maukah kau mencobanya? hehe” aku berucap sambil tersenyum kecil, awkward sekali.

“omg! Tentu rene! Terimakasih banyaaak!” jawabnya sumringah, ia menerima box berisi cheesecake buatanku dengan wajah berbinar. “I’d love it.” Ucapnya. “Irene, ayo masuk dulu kita makan bersama cheesecakenya.” Ia membuka pintu lebih lebar agar aku bisa masuk bersamanya.

“Wen, mungkin lain kali aku akan mampir lagi, sekarang aku mau mengantar cheesecake untuk Chanyeol.” Ucapku pada wendy, ia tersenyum dan mengangguk tanda ia paham.

“ah~ kau sedang dekat dengan Chanyeol si happy virus itu ya?” ucap Wendy dengan nada usil. “aku paham, aku paham, semangat mengejar cintamu, Rene!” ucapnya menepuk-nepuk bahuku. “YA! Cinta apanya? Hahaha baiklah aku pamit ya. Bye!” aku beranjak dari apartment Wendy dan bergegas menuju Apartment Chanyeol.

“Cinta? Cinta apanya! Chanyeol is my best friend!” gumamku dalam hati. Menepis segala praduga agar semua terasa biasa-biasa saja begitu aku bertemu Chanyeol nanti.

Sesampainya di apartment Chanyeol aku bergegas mengetok pintunya, buru-buru? Iya, hey sekarang sudah jam 11 malam.

Knock knock knock

Tidak ada jawaban

Knock knock knock

“iya sebentar.” Kudengar langkah kaki menuju arah pintu. Pintu terbuka dan muncullah Chanyeol dengan keadaan tanpa baju, rambut basah, dan handuk yang masih melingkar diperutnya. Dan kau tau, perutnya kotak-kotak seperti chocolate bar. Oh my god, save me now.

“YA!” aku reflek menutup mata, Chanyeolpun ikut terperanjat karena aku berteriak. Tapi kemudian ia tersenyum berbinar karena tau aku yang datang. “Ya, Irene. Kau datang?! Maafkan akuuu, kukira kau kurir makanan. Masuklah Rene, aku pakai baju dulu.” Namun sedetik kemudian ia sadar atas kejadian memalukan tersebut dan menyuruhku masuk.

Aku memasuki apartment Chanyeol untuk pertama kalinya, kesan pertamaku adalah apartment ini bersih dan sangat aestetik. Aku tidak banyak bertanya karena memang ia mengambil jurusan seni dan perfilman, mungkin ia mengunakan skillnya menata ruangan ini.

Aku mendudukkan diriku di sofa panjang disamping tempat tidurnya.  Aku menatap kearah balkon yang dibatasi kaca, sehingga pemandangan city lights terlihat dari sini. “Rene, kau bawa apa itu?” ucapnya seraya duduk dilantai tempat disebelah aku duduk dan menunjuk box yang ada digenggamanku.

“ah iya, ini aku bawakkan  cheesecake. Kufikir kau akan suka karena waktu itu kau bilang kau suka cheesecake.” Aku menyodorkan satu box berisi cheesecake yang kubuat tadi.

“wah, sini kucoba.” Ia beranjak dan mengambil garpu kecil dari dapur kemudian menghampiriku dan menyuap cheesecake tersebut.

“Irene, aku baru tau kalau kau jago baking. Hahaha! Ini enak luar biasa!” ucapnya tambah berbinar dan menghabiskan potongan pertamanya. Aku tersenyum melihat lahapnya Chanyeol makan cheesecake. Kalau dilihat-lihat apa yang dikatakan orang-orang memang benar. Chanyeol memang penuh kharisma, wajahnya saat tersenyum bahkan sempat membuat hatiku bergetar. Mungkin perhatian yang selama ini ia berikan adalah lebih dari perhatian sebagai teman. Mungkinkah?

Tanpa sadar tanganku mengusap noda cheesecake yang menempel disudut bibirnya, Chanyeol menghentikan kegiatannya dan menatap kearahku.

“ah maaf, itu tadi ada noda.” Ucapku panik. Awkward sekali. Chanyeol masih menatapku dalam. Aku semakin panik.

Suasana tiba-tiba berubah, “Chan, aku pam…”  aku baru akan berdiri sebelum tangannya menarikku kearahnya hingga wajah kami terpaut sekitar lima sentimeter, bisa kupastikan sekarang jantungku berdetak cepat, nafasku bahkan tersendat. Lima sentimeter cukup dekat bukan untuk sekedar menatap?

“maukah kau..”

“menemaniku makan dulu sebelum pergi? hahaha”  ucapnya sambil tertawa, ia berdiri dan menghampiri kearah pintu, ia kembali dengan dua bungkus jajjangmyeon.

“aku pesan jajangmyun tadi. Temani aku makan yaa?” ucapnya sambil menatapku dengan puppy eyes-nya. aku yang tidak tahan dengan tatapan itu akhirnya memutuskan untuk menemaninya. Hitung-hitung membalas kebaikannya.

“baiklah, Chanyeol-a. cepat makan nanti kau sakit.” Ucapku. “siap kapten!” ucapnya sambil melahap makanannya. “kau mau?” ucapnya melirikku yang asik main game di ponselku. “tidak, aku tidak makan malam, kau tau? I’m on diet.” Ucapku tersenyum meringis kearahnya.

“ah, tidak usah dietpun kau sudah cantik.” Ucapnya, kembali melahap makananya. Aku terdiam memandang layar ponselku. Apa baru saja ia memujiku? Atau hanya sebuah gombalan belaka?

Chanyeol baru saja menyelesaikan makan malamnya dan menghampiriku dengan ponsel ditangannya. “kau main game itu juga?” ucapnya duduk disampingku. “tentu, game ini penuh tantangan, aku suka tantangan. hahaha” aku menatap kearahnya. Kulihat ia memperhatikanku sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kearah ponselnya.

“kau sudah coba main game ini?” ia menunjukkan sebuah game ntah apa namanya itu, tapi sepertinya menarik.

“belum, sini kucoba.” Ucapku dan menarik ponsel yang ada ditangan chanyeol kedalam genggamanku. Dan mulai memainkan game di ponsel Chanyeol itu, ia terus memperhatikanku selama memainkan game tersebut. Jujur itu membuatku jadi susah fokus.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan diluar hujan deras sedang mengguyur seoul. Mataku masih menatap ponsel Chanyeol, namun sekarang posisinya adalah Chanyeol yang sedang memainkan gamenya sedangkan aku disampingnya, bersender ke bahunya dan terus memperhatikan layar game.

Chanyeol tiba-tiba mengulurkan tangannya kearah bahuku, menarikku lebih dekat dengan tubuhnya, wangi vanilla tercium dari tubuh laki-laki ini. manis dan hangat. Aku menikmati keadaan ini, lengannya yang berotot serta dadanya yang bidang memberiku akses untuk terus bisa menghangatkan diri dalam dekapannya itu.

Aku menguap, menandakan tubuh ini butuh istirhat. “kau mengantuk?” ucapnya, matanya masih fokus mengarah ke layar ponsel yang sedari tadi ia mainkan.

Aku mengangguk pelan, “tidurlah, aku akan mengantarmu besok pagi.” Ucapnya. Aku memejamkan mataku dan tertidur dalam dekapan seorang Park Chanyeol.

Aku terjaga dalam tidurku akibat merasakan sebuah sentuhan lembut nafas seseorang yang menyentuh permukaan wajahku, nafasnya teratur dan tidak bersuara. Semua terasa lambat begitu kusadari diriku sekarang sedang berada dalam pelukan Chanyeol, kami berbaring diatas sofa dengan lengannya yang menampu kepalaku. Aku masih memejamkan mataku, merasakan hangatnya pelukan Chanyeol, membiarkan dada bidangnya merengkuh tubuhku seakan-akan tidak ingin membiarkan diriku dipeluk oleh dinginnya malam. Kusadari deruan nafas Chanyeol mendekat kearah hidungku, oh tuhan dadaku berdebar, paparan hembusan nafasnya menyentuh pori-poriku, Chanyeol terus mendekatkan wajah kami, memangkas jarak demi jarak hingga bahkan wajahnya hanya berjarak satu senti dari wajahku. Sekarang aku baru menyadari kalau laki-laki ini wangi susu beruang. “Ah seperti anak bayi.” Batinku. Chanyeol tidak seperti banyak lelaki yang hanya ingin memanfaatkan kebaikan wanita, disaat orang lain memberiku hadiah dan kado-kado, ia bahkan memberikan seluruh waktunya untukku, yang tidak diberikan oleh orang lain. Chanyeol bagaimana kalau perasaan yang aku rasakan sekarang adalah sebuah tanda bahwa perhatian yang kau berikan selama ini kuanggap lebih?

Fikiranku terpecah begitu Chanyeol tiba-tiba memanggil namaku. “Rene” Ucapnya, aku masih memejamkan mata, tapi mungkin Chanyeol tau bahwa aku terjaga.

“hmm?” gumamku membalas ucapannya, tidak berharap lebih untuk membuka mataku, gumaman itu keluar begitu saja.

“Kufikir aku harus mengatakannya sekarang, sebenarnya aku sudah mengagumimu dari sejak 2 tahun yang lalu. Bisakah sekarang kau membuka hati untukku?”  ia melanjutkan kata-katanya yang tentu membuatku seakan-akan dilempar dari ketinggian. Aku terbangun dan mendapati Chanyeol sedang menatapku sambil tersenyum. Ia merapatkan pelukannya, mengetahui aku terkejut dan menarik badanku kebelakang dengan reflek. Sekarang kami saling menatap satu sama lain. Menyelami fikiran masing-masing, membiarkan ia menjelajah sampai ke sudut tak terjamah dari diri ini. Menciptakan dentuman-dentuman keras dari dada kiriku. Membangkitkan ribuan kupu-kupu didalam perut ini.

“apa kau serius?” ucapku meyakinkan. Apakah baru saja ia menyatakan cinta padaku?

“tentu, aku menyukaimu, menyayangimu. Apa kau berharap lebih dari itu?” Tanyanya, sekarang ia mengusap-usap pelan rambutku.

“tidak chan, itu lebih dari cukup. Terimakasih, kau sukses membuat aku terjaga.” Ucapku sambil tersenyum kearahnya. “jadi kau menerimaku?” ucapnya menoleh kearahku. “tentu.”  Ucapku. Chanyeol tersenyum dan kembali menarikku dalam pelukannya, pelukan hangat yang hanya dimiliki seorang Park Chanyeol, Park Chanyeol milikku.

 

Bersambung…

 

Haaaaai, salam kenal beautiful, I’m syeel aka lilcrushme! Aku author freelance yang akhirnya mendebutkan fiksi penggemar ini untuk kalian semua penggemar Chanyeol, Irene, ataupun chanrene. Guys this is for yeaah!

Gimana? Kalian senang dengan bagian pertama dari 2shoot ini? apakah cerita fiksi ini berhasil membuat kalian senyum-senyum? Atau sebaliknya? Karakter rene yang labil dan karakter chanyeol yang berkharisma namun gemesyin membuat kalian terganggu? Berikan tanggapan kalian pada kolom komentar ya beautiful;D

If you want to keep in touch with me just hit me through watt

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] BROKENHEARTED (TWOSHOT 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s